Jurnal Info Kesehatan
Not a member yet
478 research outputs found
Sort by
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif Dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Pada Anak
Growth and development in childhood need to be considered to shape future generations are healthy, intelligent and qualified. Maintenance of children\u27s health is carried out since fetus until age of 18 years. Meanwhile, children at the age of first 5 years of life have a low immune system that is susceptible to various diseases including pulmonary TB disease. One effort to maintain maternal and child health is by giving exclusive breastfeeding. The decline in the use of exclusive breastfeeding in developing countries, especially in urban areas, is the result of socio-cultural changes in the community. Pulmonary TB is a public health problem that is one of the global commitments in the MDG’s that must be controlled. Pulmonary TB is an infectious disease caused by an infection of the Mycobacterium tuberculosis and has attacked almost one-third of the world\u27s population. Children\u27s pulmonary TB is a TB disease that usually attacks children aged 0-14 years. Of the 9 million new cases of TB that occur worldwide each year, an estimated 1 million (11%) of them occur in children under 15 years.Pertumbuhan dan perkembangan pada masa anak-anak perlu diperhatikan untuk membentuk generasi mendatang yang sehat, cerdas dan berkualitas. Pemeliharaan kesehatan anak dilakukan sejak janin masih dalam kandungan hingga berusia 18 tahun. Sementara itu, anak pada usia 5 tahun pertama kehidupan memiliki sistem imun yang rendah sehingga rentan terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit TB paru. Salah satu upaya pemeliharaan kesehatan ibu dan anak adalah dengan pemberian ASI eksklusif. Adanya kecenderungan penurunan penggunaan ASI eksklusif di negara berkembang terutama di perkotaan terjadi akibat perubahan sosial budaya di masyarakat. Penyakit TB Paru merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi salah satu komitmen global dalam MDGs yang harus dikendalikan. TB Paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis dan telah menyerang hampir sepertiga penduduk dunia. TB Paru anak adalah penyakit TB yang biasanya menyerang anak usia 0-14 tahun. Dari 9 juta kasus baru TB yang terjadi di seluruh dunia setiap tahun, diperkirakan 1 juta (11%) diantaranya terjadi pada anak-anak dibawah 15 tahun
Pengaruh Beberapa Kombinasi Media Tanam Organik Arang Sekam, Pupuk Kandang Kotoran Sapi, Arang Serbuk Sabut Kelapa Dan Tanah Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung (Solanum Melongena L.)
The purpose of this study was to determine the effect of the combination treatment of several organic growing media such as husk charcoal, manure of cow manure, coarse coir charcoal on the growth and yield of eggplant plants and to find out which combination treatments between planting media can produce the best eggplant. This study was designed with an environmental design in the form of a completely randomized design (CRD) consisting of 8 treatments and 3 replications. The variables observed included plant height, number of leaves and fruit weight. Observation data were analyzed using analysis of variance and Duncan\u27s follow-up test at 5% level. The results of the analysis showed that the combination treatment of organizing media gave a very significant effect on the height increase of eggplant plants at 4 MST, 6 MST, 8 MST and 10 MST, and the number of leaves and a significant effect on the number of fruit. The treatment of the combination of organic planting media that gave the best growth and yields of eggplant was in the P8 treatment with a combination of soil treatment: rice husk charcoal: cow manure: coconut fiber charcoal with a ratio of 1:1:1:1; in P7 treatment with combination soil treatment: cow manure: 1:1:1 coconut husk charcoal; and P3 treatment with a combination of treatments between soil: 1:1 cow manure.