Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
280 research outputs found
Sort by
Aplikasi Penjadwalan Dinamis Menggunakan Kombinasi Metode Rolling Time Window dan Algoritma Genetika Di PT Logam Bima
Dalam situasi persaingan pasar global yang sangat ketat sekarang ini, dimana pasar menetapkan harga serta konsumen hanya membeli produk pada saat dibutuhkan, sehingga perusahaan harus membuat produk mengikuti keinginan konsumen, oleh karena itu perusahaan harus memperhatikan hal-hal yang akan terjadi. Misalnya pemborosan yang timbul karena adanya keterlambatan.
Logam Bima merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri logam.Perusahaan mempunyai komitmen untuk memperhatikan ketepatan waktu dalampenyerahan produk kepada konsumen, sehingga dapat menjaga kepercayaan dan mengantisipasi persaingan usaha yang semakin ketat. Jadwal produksi ideal menurut PT. Logam Bima adalah semua pekerjaan selesai tepat pada batas akhir waktu penyerahan (due-date). Penyelesaian pekerjaan yang terlalu cepat atau terlalu lambat akan mengakibatkan biaya tambahan bagi perusahaan. Selain itu tidak terkendalinya proses
yang terjadi dilantai pabrik menyebabkan penyelesaian pekerjaan menjadi tidak tepat waktu, sehingga akan berakibat pada menurunnya tingkat kepercayaan konsumen kepada perusahaan. Oleh karena itu perusahaan berusaha merencanakan dan menjadwalkan produksi dengan baik untuk meminimasi total biaya produksi.
Dalam situasi persaingan pasar global yang sangat ketat sekarang ini, dimana pasar menetapkan harga serta konsumen hanya membeli produk pada saat dibutuhkan, sehingga perusahaan harus membuat produk mengikuti keinginan konsumen, oleh karena itu perusahaan harus memperhatikan hal-hal yang akan terjadi. Misalnya pemborosan yang timbul karena adanya keterlambatan.
Logam Bima merupakan perusahaan yang bergerak dibidang industri logam.Perusahaan mempunyai komitmen untuk memperhatikan ketepatan waktu dalampenyerahan produk kepada konsumen, sehingga dapat menjaga kepercayaan dan mengantisipasi persaingan usaha yang semakin ketat. Jadwal produksi ideal menurut PT. Logam Bima adalah semua pekerjaan selesai tepat pada batas akhir waktu penyerahan (due-date). Penyelesaian pekerjaan yang terlalu cepat atau terlalu lambat akan mengakibatkan biaya tambahan bagi perusahaan. Selain itu tidak terkendalinya proses
yang terjadi dilantai pabrik menyebabkan penyelesaian pekerjaan menjadi tidak tepat waktu, sehingga akan berakibat pada menurunnya tingkat kepercayaan konsumen kepada perusahaan. Oleh karena itu perusahaan berusaha merencanakan dan menjadwalkan produksi dengan baik untuk meminimasi total biaya produksi.
 
Pengaruh Asbuton Lawele Terhadap Stabilitas Perkerasan Lentur Jalan
Asbuton Lawele merupakan salah satu aspal alam yang ada di Pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Aspal yang ada di Pulau Buton mempunyai kadar aspal sebesar ± 20,8% dan sekarang dengan ditemukannya Asbuton Lawele di Pulau Buton juga mempunyai kadar aspal lebih tinggi sebesar 30,6% (rata-rata 30%).
Asbuton Lawele diperkirakan akan mempengaruhi nilai stabilitas dan nilai kepadatan (Density) serta kekuatan campuran beraspal, sehingga nantinya bagaimana cara untuk mendapat perkerasan yang baik, untuk mengetahui lebih lanjut tentang Asbuton Lawele maka diperlukan diadakannya penelitian tentang aspal tersebut.
Pada penelitian ini dianalisa variasi kadar aspal 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10% dengan menggunakan campuran panas ( Hot Mix ) Asbuton Lawele dan campuran dingin ( Cold Mix ) Asbuton Lawele serta di bandingkan pula dengan campuran panas ( Hot Mix ) Asphalt Cement ( AC ) murni penetrasi 60/70, dengan demikian diharapkan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan Asbuton Lawele tersebut.
