Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
280 research outputs found
Sort by
Analisis Karakteristik Saluran Komunikasi Satelit Bergerak Berdasarkan Rasio S/N Daerah Makassar Kondisi Clear Sky
Pada penelitian ini dilakukan pengukuran dan analisis signal strength GPS dengan menguji software berbasis PC dengan sistem operasi Linux. Menggunakan beberapa sofware untuk pengambilan data, pengolahan dan pengujian GPS receiver yang memiliki kemampuan menentukan posisi user pada kondisi mobile (bergerak) dengan tampilan visual pada MAP (peta). Penelitian dilakukan pada beberapa lokasi yang memiliki topografi yang diinginkan. Software-software berbasis PC yang digunakan pada Sitem Operasi Linux (Ubuntu v 10.10) yaitu GPSd (GPS Daemon), GPSpipe, XGPS, dan Tango GPS untuk Map (Peta) sedangkan untuk software berbasis PC pada Windows yaitu Matlab v 7.6. Software-software tersebut sudah mempunyai kemampuan menampilkan posisi satelit dan user beserta informasi yang sangat penting tanpa harus menerima data mentah lagi pada NMEA 0183 dalam kondisi mobile. Pengamatan dilakukan dengan mengumpulkan nilai S/N dari masing-masing satelit yang tertangkap oleh penerima di daerah kota Makassar.Penelitian ini terfokus pada tiga titik 3 (tiga) kondisi yakni LOS (line of sight), NLOS Moderate dan NLOS Heavy. Data yang diinput dari NMEA GPS pipe untuk 12 PRN disortir dan output yang dihasilkan dalam bentuk grafik kualitas signal strength setiap PRN satelit, untuk tampilan visual pada XGPS.Pada penelitian ini dilakukan pengukuran dan analisis signal strength GPS dengan menguji software berbasis PC dengan sistem operasi Linux. Menggunakan beberapa sofware untuk pengambilan data, pengolahan dan pengujian GPS receiver yang memiliki kemampuan menentukan posisi user pada kondisi mobile (bergerak) dengan tampilan visual pada MAP (peta). Penelitian dilakukan pada beberapa lokasi yang memiliki topografi yang diinginkan. Software-software berbasis PC yang digunakan pada Sitem Operasi Linux (Ubuntu v 10.10) yaitu GPSd (GPS Daemon), GPSpipe, XGPS, dan Tango GPS untuk Map (Peta) sedangkan untuk software berbasis PC pada Windows yaitu Matlab v 7.6. Software-software tersebut sudah mempunyai kemampuan menampilkan posisi satelit dan user beserta informasi yang sangat penting tanpa harus menerima data mentah lagi pada NMEA 0183 dalam kondisi mobile. Pengamatan dilakukan dengan mengumpulkan nilai S/N dari masing-masing satelit yang tertangkap oleh penerima di daerah kota Makassar.Penelitian ini terfokus pada tiga titik 3 (tiga) kondisi yakni LOS (line of sight), NLOS Moderate dan NLOS Heavy. Data yang diinput dari NMEA GPS pipe untuk 12 PRN disortir dan output yang dihasilkan dalam bentuk grafik kualitas signal strength setiap PRN satelit, untuk tampilan visual pada XGPS
Sistem Monitoring Cerdas pada Motor Induksi 3 Fasa Berbasis Jaringan Sensor Nirkabel dan Aplikasi Blynk Server
Suatu rancang bangun sistem monitoring berbasis jaringan sensor nirkabel dibuat untuk mendapatkan informasi kondisi terkini suatu peralatan listrik. Informasi kondisi memberikan diagnosa dan aksi pemeliharaan yang dilakukan untuk memperpanjang umur layan suatu peralatan listrik. Isu kehandalan teknologi yang diiringi oleh digitalisasi sistem informasi telah mendorong manusia untuk berinovasi menciptakan perangkat monitoring dan data logging di segala bidang keteknikan. Makalah ini menjelaskan rancang bangun sistem monitoring cerdas untuk motor induksi 3 (tiga) fasa menggunakan