PADURAKSA: Jurnal Teknik Sipil Universitas Warmadewa
Not a member yet
211 research outputs found
Sort by
Studi kelayakan pembangunan guest house (studi kasus: Guest House A)
The economic growth in the City of Madiun, which is showing good development, has led to an increase in Guest House entrepreneurs. One of these is the construction of Guest House A. This construction project can create opportunities for local workforce absorption and help boost the economy. This project needs to be reviewed to ensure that it is feasible, profitable, and sustainable in the long term, thus assisting investors in risk management and making informed decisions in running their business. To determine if the investment is considered feasible, an economic feasibility study needs to be conducted, considering several indicators such as Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (BCR), Internal Rate of Return (IRR), and Payback Period (PBP). The first step is to conduct a literature study, then directly contact the parties involved in the construction to obtain accurate data, categorize revenue and costs, and observe the prevailing bank interest rates, followed by analysis using the established indicators. The calculations yielded an NPV of 1,053,103,006.39, an IRR of 12.88%, a BCR of 1.16, and a PBP of 10.93 years. The analysis results showed that the NPV is greater than zero, the IRR is higher than the MARR, and the BCR is greater than one, concluding that the investment can proceed. This study allows civil engineers to plan projects more thoroughly, considering financial aspects, market needs, and risks, thereby assisting in designing more realistic projects. Optimization of design and materials that consider cost and benefits can help in selecting effective solutions in terms of cost and sustainability.Pertumbuhan perkonomian di Kota Madiun yang menunjukkan perkembangan yang baik membuat para pengusaha Guest House mulai mengalami peningkatan. Salah satunya diantaranya pembangunan Guest House A. Pembangunan tersebut dapat membuka peluang dalam penyerapan tenaga kerja lokal serta membantu peningkatan perekonomian. Pembangunan proyek ini perlu dikaji agar memastikan bahwa proyek layak untuk dikerjakan, menguntungkan dan berkelanjutan dalam jangka panjang sehingga membantu investor dalam melakukan pengelolaan resiko dan pengambilan keputusan yang tepat dalam menajalankan usahanya. Untuk mengetahui bahwa investasi tersebut dikatakan layak maka perlu dilakukan analisis studi kelayaan yang ditinjau dari segi ekononomi dengan mempertimbangkan beberapa indikator diantaranya adalah nilai Net Present Value, Net Benefit Cost Ratio, Internal Rate of Return serta Pay Back Period. Langkah pertama melakukan studi literatur kemudian melakukan kontak langsung terhadap pihak yang terkait dalam pembangunan tersebut untuk mendapatkan data yang akurat, mengkategorikan pendapatan dan biaya serta melakukan pengamatan bunga bank yang berlaku dilanjutkan dengan melakukan analisis dengan menggunakan indikator yang telah ditetapkan. Dari perhitungan yang telah dilakukan diperoleh nilai NPV sebesar 1,053,103,006.39 Internal Rate of Return 12.88%, Benefit of Cost 1.16, dengan Payback Period 10.93 Tahun. Hasil analisis yang ada diperoleh bahwa NPV lebih dari nol dan nilai IRR lebih besar dari nilai MARR, serta nilai B/C lebih besar dari satu dengan ini indkator yang ada menyimpulkan bahwa investasi dapat dilanjutkan. Dengan adanya kajian ini memungkinkan para insinyur sipil untuk melakukan perencanaan proyek dengan lebih matang yang memeperhatikan aspek finansial, kebutuhan pasar dan resiko sehingga membatu dalam melakukan perancangan proyek yang lebih realistis. Optimalisasi desain dan matrial yang mempertimbangkan biaya serta manfaat dapat membantu dalam melakukan pemilihan solusi yang efektif dari segi biaya dan keberlanjutan
Analisis kinerja simpang empat Jl. Andi Tonro – Jl. Pacalaya – Jl. Abdul Rasyid Dg. Lurang
