Jurnal Info Kesehatan
Not a member yet
478 research outputs found
Sort by
Profil Pengobatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) Pada Balita Di Puskesmas Rambangaru Tahun 2015
Acute Respiratory Infection (ARI) is an acute disease with a variety of symptoms that often occur in infants. In 2015, ARI was ranked first in the 10 most disease patterns in Rambangaru Health Center with a total of 4350 cases. The purpose of this study was to determine the profile of ARI treatment in infants in Rambangaru Health Center based on age, gender, weight, diagnosis, type of drug, duration of treatment, dosage form, frequency, dose and suitability of the implementation of Integrated Management of Childhood Illness (IMCI). The type of research used is a retrospective descriptive collection of data in the Register and Recipe book, data is recorded, grouped and presented in tables. The results of the study of 366 samples showed that infants aged 1-> 3 years were the most cases with 151 cases (41.25%), male gender 185 cases (50.54%), based on weight 10 kg- <16 kg as many as 258 cases (70.51%), based on the diagnosis is moderate pneumonia ARI 340 cases (90.9%), the type of drug used in ARI rather than pneumonia is 26 cases of ARI (7.10%), in ARI pneumonia while antibiotic Amoxicillin was 263 (71.88%), based on treatment duration was 4 days 306 cases (83.60%), the most widely given dosage forms were pulmonary ARI and Amoxicillin tablets 263 cases (71.88%), the highest frequency is 3 times a day 170 cases (46.44%). Based on the suitability of the implementation of Integrated Management of Childhood Illness (IMCI) on dose, frequency, and duration of treatment 262 cases (78.44%) paracetamol, 263 cases (100%) Amoxicillin tablets, 25 cases (80.64%) Amoxicillin syrup, and 45 Case (97.83%) Cotrimoxazole does not match IMCI.Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit akut dengan berbagai macam gejala yang sering terjadi pada balita. Pada tahun 2015, ISPA menduduki peringkat pertama dalam 10 pola penyakit terbanyak di Puskesmas Rambangaru dengan jumlah 4350 kasus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Profil pengobatan ISPA pada balita di Puskesmas Rambangaru berdasarkan umur, jenis kelamin, berat badan, diagnosa, jenis obat, lama pengobatan, bentuk sediaan, frekuensi, dosis serta kesesuaian pelaksanaan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif yaitu pengumpulan data pada buku Register dan Resep, data dicatat, dikelompokkan dan disajikan dalam tabel. Hasil penelitian dari 366 sampel menunjukkan bahwa balita umur 1->3 tahun merupakan kasus terbanyak dengan jumlah 151 kasus (41,25%), jenis kelamin laki-laki 185 kasus (50,54%), berdasarkan berat badan 10 kg-< 16 kg sebanyak 258 kasus (70,51%) ,berdasarkan diagnosa adalah ISPA Pneumonia sedang 340 kasus (90,9%), jenis obat yang digunakan pada ISPA bukan pneumonia adalah pulvis ISPA sebanyak 26 kasus (7,10%), pada ISPA pneumonia sedang adalah antibiotik Amoksisilin sebanyak 263 (71,88%), berdasarkan lama pengobatan adalah 4 hari s 306 kasus (83,60%), bentuk sediaan yang paling banyak diberikan adalah pulvis ISPA dan tablet Amoksisilin 263 kasus (71,88%), frekuensi paling banyak yakni 3 kali sehari 170 kasus (46,44%). Berdasarkan kesesuaian pelaksanaan Managemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) terhadap dosis, frekuensi, dan lama pengobatan 262 kasus (78,44%) parasetamol, 263 kasus (100%) Amoksisilin tablet, 25 kasus (80,64%) Amoksisilin sirup, dan 45 kasus (97,83%) Kotrimoksazol tidak sesuai MTBS
Studi Kualitas Fisik Udara Dan Sanitasi Dasar Di Ruang Tunggu Pelabuhan Tenau Dan Pelabuhan Bolok
The problem of air supply and the lack of sanitation facilities in the seaport waiting room is still a problem, including in the waiting room of Tenau Port and Bolok Port, this can be shown by many passengers who feel hot and hot, a lot of garbage is scattered, the number of latrines is lacking and there are puddles water in front of the toilet. This study aims to determine the temperature, humidity, ventilation, velocity of air flow, quantity of clean water, latrines, trash cans, sewerage. This research is a descriptive study that describes the results of field observations and data that have been obtained during the study to obtain deeper facts about the physical quality of air and basic sanitation. The subject of this study is the waiting room of Tenau Port and Bolok Port
Peningkatan Protein dan Vitamin B melalui Pemberian Whey dan Lerry pada Produk Nata
