Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
280 research outputs found
Sort by
Purwarupa Mode Konverter Rectangular Waveguide Menggunakan Double-Trench
Waveguide merupakan suatu alat yang berbentuk menyerupai selongsong persegi ataupun melingkar yang terbuat dari bahan konduktor tunggal. Alat tersebut dapat disisipi dielektrik untuk mengatur frekuensi tertentu atau konverter untuk mengubah mode dari gelombang yang digunakan. Penelitian ini melakukan implementasi konverter mode TE10 ke mode TMmn pada rectangular waveguide dan menggamati karakteristik dari vektor gelombang konverter serta parameter S11 dan S21. Proses pengujian dilakukan dengan mencoba beberapa rancangan dan membandingkan hasilnya, kemudian mengimplementasikannya pada alat. Simulasi dilakukan untuk mendapatkan hasil terbaik. Berdasarkan analisis dari proses simulasi menggunakan software ansoft HFSS, hasil terbaik didapatkan pada konverter mode TMmn parameter dengan rancangan double-trench belah ketupat dan frekuensi cut off 6.4 GHz. Nilai return loss sebesar -14.289 dB dan insertion loss sebesar -0.281 dB. Sedangkan pada rancangan konverter double-trench kembar didapatkan hasil frekuensi cut off sebesar 9.2 GHz dengan nilai return loss -12.878 dB dan nilai insertion loss -0.467 dB. Pada saat pengujian alat yang dilakukan menggunakan Vector Network Analyzer (VNA), frekuensi cut-off yang diperoleh adalah sebesar 7.03 GHz dengan return loss -12.68 dB, dan insertion loss -6.80 dB.Waveguide merupakan suatu alat yang berbentuk menyerupai selongsong persegi ataupun melingkar yang terbuat dari bahan konduktor tunggal yang dapat disisipi dielektrik untuk mengatur frekuensi tertentu atau konverter untuk mengubah mode dari gelombang yang digunakan. Pada penelitian ini dilakukan pengimplementasian konverter mode TE10 ke mode TMmn pada rectangular waveguide dengan menggamati karakteristik dari vector gelombang konverter dan parameter S11 dan S21. Proses pengujian dilakukan dengan mencoba beberapa rancangan dan membandingkan hasilnya dan mengimplementasikannya pada alat dengan mengambil dari hasil simulasi yang menunjukan hasil paling baik. Berdasarkan analisis dari proses simulasi menggunakan software ansoft hfss hasil yang didapatkan pada konverter mode TE10 parameter terbaik di dapat pada pada rancangan double-trench belah ketupat dengan frekuensi cut off 6.4 GHz, nilai return loss -14.289 dB dan insertion loss -0.281 dB, sedangkan pada rancangan konverter double-trench kembar didapatkan hasil frekuensi cut off 9.2 GHz dengan nilai return loss -12.878 dB dan nilai insertion loss -0.467 dB. Pada saat pengujian alat yang dilakukan menggunakan Vector Network Analyzer (VNA) dari hasil pengukuran didapat frekuensi cutoff sebesar 7.03 GHz dengan return loss -12.68 dB, dan insertion loss -6.80 dB
Isolasi Lignin dari Serbuk Grajen Kayu Jati (Tectona Grandis) dengan Metode Klasson
Isolation of lignin from Jepara teak furniture waste is an effort to utilize this waste and to overcome environmental pollution. Lignin was isolated by extraction from the sawdust of furniture waste, hydrolyzed and identified by Fourier Transport Infra-Red (FTIR). Isolation was carried out with a sample weight of 10 grams, a time of 2 hours and a temperature of 110oC and variations in the concentration of NaOH. The lignin yield of 0,106% (1,06 g) was obtained at a concentration of 12%-w NaOH, time of 2 hours and a temperature of 110oC. The guacil functional group as the dominated element of the lignin compounds was identified by FTIR spectra results at the absorption wavelength of 1269,6 cm-1.Isolasi lignin dari limbah furniture kayu jati Jepara merupakan upaya untuk pemanfaatan limbah tersebut dan dalam mengatasi pencemaran lingkungan. Lignin diisolasi dengan cara diekstraksi dari serbuk kayu tersebut, dihidrolisa dan diidentifikasi dengan Fourier Transport Infra-Red (FTIR). Isolasi dilakukan dengan berat sampel 10 gram, waktu 2 jam dan suhu 110oC dan variasi konsentrasi NaOH. Yield lignin 0,106 % (1,06 g) didapat pada konsentrasi NaOH 12%-b, waktu 2 jam dan suhu 110oC. Gugus fungsi guasil merupakan unsur yang mendominasi senyawa lignin terindentifkasi dari hasil analisa spektrum FTIR pada panjang gelombang serapan 1269,6 cm-1
Prespektif Baru Manajemen Karier
