Jurnal Perikanan dan Kelautan
Not a member yet
258 research outputs found
Sort by
TINGKAT KEPUASAN NELAYAN PPS KUTARAJA TERHADAP PELAYANAN PENERBITAN STANDAR LAIK OPERASI (SLO) DI PSDKP LAMPULO
ABSTRACTPSDKP Lampulo is a UPT called a base that covers the four Wilker provinces, namely Aceh, North Sumatra, West Sumatra, Bengkulu and is based in Lampulo Village, Banda Aceh City. This research was conducted with the aim of knowing the level of fishermen's satisfaction with the SLO issuance service at the Lampulo PSDKP. The method in this research is a quantitative method with a descriptive approach, the data needed is primary and secondary data. Primary data collection was carried out by interview. Sampling by census method. Census or total sampling is a sampling technique in which all members of the population are sampled by all. In payment for the sample used, there were 15 people because that number was the only one managing the ship's SLO. The data collected from each respondent was based on 9 assessment elements related to the level of fishermen's satisfaction with the SLO issuance service at the Lampulo PSDKP. The result data were analyzed according to the guidelines for the implementation of public service units by measuring the Likert Scale. The results of research with quantitative methods showed a score of 87.96. The value category between 76.61 – 88.31 is the Good category. This is the level of fishermen's satisfaction with the SLO issuance service at the Lampulo PSDKP which is in the Good value category. The results of calculations with a Likert Scale obtained from the level of satisfaction with the SLO issuance service at the Lampulo PSDKP are based on 9 assessment elements namely (requirements), (systems, mechanisms and procedures), (completion time), (costs/tariffs), (product specifications, types of services ), (competence of executors) (executor behavior) (facilities and infrastructure) (handling, complaints, suggestions and input) by calculating the total value of each element of service, the weight of the value per element and the average value per weight per element. ABSTRAKPSDKP Lampulo merupakan UPT disebut pangkalan yang mencakup empat provinsi Wilker yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu dan berpangkalan di Desa Lampulo, Kota Banda Aceh. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui tingkat kepuasan nelayan terhadap pelayanan penerbitan SLO di PSDKP Lampulo. Metode dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, data yang dibutuhkan adalah data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara. Pengambilan sampel dengan metode sensus. Sensus atau sampling total adalah teknik pengambilan sampel dimana seluruh anggota populasi dijadikan sampel semua. Dalam penentuan sampel yang digunakan berjumlah 15 orang karena jumlah itu saja yang menjadi pengurus SLO kapal. Data yang dikumpulkan dari setiap responden berdasarkan 9 unsur penilaian yang berkaitan dengan tingkat kepuasan nelayan terhadap pelayanan penerbitan SLO di PSDKP Lampulo. Data hasil dianalisis sesuai pedoman penyusunan unit pelayanan publik dengan pengukuran Skala Likert. Hasil penelitian dengan metode kuantitatif menunjukkan skor 87,96. Kategori nilai antara 76,61 – 88,31 merupakan kategori Baik. Hal ini tingkat kepuasan nelayan terhadap pelayanan penerbitan SLO di PSDKP Lampulo berada pada kategori nilai yang Baik. Hasil perhitungan dengan Skala Likert yang diperoleh dari tingkat kepuasan terhadap pelayanan penerbitan SLO di Pangkalan PSDKP Lampulo berdasarkan 9 unsur penilaian yaitu (persyaratan), (system, mekanisme dan prosedur), (waktu penyelesaian), (biaya/tarif), (produk spesifikasi jenis pelayanan), (kompetensi pelaksana) (perilaku pelaksana) (sarana dan prasarana) (penanganan, pengaduan, saran dan masukan) dengan menghitung masing-masing jumlah nilai unsur pelayanan, bobot nilai perunsur dan nilai rata-rata per timbang per unsur
STATUS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP KOTA TEGAL PADA DIMENSI SOSIAL BUDAYA DAN TEKNOLOGI
