Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
    280 research outputs found

    Pemodelan Proses dan Evaluasi Ekonomi Produksi Bio-Oil dari Limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit

    Get PDF
    Oil palm empty fruit bunches (OPEFB) are solid waste which is the residue from processing palm oil into crude palm oil (CPO). The high number of OPEFB produced requires proper handling to minimize the negative impact on the surrounding environment. One of the solutions to deal with this is to process OPEFB into bio-oil using fast pyrolysis technology. Before applying the process in the real world, it is necessary to do an economic evaluation first to find out whether the process can be economically profitable. This study aims to carry out an economic evaluation of the bio-oil production process made from OPEFB using fast pyrolysis technology. Aspen Plus was used in this study to carry out process modeling, while the economic evaluation was based on several literatures such as previous books and journals. Based on the results of the economic evaluation, the total capital cost (TCC) required to build this facility is USD 1,152,686 with an operating expenditure (OpEx) of USD 168,107. Then, from the economic indicators in the form of payback period (PBP) and internal rate of return (IRR), this facility takes 4 years to reach PBP with an IRR of 22%.Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat yang merupakan sisa produksi dari pengolahan kelapa sawit menjadi minyak sawit mentah (MSM). Tingginya jumlah TKKS yang dihasilkan memerlukan penanganan yang tepat untuk meminimalisir dampak negatif terhadap lingkungan sekitar. Salah satu solusi untuk menangani hal tersebut adalah dengan mengolah TKKS menjadi bio-oil dengan menggunakan teknologi fast pyrolysis. Sebelum mengaplikasikan proses tersebut didunia nyata, perlu dilakukan evaluasi ekonomi terlebih dahulu untuk mengetahui apakah proses tersebut dapat menguntungkan secara ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi ekonomi pada proses produksi bio-oil berbahan baku TKKS dengan menggunakan teknologi fast pyrolysis. Aspen Plus digunakan pada penelitian ini untuk melakukan pemodelan proses, sedangkan evaluasi ekonomi didasarkan pada beberapa literatur seperti buku dan jurnal terdahulu. Berdasarkan hasil evaluasi ekonomi, total capital cost (TCC) yang diperlukan untuk membangun fasilitas ini sebesar 1.152.686 USD dengan operating expenditure (OpEx) sebesar 168.107 USD. Kemudian, dari indicator ekonomi berupa payback period (PBP) dan internal rate of return (IRR), fasilitas ini memerlukan waktu 4 tahun untuk mencapai PBP dengan IRR sebesar 22%

    Analisis Kegagalan pada Komponen Work Roll Setelah Perlakuan Panas

    Get PDF
    There has been a failure on the work roll components of the nodular cast iron type after the heat treatment, and the failure is in the form of cracks on the surface. In the heat treatment process, it can cover the whole or part of the component, and the consequence is that some elements will crack due to internal stress. This failure analysis research aims to find out the causes failure of work roll component. In this study, were carried out a visual inspection, non-destructive testing of dye penetrant and ultrasonic test, chemical composition test, fractography test microstructure test, and Rockwell C hardness test for the failed work roll components. The results showed that the component had high hardness and become brittle fracture. The content of 0,275% chromium can influence the high hardness of a carbide former. This amount exceeds 0,10% of the chromium composition of nodular cast iron, which makes carbides difficult to remove through heat treatment. Cracks in work roll components can also be affected by stress concentrations due to sudden changes in cross-sectional area during heat treatment triggered by porosity, inclusions, and acute angles.Telah terjadi kegagalan pada komponen work roll berjenis besi tuang nodular setelah dilakukan proses perlakuan panas, kegagalannya yaitu berupa retakan pada permukaan. Dalam proses perlakuan panas dapat mencakup keseluruhan bagian atau sebagian dari komponen, konsekuensinya sebagian komponen akan mengalami retak dikarenakan internal stress. Tujuan dilakukannya penelitian analisis kegagalan ini yaitu untuk mengetahui penyebab kegagalan pada komponen work roll. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan visual, pengujian tidak merusak dye penetrant dan ultrasonic test, pengujian komposisi kimia, pengujian fraktografi, pengujian struktur mikro, dan pengujian kekerasan Rockwell C terhadap komponen work roll yang mengalami kegagalan. Hasil penelitian menunjukkan komponen mempunyai kekerasan tinggi dan mengalami patah getas. Kekerasan yang tinggi tersebut dapat dipengaruhi oleh kandungan 0,275% chromium sebagai pembentuk karbida. Jumlah ini melebihi 0,10% dari komposisi chromium besi tuang nodular yang berakibat karbida akan sulit dihilangkan melalui perlakuan panas. Retak pada komponen work roll juga dapat dipengaruhi oleh konsentrasi tegangan akibat perubahan luas penampang secara tiba-tiba saat dilakukan perlakuan panas yang dipicu oleh porositas, inklusi, dan sudut yang lancip

