AKSIOMA : Jurnal Matematika dan Pendidikan Matematika
Not a member yet
382 research outputs found
Sort by
STUDI PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG MENGIKUTI TRAINING DAN YANG TIDAK MENGIKUTI TRAINING PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 64 AMBON
Pendidikan merupakan sarana mutlak dalam mewujudkan masyarakat madani yang mampu menguasai, mengembangkan, mengendalikan dan memamfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Training adalah suatu proses pemberian bantuan belajar secara terus-menerus dan sistematis kepada individu atau peserta didik dalam memecahkan masalah yang dihadapinya yang berkaitan dengan kegiatan belajar di Sekolah. Rumusan dalam penelitian ini adalah ?óÔé¼?ôapakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang mengikuti Training dan yang tidak mengikuti Training pada siswa Kelas VI SD Negeri 64 Ambon. Sedemikian sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya perbedaan hasil belajar matematika siswa yang mengikuti Training dan yang tidak mengikuti Training pada siswa kelas VI SD Negeri 64 Ambon dengan menggunakan tipe penelitian deskriptif komparatif. Penelitian ini dilakukan dari tanggal 25 Pebruari ?óÔé¼ÔÇ£ 23 Maret 2015, dengan Subjek yang diambil dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 64 Ambon berjumlah 20 siswa. Berdasarkan tes hasil belajar yang diberikan pada siswa, terlihat adanya perbedaan antara siswa yang ikut Training dan siswa yang tidak mengikuti Training. Hal ini nampak dari nilai rata ?óÔé¼ÔÇ£ rata siswa yang mengikuti trainer sebesar 17,79 dan nilai rata-rata siswa yang tidak trainer sebesar 16,72. Berdasarkan Hasil penelitian tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar matematika siswa yang mengikuti Training dan yang tidak mengikuti Training pada siswa kelas VI SD Negeri 64 Ambon.Kata Kunci : Training, Stasistik Inferensi, Hasil Belaja
EFEKTIVITAS KOMUNIKASI MASA TERHADAP KARAKTER MAHASISWA MATAKULIAH METODOLOGI PENELITIAN PENDIDIKAN
Budaya copy paste dalam penyusunan skripsi maupun dalam penyelesaian tugas belajar masih sangat mendominasi. Hal ini menunjukan bahwa sikap ilmiah yang merupakan karakter dari mahasiswa masih sangat buruk. Menurut Gordon J. Wimmernam (Setiawati, 2008: 47), untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologi kita, komunikasi mempunyai fungsi isi yang melibatkan pertukaran informasi yang kita perlukan untuk menyelesaikan tugas, dan berfungsi terhadap hubungan yang melibatkan pertukaran informasi mengenai bagaimana hubungan kita dengan orang lain. Jenis penelitian ini ialah eksperimen yang memanfaatkan komunikasi massa untuk meningkatkan nilai-nilai kehidupan dan karakter kebangsaan (IKIP, 2011) dengan desain penelitian menggunakan quasi eksperimen (Samsudi, 2006: 75). Pengambilan data menggunakan teknik pengamatan dan angket untuk memperoleh data nilai karakter serta teknik tes untuk data prestasi belajar.?é?á Analisis data menggunakan uji banding menggunakan independent sample t-test yang menghasilkan adanya perbedaan yang signifikan, selain itu dilakukan pula uji regresi yang menunjukan adanya pengaruh karakter mahasiswa terhadap prestasi belajar. ?é?á Kata Kunci?é?á:komunikasi massa, karakte
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) DAN JIGSAW TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA MATERI POKOK SEGIEMPAT DITINJAU DARI GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK SMP NEGERI KABUPATEN BLORA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) manakah pembelajaran yang memberikan prestasi belajar lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, STAD, atau Konvensional. 2) manakah yang mempunyai prestasi belajar yang lebih baik, peserta didik yang memiliki gaya belajar visual, auditorial, atau kinestetik. 3) pada masing-masing kategori gaya belajar, manakah yang memberikan prestasi belajar yang lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, STAD atau konvensional. 4) pada masing-masing jenis model pembelajaran, manakah yang mempunyai prestasi belajar lebih baik, peserta didik yang memiliki gaya belajar visual, auditorial atau kinestetik. Penelitian ini termasuk eksperimental semu dengan desain faktorial 3?âÔÇö3 yang dilakukan di Kelas VII SMP di Kabupaten Blora semester II Tahun Pelajaran 2011/2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP di Kabupaten Blora tahun Pelajaran 2011/2012. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified cluster random sampling. Pengumpulan datanya dilakukan melalui tes pilihan ganda dan angket gaya belajar siswa. Teknik analisis datanya menggunakan analisis variansi dua jalan dengan sel tak sama. Kesimpulan dari penelitian ini adalah, 1) pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan prestasi belajar yang sama baik dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD, pembelajaran kooperatif Tipe Jigsaw dan STAD memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional 2) prestasi belajar peserta didik yang mempunyai gaya belajar visual lebih baik daripada prestasi belajar peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditorial maupun kinestetik dan prestasi belajar peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditorial sama baik dengan prestasi belajar peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik. 3) pada gaya belajar?é?á visual, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan prestasi belajar yang sama baik dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maupun STAD memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional. 4) pada gaya belajar?é?á auditorial, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan prestasi belajar yang sama baik dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maupun STAD memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional 5) pada gaya belajar?é?á kinestetik, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw memberikan prestasi belajar yang sama baik dengan pembelajaran kooperatif tipe STAD, pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw maupun STAD memberikan prestasi belajar yang lebih baik daripada pembelajaran konvensional 6) pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, prestasi belajar peserta didik yang memiliki gaya belajar visual lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar peserta didik yang memiliki gaya belajar auditorial maupun kinestetik, dan prestasi belajar?é?á peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditorial sama baik dengan prestasi belajar?é?á peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik. 7) ) pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD, prestasi belajar peserta didik yang memiliki gaya belajar visual lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar peserta didik yang memiliki gaya belajar auditorial maupun kinestetik, dan prestasi belajar?é?á peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditorial sama baik dengan prestasi belajar?é?á peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik. 8)?é?á pada model pembelajaran konvensional, prestasi belajar peserta didik yang memiliki gaya belajar visual lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar peserta didik yang memiliki gaya belajar auditorial maupun kinestetik, dan prestasi belajar?é?á peserta didik yang mempunyai gaya belajar auditorial sama baik dengan prestasi belajar?é?á peserta didik yang mempunyai gaya belajar kinestetik Kata Kunci : Gaya Belajar, Prestasi Belajar, Pembelajaran Kooperatif, Jigsaw, STAD, Konvensional
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN MATEMATIKA BERORIENTASI SOCIO HUMANISM BERBANTU WEBSITE PADA MATA KULIAH ALJABAR LINIER I
Tujuan diterapkannya pendekatan humanistik dalam pembelajaran adalah mengembangkan self-direction yang positif (berkarakter) dan kebebasan (kemandirian) pada diri peserta didik (Arsury, 2007). Alvin (dalam Haglun, 2004)?é?á menyatakan bahwa salah satu karakteristik kelas humanistik ialah menempatkan peserta didik sebagai penyelidik yang menurut teori Piaget (dalam Hidayat, 2004) membutuhkan pengalaman fisik dan transmisi sosial. Kaino (2008) menjelaskan pengembangkan program ICT umumnya telah direkomendasikan untuk?é?á konseptualisasi matematika. Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian Quasy Experimental dan Teknik pengambilan sampel dilakukan secara random sampling untuk memilih kelas eksperimen dan kelas kontrol. Variabel dalam penelitian ini yaitu?é?á kreativitas?é?á mahasiswa sebagai variabel bebas dan prestasi belajar mahasiswa sebagai variabel terikat. Cara pengambilan data dengan observasi dan tes prestasi belajar. Olah data dengan uji banding dan uji pengaruh. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses pengambilan data meliputi data pengamatan kreativitas?é?á mahasiswa. Selanjutnya dilakukan tes prestasi belajar untuk mengukur prestasi belajar mahasiswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tingkat keberhasilan diukur melalui tiga uji statistika, yaitu uji ketuntasan prestasi belajar, uji pengaruh, dan uji perbedaan yang sebelumnya melalui uji prasyarat. Harapannya hal tersebut menunjukkan pembelajaran matematika berorientasi socio humanism berbantu website akan mencapai efektif. Kata kunci : socio humanism, website, efekti
PERANAN PEMAHAMAN PETUNJUK OPERASIONAL DALAM PROGRAM BORLAND DELPHI DAN KESERINGAN BERLATIH TERHADAP KEMAMPUAN MENGOPERASIKAN PROGRAM BORLAND DELPHI
