Gravitasi
Not a member yet
157 research outputs found
Sort by
Pencitraan Resistivitas Untuk Identifikas Benda-Benda Megalitik Dalam Tanah Daerah Situs Pokekea, Poso, Sulawesi Tengah
Penelitian pencitraan resistivitas untuk identifikasi benda-benda megalitik dalam tanah daerah situs Pokekea, Poso, Sulawesi Tengah telah dilakukan dengan pengukuran geolistrik resistivitas dengan Konfigurasi Wenner, panjang bentangan 55 meter dan jarak spasi elektroda 1 meter. Dari hasil pengukuran diperoleh data nilai resistivitas semu. Penampang citra dua dimensi (2D) diperoleh dari pengolahan data menggunakan SoftwareRes2Dinv sedangkan analisis pencitraan 2D dengan menggunakan Software ImageJ. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa metode ini mampu mengidentifikasi keberadaan benda-benda megalitik yang terdapat di bawah permukaan tanah. Berdasarkan analisis citra dua dimensi menggunakan Res2Dinv dan ImageJ dari hasil pengukuran untuk keempat lintasandalam spasi 1 meter menunjukkan adanya benda-benda peninggalan megalitik yang terpendam di bawah permukaan tanah. Secara fisis berdasarkan analisis citra resistivitas ditandai dengan adanya variasi nilai resistivitas batuan yang cukup tinggi dibanding dengan nilai resistivitas batuan lainnya yaitu berkisar antara 1000-3500 Ωm. Pada analisis profil garis keberadaan benda–benda megalitik ditunjukkan dengan grafik hubungan jarak (meter) dengan derajat keabuan (gray level) diperoleh perbedaan gray level yang sangat jelasantara daerah gelap dan daerah terang. Dari keempat bentangan menunjukkan adanya kesamaan nilai derajat keabuan terendah (minimum) yang diartikan di area tersebut terdapat anomaly, yaitu keberadaan benda megalitik.
Kata Kunci :pencitraan, megalitik, geolistrik, resistivitas
Pemodelan Temperatur Menggunakan Data Resistivitas Pada Lapangan Panas Bumi Bora, Sulawesi Tengah
ABSTRAK Penelitian untuk memperoleh sebaran temperatur dan kedalaman pada reservoir panasbumi di Desa Bora Kecamatan Biromaru Kabupaten Sigi Biromaru Propinsi Sulawesi Tengah telah dilakukan dengan menggunakan metode geolistrik resistivitas konfigurasi wenner. Pengolahan data menggunakan program Earthimager 2D untuk mendapatkan model resistivitas bawah permukaan. Menunjukkan resistivitas bawah permukaan berkisar 10 Ωm sampai 80 Ωm sedangkan sebaran temperatur berada pada kisaran 71 oC sampai 90oC.   Kata kunci : Geolistrik resistivitas, Panasbumi, Sebaran temperatur.Â
Identifikasi Mineralisasi Bijih Besi Menggunakan Metode Geomagnet di Desa Pangalasiang Kabupaten Donggala
Penelitian mengenai identifikasi mineralisasi bijih besi telah dilakukan dengan mengunakan metode geomagnet di Desa Pangalasiang Kabupaten Donggala. Tujuannya adalah untuk menyelidiki keberadaan dan kedalaman mineralisasi bijih besi. Tahapan pelaksanaan penelitian anomali magnetik meliputi: akuisisi data lapangan, melakukan koreksi IGRF, koreki variasi harian, kemudian membuat peta kontur anomali magnetik menggunakan software Euler Deconvolution. Hal ini dilakukan untuk menentukan kedalaman anomali magnetik yang diperoleh pada lokasi penelitian. Selanjutnya, melakukan pemodelan bawah permukaan 2D (forward modeling) dengan menggunakan software GM – SYS. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kedalaman anomali magnetik bijih besi berkisar antara 277 m – 746 m di bawah permukaan. Penyusun batuan lokasi penelitian terdiri atas batu pasir, tuf dan konglomerat, serta unsur mineral pembawa bijih besi terdiri dari hematite dan magnetite dengan nilai suseptibilitas masing-masing 0,04 SI, dan 5,7 SI.Kata Kunci: Dekonvolusi Euler, Geomagnet, GM- SYS, Mineralisasi Bijih Bes
