Journal of Urban Society's Arts
Not a member yet
155 research outputs found
Sort by
Perwujudan Naskah Drama Anusapati Karya S.H. Mintardja dalam Pementasan Teater
Seorang sutradara menentukan kualitas sebuah pementasan teater. Ia dituntut memiliki kepekaan dramatik sehingga dapat menerjemahkan sebuah naskah lakon menjadi pengalaman pentas yang berarti. Naskah lakon menjadi hal yang sangat penting dalam menghasilkan pementasan teater yang berkualitas. Penulis memilih naskah lakon Anusapati karya S.H. Mintardja untuk diwujudkan dalam sebuah pementasan teater. Lakon Anusapati adalah lakon yang tragis, bermula dari kesalahan yang dilakukan Ken Arok untuk mencapai keinginannya merebut kekuasaan. Kesalahan ini mengakibatkankarma yang tidak dapat ditolak oleh Ken Arok dan tujuh keturunannya. Naskah lakon Anusapati akan diwujudkan dalam sebuah pementasan dengan pendekatan ketoprak. Dengan mengawinkan konsep teater modern terhadap perkembangan ketoprak dengan memosisikan sutradara sebagai pusat kontrol atas segala aspek pemanggungan dengan tetap memberi ruang kepada para pemain untuk mengembangkan permainan secara maksimal. Dalam mewujudkan lakon menjadi sebuah pementasan membutuhkan konsep pemanggungan yang dapat dijadikan sebagai arah dalam menjalankan proses kreatif. Konsep pemanggungan memuat pokok-pokok gagasan yang akan diwujudkan dalam pementasan. Garis-garis permainan, desain artistik, dan musik pendukung dirancang untuk memenuhi terwujudnya gagasan. Sutaradara mengorganisasi seluruh aspek pemanggungan yang dikelola oleh beberapa staf artistik, seperti penata pentas, penata busana, penata rias, dan penata artistik sehingga menghasilkan pementasan yang menarik, berkualitas, dan layak untuk ditonton. The Embodiment of the Anusapati Script by S.H. Mintardja in Theatrical Staging with the Ketoprak Approach. Director determines the quality of a theatrical production. The Director is required to have dramatic sensibility (sense of dramatic) so that he can translate a script of the play being performed that may experience meaning. The script of the play becomes the thing that is very important in producing the quality of theatrical staging. The script of the play that becomes the choice of the author in a theatrical staging is the Anusapati by SH Mintardja. The Anusapati is a tragic screenplay, it starts from the mistakes done by Ken Arok in accomplishing his desire in seizing power. The mistakes result in karma that cannot be denied by Ken Arok and seven offspring. The script of Anusapati would be performed in a theatrical staging with the ketoprak approach. It is done by combining the concepts on modern theater and the development of ketoprak by positioning the director as the central of controlling over all aspects of staging by keeping on giving the space to the players to develop their performance to the maximum. In realizing the play becomes a staging, it needs the concept of staging that can serve as the creative process in the running direction. The concept of staging contains ideas which will be embodied in the idea of staging. Rules of play, artistic design, and music accompaniment are designed to meet the realization of the idea. The director organizes all aspects of staging that is maintained by some of the artistic staffs, such as a stage manager, a fashion stylist, a make-up stylist, and an artistic director and finally produce an interesting and qualified staging, and worthy to watch
Fashion Budaya Nasional dalam Konteks Wawasan Kebangsaan: Studi Kasus pada Jember Fashion Carnaval
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konstruksi makna fashion yang berkaitan dengan konsep wawasan kebangsaan. Desain penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode fenomenologi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi mendalam dan studi dokumentasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) hal-hal yang diungkapkan fashion sebagai penguat wawasan kebangsaan melalui Jember FashionCarnaval (JFC) berkaitan dengan aspek kreativitas, tema, dan simbol-simbol dalam kostum karnaval;(2) pesan fashion berkaitan dengan wawasan kebangsaan karena memuat nilai-nilai persatuan dan kesatuan yang dilandasi semangat dan usaha