Jurnal Info Kesehatan
Not a member yet
478 research outputs found
Sort by
Tracer Study Alumni Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang Tahun 2014
In order to become a trendsetter in Midwifery education in Indonesia, the Midwifery Department of the Health Polytechnic MoH of Kupang constantly strives to improve the quality of graduates in order to have competencies that are reliable and professional in the field of midwifery. In line with the accreditation activities at the Midwifery Department that occur every 5 years, it is necessary to conduct a Tracer Study to identify related graduate competencies, the needs of the job market, and get an overview of the competencies needed by Midwifery graduates. This data is needed in order to improve the quality of learning and ultimately the quality of graduates. Through this Tracer Study, we want to know the opinions of stakeholders about the development of soft skills at the Midwifery Department. This Tracer Study focused on agency leadership on the competence of alumni of the Midwifery Department. Obtaining information about stakeholder perceptions of the competence of alumni of the Midwifery Department Health Polytechnic MoH of Kupang after entering the workforce in terms of aspects: integrity (ethics and morals), expertise based on science (professionalism, English language skills, communication skills, leadership/leadership, mastery of information technology, teamwork, self-development, overall quality assessment. Method: The method used is a survey method. Data obtained from questionnaires distributed to each health agency. Most stakeholders have a good perception (65.2%) of alumni in aspects assessed from 15 agencies, except in aspects of mastery of foreign languages / English which is still lacking. It is concluded that stakeholder assessment of the competence of alumni of the Midwifery Department Health Polytechnic MoH of Kupang is partly big has been able to meet the needs of stakeholders.Dalam rangka menjadi trendsetter dalam pendidikan Kebidanan di Indonesia, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang senantiasa berupaya meningkatkan mutu lulusan agar memiliki kompetensi yang handal dan professional di bidang kebidanan. Sejalan pula dengan kegiatan akreditasi di Jurusan Kebidanan yang terjadi setiap 5 tahun, maka perlu dilakukan Tracer Study untuk mengidentifikasi terkait kompetensi lulusan, kebutuhan pasar kerja, dan mendapatkan gambaran kompetensi yang dibutuhkan pengguna lulusan Kebidanan. Data tersebut sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dan akhirnya kualitas lulusan. Melalui Tracer Study ini ingin diketahui pula pendapat para Stakeholder tentang pengembangan softkills di Jurusan Kebidanan. Tracer Study yang dilakukan ini difokuskan pada persepsipimpinan instansi terhadap kompetensi alumni Jurusan Kebidanan.memperoleh informasi tentang persepsi stakeholder terhadap kompetensi alumni Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang setelah memasuki dunia kerja dalam hal aspek: integritas (etika dan moral), keahlian berdasarkan bidang ilmu (profesionalisme), kemampuan bahasa inggris, kemampuan berkomunikasi, leadership/kepemimpinan, penguasaan teknologi informasi, kerjasama tim, pengembangan diri, penilaian kualitas secara keseluruhan. Metode: Metode yang digunakan adalah metode survey. Data diperoleh dari angket yang disebarkan kepada setiap instansi kesehatan. Sebagian besar stakeholdermempunyai persepsi yang baik (65,2%) terhadap alumni dalam aspek-aspek yang dinilai dari 15 instansi, kecualipada aspek penguasaan bahasa asing/bahasa Inggris yang masih kurang. Disimpulkan bahwa penilaian stakeholderterhadap kompetensi alumni Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Kupang sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhan stakeholder
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini Dengan Pemberian Asi Ekslusif Pada Bayi