Analisis Persebaran Suhu dan Salinitas Permukaan Laut di Selat Makassar
ABSTRAK Studi ini membahas mengenai persebaran suhu dan salinitas permukaan laut di Selat Makassar. Analisis dilakukan dengan memanfaatkan data suhu dan salinitas permukaan laut selama 10 tahun (2005-2014) yang diperoleh dari Global Argos Marine Atlas. Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik sebaran suhu dan salinitas di perairan Selat Makassar pada Musim Barat dan Musim Timur yang ditinjau berdasarkan fase El Niño, La Niña dan pada tahun Normal. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kecenderungan suhu permukaan laut pada Musim Barat terlihat lebih tinggi dibandingkan dengan kisaran suhu permukaan laut pada Musim Timur, baik pada saat fase ENSO maupun pada saat normal. Suhu permukaan laut selama Musim Timur pada tahun 2008 – 2010, berada pada interval 24,31 – 30,12 ºC dan pada Musim Barat, pada kisaran 27,56 – 30,77 0C. Untuk salinitas, diperoleh sebaran salinitas pada Musim Timur di perairan Selat Makassar sedikit lebih rendah (33,14 – 34,76 0/00) jika dibandingkan dengan sebaran salinitas pada Musim Barat (33,48 – 34,82 0/00), dengan perbedaan kisaran yang tidak terlalu signifikan. Pola bulanan yang ditunjukkan oleh kelima stasiun pengamatan, baik untuk suhu dan salinitas terlihat cenderung sama pada setiap tahunnya. Suhu terendah teramati pada Stasiun Sta-A, terjadi pada bulan Februari, sementara di keempat stasiun lainnya, suhu terendah teramati pada bulan Agustus. Kecuali untuk Stasiun Sta-A, salinitas permukaan laut terendah umumnya terjadi pada bulan Juni dan unuk Stasiun Sta-A sendiri cenderung terlihat lebih fluktuatif. Kata Kunci: Selat Makassar, suhu, salinitas, fase ENS
Identifikasi sebaran Aquifer Menggunakan Metode Geolistrik Hambatan Jenis di Wilayah Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong
ABSTRAK Penelitian ini tentang Identifikasi Sebaran Aquifer Menggunakan Metode Geolistrik Hambatan Jenis di Wilayah Kecamatan Torue Kabupaten Parigi Moutong. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sebaran lapisan aquifer yang diidentifikasi dengan 9 titik bentangan pengukuran dan terbagi dalam 4 bagian. Metode penelitian yang digunakan adalah metode geolistrik hambatan jenis dan untuk teknik pengukuran yang digunakan adalah metode Automatic Array Scanning (AAS) dengan konfigurasi Wenner. Pengolahan data menggunakan perangkat lunak Earthimager 2D dilakukan untuk memperoleh distribusi nilai hambatan jenis bawah permukaan bumi. Berdasarkan hasil tersebut diperoleh nilai hambatan jenis yang merupakan lapisan aquifer yang berkisar 75 Wm-160 Wm dengan nilai faktor formasi 2-4. Lapisan aquifer tersebut terdeteksi menyebar di kedalaman ± 1m bmt hingga ± 45 m bmt, dimana pola sebaran aquifer ini menuju ke arah utara. Kata kunci: Aquifer, Earthmager, Geolistrik hambatan jenis, Wenner
Studi Awal Buah Kaktus Pir (Opuntia Ficus Indica) Sebagai Zat Pewarna untuk Bahan Aktif Dye Sensitized Solar Cell (DSSC)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi buah kaktus pir (Opuntia Ficus Indica) sebagai bahan aktif dalam pembuatan sel surya tersensitisasi zat pewarna. Potensi yang dimaksud adalah sifat optik, sifat listrik dan kandungan antosianin. Buah kaktus diekstraksi menggunakan metode maserasi. Pengukuran sifat optik menggunakan spektrofotometer dan sifat listrik diukur menggunakan multimeter. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada setiap penambahan 1 gr/ml buah kaktus mengandung antosianin sebesar 2,2 mg, konduktivitas listrik sebesar 2,79 S/cm (pada kondisi terang) dan 2,26 S/cm (pada kondisi gelap) dan daya serap sebesar 14,905 a.u pada panjang gelombang disekitar 500 nm.
