PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
Not a member yet
211 research outputs found
Sort by
PRODUKTIVITAS TRUCK CONCRETE PUMP DAN TRUCK MIXER PADA PEKERJAAN PENGECORAN BETON READY MIX
In determining the duration of a job, the things that need to be known are the volume of work and the productivity of the tool. Tool productivity depends on the capacity and cycle time of the tool. Generally the tool cycle time is set in minutes while tool productivity is calculated in production / hour. The need for heavy equipment, especially in foundry work, needs to pay attention to the number of equipment to be used so that the number of truck concrete pumps and truck mixers to be used can be balanced.
Based on this, the purpose of this study is to determine the productivity of construction equipment, especially truck concrete pumps and truck mixers in ready mix concrete casting jobs in accordance with the real conditions in the field.
The benefits of this research can be used as a thought contribution for educational institutions in developing and applying knowledge about the productivity of construction equipment in ready mix concrete casting jobs. In addition, providing input on the results of studies conducted as an effort to improve managerial understanding in the construction world for contractors, consultants and suppliers of ready mix concrete in the management of construction projects so as to increase competitive advantage.
Data analysis method was carried out after the data collection in the field was obtained, then the analysis was carried out by performing direct calculations for cycle times for each activity of truck concrete pumps and truck mixers. Calculate the productivity of truck concrete pumps and truck mixers. Furthermore, the production capacity of truck concrete pumps and truck mixers is calculated. Calculating the duration of truck concrete pumps and determining the cost of using truck concrete pumps and truck mixers per hour.
Based on the research, truck concrete pump productivity obtained was 0.521m³ / minute while the productivity of the truck mixer was 0.835 m³ / minute. This productivity was determined by cycle time, equipment conditions, work area conditions, work methods, work volume. The duration required by truck concrete pump to complete the ready mix concrete casting work on plates and beams with a volume of 65 m³ is 2,079 hours while the duration required by the truck mixer is 1,297 hours. The total truck concrete pump cost after being analyzed was obtained at IDR.376,765,212.00 while the total truck mixer cost was IDR. 4,583,876,132.00
PENJADWALAN KEMBALI WAKTU PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI PADA PEMBANGUNAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN
Jarang ditemui suatu keadaan diamana suatu rencana schedule (jadwal) dapat tepat dengan pelaksanaan di lapangan. Untuk dapat mencapai kondisi demikian dibutuhkan suatu perencanaan yang amat cermat dan didukung oleh faktor luar (alam), supaya hal tersebut dapat dicapai. Untuk itu pelaksanaan proyek harus dipercepat agar selesai sesuai dengan waktu rencana. Dalam percepatan waktu pelaksanaan proyek diperlukan waktu normal dan biaya normal. Waktu normal dan biaya normal dapat diketahui dari hasil perencanaan penjadwalan kembali waktu dan biaya pelaksanaannya.
Tujuan dari Perencanaan kembali waktu Pelaksanaan Proyek Konstruksi pada Pembangunan Bangunan Atas Jembatan Beton adalah untuk dapat mengetahui berapa waktu dan Biaya yang diperlukan dari hasil Kontrol (Check). Manfaatnya adalah sebagai dasar mengambil keputusan atau tindakan (Action) agar proyek dapat dilaksanakan sesuai perencanaan.
Waktu pelaksanaan semula adalah 91 hari, sedangkan setelah dilakukan evaluasi pada minggu ke 8 (pada hari ke 56), sehinga sisa waktu pelaksanaan masih 35 hari. Setelah dilakukan penjadwalan kembali untuk waktu pelaksanaan, maka wakktu pelaksanaan menjadi 112 hari, ini berati waktu pelaksanaan bertambah menjadi 21 hari. Jadi sisa waktu pelaksanaan keseluruhan adalah 56 hari.