jaringan sensor nirkabel dan aplikasi Android. Sistem ini dibuat untuk mendeteksi ketidakseimbangan tegangan dan beban lebih pada motor induksi 3 fasa. Rancang bangun sistem ini terdiri dari NodeMCU ESP8266 yang berfungsi sebagai unit kendali, modul ADS1115 sebagai multiplexer untuk input sensor ACS712 dengan arus operasi maksimal 20 A, dan sensor tegangan untuk motor induksi 3 fasa, serta dilengkapi disain sistem antarmuka aplikasi Android menggunakan Blynk cloud server. Pengujian skala laboratorium telah dilakukan yang menghasilkan akurasi sensor tegangan (R-S, S-T dan R-T) rata-rata sebesar 0,3 % dan sensor arus sebesar 2,8%, kemudian pengujian ketidakseimbangan tegangan sebesar 7,2 V. Masing-masing fasa motor memiliki toleransi 3% dari nilai tegangan sumber catu daya modul trainer 240 VAC 50 Hz dan data dimonitor secara real time kemudian disimpan dalam server (cloud server).Suatu rancang bangun sistem monitoring berbasis jaringan sensor nirkabel dibuat untuk mendapatkan informasi kondisi terkini suatu peralatan listrik. Informasi kondisi memberikan diagnosa dan aksi pemeliharaan yang dilakukan untuk memperpanjang umur layan suatu peralatan listrik. Isu kehandalan teknologi yang diiringi oleh digitalisasi sistem informasi telah mendorong manusia untuk berinovasi menciptakan perangkat monitoring dan data logging di segala bidang keteknikan. Makalah ini menjelaskan rancang bangun sistem monitoring cerdas untuk motor induksi 3 (tiga) fasa menggunakan jaringan sensor nirkabel dan aplikasi Android. Sistem ini dibuat untuk mendeteksi ketidakseimbangan tegangan dan beban lebih pada motor induksi 3 fasa. Rancang bangun sistem ini terdiri dari NodeMCU ESP8266 yang berfungsi sebagai unit kendali, modul ADS1115 sebagai multiplexer untuk input sensor ACS712 dengan arus operasi maksimal 20 A, dan sensor tegangan untuk motor induksi 3 fasa, serta dilengkapi disain sistem antarmuka aplikasi Android menggunakan Blynk cloud server. Pengujian skala laboratorium telah dilakukan yang menghasilkan akurasi sensor tegangan (R-S, S-T dan R-T) rata-rata sebesar 0,3 % dan sensor arus sebesar 2,8%, kemudian pengujian ketidakseimbangan tegangan sebesar 7,2 V. Masing-masing fasa motor memiliki toleransi 3% dari nilai tegangan sumber catu daya modul trainer 240 VAC 50 Hz dan data dimonitor secara real time kemudian disimpan dalam server (cloud server)
Studi Komparasi Analisis Inelastis Dinamik Riwayat Waktu dan Statik Pushover Terhadap Kinerja Struktur
Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi gempa aktif karena sebagian besar wilayahnya merupakan letak pertemuan lempeng tektonik. Oleh karena itu, perencanaan bangunan di Indonesia harus dibuat sedemikian rupa sehingga struktur tahan terhadap gempa. Tren terbaru perencanaan bangunan tahan gempa adalah perencanaan berbasis kinerja. Analisis yang digunakan adalah analisis dinamik riwayat waktu yang kemudian dibandingkan dengan analisis statik pushover. Analisis dinamik riwayat waktu menggunakan empat percepatan gempa yaitu Gempa El-Centro, Northridge, Kobe, dan Chi-chi yang kemudian respon spektrumnya disesuaikan dengan respon spektrum SNI 03-1726-2003. Parameter yang dihasilkan dari analisis ini adalah perpindahan maksimum. Hasil analisis menunjukkan besarnya perpindahan maksimum yang dihasilkan oleh analisis time history secara umum tidak melebihi target perpindahan dari analisis pushover, hanya ada penyimpangan pada struktur SRPMM dengan percepatan Gempa Northridge dimana perpindahan