Background: Rinse or rice water lyri and whey tofu is a waste generated by many households and home industries are thrown away. Whereas this waste is still a lot of nutrients that still exist such as carbohydrates, proteins, and vitamins. Waste lerri and whey know this can still be utilized to nata by using bacteria Acetobacter xylinum, so it is expected can also increase economic value of society. Objective: To know the effect of whey tofu substitution on thickness, nutrient content and vitamin B1 nata de lerri. Method: This research is purely experimental, using Completely Randomized Design (RAL) consisting of 5 treatments and each repeated 3 times. Where the free variable is media formula nata, namely rice water washing medium (lerri) and whey knows F1 (100: 0)%; F2 (75: 25)%; F3 (50: 50)%; F4 (25: 75)%; F5 (0: 100)%. The dependent variable is nata thickness, nata nutritional value (moisture content, crude protein content, coarse fiber content, vitamin B1) and organoleptic receiving power. Result: In this research there are five formula of nata de lerri substitution whey know that do. But in practice 2 formulas did not work, namely F4 and F5, because the product remains liquid and cloudy white. This is possible fungal contamination that occurs due to a technical error (less sterile). For thickness nata de lerri, the highest result is the formula F1 with a thickness of 1 cm and the lowest F3 with a thickness of 0.5 cm. But for the results of testing the water content, ash content and highest crude protein content is F3 with a water content value 99.93%, ash 0.34%, crude protein content 1.35%. But from the test results of vitamin B1 all formula and water lerri not detected, this is possible because of the error of the test equipment.Latar Belakang: Air cucian beras atau lerri dan whey tahu merupakan limbah yang banyak dihasilkan oleh rumah tangga dan industri rumahan yang dibuang begitu saja. Padahal pada limbah ini masih banyak kandungan nutrisi yang masih ada seperti karbohidrat, protein, serta vitamin. Limbah lerri dan whey tahu ini masih bisa dimanfaatkan menjadi nata dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum, sehingga diharapkan dapat juga meningkatkan nilai ekonomi masyarakat. Tujuan: Mengetahui pengaruh substitusi whey tahu terhadap ketebalan, kandungan gizi dan vitamin B1 nata de lerri. Metode: Penelitian ini bersifat eksperimental murni, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak 3 kali. Dimana yang menjadi variabel bebasnya adalah formula media nata, yaitu media air cucian beras (lerri) dan whey tahu F1 (100:0)%; F2 (75:25)%; F3 (50:50)%; F4 (25:75)%; F5 (0:100)%. Variabel terikatnya adalah ketebalan nata, nilai gizi nata (Kadar air, kadar protein kasar, kadar serat kasar, vitamin B1) dan daya terima organoleptik. Hasil: Pada penelitian ini terdapat lima formula nata de lerri substitusi whey tahu yang dilakukan. Namun pada pelaksanaannya 2 formula tidak berhasil, yaitu F4 dan F5, karena produk tetap cair dan berwarna putih keruh. Hal ini dimungkinkan adanya kontaminasi jamur yang terjadi karena kesalahan teknis (kurang steril).Untuk ketebalan nata de lerri, hasil yang paling tinggi adalah formula F1 dengan ketebalan 1 cm dan terendah F3 dengan ketebalan 0,5 cm. Namun untuk hasil pengujian kadar air, kadar abu serta kadar protein kasar yang paling tinggi adalah F3 dengan nilai kadar air 99,93%, kadar abu 0,34%, kadar protein kasar 1,35%. Namun dari hasil pengujian kadar vit B1 semua formula dan air lerri tidak terdeteksi, hal ini dimungkinkan karena adanya kesalahan alat uji
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Deteksi Dini Perkembangan Anak Usia Balita Terhadap Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Ibu Dalam Melakukan Deteksi Dini Perkembangan Anak di Pusat Kesehatan Masyarakat Sikumana, Kota Kupang
Early childhood is the "golden period" of child development, the window of opportunity and the critical period. This period is a sensitive period, a period of rapid and important growth and development. If there is a drift of growth and not detected early then it will affect the growth of the next flower (Siswanto, 2010). Based on data from East Nusa Tenggara Health Profile (2010), early detection in children under five in Kupang City was 1,506 children (9.3%) of 16,121 children under five. Research Ina A., 2014, in Kota Kupang, found 19 respondents experiencing development deviations. Existing phenomenon in the field rarely found early detection activities of child development in Maternal and Child Health Services. Assessment of progress with KPSP is easy to do as long as you know how. This study aims to analyze the influence of health education on early detection of the child under five development of children towards improving mother\u27s knowledge and skill in early detection of child