Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
280 research outputs found
Sort by
Pemilihan Alternatif Metode Kerja dengan Menentukan Urutan Prioritas Kriteria Fungsi pada Pekerjaan Struktur
Permasalahan proyek konstruksi yang sering terjadi adalah pembengkakan biaya (cost overrun), waktu pelaksanaan terlambat, dan mutu pekerjaan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang berujung terjadinya pekerjaan ulang (rework). Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor seperti : human error, jumlah tenaga kerja kurang, perubahan disain, keterbatasan material dan alat, metode kerja konstruksi yang tidak tepat. Kinerja proyek dipengaruhi oleh penggunaan Sumber Daya dalam proyek, yang lebih dikenal dengan lima sarana manajemen konstuksi (5M) yaitu biaya (money), tenaga kerja (man power), material (material), metode kerja (method), dan alat (machine). Penggunaaan metode kerja alternatif bisa diterapkan di berbagai proyek, seperti proyek gedung yang memiliki skala kecil, menengah hingga skala yang besar. Penelitian ini dilakukan dengan observasi langsung pada bangunan Hotel Blok A,B. Dari empat alternatif yang dibuat, berdasarkan hasil analisis dengan metode zero-one dipilih alternatif 2 sebagai alternatif terbaik berdasarkan kriteria penghematan biaya, mutu, waktu pelaksanaan, dan kemudahan pelaksanaan
Analisis Pengaruh Peningkatan Beban Terhadap Sistem Ketenagalistrikan 150 kV Gorontalo Berbasis Power System Analysis Toolbox-Matrix Laboratory
Penelitian ini mempelajari pengaruh peningkatan beban terhadap sistem ketenagalistrikan pada jaringan saluran udara tegangan tinggi (SUTT) 150 kV di PT.PLN (Persero) Gorontalo. Analisis dilakukan dengan menggunakan software Power System Analysis Toolbox (PSAT) yang terintegrasi pada Matrix Laboratory (MATLAB). Proyeksi kebutuhan tenaga listrik Provinsi Gorontalo sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT.PLN (Persero) tahun 2019-2028, di mana beban puncak mengalami pertumbuhan rata – rata sebesar 7,5% pertahun. Hasil simulasi menunjukkan bahwa peningkatan total beban tertinggi terjadi pada tahun ke-5 dengan daya aktif sebesar 179,73 MW. Dibandingkan dengan total beban awal, yaitu daya aktif sebesar 118,64 MW, peningkatan daya aktif pada tahun ke-5 adalah sebesar 66%. Rugi – rugi daya juga mengalami peningkatan dengan rata – rata kenaikan daya aktif sebesar 1,31 MW atau 23% pertahun. Sementara itu, profil tegangan mengalami penurunan dengan rentang batas atas 0,97 pu dan batas bawah 0,91 pu. Rentang tersebut mendekati batas tegangan yang di ijinkan, yaitu +5% (1,05 pu) dan -10% (0,90) dari tegangan nominal 1 pu
Optimasi Penentuan Rute Kendaraan Distribusi Produk Air Minum Kemasan Galon Menggunakan Metode Saving Matrix di Depot Air Minum Isi Ulang Banyu Belik Purwokerto
Penentuan rute distribusi merupakan hal yang penting bagi perusahaan untuk meminimalkan biaya distribusi. Sebagai penjual galon air minum isi ulang, pemilihan rute yang optimal perlu menjadi perhatian Depot Banyu Belik karena mempengaruhi biaya pengiriman galon tersebut. Saving Matrix adalah salah satu metode untuk penentuan rute distribusi yang optimal. Metode Saving Matrix dapat menentukan rute gabungan yang optimal dengan mempertimbangkan kapasitas armada distribusi dan karakteristik matriks jarak yang tidak simetris. Penelitian ini berhasil mendapatkan rute distribusi menggunakan metode Saving Matrix yang lebih baik dari segi jarak, waktu, dan biaya. Hasil yang diperoleh adalah penggabungan 10 rute distribusi, penghematan jarak sebesar 38,44%, penghematan waktu 29,52%, dan penghematan biaya distribusi sebesar 32,01%.Penentuan rute distribusi merupakan hal yang penting bagi perusahaan untuk meminimalkan biaya