In Gowa Regency, near the border of Makassar City, there is an intersection of Jl. Andi Tonro - Jl. Pacalaya - Jl. Abdul Rasyid Dg. Lurang. The major road, Jl. Andi Tonro, is a 2/1 road, channeling traffic from Maros district towards Makassar. The minor roads, Jl. Pacalaya and Jl. Abdul Rasyid Dg. Lurang, only 4.5m wide, road type 2/2 TT respectively. The light-controlled, unsignalized intersection is heavily traveled by motorcycles Motorcyclists from the minor roads often scramble for road space on the major roads, creating extra conflicts at the intersection. The proportion of motorcycles to the total traffic flow of the entire intersection is 0.815. This study aims to determine the degree of saturation value that describes the performance of the studied intersection. The analysis of peak intersection traffic flow, intersection capacity, and degree of saturation values refers to the 2014 Indonesian Road Capacity Guidelines. Even though it is on the border of the city, the traffic behavior through this intersection still shows the characteristics of urban traffic, namely weekly periodic repetitive traffic flow patterns. Therefore, traffic surveys were conducted on Monday, Wednesday representing the normal weekday population: Monday through Thursday and the Saturday survey represents weekend days. Traffic flows entering the intersection site from the three arms were videoed with cameras. Each arm was captured with one camera. Traffic data from each arm per direction of movement per vehicle type was enumerated from the video recordings. The results of data processing were analyzed and obtained the afternoon peak traffic flow represented by weekday traffic. Degree of saturation (Dj) = 0.64. Traffic flow is not saturated. Clutter comes from motorcycles that dominate the traffic flow with a proportion of 0.815 and contra flow violations. Actions to reduce chaos, namely adding signs prohibiting contra flow on Andi Tonro Street. Installation of CCTV cameras that highlight on all four arms. Accompanied by the implementation of Electronic Traffic Law Enforcement in Gowa Regency so that motorcyclists will be forced to be disciplined.Di Kabupaten Gowa, dekat perbatasan Kota Makassar, terdapat simpang empat Jl. Andi Tonro – Jl. Pacalaya – Jl. Abdul Rasyid Dg. Lurang. Jalan mayor Jl. Andi Tonro, tipe jalannya 2/1, menyalurkan lalu lintas dari Kabupaten Maros menuju Makassar. Jalan minor Jl. Pacalaya dan Jl. Abdul Rasyid Dg. Lurang, lebar jalannya hanya 4.5 m, tipe jalan masing-masing 2/2 TT. Simpang tanpa alat kontrol lampu dan tanpa rambu tersebut banyak dilalui sepeda motor Pengendara sepeda motor dari jalan-jalan minor sering berebut ruang jalan ke jalan mayor, hingga menimbulkan ekstra konflik pada simpang. Proporsi sepeda motor terhadap arus lalu lintas total keseluruhan simpang 0.815. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai derajat kejenuhan yang menggambarkan kinerja dari simpang yang diteliti. Analisis arus lalu lintas puncak simpang, kapasitas simpang, dan nilai derajat kejenuhan mengacu pada Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia 2014. Sekalipun pada perbatasan kota, perilaku lalu lintas yang melalui simpang ini masih memperlihatkan karakteristik lalu lintas perkotaan, yaitu pola arus lalu lintas berulang periodik mingguan. Sehingga survei lalu lintas dilaksanakan pada Senin, Rabu mewakili populasi hari kerja normal: Senin sampai Kamis dan survei Sabtu mewakili hari-hari akhir pekan. Arus lalu lintas yang masuk ke lokasi simpang dari tiga lengan divideokan dengan kamera. Tiap lengan disorot dengan satu kamera. Data lalu lintas dari tiap lengan per arah pergerakan per jenis kendaraan dicacah dari rekaman video. Hasil pengolahan data dianalisis dan diperoleh arus lalu lintas puncak sore hari yang diwakili lalu lintas hari kerja. Derajat kejenuhan (Dj) = 0.64. Arus lalu lintas belum jenuh. Kesemrawutan berasal dari sepeda motor yang mendominasi arus lalu lintas dengan proporsi 0.815 dan pelanggaran contra flow. Tindakan untuk menurunkan kesemrawutan, yaitu menambah rambu larangan contra flow pada Jalan Andi Tonro. Pemasangan kamera CCTV yang menyorot pada keempat-empat lengan. Disertai dengan penerapan Electronic Traffic Law Enforcement pada Kabupaten Gowa sehingga pengendara sepeda motor akan terpaksa disiplin.