yang dihasilkan melebihi target perpindahan maksimum dari analisis pushover. Level kinerja struktur yang dihasilkan keduanya berada diantara IO-LS. Sesuai dengan level kineri» vang dihasilkan, analisis statik pushover cukup rasional dan dapat diandalka†tuk evaluasi perilaku seismik dan dapat menggantikan analisis dinamik nonlinier riwayat waktu dalam perencanaan berbasis kinerja.Indonesia merupakan negara yang mempunyai potensi gempa aktif karena sebagian besar wilayahnya merupakan letak pertemuan lempeng tektonik. Oleh karena itu, perencanaan bangunan di Indonesia harus dibuat sedemikian rupa sehingga struktur tahan terhadap gempa. Tren terbaru perencanaan bangunan tahan gempa adalah perencanaan berbasis kinerja. Analisis yang digunakan adalah analisis dinamik riwayat waktu yang kemudian dibandingkan dengan analisis statik pushover. Analisis dinamik riwayat waktu menggunakan empat percepatan gempa yaitu Gempa El-Centro, Northridge, Kobe, dan Chi-chi yang kemudian respon spektrumnya disesuaikan dengan respon spektrum SNI 03-1726-2003. Parameter yang dihasilkan dari analisis ini adalah perpindahan maksimum. Hasil analisis menunjukkan besarnya perpindahan maksimum yang dihasilkan oleh analisis time history secara umum tidak melebihi target perpindahan dari analisis pushover, hanya ada penyimpangan pada struktur SRPMM dengan percepatan Gempa Northridge dimana perpindahan yang dihasilkan melebihi target perpindahan maksimum dari analisis pushover. Level kinerja struktur yang dihasilkan keduanya berada diantara IO-LS. Sesuai dengan level kineri» vang dihasilkan, analisis statik pushover cukup rasional dan dapat diandalka†tuk evaluasi perilaku seismik dan dapat menggantikan analisis dinamik nonlinier riwayat waktu dalam perencanaan berbasis kinerja
Studi Banding Pemakaian Pasir Bekas dan Pasir Baru terhadap Karakteristik Cetakan Co2- Process
Didalam Industri pengecoran logam, pasir cetakan CO2-process hanya digunakan untuk sekali pakai. Hal tersebut menyebabkan jumlah pasir bekas menjadi sangat banyak dan akan mencemari lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diupayakan adanya proses reklamasi terhadap pasir bekas cetakan CO2. Oleh karena itu pada kesempatan ini dilakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui karakteristik cetakan cetakan CO2 yang menggunakan pasir bekas dan pasir baru dengan variasi jumlah bahan pengikat sebanyak 3, 4, dan 5% dari berat pasir.
Permukaan cetakan yang dihasilkan dari pemakaian pasir bekas juga terlihat lebih kasar dibandingkan dengan pasir baru karena ukuran rata-rata butir pasir bekas (0,4 mm) lebih besar dibandingkan dengan pasir baru (0,27 mm). Peningkatan kandungan waterglass menyebabkan kekuatan cetakan pasir bekas maupun pasir baru meningkat, tetapi permeabilitas cetakan menjadi turun. Permeabilitas dan kekuatan tekan yang dihasilkan dari pemakaian pasir bekas jauh lebih rendah jika bibandingkan dengan pasir baru.Didalam Industri pengecoran logam, pasir cetakan CO2-process hanya digunakan untuk sekali pakai. Hal tersebut menyebabkan jumlah pasir bekas menjadi sangat banyak dan akan mencemari lingkungan. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diupayakan adanya proses reklamasi terhadap pasir bekas cetakan CO2. Oleh karena itu pada kesempatan ini dilakukan penelitian pendahuluan untuk mengetahui karakteristik cetakan cetakan CO2 yang menggunakan pasir bekas dan pasir baru dengan variasi jumlah bahan pengikat sebanyak 3, 4, dan 5% dari berat pasir.