rela berkorban. Pesan menggambarkan bagaimana konstruksi nilai-nilai kebangsaan yang dimiliki secara bersama-sama dapat dijadikan sebagai pedoman hidup antarmasyarakat berbangsa dan bernegara;(3) proses mengonstruksi nilai-nilai kebangsaan melalui fashion ditunjukkan dengan partisipasi atau keterlibatan secara aktif dan bertanggung jawab dalam mengikuti program pelatihan dan pembimbingan. Program yang disebut In House Training selama lima bulan menjelang pelaksanaan JFC meliputi pemilihan tema berdasarkan riset dan pengkajian sampai pada acara puncak, yaitu grand carnival. The Fashion of National Culture in the Context of National Insight : CaseStudy on Jember Fashion Carnaval. This study aims to explain the construction meaning of fashion related to the concept of national insight. The study is qualitative with phenomenological method. Data collection technique was carried out by interviews, in-depth observation, and documentation studies. The results show that: (1) disclosed matters of the fashion as a reinforcement of the concept of national insight through Jember Fashion Carnaval (JFC) deal with aspects of creativity, themes, and symbols in carnival costume; (2) the fashion statement relates to the concept of national insight because it contains the values of unity and the spirit of understanding and self-sacrificing efforts. The messages describe how the construction of the national values held together can be used as guidelines for intra-national and state of life; (3) the process of constructing the national values through fashion is indicated by participation or involvement actively and responsibly in the training program and coaching. The program called In House Training for five months before the implementation of JFC includes the selection of themes based on the research and studies until the main event, which is a grand carnival
Representasi Identitas Bali Pada Koleksi Tetap Museum Neka
Pulau Bali memiliki budaya yang unik dengan berbagai artefak. Representasi artefak budaya ditampilkan di museum. Salah satu museum yang memiliki kunjungan wisatawan tertinggi di Bali adalah Museum Neka. Museum sebagai lembaga permanen memiliki koleksi karya seni yang dipilih sesuai dengan kepentingan pemilik institusi, termasuk Museum Neka. Penelitian ini mengamati dan mengkaji representasi visual dari koleksi permanen Museum Neka dan hubungannya dengan identitas Bali. Karya-karya seni yang dikaji dibatasi untuk karya seni rupa khususnya lukisan karena Museum Neka memiliki koleksi terbesar dari lukisan, yaitu lebih dari 300 lukisan. Neka Museum juga memfokuskan pada lukisan dalam koleksi permanennya. Lukisan-lukisan tersebut dilihat melalui metode pengamatan visual, dan analisis konten visual yang menggambarkan konstruksi identitas Bali. Pendekatan hermeneutik digunakan untuk memahami makna keseluruhan presentasi. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memetakan kecenderungan museum untuk membangun identitas budaya. The Representation of Balinese Identity in the Permanent Collection of Neka Museum. The island of Bali has a unique culture with various artifacts. The representation of cultural artifacts is showed in the museum. One of the museums that has the highest rate of tourist visit in Bali is the Neka Museum. The museum as a permanent institution has a collection of art works in accordance with the institution’s interest, as well as the Neka Museum. Through the works of a permanent collection, this study observes and reviews the visual representation of the permanent collection of Neka Museum and its relation with the balinese identity. The art works of that are examined are restricted to works of fine art and devoted to the paintings because of Neka Museum has the largest collection of paintings for more than 300 paintings. Neka Museum also exhibits a permanent collection focuses on paintings. In addition, the paintings can be seen through visual observation methods, the analysis of visual content that describes the construction of balinese identity. Hermeneutic approach is used to understand the overall meaning of the presentation. The results of this study can be used to map the tendency of museums to build a cultural identity.
