Jurnal Jaffray
Not a member yet
265 research outputs found
Sort by
Little Book, Big Waves: The Epistle of James and Global Stewardship in Bioethics
At first glance the twenty-first century arena of biotechnology and bioethics seems worlds away from the practical concerns of the first century outlook of the New Testament book of James. A closer look, however, reveals that the issues that James addresses have applications to challenges in bioethics. This article will give an overview of James and examine James’ teaching on wealth, poverty, and generosity and its import for the issue of global stewardship in bioethics. Stewardship concerns both a Christian’s care and management of time, talents, and treasures. Faithful use of the resources God has given demonstrates the fruitful faith that James writes of in his epistle. The idea of global stewardship, though “stewardship” is grounded in a distinctly Christian ethic, reflects an emerging discussion in bioethics regarding the need to address the inequities present between the money and time spent on biotechnology in some of the world in proportion to the money spent on meeting the basic healthcare needs of the poor of the entire world. This New Testament epistle gives clear indications of how the Christian is to view wealth and how the Christian is to respond to poverty. James, though a comparatively small book, sends a crucial message across the years that should greatly impact how Christians view stewardship in terms of global healthcare needs.
Pandangan Teologi Reformed Mengenai Doktrin Pengudusan Dan Relevansinya Pada Masa Kini
Artikel ini membahas mengenai pandangan teologi Reformed mengenai Doktrin Pengudusan (Sanctification) dan relevansinya pada masa kini. Teologi Reformed memandang konsep pengudusan sebagai bagian integral dari doktrin keselamatan (soteriologi) yang merupakan karya anugerah Allah yang menjadikan orang pilihan yang kemudian memercayai Yesus Kristus sebagai “orang kudus” (pengudusan definitif) serta berkesinambungan dalam proses kehidupan orang percaya tersebut untuk menghidupi kekudusan dalam kehidupan setiap hari melalui pertumbuhan iman dalam Kristus yang akan berlangsung seumur hidup (pengudusan progresif). Hal ini juga yang menjadi paradoks dalam soteriologi Reformed bahwa pengudusan bersifat monergis (pengudusan definitif) sekaligus sinergis (pengudusan progresif). Dengan demikian, soteriologi Reformed tidak sekedar konsep yang ideal dan filosofis seperti yang tersirat dalam slogan Sola Christo, Sola Gratia, Sola Fide, Sola Scriptura dan Soli Deo Gloria, namun juga bersifat praktis yang melibatkan pengalaman hidup setiap orang percaya dengan Tuhan (Sola Expierientia)
Pemimpin dan Media: Misi Pemimpin Membawa Injil Melalui Dunia Digital
Pemimpin di dunia digital berbicara tentang kesiapan memasuki media yang baru dengan pesan yang sama yaitu membawa nilai-nilai kekekalan firman Tuhan kepada manusia. Dunia tidak bisa lagi dipisahkan antara dunia nyata dan dunia digital. Itu sebabnya seharusnya pemimpin tidak lagi menyebut dunia digital sebagai dunia maya karena itu berarti sesuatu yang tidak nyata lagi. Revolusi komunikasi seperti ini mewajibkan pemimpin untuk mengambil tindakan drastis dalam melaksanakan pelayanan gereja dan mulai memberikan perhatian dan tenaga yang serius di dunia digital. Pelayanan di dunia digital sama nyatanya dengan pelayanan di dunia sehari-hari maka gunakan semua bentuk media untuk menyebarkan nilai-nilai kekekalan
Ulasan Buku:Kuasa yang Membawa Kemenangan: Kumpulan Khotbah Ekspositori
Buku Kuasa yang Membawa Kemenangan yang ditulis oleh Maurits Silalahi, M.Th (almarhum) merupakan kumpulan khotbah ekspositori sebagai salah satu bentuk khotbah yang alkitabiah yang pernah disampaikan secara langsung melalui mimbar gereja dalam ibadah-ibadah di berbagai denominasi gereja di Kota Makassar dan sekitarnya selama beliau melayani sebagai dosen Homiletika di Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Makassar.Naskah-naskah khotbahnya begitu banyak, sebagian ada yang diketik manual dan sebagian lagi ada yang yang ditulis dengan tangan (hal. iii). Dari sekian banyak tema khotbah ekspositori yang pernah dikhotbahkan di berbagai mimbar gereja, yang sempat diterbitkan hanya 71 tema khotbah ekspositori yang ditulis (diuraikan) secara lengkap dan 121 tema khotbah ekspositori yang merupakan rancangan khotbah yang terdiri atas tema dan garis-garis besarnya saja
