Jurnal Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
258 research outputs found
Sort by
Analisis Vegetasi Mangrove di Kawasan Hutan Mangrove Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat
Kawasan Hutan Manrgove Karangsong terletak di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kawasan hutan mangrove karangsong merupakan salah satu wilayah hutan mangrove hasil rehabilitasi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari – maret 2022 guna menganalisis vegetasi mangrove beradasarkan kerapatan vegetasi dan mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi perubahan luas dan kerapatan vegetasi, metode yang digunakan adalah metode survei, dengan cara transek line plot (TLP). Parameter yang diamati adalah komposisi jenis, dan indeks nilai penting mangrove serta parameter lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan 2 jenis vegetasi mangrove yaitu Avicennia Marina dan Rhizopora Mucronata. Pada tahap semai kerapataan jenis mangrove dalam keadaan kurang baik atau termasuk kedalam kerapatan jarang. Sedangkan untuk tahap pancang dan pohon dalam keadaan baik atau termasuk kedalam kerapatan rapat. Perubahan luas lahan di Kawasan Hutan Mangrove Karangsong dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan maupun faktor dari aktifitas manusia. Secara keseluruhan total luas Kawasan Hutan Mangrove menjadi ± 29 ha dalam kurun waktu 13 tahun ( tahun 2008 hingga 2022)
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI MAKRO- DAN MESO-PLASTIK DI SUNGAI KERUH, BUMIAYU, KABUPATEN BREBES
Sungai adalah sumber polusi plastik di laut yang telah diakui secara luas dan berpotensi menjadi tempat pembuangan sampah dari berbagai aktivitas dan sumber. Estimasi tingkat pencemaran plastik telah dilakukan untuk pertama kalinya di Sungai Keruh dan Sungai Kalisantri yang melintasi kota Bumiayu, Brebes. Sampel sampah dianalisis untuk mendapatkan data komposisi sampah berdasarkan ukuran (makro, meso) dan sampah plastik berdasarkan Resin Identification Code (RIC). Hasil analisis sampah yang dikumpulkan setiap minggu dari bulan Agustus – September 2021 menemukan 1.537 item (22019,84 gram) sampah sungai dengan total kepadatan 89,59 g/m3 di Sungai Keruh dan 2017.9 g/m3 di Sungai Kalisantri. Persentase berat makroplastik berkisar antara 20–46%, dan persentase berat mesoplastik mencapai 72%. Berdasarkan item, persentasenya mencapai 82% untuk makroplastik dan mencapai 52% untuk mesoplastik. Berdasarkan RIC, 32,59% sampah plastik berasal dari kelompok Others (OT), 31,42% dari Low Density Poly Ethylene (LDPE) dan 23,55% dari Poly Propylene (PP), dengan kepadatan sampah rata-rata 47,16 g/m3. Dominasi sampah plastik diduga karena sungai tersebut dekat dengan pemukiman penduduk dan pasar tradisional. Berdasarkan PP No. 22/2021, sungai seharusnya zero waste, namun sebaliknya hasil kajian menunjukkan jumlah sampah yang sangat melimpah. Oleh karenanya, tindakan untuk mengurangi keberadaan plastik di sungai sangat penting untuk melestarikan lingkungan air tawar maupun laut.
STRATEGI PENGEMBANGAN ALAT TANGKAP DI KABUPATEN BANGKA TENGAH
Fishermen in Central Bangka Regency still use traditional fishing gear and simple technology. These types of fishing gear need to choose the best fishing gear as a form of optimizing the use of fish resources to find out the right fishing gear development strategy in Central Bangka Regency. Multi-criteria analysis (MCA) with four criteria of biological, technical, economic and social aspects, these results indicate that a sustainable fishing technology unit can be developed on priority one, namely fishing gear with a value of VA = 13.26, on the second priority, namely hand line with a value of VA = 12.87 and on the third priority, namely the bagan tancap with a value of VA = 11.56 and the first priority of the fishing gear development strategy is more directed to the strategy of developing facilities and infrastructure (WO) with a value of 0.309 followed by the second priority, namely the development of fishing gear (SO) with a value of 0.265 and the third priority is optimizing fishermen's cooperatives (ST) with a value of 0.247.
