Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
280 research outputs found
Sort by
Perbandingan Nilai Kedalaman Relatif Sungai Brantas Kabupaten Jombang dengan Perhitungan Algoritma Van Hengel and Spitzer Citra Sentinel-2 dan Digital Elevation Model (DEM)
Shallow water relative depth can be gained from the Digital Elevation Model (DEM). As science develops, methods are developed to gain the relative depth one is by processing the Sentinel-2 image using Van Hengel and Spitzer algorithm. The authors aim to compare the relative depth gained from the Sentinel-2 image using the Van Hengel and Spitzer algorithm to the relative depth gained from DEM. The data needed are orthorectified Sentinel-2 level 1C images downloaded from the Earth Explorer page and DEM downloaded from the Tanah Air page. Sentinel-2 image is then corrected atmospherically and radiometrically to get its radian value then processed using the Van Hengel and Spitzer algorithm. The sample points are spread at 25 meters intervals along the Jombang regency Brantas River. This study only compares the computational calculation therefore no field validation is carried out. Sentinel-2 Van Hengel and Spitzer provides an average relative depth of 16.35 m and DEM provides an average relative depth of 17.98 m with the determination coefficient (correlation value) of the two data is 6.52%. The low correlation is due to the high sediment content in the water column of Brantas River, causing the bias in the image.Kedalaman relatif perairan dangkal dapat diperoleh melalui Digital Elevation Model (DEM). Seiring berkembangnya sains, banyak metode dikembangkan untuk memperoleh nilai kedalaman relatif salah satunya dengan mengolah citra Sentinel-2 menggunakan algoritma Van Hengel and Spitzer. Penulis bertujuan untuk membandingkan nilai kedalaman relatif yang didapatkan dari pengolahan citra Sentinel-2 menggunakan algoritma Van Hengel and Spitzer dengan kedalaman relatif yang didapatkan melalui DEM. Data yang dibutuhkan pada penelitian ini adalah citra Sentinel-2 level 1C yang telah ter orthorektifikasi diunduh dari laman Earth Explorer dan DEM yang diunduh dari laman Tanah Air. Citra Sentinel-2 kemudian dikoreksi secara atmosferik dan radiometrik untuk mendapatkan nilai radiannya yang kemudian diolah dengan algoritma Van Hengel and Spitzer. Titik sampel disebar dengan interval 25 meter sepanjang sungai Brantas Kabupaten Jombang. Penelitian ini hanya membandingkan perhitungan secara komputasi sehingga tidak dilakukan validasi lapangan. Hasil dari pengolahan citra Sentinel-2 dengan algoritma Van Hengel and Spitzer memberikan rata-rata kedalaman relatif sebesar 16,35m dan rata-rata kedalaman relatif DEM yaitu sebesar 17,98m. Hasil perhitungan statistik menunjukkan nilai koefisien determinasi kedalaman relatif citra Sentinel-2 yang diolah menggunakan algoritma Van Hengel and Spitzer dengan DEM adalah sebesar 6,52%. Korelasi yang rendah tersebut diakibatkan tingginya kandungan sedimen dalam kolom air Sungai Brantas sehingga menimbulkan bias pada citra
Kajian Penggunaan Profil Pultruded Fiber Reinforced Polymer untuk Jembatan Pejalan Kaki
The interest in composite materials has increased significantly due to their high strength to weight ratio. Utilization of FRP as construction material is not yet popular in Indonesia as it’s generally used for strengthening structural elements. This study aims to provide a design overview of a hypothetical hollow square profile 150.130.10 on a single span bridge with 12, 16, 20 and 24 meters span length variations. The method refers to the AASHTO design criteria in the form of deflection, vibration, and component allowable stress. The results show that all design criteria on a 12 meters span are fulfilled. Due to insufficient bridge stiffness in 20 and 24 meters span, the vertical fundamental frequency is 4.33 Hz and 3.3 Hz respectively, thus the requirements (> 5Hz) are not fulfilled. In addition, the FRP profile weak axis critical compressive capacity (68.95 kN) cannot withstand the critical load at spans of 16, 20 and 24 meters (respectively: 97.91 kN; 144.39 kN; 185.36 kN). This study shows that dynamic responses and material characteristics are two factors that may determine pedestrian FRP bridges design.Minat pada material komposit telah meningkat