Ulasan Buku: MENJALANKAN MISI BERSAMA YESUS: Pesan-pesan bagi Gereja dari Kisah Para Rasul
Berbeda dengan buku-buku kajian tentang misi gereja yang lain, “Menjalankan Misi Bersama Yesus” pertama-tama bukanlah merupakan sebuah textbook yang melulu berisi tentang berbagai konsep atau petunjuk teoritis mengenai misi gereja, tetapi buku ini lebih cocok dikatakan sebagai buku refleksi atau praksis misi gereja. Pengalaman penulis sebagai pendeta, akademisi dan sekaligus praktisi dalam bidang misi gereja sangat memperkaya dan memperluas wawasan pembaca dalam memahami panggilan misi sebagai amanat Tuhan Yesus bagi gereja yang hidup dan menjalankan misinya di abad ke-21. Dengan mengacu kepada Kisah Para Rasul sebagai kitab yang mengisahkan karya Kristus dalam kehidupan dan pelayanan umat-Nya, penulis membawa pembacanya kepada pemahaman seperti apakah gereja itu? Apa yang harus dilakukan oleh gereja? Nilai apakah yang harus dipegang sebagai orang percaya? Siapakah yang seharusnya disembah dan dimuliakan dalam pelaksanaan misi gereja
Understanding Of Wisdom In The Book Of Daniel
Daniel, Hananiah, Misael, and Azariah were young Jewish people who had been taken to Babylon in captivity. They truly obeyed God in their daily life and did not defile themselves with the king’s food and wine. God honored their decision so He gave them wisdom, that is intellectual ability (knowledge and understanding of all kinds of literature and learning and understanding visions and dreams of all kinds). Their response to the wisdom from God was having a good life style, submitting to God, and carrying burdens. To continue the wisdom from God, they lived in unity, depended on God and had God’s spirit in them. In doing their job, they spoke with wisdom and tact and worked honestly. In working with the king, they made a courageous decision not to worship the image of god and not to follow the king’s command. In the king’s palace, Daniel did not think for himself only, but had a burden to pray for Jerusalem, represent his nation before God, and fast for the future.
Ulasan Buku: Belajar Menjadi Pemimpin
Buku Belajar Menjadi Pemimpin yang ditulis oleh Dr. Daniel Ronda merupakan hasil tuangan pemikiran yang ada di kompasiana, sebuah blog yang disediakan bagi warga dunia maya yang mau menulis dan mengekspresikan pandangannya lewat tulisan. Berbicara mengenai pemimpin dan kepemimpinan, sangatlah luas. Ada banyak penulis-penulis dalam negri ini maupun penulis ahli mancanegara memberikan kontribusi pengalamannya maupun penelitiannya terhadap bidang yang menarik ini. Setiap waktu ada muncul penulis yang membahas pemimpin dan kepemimpinan, baik secara teori, cerita pengalaman, praktikal, penelitian, perenungan, dengan berbagai bidang latar belakang kehidupan. Buku yang ditulis oleh Daniel Ronda membidik latar belakang kenegaraan dan kehidupan yang dikemas dengan gaya tulisan ringan, tidak banyak teori, langsung berkaitan dengan peristiwa yang pada saat itu penulis rasakan dan amati. Setiap tulisan yang tertuang dalam blog kompasiana mendapat respon dari yang membaca
Analisis Kata menō Berdasarkan Surat 1 Yohanes
Tujuan penulisan ini adalah mengetahui makna kata menō dalam surat 1 Yohanes melalui pendekatan studi eksegesis yaitu analisis leksikal, analisis grammatikal, analisis konteks dan analisis historis. Perjanjian Baru menggunakan kata menō digunakan dalam hubungan dengan Allah, berarti menekankan sifatnya, sementara dalam hubungan dengan doktrin Kristen, kata ini digunakan secara kiasan menunjuk kepada ketetapan hidup sebagai umat yang diselamatkan. Secara grammatikal, bentuk yang menyatakan bahwa suatu tindakan (peristiwa) sedang terjadi, subjeknya melakukannya secara aktif dan tindakan/peristiwa itu merupakan suatu realitas. Penulis surat ini, Yohanes menyatakan dengan serius bahwa hal yang paling mungkin bagi seseorang untuk tinggal dalam Anak dan Bapa adalah harus tetap tinggal di dalam firman yang “telah kamu dengar dari mulanya.” Sedangkan pendekatan analisis konteks arti menō adalah orang yang lahir dari Allah dan berada di dalam Dia memiliki potensi untuk menjauhkan diri dari dosa karena benih ilahi tinggal tetap di dalamnya dan karena mereka mengenal Dia. Dalam konteks historis penggunaan kata menō yang di dalamnya terkandung pengajaran dan nasihat yang mendasar mengenai doktrin dan praktika hidup Kristen jelas menunjukkan bahwa secara historis teologis kata ini merupakan kata yang penting dalam pergumulan iman dan perkembangan doktrin dalam komunitas Kristen mula-mula.