 
EFEK PENGGUNAAN PASIR BATU APUNG SEBAGAI PENGGANTI SEBAGIAN AGREGAT HALUS PADA CAMPURAN BETON RINGAN
Lightweight concrete is obtained using pumice sand as a substitute for fine aggregate. The expected advantage of lightweight concrete is to reduce the self-weight of the concrete, which is a dead load on the structure. This study aims to determine the effect of using pumice sand on concrete volume weight, compressive and tensile strength. Research methods with testing in the laboratory. The test object used is cylindrical with a height of 30 cm and a diameter of 15 cm, according to SNI-03-1974. The coarse aggregate of pumice and the fine aggregate of pumice sand were sourced from the Dowora quarry on Tidore Island. Fine aggregate in control specimens using normal sand from the Kalumata quarry on Ternate Island. Using pumice sand as fine aggregate with a ratio of 75% normal sand, 20% pumice sand, 50% normal sand and 50% pumice sand, 25% normal sand and 75% pumice sand, and 100% pumice sand. Control test object using 100% normal sand. Each variation of the test object is ten pieces, so that the total test object is 50. The results of this study indicate that the volume weight decreased along with the addition of pumice sand weight into the concrete mixture. Therefore, If the volume of concrete produced is < 1900 kg/m3, the concrete is classified as lightweight. The resulting compressive strength of 56.63 kg/cm2 decreased to 81.10% of the control test object. The split tensile strength of concrete is 1.13 kg/cm2, or a decrease of 52.05% of the control test object. Based on the compressive and tensile strength, concrete is categorized as lightweight structural concrete as an insulator.Beton ringan diperoleh dengan penggunaan pasir batu apung sebagai substitusi agregat halus. Kelebihan yang diharapkan dari beton ringan adalah untuk mereduksi berat sendiri dari beton yang menjadi beban mati pada struktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu efek penggunaan pasir batu apung terhadap berat volume, kuat tekan dan kuat tarik beton. Metode penelitian dengan pengujian di laboratorium. Benda uji yang digunakan berbentuk silinder dengan tinggi 30 cm dan diameter 15 cm sesuai SNI-03-1974. Agregat kasar batu apung dan agregat halus pasir batu apung bersumber dari quarry Dowora di Pulau Tidore. Agregat halus pada benda uji kontrol menggunakan pasir normal dari quarry Kalumata di Pulau Ternate. Menggunakan pasir batu apung sebagai agregat halus dengan perbandingan 75% pasir normal 20% pasir apung, 50% pasir normal dan 50% pasir batu apung, 25% pasir normal dan 75% pasir batu apung, dan 100% pasir batu apung. Benda uji kontrol menggunakan 100% pasir normal. Tiap variasi benda uji berjumlah 10 buah sehingga total benda uji 50 buah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat volume mengalami penurunan seiring dengan penambahan berat pasir batu apung ke dalam campuran beton. Berat volume beton yang dihasilkan < 1900 kg/m3, maka beton tersebut digolongkan sebagai beton ringan. Kuat tekan dihasilkan 56.63 kg/cm2 penurunan terhadap benda uji kontrol sebesar 81.10%. Kuat Tarik belah beton sebesar 1.13 kg/cm2 atau penurunan terhadap benda uji kontrol 52.05%. Berdasarkan kuat tekan dan tarik maka beton dkategorikan sebagai beton struktural ringan sebagai isolator.
