PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
Not a member yet
    211 research outputs found

    PEMANFAATAN BUTON GRANULAR ASPHALT TIPE B 5/20 PADA CAMPURAN ASPAL BETON TERHADAP NILAI KEAUSAN (CANTABRO TEST)

    No full text
    Buton Granular Asphalt has properties to improve pavement characteristics because the material from Buton Granular Asphalt contains fine grains of material that provide strength to the road pavement so that with the increase in the strength of this pavement layer, it will affect the wear of the pavement due to the frictional force of the wheels on the road pavement. So it is necessary to do the properties and characteristics of the strength of the asphalt concrete mixture with the use of Buton Granular Asphalt. This research uses Buton Granular Asphalt as an added material for Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) pavement layers. The method used in this research is an experimental study in the laboratory by looking at the parameters and national standards set in laboratory testing. Buton Granular Asphalt is an asbuton product that has bitumen content between 20-25%. From the results of the Optimum Asphalt Content (KAO) test, the optimum asphalt content value is 5.64%. After getting the Optimum Asphalt Content, the test object was made with the addition of Buton Granular Asphalt, variations were made with values of 0%, 1%, 2%, and 3% of the asphalt weight. After making the test object, the cantabro test was carried out. From the results of the study, the value of weight loss at 0% levels was 8.82%, 1% levels were 5.18%, 2% levels were 2.46% and 3% levels were 1.84%. The results of this study indicate that the use of Buton Granular Asphalt material with a content of 3% has the lowest weight loss value, with the use of Buton Granular Asphalt as an added material has a high resistance to wear and tear. This indicates that adding Buton Granular Asphalt can make the pavement resistant to wear and tear caused by vehicle wheel friction and because the content of Buton Granular Asphalt consists of a fine material that can make the interlocking of the pavement mixture stronger.Buton Granular Asphalt memiliki sifat sebagai meningkatkan karakteristik perkerasan karena material dari Buton granular Asphalt terdapat butiran material halus yang memberikan kekuatan pada perkerasan jalan sehingga dengan meningkatnya kekuatan dari lapis perkerasan ini maka akan berpengaruh dari keausan perkerasan akibat gaya gesekan roda pada perkerasan jalan. Sehingga perlu dilakukan sifat dan karakteristik dari keausan campuran aspal beton dengan pemanfaatan Buton Granular Asphalt dan mampu menahan repetisi beban kendaraan. Penelitian ini menggunakan Buton Granular Asphalt sebagai bahan tambah untuk lapisan perkerasan Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC). Metode yang dilakuakn pada penelitian ini yaitu dengan studi eksperimen dilaboratorium dengan melihat parameter dan standar nasional yang ditetapkan dalam pengujian laboratorium. Buton Granular Asphalt merupakan produk asbuton yang memiliki kadar bitumen antara 20-25%. Dari hasil pengujian Kadar Aspal Optimum (KAO) didapatkan nilai kadar aspal optimum sebesar 5.64%. Setelah mendapatkan Kadar Aspal Optimum maka dilakukan pembuatan benda uji dengan penambahan Buton Granular Asphalt dibuat variasi dengan nilai 0%, 1%, 2%, dan 3% terhadap berat aspal. Setelah membuat benda uji maka dilakukan pengujian cantabro.Dari hasil penelitian didapatkan nilai kehilangan berat pada kadar 0% sebesar 8.82% kadar 1% sebesar 5.18% kadar 2% sebesar 2.46% dan kadar 3% sebesar 1.84%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan material Buton Granular Asphalt dengan kadar 3% memiliki nilai kehilangan berat paling rendah, dengan penggunaan Buton Granular Asphalt sebagai bahan tambah memiliki nilai ketahanan yang tinggi terhadap keausan. Ini mengindikasikan dengan menambahkan Buton Granular Asphalt dapat membuat perkerasan jalan tahan terhadap keausan yang disebabkan oleh gesekan roda kendaraan karena kandungan dari Buton Granular Asphalt terdiri dari material halus yang dapat membuatk interlocking dari campuran perkerasan mejadi kuat