Metoda pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini mengacu pada metode Bina Marga, dan pengujian campuran beraspal menggunakan Metoda Marshall Test, yang nantinya dapat diketahui tentang parameter-parameter dari pengujian Marshall terhadap campuran beraspal seperti nilai stabilitas, nilai kelelehan (Flow), persen rongga terhadap campuran, dan persen rongga terisi aspal serta persen rongga diantara agregat.Asbuton Lawele merupakan salah satu aspal alam yang ada di Pulau Buton Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Aspal yang ada di Pulau Buton mempunyai kadar aspal sebesar ± 20,8% dan sekarang dengan ditemukannya Asbuton Lawele di Pulau Buton juga mempunyai kadar aspal lebih tinggi sebesar 30,6% (rata-rata 30%).
Asbuton Lawele diperkirakan akan mempengaruhi nilai stabilitas dan nilai kepadatan (Density) serta kekuatan campuran beraspal, sehingga nantinya bagaimana cara untuk mendapat perkerasan yang baik, untuk mengetahui lebih lanjut tentang Asbuton Lawele maka diperlukan diadakannya penelitian tentang aspal tersebut.
Pada penelitian ini dianalisa variasi kadar aspal 6%, 7%, 8%, 9%, dan 10% dengan menggunakan campuran panas ( Hot Mix ) Asbuton Lawele dan campuran dingin ( Cold Mix ) Asbuton Lawele serta di bandingkan pula dengan campuran panas ( Hot Mix ) Asphalt Cement ( AC ) murni penetrasi 60/70, dengan demikian diharapkan kelebihan dan kekurangan dari penggunaan Asbuton Lawele tersebut.
Metoda pengujian yang dilakukan dalam penelitian ini mengacu pada metode Bina Marga, dan pengujian campuran beraspal menggunakan Metoda Marshall Test, yang nantinya dapat diketahui tentang parameter-parameter dari pengujian Marshall terhadap campuran beraspal seperti nilai stabilitas, nilai kelelehan (Flow), persen rongga terhadap campuran, dan persen rongga terisi aspal serta persen rongga diantara agregat
Pengaruh Rapat Arus dan Waktu Pelapisan Terhadap Kualitas Lapisan Nikel pada Temperatur Kamar
Proses pelapisan nikel temperatur kamar dilakukan dengan memvariasikan waktu proses dan rapat arus. Bila dibandingkan dengan pelapisan nikel temperatur tinggi (T - 40 -700C), biaya nikel temperatur kamar jauh lebih rendah 57,496, sehingga diharapkan dapat menurunkan biaya produksi pelapisan.
Data pemeriksaan/pengujian yang dilakukan pada spesimen yang telah dilapis menunjukkan bahwa kualitas lapisan nilikel temperatur kamar memberikan hasil yang mengkilap, memiliki daya lekat yang baik, dan ketahanan korosi yang cukup tinggi.Proses pelapisan nikel temperatur kamar dilakukan dengan memvariasikan waktu proses dan rapat arus. Bila dibandingkan dengan pelapisan nikel temperatur tinggi (T - 40 -700C), biaya nikel temperatur kamar jauh lebih rendah 57,496, sehingga diharapkan dapat menurunkan biaya produksi pelapisan.
