PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
Not a member yet
211 research outputs found
Sort by
KAJIAN EFEKTIVITAS SUMUR RESAPAN DI KECAMATAN DENPASAR BARAT
West Denpasar District is a densely populated area with 206,958 people. One of the environmental problems that occur is the frequent occurrence of floods due to the increase in residential areas. One way to overcome this is to build infiltration wells to reduce flood risk, reducing flood volume and discharge. The methods used are descriptive and quantitative. The analysis is carried out by describing the conditions of the study site, then continues with mapping analysis, hydrological analysis, infiltration well analysis, and effectiveness analysis. The analysis results stated that the peak discharge of the 50-year-old flood at the study site was 268. 90 m3/sec. Furthermore, the results of the planning analysis of the application of infiltration wells carried out in the West Denpasar District area, which is included in the Badung River Basin, can reduce flood discharge up to 41. 25%, and for flood runoff, volumes up to 51. 38%. Based on these results, it can be interpreted that infiltration wells have a role in reducing the risk of flood disasters in the West Denpasar District.Kecamatan Denpasar Barat merupakan daerah padat penduduk dengan jumlah 206,958 jiwa. Salah satu masalah lingkungan yang terjadi adalah sering terjadinya banjir akibat bertambahnya daerah pemukiman. Salah satu cara penanggulangannya adalah dengan membangun sumur resapan sebagai usaha untuk mengurangi risiko banjir baik dalam hal penurunan volume banjir dan debit banjir. Metode yang digunakan adalah deskriptif dan kuantitatif, analisis yang dilakukan melalui cara mendeskripsikan kondisi lokasi studi kemudian dilanjutkan dengan analisis pemetaan, analisis hidrologi, analisis sumur resapan, dan yang terakhir adalah analisis efektivitas. Hasil analisis menyebutkan bahwa debit puncak banjir kala ulang 50 tahun di lokasi studi adalah 268.90 m3/detik. Selanjutnya, hasil analisis perencanaan penerapan sumur resapan yang dilakukan pada wilayah Kecamatan Denpasar Barat yang masuk dalam Daerah Aliran Sungai Badung dapat menurunkan debit banjir sampai dengan 41.25%, dan untuk volume limpasan banjir sampai 51.38%. Berdasarkan hasil tersebut, dapat diartikan bahwa sumur resapan memiliki peran dalam upaya penurunan risiko bencana banjir di Kecamatan Denpasar Barat
Pengujian validitas konstruk berbagi pengetahuan pada tim proyek DB
The variable or construct of sharing knowledge is a multidimensional construct. The aim of this research is to test the validity and reliability of the indicators forming the knowledge sharing construct by conducting confirmatory factor analysis (CFA). The knowledge sharing construct is measured using 2 (two) dimensions, namely the tacit knowledge sharing dimension and the explicit knowledge sharing dimension, with 14 (fourteen) indicators that are in accordance with theoretical studies. Factors that influence tacit knowledge sharing and explicit knowledge sharing are analyzed based on field data collected from distributing 120 questionnaires to 40 DB projects in several cities in Indonesia. From the outer loading results, it can be seen that all construct indicators are valid where the resulting t-statistics value is > 1.96. Then from the results of the path coefficients, all first order constructs have a significant effect on the second order construct of knowledge sharing where the resulting t-statistics value for all first order constructs is > 1.96. This means that the knowledge sharing instrument developed has good construct validity and has a high internal consistency reliability coefficient.Variabel atau konstruk berbagi pengetahuna merupakan konstruk multidimensional. Tujuan penelitian ini untuk menguji validitas dan reliabilitas dari indikator-indikator pembentuk konstruk berbagi pengetahuan dengan