Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
    280 research outputs found

    Analisis Perbandingan Perencanaan Tebal Perkerasan Jalan Lentur Menggunakan Metode AASHTO 1993 dan MDP 2024 dalam Konteks Kebijakan Transportasi Berkelanjutan

    No full text
    Perkerasan jalan lentur memiliki peran vital dalam pembangunan infrastruktur transportasi yang efisien dan ramah lingkungan. Di Indonesia, metode AASHTO 1993 telah lama digunakan sebagai pedoman standar dalam perencanaan tebal perkerasan. Namun, dengan hadirnya Manual Desain Perkerasan 2024 yang lebih adaptif terhadap kondisi lokal, evaluasi perbandingan antara kedua metode ini menjadi penting, terutama dalam mendukung kebijakan transportasi berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masing-masing metode berkontribusi terhadap pengurangan dampak lingkungan, penggunaan material, dan efisiensi energi. Melalui literature review integratif, penelitian ini menemukan bahwa MDP 2024 menawarkan desain perkerasan yang lebih efisien dalam penggunaan material dan energi, sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon. Namun, tantangan dalam penerapan teknologi ramah lingkungan dan keterbatasan data geoteknik masih perlu diatasi. Penelitian ini menyarankan penggunaan MDP 2024 untuk mendukung kebijakan transportasi yang lebih berkelanjutan di Indonesia.Flexible pavement plays a vital role in the development of efficient and environmentally friendly transportation infrastructure. In Indonesia, the AASHTO 1993 method has long been used as the standard guideline for flexible pavement thickness design. However, with the introduction of the 2024 Pavement Design Manual, which is more adaptive to local conditions, a comparative evaluation of the two methods is crucial, especially in supporting sustainable transportation policies. This study aims to analyze how each method contributes to reducing environmental impact, material usage, and energy efficiency. Through an integrative literature review, the study finds that MDP 2024 offers a more efficient pavement design in terms of material and energy usage while supporting carbon emission reductions. Nevertheless, challenges such as the adoption of eco-friendly technologies and the limited availability of geotechnical data still need to be addressed. This study suggests that MDP 2024 be utilized to support more sustainable transportation policies in Indonesia

    Analisa Manajemen Risiko proyek di daerah 3T (Terluar–Terdepan–Tertinggal). Studi Kasus Pembangunan Jalan di Pulau Siberut, Kep. Mentawai, Sumatera Barat

    No full text
    Pelaksanaan proyek di daerah 3T memiliki karakteristik tersendiri disebabkan kondisi geografis proyek yang menyebabkan sulitnya mobilisasi alat, material, dan tenaga. Penelitian ini bertujuan mencari risiko dominan pada pelaksanaan proyek di daerah 3T. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan kuesioner kepada 56 responden, dengan responden dibagi berdasarkan pernah atau tidaknya mereka melaksanakan proyek di daerah 3T, instansi asal responden (dinas bina marga, kontraktor, konsultan), pendidikan responden, dan lokasi pekerjaan dominan responden (Jawa, luar Jawa). Langkah pertama dari penelitian  adalah melakukan uji validitas dan reliabilitas kuesioner, dilanjutkan dengan skoring probabilitas, dampak dan tingkat risiko yang didapat dari hasil kuesioner dengan perhitungan Severity Index, selain itu juga dilihat kecenderungan jawaban responden berdasarkan klasifikasi responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang pernah melaksanakan proyek di daerah 3T,  responden yang berasal dari kontraktor, berpendidikan S1,  dan lokasi pekerjaan dominan di luar Jawa, cenderung menilai bahwa risiko melaksanakan pekerjaan di daerah 3T cukup tinggi dibanding responden lain. Penelitian juga menunjukkan bahwa pekerjaan di daerah 3T memiliki tingkat risiko dari sedang sampai sangat tinggi.Project implementation in 3T (frontier, outermost, and disadvantaged) areas presents unique challenges due to difficult geographic conditions, which hinder the mobilization of equipment, materials, and labor. This research aims to identify the most dominant risks encountered during project execution in these regions. The study involved distributing questionnaires to 56 respondents, categorized by experience with 3T projects, agency affiliation (road construction and maintenance, contractor, consultant), educational background, and primary work location (Java or outside Java). The research began with validity and reliability testing of the questionnaire. It then proceeded to assess the probability, impact, and overall risk level using the Severity Index method. In addition, the analysis explored trends in responses based on the respondent classifications. The findings indicated that participants with experience in 3T projects, those working in contractor agencies, holding a bachelor\u27s degree, and primarily working outside Java, generally perceived higher risks in 3T project implementation compared to other groups. The study concluded that project work in 3T regions is associated with risk levels ranging from moderate to very high, highlighting the importance of careful planning and risk management when operating in these challenging environments

    Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Penggunaan Mobile Banking pada Pengguna Laki-laki dan Perempuan dengan Menggunakan Pendekatan Multigroup Structural Equation Modelling

    No full text
    Mobile banking (m-banking) allows financial services to be accessed more easily. Some studies have found differences in technology acceptance decisions between men and women. This research was conducted to analyze the factors influencing the use of m-banking among male and female users using a multigroup structural equation modeling (SEM) approach. There are seven factors or latent variables used in this study, namely word of mouth (WOM), perceived ease of use (PEOU), perceived usefulness (PU), trust (TR), attitude toward using (ATU), intention to use (ITU), and actual use (AU). Based on the testing conducted with 440 respondents\u27 data, it was found that for male and female users there are differences in the relationship between WOM and TR, PU, ATU, and ITU; PEOU and PU; PU with ATU and ITU; and ITU with AU. This study provides additional evidence of gender differences in the acceptance and use of technology, especially m-banking. Additionally, this study found that WOM has a significant impact on the adoption of m-banking; therefore, future research should identify the factors that can influence the WOM of m-banking service customers.Mobile banking (m-banking) memungkinkan layanan keuangan diakses dengan lebih mudah. Pada beberapa penelitian ditemukan adanya perbedaan keputusan penerimaan teknologi antara laki-laki dari perempuan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan mobile banking pada pengguna laki-laki dan perempuan dengan menggunakan pendekatan multigroup structural equation modeling (SEM). Terdapat tujuh faktor atau variabel laten yang digunakan dalam penelitian ini yaitu word of mouth (WOM), perceived ease of use (PEOU), perceived usefulness (PU), trust (TR), attitude toward using (ATU), intention to use (ITU), dan actual use (AU). Berdasarkan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan 440 data responden, dapat diketahui bahwa pada pengguna laki-laki dan perempuan terdapat perbedaan hubungan antara WOM dengan TR, PU, ATU, ITU; PEOU dengan PU; PU dengan ATU dan ITU; serta ITU dengan AU. Penelitian ini memberikan bukti tambahan mengenai adanya perbedaan gender dalam penerimaan dan penggunaan teknologi, khususnya mobile banking. Selain itu, pada penelitian ini ditemukan bahwa WOM cukup berpengaruh pada adopsi mobile banking, oleh karena itu pada penelitian selanjutnya sebaiknya dilakukan identifikasi faktor-faktor yang dapat mempengaruhi WOM customer layanan mobile banking

    Isothermal Pyrolysis Kinetics of Various BiomassTypes using Thermogravimetric Data

    No full text
    Biomass is a renewable fuel source that can be converted into bio-oil as an alternative energy source. The type of biomass with the potential to produce bio-oil is rice husks, water hyacinths, and corn cobs. This study was conducted to examine manufacture of bio-oil from various biomass using the pyrolysis method using a variety of several variables, including operating temperature (450oC and 550oC), particle size (-2 mm/+1 mm and +2 mm), and type of biomass. It was observed that corn cobs yielded the highest output with 49.06% with a size of +2 mm at an operating temperature of 450oC. The preparation of kinetic models is carried out by observing changes in mass per unit of time. The kinetic model approach using the order of 1/3 is able to produce values that are almost close to the research data. The results of kinetics model preparation obtained energy value of activation of the pyrolysis process for rice husks, which ranges from (24.55 – 27.79) kJ/mol, for corn cobs ranging from (35.51 – 42.55) kJ/mol, for water hyacinths with leaves ranging from (23.55–30.72) kJ/mol, for water hyacinths with stems ranging from (30.11–46.77) kJ/mol, and for mixed water hyacinths ranging from (35.72–40.70) kJ/kmol.Biomassa merupakan sumber bahan bakar terbarukan yang dapat dikonversi menjadi bio-oil sebagai sumber energi alternatif. Bahan baku biomassa yang memiliki potensi tinggi dalam pembuatan bio-oil adalah sekam padi, eceng gondok, dan tongkol jagung. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pembuatan bio-oil dari berbagai biomassa menggunakan metode pirolisis dengan menggunakan variasi beberapa variabel diantaranya yaitu suhu operasi (450oC dan 550oC), ukuran partikel (-2 mm/+1 mm dan +2 mm), dan jenis biomassa. Berdasarkan hasil penelitian, perolehan bio-oil yang tinggi yaitu 49,06 % pada biomassa tongkol jagung dengan ukuran +2 mm pada suhu operasi 450oC. Penyusunan model kinetika dilakukan dengan mengamati perubahan massa per satuan waktu. Pendekatan model kinetika dengan menggunakan orde 1/3 mampu menghasilkan nilai yang hampir mendekati data penelitian. Adapun hasil penyusunan model kinetika diperoleh nilai energi aktivasi proses pirolisis untuk sekam padi yaitu berkisar (24,55 – 27,79) kJ/mol, untuk tongkol jagung berkisar (35,51 – 42,55) kJ/mol, untuk eceng gondok bagian daun berkisar (23,55 – 30,72) kJ/mol, untuk eceng gondok bagian batang berkisar (30,11 – 46,77) kJ/mol, dan untuk eceng gondok campuran berkisar (35,72 – 40,70) kJ/kmol