Data pemeriksaan/pengujian yang dilakukan pada spesimen yang telah dilapis menunjukkan bahwa kualitas lapisan nilikel temperatur kamar memberikan hasil yang mengkilap, memiliki daya lekat yang baik, dan ketahanan korosi yang cukup tinggi
Pengaruh Kondisi Air Terhadap Laju Korosi pada Baja Tulangan
@font-face{ font-family:"Times New Roman"; } @font-face{ font-family:"宋体"; } @font-face{ font-family:"Calibri"; } @font-face{ font-family:"SimSun"; } p.MsoNormal{ mso-style-name:Normal; mso-style-parent:""; margin:0pt; margin-bottom:.0001pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:SimSun; mso-bidi-font-family:\u27Times New Roman\u27; } span.msoIns{ mso-style-type:export-only; mso-style-name:""; text-decoration:underline; text-underline:single; color:blue; } span.msoDel{ mso-style-type:export-only; mso-style-name:""; text-decoration:line-through; color:red; } } div.Section0{page:Section0;}
Penggunaan logam sebagai bahan konstruksi, perlu diketahui seberapa cepatkah suatu logam itu rusak atau tidak berfungsi karena korosi. Maka dari itu dibutuhkan pengendalian korosi agar bahan kontruksi dapat berfungsi maksimal.
Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan suatu struktur beton diantaranya kekuatan ikatan atau kuat lekat (bonding strength) antara beton dan tulangannya sendiri. Penurunan kekuatan ikatan beton dengan tulangannya dapat terjadi bila pada permukaan baja tulangan yang digunakan sebelum atau setelah dilakukan pengecoran terdapat kotoran berupa deposit korosi, tanah, minyak pelumas dan lain-lain.
Pada penelitian ini, dilakukan perendaman selama beberapa waktu pada baja tulangan di berbagai kondisi air digunakan sebagai cara untuk mengukur laju korosi pada baja tulangan konstruksi beton, karena air adalah salah satu komposisi utama untuk tercampurnya beton, yang akan memicu proses kimiawi semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pengerjaan beton. Sehingga dari usaha ini, diharapkan, dapat diketahui kondisi air yang dipakai untuk pembuatan beton bertulang, dengan mempertimbangkan dampak yang akan dialami oleh baja tulangan di dalam beton tersebut.@font-face{ font-family:"Times New Roman"; } @font-face{ font-family:"宋体"; } @font-face{ font-family:"Calibri"; } @font-face{ font-family:"SimSun"; } p.MsoNormal{ mso-style-name:Normal; mso-style-parent:""; margin:0pt; margin-bottom:.0001pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:SimSun; mso-bidi-font-family:\u27Times New Roman\u27; } span.msoIns{ mso-style-type:export-only; mso-style-name:""; text-decoration:underline; text-underline:single; color:blue; } span.msoDel{ mso-style-type:export-only; mso-style-name:""; text-decoration:line-through; color:red; } } div.Section0{page:Section0;}
Penggunaan logam sebagai bahan konstruksi, perlu diketahui seberapa cepatkah suatu logam itu rusak atau tidak berfungsi karena korosi. Maka dari itu dibutuhkan pengendalian korosi agar bahan kontruksi dapat berfungsi maksimal.
Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan suatu struktur beton diantaranya kekuatan ikatan atau kuat lekat (bonding strength) antara beton dan tulangannya sendiri. Penurunan kekuatan ikatan beton dengan tulangannya dapat terjadi bila pada permukaan baja tulangan yang digunakan sebelum atau setelah dilakukan pengecoran terdapat kotoran berupa deposit korosi, tanah, minyak pelumas dan lain-lain.