Permukaan cetakan yang dihasilkan dari pemakaian pasir bekas juga terlihat lebih kasar dibandingkan dengan pasir baru karena ukuran rata-rata butir pasir bekas (0,4 mm) lebih besar dibandingkan dengan pasir baru (0,27 mm). Peningkatan kandungan waterglass menyebabkan kekuatan cetakan pasir bekas maupun pasir baru meningkat, tetapi permeabilitas cetakan menjadi turun. Permeabilitas dan kekuatan tekan yang dihasilkan dari pemakaian pasir bekas jauh lebih rendah jika bibandingkan dengan pasir baru
Usulan Strategi Bersaing Jasa Pengiriman Paket PT. POS Indonesia (Studi Kasus di UPT PT. POS Indonesia II BANDUNG)
As a BUMN in postal industry, PT. Pos Indonesia claimed to be survived in nowadays competition and also be able to give contribution to the government. To make it happen, it needs competitive strategy that match to the existing business, so that business can achieve the corporate goals. Strategies that will be conducted are correlated to the company\u27s internal and external environment, including customer satisfaction. So with the analysis of environment and customer satisfaction, later on the company will be able to adapt for the change that happen in its business environment to its internal condition. Those things that make the writer recommend an appropriate formula of company\u27s strategy that suitable with the internal and external condition of the company.To gather information about internal and external condition of the company, the writer uses a previous guestioner. With this guestioner, the writer knows the internal factors that strengths and weaknesses for the company and the external factors that could be either opportunities or threats to company. To know how big that environment influenced, we conducted a rating for those factors so we can know the company business position. This position can be known from GE (General Electric) Matrix which combined the industry attractiveness with business power. To know the customer satisfaction we use CSI (Customer Satisfaction Index), CSGI (Customer Satisfaction Gap Index), CSI Boxes, and Importance-Performance Matrix. With those things, we can formulate a competitive strategy that match to the company business environment.The result of this research, we know that business position of the company is on the selective growth level. About the customer satisfaction, the customer felt guit satisfy for the service that PT. Pos Indonesia gave with 63,38%of CSI. But if it\u27s compared with Tiki, the guality service of PT. Pos Indonesia still loose.Aspect Industry Attractiveness, Score 3.82. Aspect Business Power, Score 3.61.The conclusion of this whole research is the formulating of business and functional level strategy. The formulated business strategies are growth strategy consist of market penetration, innovations, concentrations and alliance strategy. The functional strategies are the reduction of business strategies. The functional strategy conducted in marketing and distribution, operation, human resource, and financial section.As a BUMN in postal industry, PT. Pos Indonesia claimed to be survived in nowadays competition and also be able to give contribution to the government. To make it happen, it needs competitive strategy that match to the existing business, so that business can achieve the corporate goals. Strategies that will be conducted are correlated to the company\u27s internal and external environment, including customer satisfaction. So with the analysis of environment and customer satisfaction, later on the company will be able to adapt for the change that happen in its business environment to its internal condition. Those things that make the writer recommend an appropriate formula of company\u27s strategy that suitable with the internal and external condition of the company.To gather information about internal and external condition of the company, the writer uses a previous guestioner. With this guestioner, the writer knows the internal factors that strengths and weaknesses for the company and the external factors that could be either opportunities or threats to company. To know how big that environment influenced, we conducted a rating for those factors so we can know the company business position. This position can be known from GE (General Electric) Matrix which combined the industry attractiveness with business power. To know the customer satisfaction we use CSI (Customer Satisfaction Index), CSGI (Customer Satisfaction Gap Index), CSI Boxes, and Importance-Performance Matrix. With those things, we can formulate a competitive strategy that match to the company business environment.The result of this research, we know that business position of the company is on the selective growth level. About the customer satisfaction, the customer felt guit satisfy for the service that PT. Pos Indonesia gave with 63,38% of CSI. But if it\u27s compared with Tiki, the guality service of PT. Pos Indonesia still loose.Aspect Industry Attractiveness, Score 3.82. Aspect Business Power, Score 3.61.The conclusion of this whole research is the formulating of business and functional level strategy. The formulated business strategies are growth strategy consist of market penetration, innovations, concentrations and alliance strategy. The functional strategies are the reduction of business strategies. The functional strategy conducted in marketing and distribution, operation, human resource, and financial section
Perancangan Sistem Informasi dengan Pendekatan Enterprise Resource Planning (ERP) Sebagai Pendukung Keputusan Pada Penilaian Kinerja Pegawai Berbasis Kompetensi
Divisi Regional III (DIVRE III) PT. TELKOM merupakan perusahaan yang mempunyai misi menjamin semua pelanggannya memperoleh layanan terbaik dalam bentuk kemudahan, kualitas produk maupun jaringan disertai harga yang kompetitif. Maka peranan Sumber Daya Manusia (SDM) sangat penting. SDM yang terkait harus memiliki kompetensi kinerja yang tinggi agar mampu menyesuaikan
dengan misi yang ada pada Divre III.
