Jurnal Teknik: Media Pengembangan Ilmu dan Aplikasi Teknik
Not a member yet
280 research outputs found
Sort by
Biogas dari Rumput
Biogas adalah hasil perombakan bahan organik oleh berbagai jenis mikroorganisme pada kondisi anaerobik. Biogas dapat dihasilkan dari berbagai bahan baku, salah satunya adalah rumput yang sangat mudah tumbuh di lingkungan yang sangat bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan biogas dari rumput dalam dijester alir kontinyu menyerupai PFR dengan volume cairan 25 L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biogas. Waktu aklimatisasi untuk pembuatan biogas dari rumput, kurang dari 74 hari dengan waktu tinngal hidrolik 100 hari. Komposisi biogas yang dihasilkan telah memenuhi komposisi minimal gas metana untuk dapat dibakar, yaitu: 40,7% V 54,8% V. Untuk waktu tinggal hidrolik 100 hari dengan umpan 160g rumput per liter umpan, diperoleh 3 L biogas perhari per25 L volume cairan dengan tekanan gas 1 atm.Biogas adalah hasil perombakan bahan organik oleh berbagai jenis mikroorganisme pada kondisi anaerobik. Biogas dapat dihasilkan dari berbagai bahan baku, salah satunya adalah rumput yang sangat mudah tumbuh di lingkungan yang sangat bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pembuatan biogas dari rumput dalam dijester alir kontinyu menyerupai PFR dengan volume cairan 25 L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biogas. Waktu aklimatisasi untuk pembuatan biogas dari rumput, kurang dari 74 hari dengan waktu tinngal hidrolik 100 hari. Komposisi biogas yang dihasilkan telah memenuhi komposisi minimal gas metana untuk dapat dibakar, yaitu: 40,7% V 54,8% V. Untuk waktu tinggal hidrolik 100 hari dengan umpan 160g rumput per liter umpan, diperoleh 3 L biogas perhari per25 L volume cairan dengan tekanan gas 1 atm
Pengaruh Variasi Jenis Logam Pengisi pada Pengelasan Alumunium 6061-T4 dengan Proses GTAW terhadap Sifat Mekanik
Pengelasan merupakan teknologi yang banyak digunakan untuk penyambungan logam. Namun hasil pengelasan yang diterapkan pada paduan aluminium tidak selalu menghasilkan sambungan dengan kualitas yang baik, hal ini dapat disebabkan salah satu faktornya adalah dalam menentukan jenis logam pengisi. Penentuan jenis logam pengisi ini akan menentukan kekuatan hasil las dari paduan aluminium. Untuk melihat sejauh mana pengaruh jenis logam pengisi tersebut, maka pada penelitian ini penulis menentukan tiga jenis logam pengisi yaitu ER 4043, ER 2319, ER 5056 pada proses pengelasan GTAW untuk paduan Aluminium 6061-T4.
Dari hasil pengujian tarik diperoleh nilai kekuatan tarik terbesar pada paduan Aluminium 6061-T4 yang menggunakan jenis logam pengisi ER 4043 yaitu sebesar 19,694 kgf/mm2. Hasil distribusi kekerasan untuk ketiga jenis logam pengisi nilai kekerasan paling rendah terletak pada daerah HAZ sehingga pada pengujian tarik spesimen patah rata-rata di daerah HAZ karena pada daerah tersebut terjadi overagedregion.Pengelasan merupakan teknologi yang banyak digunakan untuk penyambungan logam. Namun hasil pengelasan yang diterapkan pada paduan aluminium tidak selalu menghasilkan sambungan dengan kualitas yang baik, hal ini dapat disebabkan salah satu faktornya adalah dalam menentukan jenis logam pengisi. Penentuan jenis logam pengisi ini akan menentukan kekuatan hasil las dari paduan aluminium. Untuk melihat sejauh mana pengaruh jenis logam pengisi tersebut, maka pada penelitian ini penulis menentukan tiga jenis logam pengisi yaitu ER 4043, ER 2319, ER 5056 pada proses pengelasan GTAW untuk paduan Aluminium 6061-T4.