development, at Maternal and Child Health Services, health center of Sikumana, Kupang City ". This type of research is experimental with one group design pre-test and post-test design. The sample size was 44 people, ie 22 treatment and 22 no treatment. Random sampling. The results of this study indicate that there is an effect of health education on early detection of the development of children under five on improving mother\u27s knowledge and skills in early detection of child development, in Maternal and Child Health Services Sikumana Health Center, Kupang City "with p = 0,000, for knowledge and p = 0,000 for skills.Masa anak usia dini merupakan masa keemasan (the golden period) perkembangan anak, jendela kesempatan (the window of opportunity) dan masa kritis (critical period). Masa ini merupakan masa peka (sensitif), masa pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dan penting. Apabila terjadi penyimpangan tumbuh kembang dan tidak terdeteksi secara dini maka akan mempengaruhi tumbuh kembang selanjutnya (Siswanto, 2010).Berdasarkan data dari Profil Kesehatan NTT (2010), deteksi dini pada anak balita di Kota Kupang sejumlah 1.506 anak (9.3%) dari 16.121 anak balita. Penelitian Ina A., 2014, di Kota Kupang ditemukan 19 reponden mengalami penyimpangan perkembangan. Fenomena yang ada di lapangan, jarang ditemukan kegiatan deteksi dini perkembangan anak di Posyandu. Penilaian perkembangan dengan KPSP mudah dilakukan asalkan tahu caranya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pendidikan kesehatan tentang deteksi dini perkembangan anak usia balita terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan deteksi dini perkembangan anak, di Posyandu Puskesmas Sikumana, Kota Kupang”. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan desain one group pre test and post test desain. Jumlah sampel 44 orang, yakni 22 perlakuan dan 22 tidak ada perlakuan. Pengambilan sampel secara acak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang deteksi dini perkembangan anak usia balita terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam melakukan deteksi dini perkembangan anak, Di Posyandu Puskesmas Sikumana, Kota Kupang” dengan nilai p= 0,000, untuk pengetahuan dan p= 0,000 untuk ketrampilan
Implementasi Kebijakan Eliminasi Malaria Di Pusat Kesehatan Masyarakat Kota Kupang
Malaria is one of the contagious infectious diseases which is still a global public health problem. Of the 106 countries endemic malaria in the world, Indonesia entered the top 10 endemic countries (Hay, 2007). Recorded 214 million malaria cases (confirmed) worldwide and 306 thousand under-five deaths in the world due to Malaria (WHO, 2014). Indonesia reported there were 343 thousand cases of Malaria (confirmed) (Ministry of Health, 2014) and East Nusa Tenggara Province 36,128 cases (Health Department, 2016). Nationally, 75-80% of malaria cases in Indonesia come from eastern Indonesia (Papua, West Papua, Maluku, North Maluku and East Nusa Tenggara). Various efforts have been made to reduce morbidity and mortality due to malaria, among others, with the policy of elimination of Malaria both globally, nationally and locally. The purpose of this research is to know the description of the implementation of malaria elimination policy at Public Health Center of Kupang City. The type of this research is quantitative research that describes the implementation of malaria elimination policy in Public Health Center with the Descriptive design. The data of the research were analyzed descriptively and presented in the form of frequency distribution and percentage. The results showed that the discovery and management of patients, Prevention and control of risk factors, epidemiological surveillance and epidemic control, Improving communication, information and education, and Increasing human resources in implementation the policy of eliminating malaria at the Kupang Public Health Center is implemented in accordance with the stipulated policy of reaching 100% for 11 Public Health Center.Malaria merupakan salah satu penyakit infeksi menular yang hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Dari 106 negara endemis malaria di dunia, Indonesia masuk 10 besar negara endemis (Hay, 2007). Tercatat 214 juta kasus malaria (confirmed) di seluruh dunia dan 306 ribu kematian balita di dunia akibat Malaria (WHO, 2014). Indonesia dilaporkan terdapat 343 ribu kasus Malaria (confirmed) (Kemenkes, 2014) dan Provinsi NTT 36.128 kasus (Dinkes, 2016). Secara nasional, 75-80% kasus malaria di Indonesia berasal dari kawasan Indonesia timur (Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT). Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria, diantaranya dengan ditetapkan kebijakan eliminasi Malaria baik secara global, nasional dan lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran implementasi kebijakan eliminasi malaria di Puskesmas seKota Kupang. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang menggambarkan implementasi kebijakan eliminasi malaria di Puskesmas Se-Kota Kupang dengan rancangan Deskriptif. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk distribusi frekwensi dan prosentase.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penemuan dan tatalaksana penderita, Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko, Surveilans epidemiologi dan penanggulangan wabah, Peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), dan Peningkatan sumber daya manusia dalam implementasi kebijakan eliminasi malaria di Puskesmas seKota Kupang dilaksanakan sesuai kebijakan yang ditetapkan yaitu mencapai 100% untuk 11 Puskesmas
Gambaran Pemberian Obat Masal Pencegahan Kaki Gajah Di Wilayah Kerja Puskesmas Welamosa Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende Tahun 2011-2015
Elephant Foot Disease (Lymphatic Filariasis), hereinafter referred to as filariasis, is a chronic infectious disease caused by filarial worms that attack the lymph nodes. Data from the Ende District Health Office shows that up to 2015 there were 233 cases of filariasis with the highest number found in the welamosa Public Health Center in the authority district of 67 people. The purpose of this study was to determine the description of mass drug prevention of elephantiasis in the working area of Welamosa Health Center in Wewaria District, Ende Regency in 2011-2015. The type of research used is descriptive with a cross-sectional design using a stratified random sampling technique with a sample of 380 samples. The results showed that people who drank mass medicine to prevent elephantiasis in 2011 amounted to 51%, in 2012 amounted to 52%, in 2013 amounted to 56%, in 2014 and 2015 respectively 62%. People who do not take medication are caused by not getting medication and not taking medication. Residents who get the medicine but do not drink it are more due to no desire to drink that because of the side effects of drugs/allergies while the people who do not get the medicine are more due to the unwillingness/willingness to take the drug.Penyakit Kaki Gajah (Lymphatic Filariasis) yang selanjutnya disebut filariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria yang menyerang saluran kelenjar getah bening. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ende menunjukan hingga tahun 2015 tercatat 233 kasus filariasis dengan jumlah tertinggi terdapat di wilayah puskesmas welamosa kecamatan wewaria yaitu sebanyak 67 orang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pemberian obat masal pencegahan kaki gajah di wilayah kerja Puskesmas Welamosa Kecamatan Wewaria Kabupaten Ende tahun 2011-2015. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan desain cross sectional menggunakan teknik stratified random sampling dengan jumlah sampel 380 sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa masyarakat yang minum obat masal pencegahan kaki gajah tahun 2011 sebesar 51%, tahun 2012 sebesar 52%, tahun 2013 sebesar 56%, tahun 2014 dan 2015 masing-masing sebesar 62%. Masyarakat yang tidak minum obat lebih disebabkan karena tidak mendapat obat dan tidak mau minum obat. Warga yang mendapat obat namun tidak meminumnya lebih disebabkan tidak ada niat/kemauan untuk minum dibandingkan karena faktor efek samping obat/alergi sedangkan warga yang tidak mendapat obat lebih disebabkan karena tidak kemauan/keinginan untuk mengambil obat
Assosiation Between Mother Knowledge Related Nutrition and Complementary Feeding Pattern with Nutrition Status of 6 – 24 Months Children
Complementary feeding is the important meal should give to the children 6 – 24 months as a complement of breastfeeding. Mother as a key person who has a responsibility for caring and gives great meal for children. Before mother prepares a great meal for children, they should have good knowledge about nutrition and how to feed their children. The aim of the study is to know associations between mother’s nutrition knowledge and complementary and complementary feeding pattern with nutritional status of the children. This study was a quantitative study with a cross-sectional design and was done in 41 samples mother and child in age 6 – 24 months old by Cluster sampling. Result: Most of the mother knew was in the middle category (48.8%), and nutrition status of the children was 31.7% in mild undernutrition, 9.8 % in severe undernutrition, 24.4% in mild stunting, and 34.1% severe stunting. More than 60% was a good complementary feeding pattern. There was a significant association between mother’s knowledge with complementary feeding pattern as linear as that there was a significant association between complementary feeding patterns with nutritional status. This study was found that a mother’s nutrition knowledge will influence the complementary feeding practice and will influence the nutritional status of the children
