Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
    155 research outputs found

    Creative by Way of Adaption: Ramayana Relief of Prambanan Temple

    Get PDF
    Artikel ini membahas tentang proses penciptaan karya seni berdasarkan teori adaptasi sebagaimana yang didiskusikan oleh Linda Hutcheon dalam bukunya yang berjudul: A Theory of Adaptation. Penekanan pembahasan lebih diletakkan pada aspek-aspek estetis visual yang terdapat pada karya seni relief naratif yang mengelilingi sepanjang dinding bagian dalam candi Prambanan di Kalasan, Yogyakarta. Sebagaimana tema relief yang diadaptasi dari ceritera legenda Ramayana yang ditulis oleh Walmiki pada waktu silam, maka proses penciptaan relief tersebut pada masa berikutnya diyakini mengikuti prosedur teori adaptasi tersebut. This article aims to discuss the creation of arts based upon the theory of adaptation that had been laid on by Linda Hutcheon in her book called A Theory of Adaptation. The discussion has put emphasis on the elaboration of any visual aesthetics aspects embodied within the Ramayana sculptural program in the narrative relief which is encircling along Prambanan temple inner wall in Kalasan, Yogyakarta. Since the relief’s theme is derived from the ancient epic story of Ramayana legend (by Valmiki), it is plausible that the later creative process of the relief work was created through the adaptation theory procedure.

    INDEKS SUBJECT

    Get PDF

    Penciptaan Tari Manggala Kridha sebagai Media Pembentukan Karakter bagi Anak

    Get PDF
    enciptaan tari anak ini didasarkan dari rasa keprihatinan ketika melihat prosespembelajaran tari anak dengan materi ajar kurang sesuai dengan dunia bermain anakanak.Berbagaikasus privattari anak atau lomba tari tingkat prasekolah dasar seringdijumpaipenggunaan materi tari orang remaja.Keberadaanekspresiseni pentingbagipembentukan karakter sejak dini, sehingga anak mampu mengembangkan idekreatifdan inovatifyang bersifat kritis dan produktif.Esensi pendidikan menarimenyangkutaspek kognitif,afektif,dan psikomotorik. Formatkoreografianaktentuharusmempertimbangkantingkat usia, terutamatingkat kematangan emosidanketerampilannya agar tari itu mampu membentuk kualitas kepribadiananak.Prosespenciptaan TariManggalaKridha dengan tema memfokuskan pada figurprajuritsebagai orang yang memiliki keberanian dan kepatuhan dalam menjalankantugasnegara sehingga ketika mati dalam pertempurania menjadi seorang pahlawan.Idegarapan TariManggalaKridha diilhami dari sosok keberanian dan kepatuhanseorangprajurit pembela bangsa dan negara.Secarasimbolis, gerak-gerak yangdisusunsebenarnya merupakandialog gerak sepertisikap dan gerak langkah tegap, menyerang,gerak menangkis, gerak menghindar.Musiktari dalam komposisi tariini bersumber pada karawitan tradisi gaya Yogyakartayang dikembangkan menurut kebutuhangarapan tari dengan berbagai macam interpretasigarap permainan.Tarian inidapat ditarikan oleh pria maupun wanita. Penariberjumlah ganjil 11 - 15 orangataukelompok terdiridari anak-anak usia 4-6 tahun, yaitu usia anak yang hidupdalamdunia bermain.The Dance Creation of Manggala Kridha as the Revealing Media of the Character Building for Children. The research on the creation of children dance is based on a big concern while seeing the learning process of children dances with inappropriate teaching materials in accordance to the realm of children’s play. A variety cases of found in children dance private course or dance competitions in the pre-elementary school level is commonly found for which the purpose of dance materials is addressed to teenagers. Therefore, the presence of the art expression is necessary for building the character since childhood, so children can develop their creative and innovative idea critically and productively. The essence of dance education involves the aspects of cognitive, affective, and psychomotorics. The format of children choreography should obviously consider the age level of participants, particularly the level of emotional and skill maturity so that the dance itself can build the quality of children’s personality. The creation process of Manggala Kridha dance with its theme mainly focuses on the soldier figure as person which has bravery and compliance in doing the nation task, so as he died in the battle he becomes a hero. The creation idea of Manggala Kridha dance is mainly inspired by a braving and compliance figure. Symbolically, the created movements are basically as movement dialogues like the firm attitude and sturdy steps, attaching, parrying, and eschewing. The source of dance music for the children dance composition of “Manggala Kridha” is the traditional gamelan of Yogyakarta which is developed based on the needs of dance composition with sort of its interpretation. This dance can be performed either by man or woman. Particularly, the dancers might be odd numbers, more or less around 11-15 dancers or groups consisting of a 4 to 6-year old children, who are still in the realm of children’s play