melakukan analisis faktor konfirmatori (CFA). Konstruk berbagi pengetahuan diukur dengan 2 (dua) dimensi yaitu dimensi berbagi pengetahuan diam-diam dan dimensi berbagi pengetahuan secara ekplisit, dengan 14 (empat belas) indikator yang sesuai dengan kajian teoritis. Faktor yang berpengaruh terhadap berbagi pengetahuan diam-diam dan berbagi pengetahuan secara ekplisit dianalisis berdasar data lapangan yang dikumpulkan dari penyebaran 120 kuesioner pada 40 proyek DB di beberapa kota di Indonesia. Dari hasil outer loading, dapat dilihat bahwa semua indikator konstruk valid dimana nilai t-statistics yang dihasilkan > 1.96. Kemudian dari hasil path coefficients, bahwa semua first order konstruk berpengaruh signifikan terhadap second order konstruk berbagi pengetahuan dimana nilai t-statistics yang dihasilkan untuk semua first order konstruk > 1.96. Hal ini berarti bahwa instrumen berbagi pengetahuan yang dikembangkan memiliki validitas konstruk yang baik dan memiliki koefisien reliabilitas konsistensi internal yang tinggi
Analisis kapasitas box culvert existing pada pengembangan Bandar Udara Rendani Provinsi Papua Barat
Airports serve as transportation facilities that can assist in mobilization and provide access to and from a region. In the context of the development of Rendani Airport in Manokwari, West Papua, an extension of the runway is being carried out. The use of a box culvert as a river channel and foundation for the runway must have sufficient capacity, as it is directly related to the safety of activities at the airport. Therefore, this study aims to calculate the planned flood discharge of the channel to determine the capacity of the installed box culvert. Furthermore, it aims to determine the minimum safe dimensions for the box culvert and assess the safety of the installed dimensions. The analysis used to solve this problem includes frequency distribution analysis, rainfall intensity analysis, the analysis of the runoff coefficient of the catchment area, calculation of the planned flood discharge, and an evaluation of the dimensions of the box culvert. The results of the calculation show that the capacity of the installed box culvert dimensions is 438.4 m³/s, and the planned flood discharge capacity for a 100-year return period is 215.26 m³/s. It can be concluded that the capacity of the installed dimensions is sufficient to meet the planned discharge. Therefore, the minimum existing box size that can be used is 3.1 m x 7 m.Bandar udara merupakan sarana trasportasi yang dapat membantu mobilisasi serta menjadi akses keluar masuk ke suatu daerah. Dalam rangka pengembangan Bandar Udara Rendani Manokwari Papua Barat, maka dilakukan perpanjangan landas pacu. Penggunaan box culvert sebagai saluran sungai dan pondasi bagi landas pacu harus memiliki kapasitas yang cukup karena berkaitan langsung dengan keamanan aktivitas pada bandar udara. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menghitung debit banjir rencana saluran agar dapat mengetahui kapasitas box culvert terpasang. Selanjutnya untuk dapat menentukan dimensi minimal box culvert yang paling aman untuk digunakan serta mengetahui keamanan dimensi box terpasang. Analisa yang digunakan untuk menyelesaikan masalah ini ialah analisa distribusi frekuensi, intensitas hujan, analisa koefisien limpasan daerah tangkapan, menghitung debit banjir rencana dan melakukan evaluasi dimensi box culvert. Hasil perhitungan, kapasitas dari dimensi box culvert terpasang adalah 438.4 m3/s serta kapasitas debit rencana untuk masa ulang 100 tahun adalah 215.26 m3/s, sehingga dapat disimpulkan bahwa kapasitas dimensi terpasang mampu memenuhi debit rencana. Maka ukuran box existing paling minimum yang dapat digunakan adalah 3.1 m x 7 m
Model dekonstruksi bangunan berkelanjutan berbasis “reverse 4D BIMâ€