ABSTRAKSektor perikanan tangkap Kota Tegal dihadapkan pada beberapa persoalan antara lain masih rendahnya tingkat pendidikan nelayan, tingginya populasi nelayan sedangkan daerah penangkapan ikan terbatas dari garis pantai sehingga lokasi penangkapannya menjadi padat, kendala permodalan juga sering dihadapi nelayan yaitu sulitnya persyaratan dan prosedur mendapatkan pinjaman, selain itu belum optimalnya pemanfaatan teknologi pendukung sarana usaha perikanan. Masih rendahnya kesadaran masyarakat nelayan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan menjadi kendala dalam pengelolaan perikanan tangkap yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prospek keberlanjutan dalam pengelolaan perikanan tangkap Kota Tegal pada dimensi sosial budaya dan teknologi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara langsung dengan responden melalui kuesioner. Data yang dikumpulkan merupakan data parameter sosial budaya dan teknologi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Multi-dimensional Scaling (MDS) pada dimensi sosial ekologi dan teknologi menggunakan software Rapfish. Teknik Rapfish (Rapid Appraissal for Fisheries) merupakan metode analisis kuantitatif untuk mengevaluasi keberlanjutan perikanan tangkap dilokasi penelitian dengan atribut sesuai dengan yang diisyaratkan FAO-Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) 1995. Hasil penelitian menunjukkan keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap di Kota Tegal pada dimensi sosial-budaya sebesar 52,10% (cukup berkelanjutan), dan dimensi teknologi sebesar 51,21% (cukup berkelanjutan). Faktor pengungkit pada dimensi sosial budaya adalah keberadaan kelompok nelayan dengan nilai RMS 2,191%, sedangkan factor pengungkit pada dimensi teknologi adalah kesediaan menggunakan teknologi dengan nilai RMS 1,27%.
Bioeconomic analysis of squid fisheries in the Karangantu fishing port of Banten Province
Squid is one of the catches of fisheries favored by the community and one of the fisheries commodities with high economic value. In 2017 the squid production in the Karangantu archipelago fisheries port reached 328 tons or 14.3% of the total capture fisheries production, which reached 2,293 tons. All Squid that enters the market come entirely from catches in nature (sea); if you only rely on the effort of catching it alone, one day, there may be overfishing. This study aimed to determine the optimal level of Squid (Loligo sp.) Resource management is based on biological and economic aspects in the Karangantu PPN. The study was conducted from April to May 2019. Retrieval of primary data and secondary data funds. The research procedure consisted of calculating CPUE (Catch Per Unit Effort), MSY (Maximum Sustainable Yield), and MEY (Maximum Economic Yield) using primary data and secondary data obtained from Karangantu. The calculation of bioeconomic analysis using the Gordon-Schaefer model showed that the highest profit value was in the MEY condition of 234,423 kg/year and 2,622 trips/year with a gain of Rp. 2,901,811,197. Based on the Fox model, the utilization rate of Squid (Loligo sp.) It is 129% and is in the status of over exploited
KERAGAMAN HASIL TANGKAPAN EKONOMIS PENTING YANG DIDARATKAN DI PPI DUMAI
PPI Dumai adalah salah satu sentral pendaratan ikan di Provinsi Riau. Hasil tangkapan yang didaratkan memiliki nilai ekonomis penting. Jenisnya bervariasi dan memiliki nilai jual tinggi. Identifikasinya belum pernah dilakukan di PPI Dumai. Maka tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis-jenis hasil tangkapan ekonomis penting dan menganalisis keragaannya berdasarkan waktu pendaratan ikan. Penelitian dilakukan pada bulan Mei hingga Oktober 2020 di PPI Dumai. Hasil tangkapan ekonomis penting yang di daratkan di PPI Dumai dibedakan menjadi dua, yaitu jenis ikan (137,32 ton) dan udang (73,64 ton). Jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis penting yaitu senangin (Eleutheronema tetradactylum), biang (Setipinna sp.) dan manyung (Arius thalassinus), sedangkan jenis udang terdiri atas udang putih (Penaus merguininsis), udang belang (Parapenaeopsis sculptilis) dan rajungan (Portunus pelagicus). Keragaan hasil tangkapan ekonomis penting dideskripsikan mulai dari musim puncak pendaratan hasil tangkapan ekonomis penting terjadi pada bulan Mei mencapai 42,85 ton. Ikan dan udang yang didaratkan mengalami penurunan pada bulan Juni sebesar 16,18 ton. Jumlah keduanya meningkat kembali pada bulan Juli dan Agustus. Penurunan terjadi kembali pada September dan Oktober. Bulan Oktober adalah pendaratan hasil tangkapan paling sedikit selama musim timur sebesar 23,56 ton