Latar belakang: Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Menurut Bappenas (2015), faktor penyebab utama kematian bayi di Indonesia adalah kematian neonatal sebesar 46,2 %, diare sebesar 15,0 %, pneumonia sebesar 12,7 % dan status kesehatan bayi 17,8%. Untuk menekan angka kematian bayi, salah satunya adalah dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan dilanjutkan dengan pemberian ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan. Profil kesehatan Kalimantan Tengah tahun 2015 masih sekitar 27,58% bayi yang mendapatkan Asi Ekslusif. Profil Kabupaten Katingan tahun 2016 tercatat 15,84% bayi (profil kesehatan kab.Katingan 2016). Tujuan: mengetahui hubungan inisiasi menyusu dini dengan keberhasilan pemberian Asi Ekslusif. Metode Penelitian: Cross sectional. Teknik pengambilan sampel : nonprobability sampling jenisnya puposive sampling yaitu 50 sampel serta menggunakan uji Chi-Squere. Hasil: Uji statistik didapatkan nilai p = 0,001. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara variabel IMD (Inisisasi Menyusu Dini) dengan Pemberian Asi Eksklusif (p<0,05).Nilai OR 9,17 (95%CT) menunjukkan bahwa responden yang tidak diberikan inisiasi menyusu dini 9,17 kali lebih beresiko tidak mendapatkan asi eksklusif dibandingkaan dengan responden yang dilakukan inisiasi menyusu dini. Kesimpulan: Terdapat Hubungan antara Inisiasi Menyusu Dini dengan Keberhasilan Pemberian Asi Ekslusif pada bayi 0-6 bulan.Latar belakang: Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan masyarakat. Menurut Bappenas (2015), faktor penyebab utama kematian bayi di Indonesia adalah kematian neonatal sebesar 46,2 %, diare sebesar 15,0 %, pneumonia sebesar 12,7 % dan status kesehatan bayi 17,8%. Untuk menekan angka kematian bayi, salah satunya adalah dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan dilanjutkan dengan pemberian ASI secara eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan. Profil kesehatan Kalimantan Tengah tahun 2015 masih sekitar 27,58% bayi yang mendapatkan Asi Ekslusif. Profil Kabupaten Katingan tahun 2016 tercatat 15,84% bayi (profil kesehatan kab.Katingan 2016). Tujuan: mengetahui hubungan inisiasi menyusu dini dengan keberhasilan pemberian Asi Ekslusif. Metode Penelitian: Cross sectional. Teknik pengambilan sampel : nonprobability sampling jenisnya puposive sampling yaitu 50 sampel serta menggunakan uji Chi-Squere. Hasil: Uji statistik didapatkan nilai p = 0,001. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara variabel IMD (Inisisasi Menyusu Dini) dengan Pemberian Asi Eksklusif (p<0,05).Nilai OR 9,17 (95%CT) menunjukkan bahwa responden yang tidak diberikan inisiasi menyusu dini 9,17 kali lebih beresiko tidak mendapatkan asi eksklusif dibandingkaan dengan responden yang dilakukan inisiasi menyusu dini. Kesimpulan: Terdapat Hubungan antara Inisiasi Menyusu Dini dengan Keberhasilan Pemberian Asi Ekslusif pada bayi 0-6 bulan
Peran Bidan Dalam Menghadapi Budaya Panggang Dan Tatobi Ibu Nifas Pada Suku Timor Di Kecamatan Mollo Tengah Kabupaten Timor Tengah Selatan Tahun 2016
Background: The culture of the Timorese people in South Central Timor Regency is that mothers are required to give birth at a roundhouse and receive treatment for 40 days by a shaman or someone who is believed to have experience in caring for the mother. Treatment for postpartum mothers is usually in the form of roasting fire and hobbies. This fact will have a bad effect on the mother and baby will burn his body and affect wound healing after childbirth. In addition, due to the lack of a clean home environment because all the activities for maintenance are carried out inside the house, such as cooking and roasting so that the mother and baby are having an ARD. The risk of grilling/sei and tatobi is ARI, anemia, burns and dehydration and burns and fires can occur. Bake is also very risky for the onset of anemia in postpartum mothers due to a large amount of blood coming out of the birth canal due to continuous roasting and blood vessel dilation that causes a lot of bleeding and is difficult to control. Objective: identify the role of midwives in the community in dealing with the culture of roasting and hobbies for Timorese postpartum women in South Central Timor Regency in 2016. Research Methods: a type of descriptive research with a qualitative approach. Research Results: The mother of the Mollo Tengah village community still adheres to the tradition of grilling and tatobi. Baked them do in a roundhouse, trusted by the local community for antidotes to severe pain especially in women after childbirth. Another reason for grilling fire or a hobby is the concern of parents if the child\u27s body condition becomes weak and not strong. Some postpartum mothers experience anemia, babies experience ARI and sunburn. Has an effect on wound healing after childbirth. Basically, midwives have carried out the main duties of midwives in the community as an implementer, manager, and educator. Conclusions: the activities that have been carried out by midwives in the Mollo Tengah sub-district health center are home visits, counseling conducted on maternal and child health targets, and doing cadre refreshing, including asking for help from health cadres and traditional healers to disseminate information about