distribusi. Sebagai penjual galon air minum isi ulang, pemilihan rute yang optimal perlu menjadi perhatian Depot Banyu Belik karena mempengaruhi biaya pengiriman galon tersebut. Saving matrix adalah salah satu metode untuk penentuan rute distribusi yang optimal. Rute pengiriman sesungguhnya belum tentu memiliki jarak rute yang simetris antara perjalanan menuju tujuan dan pulang ke depot, sehingga rute yang tidak simetris perlu dipertimbangkan. Penelitian ini berhasil mendapatkan rute distribusi menggunakan metode Saving matrix yang lebih baik dari segi jarak, waktu, dan biaya. Hasil yang diperoleh adalah penggabungan 10 rute distribusi, penghematan jarak sebesar 38,44%, penghematan waktu 29,52%, dan penghematan biaya distribusi sebesar 32,01%
Klasterisasi Sumber Penyebaran Virus Covid-19 dengan Menggunakan Metode K-MEANS Di Daerah Kota Cimahi dan Kab. Bandung Barat
The Covid-19 virus originated from the city of Wuhan in China. Transmission is very fast and rapid to various parts of the world including Indonesia. This study discusses the clustering of sources of the spread of the covid-19 virus using the k-means method using software for Cimahi City and West Bandung Regency. The purpose of this study is to obtain information about 5 clusters of the source of the Covid-19 virus, namely cluster 0 (offices), cluster 1 (places to eat), cluster 2 (houses), cluster 3 (shopping), and cluster 4 (public transportation). during May to July 2020 for Cimahi City and West Bandung Regency. The results can be concluded that the highest cluster 0 from Kab. West Bandung with an average of 0,05%, for cluster 1 the highest impact of covid-19 was from Kab. West Bandung with an average of 0,55%, for cluster 2 with an average of 0,02%, for cluster 3 the highest impact of covid-19 was from Kab. West Bandung with an average of 0,04%, for cluster 4 the highest impact of covid-19 was from Cimahi City with an average of 0.79%.Virus Covid-19 berasal dari Kota Wuhan di China. Penularannya sangat cepat dan pesat ke berbagai belahan dunia termasuk di Indonesia. Penelitian ini membahas tentang klasterisasi sumber penyebaran virus covid-19 dengan metoda k-means menggunakan software WEKA untuk Kota Cimahi dan Kab Bandung Barat. Tujuan dari penelitian ini yaitu memperoleh informasi tentang 5 klaster sumber penyebaran virus Covid-19, yaitu klaster 0 (kantor), klaster 1 (tempat makan), klaster 2 (rumah), klaster 3 (perbelanjaan), dan klaster 4 (transportasi umum) selama bulan Mei sampai Juli 2020 untuk Kota Cimahi dan Kab Bandung Barat. Hasil dapat disimpulkan pada klaster 0 tertinggi dari Kab. Bandung Barat dengan rata-rata 0,05%, untuk klaster 1 dampak covid-19 tertinggi dari Kab. Bandung Barat dengan rata-rata 0,55%, untuk klaster 2 dengan rata-rata 0,02%, untuk klaster 3 dampak covid-19 tertinggi dari Kab. Bandung Barat dengan rata-rata 0,04%, untuk klaster 4 dampak covid-19 tertinggi dari Kota Cimahi dengan rata-rata 0,79%
Pengaruh Variasi Waktu Proses Manganisasi Terhadap Kekerasan dan Ketebalan Lapisan pada Baja Perkakas AISI D2
Pengerasan permukaan telah digunakan secara luas pada berbagai macam baja, karena dapat memberikan kombinasi sifat keras pada bagian permukaan. Pengerasan permukaan yang dilakukan adalah dengan cara mengubah struktur mikro dan komposisi kimia secara difusi mangan pada baja perkakas AISI D2. Adanya difusi mangan ke dalam permukaan baja perkakas AISI D2 akan mempengaruhi struktur mikro dan komposisi kimia sehingga sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mekariiknya.
Dalam penelitian tentang proses manganisasi aktivator yang akan digunakan adalah NHICI dan filler SiC. Proses manganisasi dilakukan pada temperatur 900oC dengan variasi waktu 4, 8, 12 jam.
