Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
    155 research outputs found

    Sungai sebagai Transmisi Ritual Urban Kesuburan melalui Pertunjukan Wayang Topeng

    Get PDF
    Sungai pada saat ini sudah mulai tidak mendapatkan perhatian masyarakat terutamadalam masyarakat urban, kebersihannya sudah tidak ada yang bersedia menjaga.Sampah dan cairan deterjen menjadi bahan yang mengotori kebersihan. Akibatnyaair menjadi tidak lagi bersih, membawa bibit penyakit, dan mengakibatkan bencanabanjir. Sungai bagi masyarakat desa di Malang pada waktu yang lampau memilikiarti penting, seperti tempat tertentu di antara bilik-bilik mandi yang disebutbelik terdapat pundhen desa tempat roh nenek moyang bersemayam. Keyakinanmasyarakat desa di Malang itu dikaji dengan teori strukturalisme-simbolis denganmenggunakan data wawancara dan observasi partisipatoris. Teknik analisismenggunakan interpretasi. Penemuannya adalah relasi yang kuat antara sungai,gunung, dan desa: (1) sungai adalah transmisi pemujaan kesuburan dari dewagunung, (2) sungai menjadi manifestasi sih langgeng (cinta abadi), anugerah singnguripi (yang menghidupi), dan (3) sungai diyakini sebagai wujud tirta pawitrasari; air kehidupan. Ritual urban pemujaan terhadap kesuburan adalah anugerahkehidupan yang diekspresikan melalui media seni pertunjukan Wayang Topeng.The River as a Transmission of Fertility Ritual through the Performing ArtsMedia of Wayang Topeng. Nowadays, the rivers are starting not to get any intentionfrom our society; nobody is willing to keep them clean. Garbage and detergent liquidhave become the contaminated materials for them. As a result for that matter, waterhas not been clean anymore, has carried germs, and has lead to floods. Long time ago,rivers for villagers in Malang had its significant value, like a certain place in the showercubicles called ‘belik’, there was a ‘pundhen desa’ where ancestral spirits dwelled. The villagers’ belief in Malang is analyzed with a symbolic - structuralism theory using the data of interviews and participatory observation. The interpretation is used as theanalysis technique. The finding of the research is that there is a strong relation amongrivers, mountains, and villages: (1) the river is the transmission of fertility worship of themountain Gods, (2) the river becomes the manifestation of ‘sih langgeng’ which meansthe eternal love, the blessing of the almighty support ‘sing nguripi’, and (3) the river isbelieved to be a form of ‘tirta pawitra sari’; the water of life. The worship of fertilityritual is the blessing of life that is expressed through the performing arts media of Wayangtopeng

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Get PDF

    Potret Diri Digital dalam Seni dan Budaya Visual

    Get PDF
    Selfie merupakan bentuk tidak resmi (slang) dari potret diri digital (digital self-portraits). Keberadaannya semakin berkembang. National #Selfie Gallery di London pada 2013 menunjukkan bahwa jenis foto ini memiliki kelayakan untuk masuk galeri dan disebut sebagai karya seni. Sejumlah 19 seniman berfoto selfie dan hasilnya dipamerkan dalam bentuk video berdurasi singkat, masing-masing sekitar 30 detik. Untuk sampai di ruang pamer galeri, foto-foto selfie tersebut melalui tahap kurasi oleh kurator. Terdapat seleksi teknik dengan perangkat yang ada di dunia seni. Pada tahap selanjutnya, foto-foto selfie tersebut masuk galeri. Saat lolos seleksi dan dipamerkan di ruang galeri, serta dinikmati audiens seni, digital self-portraits menjadi sebuah karya seni dengan nilai isi makna seni, termasuk nilai estetis, serta nominal tertentu saat dibeli oleh kolektor. Jenis foto yang mengelilingi masyarakat kota tidak hanya selfie dan potret diri, namun semakin beragam. Di mana pun bertemu dengan foto, hingga dalam pengambilan keputusan maupun tindakan, berdasarkan pada apa yang dilihat. Di ranah ini, foto sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat membentuk budaya visual. Dari budaya visual ini, bidang-bidang kehidupan lain ikut terpengaruh. Ketika foto menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan ataupun cara hidup masyarakat, bidang lain seperti ekonomi dan sosial turut larut di dalamnya. Perekonomian menjadikan dunia visual sebagai lahan bisnis yang menjanjikan. Dari sisi sosial, masyarakat menggantikan interaksi dan komunikasi langsung dengan media digital. Melihat dan mengukur seseorang dari relasi dari di media sosial, dan menilainya dari visual yang tertampil di jejaring sosial tersebut Selfie is a slang form of digital self-portrait. Now, its development has been increasing. National #Selfie Gallery in London in 2013 showed the eligibility of this type to enter the gallery and called it as a work of art. There were 19 artists taking their selfie and displayed the works in the form of short videos, each was about 30 seconds. Being displayed in the gallery, these photos of selfie had been through stages of curation by curators before they were displayed in the gallery. There was a technique of selection with the existing devices in the art world. When photographs passed the selection and were exhibited in the gallery space, and were enjoyed by the audiences, the digital self-portraits become a work of art which contain the art values in content, including aesthetics, and certain nominal when purchased by collectors. The types of photo surrounding the urban community are not only selfie and self-portrait, but more various upon them. Wherever photos are found, and when taking the decision and action in society, they are much influenced on what are seen. Based upon this realm, they have already become a part of community art which forms the visual culture. From this visual culture, other areas of life are affected. When photos become the inseparable part of life or community way of life, other areas like economic and social are fused within them. The economics makes the visual area becoming the prospective business area. From the social side, the community replaces the interaction and direct communication with the digital media. By having this understanding, we are able to see and measure a person by looking at his/her social relation through the social media, and giving the showed value as being found in its social networking