Tantangan bagi organisasi untuk menghadapi lingkungan global dan persaingan yang semakin ketat dewasa ini adalah melakukan perubahan. Perubahan menjadi suatu keharusan bagi organisasi agar senantiasi mampu adaptif. Konsolodasi internal dalam manajemen di antaranya adalah penyederhanaan struktur organisasi yang di dalamnya adalah unsur karir. Tulisan ini mencoba menguraikan paradigma baru tentang perubahan organisasi yang berdampak pada cara pandang terhadap karir para karyawannya.Tantangan bagi organisasi untuk menghadapi lingkungan global dan persaingan yang semakin ketat dewasa ini adalah melakukan perubahan. Perubahan menjadi suatu keharusan bagi organisasi agar senantiasi mampu adaptif. Konsolodasi internal dalam manajemen di antaranya adalah penyederhanaan struktur organisasi yang di dalamnya adalah unsur karir. Tulisan ini mencoba menguraikan paradigma baru tentang perubahan organisasi yang berdampak pada cara pandang terhadap karir para karyawannya
Pengaruh Waktu Pemanasan dan Jarak Koil pada Pengerasan Induksi terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Baja KRUPP 1191
Proses pengerasan permukaan dilakukan untuk meningkatkan kekerasan permukaan pada komponen yang mengalami beban puntir dan gesekan. Salah satu metoda yang dapat dipakai dalam proses ini adalah proses pengerasan induksi. Proses pengerasan permukaan induksi yang dilakukan dalam penelitian ditujukan untuk mengetahui karakteristik baja KRUPP 1191 (DIN.1.1191) atau baja karbon medium 0,45% C, dengan memvariasikan parameter waktu proses dan jarak koil pemanas terhadap kekerasan, ketebalan lapisan terkeraskan dan struktur mikro. Variasi parameter waktu adalah 2, 4 dan 6detik sedangkan jarak koil pemanas terhadap benda kerja 1, 2 dan 4mm. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan nilai kekerasan permukaan maksimum sebesar 66,4HRC diperoleh untuk waktu proses 6 detik dengan jarak 1mm. Distribusi nilai kekerasan dari permukaan ke inti menunjukkan nilai yang semakin rendah dengan ketebalan lapisan terkeraskan maksimum pada waktu proses 6 detik dengan jarak 1mm sebesar 16,0mm atau 100% dari diameter uji. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa semakin lama waktu proses maka ketebalan lapisan terkeraskan semakin besar. Jarak koil dengan variasi 1, 2 dan 4 mm tidak menunjukkan pengaruh yang mencolok bila dibandingkan dengan waktu proses. Struktur mikro yang terbentuk pada daerah terkeraskan adalah martensit sedangkan pada daerah tidak terkeraskan struktur mikronya sama seperti material awal yaitu terdiri dari ferit dan perlit.Proses pengerasan permukaan dilakukan untuk meningkatkan kekerasan permukaan pada komponen yang mengalami beban puntir dan gesekan. Salah satu metoda yang dapat dipakai dalam proses ini adalah proses pengerasan induksi. Proses pengerasan permukaan induksi yang dilakukan dalam penelitian ditujukan untuk mengetahui karakteristik baja KRUPP 1191 (DIN.1.1191) atau baja karbon medium 0,45% C, dengan memvariasikan parameter waktu proses dan jarak koil pemanas terhadap kekerasan, ketebalan lapisan terkeraskan dan struktur mikro. Variasi parameter waktu adalah 2, 4 dan 6detik sedangkan jarak koil pemanas terhadap benda kerja 1, 2 dan 4mm. Hasil pengujian kekerasan menunjukkan nilai kekerasan permukaan maksimum sebesar 66,4HRC diperoleh untuk waktu proses 6 detik dengan jarak 1mm. Distribusi nilai kekerasan dari permukaan ke inti menunjukkan nilai yang semakin rendah dengan ketebalan lapisan terkeraskan maksimum pada waktu proses 6 detik dengan jarak 1mm sebesar 16,0mm atau 100% dari diameter uji. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa semakin lama waktu proses maka ketebalan lapisan terkeraskan semakin besar. Jarak koil dengan variasi 1, 2 dan 4 mm tidak menunjukkan pengaruh yang mencolok bila dibandingkan dengan waktu proses. Struktur mikro yang terbentuk pada daerah terkeraskan adalah martensit sedangkan pada daerah tidak terkeraskan struktur mikronya sama seperti material awal yaitu terdiri dari ferit dan perlit
Perancangan Alat Ukur Anthropometri Dinamis Manual untuk Mengukur Gerakan Sendi Leher dan Pergelangan Tangan
Anthropometri adalah bagian dari ergonomi yang mempelajari dimensi tubuh manusia. Dalam perkembangannya saat ini, Anthropometri masih kesulitan dalam melakukan proses pengukuran terutama untuk mengukur gerakan tubuh manusia (Anthropometri Dinamis), yang disebabkan oleh keterbatasan alat ukur yang ada.