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakuan kombinasi beberapa media tanam organik seperti arang sekam, pupuk kandang kotoran sapi, arang sabut kelapadan tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman terung serta untuk mengetahui perlakuan kombinasi antar media tanam manakah yang dapat memberikan hasil tanaman terung terbaik. Penelitian ini dirancang dengan rancangan lingkungan berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 8 perlakuan dan 3 ulangan. Variabel yang diamati meliputi pertambahan tinggi tanaman, pertambahan jumlah daun dan bobot buah. Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam dan uji lanjut Duncan pada taraf 5%. Hasil analisis menunjukan bahwa perlakuan kombinasi media tanam organikmampu memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertambahan tinggi tanaman terung pada 4 MST, 6 MST, 8 MST dan 10 MST, dan jumlah daun serta berpengaruh nyata terhadap jumlah buah. Perlakuan kombinasi media tanam organik yang memberikan capaian pertumbuhan dan hasil tanaman terung terbaik adalah pada perlakuan P8 dengan perlakuan kombinasi tanah:arang sekam padi:pupuk kandang sapi:arang sabut kelapa dengan perbandingan 1:1:1:1; pada perlakuan P7 dengan perlakuan kombinasi tanah:pupuk kandang sapi:arang sabut kelapa 1:1:1; dan perlakuan P3 dengan kombinasi perlakuan antara tanah:pupuk kandang sapi 1:1
Perilaku Dan Status Kebersihan Gigi Dan Mulut Pasca Ceramah Pendidikan Kesehatan Gigi Disertai Diskusi Kelompok Dan Disertai Hands-On
This study aims to determine the differences in the improvement of maternal behavior regarding dental and oral hygiene status and the status of maternal dental and oral hygiene through dental health education lecture methods accompanied by group discussions and lectures with hands-on. The study was conducted on research subjects as many as 95 mothers of children aged 6-8 years who met the inclusion criteria and were divided into two groups. Treatment group I in Benyamin Oebufu PPA IO-497, Kupang City were 53 subjects were given a lecture accompanied by group discussion and group II in Alfa Omega Bakunase 2 PPA IO-495, Kupang City as many as 42 subjects were given lectures with hands-on. The measuring instrument in the study was the questionnaire and the Plaque Index (PI) method. Data analysis using Statistics Program for Social Scince (SPSS) for different tests namely Mann-Whitney test and Wilcoxon Signed Ranks test for abnormal distribution data. The results of the analysis of mean differences between groups in post-test 1 and 2 there were significant behavioral differences in treatment group II higher than in treatment group I (p <0.05), while for dental and oral hygiene status there were no differences in dental hygiene status and mouth between treatment groups I and II. The results of the average analysis of the increase were significant improvements in behavior and dental and oral hygiene status in both treatment groups. The results of delta analysis from pre-test to post-test 1 and pre-test to post-test 2 showed that in the treatment group II the increase in behavior was higher than in the treatment group I (p <0.05), while for dental and oral hygiene status there were no significant differences in dental and oral hygiene status between the two treatment groups (p> 0.05). Dental health education with a lecture method with hands-on further improves the subject\u27s behavior about dental and oral hygiene than the lecture method accompanied by group discussion. Dental health education with lecture methods accompanied by group discussions and lectures accompanied by hands-on both improve dental and oral hygiene status.