    Ikonografi Karya Sudjojono “Di Depan Kelamboe Terboeka”

    Get PDF
    Tinjauan Ikonografi dalam Karya Sudjojono “Di Depan Kelamboe Terboeka”.Penelitian ini mengupas lukisan “Di Balik Kelamboe Terboeka” karya Sudjojonosecara ikonografi. Sebagai cabang ilmu sejarah seni, Ikonografi mempelajarimakna dari sebuah karya seni melalui kajian aspek internal dan eksternal. Aspekinternal sebuah karya seni seperti subject matter, gaya, dan aliran, sedangkan aspekeksternal berkaitan dengan situasi sosiohistoris yang melingkupi ketika karyaseni tersebut dibuat. Maka dengan menggunakan pendekatan ikonografi akandiperoleh pemaknaan yang lebih luas dari sebuah karya seni. Berdasarkan penelitiandapat disimpulkan bahwa “Di Depan Kelamboe Terbuka” menggambarkan jiwanasionalisme sebagai pemberontak estetika Mooi Indie yang telah mapan dalamkultur kolonial feodal. Karya tersebut menunjukkan pergulatan pemikiran dalamsuatu situasi sosial yang didominasi konsep estetika tertentu. Sudjojono mampumerumuskan konsep seni yang berasal dari kejujuran dan kepekaan dalam melihatrealitas sosial dan dikenal dengan kredo jiwa ketok. The Iconographic Study of Sudjono’s ‘Di Depan Kelamboe Terboeka’. Thisstudy discusses the iconography of ‘Di Depan Kelamboe Terboeka’, a painting createdby an influential painter in modern visual art of Indonesia, Sindudarsono Sudjono.Iconography as a branch of Art History learns the meaning of an artwork through thestudy of its internal and external aspects. The internal aspects include the items containedin an artwork such as a subject matter, style, and genre, whereas the external ones arerelated to the socio-historical situation in which the work of art is created. Iconographyprovides a broader understanding of a work of art. Based on this study, ‘Di DepanKelamboe Terboeka’ is one of Sudjono’s achievements depicting the spirit of nationalismas a rebel of the settle Mooi Indie aesthetics in the feudal-colonial culture. This paintingreflects the creator’s inner conflict in dealing with a certain social situation dominatedby a particular aesthetical concept. Sudjono was successful in formulizing an art conceptoriginated from his honesty and sensitiveness in witnessing the social reality known witha credo ‘jiwa kethok’