Dari hasil pengujian tarik diperoleh nilai kekuatan tarik terbesar pada paduan Aluminium 6061-T4 yang menggunakan jenis logam pengisi ER 4043 yaitu sebesar 19,694 kgf/mm2. Hasil distribusi kekerasan untuk ketiga jenis logam pengisi nilai kekerasan paling rendah terletak pada daerah HAZ sehingga pada pengujian tarik spesimen patah rata-rata di daerah HAZ karena pada daerah tersebut terjadi overagedregion
Proses BABBITING Bantalan Luncur Melalui Pengecoran Sentrifugal
Pelapisan paduan timah pada bantalan melalui proses pengecoran sentrifugal, dapat menghasilkan lapisan babbit yang optimum pada kecepatan putar 190rpm dengan struktur dendritik dan terbentuk senyawa intermetalik pada daerah interface-nya sehingga dapat meningkatkan daya lekat lapisan.Pelapisan paduan timah pada bantalan melalui proses pengecoran sentrifugal, dapat menghasilkan lapisan babbit yang optimum pada kecepatan putar 190rpm dengan struktur dendritik dan terbentuk senyawa intermetalik pada daerah interface-nya sehingga dapat meningkatkan daya lekat lapisan
Pengembangan Algoritma Penjadwalan Preventive Maintenance dengan Menggunakan Metoda Nippon-Denso dan Analytic Hierarchy Process di PT. Pupuk Kujang I B
Sejak tahun 2006 kebutuhan pupuk di Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat sebesar 700.500 ton harus dipenuhi oleh PT. Pupuk Kujang Cikampek (Persero), sementara kapasitas produksi hanya sebesar 1.725 ton/hari atau 570.000 ton/tahun. Untuk mencukupi dan memenuhi kebutuhan pasokan pupuk tersebut, kemudian PT. Pupuk Kujang Cikampek (Persero) mendirikan Kujang IB.
Saat ini, Kujang 1B (Dinas Perencanaan dan Pemeliharaan) dalam menjalankan sistem perawatan mesin sudah cukup baik, yaitu dengan melakukan jadwal Preventive Maintenance secara rutin untuk setiap mesinnya selama 4 bulan sekali. Orang-orang yang merawat mesin sudah memiliki pengetahuan yang memadai tentang mesin tersebut dan memiliki pengalaman yang tinggi (jam terbangnya banyak). Walaupundemikian, masih terdapat jumlah down time yang tinggi, yaitu untuk pabrik utility dengan penggerak item turbin 494 jam, motor 941 jam dan pompa 1059 jam. Pabrik Cosorb dengan item penggerak pompa 1710 jam dan compressor 1003 jam. Pabrik Ammonia dengan item penggerak turbin 644 jam, motor 1465 jam, compressor 358 jam dan pompa 442 jam. Pabrik Urea dengan item penggerak motor 3415 jam dan pompa 431 jam.
Jumlah down time tersebut menunjukkan indikasi bahwa performansi dari kegiatan perawatan yang sudah berjalan saat ini kurang memuaskan. Metoda Nippon Denso diduga dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan nilai performansi sistem perawatan.Sejak tahun 2006 kebutuhan pupuk di Indonesia khususnya di daerah Jawa Barat sebesar 700.500 ton harus dipenuhi oleh PT. Pupuk Kujang Cikampek (Persero), sementara kapasitas produksi hanya sebesar 1.725 ton/hari atau 570.000 ton/tahun. Untuk mencukupi dan memenuhi kebutuhan pasokan pupuk tersebut, kemudian PT. Pupuk Kujang Cikampek (Persero) mendirikan Kujang IB.