    Analisis Kekuatan Struktur Pasca Retrofitting pada Kerusakan Struktur Balok Beton Bertulang

    Get PDF
    The provisions exceed of crack and deflection problems, causing retrofit as best alternative methods more than the conventional. This experimental research determines damage parameters, FRP StrongGlass E450 retrofits design capacity and the behavior of reinforced concrete beams post-retrofitting. Hammer Test results for existing beams with hlap (270 mm) < hmin (286 mm), the minimum concrete quality K.408 not reflecting beam ductile behavior that exceed of allowable cracked and deflection conditions. It has not yet caused collapse, where the tensile test results with fy average 348,47 MPa and fu average 491,32 MPa still exceed the minimum strength, so the BjTP 12 installed contributes maximum for beam ductility. The similarity field deflection values with theoretical analysis and SAP 2000, made SAP 2000 modeling as FRP design, where 1 layer StrongGlass E450, 200 mm wide along 3 beams object, fulfilling flexural strength requirements, shear strength and deflection. Loading test post with sand weighing 4200 Kg (increased 25,98%) in 3 stages, the tensile strength increased 23,879% (117,325 MPa) and strain max. 0,00154 indicates the beam before yielded. Post-density injection could be affects beam stiffness on deflection, pre-retrofit P1 (-34 mm) and P2 (-37 mm), and post-retrofit P1 (-30,8 mm) and P2 (-34,2 mm).Adanya permasalahan kerusakan struktur yang melebihi ketentuan, menyebabkan retrofit menjadi alternatif terbaik dibandingkan metode konvensional. Penelitian eksperimental untuk mengetahui parameter kerusakan, kapasitas desain FRP StrongGlass E450 sebagai bahan retrofit dan perilaku balok beton bertulang pasca retrofitting. Hasil Hammer Test balok existing hlap (270 mm) < hmin (286 mm), mutu beton terkecil K.408 belum mencerminkan perilaku daktail balok existing pada kondisi retak dan lendutan melebihi ijin. Kerusakan belum menyebabkan keruntuhan, di mana hasil uji tarik nilai fy rataan 348,47MPa dan fu rataan 491,32MPa masih melebihi batas minimum sehingga BjTP 12 terpasang berkontribusi maksimal pada daktilitas balok. Kemiripan nilai lendutan hasil analisis teoritis dan SAP 2000, maka permodelan SAP 2000 digunakan dalam desain FRP, di mana tipe StrongGlass E450 jumlah 1 lapis, lebar 200 mm sepanjang 3 balok uji memenuhi syarat kuat lentur, kuat geser, dan lendutan. Pasca uji pembebanan dengan beban pasir seberat 4200 Kg (meningkat 25,98 %) dalam 3 tahap, kuat tarik balok retrofit max 117,325 MPa (meningkat 23,879 %) dan regangan max. 0,00154 mengindikasikan balok belum mencapai luluh. Pasca injeksi pada retakan turut mempengaruhi kekakuan balok terhadap lendutan, saat pra-retrofit P1 (-34 mm) dan P2 (-37 mm), serta pasca retrofit P1 (-30,8 mm) dan P2 (-34,2 mm)