    Instrumen Musik Barat dan Gamelan Jawa dalam Iringan Tari Keraton Yogyakarta

    Get PDF
    Perpaduan instrumen musik Barat dengan instrumen gamelan Jawa untukmengiringi tari di Keraton Yogyakarta sudah berlangsung sejak lampau. Hingga saatini perpaduan tersebut masih dapat dijumpai. Bermula dari peristiwa kontak budayaBarat dan Timur, instrumen musik Barat telah menjadi bagian dari kelengkapanupacara protokoler Keraton Yogyakarta. Tujuan penulisan ini untuk membuat kajianhistoris perpaduan gamelan Jawa dengan seperangkat instrumen musik orkestraBarat untuk mengiringi pertunjukan tari putri pada bagian kapang-kapang Bedhaya,Srimpi, dan tari putra Lawung Ageng Keraton Yogyakarta. Beberapa instrumenmusik Barat seperti instrumen genderang, tambur (percussion section), instrumengesek (string sections), instrumen tiup kayu (woodwind sections) dan tiup logam (brasssections) digunakan dalam mengiringi tarian-tarian tersebut di atas. Metode kualitatifanalisis data dipakai untuk mengupas masalah ini. Namun, pendekatan sosial-politikjuga akan dipakai dalam mengulas permasalahan yang terkait. Berdasarkan penelitianini dapat disimpulkan bahwa dampak peristiwa intrik politik yang terjadi di keratonterbukti telah memengaruhi kehidupan keseniannya. Kebutuhan upacara protokoleryang merupakan kegiatan rutin pada saat itu dilengkapi dengan berbagai macamsajian pertunjukan musik untuk menambah hidup suasana pesta dansa dengandiiringi musik berirama waltz. Blend of Western Musical Instruments and Javanese Gamelan in DanceAccompaniment and Protocol Ceremonies of Keraton Yogyakarta. Westernmusical intruments have been combined with the Javanese gamelan instruments toaccompany dances performed in Keraton Yogyakarta (the Yogyakarta Palace). It startedwith the coming of the Western culture which then ‘interacting’ with the East. Sincethen, the Western musical instruments have completed the protocol ceremonies held byKeraton Yogyakarta. The objective to be obtained with this research is to historicallystudy the blend of the Javanese gamelan with the Western orchestra musical instrumentsin accompanying the female dance performances, which are the kapang-kapang partof Bedhaya and Srimpi, and the male one i.e. Lawung Ageng. Some Western musicalinstruments like, drums (percussion sections), strings instruments (string sections),woodwind instruments (woodwind sections) and brass (brass sections) are used in thosedances shows. The data are analyzed utilizing the qualitative method. The problem willalso be approached socio-politically. It can be concluded that the political intrigue in thepalace has brought about some impacts on the art living in it. Waltz dance is performed toenliven the dance parties and complements the protocol ceremonies as the routine events

    Aspek Olah Vokal Musik Klasik Barat pada Musik Populer

    Get PDF
    Setiap medium musik mempunyai keistimewaan yang bisa dikaji seperti halnyapada musik klasik Barat dan musik populer. Norma daya tarik musik populeryang ringan dan mudah dinikmati tidak seperti pada musik klasik Barat atauyang sering disebut sebagai musik seni, namun demikian bukan berarti bahwamemainkannya tidak ada syarat artistik. Bervariasinya musik dan banyaknya pelakumusik mengakibatkan standar yang tinggi dan menuntut pemahaman terhadapdetail musik. Musik populer bertolak dari kebiasaan orang dan musisinya inginmemenuhi kebutuhan tersebut. Gambaran emosional yang muncul pada teksmenyebabkan kecenderungan naturalistik dalam bernyanyi. Melalui penelusuranasal-usul musik populer dan penelitian studi kasus di lapangan ditemukan bahwamusik populer beraliran soul serta R&B (rhythm and blues) mempunyai kesamaanunsur dengan teknik dan gaya bernyanyi klasik pada penerapan suara yang ratadalam rentang ambitus (even scale technique), penggunaan imajinasi dengan iramabebas, nada-nada hiasan, teknik vibrato, dan bahkan gaya bernyanyi Gregorianmurni dengan iringan ritmis yang dianggap sebagai suatu kebaruan dalam musikpopuler. The Overview on the Aspect of Western Classical Singing on Popular Music.Every music medium such as Western classical and popular music has its own practicalspecification due to the observation of each characteristic and uniqueness. The potentialattractiveness of popular music is different from the Western classical music in its easylistening characteristics, but it does not mean that the music does not have the artisticcharacter at all. More performers and more variations in the popular music mayaffect the higher standard and require the demand in every aspect of the details. Thepopular music is derived from the daily habit and that is the way the musician shoulddo to make this kind of music. The emotional characteristics in their lyrics cause thenaturalistic singing tendency. Through the observation of the popular music origin andthe field research study, it is founded that soul and R&B music have the similarities. Interms of the classical music, both use the typical scale technique, imagination with thefree rhythm, ornamentation, vibrato technique and even pure Gregorian singing styleused in some popular songs accompanied by rhythmical music served as a new idea inpopular music