 
STABILITAS TANAH LEMPUNG DENGAN SERBUK CANGKANG KERANG TERHADAP NILAI KUAT GESER
Soil stability is one of the efforts to increase the carrying capacity of the soil. Clay soils with high plasticity have the potential to become problematic soils because they have low bearing strength and high shrinkage expansion. One of the methods to increase the bearing capacity is the stabilization of clay soil using Shellfish Powder. This study aims to determine the value of the shear strength of clay with the addition of shells powder. The land used is from Jalan Gunung Sari, District of Rumbai, Pekanbaru City. The research method used in this research is an experimental method. The experiment was carried out by mixing the original soil with clam shell powder with variations of a mixture of 0% 5%, 10%, 15% and 20% then the sample is tested using the Direct Shear tool, the method used is the Direct Shear Test (SNI 3420:2016). The results showed that the greater the variation of shell powder, the shear stress, cohesion and shear angle increased. The value of shear stress, cohesion and shear angle of the original soil obtained a shear stress value of 0.6218 kg/cm2, a cohesion value of 0.3478 kg/cm2, and a shear angle of 24.65°. The value of the highest shear stress, cohesion and shear angle at the addition of stability is 20% with a shear stress value of 0.6995 kg/cm2, a cohesion value of 0.3905 kg/cm2 and a shear angle of 27.30°. The conclusion of this research is the value of shear strength of clay with the addition of shells powder can increase the value of shear strength and bearing capacity of clay.Stabilitas tanah merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan kapasitas daya dukung tanah. Tanah lempung memiliki plastisitas tinggi berpotensi menjadi tanah yang bermasalah karena mempunyai kekuatan daya dukung rendah dan kembang susut yang tinggi. Salah satu metode untuk meningkatkan daya dukung adalah stabilisasi tanah lempung dengan menggunakan serbuk cangkang kerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai kuat geser tanah lempung dengan penambahan serbuk cangkang kerang. Tanah yang digunakan berasal dari jalan Gunung Sari, kecamatan Rumbai, kota Pekanbaru. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini metode eksperimental. Percobaan dilakukan dengan pencampuran tanah asli dengan serbuk cangkang kerang dengan variasi campuran 0% 5%, 10%, 15% dan 20% kemudian sampel diuji menggunakan alat direct shear (geser langsung) metode yang digunakan uji geser langsung SNI 3420:2016. Hasil penelitian didapatkan bahwa semakin besar variasi serbuk cangkang kerang maka tegangan geser, kohesi dan sudut geser semakin meningkat. Nilai tegangan geser, kohesi dan sudut geser tanah asli didapat nilai tegangan geser sebesar 0.6218 kg/cm2, nilai kohesi 0.3478 kg/cm2, dan sudut geser sebesar 24.65°. Nilai tegangan geser, kohesi dan sudut geser yang tertinggi pada penambahan stabilitas sebesar 20% dengan nilai tegangan geser 0.6995 kg/cm2 nilai kohesi 0.3905 kg/cm2 dan sudut geser sebesar 27.30°. Nilai kuat geser tanah lempung dengan penambahan serbuk cangkang kerang dapat meningkatkan nilai kuat geser dan daya dukung tanah lempung
PEMODELAN PERILAKU KESELAMATAN KERJA, HUKUMAN, DAN PENGHARGAAN PADA PROYEK HOTEL ASTON MOJOKERTO
Poor safety behaviour is the leading cause of workplace accidents. One form of dangerous worker behaviour often seen in construction projects is not using PPE and not working according to procedures which are the biggest causes of workplace accidents. Risky behaviour has an essential role in explaining the possibility of work accidents. Therefore, to suppress dangerous behaviour, it is necessary to provide a stimulus to reduce the accident rate. One form of stimulation is given to construction workers, namely reward and punishment. This study aims to analyze the effect of punishment and reward on safety behaviour in construction project work. The population in this study are workers in the Aston Mojokerto Hotel building construction project. While the respondents as a sample were carpenters and coolies, totalling 36 people. The sampling technique used was the purposive sampling method. The variable in this study is the variable of punishment, appreciation functions as the independent variable, while the dependent variable is work safety behaviour. Analysis using multiple linear regression. Retrieval of data using a questionnaire. The study results explain that the punishment and reward variables significantly relate to the work safety