Software Motion Capture merupakan salah satu alat ukur Anthropometri Dinamis terlengkap yang penulis ketahui sampai saat ini. Tapi karena harganya yang mahal yaitu & Rp. 1 Milyar (Karya Agung - Technical Supplier and Education Supporter, tahun 2006) maka tidak setiap Universitas dapat memilikinya. Sedangkan alternatif lain yaitu dengan menggunakan alat ukur Anthropometri Dinamis secara manual pun yang ada saat ini masih terbatas hanya dapat mengukur 2 variabel Anthropometri Dinamis dari 21 Variabel. Berdasarkan kondisi diatas maka diperlukan perancangan alat ukur Anthropometri Dinamis manual sebagai alternatif lain.
Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan didapatkan karakteristik alat ukur anthropometri dinamis yang diinginkan yaitu yang valid, handal, multifungsi, aman, nyaman, mudah digunakan, tahan lama, portable serta harganya murah. Dan karena keterbatasan waktu dan keterbatasan pengetahuan penulis, maka alat ukur yang dirancang dalam penelitian ini hanya dapat mengukur 6 variabel Anthropometri Dinamis yang dikelompokan pada sendi leher sebanyak 3 variabel dan pergelangan tangan sebanyak 3 variabel.Anthropometri adalah bagian dari ergonomi yang mempelajari dimensi tubuh manusia. Dalam perkembangannya saat ini, Anthropometri masih kesulitan dalam melakukan proses pengukuran terutama untuk mengukur gerakan tubuh manusia (Anthropometri Dinamis), yang disebabkan oleh keterbatasan alat ukur yang ada.
Software Motion Capture merupakan salah satu alat ukur Anthropometri Dinamis terlengkap yang penulis ketahui sampai saat ini. Tapi karena harganya yang mahal yaitu & Rp. 1 Milyar (Karya Agung - Technical Supplier and Education Supporter, tahun 2006) maka tidak setiap Universitas dapat memilikinya. Sedangkan alternatif lain yaitu dengan menggunakan alat ukur Anthropometri Dinamis secara manual pun yang ada saat ini masih terbatas hanya dapat mengukur 2 variabel Anthropometri Dinamis dari 21 Variabel. Berdasarkan kondisi diatas maka diperlukan perancangan alat ukur Anthropometri Dinamis manual sebagai alternatif lain.
Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan didapatkan karakteristik alat ukur anthropometri dinamis yang diinginkan yaitu yang valid, handal, multifungsi, aman, nyaman, mudah digunakan, tahan lama, portable serta harganya murah. Dan karena keterbatasan waktu dan keterbatasan pengetahuan penulis, maka alat ukur yang dirancang dalam penelitian ini hanya dapat mengukur 6 variabel Anthropometri Dinamis yang dikelompokan pada sendi leher sebanyak 3 variabel dan pergelangan tangan sebanyak 3 variabel
Analisis Hubungan antara Tipologi Pengusaha Kecil dengan Pola Penggunaan Bantuan Keuangan yang Diterimanya
Kemajuan usaha kecil menengah sangat dipengaruhi oleh perilaku dan sikap mental dari para pelaku usaha itu sendiri, diantaranya sikap/perilaku dalam menggunakan dana yang mereka terima. Melalui penelitian ini terungkap, karakteristik pengusaha kecil dapat diklasifikasi menjadi 3 tipologi, yaitu: Pengusaha yang \u27sekedar mencari nafkah untuk hidup\u27, Pengusaha yang \u27sekedar ingin hidup lebih baik", serta Pengusaha yang \u27termotivasi untuk maju/sukses dalam hidup\u27. Sementara itu, perilaku mereka dalam menggunakan dana bantuan yang diterimanya dapat diklasifikasi menjadi 3 (tiga) pola, yang