    Transformasi Sinkretisma Indonesia dan Karya Seni Islam

    Get PDF
    Tulisan ini membahas aspek sosio-historis dan pencapaian kebudayaan pada masa peradaban seni (rupa) Hindu dan Islam di Indonesia, perkembangan terkini seni rupa kontemporer Islami, dan karya seni KH. M. Fuad Riyadi, seniman dan Kyai Kontemporer yang aktif sebagai pelaku kesenian dalam seni sastra, musik dan seni rupa. Karya seni selalu merupakan cerminan pengamatan serta perasaan dan pikiran pembuatnya. Karya seni terlahir dari proses pergulatan panjang yang kompleks atas berbagai unsur kebudayaan yang saling mempengaruhi. Pada tahapan ini terjadilah transformasi budaya melalui proses sinkretisasi yang membentuk tradisi seni di Indonesia sesuai dengan peranan unsur budaya terutama persentuhan dengan agama yang datang dari luar. Tulisan ini dikaji melalui studi sejarah, transformasi budaya dan estetika. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa karya seni yang diciptakan seniman tidak berdiri sendiri atas nafas tunggal konsep dan dogtrin agama namun sudah dielaborasi dengan kebutuhan budaya setempat serta local genius masyarakat yang ditempati. This paper is intended to discuss the socio-historical aspect and the cultural achievement of the civilization of Hinduism and Islamic fine art in Indonesia, the updated development of Islamic contemporary fine art, and the artwork of KH. M. Fuad Riyadi, artists and contemporary mufti who are active as art doers of literary art, music, and fine art. The artwork is always a reflection of the observations and feelings and thoughts of the author. The artwork was born by the long struggle of complex processes on various cultural elements which influenced to each other. At this stage there was a cultural transformation through the process of syncretization which formed a tradition of art in Indonesia in accordance with the role of cultural elements, especially the contiguity with the religion coming from the outside. This paper was analyzed through the historical study, cultural and aesthetics transformation. Based on the research it can be concluded that the artworks created by the artist do not stand alone based on the single breath of concept and religion doctrine but the ones which have been elaborated with the needs of the local culture and the local genius of that intended society

    Perkembangan dan Perubahan Tepak Kendang Jaipongan Suwanda dalam Masyarakat Urban

    Get PDF
    Tulisan ini membahas perkembangan tepak kendang jaipongan karya Suwanda dilihat dari kontinuitas dan perubahannya terutama yang terjadi dalam masyarakat urban. Metode deskriptif analisis dengan pendekatan sejarah digunakan untuk mengungkap berbagai fenomena tepak kendang jaipongan, yaitu hadirnya notasi yang dibuat oleh para pengendang dan perubahan tepak kendang jaipongan dalam struktur, tempo, dinamika, embat, motif, serta fungsi. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tepak kendang jaipongan karya Suwanda pada perkembangannya ditanggapi secara kreatif oleh para pengendang melalui kreativitasnya. Oleh karena itu, terdapat perbedaan motif tepak kendang antara hasil rekaman Suwanda di dalam kaset dengan fakta di lapangan ketika digunakan oleh para pengendang. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan dan kepunahan beragam tepak kendang jaipongan karya Suwanda di masyarakat.The Development and Changes of Suwanda’s Tepak Kendang Jaipongan in UrbanSociety. This paper discusses the development of Suwanda’s tepak kendang jaipongan,drumming strokes of jaipongan, seen from its continuity and changes, particularly forwhat has been found in urban society. The descriptive analysis method with historicalapproach is used to explore any various kind of phenomenon of drumming strokes ofjaipongan, among others are the presence of jaipongan notation created by the drummersas well as the changes in the structure of drumming strokes of jaipongan, tempo,dynamics, embat, motifs, and function. Based on the analysis it can be concluded that theSuwanda’s drumming strokes of jaipongan in its progress has been creatively respondedby the drummers through their creativity. Therefore, there is a significant differencebetween the motives of Suwanda’s drumming strokes recorded on tape with the facts oflive performance when they are used by the drummers. This led to the change and the extinction of various Suwanda’s jaipongan drumming strokes in the community