Sisa biaya pelaksanaan terhadap kontrak setelah dilakukan evaluasi adalah Rp. 763.250.827,29. Setelah dilakukan penjadwalan kembali biaya pelaksanaan menjadi Rp. 3.444.279.379,50, ini berarti biaya pelaksanaan bertambah sebesar Rp. 742.445.829,50. Jadi biaya yang tersedia atau biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan sisa volume pekerjaan adalah Rp. 1.505.696.656,7
IMPLEMENTASI METODE PELAKSANAAN PADA PEKERJAAN STRUKTUR TANGGUL SUNGAI
Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu (bangunan/konstruksi) dalam batasan waktu, biaya dan mutu tertentu. Proyek konstruksi selalu memerlukan resources (sumber daya) yaitu man (manusia), material (bahan bangunan), machine (peralatan), method (metode pelaksanaan), money (uang), information (informasi), dan time (waktu). Metode pelaksanaan pekerjaan merupakan urutan pelaksanaan pekerjaan yang logis dan teknik sehubungan dengan tersedianya sumber daya yang dibutuhkan dan kondisi medan kerja, guna memperoleh cara pelaksanaan yang efektif dan efisien. Tanggul adalah suatu konstruksi yang dibuat untuk mencegah banjir di dataran yang dilindungi. Dalam pelaksanaan kegiatan ini perlu dibuat penjabaran tata cara dan teknik-teknik pelaksanaan pekerjaan yang merupakan inti dari seluruh kegiatan dalam sistem manajemen konstruksi. Untuk itu menarik dilakukan kajian tentang penerapan metode pelaksanaan pembuatan tanggul sungai sepanjang alur Tukad Mati bagian tengah. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mengimplementasikan metode pelaksanaan pembuatan tanggul sepanjang alur Tukad Mati bagian tengah. Manfaat yang didapat dari kajian ini adalah meningkatkan pemahaman tentang penerapan teori metode pelaksanaan pembuatan tanggul sepanjang alur sungai. Sebagai sumbangan pemikiran bagi institusi pendidikan dalam mengembangkan dan menerapkan pengetahuan tentang metode pelaksanaan pembuatan tanggul, penataan alur sungai, dan normalisasi sedimentasi. Berdasarkan hasil kajian bahwa, pekerjaan galian tanah pada pekerjaan pembuatan tanggul menggunakan excavator sebagai alat gali utama. Material hasil galian diletakkan dipinggir galian pondasi dan nantinya hasil galian berguna sebagai kistdam. Kistdam terdiri dari hasil galian, anyaman bambu, dan turap bambu. Kistdam dipasang pada setiap segmen dimana setiap segmen panjangnya 12m. Sedangkan turap bambu dipasang dengan jarak 10-15 cm. Pekerjaan bekisting tanggul dilakukan dalam 4 tahap. Pekerjaan perancah dilaksanakan sebanyak 2 tahap. Pekerjaan pengecoran menggunakan beton readymix K-300 dengan pengaturan penempatan truck mixer dengan pompa kodok
MODEL KEBUTUHAN PENGOPERASIAN ANGKUTAN ANTAR JEMPUT (CARPOOLING) BAGI SISWA SEKOLAH DI KOTA DENPASAR
Based on previous research, it is necessary to do further research to get the linkages between various variables that influence the need for operation of this shuttle transportation, by taking the title "Model of Operation Needs of Shuttle (Carpooling) for School Students in the City of Denpasar", where in this study the transport demand variable modeled is the relationship between the interest of parents of students using school shuttle as a dependent variable and tariff variable, capacity and travel time as a free variable.
The data and information that you want to know from the survey on the respondent is to determine the interest in using school shuttle, the weight of the tariff factor (X1), capacity (X2) and travel time (X3). The data and information obtained were then analyzed by the Regression method using the help of the SPSS program software.
This study provides an overview of the relationship model between interest-dependent variables (Y) using school shuttle transportation with tariff-free variables (X1), vehicle capacity (X2) and travel time (X3) as stated by the regression equation Y = 0.825 - 0.395X1 - 0.562X2 - 0.295X3 and the most dominant variable affecting the interest of parents of students to use shuttle (Carpooling) as a means of school transportation is the variable rate with an Exp (B) value of 1.43
DAMPAK GENANGAN AIR HUJAN TERHADAP KONDISI JALAN ANTASURA DI KECAMATAN DENPASAR TIMUR
Jalan-jalan di Kota Denpasar banyak memiliki daerah-daerah rawan terjadinya genangan, khususnya di Kecamatan Denpasar Timur. Daerah yang sering terjadi genangan pada musim hujan yaitu jalan Antasura. Genangan yang terjadi akibat adanya perubahan fungsi lahan dan berkurangnya daerah resapan, diperparah lagidengan kondisi saluran drainase yang kurang berfungsi dengan baik. Tingkat kerusakan jalan raya di Jalan Antasura cukup parah akibat curah hujan yang cukup tinggi dan didukung oleh faktor sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Kondisi jalan Antasurasaat ini bisa dikatagorikan, rusak sebab sepanjang jalan terjadi kerusakan. Jalan seperti lubang-lubang, pelepasan butiran, dan retak-retak. Kerusakan jalan yang terjadi disebabkan oleh padatnya kendaraan yang melintas di jalan Antasurayang lalulalang (berulang-ulang), kondisi muka air tanah yang tinggi, akibat dari salah pada waktu pelaksanaan, dan juga bisa akibat kesalahan perencanaan. Maka timbulah kerusakan jalan sebagai berikut: Lubang Pada Jalan, retak kulit buaya, Retak refleksi (reflection cracks) yaitu retak memanjang, melintang, diagonal, atau membentuk kotak