Hubungan Antara Pencatatan Pelaporan Laporan Pemakaian-Lembar Permintaan Obat (LP-LPO) Dengan Perencanaan Obat Di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai
The recording of drug data reporting at Regency/City Pharmacy is a series of activities in order to manage medicine in an orderly manner either medicine received, stored, distributed or used in health care unit such as Puskesmas. This study aims to calculate the highest number of drug use in Pharmaceutical Warehouse of Manggarai District Health Office based on LP-LPO reporting in 2012 and 2013, to know drug planning in 2013 and 2014 and to analyze the relationship between LP-LPO reporting in 2012 and 2013 with drug planning in 2013 and 2014. This type of research is descriptive research. The results showed that the most used drugs in 2012 and 2013 were Iron II sulfate tablet combination 13.92% and Ascorbic acid 500 mg tablet 21.69%. The drugs with the highest ranking in 2012 and 2013 are Antalgin 500 mg tablet 4.72% and Dexamethasone 0.5 mg tablet 3.40%. Drugs with the largest planning in 2012 and 2013 are Antacids DOEN combination tablets (655,000 tablets) and Amoxicillin 500 mg (1,148,000 tablets). The tenth-grade drug with the smallest planning of 2012 and 2013 is Iron II sulfate combination coated tablet (60,000 tablets in 2012 and 40,000 tablets in 2013. Record of LP-LPO reporting in 2012 with 2013 drug planning and LP-LPO reporting record in 2013 with Drug planning in 2014 has a fairly close relationship.Pencatatan pelaporan data obat di Instasi Farmasi Kabupaten/Kota merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka pengelolaan obat secara tertib baik obat yang diterima, disimpan, didistribusikan maupun yang digunakan di unit pelayanan kesehatan seperti Puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jumlah pemakaian 10 obat tertinggi di Gudang Farmasi Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai berdasarkan pelaporan LP-LPO tahun 2012 dan tahun 2013, mengetahui perencanaan obat tahun 2013 dan 2014 dan menganalisa hubungan antara pencatatan pelaporan LP-LPO tahun 2012 dan tahun 2013 dengan perencanaan obat tahun 2013 dan 2014. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa obat dengan pemakaian terbanyak pada tahun 2012 dan 2013 adalah Besi II sulfat tablet kombinasi 13,92% dan Asam askorbat 500 mg tablet 21,69%. Obat dengan peringkat kesepuluh terbanyak pada tahun 2012 dan 2013 adalah Antalgin 500 mg tablet 4,72% dan Deksametason 0,5 mg tablet 3,40%. Obat dengan perencanaan terbesar pada tahun 2012 dan 2013 adalah Antasida DOEN tablet kombinasi (655.000 tablet) dan Amoksisilin 500 mg (1.148.000 tablet). Obat peringkat kesepuluh dengan perencanaan terkecil tahun 2012 dan 2013 adalah Besi II sulfat tablet salut kombinasi (60.000 tablet pada tahun 2012 dan 40.000 tablet pada tahun 2013. Pencatatan pelaporan LP-LPO tahun 2012 dengan perencanaan obat 2013 dan pencatatan pelaporan LP-LPO tahun 2013 dengan perencanaan obat tahun 2014 memiliki hubungan yang cukup erat
Pencegahan Penyakit Tbc Paru Yang Utama Dimulai Dari Dalam Rumah Penderita
Pulmonary TB disease as a tropical disease, was found to increase from 385 cases in 2014, to 600 cases in 2015 in Malaka district, Wehali village, Betun Public Health Center of Malacca District by the amount. This increase in numbers indicates the weak behavior of pulmonary tuberculosis prevention in Malacca society. The aim of the study was to analyze the relationship between preventive behavior and the risk of pulmonary tuberculosis transmission among people at home. Method. The research was conducted by a cross-sectional method, in population, all malaria patients in Wehali village were 30 people. The analysis was performed by univariate and bivariate using chi-square analysis, and observation of the patient at home. Results. The prevention behavior of TBCparu patients in Wehali village of Malaka district is 76.6% enough / less. Patients who transmit lung tuberculosis disease to family members is 66.7% (20 patients). The relationship between prevention behavior and transmission of pulmonary tuberculosis in the home/family was significant with p <0.05 (p = 0.000). The prevalent ratio that