secara signifikan karena rasio kekuatan terhadap beratnya yang tinggi. Perencanaan struktur menggunakan material dasar FRP belum popular di Indonesia, penggunaannya masih didominasi untuk perkuatan elemen struktur. Kajian ini bertujuan untuk memberikan gambaran desain menggunakan profil hipotesis persegi berongga dengan dimensi 150.130.10 pada jembatan bentang tunggal dengan variasi panjang bentang 12, 16, 20, dan 24 meter. Metode yang digunakan mengacu pada kriteria desain AASHTO berupa defleksi, vibrasi, serta tegangan ijin komponen. Hasil kajian menunjukan dipenuhinya seluruh kriteria desain pada bentang 12 meter. Karena tidak cukupnya kekakuan jembatan pada bentang 20 dan 24 meter frekuensi fundamental vertikal masing-masing bernilai 4,33 Hz dan 3,3 Hz sehingga syarat (> 5Hz) tidak terpenuhi. Selain itu, kapasitas tekan kritis sumbu lemah profil FRP (68,95 kN) tidak dapat menahan beban kritis pada bentang 16, 20, dan 24 meter (masing-masing: 97,91 kN; 144,39 kN; 185,36 kN). Kajian ini menunjukan bahwa respon dinamis dan pemilihan karakteristik material FRP adalah dua hal yang mungkin menjadi faktor penentu desain jembatan FRP pejalan kaki
Antena Helix Mode Axial untuk Frekuensi Kerja Radar S-Band
This study designed an axial mode helix antenna with a working frequency used of 2.1 GHz, which has a return loss value of < -10 dB and VSWR < 1.3. The simulation was carried out using the CST studio suite 2020 software by designing a helix antenna from the calculation results to optimization of the helix antenna structure, namely the distance between the windings, the number of windings, the diameter of the windings, and the diameter of the ground plane until the simulation results are in accordance with the specifications of the desired parameters. Based on the final results of the return loss parameters and VSWR has met the designed specification standards, from the simulation results of the axial mode helix antenna, the results were obtained, namely at a return loss of -22 dB and at a VSWR value obtained 1.17. The results of the measurement of the axial mode helix antenna obtained the same result at a return loss of -22 dB and at VSWR 1.17 but the frequency value used in the measurement shifted to 2.45 GHz, this is not a problem because the s-band frequency can work from 2 GHz to 4 GHz.Penelitian ini merancang sebuah antena helix mode axial dengan frekuensi kerja yang digunakan sebesar 2,1 GHz yang terdapat pada rentang frekuensi radar S-Band, yang memiliki nilai Return loss < -10 dB dan VSWR < 1,3. Simulasi dilakukan dengan menggunakan sofware CST studio suite 2020 dengan merancang antena helix dari hasil perhitungan hingga dilakukan optimasi pada struktur antena helix, yaitu jarak antar lilitan, jumlah lilitan, diameter lilitan, dan diameter ground plane sampai hasil simulasi sesuai dengan spesifikasi parameter yang diinginkan. Berdasarkan hasil akhir parameter Return loss dan VSWR sudah memenuhi standar spesifikasi yang dirancang, dari hasil simulasi antena helix mode axial didapat hasil yaitu pada Return loss -22 dB dan pada nilai VSWR didapat 1,17. Adapun hasil dari pengukuran antena helix mode axial didapat hasil yang sama pada Return loss -22 dB dan pada VSWR 1,17 tetapi nilai frekuensi yang digunakan pada pengukuran bergeser menjadi 2,4 GHz, hal ini dikarenakan pita frekuensi s-band dapat bekerja pada 2 GHz sampai dengan 4 GHz
Perancangan Sistem Pengukuran, Pengendalian, dan Akuisisi Data Menggunakan Arduino dengan Antarmuka WinForms. Studi Kasus: Temperatur
Research was conducted to develop a data acquisition and control system using Arduino on a Windows operating system based on a Graphical User Interface (GUI). The data acquisition system can store measurement results data which can be used for analysis of the control system. The devices used are an Arduino type Mega 2560 microcontroller and a K type thermocouple using the MAX6675 driver. The GUI was created in the C# programming language using the WinForms application. Data acquisition is carried out using an Arduino device connected to a computer via a USB connection. The control system works by regulating the water heater connected to the relay by Arduino using the setpoint value on the GUI. The data acquisition and control system is designed using PID control mode with