PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
Not a member yet
    211 research outputs found

    POLA SPASIAL PERTUMBUHAN KAWASAN PERMUKIMAN DI DESA DALUNG

    No full text
    An increase in population can lead to an increase in the number of space requirements while an increase in the number of space requirements can trigger the growth and development of an area. The growth is also experienced by Dalung Village with the potential that characterizes the embryo of an urban area, one of which has very high accessibility. Thus, future developments in Dalung Village will experience settlement compaction which will trigger the growth of slum areas and traffic congestion in the future. For this reason, this study aims to analyze the growth pattern of residential areas in Dulung Village. The research method used is descriptive qualitative to describe the spatial pattern of the growth of residential areas in Dulung Village. The analysis used is morphological analysis, which is used to identify the physical space in Dalung Village. The types of data that will be used in this study are the types of primary data and secondary data. The results of the analysis of this study indicate that the growth pattern of residential areas in Dalung Village is seen from the spatial shape of the city's morphology which tends to be in the form of an octopus because it is influenced by the development of existing transportation routes, while the development of the morphology of the settlement area in Dalung Village tends to be more elongated / ribbon because the development of settlements in Dalung Village occurs because of the transportation route.Peningkatan jumlah penduduk dapat menyebabkan peningkatan jumlah kebutuhan ruang sedangkan peningkatan jumlah kebutuhan ruang dapat memicu pertumbuhan dan perkembangan sebuah kawasan. Pertumbuhan juga dialami oleh Desa Dalung dengan potensi yang mencirikan embrio suatu perkotaan di antaranya memiliki aksessibilitas yang sangat tinggi. Dengan demikian perkembangan di masa depan Desa Dalung akan mengalami pemadatan permukiman yang akan memicu munculnya pertumbuhan kawasan kumuh dan kemacetan lalu lintas di masa yang akan mendatang. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan kawasan permukiman di Desa Dalung. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitiatif untuk menggambarkan pola spasial pertumbuhan kawasan permukiman di Desa Dalung. Analisis yang digunakan yaitu analisis morfologi, yang digunakan untuk mengidentifikasi ruang fisik yang ada di Desa Dalung. Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini yaitu jenis data primer dan data sekunder. Hasil dari analisis penelitian ini menunjukkan bahwa pola pertumbuhan kawasan permukiman di Desa Dalung dilihat dari bentuk keruangan morfologi kota yang cenderung berbentuk gurita karena dipengaruhi oleh perkembangan jalur transportasi yang ada, sedangkan perkembangan morfologi kawasan permukiman di Desa Dalung cenderung lebih mengarah pada bentuk memanjang/ribbon, karena perkembangan permukiman di Desa Dalung terjadi karena adanya jalur transportasi

    PARAMETER PENENTU AKSESIBILITAS PENGUNJUNG WISATA PANTAI KOKA DI DESA WOLOWIRO KECAMATAN PAGA KABUPATEN SIKKA PROVINSI NTT