shows the behavior of tuberculosis patients has the potential to transmit the disease to households by 2.6 times. Conclusion. Prevention of important tuberculosis disease begins within the patient\u27s own home. Role of Drinking Drugs Important drugs are improved not only to monitor medication but also how to prevent TB transmission to begin within the home of pulmonary tuberculosis patients.Penyakit TBC paru sebagai penyakit tropis, ditemukan meningkat dari 385 kasus tahun 2014, menjadi 600 kasus tahun 2015 di kabupaten Malaka, desa Wehali, wilayah Puskesmas Betun Kabupaten Malaka dengan jumlah. Peningkatan angka ini menunjukkan lemahnya perilaku pencegahan penyakit TBC paru di masyarakat Malaka. Tujuan penelitian, menganalisis hubungan perilaku pencegahan dengan risiko penularan TBC paru antar orang serumah. Metode. Penelitian dilakukan dengan metode cross-sectional, pada populasi, semua penderita malaria di desa Wehali berjumlah 30 orang. Analisis dilakukan dengan cara univariat dan bivariat menggunakan analisis chi-square, serta observasi penderita di rumah. Hasil: Perilaku pencegahan penderita TBCparu di desa Wehali kabupaten Malaka 76,6 % cukup /kurang. Penderita yang menularkan penyakit TBC paru ke anggota keluarga sebesar 66,7 % (20 penderita). Hubungan antara perilaku pencegahan dengan penularan TBC paru dalam rumah/keluarga bermakna dengan p< 0,05 (p=0,000). Rasio Prevalen yang menunjukkan perilaku penderita TBC berpotensi menularkan penyakit tersebut pada orang serumah sebesar 2,6 kali. Kesimpulan: Pencegahan penyakit TBC penting dimulai dari dalam rumah penderita sendiri. Peran PMO (Pendamping Minum Obat) penting ditingkatkan bukan saja memonitor minum obat tetapi juga cara mencegahan penularan TBC agar sudah dimulai dari dalam rumah penderita TBC paru
Perbandingan Kadar Bilirubin Direk Pada Pengkonsumsi Alkohol Dan Yang Tidak Mengkonsumsi Alkohol
Consuming large and continuous amounts of alcohol can cause damage to the body\u27s metabolic system. One of the body\u27s metabolic systems that can be damaged by alcohol is the liver. Alcohol can damage liver cells and can cause various types of liver diseases, such as liver cirrhosis. Liver cirrhosis can be identified from several types of liver function tests, one of which is by examining the levels of direct bilirubin in the serum. The purpose of this study was to examine differences in direct bilirubin levels in alcohol consumption and those who did not consume alcohol. The type of research used was an analytic observation with a case-control study design with 20 subjects who drank alcohol as a case group and 20 subjects who did not consume alcohol as a control group. Measurement of direct bilirubin levels using 24i biolis and unpaired t-test statistics was used to analyze differences in bilirubin levels in both groups. The results of examination of direct bilirubin levels in the case group showed that the average direct bilirubin level was 0.22 mg/dL and the average number in the control group was 0.15 mg/dL, whereas in the unpaired statistical test P value was obtained <0,05. These results showed that there were significant differences in direct bilirubin levels between the case group and the control group.Mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang besar dan terus-menerus, dapat mengakibatkan kerusakan pada sistem metabolisme tubuh. Salah satu sistem metabolisme tubuh yang dapat dirusak oleh alkohol adalah hati. Alkohol dapat merusak sel hati dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit hati, seperti sirosis hati. Sirosis hati dapat diketahui dari beberapa macam pemeriksaan fungsi hati, salah satunya dengan melakukan pemeriksaan kadar bilirubin direk dalam serum. Tujuan dari penelitian ini, untuk mengkaji perbedaan kadar bilirubin direk pada pengkonsumsi alkohol dan yang tidak mengkonsumsi alkohol. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik observasi dengan rancangan case control study dengan subjek penelitian peminum alkohol sebanyak 20 sebagai kelompok kasus dan 20 subjek penelitian yang tidak mengkonsumsi alkohol sebagai kelompok kontrol. Pengukuran kadar bilirubin direk menggunakan alat biolis 24i dan uji statistik t tidak berpasangan digunakan untuk menganalisis perbedaan kadar bilirubin pada kedua kelompok. Hasil pemeriksaan kadar bilirubin direk pada kelompok kasus menunjukkan rata-rata kadar bilirubin direk adalah 0,22 mg/dL dan jumlah rata-rata pada kelompok kontrol adalah 0,15 mg/dL, sedangkan pada uji statistik t tidak berpasangan diperoleh nilai P < 0,05. Hasil ini, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar bilirubin direk antara kelompok kasus dan kelompok kontrol