parameters Kp = 1.189159, Ki = 2.038558, and Kd = 0.173419. Based on the experimental results, the PID control mode has the smallest error value, namely 871.7 using the IAE method and 402,457 using the ITAE method.Penelitian dilakukan untuk mengembangkan sistem akuisisi data dan kontrol menggunakan Arduino pada sistem operasi windows berbasis Graphical User Interface (GUI). Sistem akuisisi data dapat menyimpan data hasil pengukuran yang dapat digunakan untuk analisis terhadap sistem kontrol. Perangkat yang digunakan berupa mikrokontroler Arduino tipe Mega 2560 dan termokopel tipe K menggunakan driver MAX6675. GUI dibuat dengan bahasa program C# menggunakan aplikasi WinForms. Akuisisi data dilakukan menggunakan perangkat Arduino yang terhubung dengan komputer melalui koneksi USB. Sistem pengendalian bekerja dengan cara mengatur water heater yang terhubung ke relay oleh Arduino menggunakan nilai setpoint pada GUI. Sistem akuisisi data dan kontrol dirancang menggunakan mode kontrol PID dengan parameter Kp = 1,189159, Ki = 2,038558, dan Kd = 0,173419. Berdasarkan hasil percobaan, mode kontrol PID memiliki nilai kesalahan terkecil yaitu sebesar 871,7 dengan metode IAE dan 402.457 menggunakan metode ITAE
Analisis Pengaruh Waktu Torefaksi Terhadap Kualitas Biobriket dari Cangkang Kelapa Sawit (Palm Oil Shell)
Palm oil shells are solid waste from the palm oil processing industry. In 1 ton of palm oil produces 6.5% shell waste. Solid waste can be converted into fuel as a substitute for oil, namely bio-briquettes as an alternative fuel through a combustion process with less air. This study aims to determine the effect of time variations on the quality and yield of bio-briquettes produced using a combined pretreatment method of densification (with additional binder) and torrefaction at a temperature of 275 oC and time variations of 30, 45, 60, 75 and 90 minutes. Torrefaction is a new method in the briquetting process where this method takes place at low temperatures. The results showed that the longer the torrefaction time, in general, the value of water content, ash content, volatile matter content, fixed carbon value and burning time also increased. However, this is inversely proportional to the yield value of the resulting product, so the best quality is obtained in 75 minutes with a moisture content of 0.86%, ash content 2.38%, volatile matter content 18.23%, fixed carbon value 78.51 %, product yield is 36.3165% and calorific value is 5964 Kcal/kg.Cangkang kelapa sawit adalah limbah padat dihasilkan dari industri pengolahan minyak kelapa sawit, dimana dalam 1 ton kelapa sawit dapat menghasilkan 6,5% limbah cangkang. Limbah ini dapat diproses menjadi bahan bakar padat / biobriket sebagai alternatif bahan bakar melalui proses torefaksi dengan sedikit atau tanpa udara. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh dari variasi waktu terhadap kualitas dan rendemen biobriket yang dihasilkan menggunakan metode pretreatment gabungan densifikasi (dengan tambahan pengikat) dan torefaksi pada temperatur 275 oC dan variasi waktu yaitu 30, 45, 60, 75 dan 90 menit. Torefaksi termasuk metode baru dalam proses pembriketan dimana metode ini berlangsung pada temperatur rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin lama waktu torefaksi maka secara umum nilai kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, nilai fixed carbon serta waktu bakar juga semakin meningkat. Namun hal ini berbanding terbalik untuk nilai rendemen produk yang dihasilkan, sehingga untuk kualitas terbaik didapatkan pada waktu 75 menit dengan kadar air 0,86%, kadar abu 2,38%, kadar zat terbang 18,23%, nilai fixed carbon 78,51%, rendemen produk 36,3165 % dan nilai kalor sebesar 5964 Kcal/kg
Antena Mikrostrip Circular Patch untuk Aplikasi Radar Altimeter pada Frekuensi C-Band Menggunakan Metode Parasitik