Pada penelitian ini, dilakukan perendaman selama beberapa waktu pada baja tulangan di berbagai kondisi air digunakan sebagai cara untuk mengukur laju korosi pada baja tulangan konstruksi beton, karena air adalah salah satu komposisi utama untuk tercampurnya beton, yang akan memicu proses kimiawi semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pengerjaan beton. Sehingga dari usaha ini, diharapkan, dapat diketahui kondisi air yang dipakai untuk pembuatan beton bertulang, dengan mempertimbangkan dampak yang akan dialami oleh baja tulangan di dalam beton tersebut
Pemanfaatan Fly Ash (Abu Terbang) Batubara untuk Pembuatan Semen Portland Pozzolan
Fly ash (abu terbang) batubara biasanya masih mengandung komponen-komponen/senyawa dianataranya terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO dan sebagian kecilnya adalah unsur-unsur seperti Na2O, MgO dan K2O serta pengotor lainnya. Unsur- unsur utama tersebut merupakan bahan Pozzolan, yaitu bahan yang mengandung senyawa silica atau silica alumina, dimana bahan Pozzolan itu sendiri tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen, karena mempunyai bentuknya yang halus dan masih mengandung kadar air, maka senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia dengan senyawa kalsium hidroksida pada keadaan temperatur ruangan, dan membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat seperti semen (kalsium silikat dan aluminat hidrat), sehingga fly ash tersebut dapat dicampur dengan semen portland menjadi semen portland pozzolan.Tahapan pengerjaan penelitian dilakukan adalah limbah fIy ash tersebut dimulai dengan proses penggilingan dan pengayakan dengan menggunakan ayakan 270 mesh, kemudian diaktifkan dengan berbagai variasi temperatur pengaktifan yaitu 400oC, 500oC dan 600oC. Setelah diaktifkan, fly ash tersebut dicampur dengan semen portland tipe I yang selanjutnya dibuat beton untuk diuji secara mekanis, yaitu dengan kuat tekan. Dari hasil pengujian kuat tekan tersebut, umur beton yang 3 hari, 7 hari dan 28 hari dengan suhu pengaktifan fly ash 400oC, memiliki kuat tekan yang tinggi yaitu 148.88 kg/cm2, 220 kg/cm2 dan 260 kg/cm2.Fly ash (abu terbang) batubara biasanya masih mengandung komponen-komponen/senyawa dianataranya terdiri dari SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO dan sebagian kecilnya adalah unsur-unsur seperti Na2O, MgO dan K2O serta pengotor lainnya. Unsur- unsur utama tersebut merupakan bahan Pozzolan, yaitu bahan yang mengandung senyawa silica atau silica alumina, dimana bahan Pozzolan itu sendiri tidak mempunyai sifat mengikat seperti semen, karena mempunyai bentuknya yang halus dan masih mengandung kadar air, maka senyawa tersebut akan bereaksi secara kimia dengan senyawa kalsium hidroksida pada keadaan temperatur ruangan, dan membentuk senyawa yang memiliki sifat-sifat seperti semen (kalsium silikat dan aluminat hidrat), sehingga fly ash tersebut dapat dicampur dengan semen portland menjadi semen portland pozzolan.Tahapan pengerjaan penelitian dilakukan adalah limbah fIy ash tersebut dimulai dengan proses penggilingan dan pengayakan dengan menggunakan ayakan 270 mesh, kemudian diaktifkan dengan berbagai variasi temperatur pengaktifan yaitu 400oC, 500oC dan 600oC. Setelah diaktifkan, fly ash tersebut dicampur dengan semen portland tipe I yang selanjutnya dibuat beton untuk diuji secara mekanis, yaitu dengan kuat tekan. Dari hasil pengujian kuat tekan tersebut, umur beton yang 3 hari, 7 hari dan 28 hari dengan suhu pengaktifan fly ash 400oC, memiliki kuat tekan yang tinggi yaitu 148.88 kg/cm2, 220 kg/cm2 dan 260 kg/cm2
Pengaruh Artificial Aging Terhadap Sifat Mekanik Hasil Lasan Tig Aluminium Seri 6013 T4
Hasil pengelasan yang diterapkan pada paduan aluminium seri 6xxx tidak selalu menghasilkan sambungan dengan kualitas yang baik, hal ini disebabkan oleh adanya penurunan sifat mekanis selama proses pengelasan. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan sifat mekanis adalah proses artificial aging (penuaan buatan) yang dilakukan pada temperatur 180oC sedangkan waktu agingnya divariasikan 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan 5 jam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh waktu penahanan pada saat aging terhadap hasil lasan paduan aluminium, sehingga diperoleh kualitas hasil lasan yang menunjukkan sifat mekanis yang optimal. Paduan aluminium yang digunakan adalah Aluminium seri 6013 T4.