Kompetensi pegawai dapat disesuaikan dengan kondisi kerjanya, dengan memberikan penilaian yang dilakukan oleh atasan, rekan sejawat dan bawahan (penilaian kompetensi dengan 360). Setelah melakukan penilaian maka, manager dapat melakukan tindakan pengambilan keputusan berupa pelatihan. Agar dapat secara produktif dan profesional dalam melaksanakan tugas/pekerjaan yang sedang dijabatnya, sehingga dibutuhkan sistem informasi yang dapat digunakan secara efektif dan efisien karena terdapat beberapa elemen/fungsi bisnis yang harus terintegrasi secara praktis/efisien.
Pada penelitian ini digunakan metode Enterprise Resource Planning (ERP) sebagai konsep yang dapat mengintegrasikan beberapa elemen yang terdapat dalam suatu sistem ke dalam sebuah data base tunggal yang dalam hal ini peneliti akan mengimplementasikannya pada bidang jasa telekomunikasi khusus untuk melakukan penilaian kompetensi sumber daya manusia dengan studi kasus di Unit Kerja SDM Divisi Regional III PT. Telkom.
Adapun output penelitian ini menghasilkan rancangan sistem informasi yang terintegrasi pada sistem kajian yaitu unit SDM DIVRE III PT.Telkom untuk sistem pendukung keputusan atau Decision Support System (DSS) pada penilaian kinerja pegawai dengan basis kompetensi yang pada akhirnya dinyatakan dalam ukuran nilai Gap dengan pengklasifikasian sebagai berikut :
» Mutasi dengan nilai Gap «-1,2
- Bertahan dengannilai -1,2 «- Gap «-0,4
- Training| dengannilai -0,4 «- Gap « t0,4
- Training Il dengan nilai t0,4 «- Gap « 1,2. Artinya, tahap ini dilakukan untuk penyempurnaan kompetensi.
- Dipromosikan dengan nilai \u27Gap ?- #1,2 K1. Artinya pegawai memperoleh kesempatan untuk dipromosikan agar dapat memperoleh kenaikkan pangkat.Divisi Regional III (DIVRE III) PT. TELKOM merupakan perusahaan yang mempunyai misi menjamin semua pelanggannya memperoleh layanan terbaik dalam bentuk kemudahan, kualitas produk maupun jaringan disertai harga yang kompetitif. Maka peranan Sumber Daya Manusia (SDM) sangat penting. SDM yang terkait harus memiliki kompetensi kinerja yang tinggi agar mampu menyesuaikan
dengan misi yang ada pada Divre III.
Kompetensi pegawai dapat disesuaikan dengan kondisi kerjanya, dengan memberikan penilaian yang dilakukan oleh atasan, rekan sejawat dan bawahan (penilaian kompetensi dengan 360). Setelah melakukan penilaian maka, manager dapat melakukan tindakan pengambilan keputusan berupa pelatihan. Agar dapat secara produktif dan profesional dalam melaksanakan tugas/pekerjaan yang sedang dijabatnya, sehingga dibutuhkan sistem informasi yang dapat digunakan secara efektif dan efisien karena terdapat beberapa elemen/fungsi bisnis yang harus terintegrasi secara praktis/efisien.
Pada penelitian ini digunakan metode Enterprise Resource Planning (ERP) sebagai konsep yang dapat mengintegrasikan beberapa elemen yang terdapat dalam suatu sistem ke dalam sebuah data base tunggal yang dalam hal ini peneliti akan mengimplementasikannya pada bidang jasa telekomunikasi khusus untuk melakukan penilaian kompetensi sumber daya manusia dengan studi kasus di Unit Kerja SDM Divisi Regional III PT. Telkom.