    Problematika Tugu Yogyakarta dari Aspek Fungsi dan Makna

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk memahami fungsi dan makna bangunan TuguYogyakarta. Tugu Yogyakarta adalah bangunan berbentuk prisma segi empatdan menggunakan unsur-unsur seni rupa berupa garis, titik, warna, dan bidangsebagai dasar pembuatannya yang memiliki makna-makna yang dapat dipahamiberdasarkan telaah filosofi masyarakat Jawa. Penelitian ini menggunakan metodepenelitian kualitatif dengan pendekatan ikonografi. Pemaknaan Tugu Yogyakartamengalami pergeseran setiap generasi seiring dengan perubahan budaya masyarakatYogyakarta. Tugu telah berubah dan mulai kehilangan nilai kesakralannya ataumengalamai disakralisasi. Filosofi manunggaling kawula lan Gusti telah hilangdan tidak tercermin pada tugu saat ini. Sehingga bagi Keraton, tugu saat ini tidakbermakna. Tugu bukan lagi menjadi salah satu simbol keraton tetapi lebih padaikon Kota Yogyakarta saja. Tugu Yogyakarta and its Problems on the Aspects of Function and Meaning. Theresearch is aimed to understand the function and meaning of Tugu Yogyakarta. TuguYogyakarta is a rectangular prism-shaped building and uses the meanings implied in thevisual art elements such as lines, dots, color, and the surfaces as they are the basis in themaking process that can be understood by scrutinizing the Javanese society philosophy. Itis a qualitative research using the iconographic approach. The shifting meaning of TuguYogyakarta has gradually been experienced by Yogyakarta people which goes along withthe cultural changes. It has unfortunately changed and started losing its sacred value.‘Manunggaling kawulo lan Gusti’ as its philosophy has gone and no longer reflected bythe monument. Therefore, Tugu Yogyakarta has no meaning today. It is no longer one ofthe Keraton Yogyakarta symbols, but merely as the icon of Yogyakarta city instead

    Urbanisasi Spasial dan Pengaruhnya terhadap Perubahan Struktur Spasial pada Rumah Tinggal (Studi Kasus di Sewon, Bantul, Yogyakarta)

    Get PDF
    Kampus ISI Yogyakarta di Panggungharjo, Sewon, Bantul membawa dampakspasial bagi lingkungannya. Banyaknya mahasiswa pendatang dari berbagaidaerah di Indonesia menyebabkan penduduk di sekitar kampus memanfaatkansebagian rumah tinggalnya untuk fasilitas kebutuhan mahasiswa. Rumah tinggalberfungsi ganda sebagai tempat tinggal yang privasi (aman dan nyaman), tetapi jugasebagai tempat usaha yang umum dan terbuka. Fenomena tersebut menimbulkanperubahan struktur ruang pada rumah tinggal. Penelitian ini bersifat deskriptifeksplanatifyang bertujuan mendapatkan gambaran tentang perubahan strukturruang pada rumah tinggal yang bergeser fungsi. Unit amatan adalah strukturspasial berkaitan dengan organisasi ruang, orientasi ruang, akses/sirkulasi ruang,teritori fisik ruang (dinding, lantai, plafon). Unit analisis adalah pola fungsi danpemanfaatan ruang (hunian dan ruang usaha). Hasil penelitian ini adalah: (1)Perubahan teritori dengan mengubah elemen fisik (lantai, dinding, plafon), arahperubahan horizontal, dengan cara penambahan dan pengurangan elemen padaruangan dan tanah kosong, (2) tidak ada perubahan orientasi, orientasi rumah danruang usaha sama ke jalan, (3) organisasi ruang usaha dengan mengubah fungsiruang tamu, kamar tidur, garasi, dapur, (4) akses dan sirkulasi rumah tetap, aksesruang usaha dengan penambahan pintu atau tangga dan perpindahan. Sirkulasiruang usaha umumnya terpisah dan kombinasi hanya sedikit yang menyatu. Spatial Urbanization and Its Impact on the Spatial Structure Changesfor Residences (A Case Study in Sewon, Bantul, Yogyakarta). Located inPanggungharjo, Sewon, Bantul, ISI Yogyakarta has a spatial impact to its surrounding.Therefore, local people take advantages by modifying their houses to facilitate variousneeds of students. A house becomes multipurpose spaces served both as a private place(safe and convenient) and a public place (business space). However, this phenomenonleads to some changes of the structure of space. The research is descriptive-explanativewhich is aimed to gain overview of changes in the structure of space which leads tofunction shifting. The unit of observation is a spatial structure which is related to thespatial organization, spatial orientation, access / circulation space, and the physicalterritory of the space (walls, floor, and ceiling). Moreover, the research analysis is on thepattern of the function and space usage (house and business space). The results of thisresearch are lead to: (1) territorially changes by changing the physical elements (floors,walls, ceilings), and also marking in horizontal direction by modifying some elements in space and vacant land, (2) no changes in orientation; house and business spaces facingthe road, (3) the organization of business spaces by altering the function of a livingroom, bedroom, garage, and kitchen, (4) the remaining access and circulation of thehouse, additional doors or stairs and displacement are used for the business space. Somecirculations of the business space are commonly separated, united but less combination ofboth