    No full text
    The Sikka Regency area is one of the areas located on the island of Flores, East Nusa Tenggara Province. The region has a lot of interesting natural and cultural wealth, but there are still many hidden due to the lack of infrastructure development. One of the natural wealth is the Koka beach tourist attraction which is a tourist attraction located in Wolowiro village, Paga district, Sikka regency. The construction of road infrastructure for Koka Beach tourism is inadequate, there is one point that has not been paved and there are several points that are still damaged due to land disputes between the village government and the landowner. The focus of this study is to analyze the parameters that affect the accessibility of coca beach tourism visitors in Wolowiro Village, Paga District, Sikka Regency, East Nusa Tenggara Province which are adapted to existing conditions and their problems using qualitative descriptive analysis methods. Data collection is carried out by observation, interviews, questionnaires, and documentation. Data analysis using Miles and Huberman which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing/verification. The results of this study are in the form of parameters that affect the accessibility of Koka beach tourist visitors, namely the parameters of entrance rates, road infrastructure conditions, Koka beach tourist attraction facilities, and the behavior of the management of coca beach tourist attractions affecting the accessibility of Koka beach tourist visitors to be hampered. Suggestions that can be given to local governments need to be carried out development of supporting facilities and infrastructure in coca beach tourist attractions and for further studies, quantitative methods are used so that quantitative methods can be measured and described in detail about the parameters that affect the accessibility of coca beach tourist visitors.Wilayah Kabupaten Sikka merupakan salah satu wilayah yang terletak di Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Wilayah tersebut memiliki banyak kekayaan alam dan budaya yang menarik, namun masih banyak yang tersembunyi karena kurangnya pembangunan infrastruktur. Salah satu kekayaan alam adalah objek wisata Pantai Koka yang merupakan objek wisata yang berada di desa Wolowiro, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka. Pembangunan infrastruktur jalan untuk wisata Pantai Koka belum memadai, ada satu titik yang belum dilakukan pengaspalan serta ada beberapa titik yang masih rusak karena permasalahan sengketa lahan antara pihak pemerintah desa dan pihak pemilik tanah. Fokus penelitian ini adalah menganalisis parameter-parameter yang berpengaruh terhadap aksesibilitas pengunjung wisata pantai koka di Desa Wolowiro Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur yang disesuaikan dengan kondisi eksisting dan permasalahannya dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Analisis data menggunakan Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/ verifikasi. Hasil penelitian ini berupa parameter-parameter yang berpengaruh terhadap aksesibilitas pengunjung wisata pantai koka yaitu parameter tarif masuk, kondisi infrastruktur jalan, fasilitas tempat wisata pantai koka dan perilaku pihak pengelolah tempat wisata pantai koka berpengaruh terhadap aksesibilitas pengunjung wisata pantai koka menjadi terhambat. Saran yang dapat di berikan bagi pemerintah setempat perlu dilakukan pengembangan terhadap sarana dan prasarana penunjang di tempat wisata pantai koka serta untuk studi selanjutnya digunakan metode kuantitatif sehingga dapat diukur dan diuraikan secara terperinci mengenai parameter yang berpengaruh terhadap aksesibilitas pengunjung wisata pantai koka

    ANALISIS BIAYA SIKLUS HIDUP GEDUNG KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI) KABUPATEN TAPIN

    No full text
    The Indonesian National Sports Committee Building or the abbreviation KONI Tapin Regency has been established since 2012 and has been operating for almost 10 years. So that the function of the building does not decrease during the design life, routine maintenance is needed. However, the maintenance carried out on the building so far has only been carried out if there is damage or as needed. Therefore, it is necessary to study life cycle costs at KONI Tapin Regency to analyze operating costs throughout the life of the plan. The purpose of this study was to determine the life cycle costs of the Tapin Regency Indonesian National Sports Committee (KONI) Building for 2021-2035 and to determine the largest maintenance costs during the life cycle of the Tapin Regency Indonesian National Sports Committee (KONI) Building for 2021-2035. The research method used is the life cycle cost analysis method which is equipped with interviews with building managers and field identification. The research results obtained are, the total maintenance costs for the years 2021 to 2035 with an inflation rate of 4.50% is IDR. 1,939,225,599. For maintenance costs per year of IDR. 129,281,707 for 15 years. The biggest maintenance cost during the life cycle of the Tapin Regency Indonesian National Sports Committee (KONI) Building for 2021-2035 is the electrical component of IDR. 51,329,237 per year or 39.703%. While the smallest maintenance costs are mechanical components of IDR. 3,257,850 per year or 2.520% of the total maintenance cost.Gedung Komite Olahraga Nasional Indonesia atau disingkat KONI Kabupaten Tapin telah berdiri sejak tahun 2012 dan beroperasi hampir 10 tahun lamanya. Supaya fungsi gedung tidak menurun selama umur rencana, maka perlu dilakukan pemeliharaan berkala. Namun selama ini, pemeliharaan pada gedung tersebut hanya dikerjakan jika terjadi kerusakan atau menyesuaikan kebutuhan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian tentang biaya siklus hidup pada Gedung KONI Kabupaten Tapin untuk menentukan biaya operasional sepanjang umur rencana. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung biaya siklus hidup Gedung KONI Kabupaten Tapin untuk tahun 2021-2035 dan untuk mengetahui biaya pemeliharaan terbesar selama siklus hidup Gedung KONI Kabupaten Tapin untuk tahun 2021-2035. Metode penelitian adalah dengan analisis biaya siklus hidup yang dilengkapi wawancara dengan pengelola gedung dan identifikasi lapangan. Hasil penelitian yang didapatkan adalah, total  biaya pemeliharaan untuk tahun 2021 sampai 2035 dengan tingkat inflasi 4.50% adalah sebesar Rp. 1,939,225,599. Untuk biaya pemeliharaan per tahun sebesar Rp. 129,281,707 selama 15 tahun. Biaya pemeliharaan terbesar selama siklus hidup Gedung KONI Kabupaten Tapin untuk tahun 2021-2035 adalah komponen elektrikal sebesar Rp. 51,329,237 per tahun atau mencapai 39.703%. Sedangkan biaya pemeliharaan terkecil adalah komponen mekanikal sebesar Rp. 3,257,850 per tahun atau mencapai 2.520% dari total biaya pemeliharaan

    PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR OTORITAS JASA KEUANGAN (OJK) KAWASAN REGIONAL 4 DENGAN METODE BETON PRACETAK

    No full text
    This study aims to plan the structure of the Regional Financial Services Authority Office Building 4 East Java using precast concrete. The use of precast concrete is based on advantages in terms of economy, efficiency, speed of implementation, and energy consumption that have an impact on the environment. The precast concrete structure is designed by assuming the structure is monolithic cast in place. Precast elements require joints that function to transfer the forces that occur between elements. Planning refers to the guidelines that apply in Indonesia, namely SNI 1727:2020, SNI 1726:2019, and SNI 2847:2019. Based on the results of the analysis obtained the configuration of the structure, the dimensions of each structural element, and the connection between the structural elements. The connection uses a combination of dry and wet joints which aims to produce a monolithic structure. The connection between the column and the column uses 4 PEC® Column Shoe, the connection between the main beam and the sub-beam uses a combination of corbel, 2 BECO® Beam Shoe at the bottom of the main beam, and a rebar coupler that connects the top reinforcement of the main beam. The connection between the beams and the main beam uses 2 BECO® Beam Shoes at the bottom of the beams and distribution reinforcement at the top of the beams. The connection of the slab to the beam uses joint reinforcement at the top and bottom of the slab.Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan struktur Gedung Kantor Otoritas Jasa Keuangan Kawasan Regional 4 Jawa Timur menggunakan beton pracetak. Penggunaan beton pracetak didasarkan pada keunggulan dalam aspek ekonomi, efisien, kecepatan dalam pelaksanaan dan konsumsi energi yang berdampak terhadap lingkungan. Struktur beton pracetak direncanakan dengan menganggap struktur tersebut bersifat monolit yang dicor di tempat. Elemen pracetak memerlukan sambungan yang berfungsi mentransfer gaya – gaya yang terjadi antar elemen. Perencanaan mengacu pada pedoman yang berlaku di Indonesia yaitu SNI 1727:2020, SNI 1726:2019 dan SNI 2847:2019. Berdasarkan hasil analisis didapatkan konfigurasi struktur, dimensi masing – masing elemen struktur dan sambungan antar elemen strktur. Sambungan menggunakan kombinasi sambungan kering dan basah yang bertujuan untuk menghasilkan struktur yang monolit. Sambungan antara kolom dengan kolom menggunakan 4 buah PEC® Column Shoe, sambungan antara balok induk dengan balok anak menggunakan kombinasi konsol pendek, 2 buah BECO® Beam Shoe pada bagian bawah balok induk dan Rebar Coupler yang menyambungkan tulangan atas balok induk. Sambungan antara balok anak dengan balok induk menggunakan 2 buah BECO® Beam Shoe pada bagian bawah balok anak dan tulangan penyaluran pada bagian atas balok anak. Sambungan pelat dengan balok menggunakan tulangan penyaluran pada bagian atas dan bawah pelat