Adapun output penelitian ini menghasilkan rancangan sistem informasi yang terintegrasi pada sistem kajian yaitu unit SDM DIVRE III PT.Telkom untuk sistem pendukung keputusan atau Decision Support System (DSS) pada penilaian kinerja pegawai dengan basis kompetensi yang pada akhirnya dinyatakan dalam ukuran nilai Gap dengan pengklasifikasian sebagai berikut :
» Mutasi dengan nilai Gap «-1,2
- Bertahan dengannilai -1,2 «- Gap «-0,4
- Training| dengannilai -0,4 «- Gap « t0,4
- Training Il dengan nilai t0,4 «- Gap « 1,2. Artinya, tahap ini dilakukan untuk penyempurnaan kompetensi.
- Dipromosikan dengan nilai \u27Gap ?- #1,2 K1. Artinya pegawai memperoleh kesempatan untuk dipromosikan agar dapat memperoleh kenaikkan pangkat
Evaluasi Teknologi Sistem Informasi pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dengan Metode Teknometrik
Information Technology (IT) is supporting factor in applying of information system representing an organizational solution and management to solve problems of management. These days adjustment of technology of information have clear away various area, including banking area. Special regarding small scale banking area like Bank Perkreditan Rakyat (BPR), adjustment of technology information just conducted at last some years. Unhappily the applying does not follow with evaluation to know technological contribution at their business.
By using model of tachometric developed by Asian United Nation-Economic Social Commission for and Pacific(UN-ESCAP), hence can be calculated by technological contribution pursuant to four technological component that is: teknoware, humanware, infoware and orgaware.
Trouble-Shooting phase start from phase identify especial item of coherent technological component at information technology of BPR, continued with compilation of assessment criterion and procedure to technological item, and identify relevant responder. Implementation tachometric model on this phase. After process identify, data collecting through admission filling three kinds of questioner, that is: questioner degree of sophistication, questioner assessment of recent sophisticated storey/State of the Art (SOA), and matrix questioner comparison form a pair. Third of the questioner compiled and filled by using justification all relevant responder.
From this research is known that approach of model of tachometric represent approach which is practical and can find weakness and strength at technological component of information technology facility wearied by BPR Sukabumi HQ. Value Contribution of each technological component is 0,707 for teknoware, 0,662 for humanware, 0,563 for infoware and 0,512 for orgaware. With the data obtained by result of technological contribution coefficient (TCC) equal to 0,607 showing information technology payload storey of BPR on course goodness. Nevertheless, technological component infoware and orgaware reside in below of TCC. Therefore, the components become furthermore repair priority.Information Technology (IT) is supporting factor in applying of information system representing an organizational solution and management to solve problems of management. These days adjustment of technology of information have clear away various area, including banking area. Special regarding small scale banking area like Bank Perkreditan Rakyat (BPR), adjustment of technology information just conducted at last some years. Unhappily the applying does not follow with evaluation to know technological contribution at their business.
By using model of tachometric developed by Asian United Nation-Economic Social Commission for and Pacific(UN-ESCAP), hence can be calculated by technological contribution pursuant to four technological component that is: teknoware, humanware, infoware and orgaware.
Trouble-Shooting phase start from phase identify especial item of coherent technological component at information technology of BPR, continued with compilation of assessment criterion and procedure to technological item, and identify relevant responder. Implementation tachometric model on this phase. After process identify, data collecting through admission filling three kinds of questioner, that is: questioner degree of sophistication, questioner assessment of recent sophisticated storey/State of the Art (SOA), and matrix questioner comparison form a pair. Third of the questioner compiled and filled by using justification all relevant responder.