Adapun tujuan dari proses manganisasi ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu terhadap sifat mekanik dan ketebalan lapisan terhadap baja AISI D2. Berdasarkan pengamatan terhadap pelapisan manganisasi yang terbentuk disimpulkan bahwa fasa yang terbentuk adalah FeMn. Hasil proses manganisasi pada temperatur 900"C pada variasi waktu 4, 8, 12 jam menunjukan bahwa ketebalan lapisan dan kekerasan sangat berpengaruh terhadap lama waktu penahanan saat proses manganisasi berlangsung. Ini terbukti pada hasil manganisasi pada waktu penahanan 12 jam dimana ketebalan lapisan maupun kekerasan yang didapat lebih baik dari pada waktu penahanan yang lebih kecil.Pengerasan permukaan telah digunakan secara luas pada berbagai macam baja, karena dapat memberikan kombinasi sifat keras pada bagian permukaan. Pengerasan permukaan yang dilakukan adalah dengan cara mengubah struktur mikro dan komposisi kimia secara difusi mangan pada baja perkakas AISI D2. Adanya difusi mangan ke dalam permukaan baja perkakas AISI D2 akan mempengaruhi struktur mikro dan komposisi kimia sehingga sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat mekariiknya.
Dalam penelitian tentang proses manganisasi aktivator yang akan digunakan adalah NHICI dan filler SiC. Proses manganisasi dilakukan pada temperatur 900oC dengan variasi waktu 4, 8, 12 jam.
Adapun tujuan dari proses manganisasi ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi waktu terhadap sifat mekanik dan ketebalan lapisan terhadap baja AISI D2. Berdasarkan pengamatan terhadap pelapisan manganisasi yang terbentuk disimpulkan bahwa fasa yang terbentuk adalah FeMn. Hasil proses manganisasi pada temperatur 900"C pada variasi waktu 4, 8, 12 jam menunjukan bahwa ketebalan lapisan dan kekerasan sangat berpengaruh terhadap lama waktu penahanan saat proses manganisasi berlangsung. Ini terbukti pada hasil manganisasi pada waktu penahanan 12 jam dimana ketebalan lapisan maupun kekerasan yang didapat lebih baik dari pada waktu penahanan yang lebih kecil
Peningkatan Ketahanan Aus Connecting Pad Lokal Scootervespa dengan Proses Precipitation Hardening
Menurut para pemakai connecting pad local, waktu umur pakainya lebih pendek dibandingkan dengan yang asli. Dikarenakan kekerasan connecting pad asli lebih besar dibanding dengan connecting pad lokal, dimana secara teoritis kekerasan sejalan dengan ketahanan aus, dengan kata lain apabila suatu material semakin keras maka akan semakin baik ketahanan ausnya. Dengan proses Precipitation hardening pada connecting pad lokal diharapkan material connecting pad lokal akan meningkat kekerasannya sehingga connecting pad lokal tersebut meningkat ketahanan ausnya dan diharabkan mendekati connecting pad aslinya.Menurut para pemakai connecting pad local, waktu umur pakainya lebih pendek dibandingkan dengan yang asli. Dikarenakan kekerasan connecting pad asli lebih besar dibanding dengan connecting pad lokal, dimana secara teoritis kekerasan sejalan dengan ketahanan aus, dengan kata lain apabila suatu material semakin keras maka akan semakin baik ketahanan ausnya. Dengan proses Precipitation hardening pada connecting pad lokal diharapkan material connecting pad lokal akan meningkat kekerasannya sehingga connecting pad lokal tersebut meningkat ketahanan ausnya dan diharabkan mendekati connecting pad aslinya
Uji Penggunaan Sianida Sebagai Sumber Karbon dan atau Nitrogen oleh Bakteri Bacillus Cereus dan Pseudomonas Fluorescens
Dalam Peraturan pemerintah (PP) No 19/1994 dan PP No.12/1995 tentang limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun), sianida dan senyawa-senyawa termasuk dalam kelompok bahan berbahaya dan beracun. Banyak sumber sianida di lingkungan, salah satunya bersumber dari buangan industri tapioka dan industri elektroplating. Karena itu upaya pengolahan limbah untuk menghilangkan racun sianida perlu dilakukan.