    Studi Pengaruh Konsentrasi Katalis ZnO untuk Degradasi Limbah Palm Oil Mill Effluent (POME) Menggunakan Teknologi Fotokatalitik

    Get PDF
    Indonesia is among the world’s largest palm oil market countries leading to significant growth in the domestic palm oil industry. However, the increase in palm oil trading has also led to a rise in the production of waste known as Palm Oil Mill Effluent (POME). Currently, the majority of factories use open ponds for POME processing, but this method is considered ineffective for treating POME. To address this issue, researchers are exploring photocatalytic technology, which utilizes light energy (UV, visible, sunlight) to produce radical compounds that act as oxidizing agents for POME degradation. In this study, ZnO was employed as a catalyst. The XRD and UV-vis DRS characterizations confirmed that ZnO had a hexagonal wurtzite crystal structure with a band gap energy of 3,22 eV. The photocatalytic activity test results revealed that using 0.5 g/L ZnO catalyst proved to be efficient in degrading organic content in POME. The percentage of chemical oxygen demand (COD) degradation reached 22.85%, color degradation reached 48.53% and the reaction rate kinetics constant of COD degradation was at 2.6´10-3 min-1.Indonesia merupakan salah satu negara center market kelapa sawit terbesar di dunia sehingga perkembangan industri kelapa sawit dalam negeri tumbuh dengan sangat pesat. Namun, meningkatnya aktivitas perdagangan kelapa sawit berdampak terhadap meningkatnya limbah yang dihasilkan yaitu Palm Oil Mill Eflluent (POME). Mayoritas pabrik saat ini masih menggunakan open pond sebagai teknologi pengolahan POME, namun penggunaan teknologi ini dinilai belum efektif untuk pengolahan POME. Fotokatalitik merupakan teknologi berbasis energi sinar (UV, tampak, sinar matahari) untuk menghasilkan senyawa radikal yang dimanfaatkan sebagai agen pengoksidasi limbah POME. Katalis yang digunakan pada penelitian ini adalah ZnO. Berdasarkan hasil karakterisasi XRD dan UV-vis DRS, struktur kristal dari ZnO adalah hexagonal wurtzite dengan energi celah pita sebesar 3,22 eV. Berdasarkan hasil uji aktivitas degradasi fotokatalitik limbah POME, diperoleh bahwa penggunaan katalis ZnO dengan konsentrasi 0,5 g/L dinilai cukup efisien untuk mendegradasi kandungan organik pada limbah POME dengan persentase reduksi chemical oxygen demand (COD) mencapai 22,85%, warna 48,53% dengan konstatnta laju reaksi COD (k) adalah 2,6´10-3 menit-1

    Desain Band Pass Filter pada Frekuensi X-Band Menggunakan Metode Square Resonator untuk Aplikasi Radar Navigasi