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan perilaku ibu tentang status kebersihan gigi dan mulut dan status kebersihan gigi dan mulut ibu melalui pendidikan kesehatan gigi metode ceramah disertai diskusi kelompok dan ceramah disertai hands-on. Penelitian dilakukan pada subjek penelitian sebanyak 95 ibu dari anak umur 6-8 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan terbagi dalam dua kelompok. Kelompok perlakuan I di PPA IO-497 Benyamin Oebufu, Kota Kupang sebanyak 53 subjek diberikan ceramah disertai diskusi kelompok dan kelompok II di PPA IO-495 Alfa Omega Bakunase 2, Kota Kupang sebanyak 42 subjek diberikan ceramah disertai hands-on. Alat ukur dalam penelitian adalah kuesioner dan metode Plaque Index (PI). Analisis data menggunakan Statistik Program for Social Scince (SPSS) untuk uji beda yaitu Mann-Whitney test dan Wilcoxon Signed Ranks test untuk data distribusi tidak normal. Hasil analisis perbedaan rerata antar kelompok pada post-test 1 dan 2 terdapat perbedaan perilaku yang signifikan pada kelompok perlakuan II lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan I (p< 0,05), sedangkan untuk status kebersihan gigi dan mulut tidak terdapat perbedaan status kebersihan gigi dan mulut antara kelompok perlakuan I dan II. Hasil analisis rerata peningkatan terdapat peningkatan perilaku dan status kebersihan gigi dan mulut yang signifikan pada kedua kelompok perlakuan. Hasil analisis delta dari pre-test ke post-test 1 dan pre-test ke post-test 2 menunjukkan pada kelompok perlakuan II peningkatan perilaku lebih tinggi dari pada kelompok perlakuan I (p < 0,05), sedangkan untuk status kebersihan gigi dan mulut tidak terdapat perbedaan status kebersihan gigi dan mulut yang signifikan antara kedua kelompok perlakuan (p>0,05). Pendidikan kesehatan gigi dengan metode ceramah disertai hands-on lebih meningkatkan perilaku subjek tentang kebersihan gigi dan mulut dari pada metode ceramah disertai diskusi kelompok. Pendidikan kesehatan gigi dengan metode ceramah disertai diskusi kelompok dan ceramah disertai hands-on sama-sama meningkatkan status kebersihan gigi dan mulut
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Batang Delima (Punica granatum. L)Terhadap Bakteri Staphylococus aureus ATCC 6538 Tahun 2016
Background: Pomegranate bark (Punica granatum, L) contains ellagitannin, triterpenoid, alkaloids consisting of pelletierine, methylpelletieren, pseudopelletierine, flavonoids, and saponins. Substances that are able to inhibit bacterial growth are saponins and flavonoids.
Objective: to determine the antibacterial activity of ethanol extract of pomegranate bark (Punicagranatum, L) on the Staphylococcus aureus bacteria.
Method: The manufacture of pomegranate bark extract was carried out using the Soxlhetasi method, after extracting the antibacterial activity was carried out by using a cylinder diffusion method.
Result: Ethanol extract of pomegranate bark (Punica granatum, L) has antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria at a concentration of 10% b / v, 25% b / v, 50% b / v and 75% b / v with each inhibition zone diameter -as equal to 18.70 mm, 21.00 mm, 22.30 mm and 26.20 mm. Stastically, ethanol extract of pomegranate bark (Punica granatum, L) has significant antibacterial power with p = 0.001 (p <0.05).
Conclusion: Ethanol extract of pomegranate bark (Punica granatum, L) has antibacterial activity against Staphylococcus aureus bacteria with very strong concentration is a concentration of 25% b / v, 50% b / v and 75% b / v, because the inhibition zone is> 20 mm.Latar Belakang: Kulit batang delima (Punica granatum, L) mengandung ellagitannin, triterpenoid, alkaloid yang terdiri dari pelletierine, methylpelletieren, pseudopelletierine, flavonoid dan saponin. Zat yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri adalah saponin dan flavonoid.
Tujuan: untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak etanol kulit batang delima (Punicagranatum, L) terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Metode: Pembuatan ekstrak kulit batang delima ini dilakukan menggunakan metode soxlhetasi, setelah ekstrak didapat diklakukan pengujian aktivitas antibakteri dengan metode difusi menggunakan silinder.
Hasil:Ekstrak etanol kulit batang delima (Punica granatum, L) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada konsentrasi 10% b/v, 25% b/v, 50% b/v dan 75% b/v dengan diameter zona hambat masing-masing sebesar 18.70 mm, 21.00 mm, 22.30 mm dan 26.20 mm. Secara stastik, ekstrak etanol kulit batang delima (Punica granatum, L) mempunyai daya antibakteri yang bermakna dengan p = 0,001 (p < 0,05).