Histopatology kidney of seed white snipper (lates calcarifer bloch) which experienced a different decrease in salinity
White snapper (Lates calcarifer Bloch) is a consumption fish that has high economic and nutritional value. FAO stated that white snapper was a diversified species in aquaculture in 2018. This is because white snapper has many advantages such as fast growth rate, high fecundity, easy hatchery techniques in controlled containers, and high adaptability to various environmental conditions. The method used in this study was experimental with a completely randomized design (CRD) technique using 3 treatments with each treatment being repeated 3 times. The 3 treatments include; A : Water medium with a salinity content of 5 ppt; B : Water medium with a salinity content of 10 ppt; C : Water media with 15 ppt salinity. In this study, white snapper seeds measuring ±3 cm were given 3 different salinity treatments. The three treatments, salinity 5 ppt, 10 ppt, and 15 ppt caused histopathological abnormalities in the kidneys of snapper fish which were used as research objects. The kidney organ has Melano Macrophages Centers (MMC) and Necrosis (N). Kidneys with MMC are characterized by the presence of inflamed organ parts and a collection of pigmented macrophages. The occurrence of necrosis is characterized by the loss of tissue structure and then the kidney tissue is damaged, as well as the loss of cell boundaries or cell nuclei
ANALISIS SOSIAL EKONOMI ASURANSI KECELAKAAN KERJA NELAYAN TRADISIONAL DI KABUPATEN PANGANDARAN, JAWA BARAT
Riset ini dilaksanakan dengan maksud dan tujuan untuk menganalisis hubungan sosial ekonomi terhadap probabilitas dalam memiliki asuransi kecelakaan kerja nelayan tradisional dan probabilitas keinginan nelayan membayar premi asuransi kecelakaan kerja. Riset ini dilaksanakan pada 10 Tempat Pelelangan Ikan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dengan Tahun 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode inferensial. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode accidental sampling dengan jumlah sebanyak 100 responden. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik observasi, wawancara terstruktur, dan teknik dokumentasi. Hasil riset didapat berdasarkan analisis regresi logistik biner dengan variabel independen yaitu Umur (X1), Pendidikan (X2), Pengalaman (X3), Sehat (X4), Merokok (X5), Pendapatan (X6), Jumlah Tanggungan (X7), terhadap probabilitas responden memiliki asuransi kecelakaan kerja dan terhadap probabilitas responden memiliki keinginan membayar asuransi kecelakaan kerja. Hasil koefisien determinansi menunjukkan bahwa variabel independen berpengaruh 22,1% terhadap probabilitas nelayan memiliki asuransi kecelakaan kerja dan variabel independen berpengaruh sebesar 14,5% terhadap probabilitas responden memiliki keinginan membayar premi asuransi. Berdasarkan Uji Wald yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa p-value variabel Pengalaman (X3) memiliki nilai sebesar 5,009 menunjukkan bahwa Varibel Pengalaman berpengaruh secara parsial terhadap probabilitas responden memiliki asuransi kecelakaan kerja. Nilai p-value Jumlah Tanggungan (X7) memiliki nilai sebesar 9,058 hal tersebut menunjukkan bahwa Jumlah Tanggungan Keluarga berpengaruh secara parsial terhadap probabilitas keinginan responden membayar premi asuransi kecelakaan kerj
STATUS KEBERLANJUTAN DAN FAKTOR PENGUNGKIT DIMENSI EKOLOGI DAN EKONOMI PADA PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KOTA TEGAL
ABSTRACTTegal City is an area located on the North Coast of Java (Pantura) which has a strategic role in developing fishery and marine potential. In the capture fisheries sector, the City of Tegal has marine resources, human resources and adequate infrastructure. However, it is reported that the marine fishery production of Tegal City has fluctuated in the last five years. Sustainability in capture fisheries management has urgency in the life of the fishing community, the interests of the state as well as in the framework of sustainable development, including in meeting consumption needs at various levels of society. This study aims: To determine the sustainability status and leveraging factors of capture fisheries management in Tegal City on the ecological and economic dimensions. Data was