    Pembuatan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dari Crude Palm Oil (CPO) Off Grade dengan Metode Esterifikasi dan Transesterifikasi

    No full text
    Fatty Acid Methyl Ester (FAME) atau biodiesel dengan bahan baku berupa minyak kelapa sawit adalah salah satu bahan bakar nabati pengganti bahan bakar fosil. Minyak kelapa sawit dengan kandungan asam lemak bebas yang masih tinggi dikenal dengan istilah CPO-off grade. Proses yang dapat digunakan untuk menurunkan asam lemak bebas dalam CPO-off grade adalah esterifikasi. Katalis digunakan dalam proses pembuatan biodiesel agar mampu menghasilkan biodiesel dengan mutu yang sesuai dengan standar. Pengaruh konsentrasi katalis H2SO4 dan NaOH dalam proses produksi biodiesel akan dipelajari dalam penelitian ini. Proses esterifikasi dilakukan dengan tiga variasi katalis H2SO4 yaitu A=1%-massa; B=2%-massa; dan C=3%-massa, sedangkan dalam proses transesterifikasi menggunakan 3 variasi konsentrasi katalis NaOH yaitu A=1%-massa; B=2%-massa; dan C=3%-massa. Kualitas biodiesel yang dihasilkan ditentukan melalui nilai perolehan, massa jenis, viskositas kinematik, bilangan asam, FFA, kadar air, dan titik nyala. Dari penelitian ini diperoleh bahwa konsentrasi katalis dalam proses produksi biodiesel mempengaruhi terhadap kualitas biodiesel yang dihasilkan. Konsentrasi katalis H2SO4 dan NaOH 1%-massa adalah konsentrasi yang optimum karena menghasilkan biodiesel dengan kualitas yang memenuhi standar SNI Biodiesel 7182:2015 dengan perolehan, massa jenis, viskositas kinematik, bilangan asam, FFA, kadar air dan titik nyala berturut-turut adalah 79%, 861,12 kg/m3, 4,08 mm2/s(cSt), 0,44 mg NaOH/g FAME, 0,28%, 0,028% dan 184°C.Fatty Acid Methyl Ester (FAME) or biodiesel, derived from palm oil, is a renewable fuel alternative to fossil fuels. Crude Palm Oil with high free fatty acid (FFA) content is commonly referred to as off-grade CPO. The esterification process can reduce FFA levels in off-grade CPO. Catalysts play a critical role in producing biodiesel that meets quality standards. This study examines the effect of H2SO4 and NaOH catalyst concentrations on biodiesel production. Esterification was performed using three variations of H2SO4 concentration: A=1%-mass, B=2%-mass, and C = 3%-mass. Transesterification utilized three NaOH concentrations: A=1%-mass, B=2%-mass, and C=3%-mass. Biodiesel quality was evaluated based on yield, density, kinematic viscosity, acid number, FFA, water content, and flash point. The study found that catalyst concentration significantly affects biodiesel quality. The optimal catalyst concentrations were 1%-mass for both H2SO4 and NaOH, producing biodiesel that met SNI Biodiesel 7182:2015 standards. The results included a yield of 79%, density of 861.12 kg/m³, kinematic viscosity of 4.08 mm²/s(cSt), acid number of 0.44 mg NaOH/g FAME, FFA content of 0.28%, water content of 0.028%, and flash point of 184°C