Indonesia's increasing population and limited land have made the need for shelter, workplaces, and vertical buildings increase. As a consequence, buildings that have exceeded their service life, have changed their function, have been damaged by a disaster, and are not fit for function need to be demolished. Demolition needs special attention because the process requires complex planning, is hidden, carries high risks, and generates more than 40% of the total solid waste in developing countries. In Indonesia in particular, deconstruction has not been carried out by many demolition service providers. The government does not yet have comprehensive regulations for sustainable building demolition. This study aims to propose a sustainable demolition model by prioritizing the conservation of demolition waste material. In this study, the "reverse 4D BIM" technology is used to visualize the sequencing of the demolition process and predict the type, volume, and scheduling of disposal of demolition waste. The predicted results of demolition waste are then classified for their use using reduce, reuse, and recycle (3R) concept to maximize the sustainability of the demolition process and the circular economy. To implement this model, a 4D BIM-based building simulation is used. The simulation results show that the proposed model is effective and can be implemented for sustainable building demolition.Pertambahan penduduk Indonesia dan lahan yang terbatas membuat kebutuhan akan tempat tinggal, tempat bekerja dan bangunan vertikal meningkat. Konsekuensinya, bangunan-bangunan yang sudah melebihi masa layan, terjadi perubahan fungsi, rusak akibat bencana dan tidak layak fungsi, perlu dilakukan pembongkaran (demolisi). Demolisi perlu menjadi perhatian khusus karena proses membutuhkan perencanaan yang kompleks, pembongkaran yang selektif, memiliki risiko tinggi dan menghasilkan limbah bongkaran lebih dari 40% dari total limbah padat di negara berkembang. Di Indonesia khususnya, demolisi yang berkelanjutan (dekonstruksi) belum banyak dilaksanakan oleh penyedia jasa demolisi. Pemerintahpun belum memiliki aturan yang komprehensif untuk demolisi bangunan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan model demolisi berkelanjutan, dengan mengutamakan aspek konservasi material limbah bongkaran. Dalam penelitian ini, teknologi "Reverse 4D BIM†digunakan untuk visualisasi sequencing proses demolisi, memprediksi jenis, volume dan penjadwalan pembuangan limbah sisa bongkaran. Hasil prediksi limbah demolisi kemudian diklasifikasikan pemanfaatannya menggunakan konsep reduce, reuse dan recycle (3R) untuk mengakomodasi proses demolisi berkelanjutan dan circular economy. Untuk mengimplementasikan model ini, digunakan simulasi 4D BIM pada bangunan gedung studi kasus. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model yang diusulkan efektif dan dapat diimplementasikan untuk pelaksanaan demolisi bangunan yang berkelanjutan
PEMODELAN PENURUNAN TANAH DI IBU KOTA NEGARA NUSANTARA MENGGUNAKAN ANALISIS NUMERIK METODE ELEMEN HINGGA LISA V.8
The IKN area is dominated by hilly areas and broad plains, Seeing the various soil characteristics and varying land elevations, disasters such as landslides and land subsidence often occur. This study validates the results of LISA against a geotechnical analysis program that is very often used and specifically for geotechnical software. It is hoped that the results of this study can contribute to the geotechnical world, especially to become a new treasure using the finite element method LISA. Forr the point of view the settlement that occurs is 0.0623 meters, where at analysis using geotechnical software, the settlement that occurs at the same point in the review is 0.0633 meters, there is an insignificant difference with a ratio of 1.016 from the results of the geotechnical software with the results of LISA V.8 FEA.Wilayah IKN didominasi oleh daerah perbukitan dan dataran yang luas, Melihat karakteristik tanah yang beragam dan elevasi tanah yang bervariasi, sering terjadi bencana seperti tanah longsor dan penurunan muka tanah. Penelitian ini melakukan validasi hasil LISA terhadap program analisis geoteknik yang sangat sering digunakan dan khusus untuk perangkat lunak geoteknik. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangsih bagi dunia geoteknik khususnya menjadi khazanah baru dengan menggunakan metode elemen hingga LISA V.8 FEA. Untuk sudut penurunan yang terjadi adalah 0.0623 meter, dimana pada analisis menggunakan software geoteknik Geostudio Sigma/W , penurunan yang terjadi pada titik yang sama pada tinjauan adalah 0.0633 meter, terdapat perbedaan yang tidak signifikan dengan rasio 1.016 dari hasil software geoteknik Geostudio Sigma/W dengan hasil LISA V.8 FEA
ANALISIS KEKUATAN ATAP KUBAH DENGAN STRUKTUR RANGKA KAYU KELAPA
The dome roof truss structure with coconut wood is an innovation initiated by CV. Bali Mandala on one of their projects located in Hawaii. Where the main material uses coconut wood which has been treated first to increase termite and fire resistance. This dome roof has a unique floral patterned truss structure, because of this unusual shape of the structure, so to ensure that the structure is safe and can be marketed widely, it is necessary to complete a feasibility test. The limited facilities for direct wind load testing are the reasons why analysis with three-dimensional (3D) computer modeling is needed. To be able to obtain the appropriate structural behavior between reality and the 3D model, validation was carried out by trial and error on the elasticity of the wood to obtain the appropriate deformation between the structure in the field and the 3D model. The validated 3D model is provided with roof loads, wind and snow loads following ASCE 7-22 provisions for the Hawaii area. From the combination of service load (D+Lr) the maximum deformation is 20.7 mm while the maximum allowable deflection is 30 mm. The tensile, compressive, shear, and flexural capacity of wooden elements, is checked based on the Allowable Stress Design Method (ASD) SNI 7973: 2013, where the compressive, tensile, shear, and flexural stresses due to the load are smaller than the allowable stress. So, from the results of stress control and deflection which are still below the limit value, it can be said that the dome roof with the coconut wood frame structure is safe and can be applied.Struktur atap kubah dengan kayu kelapa merupakan inovasi baru yang dicetuskan oleh CV. Bali Mandala pada salah satu projek mereka yang berlokasi di Hawaii. Dimana material utama menggunakan kayu kelapa yang telah di treatment terlebih dahulu untuk meningkatkan ketahanan rayap dan api. Atap kubah ini memiliki struktur yang unik yaitu barupa rangka bermotif bunga, karena bentuk struktur yang tidak umum, maka untuk memastikan bahwa struktur aman dan dapat dipasarkan secara luas perlu dilakukan uji kelayakan. Keterbatasan fasilitas untuk uji beban angin secara langsung menjadi alasan diperlukan analisis dengan pemodelan tiga dimensi (3D) pada komputer. Untuk bisa memperoleh perilaku struktur yang sesuai antara kenyataan dan model 3D, maka dilakukan validasi dengan trial and error pada elastisitas kayu hingga memperoleh deformasi yang sesuai antara struktur di lapangan dan model 3D. Model 3D yang sudah tervalidasi diberikan beban atap, beban angin dan salju yang sesuai dengan ketentuan ASCE 7-22 untuk daerah Hawaii. Dari kombinasi beban layan (D+Lr) didapat deformasi maksimum sebesar 20.7 mm sedangkan lendutan maksimum yang dizinkan adalah 30 mm. Untuk kapasitas tarik, tekan, geser dan lentur elemen kayu dicek berdasarkan Metode Desain Tegangan Izin (DTI) SNI 7973:2013, dimana tegangan tekan, tarik, geser dan lentur akibat beban lebih kecil dari tegangan izinnya. Sehingga dari hasil kontrol tegangan dan lendutan yang masih dibawah nilai batasnya, maka dapat dikatakan atap kubah dengan struktur rangka kayu kelapa aman dan dapat diaplikasikan