Mata kuliah sistem basis data terdiri atas teori dan praktek. Jadi, mahasiswa harus menguasai teori dulu sebelum mereka berparaktek. Teori ini diperoleh mahasiswa dari kuliah dilengkapi buku/diktat sistem basis data tentang pemrograman Borland Delphi. Di dalam program Borlnd Delphi itu terdapat petunjuk pengoperasian berbahasa Inggris. Jadi, untuk bisa mengoperasikan program Borland Delphi, mahasiswa harus bisa memahami petunjuk berbahasa Inggris itu. Dengan memahami petunjuk itu diharapkan mahasiswa bisa berpraktek mengoperasikan program Borland Delphi untuk bisa menghasilkan sesuatu yang printout-nya berupa listing kode program (teks) dan gambar komponen program. Untuk sampai kepada keterampilan itu, mahasiswa perlu berlatih. Masalahnya ialah variabel mana yang lebih signifikan menentukan keterampilan mengoperasikan program Borland Delphi, kemampuan memahami petunjuk berbahasa Inggris dalam program Borland Delphi tentang pengoperasian Program Borland Delphi atau keseringan berlatih. Untuk memecahkan masalah itu dilakukan penelitian ex post facto di Universitas PGRI Semarang, khususnya mahasiswa jurusan S1 Pendidikan Teknologi Informasi, Fakultas PMIPATI semester 3 yang sedang menempuh mata kuliah sistem basis data. Mereka terdapat 2 kelas, setiap kelas rata-rata 21 orang mahasiswa. Untuk sasaran penelitian ini diambil 16 orang setiap kelasnya, sehingga jumlah mereka 32 orang. Dalam penelitian ini ada 3 jenis data, yaitu: (1) data tentang kemampuan memahami petunjuk operasional berbahasa Inggris yang ada dalam program Borland Delphi, (2) data tentang keseringan berlatih, dan (3) data tentang kemampuan mengoperasikan program Borland Delphi. Data tentang kemampuan mengoperasikan program Borland Delphi dan data kemampuan memahami petunjuk operasional berbahasa Inggris dalam program Borland Delphi diperoleh dengan tes, sedangkan data tentang keseringan berlatih diperoleh dengan kuesioner. Hasil uji lanjut, uji keberartian koefisien korelasi parsial, diketahui bahwa kemampuan memahami petunjuk operasional berbahasa Inggris dalam program Borland Delphi mempunyai peranan yang signifikan terhadap kemampuan mengoperasikan program Borland Delphi. Hal itu terbukti dari hasil uji lanjut bahwa t1=5,385tsig.5%=2,04. Sebabnya ialah mahasiswa telah mempelajari buku/diktat mata kuliah sistem basis data berbahasa Indonesia tentang pemrograman Borland Delphi serta tetap memperhatikan petunjuk pengoperasian program Borland Delphi yang berbahasa Inggris, mereka bisa mengoperasikannya. Sebaliknya keseringan berlatih tidak memberikan peranan signifikan terhadap kemampuan mengoperasikan program Borland Delphi. Hal ini terbukti dari hasil uji lanjut bahwa t2=-0,029tsig.5%=2,04. Ini berarti bahwa semakin tidak banyak berlatih, semakin tidak terampil mengoperasikan program Borland Delphi dan kurang memahami petunjuk berbahasa Inggris yang ada dalam program Borland Delphi. Kata Kunci: Peranan, Pemahaman, Berlatih, Kemampuan, Program Borland Delph
EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEAMS ASSISTED INDIVIDUALIZATION DAN THINK PAIR SHARE DITINJAU DARI KEAKTIFAN SISWA KELAS VIII SMP NEGERI SEKABUPATEN GROBOGAN.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah: (1) Penggunaan pembelajaran tipe TAI menghasilkan prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe TPS; (2) Siswa yang mempunyai keaktifan tinggi menghasilkan prestasi yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai keaktifan sedang dan rendah, dan siswa yang mempunyai keaktifan sedang menghasilkan prestasi yang lebih baik dari pada siswa yang mempunyai keaktifan rendah.; (3) Pada masing-masing tingkat keaktifan (tinggi, sedang, rendah), metode pembelajaran kooperatif tipe TAI menghasilkan prestasi belajar lebih baik dibandingkan metode pembelajaran kooperatif tipe TPS.; (4) Pada metode pembelajaran kooperatif tipe TAI, prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang dan rendah serta prestasi belajar siswa yang mempunyai keaktifan sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan rendah.; (5) Pada metode pembelajaran kooperatif tipe TPS, apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang dan rendah serta prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan rendah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu dengan desain faktorial 23. Populasi dari penelitian ini adalah keseluruhan siswa kelas VIII SMP tahun pelajaran 2010/2011 di Kabupaten Grobogan. Pengambilan sampel dilakukan dengan stratified cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 240 orang dengan rincian 120 orang untuk kelas dengan model pembelajaran Teams Assisted Individualization, 120 orang untuk kelas dengan model pembelajaran Think Pair Share. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes prestasi belajar matematika dan angket angket keaktifan belajar siswa. Sebelum digunakan untuk pengambilan data, instrumen tes prestasi dan angket keaktifan belajar terlebih dahulu diujicobakan. Penilaian validitas isi instrumen tes dan angket dilakukan oleh validator. Uji reliabilitas instrumen tes menggunakan rumus Cronbach Alpha, uji reliabilitas instrumen angket menggunakan rumus Cronbach Alpha. Daya pembeda tes dan konsistensi internal angket menggunakan rumus korelasi produk momen dari Karl Pearson. Uji keseimbangan menggunakan uji t. Uji prasyarat meliputi uji normalitas dengan menggunakan metode uji Lilliefors dan uji homogenitas menggunakan metode Bartlett dengan statistik uji Chi Kuadrat. Dengan ?é?ádiperoleh kesimpulan bahwa sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan uji hipotesis diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Metode pembelajaran kooperatif tipe TAI menghasilkan prestasi belajar matematika yang lebih baik dibandingkan metode pembelajaran kooperatif tipe TPS pada materi bangun ruang (Fa = 9.064?é?á dengan Ftabel = 3.882 ). (2) prestasi belajar matematika siswa yang memiliki keaktifan belajar tinggi lebih baik daripada siswa yang mempunyai keaktifan belajar sedang dan rendah, dan prestasi belajar matematika siswa yang memiliki keaktifan belajar sedang lebih baik daripada siswa yang mempunyai keaktifan belajar rendah. (Fb = 53.296 dengan Ftabel = 3.034). (3) Metode pembelajaran kooperatif tipe TAI menghasilkan prestasi belajar lebih baik dibandingkan metode pembelajaran tipe TPS pada siswa dengan keaktifan belajar tinggi, sedang dan rendah (Fab = 0.739 dengan?é?á Ftabel = 3.034). (4) Pada metode pembelajaran kooperatif tipe TAI, prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang dan rendah serta prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan rendah (Fab = 0.739 dengan Ftabel = 3.034). (5) Pada metode pembelajaran kooperatif tipe TPS, prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang dan rendah serta prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan sedang lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai keaktifan rendah (Fab = 0.739 dengan Ftabel = 3.034). ?é?á Kata kunci: Teams Assisted Individualization, Think Pair Share, Keaktifan Sisw
PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA SMA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA MATERI TRIGONOMETRI
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran matematika SMA dengan pendekatan kontekstual sebagai perangkat pembelajaran matematika yang layak dan efektif selama proses pembelajaran berlangsung. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Research and Development. Penelitian pengembangan menggunakan modifikasi model Thiagaran atau lebih dikenal dengan 4D dengan tahap pendefisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (dessiminate).Sebelum diujicobakan di lapangan, perangkat pembelajaran matematika SMA dengan pendekatan kontekstual terlebih dahulu dilakukan uji validasi oleh ahli media dan ahli materi. Selain itu diperlukan juga angket tanggapan siswa mengenai media tersebut. Hasil dari validasi ahli dan angket siswa sebagian besar berkriteria sangat baik. Jadi perangkat pembelajaran matematika tersebut valid untuk diujicobakan. Uji keefektifan media menggunakan uji t pihak kanan yang hasil analisisnya diperoleh Ho ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan perangkat pembelajaran matematika SMA dengan pendekatan kontekstual lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional pada materi trigonometri. Kata Kunci : Pengembangan, Perangkat Pembelajaran, Pendekatan kontekstua
Implementasi Media Software Geogebra dan Screencase dalam Pembelajaran Geometri Transformasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Tadris Matematika
Media adalah alat bantu yang penting dalam suatu proses pembelajaran, hal itu dikarenakan penggunaan media yang cocok dalam pembelajaran akan memberikan pengaruh bagi peserta didik dalam memahami materi yang disampaikan. Media dalam penelitian ini berbasis software geogebra dan screencase yang merupakan salah satu cara yang dapat digunakan dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar Mahasiswa. Penelitian ini termasuk penelitian kuasi eksperimen dengan desain penelitian pretest posttest group design. Data diperoleh dengan mengambil dua macam data yaitu data kemampuan awal mahasiswa melalui dokumentasi hasil nilai ujian blok pada bab sebelumnya dan data setelah mahasiswa diberi perlakuan melalui posttest. Pretest maupun postest diberikan pada semua kelas sampel, dari data yang dihasilkan kemudian dibandingkan antara kelas kontrol dan eksperimen. Untuk memperoleh data tentang keaktifan mahasiswa dilakukan dengan observasi