Data penelitian yang diperoleh adalah kekuatan luluh, kekuatan tarik, perpanjangan, distribusi kekerasan, kekasaran permukaan dan struktur mikro terhadap sample uji tanpa proses artificial aging dan setelah proses artificial aging . Dari hasil penelitian diperoleh peningkatan dari nilai kekuatan tarik (20-90)% maupun kekerasan (30-95)% pada paduan aluminium seri 6013 setelah proses artificial aging . Dari hasil pengujian kekasaran permukaan bahwa nilai Ra, Rz dan Rmax jika dibandingkan dengan nilai material awal, maka nilai optimal terjadi pada kondisi waktu aging yang 3 jam, sedangkan pengaruh artificial aging setelah pengelasan terhadap struktur mikro akan menghasilkan penghalusan terhadap presipitat.Hasil pengelasan yang diterapkan pada paduan aluminium seri 6xxx tidak selalu menghasilkan sambungan dengan kualitas yang baik, hal ini disebabkan oleh adanya penurunan sifat mekanis selama proses pengelasan. Salah satu cara yang digunakan untuk meningkatkan sifat mekanis adalah proses artificial aging (penuaan buatan) yang dilakukan pada temperatur 180oC sedangkan waktu agingnya divariasikan 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan 5 jam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh waktu penahanan pada saat aging terhadap hasil lasan paduan aluminium, sehingga diperoleh kualitas hasil lasan yang menunjukkan sifat mekanis yang optimal. Paduan aluminium yang digunakan adalah Aluminium seri 6013 T4.
Data penelitian yang diperoleh adalah kekuatan luluh, kekuatan tarik, perpanjangan, distribusi kekerasan, kekasaran permukaan dan struktur mikro terhadap sample uji tanpa proses artificial aging dan setelah proses artificial aging . Dari hasil penelitian diperoleh peningkatan dari nilai kekuatan tarik (20-90)% maupun kekerasan (30-95)% pada paduan aluminium seri 6013 setelah proses artificial aging . Dari hasil pengujian kekasaran permukaan bahwa nilai Ra, Rz dan Rmax jika dibandingkan dengan nilai material awal, maka nilai optimal terjadi pada kondisi waktu aging yang 3 jam, sedangkan pengaruh artificial aging setelah pengelasan terhadap struktur mikro akan menghasilkan penghalusan terhadap presipitat
Pengaruh Penambahan Volume Kitosan dari Cangkang Bekicot terhadap Penurunan Kadar Tembaga Air Lindi
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan volume kitosan sebagai adsorben dari cangkang bekicot (AchatinaFullica) terhadap keefektifan kitosan dalam menjerap logam tembaga (Cu) dalam air lindi. Pembuatan kitosan terdiri dari tahap deproteinasi dengan natrium hidroksida 2 N, tahap demineralisasi dengan hydrogen clorida 1 N, serta tahap deasetilasi dengan Natrium hidroksida 50%. Campuran dipanaskan dengan hot plate pada suhu 90oC selama 1 jam dan diaduk menggunakan magnetic stirrer. Larutan dipisahkan dan dikeringkan didalam oven untuk mendapatkan kitosan. Hasil analisa Fourier Transform Infra Red (FTIR) menunjukkan bahwa derajat deasitilasi kitosan adalah sebesar 89.6%. Kitosan dilarutkan dalam air untuk menghasilkan larutan dengan konsentrasi 10.000 ppm. Berbagai volume kitosan (2, 4, 6, 8 dan 10 mL) dicampurkan kedalam 1 L air lindi dan diaduk selama 15 menit. Kadar Cu pada sampel air lindi diuji menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometric (AAS). Diperoleh hasil bahwa daya serap terhadap kadar Cu terbaik, yaitu 34,46%, adalah pada penambahan kitosan sebanyak 10 mL
Desain Sistem Pelacak Cahaya Matahari Dual Axis pada Solar Cell untuk Pengoptimasi Konversi Energi Listrik menggunakan Arduino Mega 2560 dengan Datalogger Offline dan Online