    ANALISIS KEBERADAAN STREET FURNITURE SEBAGAI CITRA KOTA DI KORIDOR JALAN P.B SUDIRMAN, KOTA DENPASAR

    No full text
    Corridor P.B Sudirman in Denpasar City has not been fully good in terms of facilities and infrastructure such as the arrangement of street furniture which is one of the supporting elements of public space that reinforces the character and image of city street corridors. Street furniture must be integrated and harmonious with other urban design elements to give a neat and orderly impression on the street corridors. The research method used in this research is qualitative - a case study by presenting primary data and where later the data to be used is obtained from surveys, observations in the field and will be compared with existing theories. There are approximately 6 out of 10 types of street furniture or street furniture analyzed, whereof all these types there are several street furniture that still needs to be fixed and corrected as well as its existence because the existence of street furniture in a road corridor area can later lead to the face or image of the corridor The city, especially in this discussion, is the image of Denpasar City on the PB Sudirman corridor thus creating the image of Denpasar City which is cultured and humane.Koridor Jalan P.B Sudirman Kota Denpasar belum sepenuhnya baik dalam hal sarana dan prasarana seperti penataan street furniture dimana merupakan salah satu elemen pendukung ruang publik yang memperkuat sebuah karakter dan citra koridor jalan kota. Street furniture haruslah saling terintegrasi dan serasi dengan elemen perancangan kota lainya untuk memberikan kesan yang rapi dan teratur pada koridor jalan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus, data primer yang di dapatkan dari survey observasi di lapangan akan dibandingankan dengan teori yang ada untuk mendapatkan hasil penelitian. Terdapat kurang lebih 6 dari 10 jenis street furniture yang dianalisa, dimana dari seluruh jenis tersebut ternyata ada beberapa street furniture yang masih perlu dibenahi dan diperbaiki penempatan maupun keberadaanya. Keberadaan street furniture dalam suatu kawasan koridor jalan nantinya dapat menimbulkan wajah atau citra koridor kota khususnya dalam pembahasan ini adalah citra Kota Denpasar pada koridor Jalan P.B Sudirman sehingga menciptakan citra Kota Denpasar yang berwawasan budaya dan humanis

    KARAKTERISTIK BAMBU ORI BANYUWANGI LAMINASI SUSUNAN BRICK DITINJAU DARI KEKUATAN TEKAN, TARIK, DAN LENTUR

    No full text
    Material engineering innovations are carried out to overcome problems. One of the problems is the use of wood material which in the harvest process takes a long time. Bamboo has a faster harvest time than wood with a harvest age of 3-5 years. However, bamboo is rarely used as a building material rather than wood because it has a hollow cylindrical dimension. Laminate Bamboo Technology makes bamboo dimensions like wood. Laminated bamboo is arranged into bricks using polyvinyl acetate (PVAC) adhesive with a blade thickness of seven mm. The bamboo lamination testing method refers to SNI-03-3958-1995, SNI-03-3399-1994, SNI 03-3959-1995, and SNI 03-3960-1995. Testing using Universal Testing Machine (UTM). The characteristics of the laminated Banyuwangi Ori bamboo with the brick arrangement in the wood classification include strong class II and quality code E25. The characteristics of Laminated Ori Bamboo are influenced by the character of the bamboo and the character of the glue.Inovasi rekayasa material dilakukan guna mengatasi permasalahan. Salah satu masalah yakni penggunaan material kayu yang dalam proses panennya membutuhkan waktu lama. Bambu memiliki waktu panen yang lebih cepat daripada kayu dengan umur panen berkisar 3-5 tahun. Namun bambu jarang digunakan sebagai bahan bangunan daripada kayu karena memiliki dimensi silinder berongga. Teknologi Bambu Laminasi menjadikan dimensi bambu seperti kayu. Bambu Laminasi disusun brick menggunakan perekat Polivinyl Acetate (PVAC) dengan tebal lamina 7 mm. Metode pengujian laminasi bambu mengacu SNI 03-3958-1995, SNI 03-3399-1994, SNI 03-3959-1995, dan SNI 03-3960-1995. Pengujian menggunakan alat Universal Testing Machine (UTM). Bambu Ori Banyuwangi Laminasi dengan susunan brick dalam klasifikasi kayu berdasarkan sifat mekanisnya dapat disetarakan dengan kayu kelas kuat II dan kode mutu E25. Karakteristik Bambu Ori Laminasi dipengaruhi oleh karakter bambu dan karakter lem