dinamakan sebagai : Pola Pasif, Pola Aktif, serta Pola Ekspansif. Hasil penelitian mengungkapkan, terdapat hubungan yang siginifikan antara karakteristik pengusaha, pola penggunaan dana bantuan yang diterimanya, serta kinerja (kemampuan untuk berkembang) dari sistem usaha yang bersangkutan.Kemajuan usaha kecil menengah sangat dipengaruhi oleh perilaku dan sikap mental dari para pelaku usaha itu sendiri, diantaranya sikap/perilaku dalam menggunakan dana yang mereka terima. Melalui penelitian ini terungkap, karakteristik pengusaha kecil dapat diklasifikasi menjadi 3 tipologi, yaitu: Pengusaha yang \u27sekedar mencari nafkah untuk hidup\u27, Pengusaha yang \u27sekedar ingin hidup lebih baik", serta Pengusaha yang \u27termotivasi untuk maju/sukses dalam hidup\u27. Sementara itu, perilaku mereka dalam menggunakan dana bantuan yang diterimanya dapat diklasifikasi menjadi 3 (tiga) pola, yang dinamakan sebagai : Pola Pasif, Pola Aktif, serta Pola Ekspansif. Hasil penelitian mengungkapkan, terdapat hubungan yang siginifikan antara karakteristik pengusaha, pola penggunaan dana bantuan yang diterimanya, serta kinerja (kemampuan untuk berkembang) dari sistem usaha yang bersangkutan
Pengaruh Perbedaan Arus Pengelasan pada Sambungan Pipa Baja API SL Gr B
Baja karbon merupakan salah satu jenis bahan yang berasal dari jenis logam ferro dimana memiliki pembagian yang salah satunya adalah baja karbon rendah. Baja AP! 5 L grade B salah satu contoh dari sekian banyak jenis baja karbon rendah. Baja ini biasa digunakan sebagai pipa penyalur (pipe line) maupun proses pemipaan (piping process). Dan pengelasan merupakan proses penyambungan yang dilakukan pada konstruksi pipa tersebut, dimana banyak proses pengelasan yang dapat dipilih guna mendapatkan hasil yang terbaik. Akan tetapi, pada kenyataannya sebaik apapun desain yang dirancang, cacat selalu mengikuti setiap prosesnya. Untuk itu kesalahan jangan sampai terulang kedua kali dimana cacat yang terjadi tidak dapat terdeteksi oleh sebab pengujian yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang ada, pada pengujian kali ini standar yang digunakan adalah API 1104 yang sesuai dengan proses pemipaan untuk migas.
Perbedaan arus pengelasan yang digunakan pada sambungan pipa baja dapat mengurangi cacat pada sambungan pipa baja sehingga kegagalan pada sambungan tersebut dapat dihilangkan.Baja karbon merupakan salah satu jenis bahan yang berasal dari jenis logam ferro dimana memiliki pembagian yang salah satunya adalah baja karbon rendah. Baja AP! 5 L grade B salah satu contoh dari sekian banyak jenis baja karbon rendah. Baja ini biasa digunakan sebagai pipa penyalur (pipe line) maupun proses pemipaan (piping process). Dan pengelasan merupakan proses penyambungan yang dilakukan pada konstruksi pipa tersebut, dimana banyak proses pengelasan yang dapat dipilih guna mendapatkan hasil yang terbaik. Akan tetapi, pada kenyataannya sebaik apapun desain yang dirancang, cacat selalu mengikuti setiap prosesnya. Untuk itu kesalahan jangan sampai terulang kedua kali dimana cacat yang terjadi tidak dapat terdeteksi oleh sebab pengujian yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang ada, pada pengujian kali ini standar yang digunakan adalah API 1104 yang sesuai dengan proses pemipaan untuk migas.