Ketergantungan pada penggunaan bahan bakar fosil saat ini dihadapkan pada tantangan dalam permintaan dan pertimbangan lingkungan. Pencemaran lingkungan dari bahan bakar fosil yang dibakar melepaskan karbon dioksida yang bertanggung jawab terjadinya pemanasan global. Tenaga surya adalah salah satu sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan, yang mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Sistem pelacak cahaya matahari pada solar cell sangat diperlukan untuk pengoptimalan konversi energi listrik. Penelitian ini membandingkan konversi energi solar cell dengan menggunakan sistem (tracking) dan tanpa menggunakan sistem (statis). Setelah dilakukan pengujian perbandingan tegangan, arus, daya solar cell dengan sistem dan tanpa sistem yang dilakukan pada tanggal 15 Juli 2018. Perbadingan tegangan didapat perbedaan nilai 6% dengan selisih tertinggi 2.34V, perbandingan arus terdapat perbedaan nilai 53% dengan selisih tertinggi 0.21A dan untuk perbandingan daya diperoleh perbedaan nilai 55.92% dengan selisih tertinggi 2.8VAKetergantungan pada penggunaan bahan bakar fosil saat ini dihadapkan pada tantangan dalam permintaan dan pertimbangan lingkungan. Pencemaran lingkungan dari bahan bakar fosil yang dibakar melepaskan karbon dioksida yang bertanggung jawab terjadinya pemanasan global. Tenaga surya adalah salah satu sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan, yang mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik. Sistem pelacak cahaya matahari pada solar cell sangat diperlukan untuk pengoptimalan konversi energi listrik. Penelitian ini membandingkan konversi energi solar cell dengan menggunakan sistem (tracking) dan tanpa menggunakan sistem (statis). Setelah dilakukan pengujian perbandingan tegangan, arus, daya solar cell dengan sistem dan tanpa sistem yang dilakukan pada tanggal 15 Juli 2018. Perbadingan tegangan didapat perbedaan nilai 6% dengan selisih tertinggi 2.34V, perbandingan arus terdapat perbedaan nilai 53% dengan selisih tertinggi 0.21A dan untuk perbandingan daya diperoleh perbedaan nilai 55.92% dengan selisih tertinggi 2.8V
Pengaruh Perlakuan Panas Terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Panduan Zirkonium-Alumunium (Al-Zr)
Paduan zirkonium banyak digunakan pada reaktor nuklir karena keunggulan dan sifat mekaniknya serta tahan korosi dalam air pada temperatur tinggi. Salah satu usaha untuk lebih meningkatkan sifat mekanik paduan zirkonium adalah dengan melakukan proses perlakuan panas β-quenching. Dalam penelitian ini telah dilakukan proses perlakuan panas pada logam paduan zirkonium hasil peleburan dengan menggunakan tungku pelelehan busur tunggal (Single Arc Melting Furnace).
Proses perlakuan panas dilakukan dengan cara memanaskan paduan zirkonium (Zr-AI) sampai temperatur pemanasan 900oC dengan waktu penahanan 60 menit, kemudian di celup cepat (quenching) dengan menggunakan media air.
Hasil analisis dengan menggunakan mikroskop optik menunjukkan bahwa ingot hasil peleburan mempunyai struktur dendrit dan parallel plate dengan Struktur mikro hasil perlakuan panas adalah dendrit.
Untuk mengetahui nilai kekerasan paduan Zr-Al dilakukan uji kekerasan mikro vickers. Harga kekerasan hasil perlakuan panas untuk semua paduan berkisar antara 799.33 Hv sampai 890 Hv.Paduan zirkonium banyak digunakan pada reaktor nuklir karena keunggulan dan sifat mekaniknya serta tahan korosi dalam air pada temperatur tinggi. Salah satu usaha untuk lebih meningkatkan sifat mekanik paduan zirkonium adalah dengan melakukan proses perlakuan panas β-quenching. Dalam penelitian ini telah dilakukan proses perlakuan panas pada logam paduan zirkonium hasil peleburan dengan menggunakan tungku pelelehan busur tunggal (Single Arc Melting Furnace).
Proses perlakuan panas dilakukan dengan cara memanaskan paduan zirkonium (Zr-AI) sampai temperatur pemanasan 900oC dengan waktu penahanan 60 menit, kemudian di celup cepat (quenching) dengan menggunakan media air.