    PERENCANAAN BIAYA MENGGUNAKAN PERHITUNGAN BIAYA RIIL PADA PROYEK PERUMAHAN

    No full text
    In the implementation of construction projects, several stages need to be carried out before the main activities are carried out. Construction activities start from a feasibility survey on site, design, budgeting, construction implementation, and evaluation. In order to be able to carry out all activities, contractors need to implement construction management in order to ensure the work runs with minimal obstacles and achieves success. An important stage in construction activities is cost budgeting. Budgeting is structured based on the principles of effectiveness of results and cost efficiency. Some contractors always skip this stage because they have experience or carry out small construction activities. As a result, construction activities stopped temporarily and could not even continue. This study aims to determine budget management to perform cost calculations on housing development activities. The study was conducted in a construction project in Alana Regency Cerme, Cerme District, Gresik. Based on the calculation of the budgeting, it is obtained costing with an estimated value of Rp. 222,287,554.55. In the implementation of the construction obtained a total cost of Rp. 206,632,729.55. This shows the existence of a profit with a value of Rp. 15,654,825.00.Pada pelaksanaan proyek konstruksi perlu dilakukan beberapa tahapan sebelum kegiatan utama dilaksanakan. Kegiatan konstruksi dimulai dari survei kelayakan di lokasi, desain, penganggaran, pelaksanaan konstruksi, dan evaluasi. Agar dapat menjalankan seluruh kegiatan, kontraktor perlu menerapkan manajemen konstruksi agar dapat memastikan pekerjaan berjalan dengan minim hambatan dan mencapai keberhasilan. Tahapan penting pada kegiatan konstruksi adalah penganggaran biaya. Penganggaran tersusun berdasarkan asas efektivitas hasil dan efesiensi biaya. Beberapa kontraktor selalu melewati tahapan ini karena memiliki pengalaman atau melaksanakan kegiatan konstruksi kecil. Akibatnya kegiatan konstruksi berhenti sementara bahkan tidak dapat dilanjutkan. Studi ini bertujuan menetapkan manajemen anggaran untuk melakukan perhitungan biaya pada kegiatan pembangunan perumahan. Studi dilakukan di salah satu proyek konstruksi di Alana Regency Cerme, Kecamatan Cerme, Gresik. Berdasarkan perhitungan dari penganggaran diperoleh penetapan biaya dengan nilai diperkirakan Rp. 222,287,554.55. Pada pelaksanaan konstruksi diperoleh biaya total Rp. 206,632,729.55. Ini menunjukkan adanya perolehan laba dengan nilai Rp. 15,654,825.00