    APLIKASI IRIGASI TETES BERTINGKAT DENGAN TANAMAN CABE DI PERUMAHAN PADAT PENDUDUK KOTA MATARAM HULU

    No full text
    This study aims to determine the ability of multilevel drip irrigation using a lateral pipe from a 12 mm Netafim (NTF) pipe and ½" PVC on soil media in polybags with variations of soil to compost 70%: 30%, 50%: 50%, 30%: 70%. Tests were carried out with variations in the depth of the water tower 220 cm, 120 cm, and 30 cm from the lateral drip pipe to the irrigation uniformity (CU), irrigation distribution and irrigation depth produced. The research was conducted on a residential yard measuring 1.5 m x 4 m x 2 m, the distance between the network levels was 1m and the tower height was 2.5 m. The results showed that drip irrigation with PVC and NTF pipes resulted in a deviation of irrigation volume at each level of the network of about 2 ml, with a decrease in the deviation of irrigation volume from the deviation of drip irrigation with NTF-level pipes of about 85%. Tests on NTF drip irrigation with a soil composition of 70% at various tank volumes, obtained a maximum irrigation depth of about 13 cm-20 cm and a minimum irrigation depth of 30% soil ranging from 5 cm-14 cm. For the NTF and PVC drip irrigation tests, the highest irrigation depth was obtained on 30% soil with a maximum irrigation depth of 10 cm-15 cm, while the minimum irrigation depth was obtained on 70% soil ranging from 6cm to 10cm. The average uniformity of PVC pipe multilevel drip irrigation and NTF was obtained at 95% with a more even distribution of irrigation water volume at each level.Studi ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan pemberian irigasi tetes bertingkat yang menggunakan pipa lateral dari pipa Netafim (NTF) 12 mm dan PVC ½â€, terhadap media tanah dalam polybag dengan variasi tanah terhadap kompos 70%:30%, 50%:50%, 30%:70%. Uji dilakukan dengan variasi kedalaman air tower 220 cm, 120 cm, dan 30 cm dari pipa tetes lateral terhadap keseragaman irigasi (CU), distribusi irigasi dan kedalaman irigasi yang dihasilkan. Penelitian dilakukan pada lahan pekarangan perumahan berukuran 1.5 m x 4 m x 2m, jarak antara tingkat jaringan 1 m dan tinggi tower 2.5m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa irigasi tetes dengan pipa pvc dan NTF menghasilkan deviasi volume irigasi tiap tingkat jaringan sekitar 2 ml, dengan penurunan deviasi volume irigasi dari deviasi irigasi tetes pipa NTF bertingkat sekitar 85%. Uji pada irigasi tetes NTF dengan komposisi tanah 70% pada variasi volume tangki, diperoleh kedalaman irigasi maksimum sekitar 13 cm- 20 cm dan kedalaman irigasi minimum pada 30% tanahnya berkisar 5 cm-14 cm. Untuk uji pada irigasi tetes NTF dan PVC beramiter diperoleh kedalaman irigasi  tertinggi pada 30% tanah dengan kedalaman irigasi maksimum sebesar 10 cm-15 cm, sedangkan kedalaman irigasi minimum diperoleh pada  tanah 70% berkisar 6 cm-10 cm. Keseragaman irigasi tetes bertingkat pipa pvc dan NTF rata-rata diperoleh sebesar 95% dengan distribusi volume air irigasi pada tiap-tiap tingkat yang lebih merata

    Analisis tipe gerakan tanah pada lereng Bendungan Bulango Ulu Kabupaten Bone Bolango menggunakan metode kinematika