From this research is known that approach of model of tachometric represent approach which is practical and can find weakness and strength at technological component of information technology facility wearied by BPR Sukabumi HQ. Value Contribution of each technological component is 0,707 for teknoware, 0,662 for humanware, 0,563 for infoware and 0,512 for orgaware. With the data obtained by result of technological contribution coefficient (TCC) equal to 0,607 showing information technology payload storey of BPR on course goodness. Nevertheless, technological component infoware and orgaware reside in below of TCC. Therefore, the components become furthermore repair priority
Perancangan Penentuan Orientasi Lokasi Penempatan Strain Gage pada Elemen Elastik Dinamometer Spindel
Strain gage merupakan sebuah sensor / transducer tahanan yang dapat mengubah perubahan besaran mekanik (regangan) menjadi perubahan besaran listrik (tahanan). Untuk menditeksi regangan yang terjadi pada elemen elastik dari sebuah dynamometer, digunakan empat buah strain gage yang dirangkai menjadi bentuk jembatan Wheatstone. Regangan yang terjadi pada elemen elastik berasal dari gaya pemotongan dan momen puntir yang terjadi pada ujung pahat sewaktu pahat melakukan pemotongan, regangan ini akan mengakibatkan perubahan tahanan listrik dari strain gage, yang selanjutnya akan menimbulkan beda tegangan pada simpul yang berhadapan dari jembatan Wheatstone (tegangan masukan dan keluaran). Beda tengan ini yang akan menentukan besarnya gaya pemotongan dan momen puntir yang terjadi sewaktu pahat melalukan pemotongan. Diperlukan dua buah jembatan Wheatstone pada dynamometer spindle, yaitu sastu buah untuk mengukur besarnya momen puntir, dan satu buah lagi untuk mengukur besarnya gaya aksial yang terjadi pada ujung pahat freis.
Penentuan orientasi lokasi penempatan strain gage pada permukaan elemen elastik dynamometer perlu direncanakan dengan terlebih dahulu melakukan analisis tegangan dan regangan yang terjadi pada permukaan elemen elastik didasarkan pada gaya pemotongan dan momen puntir yang terjadi pada ujung pahat. Tegangan keluaran dari Jembatan Wheatstone masih terlalu kecil untuk diproses pada penunjuk data, oleh karena itu perlu diperkuat pada Amplifier. Keluaran dari amplifier bisa langsung menjadi masukan pada penunjuk data strip chart recorder, atau perlu diubah terlebih dahulu menjadi data digital pada ADC, bila penunjuk data yang digunakan berupa monitor computer.Strain gage merupakan sebuah sensor / transducer tahanan yang dapat mengubah perubahan besaran mekanik (regangan) menjadi perubahan besaran listrik (tahanan). Untuk menditeksi regangan yang terjadi pada elemen elastik dari sebuah dynamometer, digunakan empat buah strain gage yang dirangkai menjadi bentuk jembatan Wheatstone. Regangan yang terjadi pada elemen elastik berasal dari gaya pemotongan dan momen puntir yang terjadi pada ujung pahat sewaktu pahat melakukan pemotongan, regangan ini akan mengakibatkan perubahan tahanan listrik dari strain gage, yang selanjutnya akan menimbulkan beda tegangan pada simpul yang berhadapan dari jembatan Wheatstone (tegangan masukan dan keluaran). Beda tengan ini yang akan menentukan besarnya gaya pemotongan dan momen puntir yang terjadi sewaktu pahat melalukan pemotongan. Diperlukan dua buah jembatan Wheatstone pada dynamometer spindle, yaitu sastu buah untuk mengukur besarnya momen puntir, dan satu buah lagi untuk mengukur besarnya gaya aksial yang terjadi pada ujung pahat freis.