Kesimpulan: Ekstrak etanol kulit batang delima (Punica granatum, L) mempunyai aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureusdengan konsentrasi sangat kuat adalah konsentrasi 25% b/v, 50% b/v dan 75% b/v, karena zona hambatnya > 20 mm
Hubungan Tingkat Kejadian Karies Gigi Dengan Status Gizi Anak Usia 6 -7 Tahun Di SD Inpres Kaniti Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang
Dental caries is a dental and oral health problem for the majority of the Indonesian population. Dental caries affects most children. Caries that occur in children is often not treated or treated, resulting in a toothache. This condition can have an impact on the general health of the child where the frequency of eating will decrease, resulting in disruption of growth and development that will affect the nutritional status of the child. Nutritional problems are caused by many factors that are interrelated both directly and indirectly. Directly affected by infectious diseases and insufficient nutrition in quantity and quality, while indirectly influenced by the range and quality of health services, inadequate parenting, poor sanitation conditions and low food security at the household level. This study aims to determine the relationship between the incidence of dental caries in children with the nutritional status of children aged 6-7 years SDI Kaniti Kabupaten Kupang in 2016. Data collection was carried out by performing dental examinations and measuring height and weight. The incidence rate of dental caries aged 6-7 years old SDI Kaniti Kabupaten Kupang in 2016 was in the high category (30.76%) and very high (37.17%) with an average 3-6 cavities and nutritional status of children aged 6- 7 years SDN Kaniti Kabupaten Kupang in 2016 was categorized as obese (26.92%) and normal (67.94%), so there was no correlation between the incidence of dental caries on the nutritional status of 6-7-year-olds in Kaniti Regency Kupang in 2016 because children who had high and very high caries incidence has fat and normal nutritional status. It is recommended to conduct further research on the factors that influence the high incidence of dental caries in children aged 6-7 years at SDN Kaniti, Kupang Tengah District, Kupang Regency.Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut pada sebagian besar penduduk Indonesia. Karies gigi paling banyak menyerang anak-anak. Karies yang terjadi pada anak-anak sering tidak dirawat atau diobati sehingga mengakibatkan sakit gigi. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan umum anak dimana frekuensi makan akan berkurang sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang akan mempengaruhi status gizi anak. Masalah gizi disebabkan oleh banyak faktor yang saling terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dipengaruhi oleh penyakit infeksi dan tidak cukupnya asupan gizi secara kuantitas dan kualitas, sedangkan secara tidak langsung dipengaruhi oleh jangkauan dan kualitas pelayanan kesehatan, pola asuh anak yang kurang memadai, kurang baiknya kondisi sanitasi lingkungan serta rendahnya ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kejadian karies gigi anak dengan status gizi anak usia 6-7 tahun SDI Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pemeriksaan gigi dan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Tingkat kejadian karies gigi anak usia 6-7 tahun SDI Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016 pada kategori tinggi (30,76%) dan sangat tinggi (37,17%) dengan rata-rata 3- 6 gigi berlubang dan Status gizi anak usia 6-7 tahun SDI Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016 pada kategori gemuk (26.92%) dan normal (67.94%), sehingga Tidak ada hubungan tingkat kejadian karies gigi terhadap status gizi anak usia 6-7 tahun SDN Kaniti Kabupaten Kupang tahun 2016 karena anak yang memiliki tingkat kejadian karies tinggi dan sangat tinggi memilki status gizi gemuk dan normal. Disarankan untuk dilakukan penelitian lanjutan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat kejadian karies gigi pada anak usia 6-7 tahun di SDN Kaniti Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang
Status Pekerjaan Dan Pengetahuan Ibu Menyusui Terhadap Pemberian ASI Eksklusif