    No full text
    Bendungan Bulango Ulu merupakan salah satu proyek strategis yang dibangun di Desa Tuloa, Kecamatan Bulango Utara, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Dalam membangun sebuah bendungan, analisis geologi dan kestabilan lereng menjadi sangat penting untuk menghindari risiko keruntuhan atau kegagalan struktur. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis geologi dan kestabilan lereng pada Bendungan Bulango Ulu dengan menggunakan metode kinematika. Metode kinematika digunakan untuk mengetahui tipe gerakan tanah pada lereng bendungan dan mengidentifikasi nilai probabilitas keruntuhan. Data geologi terkait dengan jenis litologi, petrografi, struktur geologi dan geomorfologi dikumpulkan melalui pengamatan langsung dan di laboratorium. Kemudian, data tersebut digunakan untuk mengetahui kondisi geologi, struktur geologi dan geomorfologi yang kemudian diinterpretasi hubungannya dengan kestabilan lereng. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satuan geomorfologi yaitu satuan dataran alluvial dan perbukitan rendah structural. Litologi penyusun lereng bendungan bulango ulu tersusun dari satuan alluvial dan satuan granodiorite. Struktur geologi yang berkembang berupa kekar tarik dengan arah umum timur-barat (E-W) dan dipotong oleh kekar tension dengan arah umum utara-selatan (N-S). Tipe dan probabilitas gerakan tanah yang terjadi berdasarkan segmen yaitu pada lereng segmen A-B berupa Wedge (21.65 %), lereng segmen C-D berupa Wedge (12.27%), lereng segmen E-F berupa Wedge (15,12%), dan lereng segmen G-H berupa Wedge (21,8 %). Berdasarkan dari hasil analisis kinematika, lereng yang berada pada bendungan Bulango Ulu masuk kategori stabil. Penelitian ini merekomendasikan bahwa tidak perlu untuk melakukan perubahan geometri pada lereng bendungan dikarenakan lereng dalam keadaan stabil.The Bulango Ulu Dam is one of the strategic projects built in Tuloa Village, North Bulango District, Bone Bolango Regency, Gorontalo Province. In building a dam, geological analysis and slope stability are very important to avoid the risk of collapse or structural failure. This research aims to conduct geological analysis and slope stability at the Bulango Ulu Dam using kinematics methods. The kinematics method is used to determine the type of ground movement on the dam slope and identify the probability value of failure. Geological data related to lithology, petrography, geological structure and geomorphology are collected through direct observations and in the laboratory. Then, this data is used to determine geological conditions, geological structure and geomorphology which are then interpreted in relation to slope stability. The research results show that the geomorphological units are alluvial plains and low structural hills. The lithology that makes up the slopes of the Bulango Ulu Dam is composed of alluvial units and granodiorite units. The geological structure that develops is in the form of tensile joints in a general direction east-west (E-W) and cut by tension joints in a general direction north-south (N-S). The type and probability of ground movement that occurs based on segment, namely on segment A-B slopes in the form of Wedges (21.65%), segment B-C slopes in the form of Wedges (12.27%), segment E-F slopes in the form of Wedges (15.12%), and segment slopes G-H is a Wedge (21.8%). Based on the results of kinematic and boundary equilibrium analysis, the slopes on the Bulango Ulu dam are in the stable category. This research recommends that there is no need to make changes to the geometry of the dam slope because the slope is in a stable condition

    Pemanfaatan abu serbuk kayu dan serbuk cangkang kerang sebagai material stabilisasi tanah lunak