    Get PDF
    A bandpass filter is a component that can pass signals within a certain frequency range, bandpass filter will pass frequencies that are within the cut-off frequency range and reduce frequencies that are outside the cut-off frequency range. A bandpass filter can be used as a component in a navigation radar system in its application. The navigation radar works on X-band frequency, so we need a bandpass filter that can work at the X-band frequency, where in addition to passing the desired frequency and dampening unwanted frequencies, the bandpass filter can also prevent interference that can occur in the modulation process on the radar system. So in this study, a bandpass filter type filter that works at the X-band frequency with a center frequency of 9,1 GHz will be designed, where this filter will be created using the square resonator method, the advantages of this method in addition to its dimensions and simple circuit, the resonator with the shape square will have a suitable bandpass filter response. The final optimization filter that has been carried out produces parameters including the center frequency which is at 9,1 GHz, the bandwidth is 1.5 Ghz, S1.1 is 2,6 dB, and S2.1 is 14.4 dB.Bandpass filter merupakan sebuah komponen yang dapat melewatkan sinyal dalam range frekuensi tertentu, bandpass filter akan meloloskan frekuensi yang berada di dalam range frekuensi cut off dan meredam frekuensi yang berada di luar range frekuensi cut off. Dalam aplikasinya sebuah bandpass filter dapat digunakan sebagai salah satu komponen dalam sistem radar navigasi. Radar navigasi bekerja pada frekuensi X-band sehingga diperlukan sebuah bandpass filter yang dapat bekerja pada frekuensi X-band, dimana selain untuk meloloskan frekuensi yang diinginkan dan meredam frekuensi yang tidak diinginkan, bandpass filter juga dapat mencegah interferensi yang dapat terjadi dalam proses modulasi pada sistem radar. Maka pada penelitian ini akan dirancang sebuah filter jenis bandpass filter yang bekerja pada frekuensi X-band dengan frekuensi tengah 9,1 GHz, dimana filter ini akan dirancang menggunakan metode square resonator, keunggulan dari metode ini selain dimensi dan rangkaiannya yang sederhana, resonator dengan bentuk square akan memiliki respon bandpass filter yang baik. Filter hasil optimasi akhir yang telah dilakukan menghasilkan parameter diantaranya yaitu frekuensi tengah yang berada pada 9,1 GHz, bandwidth 1,5 Ghz, S1.1 sebesar 2,6 dB, dan S2.1 didapat sebesar 14,4 dB

    Analisis Permasalahan Batas Darat Antara Indonesia dan Malaysia dalam Perspektif Aspek Teknis dan Teknologi Geospasial

    Get PDF
    The implementation of survey boundary demarcation between Indonesia and Malaysia in Kalimantan has been carried out since 1975, and until now there are still 7 unresolved boundary issues. It’s called Outstanding Boundary Problems (OBP). In practice, issues arise due to differences in the datum and differences in the interpretation of the treaties of 1891, 1915, and 1928 between the Dutch Government and the British Government. This research aims to find an alternative model for the solution to the land boundary problem between Indonesia and Malaysia by conducting a critical, comprehensive study and analysis of the technical aspects of surveying and confirming the Indonesian and Malaysian state boundaries from the perspective of geospatial engineering and technology. This research combines an extensive literature study using maps, high-resolution satellite imagery, SRTM data, and field data from surveys and confirmation of the RI-Malaysia boundary to produce a comprehensive study from the perspective of technical aspects and geospatial technology. The results of the study resulted in an alternative model for solving land boundary problems between Indonesia-Malaysia, namely Indonesia received 3 claims and Malaysia obtained 3 claims from 7 existing problems and both parties divided the two for the Batu Aum area.Pelaksanaan kegiatan survei dan penegasan batas wilayah darat antara Indonesia dan Malaysia, di Kalimantan telah dilaksanakan sejak tahun 1975, hingga saat ini masih terdapat 7 permasalahan batas yang belum terselesaikan. Persoalan batas yang belum terselesaikan ini disebut Outstanding Boundary Problems (OBP). Pada pelaksanaannya timbul permasalahan yang diakibatkan oleh perbedaan datum maupun karena perbedaan interpretasi traktat 1891, 1915 dan 1928 yang dibuat antara Pemerintah Belanda dengan Pemerintah Inggris. Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk mencari alternatif model solusi permasalahan batas darat antara Indonesia dan Malaysia dengan melakukan studi kritis, komprehensif dan analisis aspek teknis pelaksanaan survei dan penegasan batas negara Indonesia dan Malaysia dalam perspektif aspek teknik dan teknologi Geospasial. Penelitian ini menggabungkan studi literatur yang luas menggunakan peta, citra satelit resolusi tinggi, data SRTM dan data lapangan hasil survei dan penegasan batas RI-Malaysia untuk menghasilkan sebuah kajian yang komprehensif dalam perspektif aspek teknis dan teknologi Geospasial. Hasil studi menghasilkan alternatif model solusi permasalahan batas darat antara Indonesia-Malaysia yaitu Indonesia mendapatkan 3 klaim dan Malaysia memperoleh 3 klaim dari 7 permasalahan yang ada dan kedua belah pihak membagi dua untuk Wilayah Batu Aum