STUDI PERSEBARAN BANJIR MENGGUNAKAN SOFTWARE HEC-RAS 2D V6.2 HULU DAS WAY SEKAMPUNG (STUDI KASUS: SUNGAI WAY MINCANG)
The Way Mincang River, which is located in Pardasuka District, Pringsewu Regency, Lampung Province, is a periodic river whose flow often overflows during rainy season. The overflow of the Way Mincang River inundated several Pekon in Pardasuka District including the Pekon Tanjung Rusia, Tanjung Rusia Timur, Sukanegeri, Pardasuka and Kedaung. The aim of research to determine the flood discharge with a return period of 10, 25 and 50 years in 2 dimensions with the HEC-RAS v6.2 software, so that the water level and the area of flood-prone distribution in Way Mincang River can be identified. The research location is in Way Mincang Watershed with the downstream of river at coordinates 104.92 BT and -5.50 LS while the upstream of river at coordinates 104.92 BT and -5.57 LS with a river length of 10.29 km, average river width of 15 m-20 m and the study area 2371.34 Ha. The results of analysis show that discharge at periods of 10 years, 25 years and 50 years is 50.29 m3/sec, 63.11 m3/sec and 72.61 m3/sec. The maximum flood water level is 1.88 m in Pekon Pardasuka Timur and the maximum flood area is 0.31 km2 in Pekon Kedaung. Along the Way Mincang watershed is a flood-prone area where the entire pekon (village) is flooded but the coverage area is relatively small, namely <1 km2. This is confirmed by the ratio of total flood inundation and total area of only 5.24%. It is hoped that results of research can be used as a reference for stakeholders in terms of planning and improving Way Mincang Watershed.Sungai Way Mincang yang berlokasi di Kecamatan Pardasuka Kabupaten Pringsewu Provinsi Lampung merupakan sungai periodik yang alirannya sering meluap saat musim penghujan. Luapan Sungai Way Mincang menggenangi beberapa Pekon di Kecamatan Pardasuka diantaranya yaitu Pekon Tanjung Rusia, Tanjung Rusia Timur, Sukanegeri, Pardasuka dan Kedaung. Tujuan penelitian menentukan debit banjir dengan periode ulang 10, 25, dan 50 tahun secara 2 dimensi dengan software HEC-RAS v6.2, sehingga tinggi muka air dan luasan daerah sebaran rawan banjir pada Sungai Way Mincang dapat diidentifikasi. Lokasi penelitian berada pada DAS Way Mincang dengan hilir sungai berada di titik koordinat 104.92 BT dan -5.50 LS sedangkan hulu sungai berada di titik koordinat 104.92 BT dan -5.57 LS dengan panjang sungai 10.29 km, lebar rata-rata sungai 15 m-20 m serta luasan daerah penelitian sebesar 2371.34 Ha. Hasil analisis menunjukkan bahwa debit banjir pada periode ulang 10, 25 dan 50 tahun yaitu sebesar 50.29 m3/det, 63.11 m3/det dan 72.61 m3/det. Tinggi muka air banjir maksimal yaitu 1.88 m di Pekon Pardasuka Timur dan luas banjir maksimal yaitu 0.31 km2 di Pekon Kedaung. Sepanjang aliran DAS Way Mincang merupakan daerah rawan banjir dimana seluruh pekon (desa) mengalami kebanjiran akan tetapi cakupan luasannya relatif kecil yakni < 1 km2. Hal ini dipertegas pada rasio total genangan banjir dan luas wilayah hanya 5.24%. Diharapkan hasil penelitian dapat dijadikan referensi bagi pemangku kepentingan dalam hal perencanaan dan perbaikan DAS Way Mincang
STUDI KOMPARASI KINERJA GEDUNG BERTINGKAT SISTEM GANDA RANGKA PEMIKUL MOMEN KHUSUS DAN MENENGAH DI KOTA MANADO
Seismic designs for high-rise buildings in the city of Manado, are generally designed using a special reinforced concrete moment frames, but looking at the requirements of SNI 1726-2019 in the city of Manado with seismic design category D, multi-storey building plans can be designed using a dual systems with intermediate moment frames by paying attention to the building height limit of 48 meters. This study will compare the planning efficiency of a dual systems with intermediate moment frames to that of a dual systems with special moment frames in terms of dimensions, details of reinforcement and structural performance with