    No full text
    Muara Gembong Sub-district, Bekasi Regency, West Java Province, has many damaged and bumpy roads. This area is coastal and some parts of the area are swampy soils that have low bearing strength, not meeting the required bearing strength (CBR) of at least 6%. This research aims to analyze the effect of the addition of sawdust ash and clam shell powder as soil stabilization material on bearing strength, in this case the California Bearing Ratio value. The method used in this research is a laboratory experiment of soft soil stabilization mixed with additive materials in the form of sawdust ash and clam shell powder at a proportion of 2% and 4% to the dry weight of the soil. Tests carried out include Atterberg limit test, compaction, and CBR in unsubmerged conditions. The analysis showed that the soil mixed with 4% clam shell powder without sawdust ash increased the CBR value by 84.32% against the original soil CBR. Soil mixed with clam shell powder and sawdust ash also experienced an increase in bearing strength but not as good as soil mixed with clam shell powder alone.Kecamatan Muara Gembong Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat banyak dijumpai jalan yang rusak dan bergelombang. Wilayah ini merupakan pesisir laut dan beberapa bagian wilayahnya merupakan tanah rawa yang memiliki kuat dukung yang rendah, tidak memenuhi kuat dukungyang dipersyaratkan yaitu CBR minimum 6%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penambahan abu serbuk kayu dan serbuk cangkang kerang sebagai material stabilisasi tanah terhadap kuat dukung, dalam hal ini yaitu nilai California Bearing Ratio. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu eksperimen laboratorium stabilisasi tanah lunak yang dicampurkan dengan material aditif berupa abu serbuk kayu  dan serbuk cangkang kerang pada proporsi 2% dan 4% terhadap berat kering tanah. Pengujian yang dilakukan meliputi uji batas Atterberg, pemadatan, dan CBR kondisi tidak terendam. Hasil analisis menunjukkan bahwa tanah yang dicampur dengan 4% serbuk cangkang kerang tanpa abu serbuk kayu mengalami peningkatan nilai CBR sebesar 84.32% terhadap CBR tanah asli. Tanah yang dicampur dengan serbuk cangkang kerang dan abu serbuk kayu juga mengalami peningkatan kuat dukung namun tidak sebaik tanah yang dicampur dengan serbuk cangkang kerang saja

    Analisis indeks vegetasi pada citra Landsat 8 untuk penentuan perubahan tutupan lahan di Kabupaten Badung, Provinsi Bali

    No full text
    One of the common problems in urban regions is urbanization, urbanization, and industrialization trigger land use change, this land use change urges green land in urban areas to shrink, triggering building density which in the future will lead to new problems such as limited natural resources, congestion, and air pollution, Badung is a regency that is currently being attacked by massive land changes, therefore this research was conducted to compare the level of vegetation density and the area of vegetation density using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) technique in 2015 and 2021 over Badung Regency. The supervised classification method was used to produce four classes consisting of water, soil, settlement, and vegetation. The results of this study exhibited the land cover decreased between 2015 and 2021 in the vegetation class around 57.26 km2. On the other hand, there is an increase in the land cover class for the settlement, land, and water body categories of 47.38 km2, 4.08 km2, and 5.80 km2, respectively. These results were obtained with an accuracy rate and kappa coefficient is 89.27% and 0.86, respectively. This indicate the classification recult in this study was feasible to use.Salah satu permasalahan yang umum terjadi di area perkotaan adalah urbanisasi, urbanisasi serta industrialisasi memicu terjadinya perubahan fungsi lahan, perubahan fungsi lahan ini mendesak lahan hijau di perkotaan semakin mengecil, memicu terjadinya kepadatan bangunan yang kedepannya akan memunculkan masalah baru seperti keterbatasan sumber daya alam, kemacetan, serta polusi udara, Badung merupakan suatu kabupaten yang saat ini sedang diserang oleh perubahan lahan secara besar-besaran, oleh karenanya penelitian ini dilakukan bertujuan untuk membandingkan tingkat kerapatan vegetasi dan luas kerapatan area vegetasi dengan menggunakan metode Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) pada tahun 2015 dan 2021 di Kabupaten Badung. Metode klasifikasi terbimbing dipergunakan untuk menghasilkan 4 kelas yang terdiri dari air, tanah, permukiman, dan vegetasi. Hasil penelitian saat ini menunjukan terjadi penurunan tutupan lahan tahun antara tahun 2015 dan 2021 pada kelas vegetasi yaitu sebesar 57.26 km2. Disisi lain, terjadi peningkatan tutupan lahan untuk kelas lahan permukiman, tanah, dan badan air berturut-turut sebesar 47.38 km2, 4.08 km2, dan 5.80 km2. Hasil ini diperoleh dengan tinggkat akurasi dan kappa coefficient berturut-turut sebesar 89.29% dan 0.86. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil klasifikasi pada penelitian ini layak digunakan