    Analisis Variabel Perubahan Suhu Terhadap Karakteristik Tegangan Tembus Dielektrik Udara

    Get PDF
    The problem in the tropics is the effect of temperature changes on the high voltage system, resulting in isolation around the electricity distribution in the 20 kV cubicle, which can trigger the insulation failure (breakdown voltages) on a feeder. To reduce the occurrence of power outages due to insulation failure with changing temperatures, direct testing is carried out by providing temperature variations ranging from 30oC to 90oC. To correctly understand the phenomenon, testing should be carried out. The test is carried out every 5 oC temperature increase. Based on the research results, a graph is obtained that explains the decrease in the breakdown value at 50oC, which causes the insulation breakdown voltage to be 27kV, and the decrease in the breakdown voltage at 90oC, which causes the insulation breakdown voltage to decrease to 22kV. Based on experiments, it can be concluded that the greater the temperature rise, The breakdown voltage appears more quickly. Thereafter, the data from the research results were tested using the linear regression analysis method, so that a MAPE obtained 3.89% and an RMSE obtained 1.33 were obtained with an average percentage obtained 0.37%.Permasalahan pada daerah tropis dimana adanya pengaruh perubahan suhu terhadap sistem tegangan tinggi mengakibatkan isolasi di sekitar penyaluran listrik yang terdapat pada kubikel 20 kV dapat memicu terjadinya kegagalan isolasi (Breakdown Voltages), kegagalan isolasi merupakan suatu gangguan kelistrikan yang mengakibatkan pemadaman listrik di area layanan pada suatu penyulang. Untuk mengurangi terjadinya pemadaman listrik akibat kegagalan isolasi dengan suhu yang berubah – ubah tersebut, maka dilakukan pengujian secara langsung dengan memberikan variasi suhu berkisar 30ºC – 90ºC. Pengujian dilakukan Untuk melihat fenomena secara jelas. Pengujian dilakukan setiap kenaikan suhu 5ºC. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh grafik yang menjelaskan penurunan nilai breakdown pada 50ºC yang mengakibatkan tegangan tembus isolasinya bernilai 27kV dan penurunan tegangan tembus hingga suhu 90ºC yang mengakibatkan tegangan tembus isolasinya menurun hingga 22kV. Dari pengujian dapat disimpulkan bahwa semakin besar kenaikan suhu maka semakin cepat pula tegangan tembus yang diperoleh. Selanjutnya data dari hasil penelitian diuji menggunakan metode analisis regresi linear sehingga diperoleh MAPE sebesar 3,89% dan RMSE sebesar 1,33 dengan persentase rata-rata sebesar 0,37%

    Pengaturan Parameter Power System Stabilizer pada Pembangkit di Sistem IEEE 39 Bus