Hasil analisis dengan menggunakan mikroskop optik menunjukkan bahwa ingot hasil peleburan mempunyai struktur dendrit dan parallel plate dengan Struktur mikro hasil perlakuan panas adalah dendrit.
Untuk mengetahui nilai kekerasan paduan Zr-Al dilakukan uji kekerasan mikro vickers. Harga kekerasan hasil perlakuan panas untuk semua paduan berkisar antara 799.33 Hv sampai 890 Hv
Penjadwalan Pemetikan Teh dengan Model Programa Dinamis yang Mempertimbangkan Kualitas Pucuk: Studi Kasus Di PPTK Gambung, Ciwidey
Penerapan aturan gilir petik di PPTK Gambung berlaku untuk semua blok yaitu berkisar antara 9-10 hari sekali. Hal ini menjadi salah satu sebab sering tidak terpenuhinya rencana produksi baik dari aspek kuantitas maupun kualitas teh, karena perbedaan ketinggian tempat dan umur pangkas diantara blok-blok kebun tersebut, menyebabkan kecepatan pertumbuhan pucuk teh juga berbeda-beda. Oleh karenanya diperlukan aturan gilir petik yang sesuai dengan pertumbuhan pucuk teh.
Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyusun jadwal pemetikan yang dapat meminimalkan biaya pemetikan teh. Optimasi penjadwalan ini dilakukan dengan cara pemilihan blok pemetikan secara tepat, sesuai pola penurunan kualitas pucuk.
Dua tahap pemecahan masalah diperlukan untuk memecahkan masalah di atas. Tahap pertama adalah pencarian pola penurunan kualitas pucuk yang sesuai ketinggian tempat dan umur pangkas masing-masing kelompok blok kebun. Selanjutnya pola penurunan kualitas pucuk tersebut digunakan untuk menentukan biaya penurunan kualitas pucuk teh, dan biaya akibat tersisanya pucuk teh di kebun, yang merupakan komponen dari total biaya pemetikan selain biaya langsung pemetikan. Tahap yang kedua adalah menyusun model penjadwalan pemetikan yang dapat meminimalkan total biaya pemetikan dan penurunan kualitas pucuk teh. Formulasi matematik yang dipakai adalah programa dinamis, model ini merupakan modifikasi dari model persediaan produksi dinamis.Penerapan aturan gilir petik di PPTK Gambung berlaku untuk semua blok yaitu berkisar antara 9-10 hari sekali. Hal ini menjadi salah satu sebab sering tidak terpenuhinya rencana produksi baik dari aspek kuantitas maupun kualitas teh, karena perbedaan ketinggian tempat dan umur pangkas diantara blok-blok kebun tersebut, menyebabkan kecepatan pertumbuhan pucuk teh juga berbeda-beda. Oleh karenanya diperlukan aturan gilir petik yang sesuai dengan pertumbuhan pucuk teh.
Untuk itu penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyusun jadwal pemetikan yang dapat meminimalkan biaya pemetikan teh. Optimasi penjadwalan ini dilakukan dengan cara pemilihan blok pemetikan secara tepat, sesuai pola penurunan kualitas pucuk.
Dua tahap pemecahan masalah diperlukan untuk memecahkan masalah di atas. Tahap pertama adalah pencarian pola penurunan kualitas pucuk yang sesuai ketinggian tempat dan umur pangkas masing-masing kelompok blok kebun. Selanjutnya pola penurunan kualitas pucuk tersebut digunakan untuk menentukan biaya penurunan kualitas pucuk teh, dan biaya akibat tersisanya pucuk teh di kebun, yang merupakan komponen dari total biaya pemetikan selain biaya langsung pemetikan. Tahap yang kedua adalah menyusun model penjadwalan pemetikan yang dapat meminimalkan total biaya pemetikan dan penurunan kualitas pucuk teh. Formulasi matematik yang dipakai adalah programa dinamis, model ini merupakan modifikasi dari model persediaan produksi dinamis