PEMANFAATAN LIMBAH KULIT IKAN PAYUS (Elops hawaiensis) SEBAGAI BAHAN BAKU GELATIN DENGAN PERENDAMAN HCL
Produk hasil perikanan yang dapat dijadikan sebagai produk unggulan dari Provinsi Banten adalah bontot. Terobosan baru perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan zero waste dalam pemanfaatan limbah, salah satunya pemanfaatan limbah kulit ikan menjadi bahan baku gelatin. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian tentang pemanfaatan limbah kulit ikan payus (Elops hawaiensis) sebagai bahan baku gelatin dengan perendaman HCl. Penelitian akan dilaksanakan pada bulan Juni – September 2015. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan konsentrasi HCl terbaik. Pembuatan gelatin limbah kulit ikan payus dilakukan dengan menggunakan Rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan 2 kali ulangan (duplo). Hasil penelitian menghasilkan gelatin terbaik dari proses perendaman HCl 6% yang menghasilkan nilai hedonik warna 3,62; nilai hedonik bau 3,23; rendemen 11,22%; kekuatan gel 282,74 g bloom; viskositas 17,2 cP; kadar air 6,12%; kadar abu 0,86%; dan nilai pH 5,62
ANALISIS EKONOMI DAN STRATEGI PENGEMBANGAN KLASTER BUDIDAYA IKAN AIR TAWAR DI KABUPATEN BANYUMAS
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data profil dan sebaran klaster budidaya ikan air tawar Kabupaten Banyumas, termasuk analisis ekonomi dan strategi pengembangannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Mixed Method, yaitu perpaduan antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pendekatan kualitatif menggunakan conventional content analysis dan wawancara mendalam terhadap stakeholders terkait. Sedangkan pendekatan kuantitatif menggunakan analisis location quotient (LQ) dan SWOT. Berdasarkan hasil kajian kawasan klaster budidaya ikan air tawar di Kabupaten Banyumas tersebar di 10 kecamatan, yaitu Baturaden, Sumbang, Kembaran, Kedungbanteng, Karanglewas, Cilongok, Kemranjen, Sokaraja, Ajibarang, dan Sumpiuh. Jenis ikan dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu gurami sebagai komoditas unggulan, lele sebagai komoditas andalan, dan nila sebagai komoditas potensial. Berdasarkan hasil survey total produksi kawasan klaster budidaya ikan air tawar di Kabupaten Banyumas tahun 2018-2021 masing-masing adalah 6,75 ton, 7,09 ton, 7,11 ton, dan 8,01 ton. Berdasarkan perhitungan dari tahun 2016-2020 nilai LQ masih dibawah 1 yaitu masing-masing 0,812, 0,8, 0,796, 0727 sehingga sektor perikanan di Kabupaten Banyumas belum menjadi sektor basis. Strategi yang dikembangkan pada kawasan klaster budidaya ikan air tawar di Kabupaten Banyumas adalah memanfaatkan potensi perikanan dan perkembangan teknologi untuk meningatkan kuantitas dan kualitas produksi, membangun kemitraan dan jejaring usaha (pemerintah dan swasta) dalam rangka pembinaan dan pengembangan budidaya ikan air tawar
Business Analysis Fumigation of Pangan Catfish with salai method in Kampar Regency, Riau
Pangan Catfish is one of the native fish of Indonesian waters. The majority of catfish in Indonesia comes from aquaculture. Pangan Catfish production in 2020 in Kampar Regency reached 32.402.126 tons. Pangan catfish is impossible to be sold in fresh form because there is no market that can accommodate large amounts of fresh fish. The absence of business management in the center of the salai processing requires an analysis of the salai fish processing business. This needs to be done to see the feasibility of the salai fish processing business, especially after being affected by the Covid-19 pandemic. This research was conducted at the pangan catfish Processing Center in Koto Masjid Village, XIII Koto Kampar District, Kampar Regency, Riau Province. Business feasibility analysis used is Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), B/C Ratio and Payback Period. The businesses that were used as research samples were 8 business units. The amount of fumigasion business income reaches Rp. 17,469,000,000/year with costs that reach Rp. 16,290,804,375/ year. The average profit of fumigasion pangan catfish using the salai method in Kampar Regency is Rp. 1,178,195,625,-/ year or Rp. 98,182,987,-/month. Analysis of the business of fumigasion pangan catfis with the salai method in Kampar Regency has an NPV value of Rp. 5,543,328,918,-, the IRR value is 63%, the IRR value is 1.08 and the Payback period value is 3.27. The business of fumigasion pangan catfis said to be feasible with a return of capital in the medium category
Marine Environmental Management Strategies On The Activities Of Indonesia Archipelagic Sea Lane (ALKI) In The Lombok Strait Waters