Latar Belakang : Air Susu Ibu (ASI) selain merupakan makanan paling baik untuk bayi, juga terbukti dapat mencegah penyakit pada bayi dan memberi manfaat bagi ibu, keluarga, dan masyarakat. Memberikan ASI selama 6 bulan dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa di seluruh dunia. Tahun 2016 capaian pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Jekan Raya masih rendah. Tujuan Penelitian: Penelitian ini merupakan crosssectional study yang bersifat analitik Populasinya adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan metode Cross Sectional. Jumlah sampel yaitu sebanyak 79 responden. Adapun cara pengumpulan data dengan wawancara. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-square (X2) dan Fisher Exact Test. Hasil penelitian: Variabel yang memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan (p=0,000). Sedangkan untuk variabel lainnya, yaitu umur (Fisher Exact Test = 0,120), pendidikan (p = 0,075) dan pekerjaan (p = 0,976) tidak menunjukkan adanya hubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Variabel pengetahuan menunjukkan hubungan yang bermakna dengan pemberian ASI eksklusif. Variabel umur, pendidikan dan pekerjaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna dengan pemberian ASI eksklusif.Latar Belakang : Air Susu Ibu (ASI) selain merupakan makanan paling baik untuk bayi, juga terbukti dapat mencegah penyakit pada bayi dan memberi manfaat bagi ibu, keluarga, dan masyarakat. Memberikan ASI selama 6 bulan dapat menyelamatkan 1,3 juta jiwa di seluruh dunia. Tahun 2016 capaian pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Jekan Raya masih rendah. Tujuan Penelitian: Penelitian ini merupakan crosssectional study yang bersifat analitik Populasinya adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia 6-12 bulan. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan penelitian observasional analitik dengan metode Cross Sectional. Jumlah sampel yaitu sebanyak 79 responden. Adapun cara pengumpulan data dengan wawancara. Uji statistik yang digunakan adalah uji Chi-square (X2) dan Fisher Exact Test. Hasil penelitian: Variabel yang memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif yaitu pengetahuan (p=0,000). Sedangkan untuk variabel lainnya, yaitu umur (Fisher Exact Test = 0,120), pendidikan (p = 0,075) dan pekerjaan (p = 0,976) tidak menunjukkan adanya hubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: Variabel pengetahuan menunjukkan hubungan yang bermakna dengan pemberian ASI eksklusif. Variabel umur, pendidikan dan pekerjaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna dengan pemberian ASI eksklusif
Kandungan Bakteri Escherichia Coli Pada Air Rendaman Tahu Pedagang Kaki Lima Di Pasar Kasih Naikoten 1 Kota Kupang Tahun 2017
One of the most common contaminants in food is Escherichia coli. These bacteria come from human and animal feces, are infected with food because of the unhygienic behavior of the handler, the washing of unclean equipment, the health of food processors and handlers and the use of washing water containing Escherichia coli. The purpose of this study was to assess the physical quality of tofu soaking raw water, assess the sanitation of tofu soaking containers and calculate the amount of E. coli soaked tofu bacteria in street vendors in the Love Market Naikoten 1 Kota Kupang in 2017. This type of research was descriptive research. with a survey approach with the size of the sample, namely 23 tofu traders in the Pasar Naik Naiken Kota Kupang. The results showed that the physical quality of tofu soaking raw water was 70% fulfilling the requirements, and 30% did not meet the requirements, soaking sanitation containers knew 66% good enough category, 17% good category and 17% poor category, E. coli bacteria content checked 4% eligible categories and 96% categories did not meet the requirements. Conclude that the physical quality of raw tofu soaking water meets the requirements, sanitation of containers used to soak the tofu well enough and the content of E. coli bacteria does not meet the requirements. The advice given is to pay attention to personal hygiene in touching food, hand hygiene and always closing the container at any time.Salah satu kontaminan yang paling sering dijumpai pada makanan adalah salah satunya bakteri Escherichia coli. Bakteri ini berasal dari tinja manusia dan hewan, tertular ke dalam makanan karena perilaku penjamah yang tidak higienis, pencucian peralatan yang tidak bersih, kesehatan para pengolah dan penjamah makanan serta penggunaan air pencuci yang mengandung Escherichia coli. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai kualitas fisik air baku rendaman tahu, menilai sanitasi wadah perendaman tahu dan menghitung jumlah kandungan bakteri E. coli air rendaman tahu pada pedagang kaki lima di Pasar Kasih Naikoten 1 Kota Kupang Tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan survey dengan besarnya sampel yakni 23 pedagang tahu yang ada di Pasar Kasih Naikoten Kota Kupang. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kualitas fisik air baku rendaman tahu 70 % memenuhi syarat, dan 30 % tidak memenuhi syarat, sanitasi wadah perendaman tahun 66 % kategori cukup baik, 17 % kategori baik dan 17% masuk kategori kurang baik, kandungan bakteri E. coli yang diperiksa 4 % kategori memenuhi syarat dan 96 % kategori tidak memenuhi syarat. Simpulkan bahwa kualitas fisik air baku merendam tahu sudah memenuhi syarat, sanitasi wadah yang digunakan untuk merendam tahu cukup baik dan kandungan bakteri E. coli tidak memenuhi syarat. Saran yang diberikan adalah memperhatikan kebersihan diri dalam menjamah makanan, kebersihan tangan dan selalu menutup wadah setiap saat
Hubungan Asupan Makanan Berisiko Dan Aktivitas Fisik Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe II Di Kota Kupang
Diabetes mellitus (DM) is a serious threat to health development and ranked 6th as a cause of death. About 1.3 million people die from diabetes and 4% die before age 70 (Infodatin, 2014). In the province of East Nusa Tenggara, this disease ranks 19th has increased to 3 times compared to 2007. Cases of diabetes mellitus in the city of Kupang vary greatly in each age group wherein 2014 the proportion of the highest cases was at age 65-75 years totaling 780 people (Kupang City Health Profile, 2014). High energy intake from pure carbohydrates will stimulate insulin secretion by pancreatic beta cells as compensation to increase blood sugar levels. At a certain level, compensation efforts will not be able to compensate for insulin resistance so insulin insufficiency will arise with glucose intolerance (Waspadji et al., 2003). Polikandrioti and Dokoutsidou (2009), said obesity and lack of physical activity are also directly closely related to insulin resistance as is the characteristic of type 2 diabetes mellitus. This study was to analyze the relationship between risky food intake and physical activity with the incidence of type 2 diabetes mellitus. observational study with a case-control design. The population is 52,965 people living in the city of Kupang. The total number of samples was 234 people who met the inclusion criteria, consisting of 117 cases of type 2 diabetes and control group of 117 people who did not have type 2 diabetes mellitus taken in 2 stages: the first stage was to determine the cluster of research areas, and second consecutive sampling was taken. The measuring instrument used is the questionnaire International Physical Activity Activity Test (IPAQ), format Food Recall 24 hours and semi Quantitative Food Frequency Questioner (FFQ), Food Model, Waist ruler/tape measure. Data were analyzed using a Chi-Square test to see the relationship between; food intake is at risk with visceral obesity, visceral obesity with type 2 diabetes mellitus, food intake at risk with type 2 diabetes mellitus. To see the relationship between body activity with visceral obesity and body activity with the incidence of type 2 diabetes mellitus using Pearson Chi-Square. The results of an analysis of the bivariate energy intake test for the incidence of type 2 diabetes mellitus, had an OR of 2.543 with 95% CI = 1.4-4.3 and (p-value 0.001). Fat intake for type 2 diabetes mellitus has an OR of 1.530 with 95% CI = 0.9-2.5 and (p-value 0.142). Fiber intake for type 2 diabetes mellitus has OR 0.760 with 95% CI = 0.4-1.2 and (p-value 0.370). Visceral obesity in the incidence of type 2 diabetes mellitus has an OR 2.510 with 95% CI = 1.4-4.2 and (p-value 0.001). Energy intake for the incidence of visceral obesity has OR 28,292 with 95% CI = 13,3-59,8 and (p-value 0,000). Fat intake for the incidence of visceral obesity had OR 23.435 with 95% CI 11.4-47, 8 and (p-value 0.000). Fiber intake on the incidence of visceral obesity has OR 4.959 with 95% CI = 2.7-8.8) and (p-value 0,000). In the case group, the results of statistical tests of activity on visceral obesity found a p-value of 0.246 which means that physical activity was not associated with the incidence of visceral obesity. While the control group statistical test results obtained p-value 0.000 means that there is a relationship between physical activity and the incidence of type 2 diabetes mellitus.Penyakit Diabetes Melitus (DM) merupakan ancaman serius bagi pembangunan kesehatan dan menduduki peringkat ke-6 sebagai penyebab kematian. Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes dan 4% meninggal sebelum usia 70 tahun (Infodatin, 2014). Di propinsi Nusa Tenggara Timur, penyakit ini menduduki peringkat ke 19 telah meningkat menjadi 3 kali lipat dibanding tahun 2007. Kasus diabetes mellitus di Kota Kupang sangat bervariasi pada setiap golongan umur dimana pada tahun 2014 proporsi kasus tertinggi adalah pada usia 65-75 tahun berjumlah 780 orang (Profil Kesehatan Kota Kupang, 2014). Asupan energi yang tinggi yang bersumber dari karbohidrat murni akan memacu sekresi insulin oleh sel beta pankreas sebagai kompensasi meningkatkan kadar gula darah. Pada batas tertentu, usaha kompensasi tidak akan dapat mengimbangi resistensi insulin sehingga akan timbul insufisiensi insulin dengan adanya intoleransi glukosa (Waspadji et al.,2003). Polikandrioti dan Dokoutsidou (2009), mengatakan obesitas dan kurangnya aktifitas fisik juga secara langsung berkaitan erat dengan resistensi insulin sebagaimana ciri dari diabetes mellitus tipe 2. Penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara asupan makan berisiko dan aktivitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. Jenis penelitian studi observasional dengan rancangan case-control. Populasi sebanyak 52.965 orang berdomisili di wilayah Kota Kupang. Jumlah sampel seluruhnya adalah 234 orang yang memenuhi kriteria inklusi, terdiri dari kelompok kasus sebanyak 117 orang yang menderita diabetes mellitus tipe 2 dan kelompok kontrol sebanyak 117 orang yang tidak menderita diabetes mellitus tipe 2 diambil melalui 2 tahap yaitu tahap pertama menetapkan kluster wilayah penelitian, dan kedua pengambilan sampel secara consecutive sampling. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner International Physical Activityuestionnaire (IPAQ), formatFood Recall 24 jam dan semi Quantitative Food Frequency Questioner (FFQ), Food Model, Waist ruller/pita ukur. Data dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square untuk melihat hubungan antara; asupan makanan berisiko dengan obesitas visceral, obesitas visceral dengan diabetes mellitus tipe 2, asupan makanan berisiko dengan diabetes mellitus tipe 2. Untuk melihat hubungan aktivitas tubuh dengan obesitas visceral dan aktivitas tubuh dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2 menggunakan Pearson Chi Square. Hasil analisis uji bivariat asupan energy terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2, memiliki OR sebesar 2,543 dengan 95% CI= 1,4-4,3 dan (p-value 0,001). Asupan lemak terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 memiliki OR 1,530 dengan 95% CI= 0,9-2,5 dan (p value 0,142). Asupan serat terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 memiliki OR 0,760 dengan 95% CI= 0,4-1,2 dan (p-value 0,370). Obesitas visceral terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2 memiliki OR 2,510 dengan 95% CI= 1,4-4,2 dan (p value 0,001). Asupan energy terhadap kejadian obesitas viseral memiliki OR 28,292 dengan 95% CI= 13,3-59,8 dan (p value 0,000). Asupan lemak terhadap kejadian obesitas viseral memiliki OR 23,435 dengan 95% CI 11,4-47, 8 dan (p value 0,000). Asupan serat terhadap kejadian obesitas viseral memiliki OR 4,959 dengan 95% CI= 2,7-8,8) dan (p-value 0,000). Pada kelompok kasus hasil uji statistik aktivitas terhadap obesitas visceral didapatkan p value 0,246 artinya aktivitas fisik tidak berhubungan dengan kejadian obesitas visceral. Sedangkan kelompok control hasil uji statistic didapatkan p-value 0.000 artinya bahwa terdapat hubungan antara aktivitas fisik dan kejadian diabetes mellitus tipe 2
Persalinan Dalam Pandangan Budaya Timor (Atoni)