“John A. MacMillan: Pioneer Missionary of Spiritual Warfare and the Believer’s Authority”
Many people associate teaching on spiritual warfare and the authority of the believer from charismatic or Word of Faith sources, especially like Kenneth Hagin. However, the original source of teaching on this doctrine comes from classic holiness roots in the Higher Life and Keswick movements, especially from John A. MacMillan, a missionary, writer, editor, and professor with the Christian and Missionary Alliance. In 1932 he wrote a series of articles entitled “The Authority of the Believer,” eventually published in book form, distributed widely and republished in other periodicals. MacMillan had a remarkable and extensive ministry in the exercise of the authority of the believer and spiritual warfare spanning more than thirty years. His experiences include divine protection, healing, divine intervention, power encounters with demonic forces, and teaching on territorial spirits and generational bondages. Numerous evangelical and charismatic leaders have quoted or referred to his teachings and principles.Banyak orang mengasosiasikan pengajaran peperangan rohani dan otoritas orang percaya dari karismatik atau sumber Firman Iman, terutama seperti Kenneth Hagin. Namun, sumber asli dari pengajaran doktrin ini berasal dari akar kekudusan klasik dalam gerakan Higher Life dan Keswick, terutama dari John A. MacMillan, seorang misionaris, penulis, editor, dan profesor dengan Christian and Missionary Alliance. Pada tahun 1932 ia menulis serangkaian artikel yang berjudul “Otoritas orang percaya,” akhirnya diterbitkan dalam bentuk buku, didistribusikan secara luas dan diterbitkan di majalah lainnya. MacMillan memiliki pelayanan yang luar biasa dan luas dalam pelaksanaan otoritas orang percaya dan peperangan rohani yang lebih dari tiga puluh tahun. Pengalamannya termasuk perlindungan ilahi, penyembuhan, campur tangan ilahi, pertemuan kuasa dengan kekuatan jahat, dan pengajaran tentang roh teritorial dan perbudakan generasi. Banyak pemimpin injili dan karismatik telah mengutip atau memakai ajaran dan prinsip-prinsipnya. Kata-kata kunci: otoritas percaya, peperangan rohani, hidup tahta, roh teritorial, C &MA, Higher Life, Keswick, karismatik, mengikat dan melepaska
Ciri Khas Seorang Gembala Berdasarkan Perspektif 1 Petrus 5:1-4
Yesus memberikan teladan bagaimana menjadi seorang gembala yang baik di mana gembala yang baik adalah gembala yang merawat atau memelihara kawanan domba dengan sepenuh hati bahkan rela mengorbankan nyawanya demi domba-dombanya (Yohanes 10:11). Tugas penggembalaan adalah tugas yang dipercayakan oleh Allah untuk dilaksanakan sesuai dengan petunjuk dan ketetapan dari Allah sendiri. Dalam 1 Petrus 5:1-4, dijelaskan tentang ciri khas dari gembala sidang yang membedakannya dengan pemimpin pada umumnya. Ciri khas tersebut harus menjiwai pelayanan seorang gembala sidang dalam melaksanakan tugas penggembalaan. Seorang gembala sidang harus melayani dengan sukarela, pengabdian diri, rendah hati dan mampu menjadi teladan yang baik.Jesus gives us a good example of how to become a good pastor in that a good pastor is a pastor who watches out for and takes care of his flock with his whole heart even willing to lay down his life for his sheep (John 10:11). The job of pastoring is a job that has been entrusted by God to be done in accordance with His instructions and statutes alone. In 1 Peter 5:1-4, there is an explanation about the characteristics of a lead pastor that differentiate him from other leaders in general. These characteristics must animate the ministry of a lead pastor in the carrying out of his pastoral duties. A lead pastor must serve voluntarily, with self-devotion and humility, and be able to be a good example.