Currently, human mobility and traffic between regions and between countries are increasing, this requires the world of aviation to grow as well. One of the developments in the world of aviation is radar altimeter technology as an aircraft navigation system that works in the frequency range of 4.2 - 4.4 GHz. In this research, the realization of a microstrip antenna with a circular patch on the C-band frequency has been carried out with the addition of parasitic elements and proximity coupled feeding to strengthen the gain and widen the bandwidth. The antenna is made using Rogers RT5870 material which has a relative permittivity of 2.33, a material thickness of 1.575 mm and a loss tangent of 0.0012. The measurement results show that the bandwidth of 300 MHz is 3.54% narrower than the simulation results, while the gain is 4.79% to 8.13 dBi and the radiation pattern is unidirectional.Saat ini mobilitas manusia serta lalu lintas antar daerah maupun antar negara semakin meningkat, hal tersebut menuntut dunia penerbangan untuk semakin berkembang pula. Salah satu perkembangan pada dunia penerbangan yaitu teknologi radar altimeter sebagai sistem navigasi pesawat yang bekerja pada rentang frekuensi 4,2 – 4,4 GHz. Pada penelitian ini telah dilakukan realisasi antena mikrostrip dengan patch berbentuk lingkaran pada frekuensi C-band dengan penambahan elemen parasitik dan pencatuan proximity coupled untuk memperkuat gain serta memperlebar bandwidth. Antena yang dibuat menggunakan bahan Rogers RT5870 yang memiliki konstanta dielektrik 2,33, dengan ketebalan bahan 1,575 mm dan loss tangen 0,0012. Hasil pengukuran didapatkan lebar bandwidth 300 MHz lebih sempit 3,54% dibanding hasil simulasi sedangkan gain lebih besar 4,79% menjadi 8,13 dBi serta pola radiasi unidirectional. Parameter-parameter tersebut telah memenuhi spesifikasi antena yang sudah dibuat
Penambahan Gardu Distribusi Berdasarkan Pertumbuhan Beban Listrik Menggunakan GUI Matlab di Wilayah Tangerang
Distribution system development Planning is very important in line with the increasing need for electricity loads, attention must be paid to quality of power delivered to consumers. The addition of a distribution network will certainly result in an increase in the capacity and number of transformers and distribution substations. The addition of distribution substations was based on the selection of distribution transformer ratings based on the growth of their load. The distribution transformer loading is made at a maximum of 80% with distributed model. Distribution transformers addition calculation requires an approach to connect the total distribution transformers and distribution substations, namely the average result of the total distribution transformers divided by the total distribution substations, it requires quite complex calculations. To make planning for adding distribution substations easier, you can use the Matlab Graphical User Interface (GUI). With the Matlab GUI program, projections for adding substations can be done easily, quickly, and precisely, and can be applied to any region more accurately. Based on the results of the GUI simulation, it was found that the total additional transformer capacity for the Tangerang area was 1.6 MVA with the addition of 7 distribution substations.Perencanaan pengembangan sistem distribusi menjadi suatu yang sangat penting seiring dengan peningkatan kebutuhan beban listrik, dengan tetap memperhatikan sisi efisiensi penyaluran dan kualitas daya yang disalurkan ke konsumen. Penambahan jaringan distribusi tentunya akan mengakibatkan penambahan kapasitas dan jumlah transformator serta gardu distribusi. Oleh karena itu diperlukan perhitungan yang tepat untuk penentuan hal tersebut. Dalam penelitian ini, penambahan gardu distribusi didasarkan pada pemilihan rating trafo distribusi berdasarkan pertumbuhan bebannya. Pembebanan trafo distribusi dibuat maksimum 80 % dari rating kapasitasnya dengan model terdistribusi merata. Perhitungan penambahan Transformator distribusi memerlukan suatu pendekatan untuk menghubungkan total Transformator distribusi dan total gardu distribusi yaitu hasil rata-rata dari total Transformator distribusi dibagi dengan total gardu distribusi sehingga didapat nilai penambahan Gardu distribusi. Untuk merencanakan penambahan gardu distribusi memerlukan perhitungan yang cukup kompleks dan rumit. Agar perencanaan penambahan gardu distribusi menjadi lebih mudah, maka dapat menggunakan Graphical User Interface (GUI) Matlab. Dengan adanya program GUI Matlab maka proyeksi untuk penambahan gardu induk dapat dilakukan dengan mudah, cepat dan juga tepat serta dapat diaplikasikan untuk wilayah manapun dengan lebih akurat. Berdasarkan hasil simulasi GUI didapatkan total penambahan kapasitas trafo untuk wilayah Tangerang adalah sebesar 1,6 MVA dengan penambahan gardu distribusi sebanyak 7 unit