a building height not exceeding 48 meters. The building simulation has a building length and width of 35 x 25 meters, then the height between floors is 4 meters with a building height of 16 meters (Low Rise Building/LRB), 32 meters (Middle Rise Building/MRB) and 48 meters (High Rise Building/HRB). The ratio of the longitudinal reinforcement area of the beam elements in the double system of intermediate moment frames is not more efficient than the double system of special moment bearing frames with the respective efficiency levels in the HRB, MRB and LRB models being -13.33%, -12.95% and -5.00%. Comparison of area of transverse reinforcement of column elements Double Intermediate Moment Resisting Frames are more efficient than Special Moment Bearing Double Systems with their respective efficiency levels in the HRB model. MRB and LRB is 18.35%. 19.47% and 34.68%. Comparison of structural performance in the Dual Intermediate Moment Resisting Frame system is more efficient than the Special Moment Resisting Double Frame System with an efficient rate of 22.85% for each model HRB, MRB and LRB. 20.95% and 12.63% in the X direction and 25.43%. 21.89% and 17.97% in the Y direction.Desain gempa pada bangunan bertingkat di Kota Manado, umumnya di desain memakai sistem rangka pemikul momen khusus, tetapi melihat dari persyaratan SNI 1726-2019 di kota Manado dengan kategori desain seismik D, perencanaan bangunan bertingkat bisa di desain menggunakan sistem ganda rangka pemikul momen menengah dengan memperhatikan batas tinggi bangunan yaitu 48 meter. Penelitian ini akan membandingan tingkat efisiensi perencanaan sistem ganda rangka pemikul momen menengah terhadap sistem ganda rangka pemikul momen khusus dari segi dimensi, detail penulangan serta kinerja struktur dengan ketinggian bangunan tidak melebihi 48 meter. Simulasi bangunan memiliki panjang dan lebar bangunan 35 x 25 meterkemudian tinggi antar lantai 4 meter dengan tinggi bangunan 16 meter (Low Rise Bulding/LRB), 32 meter (Middle Rise Bulding/MRB) dan 48 meter (High Rise Bulding/HRB). Perbandingan luas tulangan longitudinal elemen balok sistem ganda rangka pemikul momen menengah tidak lebih efisien daripada sistem ganda rangka pemikul momen khusus dengan tingkat efisien masing-masing pada model HRB, MRB dan LRB adalah -13.33%, -12.95% dan -5.00%. Perbandingan luas tulangan transversal elemen kolom Sistem Ganda Rangka Pemikul Momen Menengah lebih efisien daripada Sistem Ganda Rangka Pemikul Momen Khusus dengan tingkat efisien masing-masing pada model HRB. MRB dan LRB adalah 18.35%. 19.47% dan 34.68%. Perbandingan Kinerja Struktur pada Sistem Ganda Rangka Pemikul Momen Menengah lebih efisien daripada Sistem Ganda Rangka Pemikul Momen Khusus dengan tingkat efisien masing-masing pada model HRB, MRB dan LRB adalah 22.85%. 20.95% dan 12.63% pada arah X dan 25.43%. 21.89% dan 17.97% pada arah Y
RASIONALISASI JARINGAN STASIUN CURAH HUJAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI TUKAD MATI
The hydrological component is the main component in planning water infrastructure. The quality and quantity of rainfall data recorded at each rain post is the most crucial component in hydrological analysis, so it is necessary to analyze the rationalization of the rain station network to obtain an effective and efficient one. This research was conducted in the Tukad Mati Watershed, which has an area of 44,667 km2, with the length of the main river reaching 22,429 km, and there are six rain stations spread across the watershed. Rationalization analysis was carried out using two methods, namely the WMO (World Meteorological Organization) and Kagan-Rodda methods. The analysis using the WMO standard found that all rain stations were less than the minimum density. Meanwhile, from the results of the analysis using the Kagan-Rodda method with a smoothing error (Z1) of 9.069% and an interpolation error (Z3) of 7.989%, it is recommended