selama proses pembelajaran berlangsung oleh observer. Subyek penelitian yang diambil mahasiswa semester VIA (27 Mahasiswa) dan VIB (33 mahasiswa) pada mata kuliah geometri tranformasi. Dalam penelitian ini ada dua langkah analisis yang dilakukan yaitu analisis data soal tes dengan melakukan uji prasarat (Homogenitas varians, uji normalitas) dan uji t, untuk analisa data observasi keaktifan belajar mahasiswa dianalisis dengan analisis kuantitatif.Dari data awal yang didapat dari ujian blok pada bab sebelumnya dianalisis dengan bantuan program SPSS, didapatkan sampel dalam kondisi normal dan homogen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dengan menggunakan bantuan software geogebra dan screencase lebih efektif meningkatkan keaktifan dan hasil prestasi belajar mahasiswa dibandingkan dengan penggunaan metode konvensional pada mata geometri transformasi jurusan tadris matematika IAIN Walisongo Semarang dan dari analisis regresi linier didapat kesimpulan bahwa 81,3 % hasil belajar mahasiswa dipengarui oleh keaktifan mahasiswa, 19,7% dipengaruhi oleh variabel lainnya.Kata kunci : Efektifitas, Geogebra dan Screencase, Keaktifan, Prestasi Belajar
IMPLEMENTASI ANIMASI MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATEMATIS SISWA SEKOLAH DASAR
Tujuan penelitian Implementasi animasi matematika dengan pendekatan realistic mathematics education untuk meningkatkan pemahaman matematis siswa sekolah dasar adalah untuk mengetahui tingkat motivasi belajar matematika serta tingkat kemampuan pemahaman matematis siswa sekolah dasar setelah diterapkanya pembelajaran matematika menggunakan animasi matematika dengan pendekatan RME. Implementasi animasi matematika dengan pendekatan realistic mathematics education untuk meningkatkan pemahaman matematis siswa sekolah dasar yang telah dilakukan uji lapangan pada kelas II-A dan II-B di SDN N 3 Palebon Semarang, pelaksanaan dilakukan sebanyak empat kali pertemuan. Metode penelitian implementasi animasi mateamtika dengan pendekatan Realistic Mathematic Education adalah melalui penelitian quasy experiment. Hasil Implementasi animasi matematika dengan pendekatan realistic mathematics education untuk meningkatkan pemahaman matematis siswa sekolah dasar diperoleh nilai kelas eksperimen menunjukkan ketuntasan baik secara individual maupun klaksikal. Dan setelah dianalisis diperoleh bahwa hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dari pada hasil yang diperoleh kelas kontrol. Kata kunci: Implemantasi, RME, Animasi Matematika, Quasy Experimen
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK
Salah komptensi dalam kurikulum 2013 adalah mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat (Permendikbud, 2013). Dengan demikian, siswa perlu dibekali pula dengan kemampuan-kemampuan tertentu sehingga?é?á mampu mengembangkan dan mengevaluasi argumen dalam suatu pemecahan masalah tertentu. Salah satu kemampuan yang harus dikembangkan untuk mencapai tujuan tersebut adalah kemampuan berpikir kritis. Seorang siswa dikatakan mempunyai?é?á kemampuan berpikir kritis jika mampu menganalisis fakta, menggeneralisasikan dan mengorganisasikan ide, mempertahankan opini, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, menguji argumen, dan menyelesaikan masalah (Chance, 1986). Di samping itu,?é?á kemampuan berpikir kritis dapat meningkatkan cara berpikir yang sistematis, kesadaran dalam berpikir, dan memiliki kemampuan untuk membedakan suatu kebenaran dari kesalahan. Kemampuan-kemampuan tersebut sangat menunjang siswa dalam belajar matematika yang bersifat abstrak dan keabstrakan matematika ini merupakan salah satu penyebab kesulitan siswa dalam belajar matematika. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa para guru matematika tidak menyadari bahwa siswa juga dituntut untuk dapat berpikir kritis, sehingga mempunyai dasar yang kuat untuk mempelajari matematika. Namun?é?á untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran matematika bukan pekerjaan yang mudah. Guru harus berani mengambil sikap dengan menerapkan beberapa model pembelajaran yang inovatif dengan menggunakan media pembelajaran yang bervariasi sehingga keabstrakan matematika dapat disederhanakan kebentuk yang lebih konkret dan juga berkaitan langsung dengan dunia nyata. Salah satu model pembelajaran yang perlu dikembangkan oleh guru adalah Pendekatan Matematika Realistik. Hal ini sesuai dengan pendapat Soedjana (1986) yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik adalah kerangka konseptual sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah, sehingga dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis guna menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Kata Kunci : berpikir kritis, matematika realisti