    PENGARUH ACTIVITY SUPPORT TERHADAP AKTIVITAS RUANG PUBLIK PADA MALAM HARI DI KORIDOR JALAN GAJAH MADA AMLAPURA

    No full text
    Activity support is a function and support activity that can strengthen public spaces in a city. The road corridor as a public open space is a place to accommodate these activities and functions. The phenomenon that occurs in the Jalan Gajah Mada-Amlapura corridor is that public activities at night are quiet and limited. This condition shows that the city design elements have not yet functioned optimally, one of which is activity support which should be able to strengthen public spaces in the form of roads. As a result, the city seems to have lost its character and identity, so efforts and strategies are needed to restore it. The importance of fostering public activity at night has economic benefits for society and the government in addition to social and cultural benefits. The purpose of this research is to analyze the factors causing the current limited activity support and its effect on public space activities at night in the corridor of Jalan Gajah Mada Amlapura. The hope is to support the formation of a more vibrant and dynamic city character. The research method used is a qualitative method with a case study approach. Data collection techniques were carried out through direct observation and study of related documents. Primary data was obtained through field observations, secondary data was obtained from articles and journals and literature books. Data analysis is carried out by organizing, selecting and describing data, synthesizing, and drawing conclusions. Furthermore, the data is presented in the form of tables, pictures and narrative descriptions. The results of the study show that the causes of the limited activity support are the shape and location of the area, area characteristics, parking elements, diversity of activities, and the presence of pedestrian areas. This condition affects the lack of public activity in the corridor of Jalan Gajah Mada Amlapura so that it has not been able to support the formation of the character of the city.Activity support merupakan fungsi dan kegiatan pendukung yang dapat memperkuat ruang publik di suatu kota. Koridor jalan sebagai ruang terbuka publik merupakan wadah untuk menampung aktivitas dan fungsi tersebut. Fenomena yang terjadi di koridor Jalan Gajah Mada-Amlapura bahwa aktivitas publik pada malam hari sepi dan terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan belum berfungsinya elemen perancangan kota secara optimal salah satunya activity support yang seharusnya dapat memperkuat ruang publik berupa jalan. Dampaknya, kota seperti kehilangan karakter dan identitasnya sehingga perlu adanya usaha dan strategi untuk mengembalikannya. Pentingnya menumbuhkan aktivitas publik di malam hari mempunyai manfaat ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah disamping manfaat sosial dan budaya. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini untuk menganalisis faktor penyebab terbatasnya activity support yang ada saat ini serta pengaruhnya terhadap aktivitas ruang publik pada malam hari di koridor Jalan Gajah Mada Amlapura. Harapannya guna menunjang terbentuknya karakter kota yang lebih hidup dan dinamis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung serta studi dokumen terkait. Data primer diperoleh melalui observasi ke lapangan, data sekunder diperoleh dari artikel dan jurnal serta buku-buku literatur. Analisis data dilakukan dengan mengorganisasi, memilih dan menjabarkan data, melakukan sintesa, serta membuat kesimpulan. Selanjutnya data disajikan dalam bentuk tabel, gambar serta uraian yang bersifat naratif. Hasil studi menunjukkan penyebab terbatasnya activity support adalah bentuk dan lokasi kawasan, karakteristik kawasan, elemen parkir, keragaman aktivitas, serta keberadaan area pejalan kaki. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap sepinya aktivitas publik di koridor Jalan Gajah Mada Amlapura sehingga belum dapat menunjang terbentuknya karakter kota

    PENGARUH STRES TENAGA KERJA TERHADAP KECELAKAAN KERJA PADA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI DI SURABAYA YANG DIMODERASI USIA, PENDIDIKAN DAN PENGALAMAN KERJA