Kata kunci : Sel surya tersensitisasi zat pewarna, kaktus, spektrofotometer UV-vis, Konduktivitas listrik, daya serap
Studi Bawah Permukaan Bumi Menggunakan Metode Geolistrik Hambatan Jenis di Lokasi Rawan Longsor. (Studi Kasus: Desa Mataue Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi)
ABSTRAKPenelitian telah dilakukan bertujuan untuk mengetahui perlapisan bawah permukaan yang berpotensi mengalami pergerakan dan mengetahui bidang gelincir dengan menggunakan metode geolistrik hambatan jenis konfigurasi dipole-dipole di Desa Mataue Kecamatan Kulawi Kabupaten Sigi. Penelitian ini terdiri dari 4 lintasan pengukuran dengan panjang lintasan 330 meter dan spasi elektroda 6 meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampang bawah permukaan yang diperoleh dari hasil pengamatan memiliki nilai hambatan jenis dengan kisaran 10 – 100 Ωm. Keberadaan bidang gelincir diduga berada pada lapisan dengan nilai hambatan jenis 10 – 31,6 Ωm. Pada Lintasan 1 terdapat 2 bidang gelincir dimana bidang gelincir pertama diduga berada pada kedalaman sekitar 13 – 14 m dan bidang gelincir kedua berada pada kedalaman sekitar 26 – 75 m. Pada Lintasan 2 juga terdapat 2 bidang gelincir dimana bidang gelincir pertama diduga berada pada kedalaman sekitar 1 – 45 m dan bidang gelincir kedua berada pada kedalaman sekitar 1 – 15 m. Pada Lintasan 3 diduga bidang gelincir berada pada kedalaman sekitar 10 – 17 m. Pada Lintasan 4 terdapat 3 bidang gelincir dengan bidang gelincir pertama diduga berada pada kedalaman sekitar 10 – 13 m, bidang gelincir kedua pada kedalaman sekitar 9 – 12 m dan bidang gelincir ketiga berada pada kedalam 7 – 14 m, dengan struktur geometri rotasional dan translasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada daerah penelitian berpotensi terjadinya gerakan tanah. Kata kunci: Bidang gelincir, hambatan jenis, metode geolistrik, konfigurasi dipole-dipol
Pengukuran Frekuensi Alami Tanah dan Bangunan Akibat Gempabumi Dengan Menggunakan Alat Accelerometer di Kota Palu
ABSTRAK Telah di lakukan penelitian untuk mengetahui nilai frekuensi alami tanah dan bangunan serta untuk mengetahui potensi terjadinya resonansi yang di alami oleh bangunan di Kota Palu, khususnya di bagian timur Sungai Palu. Pengukuran dilakukan terhadap mikrotremor menggunakan alat Accelerometer. Pengolahan data menggunakan program Geopsy dengan analisis HVSR (Horizontal To Vertical Spectral Ratio). Nilai rata-rata frekuensi alami bangunan mempunyai nilai frekuensi alami sekitar (1,1 – 3,1) Hz. Ada 70.59% bangunan yang sisanya berpotensi mengalami resonansi.Kata Kunci: Frekuensi, Mikrotremor, Accelerometer
Model Numerik Perubahan Arus dan Sebaran Sedimen di Sekitar Kawasan Reklamasi Perairan Teluk Palu
ABSTRAK
Kegiatan reklamasi merupakan rekayasa teknik untuk menambah luas daratan pantai. Kegiatan Rekalamasi Pantai akan memberikan dampak terhadap perubahan terhadap dinamika arus dan gelombang di pesisir. Untuk itu penting dilakukan pemodelan numerik tentang pola arus permukaan laut dan distribusi sedimen di sekitar kawasan reklamasi di Teluk Palu. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan arus permukaan laut dan sebaran sedimen di lokasi rencana reklamasi dengan menggunakan software Surface Water Modelling System (SMS) dan menganalisa perubahan pola arus dan sebaran sedimen yang diakibatkan oleh reklamasi pantai. Daerah penelitian meliputi Sungai Palu dan sebagian perairan Teluk Palu yang akan direklamasi. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer antara lain debit dan angkutan sedimen, sedangkan data sekunder antara lain data batimetri, pasang surut dan angin. Hasil penelitian diperoleh kecepatan arus permukaan laut sebelum reklamasi berkisar antara 0,003 m/s sampai 0,0057 m/s dan sesudah reklamasi menjadi 0,003 sampai 0,183 m/s. Konsentrasi sedimen sebelum reklamasi berkisar antara 0,08 kg/m3 sampai 1,42 kg/m3, sedimen dominan bergerak dari Sungai Palu menuju arah barat dan sesudah reklamasi berkisar antara 0,08 kg/m3 sampai 1,42 kg/m3.
Kata Kunci:Konsentrasi Sedimen, Pola arus, Reklamas
Variabilitas Musiman Gelombang dan Arus Laut di Perairan Pantai Lembasada, Kabupaten Donggala
Studi mengenai kondisi gelombang dan arus laut di perairan Lembasada Kabupaten Donggala telah dilakukan dalam penelitian ini. Kajian yang dimaksud bertujuan untuk mempelajari karakteristik gelombang dan arus laut yang ditinjau berdasarkan variabilitas musiman. Data yang diukur berupa data tinggi dan periode gelombang, kecepatan dan arah arus permukaan, kecepatan dan arah angin serta pengukuran batimetri perairan sekitar pantai. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik pengamatan langsung (visual observation). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di perairan ini dapat disimpulkan bahwa tinggi gelombang maksimum terjadi pada Musim Barat mencapai 105,0 cm dengan tinggi gelombang signifikan maksimumnya (Hs) mencapai 61,0 cm. Untuk kedua musim lainnya, Musim Timur (Agustus), tinggi gelombang signifikan Hs mencapai 24,0 cm dan Hs pada Musim Peralihan mencapai 25,0 cm. Khusus untuk Musim Barat, tinggi gelombang terukur merupakan gelombang swell yang berasal dari perairan Selat Makassar dengan kecepatan angin pada saat pengukuran cenderung kecil. Arus yang terukur dominan merupakan arus yang dihasilkan oleh medan gelombang yang mengarah ke daratan kemudian menyusur pantai.Kata Kunci: gelombang dan arus laut, variabilitas musiman, perairan Lembasad