safe roasts by paying attention to the distance between the coals and the mother\u27s bed, and the hobbies using only warm water. In addition, health cadres were also invited to do mapping of targeted data for mothers and children (pregnant women, postpartum mothers, infants, and toddlers) in the community. Activating tabulin and waiting for homes so that the waiting house can function properly.Latar Belakang: Budaya masyarakat Suku Timor Kabupaten Timor Tengah Selatan adalah ibu diharuskan melahirkan di rumah bulat dan mendapatkan perawatan selama 40 hari oleh seorang dukun atau seseorang yang dipercaya mempunyai pengalaman merawat ibu melahirkan. Perawatan kepada ibu nifas ini biasanya berupa panggang api dan tatobi. Kenyataannya ini akan berakibat buruk pada ibu dan bayi akan terbakar tubuhnya dan berpengaruh kepada kesembuhan luka setelah melahirkan. Selain itu, akibat lingkungan rumah yang kurang bersih karena semuaaktifitas untuk perawatan dilakukan di dalam rumah tersebut, sepertimemasak dan panggang sehingga ibu maupun bayi berisikomengalami ISPA. Resiko panggang/sei dan tatobi adalah ISPA, anemia, luka bakar dan dehidrasi dan bisa terjadi luka bakar dan kebakaran. Panggang juga sangat berisiko timbulnya anemia pada ibu nifas dikarenakan banyaknya keluar darah dari jalan lahir karena panggang yang terus menerus dan terjadi pelebaran pembuluh darah sehingga perdarahan yang banyak dan susah terkontrol. Tujuan: mengidentifikasi peran bidan di komunitas dalam menghadapi budaya panggang dan tatobi pada ibu nifas Suku Timor Kabupaten TTS tahun 2016. Metode Penelitian: jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil Penelitian: Ibu masyarakat desa Mollo Tengah masih memegang teguh tradisi panggang dan tatobi. Panggang mereka lakukan di rumah bulat, dipercaya oleh masyarakat setempat untuk penangkal terhadap sakit berat terlebih pada wanita setelah proses persalinan. Alasan lain panggang api atau tatobi adalah kekhawatiran orang tua apabila kondisi badan anak menjadi lemas dan tak kuat. Beberapa ibu nifas mengalami anemia, bayi mengalami ISPA dan kulit terbakar. Berpengaruh pada kesembuhan luka setelah melahirkan. Pada dasarnya bidan telah melaksanakan tugas pokok bidan di komunitas sebagai seorang pelaksana, pengelola maupun pendidik Simpulan: kegiatan yang sudah dilaksanakan bidan di puskesmas kecamatan Mollo Tengah berupa kunjungan rumah, konseling yang dilakukan pada sasaran KIA dan keluarga, melakukan refreshing kader, termasuk meminta bantuan kader kesehatan dan dukun untuk menyebarluaskan informasi tentang panggang yang aman dengan memperhatikan jarak bara api dengan tempat tidur ibu dan tatobi hanya dengan menggunakan air hangat saja. Selain itu kader kesehatan juga diajak untuk melakukan pemetaan data sasaran KIA (ibu hamil, ibu nifas, bayi dan balita) yang ada di masyarakat. Mengaktifkan tabulin dan rumah tunggu supaya rumah tunggu bisa di fungsikan dengan baik
Studi Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Kusta Pada Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase Kota Kupang Tahun 2017
Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terjadi peningkatan jumlah kasus kusta baru di wilayah kerja Puskesmas Bakunase Kecamatan Kota Raja Kota Kupang menunjukkan tingginya risiko angka penularan penyakit kusta di masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase Kota Kupang. Jenis penelitian adalah survey analitik dengan studi cross-sectional dengan metode Total sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 orang yang merupakan penderita kusta. Karakteristik responden terbanyak diketahui yaitu umur >15 tahun, berjenis kelamin Pria, Pekerjaan Berisiko, Perpendidikan rendah, pendapatan sosial ekonomi <UMP, tingkat pengetahuan rendah, tingkat Kebersihan buruk, tingkat riwayat Kontak >2 tahun dan tingkat Kepatuhan Minum obat baik. Hasil anahsis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara Pekerjaan (P=0,026), pendidikan (P=0,026), sosial ekonomi (P=0,032), pengetahuan (P=0,027), kebersihan (p=0,012), dan riwayat kontak (p=0,003). terhadap kejadian penyakit kusta. Simpulan penelitan, pekerjaan, pendidikan, sosial ekonomi, pengetahuan, kebersihan dan riwayat kontak mempengaruhi kejadian kusta sedangkan umur, jenis kelamin dan kepatuhan minum obat tidak mempengaruhi kejadian kusta pada Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase.Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terjadi peningkatan jumlah kasus kusta baru di wilayah kerja Puskesmas Bakunase Kecamatan Kota Raja Kota Kupang menunjukkan tingginya risiko angka penularan penyakit kusta di masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Kusta di Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase Kota Kupang. Jenis penelitian adalah survey analitik dengan studi cross-sectional dengan metode Total sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 33 orang yang merupakan penderita kusta. Karakteristik responden terbanyak diketahui yaitu umur >15 tahun, berjenis kelamin Pria, Pekerjaan Berisiko, Perpendidikan rendah, pendapatan sosial ekonomi <UMP, tingkat pengetahuan rendah, tingkat Kebersihan buruk, tingkat riwayat Kontak >2 tahun dan tingkat Kepatuhan Minum obat baik. Hasil anahsis bivariat menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara Pekerjaan (P=0,026), pendidikan (P=0,026), sosial ekonomi (P=0,032), pengetahuan (P=0,027), kebersihan (p=0,012), dan riwayat kontak (p=0,003). terhadap kejadian penyakit kusta. Simpulan penelitan, pekerjaan, pendidikan, sosial ekonomi, pengetahuan, kebersihan dan riwayat kontak mempengaruhi kejadian kusta sedangkan umur, jenis kelamin dan kepatuhan minum obat tidak mempengaruhi kejadian kusta pada Wilayah Kerja Puskesmas Bakunase
Perbandingan Waktu Erupsi Gigi Susu Incisivus Pertama Pada Bayi Usia Yang Diberi Susu Asi Dan Yang Diberi Susu Fomula
Background: Exclusive breastfeeding coverage in East Nusa Tenggara was 42,8% according to Riskesdas 2013. Most mothers gave formula feeding or partial to their babies accounting for 57,2%. Nutrition is one of the factors that correlate with tooth eruption. A baby gains nutrition through breastfeeding or formula. Formula feeding has low nutrition compared with breastfeeding. Aims: Knowing the eruption comparison of primary central incisors of babies with breastfeeding compared with formula. Method: Observational research was applied to gain the information needs. The samples were divided into two groups: the first group had breastfeeding while the second group with formula. Each group accounted for 30 babies. The research locations were Posyandu of Pasir Panjang and Oebobo’s public health center. Data were analyzed by using Man Whitney test. Results: Average tooth eruptions of babies with breastfeeding and formula accounting for 7 months and 9 months, consecutively. Babies with breastfeeding had primary central incisors eruption two months earlier compared with babies with formula. Man Whitney statistic analyzed indicated there is no significant difference in tooth eruption between babies with breastfeeding and formula. Conclusion: Eruption of Primary central incisors in babies with breastfeeding compare with formula is the same
Vaccine Storage Profile in Public Health Centers in Kupang City
Vaccines are the main component in the implementation of immunization, to achieve the maximum goal of immunization, it is necessary to support the management and availability of vaccines in sufficient quantities, quality and on time. All vaccines are biological products that range from easily damaged funds that require special handling in its management, especially storage. Vaccine storage in health service units such as the Public Health Center must be considered carefully. This study aims to determine the profile of vaccine storage at the Oepoi Public Health Center and Kupang City Public Health Center, which were assessed from 2 assessment categories, namely the completeness of the category including the availability of storage temperature monitoring and vaccine condition categories. The type of research used in this study is descriptive research. How to collect data by direct observation and using observation sheets, then the data is processed and then narrated. From the results of this study it was found that the completeness of the facilities included the availability of monitoring of storage temperature and condition of the vaccine at the Oepoi Public Health Center and Kupang City Public Health Center were available or available except in the Oepoi Public Health Center there was no freeze tag or freeze watch and no generator. And the condition of the vaccine at the Kupang City Public Health Center and the Oepoi Public Health Center are all available or available. So the overall profile of vaccine storage at the Oepoi Public Health Center and Kupang City Public Health Center is well availableVaksin merupakan komponen utama dalam pelaksanaan imunisasi, untuk mencapai tujuan imunisasi secara maksimal, maka perlu ditunjang dengan pengelolaan dan ketersediaan vaksin dalam jumlah cukup, berkualitas serta tepat waktu. Semua vaksin merupakan produk biologis yang sangat rentang dana mudah rusak sehingga memerlukan penanganan khusus dalam pengelolaannya khususnya penyimpanan. Penyimpanan vaksin di unit-unit pelayanan kesehatan seperti puskesmas harus diperhatikan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penyimpanan vaksin di Puskesmas Oepoi dan Puskesmas Kupang Kota, yang dinilai dari 2 kategori penilaian yaitu kategori kelengkapan sarana termasuk ketersediaan pemantauan suhu penyimpanan dan kategori kondisi vaksin. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Cara pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung serta menggunakan lembar observasi, kemudian data diolah dan selanjutnya dinarasikan. Dari hasilpenelitian ini diperoleh bahwa kelengkapan sarana termasukketersediaan pemantau suhu penyimpanan dan kondisi vaksin di Puskesmas Oepoi dan Puskesmas Kupang Kota ada atau tersedia kecuali pada Puskesmas Oepoi tidak ada freeze tag atau freeze watch dan tidak ada generator. Dan kondisi vaksin pada Puskesmas Kupang Kota dan Puskesmas Oepoi semuanya tersedia atau ada. Jadi secara keseluruhan profil penyimpanan vaksin pada Puskesmas Oepoi dan Puskesmas Kupang Kota tersedia dengan baik
Screening Test penderita Malaria Dengan Gold Standar Uji Laboratorium Untuk Validasi Kasus Malaria Positif Di Wilayah Puskesmas Lewoleba Dan Puskesmas Waipukang Kabupaten Lembata, Propinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2016
Lewoleba Public Health Center and Waipukang Public Health Center are included in several Public Health Centers in Lembata District which show the high rates of malaria based on microscopic diagnosis methods. To see if there is a decrease in malaria cases, it is necessary to do a positive rate slide check to calculate the number of malaria positive patients. In order for the results of the examination to be truly valid, effective and efficient, it is carried out by a screening method to obtain True Positive and True Negative numbers, so that the results can be used as a database at the Public Health Center. This study aims to get a real picture of positive malaria cases after treatment, eradication and prevention efforts carried out by the government and donor sector. This type of research is a study of Analytical Epidemiology with screening methods and using a cross-sectional study design. Screening results of malaria sufferers in the Lewoleba Public Health Center with a sample of 600 people: True positive = 29 people, True negative = 555 people, Sensitivity (Sens) = 82.85%, Specificity = 98.20%, prevalence = 6, 51%. Screening results of malaria sufferers in Waipukang Public Health Center with a sample of 574 people: True positive = 537 people, True negative = 10 people, Sensitivity (Sens) = 95.8%, Specificity = 71.4%, prevalence = 94, 25%. The number of positive malaria cases in the Lewoleba Public Health Center work area was 29 people, while the positive malaria case in the Waipukang Public Health Center work area was 537 people.Puskesmas Lewoleba dan Puskemas Waipukang termasuk dalam beberapa puskemas di Kabupaten Lembata yang menunjukkan tingginya kasus malaria berdasarkan metode diagnosis (konfirmasi) secara mikroskopik. Untuk melihat apakah ada penurunan kasus malaria maka perlu dilakukan pemeriksaan slide positive rate untuk menghitung jumlah penderita yang positif malaria. Agar hasil pemeriksaan benar-benar valid, efektif dan efisien, maka dilakukan dengan cara screeningtest agar diperoleh angka True Positive (benar-benar sakit) dan True Negative (benar-benar sehat), sehingga hasilnya dapat digunakan sebagai data base di puskesmas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran data riil kasus malaria positif setelah dilakukan tindakan pengobatan, pemberantasan serta upaya pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor lembaga donor. Jenis penelitian ini adalah penelitian Epidemiologi Analitik dengan metode skrining dan menggunakan rancangan cross sectional study. Hasil skrining penderita malaria di wilayah Puskesmas Lewoleba dengan jumlah sampel sebesar 600 orang: True positive = 29 orang, True negative = 555 orang, Sensitifitas (Sens) = 82,85%, Spesifisitas = 98,20%, prevalensi = 6,51%. Hasil skrining penderita malaria di wilayah Puskesmas Waipukang dengan jumlah sampel sebesar 574 orang: True positive = 537 orang, True negative = 10 orang, Sensitifitas (Sens) = 95,8%, Spesifisitas = 71,4%, prevalensi = 94,25%. Jumlah kasus malaria positif di wilayah kerja Puskesmas Lewoleba adalah sebesar 29 orang, sedangkan kasus malaria positif di wilayah kerja Puskesmas Waipukang adalah sebesar 537 orang
Hubungan Senam Hamil Dengan Detak Jantung Janin Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Kereng Bangkirai Kota Palangkaraya