that four selected rain stations out of six rain stations, namely Ngurah rain station, Sanglah rain station, Sading rain station, and Kapal rain station.Komponen hidrologi merupakan komponen utama dalam perencanaan infrastruktur keairan. Kualitas maupun kuantitas pencatatan data hujan pada setiap pos hujan menjadi komponen terpenting dalam analisis hidrologi, sehingga perlu dilakukan analisis rasionalisasi jaringan stasiun hujan dengan tujuan mendapatkan jaringan stasiun hujan efektif dan efisien. Penelitian ini dilakukan di DAS Tukad Mati yang memiliki luas wilayah 44.667 km2 dengan panjang sungai utama mencapai 22.429 km serta terdapat 6 stasiun hujan yang tersebar di DAS tersebut. Analisis rasionalisasi dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu metode WMO (World Meteorological Organization) dan Kagan-Rodda. Dari hasil analisis menggunakan standar WMO didapati keseluruhan stasiun hujan kurang dari kerapatan minimum. Sedangkan dari hasil analisis menggunakan metode Kagan-Rodda dengan kesalahan perataan (Z1) 9.069% dan kesalahan interpolasi (Z3) 7.989% direkomendasikan 4 stasiun hujan terpilih dari 6 stasiun hujan yakni stasiun hujan Ngurah, stasiun hujan Sanglah, stasiun hujan Sading, dan stasiun hujan Kapal
KERENTANAN PULAU SOPHIALOUSIA DI KABUPATEN LOMBOK BARAT TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN KONSEP PENANGANANNYA
Climate change due to increasing temperatures causes changes in sea conditions. Rising sea levels and increasing the occurrence of high waves are the impacts of climate change. This condition threatens the existence of small islands, including Indonesia. One of the islands that is vulnerable to this condition is Sophialousia Island which is the southern border of Indonesia and Australia. The vulnerability of Sophialousia Island was analyzed using the Integrated Coastal Vulneron ability Index (ICVI) and adding sea level rise parameters. The number of parameters reviewed are 7 (seven) parameters, namely the type of coastal slope, beach conditions, the percentage of coastal protection, storm events, rob events, sea level rise (SLR), and land use. CMS-Wave modelling is used for strategy simulation handling to reduce the risk of island vulnerability. The results of the vulnerability assessment by ICVI showed that Sophialousia Island was classified as high vulnerability due to climate change. So the recommended handling strategy is to build a floating breakwater and make a revetment. The floating breakwater reduces storm surges, and the revetment increases the island's elevation so it is resistant to SLR.Perubahan iklim yang terjadi akibat peningkatan suhu menyebabkan terjadinya perubahan kondisi laut. Peningkatan muka air laut serta peningkatan kejadian gelombang tinggi merupakan dampak akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengancam keberadaan pulau-pulau kecil di dunia termasuk Indonesia. Salah satu pulau yang rentan terhadap kondisi ini adalah Pulau Sophialousia yang merupakan batas sisi Selatan Indonesia dengan Australia. Kerentanan Pulau Sophialousia dianalisis dengan Integrated Coastal Vulnerability Index (ICVI) serta menambahkan parameter kenaikan muka air laut. Jumlah parameter yang ditinjau adalah 7 (tujuh) parameter yaitu tipe lereng pantai, kondisi pantai, persentase pengaman pantai, persentase kejadian badai, persentase kejadian rob, kenaikan muka air laut (SLR), dan penggunaan lahan.Pemodelan CMS-Wave digunakan untuk simulasi strategi penanganan sebagai upaya menurunkan resiko kerentanan pulau. Hasil penilaian kerentanan dengan ICVI menunjukkan Pulau Sophialousia tergolong kerentanan tinggi akibat perubahan iklim. Sehingga strategi penanganan yang direkomendasikan adalah dengan pembangunan floating breakwater serta pembuatan revetment. Floating breakwater berfungsi untuk mereduksi gelombang badai, dan revetment berfungsi untuk meningkatkan elevasi pulau sehingga tahan terhadap SLR