behaviour variable. Reward and punishment variables simultaneously positively affect work safety behaviour variables. In contrast, the partial influence of punishment variables does not significantly impact workplace safety behaviour. This research implies the need for management in the field to carry out rewards and punishments for workers to improve work safety behaviour.Buruknya perilaku keselamatan kerja merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja. Salah satu bentuk perilaku berbahaya pekerjayang sering terlihat di proyek konstruksi adalah tidak menggunakan APD dan bekerja tidak sesuai prosedur merupakan penyebab terbesar untuk terjadinya kecelakaan kerja. Perilaku berbahaya memiliki peran penting dalam menjelaskan kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Oleh karena itu, untuk menekan perilaku berbahaya perlu diberikan suatu rangsangan sehingga angka kecelakaan dapat diturunkan. Salah satu bentuk rangsangan yang diberikankepada pekerja konstruksi,yaitu memberikan suatu penghargaan dan hukuman. Tujuan pada penelitian ini menganalisis pengaruhhukuman dan penghargaan terhadap perilaku keselamatan kerja pada pekerjaan proyek konstruksi. Populasi di penelitian yaitu pekerja di proyek pembangunan gedung Hotel Aston Mojokerto. Sedangkan responden sebagai sampel adalah tukang dan kuli yang berjumlah 36 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling.Variabel di penelitian ini adalah variabel hukuman, pengahargaan berfungsi sebagai variabel bebas, sedangkan variabel terikatnya yaitu perilaku keselamatan kerja. Analisis menggunakan regresi linear berganda. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menjelaskan variabel hukuman dan penghargaan mempunyai hubungan signifikan dengan variabel perilaku keselamatan kerja. Variabel penghargaan dan hukuman secara simultanberpengaruh positif terhadap variabel perilaku keselamatan kerja, sedangkan pengaruh variabel hukuman secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku keselamatan kerja. Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya pihak manajemen di lapangan menjalankan adanya pemberian penghargaan dan hukuman kepada pekerja, sehingga perilaku keselamatan kerja menjadi lebih baik
Inovasi pembuatan panel dan batako berbahan serbuk kayu sebagai dinding rumah sederhana tahan gempa
The number of poor people in Indonesia in March 2021 was 27.54 million people. One indicator is that people do not yet have decent homes. The income of the poor is generally below average, resulting in difficulties in accessing housing loans from banks. All parties must contribute in helping the poor to have livable houses. Researchers innovate to make simple houses livable based on Appropriate Technology, namely technically meeting safety, economical and affordable, ergonomic according to occupant anthropometry, fulfilling socio-cultural standards so that they can be accepted by the community and are energy efficient and sustainable. The innovation of using panels or bricks from sawdust for the walls of a simple house with a size of 3 m x 6 m that was built according to Appropriate Technology methods meets feasibility. The maximum stress ratio of 0.534 occurs in the column and is smaller than the required 1.0. The maximum deviation that occurs at the top of the building is 5.91 mm and is smaller than 0.02 times the total height of the building, namely 0.02 times 4000 is 80 mm. Measurement of the intensity of natural lighting during the day obtained 338 Lux, room temperature obtained 25.56°C, air humidity (RH) 71.62%, and air movement 0.15 m/sec and noise 36.82 dB. The contribution of this research is to provide a new wall material solution for simple houses, namely walls made from panels and bricks made from wood powder.Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2021 sebesar 27.54 juta orang. Salah satu indikatornya adalah masyarakat belum memiliki rumah layak huni. Penghasilan masyarakat miskin pada umumnya berada di bawah rata-rata sehingga kesulitan dalam mengakses kredit perumahan dari perbankan. Semua pihak harus berkontribusi dalam membantu masyarakat miskin untuk memiliki rumah layak huni. Peneliti berinovasi untuk membuat rumah sederhana layak huni berbasis pada Teknologi Tepat Guna, yaitu secara teknis memenuhi keamanan, ekonomis dan terjangkau harganya, ergonomis sesuai dengan antrometri penghuni, memenuhi kaedah social budaya sehingga dapat diterima oleh masyarakat dan hemat energy serta berkelanjutan. Inovasi penggunaan panel atau batako dari serbuk gergaji kayu untuk