    Get PDF
    Semakin kompleksnya sebuah sistem kelistrikan menyebabkan permasalahan yang muncul menjadi semakin kompleks. Salah satu isu yang penting untuk dilakukan kajian adalah terkait kestabilan sistem, khususnya kestabilan sinyal kecil. Power System Stabilizer merupakan komponen dari sistem eksitasi pembangkit yang dapat memberikan solusi dari permasalahan kestabilan sinyal kecil jika dilakukan pengaturan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan observasi parameter Power System Stabilizer untuk meningkatkan kestabilan sinyal kecil pada sistem IEEE 39 Bus. Power System Stabilizer dapat meningkatkan batas kestabilan sistem dengan melakukan redaman pada osilasi untuk rentang frekuensi 0.2-2.5 Hz. Dalam penentuan pembangkit yang memerlukan pemasangan Power System Stabilizer dilakukan pemodelan generator menggunakan model Heffron–Phillips dimana dalam menentukan generator yang perlu dipasang PSS digunakan perhitungan fakor partisipasi. Penentuan parameter PSS mejadi krusial dimana, dengan menganalisa batas-batas kestabilan dan proses iterasi nilai faktor penguatan, konstanta waktu, dan washout filter dapat ditentukan. Berdasarkan analisis modal didapatkan bahwa G10 memiliki partisipasi tinggi dalam moda yang tidak stabil sehingga diputuskan perlu dilakukan pemasangan PSS pada generator tersebut. Setelah dilakukan pemasangan PSS didapatkan faktor redaman yang dihasilkan oleh pemasangan PSS masih kurang dari 5%. Melalui penggunaan metoda Heffron–Phillips diperlukan adanya langkah tambahan optimasi tambahan sehingga penentuan parameter PSS dapat memberikan hasil yang lebih baik.Semakin kompleksnya sebuah sistem kelistrikan menyebabkan permasalahan yang muncul menjadi semakin kompleks. Salah satu isu yang penting untuk dilakukan kajian adalah terkait kestabilan sistem, khususnya kestabilan sinyal kecil. Power System Stabilizer merupakan komponen dari sistem eksitasi pembangkit yang dapat memberikan solusi dari permasalahan kestabilan sinyal kecil jika dilakukan pengaturan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan observasi parameter Power System Stabilizer untuk meningkatkan kestabilan sinyal kecil pada sistem IEEE 39 Bus. Power System Stabilizer dapat meningkatkan batas kestabilan sistem dengan melakukan redaman pada osilasi untuk rentang frekuensi 0.2-2.5 Hz. Dalam penentuan pembangkit yang memerlukan pemasangan Power System Stabilizer dilakukan pemodelan generator menggunakan model Heffron–Phillips dimana dalam menentukan generator yang perlu dipasang PSS digunakan perhitungan fakor partisipasi. Penentuan parameter PSS mejadi krusial dimana, dengan menganalisa batas-batas kestabilan dan proses iterasi nilai faktor penguatan, konstanta waktu, dan washout filter dapat ditentukan. Berdasarkan analisis modal didapatkan bahwa G10 memiliki partisipasi tinggi dalam moda yang tidak stabil sehingga diputuskan perlu dilakukan pemasangan PSS pada generator tersebut. Setelah dilakukan pemasangan PSS didapatkan faktor redaman yang dihasilkan oleh pemasangan PSS masih kurang dari 5%. Melalui penggunaan metoda Heffron–Phillips diperlukan adanya langkah tambahan optimasi tambahan sehingga penentuan parameter PSS dapat memberikan hasil yang lebih baik

    Rancang Bangun Sistem Presensi Pegawai Menggunakan Pintu Otomatis Berbasis NFC (Near Field Communication)