    Analisis perbandingan biaya, waktu, dan dampak lingkungan pada pekerjaan lapis pondasi atas menggunakan material recycle dan cut and fill (studi kasus: proyek pembangunan jalur lintas selatan Tulungagung -Trenggalek)

    No full text
    Nowadays, environmental issues in construction project activities that were previously ignored have become major problems as they trigger global warming. Consequently, green construction as a concept of sustainable development has begun to be implemented. It is sort of an effort to minimize the impact of damage to the environment. The construction project of the Tulungagung-Trenggalek southern route carried out material recycling from construction waste to top foundation layer material. The material processing will have an impact on the construction implementation. Therefore, it is necessary to have a study on a comparative analysis of costs, time, and environmental impacts on the work of the top layer using recycled materials and the cut-and-fill method. After using recycled materials, the cost was IDR 2,637,312,551.00, while the cut-and-fill method cost was IDR 2,535,283,401.00. The recycling method took 20 days, whereas the cut-and-fill method took 37 days. Material waste reached 5729.27 tons by the recycle method and 46586.82 tons by the cut-and-fill method. The recycling method caused emissions of 52774.4 kgCO2/liter, while the cut-and-fill method brought in 59935.34 kgCO2/liter. In conclusion, the recycling method can be categorized as a green construction method because it produces fewer emissions and waste than the cut-and-fill method. The recycling method can reduce the impact of environmental damage.Isu lingkungan yang semula kurang diperhatikan pada kegiatan proyek konstruksi saat ini menjadi permasalahan utama dan pemicu global warming. Green contruction sebagai konsep pembangunan yang berkelanjutan mulai diterapkan, hal ini merupakan salah satu bentuk upaya untuk meminimalisir dampak kerusakan terhadap lingkungan. Pada proyek pembangunan jalur lintas selatan Tulungagung-Trenggalek proyek tersebut melaksanakan recycle material dari limbah konstruksi untuk digunakan sebagai material lapis pondasi atas. Dengan adanya pengolahan material maka akan berdampak terhadap pelaksanaan konstruksi. Sehingga perlu adanya sebuah penelitian mengenai analisis perbandingan biaya, waktu, dan dampak lingkungan pada pekerjaan lapis pondasi atas menggunakan material recycle dan cut and fill Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil biaya menggunakan material recycle dalam pelaksanaan sebesar Rp.2,637,312,551.00 Sedangkan dengan menggunakan metode cut and fill biaya yang dikeluarkan sebesar Rp.2,535,283,401.00 dan dibutuhkan 20 hari dengan metode recycle. Pada metode cut and fill dibutuhkan 37 hari. Pelaksanaan menggunakan metode recycle limbah material yang ditimbulkan sebesar 5729.27 ton sedangkan dengan metode cut and fill sebesar 46586.82 ton. Dalam pelaksanaan konstruksi metode recycle menimbulkan emisi sebesar 52774.4 kgCO2/liter sedangkan dengan menggunakan metode cut and fill sebesar 59935.34 kgCO2/liter. Oleh karena itu, metode daur ulang (recycle) dapat dianggap sebagai salah satu pendekatan dalam pelaksanaan konstruksi ramah lingkungan dikarenakan emisi dan limbah yang lebih rendah dan dapat mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan jika dibandingkan dengan metode cut and fill

    Analisis penerapan lean six sigma terhadap pengendalian pemborosan material, waktu dan biaya berdasarkan kualifikasi perusahaan konstruksi di Jawa Barat