Pengolahan limbah biologi dengan sistem lumpur aktif, diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat yang mengandung sianida dengan menggunakan jasa mikroba. Namun . Untuk lebih jauh mengetahui bagaimana pemanfaatan senyawa sianida oleh mikroba yang terkandung dalam air buangan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan uji penggunaan sianida oleh bakteri Bacillus cereus dan Pseudomonas fluorescens, yang merupakan bakteri dominan hasil isolasi dari sistem pengolah limbah tersebut. Uji dengan menggunakan variasi komposisi media dengan menggunakan senyawa KSCN sebagai pengganti sumber karbon dan atau nitrogen, dilakukan dengan menggunakan reaktor batch pada kondisi aerob.
Dari hasil uji penggunaan sianida, menunjukkan bahwa bakteri Bacillus cereus mampu menggunakan sianida sebagai sumber karbon dan nitrogen dengan laju pertumbuhan spesifik (µ) sebesar µ=0.0061/Jam. Sedangkan bakteri Pseudomonas fluorescens mampu menggunakan sianida hanya sebagai sumber nitrogen dengan laju pertumbuhan spesifik (µ) sebesar µ=0.0085/JamDalam Peraturan pemerintah (PP) No 19/1994 dan PP No.12/1995 tentang limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun), sianida dan senyawa-senyawa termasuk dalam kelompok bahan berbahaya dan beracun. Banyak sumber sianida di lingkungan, salah satunya bersumber dari buangan industri tapioka dan industri elektroplating. Karena itu upaya pengolahan limbah untuk menghilangkan racun sianida perlu dilakukan.
Pengolahan limbah biologi dengan sistem lumpur aktif, diarahkan untuk menurunkan atau menyisihkan substrat yang mengandung sianida dengan menggunakan jasa mikroba. Namun . Untuk lebih jauh mengetahui bagaimana pemanfaatan senyawa sianida oleh mikroba yang terkandung dalam air buangan tersebut, dalam penelitian ini dilakukan uji penggunaan sianida oleh bakteri Bacillus cereus dan Pseudomonas fluorescens, yang merupakan bakteri dominan hasil isolasi dari sistem pengolah limbah tersebut. Uji dengan menggunakan variasi komposisi media dengan menggunakan senyawa KSCN sebagai pengganti sumber karbon dan atau nitrogen, dilakukan dengan menggunakan reaktor batch pada kondisi aerob.
Dari hasil uji penggunaan sianida, menunjukkan bahwa bakteri Bacillus cereus mampu menggunakan sianida sebagai sumber karbon dan nitrogen dengan laju pertumbuhan spesifik (µ) sebesar µ=0.0061/Jam. Sedangkan bakteri Pseudomonas fluorescens mampu menggunakan sianida hanya sebagai sumber nitrogen dengan laju pertumbuhan spesifik (µ) sebesar µ=0.0085/Ja
Analisa Kerusakan pada Turbine Bucket yang Terbuat dari Material Mickel Base Alloy Mar-M-246
Dari hasil pemeriksaan metalurgis terhadap turbine bucket nomor 120 dari stage 1 terlihat bahwa benda tersebut telah mengalami oksidasi dan hot corrosion, selain itu bucket tersebut telah mengalami deformasi / distorsi yang memperlihatkan indikasi adanya fenomena creep. Pemeriksaan dengan EDAX memperlihatkan bahwa material bucket adalah MAR-M-246, Cast Nickel Base Superalloys.
Pemeriksaan dengan EDAX menunjukkan bahwa bucket telah mengalami perbaikan dua kali dengan menggunakan coating masing-masing AlNi, ZrO dan adanya indikasi coating dengan menggunakan PtAI,. Pemeriksaan metalografis memperlihatkan adanya fasa sigma (CrCo) berbentuk plate / jarum, yang sangat getas dengan indikasi adanya peningkatan nilai kekerasan.
Telah terjadi kerusakan coating yang mengakibatkan teroksidasinya karbida / dan terjadi reaksi sulfida masing-masing pada batas butir yang menyebabkan timbulnya micro-crack. Hal ini menunjukkan bahwa turbine bucket telah terekspose panas dengan temperatur sekitar 570-1093 C.