Kelompok Pita Maha: Gerak Menuju Seni Lukis Modern Bali
Penelitian ini bertujuan untuk melihat dan memahami perubahan yang terjadi dalam seni lukis Bali sejak adanya Kelompok Pita Maha. Konsep mengenai seni lukis modern di Indonesia mempunyai perbedaan sejarah, baik dalam bentuk maupun isi, dengan wacana seni lukis modern di Barat yang monolinier-universalis-rasionalis. Wacana seni lukis modern yang menggejala di Indonesia (termasuk Bali) hadir melalui intervensi asing (penjajahan). Wacana seni lukis modern secara bersamaan telah meminggirkan seni-seni lain yang tidak memenuhi kriteria-kriteria “modern”. Seni di luar kriteria modern kemudian disebut sebagai seni tradisi yang mempersempit dan mengecilkan keberadaannya. Sejarah perkembangan seni lukis di Bali menarik untuk dikaji karena terdapat pola yang khas karena warisan-warisan seni pada masa lalu masih terus hadir dalam seni lumkis masa kini. Tulisan ini tidak akan mempertentangkan antara seni lukis tradisi dengan seni lukis modern. Tulisan ini membahas pengaruh Kelompok Pita Maha terhadap modernisasi dalam seni lukis Bali. Data dikaji secara secara deskriptif-analitis dengan pendekatan sosio-historis mengenai perubahan-perubahan yang terjadi dalam seni lukis Bali dari tatanan seni lukis prakolonial menjadi tatanan seni lukis Bali masa kini. Pita Maha Group: The Motion Towards the Balinese Modern Paintings. The concept of modern painting in Indonesia has different histories, both in the form and content, with the discourse of modern painting in the West which is monolinier-universal-rationale. The discourse of modern painting implicated in Indonesia (including Bali) presents through colonization. Modern art at the same time has marginalized other arts that do not fullfill modern criteria. Art, outside the criteria of modern art is called as an traditional art that narrowed and lowered its existence. It is interesting to make a research about the development of painting history in Bali because there is a unique pattern showing the artistic legacy of the past which still presents in nowadays art. This paper will not focus on polarizing between traditional and modern painting. It is interesting to discuss it more descriptive-analytically with the social-historis approach on how the changes happened in Balinese painting of pre-colonial art to modern Balinese paintings of which the other one is the presence of the Pita Maha
Eksistensi Gula Gending di dalam Dinamika Budaya Lombok
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap eksistensi gula gending di dalam dinamika budaya yang terjadi di Lombok. Gula gending merupakan sebuah pertunjukan musik yang dimainkan ketika pedagang harum manis mepromosikan barang dagangannya untuk menarik perhatian calon pembeli. Seiring dengan perjalanan waktu, pertunjukan musik ini menjadi langka dan jarang ditemukan di dalam masyarakat. Kini gula gending muncul kembali dengan beberapa perkembangan yang menyertainya. Analisis dilakukan terhadap fakta musikal yang meliputi dimensi sonorik, dimensi visual dan dimensi kinestetik. Untuk membahas mengenai penyebab dan hasil dari perkembangan akan digunakan konsep music and cutural dynamic. This research aims to gasp the exsistence of gula gending in cultural dynamic which occurs in Lombok. Gula gending was a music performance played when the arbanat seller was promoting their goods to attract the customers’ attention. As the time goes by, this music performance becomes rare, so we seldom find its existence in society. In spite of the fact, nowdays gula gending reappears along with few following developments. An analysis has been done to the musical facts which may include among athers are sonoric dimention, visual dimention, and kinesthetic dimention. To gain the explanation about the causes and results of the development, music and cultural dynamic concepts are conducted
Museum Ullen Sentalu dalam Perspektif Seni Budaya
Museum merupakan tempat yang sering tidak bisa dilewatkan oleh wisatawan guna memuaskan rasa ingin tahu tentang keunikan dari sebuah kota tujuan wisata. Museum juga sering dikunjungi oleh baik para ilmuwan maupun para akademisi yang melakukan studi/riset/kajian tentang hal-hal yang memiliki nilai-nilai keunikan historis, arkeologis, estetis dan termasuk semua hal yang bernuansa memorabilia dan nostalgia. Ullen Sentalu merupakan museum yang agak unik karena di samping lokasinya yang agak jauh dari hingar bingar kesibukan kota, namun keberadaannya merupakan kebutuhan seni budaya perkotaan. Keunikan dari museum ini terletak pada nilai koleksi artefak-artefaknya yang menghadirkan khusus tentang benda-benda kewanitaan yang bernuansa warisan budaya monarki Mataram Lama yang berbeda dengan koleksi museum lainnya di tanah air. Museum is a place where tourists are unable to easily neglect for satisfying their curiousity about the uniqueness found in the tourism destination cities.The museum is also commonly visited by artists, academicians, and scientists for their research and studies of variety subjects which discuss the values of historical, archeological, and aesthetic uniqueness, and any subjects that are concerned with those of memorabilia and nostalgic evidence. Ullen Sentalu museum is rather unique when we see the location in the ’remote’ area which is far from the frenetic bustle of the city yet its existence constitutes the needs of urban culture. The uniqueness of this museum lies on the value of artefacts collections which particularly bring the feminine objects nuenced the cultural heritage of the Old Mataram monarchy which are completely different from other museum collections in the country