    Study Tentang Konsentrasi Pegawai FTM BerdasarkanSuhu, Body Mass Index, Lama Pemakaian Masker, dan UsiaMenggunakan Fasilitas Ruang Iklim

    No full text
    COVID-19 has spread rapidly in places where people interact socially, with aerosol transmission being a significant concern, especially in enclosed spaces where infected individuals spend extended periods with others in crowded and poorly ventilated conditions. The use of masks is a preventive measure against the spread of the virus that causes COVID-19. Concerns have been raised that carbon dioxide may accumulate in masks over time, potentially leading to respiratory issues and other problems such as impaired concentration at work. This research aims to conduct an experiment to study concentration based on the physical work environment, including factors such as room temperature, Body Mass Index (BMI), duration of mask use, and age. Concentration will be measured through reaction time, which includes visual, auditory, and motor components, using a factorial design method. The results of the study indicate a significant relationship between the concentration, represented by the reaction time of the respondents, and several factors: temperature, BMI, age of the respondents, and type of reaction (visual, auditory, and motor). Based on factorial analysis, it can be concluded that temperature, age, BMI, and type of reaction all influence reaction time at a significance level of 5%.COVID-19 telah terjadi dengan penyebaran virus yang begitu cepat di tempat orang berinteraksi sosial. Penularan melalui aerosol tidak dapat diabaikan terutama pada ruangan tertutup dimana tempat orang yang terinfeksi menghabiskan waktu lama dengan orang lain yang penuh sesak dan ventilasinya yang tidak memadai. Penggunaan masker merupakan langkah pencegahan penularan virus yang menjadi penyebab terjadinya penyakit COVID-19 dari orang ke orang. Kekhawatiran bahwa karbondioksida mungkin dapat menumpuk di masker dari waktu ke waktu, dapat menyebabkan masalah medis yang berkaitan dengan sistem pernapasan dan dapat menyebabkan masalah lainnya seperti konsentrasi dalam bekerja. Pada penelitian ini akan dilakukan eksperimen tentang studi konsentrasi berdasarkan lingkungan fisik kerja yang terdiri dari suhu tempat bekerja, Body Mass Index, , lama pemakaian masker dan usia. Konsentrasi dapat diukur dengan reaction time yang terdiri dari visual, audio dan motorik dengan metode desain faktorial. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara konsentrasi yang di wakili oleh waktu reaksi yang dihasilkan responden dengan suhu, BMI, usia responden dan Jenis reaksi (Visual, audio dan motorik). Berdasarkan analisis faktorial dapat disimpulkan bahwa suhu, usia, BMI dan jenis reaksi berpengaruh terhadap waktu reaksi dengan taraf signifikansi 5%

    Analisis Kinerja dan Koordinasi Waktu Sinyal Dua Simpang Berdekatan di Kota Cimahi

    No full text
    Kemacetan lalu lintas di kawasan perkotaan menjadi permasalahan krusial, khususnya pada simpang-simpang strategis yang tidak memiliki sistem pengaturan sinyal lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja eksisting simpang Citeureup dan simpang Cidahu di Kota Cimahi serta mengkaji kinerja penerapan sistem koordinasi sinyal antar simpang. Metode yang digunakan meliputi survei lapangan untuk memperoleh data primer berupa volume lalu lintas, kecepatan kendaraan, dan panjang antrian, serta data sekunder dari instansi terkait. Analisis dilakukan berdasarkan pendekatan Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997 dan simulasi mikroskopik menggunakan perangkat lunak Planung Transport Verkehr – Verkehr in Städten SIMulationsmodell (PTV VISSIM). Hasil penelitian menunjukkan kondisi eksisting kedua simpang mengalami hambatan dengan panjang antrian (261.88 - 40.751 meter) dan tundaan (89.35 - 28.651 detik).etelah penerapan koordinasi sinyal, terjadi peningkatan volume lalu lintas yang bisa dilewatkan hingga 24–29% serta pengurangan tundaan rata-rata sebesar 22–32%. Penggunaan simulasi mikroskopik terbukti dapat digunakan sebagai metode dalam perencanaan dan evaluasi lalu lintas elemen jalan perkotaan. Untuk pengembangan jangka panjang, integrasi sistem sinyal dengan pusat kendali lalu lintas berbasis teknologi adaptif dapat diterapkan guna meningkatkan respons terhadap dinamika lalu lintas yang terus berubah.Traffic congestion in urban areas has become a crucial issue, particularly at strategic intersections without a traffic signal management system. This study aims to evaluate the existing performance of the Citeureup and Cidahu intersections in Kota Cimahi and assess the performance of implementing coordinated signal systems between intersections. Methods used include field surveys to obtain primary data such as traffic volume, vehicle speed, and queue length, along with secondary data from relevant agencies. Analysis was conducted using the 1997 Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI 1997) approach and microscopic simulation with PTV VISSIM software. The results indicate that the existing conditions at both intersections experience high saturation degrees with queue lengths (261.88 - 40.751 metres) and delays (89.35 - 28.651 seconds). After implementing signal coordination, the saturation degree decreased to 24–29%, and the average delay was reduced by 22–32%. The use of microscopic simulation has proven to be an effective method for planning and evaluating traffic elements in urban roads. For long-term development, the integration of signal systems with adaptive technology-based traffic control centers can be implemented to enhance responsiveness to constantly changing traffic dynamics