    Strange Encounter: Depicting An “Other” Reality for Young Readers

    Get PDF
    This article explores fantastic encounters between humans and non-humans inChinese and Japanese Children’s literature. Naoko Awa’s collection of short storiesThe Fox’s Window and Other Stories is closely read to elucidate narrative features ofwhat I call as “strange encounter”, the magic realistic human-animal encounter inChinese and Japanese cultural context. Chinese supernatural literature and culturaltradition of yaoguai, which have been assimilated into Japanese culture (Japaneseyōkai), are referred to throughout my discussion.  Todorov’s approach to thefantastic, Judith Zeitlin’s study of Strange Tales of Liaozhai Studio, and RosemaryJackson’s study of fantasy are drawn upon to illuminate the meaning of encountersbetween men and animals. I argue that magic realism as a relatively new genrefor young readers, not only reflects the author’s individual creative experienceof the fantastic but also partakes in the sense of an “other” reality that resonatesthroughout a cultural community.Perjumpaan Ganjil: Gambaran suatu Realitas “Liyan” bagi Pembaca Muda.Artikel ini membahas perjumpaan fantastis antara ‘manusia’ dan ‘non-manusia’ didalam sastra anak Cina dan Jepang. Antologi cerita pendek karangan Naoko Awa TheFox’s Window and Other Stories akan dikupas untuk memaparkan fitur naratif yangdisebut sebagai ‘perjumpaan aneh’ (strange encounter), perjumpaan magis-realis antaramanusia dengan binatang dalam konteks kebudayaan Cina dan Jepang. Karya sastrasupernatural Cina dan keberadaan yaoguai yang telah diasimilasi dalam kebudayaanJepang (disebut youkai) menjadi sebuah referensi penting dalam artikel ini. Pendekatanfantasi dari Todorov, studi Judith Zeitlin tentang Strange Tales of Liaozhai Studio,dan studi fantasi dari Rosemary Jackson digunakan untuk memperjelas arti dariperjumpaan antara manusia dan binatang. Magis-realis sebagai sesuatu yang baru bagi pembaca muda tidak hanya merefleksikan pengalaman kreatif pribadi sang pengarang akan fantasi, tetapi juga berperan dalam pembentukan realitas “liyan” dalam sebuahkomunitas budaya

    Empat Koreografer Minangkabau: Dibaca dalam Teks Matrilineal dan Patrilineal

    Get PDF
    Artikel ini membahas empat koreografer Minangkabau yaitu Gusmiati Suid, Huriah Adam, Syofyani Bustamam, dan Syahril dari perspektif matrilineal dan patrilineal. Teks matrilineal tidak hanya dipandang dari sisi genealogis, tetapi juga dari sudut pandang budaya. Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa partisipasi perempuan di luar wilayah domestiknya terbias dalam seni tari. Perempuan tidak dinantikan hanya untuk menyemarakkan dengan tebaran pesona keindahan ragawi. Ia mampu menjadi sumber ide dan tema, pelaku, pencipta, pengatur, dan penyelenggara, atau sarana mobilitas seni pertunjukan. Keempat koreografer lahir dan dibesarkan di Minangkabau akan tetapi berkiprah di tiga wilayah yang berbeda. Gusmiati Suid di Jakarta, Huriah Adam di Sumatera Barat, Syofyani di Padang, dan Syahril di Padangpanjang. Sebagai koreografer yang lahir dan dibesarkan dalam kultur Minangkabau tentu keempat koreografer ini ikut merasakan betapa dilematis posisi perempuan dalam masyarakat Minangkabau. This article discusses about four choreographers of Minangkabau, among others are Gusmiati Suid, Huriah Adam, Syoyani Bustamam, and Syahril seen from the perspective of matrilineal and Patrilineal. The matrilineal text cannot only be seen from the genealogical side but it can be viewed from the cultural standpoint. Based on the research result it can be concluded that women participation outside their domestic area is also biased in dance performing arts. Women are not only expected to embellish with their scattering of physical enchanting beauty. They can be the source of ideas and themes, the actress,the creator,the manager, and the event organizer, or the mean of performing arts mobility. These four choreographers were born and grown up in Minangkabau, however, they have actively expanded their career in three different places. Gusmiati Suid’ s career is in Jakarta, Huriah Adam is in West Sumatra , Syoyani is in Padang, and Syahril is in Padangpanjang. As the choreographers born and grown up in Minangkabau’s culture, they definitely feel the dilemmatic sense of women position in Minangkabau society