Latar Belakang: Senam hamil merupakan salah satu usaha menjaga kesehatan ibu hamil dan janin, jika ibu hamil rutin melakukan senam hamil secara teratur akan mempengaruhi peningkatan hormon dan sistem saraf otonom yang mempengaruhi detak jantung janin pada ibu hamil. Kegiatan senam hamil juga memberikan efek yang baik bagi sistem kardiovaskular dengan senan hamil ibu memberikan respon yang baik bagi janin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan senam hamil dengan detak jantung janin pada ibu hamil yang melakukan senam hamil. Mengetahui rerata detak jantung janin pada ibu senam hamil dan yang tidak senam hamil. Metode: Penelitian ini menggunakan Analitik Observasional dengan desain Kohort yaitu penelitian epidemiologis non-eksperimental. Sampel pada penelitian ini berjumlah 32 ibu hamil yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ibu hamil mengikuti senam hamil dan 16 ibu hamil tidak mengikuti senam hamil. Hasil: Berdasarkan hasil dari uji T test didapatkan hasil bahwa nilai p-value 0,000 (< 0,05) dan rata- rata detak jantung janin pada kelompok ibu hamil yang mengikuti senam hamil yaitu 144,94 dan rata- rata detak jantung janin pada kelompok ibu hamil yang tidak mengikuti senam hamil yaitu 157,56. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan ada hubungan senam hamil dengan detak jantung janin pada ibu hamil yang melakukan senam hamil. Ada perbedaan detak jantung janin pada ibu hamil yang mengikuti senam hamil dan ibu hamil yang tidak mengikuti senam hamil.Latar Belakang: Senam hamil merupakan salah satu usaha menjaga kesehatan ibu hamil dan janin, jika ibu hamil rutin melakukan senam hamil secara teratur akan mempengaruhi peningkatan hormon dan sistem saraf otonom yang mempengaruhi detak jantung janin pada ibu hamil. Kegiatan senam hamil juga memberikan efek yang baik bagi sistem kardiovaskular dengan senan hamil ibu memberikan respon yang baik bagi janin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan senam hamil dengan detak jantung janin pada ibu hamil yang melakukan senam hamil. Mengetahui rerata detak jantung janin pada ibu senam hamil dan yang tidak senam hamil. Metode: Penelitian ini menggunakan Analitik Observasional dengan desain Kohort yaitu penelitian epidemiologis non-eksperimental. Sampel pada penelitian ini berjumlah 32 ibu hamil yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ibu hamil mengikuti senam hamil dan 16 ibu hamil tidak mengikuti senam hamil. Hasil: Berdasarkan hasil dari uji T test didapatkan hasil bahwa nilai p-value 0,000 (< 0,05) dan rata- rata detak jantung janin pada kelompok ibu hamil yang mengikuti senam hamil yaitu 144,94 dan rata- rata detak jantung janin pada kelompok ibu hamil yang tidak mengikuti senam hamil yaitu 157,56. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan ada hubungan senam hamil dengan detak jantung janin pada ibu hamil yang melakukan senam hamil. Ada perbedaan detak jantung janin pada ibu hamil yang mengikuti senam hamil dan ibu hamil yang tidak mengikuti senam hamil
Kualitas Hidup Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Se Kota Kupang
Diabetes Mellitus is well known as a chronic disease which can lead to a decrease in quality of life in all domains. The study aims to explore the diabetic type 2 patient’s quality of life and find out the factors affecting in type 2 diabetic mellitus patients. The cross-sectional study design is used that included 65 patient with type 2 diabetes mellitus, in 11 public health centers of Kupang City. Data were collected by using Short Form Survey (SF-36) that assessed 8-scale health profile. Independent sample t-test is used to analyze the correlation between the factors affecting and the quality of life. the study showed that the QoL of DM patients decreased in all 8- health profile including physical functioning, social functioning, mental health, general health, pain, change in the role due to physical problems and emotional problems. The Study also showed there was a relationship between gender, duration of suffering from Diabetes mellitus, and complications to the quality of life. Male perceived a better quality of life than female.Diabetes melitus merupakan penyakit menahun yang disandang penderitanya seumur hidup. Berbagai komplikasi kronik menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian DM dan sangat mengurangi kualitas hidup dari pasien DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas hidup pasien DM tipe 2 di kota Kupang dan menganlisis faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien DM tipe 2. Faktor-faktor yang dinilai adalah umur, jenis kelamin, komplikasi, lamanya menderita DM, HbA1c dan keteraturan minum obat dan kontrol gula darah. Metode penelitian bersifat analitik observasional dengan menggunakan desain potong lintang (cross sectional). Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesiner SF-36. Sampel penelitian ini adalh 65 orang pasien DM tipe 2. Data disajikan dalam bentuk tabel dan dianalisa dengan menggunakan independent sampel t-test. Hasil penelitian menunjukkan terjadi penurunan kualitas hidup pasien DM tipe 2 pada semua aspek kesehatan antara lain fungsi fisik, fungsi sosial, kesehatan mental, kesehatan umum, nyeri, perubahan peran akibat masalah fisik, perubahan peran akibat masalah emosional dengan nilaI <80. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara umur, keteraturan minum obat, keteraturan mengecek gula darah dengan kualitas hidup pasien DM. Ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, komplikasi dan lamanya menderita DM dengan kaulitas hidup pasien Dm tipe 2 dengan pvalue=0,000. Dari hasil penelitian ini diharapkan adanya upaya melalui pendidikan kesehatan maupun kegiatan lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien DM
Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kunjungan Bayi Balita Ke Pusat Kesehatan Masyarakat Di Kelurahan Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang Tahun 2014
Background: Indicators related to child health are important indicators in determining the overall health status of the community, especially assessing the success of health services and development in the health sector. These indicators are infant mortality (IMR) and Under-five Mortality Rate (AKABA). The government has organized health services known as Maternal and Child Health Services. Tarus\u27 Maternal and Child Health Services in 2011 saw 72.22 percent of infants under five who visited Maternal and Child Health Services. In 2012 the number of infant visits to Maternal and Child Health Services decreased by 69.3 percent (Health Center Health Profile, 2012) out of 3,695 toddlers in Tarus Maternal and Child Health Services work areas there were only 2,563 (69.3 percent) toddlers who use Maternal and Child Health Services every month. Research Objectives: To find out the factors that influence the visit of Toddler Babies to Maternal and Child Health Services in Tarus Village, Kupang Tengah District, Kupang Regency. Research Method: Type of descriptive research. A total of 32 respondents were parents of infants under five. The research instrument uses a questionnaire. Research Results: Knowledge factor 81.2 percent good. As many as 62.5 percents of mothers have children under five years old. Conclusion: Knowledge factors and the number of children do not directly affect the visit of infants to Maternal and Child Health Services. Other factors that influence our attitudes, behavior, the role of Maternal and Child Health Services cadres, community participation and lack of support or cooperation in participation from other sectors.Latar Belakang: Indikator terkait dengan kesehatan anak menjadi indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat secara keseluruhan terutama menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan pembangunan di bidang kesehatan. Indikator tersebut adalah angka kematian bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA). Pemerintah telah menyelenggarakan pelyanan kesehatan yang dikenal dengan posyandu. Puskesmas Tarus jumlah bayi balita yang datang berkunjung keposyandu tahun 2011 72,22 persen. Tahun 2012 jumlah kunjungan bayi balita ke posyandu mengalami penurunan yaitu 69,3 persen (Profil Kesehatan Puskesmas, 2012) dari 3.695 balita yang ada diwilayah kerja Puskesmas Tarus hanya terdapat 2.563 (69,3 persen) balita yang memanfaatkan posyandu setiap bulannya. Tujuan Penelitian: Mengetahui faktor yang mempengaruhi kunjungan Bayi Balita ke Posyandudi Kelurahan Tarus Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang. Metode Penelitian: Jenis penelitian deskriptif. Sampel berjumlah 32 responden yakni orang tua bayi balita. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Hasil Penelitian: Faktor pengetahuan 81,2 persen baik. Sebesar 62,5 persen ibu memiliki anak usia bayi balita lebih dari 2 orang. Simpulan: Faktor pengetahuan dan jumlah anak tidak langsung mempengaruhi kunjungan bayi balita ke posyandu. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi yakni sikap, perilaku, peran kader posyandu, partisipasi masyarakat serta kurangnya dukungan atau kerja sama partisipasi dari sektor lain