Saat ini, Kujang 1B (Dinas Perencanaan dan Pemeliharaan) dalam menjalankan sistem perawatan mesin sudah cukup baik, yaitu dengan melakukan jadwal Preventive Maintenance secara rutin untuk setiap mesinnya selama 4 bulan sekali. Orang-orang yang merawat mesin sudah memiliki pengetahuan yang memadai tentang mesin tersebut dan memiliki pengalaman yang tinggi (jam terbangnya banyak). Walaupundemikian, masih terdapat jumlah down time yang tinggi, yaitu untuk pabrik utility dengan penggerak item turbin 494 jam, motor 941 jam dan pompa 1059 jam. Pabrik Cosorb dengan item penggerak pompa 1710 jam dan compressor 1003 jam. Pabrik Ammonia dengan item penggerak turbin 644 jam, motor 1465 jam, compressor 358 jam dan pompa 442 jam. Pabrik Urea dengan item penggerak motor 3415 jam dan pompa 431 jam.
Jumlah down time tersebut menunjukkan indikasi bahwa performansi dari kegiatan perawatan yang sudah berjalan saat ini kurang memuaskan. Metoda Nippon Denso diduga dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan nilai performansi sistem perawatan
Henry\u27s Constants Prediction Study of VOC in Several Types Solvents by UNIFAC-FV
Absorption of hydrophobic volatile organic compounds (VOC) such as toluene, was studied. In order to characterise the absorption capacity of toluene/oil solvent systems, the Henry\u27s constant (H) was determined. Prediction of Henry\u27s constants are also carried out using UNIFAC-FV model which is known to be suitable for hydrocarbon gases and high-boiling point hydrocarbon solvent.kg/cm2, 220 kg/cm2 dan 260 kg/cm2.Absorption of hydrophobic volatile organic compounds (VOC) such as toluene, was studied. In order to characterise the absorption capacity of toluene/oil solvent systems, the Henry\u27s constant (H) was determined. Prediction of Henry\u27s constants are also carried out using UNIFAC-FV model which is known to be suitable for hydrocarbon gases and high-boiling point hydrocarbon solvent.kg/cm2, 220 kg/cm2 dan 260 kg/cm2
Optimasi Sistem Pemotongan Material Alluminum Alloys dengan Pendekatan Linier Integer Programming: Studi Kasus di PT. Dirgantara Indonesia
Salah satu fungsi yang ada di PT. Dirgantara Indonesia yaitu bagian pemotongan material (pre cutting) mempunyai tugas memotong raw material standar menjadi potongan-potongan yang sesuai dengan kebutuhan yang akan diproses menjadi komponen pesawat CN-235.
Cara pemotongan yang dilakukan sekarang dinilai kurang efiesien karena masih banyak sisa-sisa material yang terbuang, sehingga dianggap terjadi pemborosan yang cukup besar. Atas dasar tersebut penelitian ini bertujuan merancang sistem pemotongan yang dapat meminimasi sisa material yang terbuang (scrap) dengan menggunakan pendekatan Operasional Research.
Dari hasil penelitian dapat diperoleh penghematan berupa pengurangan sisa material yang tidak bisa dipergunakan lagi (scrap) awalnya rata-rata 3335 dm2 menjadi 1790,4 dm2, dengan jumlah raw material dapat dihemat 26 batang per 10 pesawat. Penghematan biaya secara keseluruhan dapat mencapai Rp. 3.283.184.162 pertahun.Salah satu fungsi yang ada di PT. Dirgantara Indonesia yaitu bagian pemotongan material (pre cutting) mempunyai tugas memotong raw material standar menjadi potongan-potongan yang sesuai dengan kebutuhan yang akan diproses menjadi komponen pesawat CN-235.
Cara pemotongan yang dilakukan sekarang dinilai kurang efiesien karena masih banyak sisa-sisa material yang terbuang, sehingga dianggap terjadi pemborosan yang cukup besar. Atas dasar tersebut penelitian ini bertujuan merancang sistem pemotongan yang dapat meminimasi sisa material yang terbuang (scrap) dengan menggunakan pendekatan Operasional Research.