    Mengapa Selalu Harus Perempuan: Suatu Konstruksi Urban Pemenjaraan Seksual Hingga Hegemoni Maskulinitas dalam Film Soekarno

    Get PDF
    Film Soekarno karya Hanung Bramantyo menghadirkan suatu deksripsi tentangfakta-fakta historis terkait dengan perempuan Indonesia yang dikomodifikasimenjadi teks-teks naratif dan visual film. Wujud representasi dari komodifikasifakta historis perempuan Indonesia, ditampilkan dalam konstruk urban mengenaivisualisasi ketidakadilan gender dalam praktik-praktik politik seksual, kekerasanseksual, kekerasan psikis, hingga pemenjaraan seksual yang diakibatkan olehhegemoni kolonialisme fasisme Jepang melalui praktik perbudakan seksual (jugunianfu) dan tokoh Soekarno terhadap diri tokoh Inggit Ganarsih. Makna-maknasimbolik dari unsur naratif dan visualisasi yang dihadirkan dalam film Soekarnomerupakan suatu strategi kebudayaan dan politik media untuk menjadikan filmsebagai media historical memory dan collective memory bagi masyarakat Indonesiauntuk melawan lupa dari deskripsi narasi besar sejarah bangsa dan negara Indonesia,khususnya terhadap sejarah perempuan Indonesia.Why Women Should Always Be: From the Sexual Restraint to the Hegemony ofMasculinity in the Soekarno Film. Soekarno Film presented by Hanung Bramantyois a description of historical facts which are related to Indonesian women and whichare then commodified into texts and visual narrative films. The representation formof the commodification of historical facts of Indonesian women is showed in thevisualization of gender inequality through the practices of sexual politics, sexual violence,and psychological violence until sexual restraint caused by the hegemony of Japanesecolonialism through the practice of sexual slavery (jugun ianfu), and the attitude ofSoekarno figure which appears to Inggit Ganarsih figure. The symbolic meanings of thenarrative and visualization elements which are presented in the film of Soekarno arethe strategy of culture and media politics to make the film as the medium of historicalmemory and collective memory for the Indonesian people to fight against the forgetting ofa narrative description of the history of Indonesia, especially to the history of Indonesianwomen

    Deformasi Wajah Karakter Kartun Berbasis Klaster Titik Fitur Gerak

    Get PDF
    Pendekatan tradisional animasi ekspresi wajah sangat tergantung pada animatordalam pembuatan gerakan kunci dan rangkaian gerakan ekspresi wajah.Problematika yang sering dijumpai adalah penggunaan kerangka dan gerakan wajahyang sama untuk model yang berbeda membutuhkan waktu yang lama dikarenakankompleksitas ekspresi wajah manusia. Pendekatan simulasi kulit wajah dan ototpada praktiknya masih memerlukan intervensi animator untuk pengaturan kulitwajah terhadap tulang/tengkorak kepala dan konfigurasi sambungan otot gerakdi wajah. Hal ini menyebabkan produksi animasi wajah untuk satu wajah tidakdapat digunakan ulang secara langsung untuk wajah lainnya karena kekhususannyatersebut. Oleh karena itu, proses pengamatan perubahan bentuk ekspresi wajahdengan adanya area bobot pada model wajah 3D menggunakan pendekatanklaster di titik fitur gerak mempunyai peran penting untuk mengidentifikasi prosespenyesuaian bentuk wajah yang berlainan dan variasi pengaruh gerakan pada wajahkarakter kartun.Cartoon Character Face Deformation Based on Motion Feature-Point Cluster.The traditional approach animated facial expression is highly dependent on animatorto create key of movement and continuity the motion of facial expressions. The problemsfrequently encountered is the use of the skeleton and the same facial movements fordifferent models takes a long time because of the complexity on human facial expressions.Simulation approach to facial skin and muscles in practice still requires interventionanimators to control the facial skin to bone/skull and connection configuration in facialmuscle movement. This leads to the production of facial animation for one face can’tbe reused directly to the other face model because of their specialization. Therefore, theobservation of deformation facial expressions with weights area on a 3D face model usingmotion feature-point cluster approach have an important role to identify the adjustmentprocess on different facial shapes, and variations of movement on cartoon character face

    INDEKS SUBJECT

    Get PDF

    145

    full texts

    155

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Urban Society's Arts
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