Pemanfaatan Limbah Polyethylene pada Campuran Lapis Tipis Aspal Beton
Flexible pavement is a road pavement that uses asphalt as a binder. Asphalt mixture performance needs to be improved by modifying using admixture material to improve its durability and resistance to plastic deformation. To increase the performance of asphalt mixtures, one of the alternatives is to utilize Polyethylene (PE) plastic waste. Hot Rolled Sheet (HRS) has a relatively high asphalt content compared to other types of mixtures because of is waterproof. This study was carried out using the dry method, Polyethylene (PE) plastic waste was added to the aggregate and hot asphalt mixture at the temperature of the mixture. Variations in the content of Polyethylene (PE) plastic waste added are 3%, 3.5%, and 4% by weight of asphalt. The characteristics of the asphalt mixture were the test results showed an increase in stability of 10 - 20% and the melting value was at 3 - 4mm. The residual strength index value shows that the addition of Polyethylene (PE) plastic waste can increase the resistance to damage by a percentage of 0.55% compared to without the addition of Polyethylene (PE) plastic waste. The level of addition of Polyethylene (PE) plastic waste is in the range of 3.5-3.9%.Perkerasan lentur merupakan perkerasan jalan yang menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Kinerja campuran beraspal perlu ditingkatkan dengan cara memodifikasi campuran beraspal untuk menghasilkan campuran yang kuat, tahan lama dan tahan terhadap deformasi plastis. Untuk menaikkan kinerja campuran beraspal, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan limbah plastik Polyethylene (PE). Lapis Tipis Aspal Beton (LATASTON) mempunyai kandungan aspal relatif tinggi dibandingkan dengan tipe campuran lainnya karena sifatnya yang kedap air. LATASTON pada penelitian ini dilakukan dengan metode kering yaitu menambahkan limbah plastik Polyethylene (PE) yang ditambahkan kedalam campuran agregat dan aspal panas pada temperatur campuran dan diaduk selama 30 - 45 detik. Variasi kadar limbah plastik Polyethylene (PE) yang ditambahkan yaitu 3%, 3,5% dan 4% dari berat aspal. Variasi penambahan limbah plastik Polyethylene (PE) dengan LATASTON dievaluasi berdasarkan karakteristik dasar campuran aspal dimana hasil pengujian menunjukkan peningkatan pada stabilitas 10 – 20% dan nilai kelelehan berada pada 3 – 4mm. Nilai indeks kekuatan sisa menunjukkan dengan penambahan limbah plastik Polyethylene (PE) dapat meningkatkan ketahanan terhadap kerusakan dengan persentase 0,55% dibandingkan tanpa penambahan limbah plastik Polyethylene (PE). Kadar penambahan limbah plastik Polyethylene (PE) berada pada rentang 3,5-3,9%
Analisa Pengukuran Parameter Quality of Service dan Quality of Experience pada Layanan HbbTV
Hybrid Broadcast Broadband TV (HbbTV) is delivery standard for signaling, transmission, presentation of enhanced interactive television services and related applications, designed for use over broadcast networks and Internet. It is only standard that allows direct connection between linear and online content. It works on hybrid devices that include both broadcast and Internet connections. This standard will bring new dimension to services delivered through television programs (TV and Internet) and enhance consumer user experience by enabling innovative and interactive services over broadcast and broadband networks. improve. The HbbTV specification was developed by the HbbTV Association to effectively manage the rapidly increasing amount of content for today\u27s consumers. HbbTV is a technology that combines traditional television broadcasts with Internet services and interactive applications. This research focuses on role of QoS and QoE in HbbTV implementations and measurement of parameters using Wireshark software that affect quality of service and user experience. The research method is experiment measuring QoS and QoE parameters. The QoS measurements were average throughput 47531,8bps, packet loss 4,9968%, delay 189.38ms, jitter 17700ms. We also conducted QoE measurement survey to collect user data to be collected. Data analysis revealed that 7.7% of consumer expectations of HbbTV users need to be