    No full text
    The time constraint on implementing construction projects results in work stress on the workforce. Several factors that influence work stress in the force include age, education level, and work experience. Each crew has different levels of stress and trigger factors, from the level of stress experienced by workers from the lowest to the highest. For this reason, the project manager needs to manage stress in the workforce so that work accidents can be reduced. This study aims to determine the effect of work stress on work accidents based on the moderation of age, education level, and work experience. The research method uses a survey method with the measuring instrument. The sampling method used is accidental sampling, with the respondents being foremen, handymen, and workers. Respondents in the study amounted to 50 people. The analysis used is a linear regression with moderation. Based on the research analysis, the result is that work stress has a significant effect on work accidents (sig. < 0.05). At the same time, the moderating variables of age and education level did not significantly affect work accidents (sig. > 0.05). Increasing age and the higher education level of the workforce do not increase work accidents that occur. These two variables do not function as moderator variables but as independent variables. The moderating variable of work experience significantly affects work accidents (sig. < 0.05). The increase in the work experience of the workforce reduces work accidents. The work experience variable also functions as a pure moderator variable.Batasan waktu pelaksanaan proyek konstruksi mengakibatkan stres kerja pada tenaga kerja. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat stres kerja pada tenaga kerja antara lain usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman kerja. Setiap tenaga kerja memiliki tingkat stres dan faktor pemicu yang berbeda, dari tingkat stres yang dialami tenaga kerja mulai dari titik terendah hingga tertinggi. Untuk itu pentingnya pihak menajemen proyek perlu mengelola stres pada tenaga kerja sehingga kecelakaan kerja dapat diturunkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stres kerja terhadap kecelakaan kerja berdasarkan moderasi usia, tingkat pendidikan, dan pengalaman kerja. Metode penelitian menggunakan metode survei dengan alat ukurnya menggunakan kuesioner, Pengambilan sampel digunakan metode accidental sampling, dengan respondennya adalah mandor, tukang, dan pekerja. Responden pada penelitian berjumlah 50 orang. Analisis yang digunakan adalah regresi linear dengan moderasi. Berdasarkan analasis pada penelitian maka hasilnya adalah stres kerja berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kerja (sig. < 0.05). Sedangkan variabel moderasi usia dan tingkat pendidikan tidak berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kerja (sig. > 0.05). Dengan bertambahnya usia dan semakin tinggi tingkat pendidikan tenaga kerja tidak meningkatkan kecelakaan kerja yang terjadi, dan juga kedua variabel tersebut tidak berfungsi sebagai variabel moderator melainkan sebagai variabel bebas. Variabel moderasi pengalaman kerja berpengaruh signifikan terhadap kecelakaan kerja (sig. < 0.05). Dengan bertambahnya pengalaman kerja tenaga kerja, maka menurunkan kecelakaan kerja. Variabel pengalaman kerja juga berfungsi sebagai variabel moderator murni

    EFEK TINGKAT KEBISINGAN PADA MASALAH PENDENGARAN PADA PEKERJA

    No full text
    Technological advances require the industry to use high-tech machines so that the company's productivity level increases. Technological machines make it easier for employees to work and can produce a better quantity of production compared to conventional machines. However, the existence of this machine has a negative impact on employees. This high-tech machine causes noise at the job site. The noise level that occurs causes health problems for employees, especially hearing health problems. This study is to determine the level of noise on hearing loss in workers. The population in this study were employees of an industry engaged in the manufacture of footwear products in Sidoarjo, East Java. This quantitative study uses the chi square test, 95% confidence level. The results of observations, there are 35 respondents (63.6%) have hearing loss and 20 respondents (36.4%) do not have hearing loss. The study also shows 38 respondents (69.1%) experience high noise levels in their workplace while 17 respondents (30.9%) experience low noise levels. The statistical test of the chi square test (X2) shows that noise intensity has an impact on the hearing of impaired workers. This is evidenced by the p value 0.000 which is lower than 0.05.Kemajuan teknologi menuntut industri menggunakan mesin-mesin berteknologi tinggi agar tingkat produktivitas perusahaan meningkat. Mesin berteknologi memudahkan karyawan dalam bekerja dan dapat menghasilkan kuantitas produksi yang lebih baik dibandingkan dengan mesin konvensional. Namun, keberadaan mesin ini berdampak negatif bagi karyawan. Mesin berteknologi tinggi ini menyebabkan kebisingan di lokasi kerja. Tingkat kebisingan yang terjadi menimbulkan gangguan kesehatan bagi karyawan khususnya gangguan kesehatan pendengaran. Studi ini untuk mengetahui tingkat kebisingan pada gangguan pendengaran pada pekerja. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan pada salah satu industri yang bergerak di bidang pembuatan produk alas kaki di Sidoarjo Jawa Timur. Studi kuantitatif ini menggunakan uji chi square, tingkat kepercayaan 95%. Hasil pengamatan, ada 35 responden (63.6%) mengalami gangguan pendengaran dan 20 responden (36.4%) tidak mengalami gangguan pendengaran. Studi ini juga menunjukkan 38 responden (69.1%) merasakan kebisingan yang tinggi di tempat kerja mereka sementara 17 responden (30.9%) mengalami tingkat kebisingan yang rendah. Uji statistik uji chi square (X2) menunjukkan intensitas kebisingan memiliki dampak pada pendengaran pekerja yang terganggu. Hal ini dibuktikan dengan nilai p value 0.000 yang lebih rendah dari 0.05

    0

    full texts

    211

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