    Sistem Komunikasi Teks, Suara, dan Video Pada Kursi Roda Otomatis untuk Difabel Tetraplegia Berbasis GSM

    No full text
    Kursi roda merupakan alat bantu yang sangat penting bagi individu yang mengalami tantangan fisik atau masalah kesehatan yang membatasi kemampuan berjalan. Sementara sebagian besar pengguna menggunakan kursi roda karena masalah pada kaki, ada pula yang memerlukannya karena keterbatasan lain, seperti pada tangan atau kelumpuhan total (difabel Tetraplegia). Kursi roda berbasis suara telah dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian dan kualitas hidup penyandang disabilitas ini. Dengan menggunakan teknologi mikrokontroler dan GSM, kursi roda ini memungkinkan pengguna untuk mengontrolnya melalui perintah suara, menawarkan solusi bagi mereka yang mengalami keterbatasan gerak tanpa bergantung pada organ lain. Pengujian menunjukkan bahwa fungsi pengiriman pesan dan panggilan telepon menggunakan modul GSM memiliki waktu respons rata-rata 8 detik dengan tingkat keberhasilan 100%, meskipun kecepatan respons dipengaruhi oleh kualitas sinyal. Modul GPS menunjukkan akurasi tinggi dengan penyimpangan hanya 0,1 meter dari titik acuan. Hasil ini menunjukkan bahwa kursi roda ini tidak hanya meningkatkan mobilitas tetapi juga menyediakan kemampuan untuk berpartisipasi penuh dalam kehidupan sehari-hari, mendukung interaksi sosial yang lebih baik bagi penggunanya.A wheelchair is an essential mobility aid for individuals facing physical challenges or health issues that hinder their ability to walk. While most people use a wheelchair due to leg problems, some require it because of limitations in other parts of the body, such as the hands or even total paralysis (Tetraplegia). A voice-controlled wheelchair has been developed to enhance independence and improve the quality of life for individuals with such disabilities. Utilizing microcontroller and GSM technology, this wheelchair allows users to control it through voice commands, providing a solution for those with limited mobility without relying on other limbs. Testing showed that the messaging and call functions using the GSM module had an average response time of 8 seconds with a 100% success rate, although the response speed is affected by signal quality. The GPS module demonstrated high accuracy with a deviation of only 0.1 meters from the reference point. These results indicate that this wheelchair not only enhances mobility but also provides the capability for full participation in daily life, supporting better social interaction for its users

    A Review: Reliability Assessment of Isolated Phase Busduct Through FMEA and RCFA Methodologies