    Get PDF
    The attendance system is considered to be able to assist an agency in providing information about a person\u27s attendance schedule. The attendance system can also be used as an effective tool for implementing discipline in an agency because, in this attendance system, we can see the difference between people\u27s discipline through the timeliness of attendance that has been determined at each of these agencies. In designing this system the method used is NFC (Near Field Communication) where this system can be used to help record someone\u27s attendance schedule. The hardware used is a door lock solenoid, and personal computer devices, while the software used is Wemos D1 Mini. For recording the database used is MySql. The results of presence system using NFC using the Key Door Lock method have a very high level of accuracy for reading an identity card. It can be seen from the data that has been collected that the accuracy of reading an identity card by an NFC reader shows that there is no error or error. The results of response time check test on the NFC reader reading can be proven by formula, where average time value of response time check test is 0.67 minutes.Sistem presensi dinilai dapat membantu suatu instansi dalam memberikan informasi mengenai jadwal kehadiran seseorang. Sistem presensi juga dapat digunakan sebagai salah satu alat yang efektif untuk menerapkan sikap disiplin pada sebuah instansi, dikarenakan pada sistem presensi ini kita dapat melihat perbedaan antara kedisiplinan orang melalui ketepatan waktu presensi yang telah ditentukan pada masing – masing instansi tersebut. Pada perancangan sistem ini metode yang digunakan adalah NFC (Near Field Communication) dimana sistem ini dapat digunakan dalam membantu pencatatan jadwal presensi seseorang. Perangkat keras yang digunakan adalah solenoid door lock, dan perangkat personal komputer, sedangkan untuk perangkat lunak yang digunakan diantaranya adalah Wemos D1 Mini. Untuk pencatatan pada database yang digunakan adalah MySql. Hasil perancangan sistem presensi menggunakan NFC menggunakan metode Key Door lock ini memiliki tingkat akurasi NFC reader dalam membaca kartu identitas sangat tinggi dapat dilihat dari data yang telah dikumpulkan bahwa tingkat akurasi pembacaan kartu identitas oleh NFC reader menunjukan tidak terjadi error atau kesalahan. Hasil pengujian cek response time pada pembacaan NFC reader hal tersebut dapat dibuktikan secara rumus, dimana nilai waktu rata – rata pengujian cek response time adalah 0,67 menit

    Penjadwalan Dinamis Menggunakan Metode Rolling Time Window (RTW) pada Kasus Flowshop 3 Mesin untuk Meminimumkan Total Biaya Lateness, Earliness dan Re-Scheduling

    Get PDF
    This study discusses the problem of job scheduling in a three-machine flowshop to minimize the total cost of lateness, earliness, and rescheduling. This research takes a real system from one of the manufacturing companies engaged in the machining operations of various components. There are 12 jobs with different arrival patterns and due dates. The company uses the first-in, first-out (FIFO) scheduling method and gets the result that some products finish early and some finish late. This study tries to improve the company\u27s scheduling performance by proposing a rescheduling using the rolling time window (RTW) method. Although it is relatively small, scheduling results show an improvement in company performance as measured by the total cost of earliness, lateness, and rescheduling, although it is relatively small (3%). This improvement is obtained by suggesting the company reschedule every 15 days by evaluating the length of the window per 30 days. The company can still use the FIFO method used by the company considering the characteristics of the jobs that come to it are still under control. The company is deemed capable of making agreements with consumers regarding the delivery deadline, making the job queues on the production floor less crowded.Penelitian ini membahas masalah penjadwalan job pada flowshop tiga mesin dengan tujuan untuk meminimumkan total biaya yang terdiri dari biaya lateness, biaya earliness, dan biaya re-scheduling. Penelitian ini mengambil sistem nyata pada salah satu perusahaan manufaktur yang bergerak pada operasi permesinan berbagai komponen. Terdapat 12 job dengan pola kedatangan dan saat tenggat (due date) yang berbeda. Perusahaan menggunakan metode penjadwalan First In-First Out (FIFO) dan mendapatkan hasil berupa beberapa produk selesai lebih awal dan beberapa lainnya selesai terlambat. Penelitian ini mencoba memperbaiki performa penjadwalan perusahaan dengan mengusulkan adanya penjadwalan ulang menggunakan metode Rolling Time Window (RTW). Hasil penjadwalan menunjukkan adanya perbaikan performa perusahaan yang diukur dari total biaya earliness, lateness dan re-schedule meskipun relatif kecil (3%). Perbaikan ini diperoleh dengan menyarankan perusahaan melakukan re-schedule setiap 15 hari sekali dengan mengevaluasi panjang window per 30 hari. Metode FIFO yang dipakai perusahaan masih dapat digunakan mengingat karakteristik job yang datang ke perusahaan masih terkendali. Perusahaan dinilai mampu membuat kesepakatan dengan konsumen mengenai saat tenggat pengiriman yang membuat antrian job dilantai produksi menjadi tidak terlalu padat

    104

    full texts

    280

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