Dari hasil penelitian dapat diperoleh penghematan berupa pengurangan sisa material yang tidak bisa dipergunakan lagi (scrap) awalnya rata-rata 3335 dm2 menjadi 1790,4 dm2, dengan jumlah raw material dapat dihemat 26 batang per 10 pesawat. Penghematan biaya secara keseluruhan dapat mencapai Rp. 3.283.184.162 pertahun
Rancang Bangun Model Pengendali Katup Cerdas Bak Penampungan Air PDAM
Kekeruhan merupakan tolak ukur dasar yang mengindikasikan bahwa air dalam keadaan kurang layak digunakan. Kekeruhan adalah ketika air bercampur dengan zat-zat ataupun partikel lainnya. Sebagai penyuplai air bersih untuk masyarakat, PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum) berusaha semaksimal mungkin agar kualitas air yang disalurkan ke masyarakat tetap terjaga kelayakannya. Untuk itu, operator PDAM memonitor tingkat kekeruhan dan melakukan tindakan menutup katup air masukan, jika air sumber yang masuk pada bak penampungan terlihat keruh. Proses ini dilakukan secara visual, sehingga memerlukan ketelitian dan waktu kerja 24 jam. Untuk mengatasi hal ini, maka dibuatlah rancang bangun model katup cerdas sebagai pengendali bak penampungan air PDAM. Sistem ini akan mengontrol buka tutup katup secara otomatis berdasarkan tingkat kekeruhan air yang masuk pada kolam/bak penampungan. Sebagai pusat pengendali digunakan mikrokontroler Arduino Uno dan sensor kekeruhan (turbididty sensor) SKU:SEN0189 serta LCD 16x2 sebagai penampil menu dan tingkat kekeruhan. Penutupan katup terjadi pada saat sistem mendeteksi kekeruhan air yang melebihi batas nilai yang telah ditetapkan. Setelah itu sistem akan mengirimkan pesan informasi teks (SMS) melalui modul GSM A6 kepada operator. Hasil pengujian menunjukkan sistem dapat bekerja dengan baik, yaitu menutup katup air masukan apabila tingkat kekeruhan dideteksi melebihi referensi, sekaligus juga sistem mengirim SMS ke operato
Desain Antena Mikrostrip dengan Multi Band Frekuensi Menggunakan Metode Parasitik
Dalam makalah ini, perancangan dan realisasi antena mikrostrip berbentuk persegi dioptimasi menggunakan kaidah parasitik untuk menghasilkan multi frekuensi. Metode parasitik menghasilkan rentang frekuensi yang berbeda dalam satu antena. Antena di rancang menggunakan jenis substrat FR4 Epoxy dengan nilai konstanta dielektrik sebesar 4,3, ketebalan sebesar 1,6 mm, dan tangent loss sebesar 0,0265. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa antena persegi dengan metode parasitik menghasilkan tiga frekuensi kerja. Pada frekuensi 1815 MHz, 1935 MHz, dan 2060 MHz menghasilkan bandwidth masing-masing 2,4 %, 2,8 % dan 4,36 %. Hasil ini menunjukkan bahwa antena yang diusulkan dapat direkomendasikan sebagai kandidat antena penerima pada sistem komunikasi nirkabel.The design and realization of a microstrip antenna with a square shape which is optimized using the parasitik method to produce multiple frequencies has been described in this paper. The parasitik method aims to produce different frequency ranges in one antenna device. The antenna is designed using FR4 Epoxy substrate type with dielectric constant value 4.3, thickness 1.6 mm and tangent loss 0.0265. The measurement of rectangular antenna with parasitic method produces triple band at working frequency of 1815 MHz, 1935 MHz and 2060 MHz with bandwidth of 2.4%, 2.8% and 4.36%, respectively. These results indicate that the proposed antenna can be recommended as a candidate as a receiving antenna in a wireless communication system
Algoritma Incremental Conductance dan Perturbation Observation Sebagai Kendali MPPT PLTS 1000Wp