ABSTRACTThe acceptance of the concept of an archipelagic state in the 1982 United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) brought logical consequences, especially in providing passage rights for foreign ships in international shipping. The Lombok Strait as one of the straits designated as Archipelagic Sea Lanes (ALKI) is the entry point for international shipping from the Indian Ocean to the Pacific Ocean, vulnerable to navigational threats and pollution of the marine environment. This study aims to analyze the current use of the Lombok Strait as the Indonesian Archipelagic Sea Lane (ALKI II) and analyze the priority strategies for managing the Lombok Strait. The method used in this research is descriptive analytical method and AHP (Analitycal Hierarchy Process) in determining the priority strategy of Lombok Strait management. The data collection technique was carried out by conducting observations, interviews and surveys using questionnaires as primary data and collecting documents, books and journals as secondary data sources. The results showed that the Lombok Strait management strategy showed that the main priority of Lombok Strait management was the ecological dimension. In terms of management strategy, the existence of good order at sea is an alternative to the main strategy for the ecological, economic, socio-cultural, legal and institutional dimensions
PENGARUH PEMBERIAN BIOFLOK SEBAGAI PAKAN TAMBAHAN TERHADAP PERFORMA PRODUKSI IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)
Teknologi biofok merupakan metode pemeliharaan ikan dengan sedikit ganti air dan mengembangkan kongklomerat mikroba sebagai pakan ikan Namun penelitian tentang bioflok sebagai pakan tambahan yang diberikan dari luar sistem budidaya belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini menganalisis pengaruh pemberian bioflok sebagai pakan tambahan terhadap performa produksi. Percobaan rancangan acak lengkap, dengan 4 perlakuan yaitu diberi pakan tambahan bioflok 240 ml (B240), diberi pakan tambahan bioflok 160 ml (B160), diberi pakan tambahan bioflok 80 ml (B80), dan tidak diberi pakan tambahan (NB), masing-masing perlakuan dengan 3 ulangan. Pakan bioflok diberikan satu kali sehari pada siang hari. Pakan pelet diberikan 4 % per hari dari total biomas ikan. Hasil penelitian menunjukkan suhu, pH dan oksigen terlarut masih dalam rentang yang layak bagi pertumbuhan lele. Jenis plankton di usus lele lebih banyak pada kolam bioflok dibanding kolam kontrol. Pertumbuhan biomas lebih tinggi dan konversi pakan lebih rendah pada B240 dibanding kontrol. Berdasarkan data penelitian dapat disimpulkan bahwa plankton yang ditemukan di usus ikan, menunjukkan bioflok yang diberikan ke kolam percobaan dikonsumsi oleh ikan lele. Bioflok yang diberikan di kolam mampu meningkatkan penambahan biomass dan menurunkan konversi pakan. Oleh karena itu dari hasil penelitian ini pembudidaya ikan dapat memanfaatkan bioflok sebagai nutrisi tambahan bagi ikan
Optimum Koi Herpesvirus DNA Extraction from the Aquaculture Water
Koi Herpesvirus (KHV) is one of the viral fish disease in the common carp aquaculture. At present, KHV diagnoses is performed using Polymerase Chain Reaction (PCR) method. However, the effort to extract DNA viruses from environmental samples depends on two fundamental problems: inhibition of the extraction and amplification processes and a very small number of viruses. The small amount of virus load in the water requires a concentration process before further molecular analysis. In this study, the sensitivity of three methods of extraction and purification of viral genetic material from the water, namely deposition with PEG, filtration-elution, and flocculation with antibodies for the detection of KHV from the water with the PCR method was performed. Water samples were collected from Cirata reservoir, West Java which is a site location for carp aquaculture. The organic flocculation cannot be carried out in the present study because anti-KHV antibodies cannot be produced. This is because the amount of virus in the sample used by the vaccine is low. Meanwhile, the precipitation method with PEG cannot produce DNAextract’s although quantity and purity are good enough to be amplified. For the filtration-elution method, both with and without the reconcentration process, a clear band of DNA can be produced after amplification. In conclusion, the filtration-elution method is considered as the most suitable method in obtaining KHV DNA’s taken from the water samples