Penentuan orientasi lokasi penempatan strain gage pada permukaan elemen elastik dynamometer perlu direncanakan dengan terlebih dahulu melakukan analisis tegangan dan regangan yang terjadi pada permukaan elemen elastik didasarkan pada gaya pemotongan dan momen puntir yang terjadi pada ujung pahat. Tegangan keluaran dari Jembatan Wheatstone masih terlalu kecil untuk diproses pada penunjuk data, oleh karena itu perlu diperkuat pada Amplifier. Keluaran dari amplifier bisa langsung menjadi masukan pada penunjuk data strip chart recorder, atau perlu diubah terlebih dahulu menjadi data digital pada ADC, bila penunjuk data yang digunakan berupa monitor computer
Kajian Awal Pemanfaatan Sekam Padi Menjadi Karbon Aktif
Produksi padi akan menghasilkan limbah yang disebut sekam. Dari sekitar 100 kg tanaman padi kering hanya diperoleh beras 28,9 kg beras dengan 55,6 kg jerami dan 8,9 kilogram sekam serta 3,6 kg bekatul. Limbah sekam hingga sampai saat ini perlu dicari cara pemanfaatannya agar lebih bernilai ekonomis. Salah satu pemanfaatan sekam padi yang dapat dilakukan adalah dengan membuat sekam padi menjadi karbon aktif yang dapat digunakan sebagai bahan penyerap pada pengolahan air baku atau limbah cair industri agar limbah tersebut nantinya dinyatakan aman ketika dibuang ke lingkungan. Pembuatan karbon aktif dari sekam padi ini dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama dilakukan prosess karbonisasi pada suhu 400oC —600oC. Setelah proses karbonisasi, dilakukan pengecilan ukuran karbon untuk memperluas permukaan karbon. Tahap selanjutnya adalah proses aktivasi, di mana zat aktivator yang digunakan pada penelitian kali ini adalah kalium hidroksida dan asam fosfat dengan variasi konsentrasi 3M dan 9M. Proses aktivasi dilakukan pada temperatur 50oC dan 100oC selama 2 jam. Dari hasil penelitian didapatkan luas permukaan paling besar 130,31 mg/g dengan kondisi operasi aktivasi 50oC dengan menggunakan activator KOH.Produksi padi akan menghasilkan limbah yang disebut sekam. Dari sekitar 100 kg tanaman padi kering hanya diperoleh beras 28,9 kg beras dengan 55,6 kg jerami dan 8,9 kilogram sekam serta 3,6 kg bekatul. Limbah sekam hingga sampai saat ini perlu dicari cara pemanfaatannya agar lebih bernilai ekonomis. Salah satu pemanfaatan sekam padi yang dapat dilakukan adalah dengan membuat sekam padi menjadi karbon aktif yang dapat digunakan sebagai bahan penyerap pada pengolahan air baku atau limbah cair industri agar limbah tersebut nantinya dinyatakan aman ketika dibuang ke lingkungan. Pembuatan karbon aktif dari sekam padi ini dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama dilakukan prosess karbonisasi pada suhu 400oC —600oC. Setelah proses karbonisasi, dilakukan pengecilan ukuran karbon untuk memperluas permukaan karbon. Tahap selanjutnya adalah proses aktivasi, di mana zat aktivator yang digunakan pada penelitian kali ini adalah kalium hidroksida dan asam fosfat dengan variasi konsentrasi 3M dan 9M. Proses aktivasi dilakukan pada temperatur 50oC dan 100oC selama 2 jam. Dari hasil penelitian didapatkan luas permukaan paling besar 130,31 mg/g dengan kondisi operasi aktivasi 50oC dengan menggunakan activator KOH
Evaluasi Keselamatan Lalu Lintas Studi Kasus Lokasi Rawan Kecelakaan KM 63+700 Cibeet, Kab.Cianjur
Keselamatan lalulintas di jalan raya merupakan masalah yang kompleks yang melibatkan perilaku pengemudi, kondisi mengemudi, karakteristik kendaraan, dan fitur jalan raya. Kecelakaan lalulintas dapat dikurangi dengan program keselamatan, sebagai upaya untuk menangani kecelakaan lalu lintas tersebut. Penyusunan tugas akhir ini bertujuan untuk mengurangi keparahan dan frekuensi kecelakaan di jalan. Suatu pengamatan dilakukan di area black spot Cibeet sta 0+150, yang terletak di Kecamatan Cikalong Kulon Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi ini merupakan suatu lokasi rawan kecelakaan, yang perlu mendapat prioritas untuk diperbaiki berdasarkan analisis terhadap data kecelakaan lalulintas yang ada. Perbaikan yang perlu dilakukan meliputi pemasangan rambu —rambu lalulintas yang lebih baik, pemasangan marka jalan, pemasangan pagar, memperbaiki kondisi geometrik jalan, dan penerangan jalan