PERENCANAAN PERKERASAN PADA RUAS JALAN DARI SIMPANG JALAN GATOT SUBROTO BARAT SAMPAI SIMPANG JALAN GUNUNG SOPUTAN DENPASAR
Perencanaan Perkerasan Pada Ruas Jalan dari Simpang Jalan Gatot Subroto Barat Sampai Jalan Gunung Soputan bertujuan untuk mengetahui tebal lapis perkerasan sesuai dengan umur rencana yang di tetapkan dengan menggunakan dua macam lapis perkerasan yaitu perkerasan lentur dan perkerasan kaku beserta rencana anggaran biaya. Dalam perencanaan perkerasan ini menggunakan metode AASHTO 1993. Untuk mendapatkan hasil perencanaan yang maksimal maka dilakukan suatu analisa untuk mendapatkan tebal masing-masing perkerasan seperti tebal pada lapisan pondasi bawah, lapisan pondasi atas dan lapisan permukaan. Hasil dari perencanaan perkerasan pada ruas jalan dari simpang Jalan Gatot Subroto Barat sampai Jalan Gunung Soputan ini dengan lapis perkerasan lentur di dapat tebal sebesar 78 cm dengan hasil rencana anggaran biaya yang di dapat Rp.29,367,915,291.00. Pada perkerasan kaku di dapat tebal sebesar 46 cm dengan hasil rencana anggaran biaya yang di dapat Rp.50,115,799,352.00
PERENCANAAN BANGUNAN JETTY DARI BAHAN BRONJONG PADA MUARA TUKAD MELANGIT DI BANJAR TEGAL BESAR KABUPATEN KLUNGKUNG
Muara sungai di Bali banyak yang mengalami masalah seperti perubahan alur muara dan banyaknya sedimentasi pada mulut muara. Salah satunya adalah pada muara Tukad Melangit yang terletak di antara pantai Siyut dan Tegal Besar telah mengalami perubahan arah alur akibat perubahan arah gelombang dan penutupan mulut muara sungai oleh pasang surut dan debit sungai, dimana sepanjang lokasi ini merupakan daerah kosentrasi energi akibat gelombang yang mengakibatkan gerak sedimen yang terjadi pada muara Tukad Melangit yang cukup besar. Maka dari itu dilokasi ini akan direncanakan bangunan pengaman muara yaitu berupa jetty
PERENCANAAN PERKUATAN STRUKTUR GEDUNG SDN 4 MENGWI AKIBAT PENAMBAHAN LANTAI DENGAN FRP (FIBER REINFORCED POLYMER)
Bangunan existing gedung SDN 4 Mengwi terdiri dari 2 lantai, akan direncanakan penambahan 2 lantai ke atas yang bisa mengakibatkan struktur existing tidak mampu menahan beban yang sehingga dibutuhkan perkuatan struktur. Metode perkuatan struktur beton menggunakan FRP (Fiber Reinforced Polymer) jenis carbon (ultra high modulus) dengan kuat tarik sebesar 2200 MPa, tebal FRP sebesar 0.5 mm, lebar FRP yaitu 100 mm. Setelah penambahan 2 lantai ada beberapa elemen struktur yang tidak kuat menahan beban tambahan antara lain: kolom K1 sebanyak 21 batang, kolom K1’ sebanyak 14 batang, kolom K2 sebanyak 40 batang dan kolom K4 sebanyak 8 batangBangunan existing gedung SDN 4 Mengwi terdiri dari 2 lantai, akan direncanakan penambahan 2 lantai ke atas yang bisa mengakibatkan struktur existing tidak mampu menahan beban yang sehingga dibutuhkan perkuatan struktur. Metode perkuatan struktur beton menggunakan FRP (Fiber Reinforced Polymer) jenis carbon (ultra high modulus) dengan kuat tarik sebesar 2200 MPa, tebal FRP sebesar 0.5 mm, lebar FRP yaitu 100 mm. Setelah penambahan 2 lantai ada beberapa elemen struktur yang tidak kuat menahan beban tambahan antara lain: kolom K1 sebanyak 21 batang, kolom K1’ sebanyak 14 batang, kolom K2 sebanyak 40 batang dan kolom K4 sebanyak 8 batan
ANALISA PELAKSANAAN MANAJEMAN ASET INFRASTRUKTUR GEDUNG DEWI SARTIKA UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
ABSTRACT
Infrastructure asset management is implemented to encourage the optimization of managing public assets. Implementation of asset management in the public sector is said to be important enough to be a reference in the management of its assets. Infrastructure Assets Dewi Sartika Building as State Property that collapses to support the implementation of the existing lecture process. This paper is expected as an evaluation of Infrastructure Asset Management of Dewi Sartika Building at Jakarta State University by analyzing 13 asset management cycles that become the guidance of asset management ie Planning aspect; Procurement; Use; Utilization; Security and maintenance; Assessment; Alienation; Destruction; Removal; Administration; and coaching to optimize the building of Dewi Sartika as supporting activity in UNJ campus. This qualitative research uses descriptive methodology through interview technique with related parties with Dewi Sartika building as research object.