dinding rumah sederhana dengan ukuran 3 m x 6 m yang dibangun sesuai kaedah teknologi tepat guna memenuhi kelayakan. Stress ratio maksimum sebesar 0.534 terjadi pada kolom dan lebih kecil dari yang disyaratkan yaitu 1.0. Simpangan maksimun yang terjadi pada puncak bangunan adalah sebesar 5.91 mm dan lebih kecil dari 0.02 kali tinggi total bangunan, yaitu 0.02 kali 4000 adalah 80 mm. Pengukuran intensitas pencahayaan alami di siang hari diperoleh 338 Lux, suhu ruangan diperoleh 25.56°C, kelembaban udara (RH) 71.62%, dan gerakan udara 0.15 m/detik serta kebisingan 36.82 dB. Kontrubusi dari penelitian ini adalah memberikan solusi bahan dinding baru untuk rumah sederhana yaitu dinding dari panel dan batako berbahan serbuk kayu
Analisa ketidakberaturan horizontal dan vertikal pada struktur gedung beton bertulang
The behavior of regular and irregular building structures in resisting earthquake loads will certainly be different, so structural modeling must be done in such a way as to form a safe structure. The building in this study is L-shaped with an area of 2079.52 m2 with 6 floors and 28 m of total height. Earthquake load modeling in this study uses the equivalent static analysis method and design spectrum response about SNI concrete 2847-2019 and SNI earthquake 1726-2019. This study aims to investigate the behavior of multilevel reinforced concrete structures that experience horizontal and vertical irregularities due to earthquake loads as seen from the displacement and drift ratios that occurs is based on the results of numerical analysis. Based on the results of research on the geometry of the structure with vertical irregularities, it shows that the structure does not have Type 1a, Type 1b, Type 2, Type 3, Type 4, Type 5a and Type 5b irregularities. Thus the structure can be planned without considering the requirements to satisfy vertical irregularities. The geometry of the structure with horizontal irregularities shows that the structure has no irregularities in Type 1a, Type 1b, Type 3, Type 4 and Type 5. Meanwhile in Type 2 the structure is stated to have irregular inside angles, so the design force of the diaphragm on the structure must be increased by 25% at the planning stage.Perilaku struktur gedung beraturan dan tidak beraturan dalam menahan beban gempa tentu akan berbeda, sehingga pemodelan struktur harus dilakukan sedemikian rupa guna berdirinya struktur yang aman. Bangunan Gedung pada penelitian ini berbentuk L dengan luas bangunan gedung 2079.52 m2 dengan jumlah 6 lantai dan tinggi mencapai 28 m. Pemodelan beban gempa pada penelitian ini menggunakan metode analisis statik ekuivalen dan respon spektrum desain dengan mengacu pada SNI beton 2847-2019 dan SNI gempa 1726-2019. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi perilaku struktur bertingkat beton bertulang yang memiliki ketidakberaturan horizontal dan vertikal akibat beban seismik dilihat dari displacement dan drift ratio yang terjadi berdasarkan hasil analisis numeris. Berdasarkan hasil penelitian geometri struktur secara ketidakberaturan vertikal menunjukkan bahwa struktur tidak memiliki ketidakberaturan Tipe 1a, Tipe 1b, Tipe 2, Tipe 3, Tipe 4, Tipe 5a dan Tipe 5b. Sehingga struktur dapat direncanakan tanpa mempertimbangkan persyaratan untuk dipenuhi pada ketidakberaturan vertikal. Sedangkan geometri struktur secara ketidakberaturan horizontal menunjukkan bahwa struktur tidak memiliki ketidakberaturan Tipe 1a, Tipe 1b, Tipe 3, Tipe 4 dan Tipe 5. Sedangkan pada Tipe 2 struktur dinyatakan memiliki ketidakberaturan sudut dalam, sehingga gaya desain diafragma pada struktur tersebut harus ditingkatkan 25% pada tahap perencanaannya
Analisis water footprint pada budidaya pakcoy dengan sistem irigasi bawah permukaan pocket fertigation
Limited water resource and the decrease in the plant productivity of the bok choy (Chinese white cabbage) causes the need for appropriate irrigation technology. Pocket fertigation, as an innovative irrigation technology, is develop from previous a ring irrigation system and it is expected to increase crop and water productivity. This study aims to analyze the water footprint of the bok choy plant using a pocket fertigation irrigation system with various scenarios, and to determine the optimal irrigation system. The research was conducted in April-June 2022 at Kinjiro Farm, Bogor City. The research steps included land preparation, data collection, data processing, and water footprint analysis. Irrigation scenario design is influenced by factors of pocket