    No full text
    This research discuss the reliability of the Isolated Phase Busduct (IPB) geothermal generating unit still needs to be improved because the same disturbances still occur, where in the 2018-2023 period these disturbances have contributed to a Loss Production Opportunity of around 65 billion rupiah. Therefore, this research will provide suggestions or suggestions for what factors need to be improved so that the reliability of IPB in each geothermal power plant unit increases. The methods used in this research are failure mode and effect analysis (FMEA) and the Root Cause Failure Analysis (RCFA) method, where FMEA helps in identifying potential failures and determining mitigation priorities and determining the value of the Risk Priority Number (RPN), Root Cause Failure Analysis (RCFA) reveals the main causes of failures that have occurred, from these two methods it is known that the disturbances that occur can actually be identified earlier by 91.2% as well as factors such as manufacture design, aging equipment, improper installation, Lack of Quality Control, and inappropriate mobilization must be eliminated in an effort to increase IPB\u27s reliability where these factors must be considered from the project phase to the operational phase.Penelitian ini mendiskusikan kehandalan Isolated Phase Busduct (IPB) unit pembangkit panasbumi masih perlu ditingkatkan karena gangguan-gangguan yang sama masih terjadi, dimana pada periode tahun 2018-2023 gangguan tersebut telah menyumbangkan Loss Production Opportunity sekitar 65 Miliar Rupiah. Oleh karena itu penelitian ini akan memberikan usulan atau saran faktor apa saja yang perlu ditingkatkan agar kehandalan IPB disetiap unit pembangkit listrik panasbumi meningkat. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Failure Mode And Effect Analysis (FMEA) dan metode Root Cause Failure Analysis (RCFA), dimana FMEA membantu dalam mengidentifikasi potensi kegagalan dan menentukan prioritas mitigasi dan menentukan nilai Risk Priority Number (RPN), Root Cause Failure Analysis (RCFA) mengungkap penyebab utama kegagalan yang telah terjadi, dari kedua metode tersebut diketahui bahwa gangguan yang terjadi sebenarnya dapat diidentifikasi lebih dini sebesar 91,2% serta faktor seperti manufacture design, aging equipment, unproper installation, Lack Quality Control, dan unproper mobilisation harus dieliminasi dalam upaya meningkatkan kehandalan IPB dimana faktor-faktor tersebut harus diperhatikan dari mulai fase proyek sampai dengan fase operasional

    Model Efisiensi Arus pada Elektrolisis Serbuk Tembaga Menggunakan Metode Perancangan Percobaan Faktorial Desain 2K

    No full text
    This paper presents the results of developing a current efficiency model for copper powder electrolysis and analyzes the factors that most influence current efficiency using a 2K factorial experimental design. The three independent variables are copper ion (Cu) concentration, current density, and electrolysis time. Copper powder electrolysis experiments were conducted using a pure copper plate anode (99.88% Cu) and a 316L stainless steel cathode. Current efficiency is calculated based on data on the weight of the copper powder produced. Copper powder characterization uses a Scanning Electron Microscope (SEM) to determine the morphology and size distribution of the powder, X-ray Diffraction (XRD) to identify powder phases/compounds, Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (EDX) to analyze the elemental composition and Particle Size Analyzer ( PSA) to determine the powder particle size and distribution. The prediction model obtains the highest current efficiency at 96%. The resulting copper powder has a dendritic structure morphology with an average particle size of 114.9 µm. It comprises cuprite (Cu2O) and copper (Cu) with a composition of 88.17% Cu and 11.83% O.Dalam paper ini disampaikan hasil pengembangan model efisiensi arus pada elektrolisis serbuk tembaga dan menganalisis faktor yang paling berpengaruh terhadap efisiensi arus menggunakan perancangan percobaan faktorial 2K. Tiga variabel bebas yang dipertimbangkan adalah konsentrasi ion tembaga (Cu), rapat arus, dan waktu elektrolisis. Percobaan elektrolisis serbuk tembaga dilakukan dengan menggunakan anoda plat tembaga murni (99,88% Cu) dan katoda dari stainless steel 316L. Efisiensi arus dihitung berdasarkan data berat serbuk tembaga yang dihasilkan. Karakterisasi serbuk tembaga menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui morfologi dan distribusi ukuran serbuk, X-ray Diffraction (XRD) untuk mengidentifikasi fasa/senyawa serbuk, Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (EDX) untuk menganalisis komposisi unsur dan Particle Size Analyzer (PSA) untuk mengetahui ukuran partikel serbuk dan distribusinya. Dengan model prediksi diperoleh efisiensi arus tertinggi sebesar 96%. Serbuk tembaga yang dihasilkan memiliki morfologi berstruktur dendritik dengan ukuran partikel rata-rata sebesar 114,9 µm serta bersenyawa cuprite (Cu2O) dan tembaga (Cu) dengan komposisi 88,17% Cu dan 11,83% O

    104

    full texts

    280

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