Keywords: asset management, building infrastructure, asset management aspect
ABSTRAK
Manajemen aset Infrastruktur dilaksanakan guna mendorong optimalisasi mengelola aset-aset publik. Penerapan manajemen aset di sektor publik dikatakan cukup penting menjadi acuan dalam pengelolaan asetnya. Aset Infrastruktur Gedung Dewi Sartika Sebagai Barang Milik Negara yang peruntuhkan untuk penunjang pelaksanaan proses perkuliahan yang ada. Tulisan ini diharapkan sebagai evaluasi Manajemen Aset Infrastruktur Gedung Dewi Sartika di Universitas Negeri Jakarta dengan menganalisisa 13 siklus manajemen aset yang menjadi pedoman pengelolaan aset yakni aspek Perencanaan; Pengadaan; Penggunaan; Pemanfaatan; Pengamanan dan pemeliharaan; Penilaian; Pemindahtanganan; Pemusnahan; Penghapusan; Penatausahaan; dan pembinaan guna optimalisasi gedung Dewi Sartika sebagai penunjang aktivitas di kampus UNJ. Penelitian Kualitatif ini menggunakan metodologi deskriptif melalui teknik wawancara dengan pihak-pihak terkait dengan gedung dewi sartika sebagai objek penelitian.
Kata kunci: manajemen aset, infrastruktur gedung, aspek manajemen ase
PERFORMANCE OF ASPHALT CONCRETE CONTAINING CRUSHED AND UNCRUSHED GRAVEL WITH HIGH FLAT-PARTICLE CONTENT
The aggregate shapes affect corresponding asphalt concrete performance. Asphalt concrete composed of more cubical, angular, and coarse-textured aggregates has higher performance than the one composed of elongated, flat, rounded, and smooth aggregates. Nevertheless, the available materials might be not perfect, for example, the materials might be the gravel with high flat-particle content. These gravels commonly are crushed to form angular and coarse-textured particles; however, the post-crushing products might be flatter, although the shapes become angular and coarse. No research has been found that compares the performance of asphalt concrete containing such aggregates. The objective of this study is to compare the performance of asphalt concrete containing high flat-particle content crushed gravel and the one containing high flat-particle content uncrushed gravel, in term of Marshall stability and Marshall durability. The Marshall method was used, in which, a total of 27 samples of asphalt concrete were tested. The result shows that the stability of asphalt concrete composed of crushed gravel with high flat-particle content is 38.8% better than the one composed of uncrushed gravel with high flat-particle content. In addition, the durability of the asphalt concrete composed of the crushed aggregate is 5.6% better than the one composed of the uncrushed aggregate.
Bentuk agregat mempengaruhi kinerja beton aspal. Beton aspal yang mengandung agregat yang menyerupai kubus, bersudut, dan bertekstur kasar memiliki kinerja lebih baik dibandingkan dengan beton aspal yang mengandung agregat yang relatif bulat, lonjong, pipih, dan bertekstur licin. Namun, agregat yang tersedia tidak selalu sempurna. Material yang tersedia terkadang dapat berupa kerikil dengan kandungan agregat pipih yang tinggi. Kerikil ini biasanya dipecah untuk menjadi agregat yang bersudut dan bertekstur kasar, namun setelah dipecah agregat dapat lebih pipih walaupun bentuknya bersudut dan teksturnya kasar. Sejauh ini, belum ditemukan penelitian yang membandingkan kinerja beton aspal yang mengandung kerikil dengan kandungan agregat pipih yang tinggi pada saat agregat belum dan sudah dipecah. Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan beton aspal yang mengandung kerikil yang dipecah dengan kepipihan yang tinggi dan beton aspal yang mengandung kerikil yang tidak dipecah juga dengan kandungan agregat pipih yang tinggi, dalam hal stabilitas dan durabilitas Marshall. Metode yang digunakan adalah Metode Marshall. Pada metode ini, total 27 benda uji dites. Hasil penelitian menunjukkan stabilitas beton aspal yang mengandung agregat yang dipecah adalah 38.8% lebih baik dibandingkan dengan beton aspal yang mengandung agregat yang tidak dipecah. Begitu juga, durabilitas beton aspal yang mengandung agregat yang dipecah 5.6% lebih baik daripada beton aspal yang mengandung agregat yang tidak dipecah