improved.Hybrid Broadcast Broadband TV (HbbTV) adalah standar pengiriman untuk persinyalan, transmisi, presentasi layanan televisi interaktif yang disempurnakan serta aplikasi terkait, dirancang untuk digunakan melalui jaringan penyiaran dan Internet. Standar ini merupakan satu-satunya memungkinkan koneksi langsung antara konten linear dan online, dapat berjalan pada terminal hybrid mencakup koneksi siaran dan Internet. Standar ini memberikan dimensi baru pada layanan yang ditawarkan oleh program saluran televisi (TV dan Internet) dan meningkatkan pengalaman pengguna bagi konsumen dengan memungkinkan layanan yang inovatif dan interaktif melalui jaringan siaran dan broadband. Spesifikasi HbbTV dikembangkan oleh Asosiasi HbbTV untuk secara efektif mengelola jumlah konten yang tersedia untuk meningkatkan pesat yang ditargetkan untuk konsumen akhir saat ini. HbbTV adalah teknologi yang memadukan siaran televisi tradisional dengan layanan internet dan aplikasi interaktif. Penelitian ini membahas peran QoS dan QoE dalam implementasi HbbTV, dengan fokus pada pengukuran parameter menggunakan software wireshark mempengaruhi kualitas layanan dan pengalaman pengguna. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan mengukur parameter QoS dan QoE. Hasil pengukuran QoS rata-rata throughput 47531,8 bps, Packet loss 4,9968%, delay 189,38 ms dan jitter 17700 ms Selanjutnya dalam pengukuran QoE, survei dilakukan untuk mengumpulkan data dari pengguna. Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat 7,7% harapan konsumen terhadap penggunaa HbbTV lebih ditingkatkan
Hidrogenasi Hidrotermal Katalitik Asam Oleat dengan Produksi Hidrogen secara in-situ Menggunakan Katalis NiO/y-Al2O3
Hydrogenation reaction is one of the most important reactions for the oleochemical industry to convert unsaturated fatty acids into saturated fatty acids and their derivatives. The need for large amounts of hydrogen in hydrogenation reactions will be a problem in terms of hydrogen availability and economy. Catalytic hydrothermal technology offers several advantages including the ability to produce hydrogen in-situ. The focus of this research is to evaluate the effect of metal charge addition on the catalyst, the effect of tin addition on NiO/y-Al2O3 catalyst and the effect of glycerol addition as a source of H2 production in-situ on the hydrogenation conversion of oleic acid. The catalyst was prepared by dry impregnation method. XRD, XRF and BET characterization of the catalysts confirmed the presence of Ni and Sn metals on the catalysts. Hydrogenation conversion in the reaction without glycerol using NiO/y-Al2O3 catalyst at 300oC for 6 hours did not show significant changes with the addition of metal loading. However, the addition of Sn metal increased the selectivity of in-situ H2 production used to hydrogenate oleic acid with a hydrogenation conversion of 36%. The addition of glycerol to the reactants also increased the hydrogenation conversion compared to the reaction without glycerol.Reaksi hidrogenasi adalah salah satu reaksi yang sangat penting bagi industri oleokimia untuk mengubah asam-asam lemak tak jenuh menjadi asam lemak jenuh dan turunannya. Kebutuhan hidrogen dalam jumlah besar pada reaksi hidrogenasi akan menjadi suatu masalah dalam hal ketersediaan hidrogen dan keekonomisannya. Teknologi hidrotermal katalitik menawarkan beberapa keuntungan diantaranya dapat memproduksi hidrogen secara in-situ. Fokus penelitian ini adalah untuk untuk mengevaluasi pengaruh penambahan muatan logam pada katalis, pengaruh penambahan timah pada katalis NiO/y-Al2O3 dan pengaruh penambahan gliserol sebagai sumber produksi H2 secara in-situ terhadap konversi hidrogenasi asam oleat. Katalis dibuat dengan metode impregnasi kering. Karakterisasi XRD, XRF dan BET pada katalis mengkonfirmasi keberadaan logam Ni dan Sn pada katalis. Konversi Hidrogenasi pada reaksi tanpa gliserol menggunakan katalis NiO/y-Al2O3 pada 300oC selama 6 jam tidak menunjukkan perubahan yang signifikan dengan penambahan muatan logam. Namun, penambahan logam Sn meningkatkan selektivitas produksi H2 in-situ yang digunakan untuk menghidrogenasi asam oleat dengan konversi hidrogenasi sebesar 36%. Penambahan gliserol pada reaktan juga meningkatkan konversi hidrogenasi dibandingkan dengan reaksi tanpa gliserol