Perbedaan arus pengelasan yang digunakan pada sambungan pipa baja dapat mengurangi cacat pada sambungan pipa baja sehingga kegagalan pada sambungan tersebut dapat dihilangkan
Analisis Kegagalan Mur Heavy Hexagonal pada Valve Flange dalam Sistem Jalur Pipa di Industri Minyak dan Gas
Pada proses penyambungan sistem jalur pipa di industri minyak dan gas, mur heavy hexagonal banyak digunakan. Namun pada penggunaan mur di bagian valve flange beberapa mur mengalami patah. Dari hasil penelitian, patah yang terjadi disebabkan adanya retak pada ujung sisi bagian luar dari mur dan bagian dalam permukaan ulir. Pada bagian dalam ini ditemukan cacat yang merupakan awal terjadinya korosi sumur yang kemudian meningkat menjadi korosi retak tegang. Kekerasan pada bagian patah mengalami penurunan dibanding bagian tidak mengalami patah. Sedangkan pada pemeriksaan struktur mikro, awal retakan terjadi pada bagian akar ulir berupa retak intergranular yang selanjutnya merambat pada batas butir. Dari hasil analisa tegangan, terjadi momen lentur sebesar 1943,76 Nmm akibat adanya tegangan sebesar 876, 48 Mpa. Gaya lentur yang terjadi disertai adanya lingkungan klor yang korosif merupakan dua komponen utama penyebab terjadinya korosi retak tegang atau stress corrosion cracking.Pada proses penyambungan sistem jalur pipa di industri minyak dan gas, mur heavy hexagonal banyak digunakan. Namun pada penggunaan mur di bagian valve flange beberapa mur mengalami patah. Dari hasil penelitian, patah yang terjadi disebabkan adanya retak pada ujung sisi bagian luar dari mur dan bagian dalam permukaan ulir. Pada bagian dalam ini ditemukan cacat yang merupakan awal terjadinya korosi sumur yang kemudian meningkat menjadi korosi retak tegang. Kekerasan pada bagian patah mengalami penurunan dibanding bagian tidak mengalami patah. Sedangkan pada pemeriksaan struktur mikro, awal retakan terjadi pada bagian akar ulir berupa retak intergranular yang selanjutnya merambat pada batas butir. Dari hasil analisa tegangan, terjadi momen lentur sebesar 1943,76 Nmm akibat adanya tegangan sebesar 876, 48 Mpa. Gaya lentur yang terjadi disertai adanya lingkungan klor yang korosif merupakan dua komponen utama penyebab terjadinya korosi retak tegang atau stress corrosion cracking
Pengaruh Variasi Arus GMAW pada Sambungan Pipa aja API 5L Grade B terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro
Proses pengelasan merupakan teknologi penyambungan pada logam yang sering digunakan. Metoda pengelasan GMAW telah banyak digunakan secara luas pada penyambungan pipa penyalur (pipe line), pipa kostruksi, proses pemipaan (piping process), dll. Baja API 5L Grade B adalah salah satu bahan yang distandarkan oleh API untuk penggunaan/aplikasi perpipaan pada perusahaan minyak dan gas (oil and Gas). Dalam instalasinya dibutuhkan hasil penyambungan yang baik tanpa terbentuknya cacat pada sambungan sesuai dengan standar API. Variasi arus (100, 135 dan 160A) pada proses pengelasan GMAW akan berpengaruh terhadap heat input dan kelarutan (dilution) antara logam dasar dengan logam pengisi yang dapat menyebabkan perubahan sifat fisik dan sifat mekanik pada sambungan pipa.
Kualitas/mutu sambungan dapat dikaji dengan melakukan pengujian supaya dapat diketahui sifat fisik dan sifat mekanik hasil sambungan pipa dengan variasi arus pada metoda GMAW. Metoda pengujian yang dilakukan antara lain : uji tarik, uji nick break dan uji lengkung, sedangkan perubahan struktur mikro dikaji dengan analisa metalografi.Proses pengelasan merupakan teknologi penyambungan pada logam yang sering digunakan. Metoda pengelasan GMAW telah banyak digunakan secara luas pada penyambungan pipa penyalur (pipe line), pipa kostruksi, proses pemipaan (piping process), dll. Baja API 5L Grade B adalah salah satu bahan yang distandarkan oleh API untuk penggunaan/aplikasi perpipaan pada perusahaan minyak dan gas (oil and Gas). Dalam instalasinya dibutuhkan hasil penyambungan yang baik tanpa terbentuknya cacat pada sambungan sesuai dengan standar API. Variasi arus (100, 135 dan 160A) pada proses pengelasan GMAW akan berpengaruh terhadap heat input dan kelarutan (dilution) antara logam dasar dengan logam pengisi yang dapat menyebabkan perubahan sifat fisik dan sifat mekanik pada sambungan pipa.
Kualitas/mutu sambungan dapat dikaji dengan melakukan pengujian supaya dapat diketahui sifat fisik dan sifat mekanik hasil sambungan pipa dengan variasi arus pada metoda GMAW. Metoda pengujian yang dilakukan antara lain : uji tarik, uji nick break dan uji lengkung, sedangkan perubahan struktur mikro dikaji dengan analisa metalografi