    Citra Budaya Melalui Kajian Historis dan Identitas : Perubahan Budaya Pariwisata Bali Melalui Karya Seni Lukis

    Get PDF
    Bali adalah sebuah wilayah unik dengan realita sosial yang berada dalam tarikmenarikantara warisan tradisi yang masih hidup di dalam masyarakat dan budayamodern yang masuk melalui pariwisata. Imaji stereotype pariwisata menjadisimulakra realita yang diyakini benar dan pariwisata yang tadinya berdasar padaekonomi pun menjadi pariwisata budaya. Dalam situasi seperti ini munculfenomena mempertanyakan identitas kultural sebagai akibat tarik-menarik danperbenturan nilai-nilai tradisi dan modern yang sering kali bertentangan satu danyang lain. Karya seni adalah gambaran akan realita, namun tidak semata-matasebagai tiruan realita (mimesis). Persoalan identitas yang mengemuka dalam seniera post-modern lebih mengacu pada fenomena mempertanyakan seni dalam eramodernisme dengan menggunakan isu-isu identitas kultural sebagai lawan dari seniyang otonomi dalam era modernisme. Identitas tidak tercermin utuh dalam karyaseni sebab karya seni hanya menggunakan jejak-jejaknya. The Culture Image Trough Historical and Identity Study: Change of BaliTourism Culture By Means of Paintings. Bali is a unique place with a social realityin which the inherited tradition practiced by the society and the modern culture broughtby tourism drag one another. The image of tourism stereotype becomes a simulacrumof reality which is believed to be true and the tourism which was economically basedcurrently has been shifted into the culture tourism. Within this kind of situation, aquestion about cultural identity arises due to the contact and conflict between thetraditional values and the modern ones. Works of art are the depictions of the reality yetare not merely the imitation of it (mimesis). Identity problems raised in the post-modernera tends to ask art in the modernism age using cultural identity issues opposed to theautonomous art within that time. Identity is not fully illustrated in works of art becausethey only use the traces of it.

    Kajian Aspek Ketidaksadaran dalam Karya Seni Rupa Indonesia Periode 2000-2011

    Get PDF
    Pada era seni rupa kontemporer, pembacaan karya tidak lagi hanya terbatas padahasil analisis dan interpretasi unsur-unsur formal, namun juga mempertimbangkanketerkaitannya dengan psikobiografi seniman sehingga dapat memberikan gambaranyang lebih lengkap tentang karakter seni rupa yang multifaset. Penelitian inidirancang untuk mengidentifikasi representasi aspek ketidaksadaran dalam karya senirupa Indonesia dan menginterpretasikan simbol-simbolnya. Seniman yang karyanyadipilih sebagai studi kasus dalam penelitian ini adalah I Gusti Ayu Kadek Murniasih,Entang Wiharso, dan Ugo Untoro. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatanmultidisiplin (psikologi seni dan semiotika. Berdasarkan hasil analisis, aspekketidaksadaran yang direpresentasikan melalui simbol-simbol visual yang khas dalamkarya ketiga seniman cenderung lahir dari pengalaman traumatik yang melahirkanketakutan, kesakitan, dan agresi. Melukis bagi ketiganya adalah proses katarsis,media untuk mensublimasikan/memperhalus dorongan-dorongan naluri ketakutan,kesakitan, dan agresi ke dalam bentuk karya yang dapat diterima dan diapresiasidengan baik oleh masyarakat. A Study on Unconsciousness Aspect in the 2000-2011 Works of Indonesia VisualArt. In the era of contemporary visual art, the works of art cannot be read merelylimited to the analysis and interpretation of the formal elements but have to include theconsideration about the artist’s psychobiography so that there will be a more completepicture about the multifaceted visual arts. This research is carried out to identify therepresentation of the unconsciousness aspect in the works of visual arts and then interpretthe symbols. The selected samples are the works of I Gusti Ayu Kadek Murniasih,Entang Wiharso, and Ugo Untoro. The multidisciplinary (art psychology and semiotics)approach is applied within the qualitative method used. Based on the analysis result,the unconsciousness aspect represented in unique visual symbols in the works of thethree artists is originated in their traumatic experiences which generate fear, pain, andaggression. For them, painting is their catharsis process, the media to sublime/smoothentheir impulse of fear, pain, and aggression so that the society can accept and appreciatetheir works

    145

    full texts

    155

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Urban Society's Arts
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