Nowadays, electricity consumption in Indonesia still rising the future, as fuel cell energy reserves continue to decline, this has pushed people to switch to new and renewable energy which guarantees the availability of new electricity sources. A Photovoltaic system has been installed in the Electrical Engineering Laboratory with a capacity of 1 kWp. The PV system is proposed as a new source of electricity to support the electricity needs of laboratories other than PLN. This paper compares the modeling that has been done using the Maximum power point tracking (MPPT) algorithm namely Incremental Conductance (IC) and Perturbation & Observation (P&O) in Standard Test Condition (STC) of 1000 W/m2 and a temperature of 25˚C. The control simulation of the MPPT DC / DC Boost Converter is calibrated to satisfy the 220V/50 Hz PLN grid. The simulation results the MPPT control with the P&O algorithm has output power of 960 W and an efficiency of 99,9 % when using the IC process has 944 W and an efficiency of 98,7%. The P&O was selected to have optimum performance relative to the IC approach in the 1000 Wp PLTS system in the Electrical Engineering Laboratory.Konsumsi listrik di Indonesia terus meningkat, di saat cadangan energi konvensional terus menurun, hal ini mendorong manusia beralih ke energi baru dan terbarukan yang menjamin ketersedian sumber listrik. Suatu sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah terpasang di Laboratorium Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Jenderal Achmad Yani dengan kapasitas 1000 Wp. Sistem PLTS diusulkan sebagai sumber listrik baru untuk mendukung kebutuhan listrik laboratorium selain PLN. Maximum power point tracking (MPPT) merupakan suatu metode yang digunakan untuk memaksimalkan energi matahari terhadap performa keluaran tegangan, arus dan daya PLTS. Makalah ini membandingkan pemodelan yang telah dilakukan menggunakan algoritma MPPT yaitu Incremental Conductance (IC) dan Perturbation & Observation (P&O) dalam kondisi ideal pada Standard Test Condition (STC) 1000 W/m2 dan temperatur 25°C. Algoritma disimulasikan menggunakan perangkat lunak PSIM 9.0. Pemodelan kendali MPPT DC/DC Boost Converter disesuaikan dengan karakteristik PLTS 1000 Wp dan dihitung untuk memenuhi jaringan PLN 220V/50 Hz. Hasil simulasi menunjukkan kendali MPPT dengan algoritma P&O memiliki output daya yaitu 960 W dan memiliki efisiensi 99,9% saat kondisi STC sedangkan menggunakan metode IC sebesar 944 W dan memiliki efisiensi 98,7%. Metode P&O dipilih mampu memberikan hasil yang maksimum dibandingkan dengan metode IC pada sistem PLTS 1000 Wp di Laboratorium Teknik Elektro
Pengaruh H2O2 Dalam Pengolahan Air Payau Menggunakan Metode Koagulasi Dengan PAC dan Alumunium Sulfat
Brackish water is water caused by intrusion of sea water into fresh water sources, with a composition of salt content between 0.5 - 30 g per Liter. In certain areas often used by residents around the coast as daily necessities, such as bathing, washing clothes and others. Brackish water is still difficult to be processed into fresh water. Therefore, efforts are needed to find alternative methods that can be used for brackish water treatment. This study examines the efficiency of reducing brackish water salinity, and to reduce the value of TDS, TSS, pH, and Turbidity reserves using coagulation with coagulant methods. Variations used for coagulation are the stirring speed of 100 rpm and coagulant doses of 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm and 100 ppm. The results obtained on the use of PAC coagulants with a reduction in TDS of 19.94%, TSS of 38.09%, Turbidity of 85.83%, Na levels of 0.64% and Mg levels of 11.61%. While the use of aluminum sulfate coagulant with TDS reduction of 17.59%, TSS 38.74%, Turbidity 85.10%, Mg levels of 53.79% and Na levels of 40.12%, aluminum sulfate coagulants and PAC did not affect the decrease in Cl measure.