collected through direct interviews with respondents through questionnaires. The data collected is data on ecological, ecological and economic aspects. This research method uses a Multi-dimensional Scaling (MDS) approach on the ecological and economic dimensions with the Rapfish technique. The Rapfish technique (Rapid Appraissal for Fisheries) is a quantitative analysis method to evaluate the sustainability of capture fisheries at the research location with attributes as required by FAO-CCRF 1995. The results of the sustainability analysis of capture fisheries management in Tegal City on the Ecological dimension of 40.25% (Less sustainable), and the Economic dimension of 54.96% (Moderately sustainable). Leverage factors on the ecological dimension include the use of illegal fishing gear with an RMS value of 3.60%, selectivity of fishing gear of 3.31% and size of fish caught 2.941%, while leverage factors in the economic dimension include ship ownership with an RMS value of 4.89%, fuel increase with an RMS value of 4.75% and the average age of fishermen with an RMS value of 4.34%. Keywords: Capture Fisheries, Sustainability, MDS, Tegal City ABSTRAKKota Tegal merupakan daerah yang terletak di Pantai Utara Jawa (Pantura) memiliki peran strategis dalam pengembangan potensi perikanan dan kelautan. Dalam sektor perikanan tangkap, Kota Tegal memiliki sumberdaya laut, sumberdaya manusia serta infrastruktur yang memadai. Namun demikian, dilaporkan bahwa produksi perikanan laut Kota Tegal mengalami fluktuasi dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Keberlanjutan dalam pengelolaan perikanan tangkap memiliki urgensi dalam kehidupan masyarakat nelayan, kepentingan negara maupun dalam kerangka pembangunan berkelanjutan termasuk dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi pada berbagai lapisan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk enentukan status keberlanjutan dan atribut (factor) pengungkit pengelolaan perikanan tangkap Kota Tegal pada dimensi ekologi dan ekonomi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara langsung dengan responden melalui kuesioner. Data yang dikumpulkan merupakan data aspek ekologi, ekologi dan ekonomi. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Multi-dimensional Scaling (MDS) pada dimensi ekologi dan ekonomi dengan teknik Rapfish. Teknik Rapfish (Rapid Appraissal for Fisheries) merupakan metode analisis kuantitatif untuk mengevaluasi keberlanjutan perikanan tangkap dilokasi penelitian dengan atribut sesuai dengan yang diisyaratkan FAO-CCRF 1995. Hasil analisis keberlanjutan pengelolaan perikanan tangkap di Kota Tegal pada dimensi Ekologis sebesar 40,25% (Kurang berkelanjutan), dan dimensi Ekonomi 54,96% (Cukup berkelanjutan). Faktor pengungkit pada dimensi ekologi antara lain penggunaan alat tangkap ilegal dengan nilai RMS 3,60%, selektivitas alat tangkap 3,31% dan Ukuran Ikan tertangkap 2,941%, sedangkan factor pengungkit pada dimensi ekonomi antara lain kepemilikan kapal dengan nilai RMS 4,89%, kenaikan BBM dengan nilai RMS 4,75% dan rata-rata usia nelayan dengan nilai RMS 4,34%. Kata kunci: Perikanan Tangkap, Keberlanjutan, MDS, Kota Tega
TINGKAT KERAMAH LINGKUNGAN METODE SELAM UNTUK PENANGKAPAN KEKERANGAN DI WILAYAH PESISIR KECAMATAN BULAK KOTA SURABAYA
Kegiatan penangkapan kekerangan di wilayah pesisir Surabaya bagian timur dilakukan secara tradisional menggunakan metode selam. Keberlanjutan sumber daya kerang perlu diperhatikan mengingat kerang merupakan salah satu sumber daya perairan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satu titik awal untuk mendukung keberlanjutannya yaitu dengan menganalisa keramah-lingkungan alat tangkap yang digunakan, khususnya penggunaan metode selam untuk menangkap kekerangan sesuai dengan Code of Conduct for Responsible Fisheries mutlak dilakukan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei melalui wawancara kuesioner Sembilan kriteria kepada kelompok nelayan selam. Analisis data dilakukan secara statistika deskriptif melalui pembobotan hasil wawancara nelayan. Berdasarkan hasil analisa sembilan kriteria keramah-lingkungan alat tangkap diperoleh bahwa metode selam sebagai alat tangkap kekerangan memiliki nilai skor akhir sebesar 31,62 yang menunjukkan bahwa metode selam ini termasuk ke metode penangkapan yang sangat ramah lingkungan