Akibat mekanisme kerusakan yang terjadi, maka turbine bucket tersebut memiliki kehandalan yang sangat rendah. Untuk mengembalikan pada kondisi semula perlu dilakukan reparasi dengan welding (rebuilding) yang dilanjutkan dengan proses heat treatment untuk menurunkan tegangan sisa hasil welding sekaligus mengembalikan sifat mekanik kepada kondisi semula sesuai disain.Dari hasil pemeriksaan metalurgis terhadap turbine bucket nomor 120 dari stage 1 terlihat bahwa benda tersebut telah mengalami oksidasi dan hot corrosion, selain itu bucket tersebut telah mengalami deformasi / distorsi yang memperlihatkan indikasi adanya fenomena creep. Pemeriksaan dengan EDAX memperlihatkan bahwa material bucket adalah MAR-M-246, Cast Nickel Base Superalloys.
Pemeriksaan dengan EDAX menunjukkan bahwa bucket telah mengalami perbaikan dua kali dengan menggunakan coating masing-masing AlNi, ZrO dan adanya indikasi coating dengan menggunakan PtAI,. Pemeriksaan metalografis memperlihatkan adanya fasa sigma (CrCo) berbentuk plate / jarum, yang sangat getas dengan indikasi adanya peningkatan nilai kekerasan.
Telah terjadi kerusakan coating yang mengakibatkan teroksidasinya karbida / dan terjadi reaksi sulfida masing-masing pada batas butir yang menyebabkan timbulnya micro-crack. Hal ini menunjukkan bahwa turbine bucket telah terekspose panas dengan temperatur sekitar 570-1093 C.
Akibat mekanisme kerusakan yang terjadi, maka turbine bucket tersebut memiliki kehandalan yang sangat rendah. Untuk mengembalikan pada kondisi semula perlu dilakukan reparasi dengan welding (rebuilding) yang dilanjutkan dengan proses heat treatment untuk menurunkan tegangan sisa hasil welding sekaligus mengembalikan sifat mekanik kepada kondisi semula sesuai disain
Pengaruh Variasi Proses Peregangan terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Baja St. 37 pada Proses Roll Bending
Proses pembentukan merupakan perubahan bentuk benda kerja yang dilakukan dengan jalan memberikan gaya supaya terjadi deformasi plastis. Besarnya gaya luar untuk pembentukan yang dapat mengubah benda kerja harus diberikan secara permanen. Proses rol tekuk (roll bending) merupakan salah satu proses pembentukan pelat dimana pelat material jenis St. 37 merupakan bahan yang sering digunakan karena memiliki kemampuan bentuk yang baik. Dalam proses rol tekuk (roll bending) dengan memberikan variasi regangan 5%, 10%, dan 15%, pada suatu-material akan mengalami perubahan sifat mekanik dan struktur mikronya.
Semakin tinggi regangan yang diberikan pada proses roll bending terhadap pelat baja karbon rendah (Baja St. 37) akan menyebabkan peningkatan kekerasan, kekuatan, keuletan (elongasi dan reduksi penampang) dan perubahan bentuk butir dari eguaxial menjadi semakin pipih dalam struktur mikro yang berfasa perlit didalam matrik ferrit.Proses pembentukan merupakan perubahan bentuk benda kerja yang dilakukan dengan jalan memberikan gaya supaya terjadi deformasi plastis. Besarnya gaya luar untuk pembentukan yang dapat mengubah benda kerja harus diberikan secara permanen. Proses rol tekuk (roll bending) merupakan salah satu proses pembentukan pelat dimana pelat material jenis St. 37 merupakan bahan yang sering digunakan karena memiliki kemampuan bentuk yang baik. Dalam proses rol tekuk (roll bending) dengan memberikan variasi regangan 5%, 10%, dan 15%, pada suatu-material akan mengalami perubahan sifat mekanik dan struktur mikronya.
Semakin tinggi regangan yang diberikan pada proses roll bending terhadap pelat baja karbon rendah (Baja St. 37) akan menyebabkan peningkatan kekerasan, kekuatan, keuletan (elongasi dan reduksi penampang) dan perubahan bentuk butir dari eguaxial menjadi semakin pipih dalam struktur mikro yang berfasa perlit didalam matrik ferrit