    No full text
    Application lean six sigma (LSS) in West Java is still more often used in the manufacturing industry, in order to provide good product quality for customer satisfaction. Therefore, this study aims to determine how far the application of LSS in West Java has been applied to the construction industry and to find out whether there are differences between each company's qualifications regarding how to control material waste, time waste and cost waste in construction projects after controlling LSS. The method used to answer the purpose of implementing LSS is a descriptive statistical test. While the methods used for different ways of controlling the wastage of materials, time and costs are Multivariate Analysis of Covariance (MANCOVA). The results of the descriptive statistical tests show that the application of LSS to large companies is included in the Very Good criteria (BS) with a score of 82%, for medium-sized companies it gets a value of 75% and small companies with a value of 74%, which means that its application is included in the Good criteria (B). The MANCOVA test results show that there is a difference between large and medium-sized companies in controlling material wastage. There is a difference between large and medium-sized companies in controlling time wastage. There is a difference between large companies and small companies in controlling time wastage. As for the wastage of costs, each company's qualifications in West Java do not have significant differences.Penerapan lean six sigma (LSS) di Jawa Barat masih lebih sering digunakan pada industri manufaktur, guna memberikan kualitas produk yang baik demi kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana penerapan LSS di Jawa barat telah diterapkan pada industri konstruksi dan untuk mencari tahu apakah ada perbedaan antar tiap kualifikasi perusahaan mengenai cara pengendalian pemborosan material, waktu dan biayanya pada proyek konstruksi setelah mengontrol LSS. Metode yang digunakan untuk menjawab tujuan penerapan LSS adalah uji statistik deskriptif. Sedangkan metode yang digunakan untuk perbedaan cara pengendalian pemborosan material, waktu dan biaya adalah Multivariate Analisys of Covariance (MANCOVA). Hasil uji statistik deskriptif menunjukkan bahwa penerapan LSS pada perusahaan besar termasuk dalam kriteria Baik Sekali (BS) dengan nilai 82%, untuk perusahaan menengah mendapatkan nilai 75% dan perusahaan kecil dengan nilai 74% yang artinya penerapannya termasuk dalam kriteria Baik (B). Hasil uji MANCOVA menunjukkan ada perbedaan antara perusahaan besar dan perusahaan menengah dalam mengendalikan pemborosan material. Ada perbedaan antara perusahaan besar dan perusahaan menengah dalam mengendalikan pemborosan waktu. Ada perbedaan antara perusahaan besar dan perusahaan kecil dalam mengendalikan pemborosan waktu. Sedangkan untuk pemborosan biaya, tiap kualifikasi perusahaan di Jawa Barat tidak memiliki perbedaan yang signifikan

    Validitas data curah hujan produk satelit IMERG terhadap data curah hujan terukur di wilayah Bima dan Dompu