The utilization of health facilities in the city of Kupang is very low compared to the national target. Timorese in Kupang City still hold fast and practice some cultural practices related to the life cycle which will influence how Timorese view labor. This study aims to describe labor that is viewed by the Timorese culture (Atoni). This study is a phenomenological research with a qualitative approach, the determination of the sample in this study using purposive sampling technique, data collected through in-depth interviews and thematically analyzed. The results of interviews obtained from childbirth according to Timorese culture are important in the life cycle of women, there are several differences between traditional and modern childbirth treatments including concoctions and delivery positions. Conclusion: Timorese people have their own perception of childbirth, especially in the procedures of childbirth assistance (position and potions) and their perception of childbirth.Pemanfaatan fasilitas kesehatan di Kota Kupang sangat rendah dari target nasional. Suku Timor di Kota Kupang masih memegang teguh serta mempraktekkan beberapa praktek budaya terkait daur kehidupan yang akan mempengaruhi bagaimana masyarakat Timor memandang persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan persalinan yang dipandang oleh budaya Timor (Atoni). Penelitian ini merupakan penelitian fenomenologi dengan pendekatan kualitatif, penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisa secara tematik. Hasil wawancara diperoleh persalinan menurut budaya Timor merupakan sesuatu yang penting dalam siklus kehidupan wanita, terdapat beberapa perbedaan perawatan persalinan secara tradisional dan modern diantaranya: ramuan dan posisi persalinan. Simpulan: Masyrakat Timor memiliki persepsi sendiri dalam persalinan terutama dalam tata cara pertolongan persalinan (posisi, dan ramuan) serta persepsi mereka mengenai persalinan
Peningkatan Polymorphonuclear (PMN) Dalam Cairan Nasal Lavage Operator Penggilingan Padi Yang Terpajan Endotoksin Lipopolisakarida (LPS)
Background: Exposure to lipopolysaccharide endotoxin (LPS) in rice dust causes respiratory inflammation which is characterized by an increase in Neutrophils or Polymorphonuclear (PMN) in the nasal lavage fluid of rice milling operators. Objective: The purpose of this study was to analyze the effect of endotoxin LPS on the rice mill operators\u27 PM in the rice level operators. Methods: the design of this study was a longitudinal study. Dust sampling was carried out for 8 hours while nasal lavage samples were carried out before and after work (cross shift). Endotoxin PMN and LPS were analyzed using the ELISA method and LPS Endotoxin was analyzed using LAL. Results: The mean level of LPS endotoxin in rice dust was 56.36 ± 5.83 EU / m3. An increase in post-employment PMN (Pired sample t-test: p = 0.000) in all rice milling operators. LPS endotoxin levels correlated with increased PMN in nasal lavage fluid in rice milling operators (multiple linear regression test: p = 0.000). Conclusion: LPS endotoxin is a factor that influences the increase of PMN levels in nasal lavage fluid which indicates the occurrence of inflammation in rice mill operators. Suggestion: Use a rice milling machine equipped with a dust collector. Health checks are given to the rest of their work. Workers are advised to always use masks while working.Latar Belakang: Paparan endotoksin lipopolisakarida (LPS) pada debu padi menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peningkatan Neutrofil atau Polymorphonuclear (PMN) pada cairan nasal lavage operator penggilingan padi. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh endotoksin LPS terhadap peningkatan kadar Polymorphonuclear (PMN) operator penggilingan padi. Metode: rancangan penelitian ini adalah longitudinal studi. Pengambilan sampel debu dilakukan selama 8 jam sedangkan sampel nasal lavage dilakukan sebelum dan setelah bekerja (cross shift). Kadar PMN dan LPS Endotoksin dianalisis menggunakan metode ELISA kemudian Endotoksin LPS dianalisis menggunakan LAL. Hasil: Rerata kadar endotoksin LPS dalam debu padi adalah 56,36 ± 5.83 EU/m3. Terjadi peningkatan PMN setelah kerja (Pired sample-t test: p = 0.000) pada semua operator penggilingan padi. Kadar endotoksin LPS berkorelasi dengan peningkatan PMN pada cairan nasal lavage operator penggilingan padi (uji regresi linear berganda: p= 0.000). Kesimpulan: Endotoksin LPS merupakan faktor yang mempengaruhi peningkatan kadar PMN dalam cairan nasal lavage yang mengindikasikan terjadinya inflamasi pada operator penggilingan padi. Saran: Gunakan mesin penggilingan padi yang dilengkapi dengan pengumpul debu. Perlu pemeriksaan kesehatan secara berkala dan bagi pekerja yang mengalami gangguan pernapasan agar diberikan pengobatan dan waktu untuk istirahat dari pekerjaan nya. Pekerja disarankan untuk selalu menggunakan masker saat bekerja