fertigation (P1) and conventional (P2) irrigation systems, as well as water supplied based onetime evaporation (A1) and two times evaporation rates. The total water footprint in scenarios P1A1, P2A1, P1A2, and P2A2 are 251.72 m3/ton, 231.56 m3/ton, 295.69 m3/ton and 222.16 m3/ton respectively with the highest irrigation efficiency occurs in the P2A1 scenario, so further development of pocket fertigation is needed to minimize the water footprint and increase water productivity.Keterbatasan ketersediaan air dan penurunan produktivitas tanaman sawi pakcoy menyebabkan diperlukannya teknologi irigasi tepat guna. Pocket fertigation merupakan pengembangan sistem irigasi cincin yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan air. Penelitian ini bertujuan menganalisis water footprint tanaman pakcoy menggunakan sistem irigasi pocket fertigation dengan berbagai skenario, serta menentukan sistem irigasi yang optimal. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2022 bertempat di Kinjiro Farm, Kota Bogor. Tahapan penelitian meliputi persiapan lahan, pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis water footprint. Rancangan skenario irigasi dipengaruhi faktor sistem irigasi pocket fertigation (P1) dan konvensional (P2), serta pemberian air 1 kali evaporasi (A1) dan 2 kali evaporasi (A2). Total water footprint pada skenario P1A1, P2A1, P1A2, dan P2A2 secara berturut-turut sebesar 251.72 m3/ton, 231.56 m3/ton, 295.69 m3/ton, dan 222.16 m3/ton dengan efisiensi irigasi tertinggi terjadi pada skenario P2A1, sehingga diperlukan pengembangan pocket fertigation lebih lanjut untuk meminimalkan water footprint dan meningkatkan produktivitas air
ANALISIS EKIVALENSI SEPEDA MOTOR DENGAN METODE REGRESI LINIER BASIS KECEPATAN DI KUTA UTARA SAAT PPKM
The use of motorcycle modes in Badung Regency has the highest population compared to other modes of transportation. The congestion on the Badung City Highway is a result of the growth rate of motorcycles, as is known that the 1997 Indonesian Road Capacity Manual, which is used to assess traffic performance in Indonesia as a whole, still uses the equivalence of passenger cars as a basis. Based on this context, a study was conducted on motorcycle equivalence analysis using a speed-based linear regression method and compared the results with the equivalence of passenger cars in the 1997 Indonesian Road Capacity Manual, which was carried out during the conditions of the implementation of restrictions on community activities, especially on Canggu Highway, Kerobokan Highway, and Padang Luwih Highway. The method applied in this study is quantitative, namely by calculating the equivalence of a motorcycle with regression analysis. The research analysis showed that the equivalence of motorcycles, light vehicles, and heavy vehicles in Kerobokan highway are 1.00, 8.36, and 16.22, respectively. The equivalence value in the Canggu Highway for motorcycles, light vehicles, and heavy vehicles are 1.00, 7.15, and 15.28, respectively. Padang Luwih Highway gets a motorcycle equivalence of 1.00, for light vehicles 3.98, and for heavy vehicles 14.53. Meanwhile, the performance figures obtained on Canggu Highway were 9,059 ssm/hour with a saturation degree of 3.46. On Kerobokan Highway, the degree of saturation is 2.56 ssm/hour, with a traffic flow of 6.925 ssm/hour. Meanwhile, the traffic flow data for the Padang Luwih Highway section is 9,008 ssm/ hour with a saturation degree of 2.93 ssm/hour.Penggunaan moda transportasi sepeda motor di Kabupaten Badung mempunyai populasi tertinggi dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Kemacetan di Jalan Raya Kota Badung merupakan akibat dari laju pertumbuhan sepeda motor. Sebagaimana diketahui bahwa di dalam buku Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 yang digunakan untuk menilai kinerja lalu lintas di Indonesia secara menyeluruh masih menggunakan ekuivalensi mobil penumpang sebagai dasar. Berdasarkan konteks tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai analisis ekuivalensi sepeda motor menggunakan metode regresi linier berbasis kecepatan dan membandingkan hasilnya dengan ekuivalensi mobil penumpang pada buku Manual Kapasitas Jalan Indonesia 1997 yang dilakukan saat kondisi pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat berlangsung, khususnya di Jalan Raya Canggu, Jalan Raya Kerobokan, dan Jalan Raya Padang Luwih. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif, yaitu dengan cara menghitung ekuivalensi sepeda motor dengan analisis regresi. Adapun hasil dari analisis penelitian menerangkan bahwa ekuivalensi sepeda motor, kendaraan ringan, dan kendaraan berat Jalan Kerobokan berterut-turut sebesar 1.00, 8.36, dan 16.22. Nilai ekuivalensi di Jalan Raya Canggu untuk sepeda motor, kendaraan ringan, dan kendaraan berat adalah berturut-turut sebesar 1.00, 7.15, dan 15.28. Jalan Raya Padang Luwih didapat ekuivalensi sepeda motor sebesar 1.00, kendaraan ringan 3.98 dan kendaraan berat 14.53. Sedangkan, untuk hasil angka kinerja didapat pada Jalan Raya Canggu sebesar 9,059 ssm/jam dengan derajat kejenuhan sebesar 3.46. Pada Jalan Raya Kerobokan derajat kejenuhan sebesar 2.56 ssm/jam dengan arus lalu lintas 6,925 ssm/jam. Sedangkan data arus lalu lintas ruas Jalan Raya Padang Luwih sebesar 9,008 ssm/jam dengan derajat kejenuhan sebesar 2.93 ssm/jam
Pengaruh pasang surut air laut terhadap kekuatan beton komposit material Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS)
Concrete is a material that is commonly used to build infrastructure in various environmental conditions, but concrete has a weakness in environments exposed to salt water. So, the engineer intends to research the impact of exposure to sea water on the compressive strength and split tensile strength of concrete, and use GGBFS as a substitute for cement to reduce the impact of exposure to sea water on concrete. In this study, researchers will conduct experiments by exposing concrete to artificial seawater with dry-wet cycles with immersion durations of 24 hours, 16 hours, and 8 hours, as an interpretation of the tide cycle. The test results obtained are by adding 20% of GGBFS to the concrete mixture, the concrete will experience an increase in performance from 29.06 MPa on compressive strenght and 2.34 MPa on tensile split strenght to be 32.17 MPa on compresive dan 2.64 on tensile split strenght compared to concrete without the addition of GGBFS, and by exposing it to seawater for 24 hours, concrete with 20% GGBFS mixture has compressive strength which is better than normal concrete without GGBFS mixture, but with 40% GGBFS content the concrete will decreases in performance to 26.98 MPa. Meanwhile, based on the immersion method using sea water that has been carried out, the decrease in concrete performance is most significant to 24.15 MPa in compressive streght when it experiences an 8-hour soaking cycle. This proves that concrete exposed to sea water will experience a decrease in strength, especially in extreme tidal conditions. Utilization of GGBFS as a concrete mix is an effort to utilize waste, but there are ideal proportions and mixing techniques that need to be considered, so that waste concrete does not experience a significant loss of performance.Beton merupakan material yang umum digunakan untuk membangun infrastruktur pada berbagai kondisi lingkungan, namun beton memiliki kelemahan pada lingkungan yang terpapar air garam. Sehingga penulis bermaksud meneliti mengenai dampak paparan air laut terhadap kuat tekan dan kuat tarik belah beton, serta menggunakan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) sebagai pengganti semen untuk mengurang dampak paparan air laut terhadap beton. Pada penelitian ini, peneliti akan melakukan percobaan dengan memaparkan beton dengan air laut buatan dengan siklus kering basah dengan durasi perendaman 24 jam, 16 jam, dan 8 jam, sebagai intepretasi dari siklus pasang surut air laut. Hasil pengujian yang didapat adalah dengan menambahkan GGBFS dalam campuran beton sebanyak 20%, beton akan mengalami peningkatan performa dari 29.06 MPa pada kuat tekan dan 2.34 MPa pada tarik belah menjadi 32.17 MPa pada kuat tekan dan 3.64 pada kuat tarik belah, jika dibandingkan dengan beton tanpa tambahan GGBFS, dan dengan memaparkannya dengan air laut selama 24 jam, beton dengan campuran GGBFS 20% memiliki kuat tekan yang lebih baik dari beton normal tanpa campuran GGBFS, namun dengan kadar GGBFS 40% beton akan mengalami penurunan performa menjadi 26.98 MPa. Sedangkan berdasarkan metode perendaman menggunakan air laut yang telah dilakukan, penurunan performa menjadi 24.15 MPa ketika mengalami siklus perendaman 8 jam, dan pengeringan selama 16 jam Hal ini membuktikan bahwa beton yang terpapar air laut akan mengalami penurunan kekuatan terlebih pada kondisi pasang-surut yang ekstrim. Pemanfaatan GGBFS sebagai bahan campuran beton merupakan salah satu upaya pemanfaatan limbah, namun terdapat proporsi ideal dan teknik pencampuran yang perlu diperhatikan, sehingga beton limbah tidak mengalami kehilangan performa yang signifikan