    No full text
    Complete rainfall data for an extended period is needed to facilitate hydrological analysis. However, there are many obstacles to obtaining the measurement rainfall data as a limitation of rain gauges, especially in remote areas. This study aims to determine the accuracy of rainfall data estimated by the IMERG (Integrated Multi-satellitE Retrievals for GPM) satellite and obtain a correction factor to improve its compatibility with measured rainfall data. The IMERG satellite rain data was corrected using the regression method and the average ratio. The accuracy of the IMERG satellite rain data against the measured rain data is measured from the NSE, R, RMSE, and RB values. The analysis results show that the accuracy of the GPM satellite daily rain data is very low but improving for the ten-daily and monthly periods. Generally, the best correction factors for daily, ten-daily, and monthly periods are obtained using simple linear regression methods and 2nd-order polynomials. The corrected IMERG satellite rain data increase in accuracy, where the monthly rainfall data performs well, the ten-daily data generally complies, and the daily data has not shown good performance. The average values of NSE, R, RMSE, and RB for daily data are 0.14 (poor), 0.37 (weak), 9.18 mm, and -0.12%, respectively; for ten-daily data respectively, 0.40 (fair), 0.63 (strong), 39.42 mm, and 1.47%; and for monthly data are 0.55 (fair), 0.74 (strong), 80.19 mm, and -0.07%. The ten-daily and monthly rainfall data from the IMERG satellite can be used as a rain source data alternative in the Bima and Dompu areas by applying a correction factor.Ketersediaan data curah hujan yang lengkap dengan periode yang panjang sangat dibutuhkan dan dapat memudahkan dalam melakukan analisis hidrologi. Namun, hal tersebut cukup sulit didapatkan mengingat tidak semua wilayah memiliki alat penakar hujan terutama di daerah-daerah terpencil. Studi ini bertujuan untuk mengetahui akurasi data hujan hasil estimasi satelit IMERG (Integrated Multi-satellitE Retrievals for GPM) dan mendapatkan faktor koreksi untuk meningkatkan kesesuaiannya terhadap data hujan pengukuran. Koreksi data hujan satelit IMERG dilakukan dengan metode regresi dan rasio rata-rata. Keakuratan data hujan satelit IMERG terhadap data hujan terukur diukur dari nilai NSE, R, RMSE, dan RB. Hasil analisis menunjukkan bahwa akurasi data hujan harian satelit GPM sangat rendah, namun semakin membaik untuk periode dasarian dan bulanan. Secara umum, faktor koreksi terbaik untuk periode harian, dasarian, dan bulanan diperoleh menggunakan metode regresi linier sederhana dan polinomial orde 2. Data hujan satelit IMERG setelah dikoreksi menunjukkan adanya peningkatan akurasi, dimana data hujan bulanan berkinerja baik, data dasarian umumnya memenuhi, dan data harian belum menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai rata-rata NSE, R, RMSE, dan RB untuk hujan harian berturut-turut sebesar 0.14 (tidak memenuhi), 0.37 (lemah), 9.18 mm, dan -0.12%; untuk hujan dasarian berturut-turut sebesar 0.40 (memenuhi), 0.63 (kuat), 39.42 mm, dan 1.47%; serta untuk hujan bulanan berturut-turut sebesar 0.55 (memenuhi), 0.74 (kuat), 80.19 mm, dan -0.07%. Sehingga, data hujan dasarian dan bulanan satelit IMERG dapat digunakan sebagai sumber data hujan alternatif untuk wilayah Bima dan Dompu dengan pemakaian faktor koreksi

    Aplikasi vektor beban penentu lokasi kerusakan struktur pada struktur portal rangka ruang

    No full text
    Structural health monitoring system is one of the most interesting and important topics in civil engineering. This is because a good structural health monitoring system will increase the reliability of the structure. There are 4 (four) levels in the structural health monitoring system, one of which is damage localization. Damage localization requires an approach or method that can accurately predict the damaged member. One of the methods that is widely applied and proven to give good results for predicting damaged members called damage locating vector (DLV). The DLV method has been applied to several structures, such as plane truss structures, space truss structures, plane frame structures, shear buildings, plane stress elements, thick plate elements and several types of structures. The purpose of this research is to apply DLV method to space frame structures to find out the effectiveness of this method in damage detection. There are three damage scenarios used, two single damage scenarios and one multiple damage scenario. Based on the results obtained, the DLV method can accurately determine the damaged member in the space frame structure for single damage scenarios but in case of multiple damage scenarios, the DLV cannot predict the damaged member due to the values ​​of the end forces and moments of the damaged members are similar to one another.Sistem monitoring kesehatan struktur merupakan salah satu topik yang sangat menarik dan penting dalam bidang teknik sipil. Hal ini dikarenakan dengan sistem monitoring kesehatan struktur yang baik akan meningkatkan kehandalan struktur tersebut. Terdapat 4 (empat) tingkatan dalam sistem monitoring kesehatan struktur, salah satunya adalah penentuan lokasi kerusakan (damage localization). Hal ini menjadi menarik dikarenakan tahap ini membutuhkan pendekatan atau metode yang dapat menghasilkan pembacaan yang akurat terhadap elemen yang mengalami kerusakan. Salah satu metode yang umumnya digunakan, diaplikasikan dan terbukti memberikan hasil yang baik untuk memprediksi elemen yang mengalami kerusakan. Metode ini adalah metode vektor beban penentu lokasi kerusakan (VBPLK). Metode VBPLK telah diaplikasikan pada beberapa struktur, seperti struktur rangka bidang, struktur rangka ruang, struktur portal bidang, shear building, elemen plane stress, elemen thick plate dan beberapa tipe struktur lainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan metode VBPLK pada struktur portal ruang guna melihat efektivitas metode ini dalam mendeteksi kerusakan pada tipe struktur tersebut. Terdapat 3 (tiga) skenario kerusakan yang digunakan, yaitu 2 (dua) skenario kerusakan tunggal dan 1 (satu) skenario kerusakan ganda. Berdasarkan hasil yang didapatkan, metode VBPLK dapat dengan baik mendeteksi kerusakan elemen pada struktur portal ruang untuk skenario kerusakan tunggal tetapi tidak demikian halnya dengan skenario kerusakan ganda, di mana prediksi elemen yang mengalami kerusakan tidak dapat dilakukan dikarenakan nilai gaya-gaya dan momen-momen ujung dari elemen yang mengalami kerusakan mirip satu dengan yang lain

    ANALISIS KUAT TEKAN DAN ULTRASONIC PULSE VELOCITY (UPV TEST) PADA MUTU BETON K 350 MENGGUNAKAN BETON SISA PENGUJIAN SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT KASAR

    No full text
    One of the efforts to reduce the exploitation of natural rock as a constituent material for concrete is to utilize the concrete left over from the test. The test waste concrete used is leftover concrete or waste from laboratory test results as a substitute for coarse aggregates in the manufacture of new concrete. The purpose of this study is to determine the effect of using the residual concrete of the test as a substitution of coarse aggregates in the concrete mixture against the values of compressive strength and density through the ultrasonic pulse velocity (UPV) test. The research method used in this study is an experimental method by testing the compressive strength of concrete and testing ultrasonic pulse velocity (UPV test). From the test results, the average compressive strength of mixed concrete left over from the test experienced an increase in concrete compressive strength at a variation of 25% by 25.3 MPa, 35% by 26.7 MPa, and 50% by 28.6 MPa, but did not exceed normal concrete by 30.6 MPa. Meanwhile, the results of ultrasonic pulse velocity (UPV) testing experienced an increase in the average rapid propagation of 25% variation waves by 4034.0 m/s, 35% by 4413.7 m/s, 50% by 4589.3 m/s, and normal concrete by 4534.3 m/s. So the higher the compressive strength value of concrete, the higher the UPV test results will be.Salah satu upaya untuk mengurangi eksploitasi batuan alam sebagai bahan penyusun beton adalah memanfaatkan beton sisa pengujian. Beton sisa pengujian yang digunakan adalah beton sisa atau limbah dari hasil pengujian laboratorium sebagai pengganti agregat kasar dalam pembuatan beton baru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari penggunaan beton sisa pengujian sebagai substitusi agregat kasar dalam campuran beton terhadap nilai kuat tekan dan kepadatan melalui uji ultrasonic pulse velocity (UPV). Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimental dengan melakukan pengujian kuat tekan beton dan pengujian ultrasonic pulse velocity (UPV test). Dari hasil pengujian kuat tekan rata-rata beton campuran sisa pengujian mengalami peningkatan kuat tekan beton pada variasi 25% sebesar 25.3 MPa, 35% sebesar 26.7 MPa, dan 50% sebesar 28.6 MPa, akan tetapi tidak melebihi beton normal sebesar 30.6 MPa. Sedangkan hasil pengujian ultrasonic pulse velocity (UPV) mengalami peningkatan pada rata-rata cepat rambat gelombang variasi 25% sebesar 4034.0 m/s, 35% sebesar 4413.7 MPa, 50% sebesar 4589.3 m/s, serta beton normal nya sebesar 4534.3 m/s. Jadi semakin tinggi nilai kuat tekan beton maka akan semakin tinggi juga hasil pengujian UPV

    0

    full texts

    211

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