Jurnal Ilmu Ternak
Not a member yet
    353 research outputs found

    Heritabilitas Sifat-Sifat Reproduksi Sapi Fries Holland (Heritability of Reproduction Traits on Fries Holland)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui nilai heritabilitas sifat-sifat reproduksi sebagai dasar  seleksi pada sapi Fries Holland.   Penelitian ini menggunakan catatan reproduksi  dari tahun 1989 sampai 2002. Analisis keragaan data menggunakan program SAS.12,  heritabilitas  dianalisis menggunakan   Animal Model dengan Restricted Maximum Likelihood (REML) dengan program paket yang digunakan adalah VCE 4.2.   Hasil penelitian ini menunjukkan  Nilai heritabilitas selang beranak, masa kosong, dan angka kawin per kebuntingan masing-masing sebesar 0,016, 0,016, dan 0,018  Heritabilitas sifat reproduksi rendah menunjukkan  variasi genetik aditif yang mempengaruhi fertilitas adalah kecil, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Seleksi berdasarkan sifat ini tidak efektif.Kata Kunci : Heritabilitas dan reproduks

    Dampak Faktor Eksternal Kawasan terhadap Efisiensi Usaha Ternak Sapi Perah (Analisis Berdasarkan Fungsi Biaya Frontier)

    Get PDF
    Dua persoalan utama yang diangkat dalam penelitan ini, masing-masing adalah bagaimana keragaman efisiensi usaha ini berdasarkan indikator efisiensi biaya, dan kedua, faktor-faktor eksternal apa saja yang mempengaruhi keragaman efisiensi tersebut. Pengamatan dilakukan terhadap 246 peternak sapi perah yang tersebar di delapan wilayah kecamatan, wilayah pengamatan ini  meliputi lima wilayah kerja koperasi susu di Kabupaten Bandung. Hubungan antara variabel eksogen dan biaya produksi (variabel endogen) dijelaskan oleh model regresi yang menggabungkan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi biaya fontier  dan fungsi dampak inefisiensi. Koefisien regresi diduga dengan metode kemiripan maksimum, data dianalisis dengan menggunakan program Frontier 4.1 (Coelli, 1996b). Hasil penelitian menunjukkan terdapat variasi indeks efisiensi yang lebar pada usaha ternak sapi perah, yakni berkisar antara 0,15 hingga 0,94 (ukuran efisiensi berdasarakan analisis frontier berkisar antara nol hingga satu). Variasi ini sebagian besar disebabkan oleh pegaruh secara simultan sejumlah faktor eksternal (R2=91%). Ini menunjukkan masih besar peluang untuk meningkatkan efisiensi di sektor ini dengan mempengaruhi variabel instrumen kebijakan yang terdapat pada  model. Hasil penelitian juga mengidikasikan bahwa penyebaran sapi perah secara geografis akan cenderung terkonsentrasi di sekitar dataran tinggi yang masih cukup menyediakan pakan hijauan, dan mudah terjangkau pelayanan koperasi. Implikasinya meningkatkan efisiensi usaha ternak sapi perah pola koperasi memerlukan dukungan kebijakan input dan tata ruang.Kata kunci: fungsi biaya frontier, dampak inefisiensi, kebijakana tataruan

    Pendugaan Nilai Pemuliaan Produksi Susu Sapi Fries Holland Berdasarkan Catatan Bulanan Tunggal dan Kumulatif di Taurus Dairy Farm (Estimated Breeding Value of Milk Yield Based on Monthly and Cummulative Monthly Record Fries Holland at Taurus Dairy Farm)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menduga nilai heritabilitas produksi susu berdasarkan catatan bulanan tunggal dan kumulatif serta mengestimasi catatan bulanan tunggal dan kumulatif keberapa yang terbaik digunakan untuk menduga nilai pemuliaan. Data produksi  susu yang digunakan adalah periode laktasi satu, dua dan tiga sapi Fries Holland  yang beranak di Taurus Dairy Farm pada  tahun 1989- 2002.   Catatan produksi bulanan total yang digunakan sebanyak 10.123;    Parameter genetik diestimasi dengan analisis REML dan nilai pemuliaan dengan PEST program BLUP.  Hasil penelitian ini menunjukkan heritabilitas produksi susu berdasarkan produksi bulanan tunggal pada pertengahan periode laktasi lebih tinggi dibandingkan awal dan akhir periode laktasi.   Nilai heritabilitas produksi susu berdasarkan produksi bulanan kumulatif meningkat seiring dengan semakin lamanya periode laktasi.  Pendugaan nilai pemuliaan berdasarkan catatan bulanan tunggal yang terbaik pada laktasi satu adalah bulan ke-4 dan ke-5, untuk laktasi dua dan tiga pada bulan ke-5.  Ketepatan pendugaan nilai pemuliaan berdasarkan produksi bulanan kumulatif semakin meningkat seiring dengan semakin lamanya periode laktasi.Kata kunci : Nilai pemuliaan, Pencatatan bulanan dan kumulatif, Parameter geneti

    Peningkatan Kadar Vitamin A pada Telur Ayam melalui Penggunaan Daun Katuk (Sauropus androgynus L.Merr) dalam Ransum (Improvement of Vitamin A Content in Chicken Egg by Katuk Leaves (Sauropus androgynus L.Merr) Utilization in Diet)

    Get PDF
    Penelitian mengenai “Peningkatan Kadar Vitamin – A pada Telur Ayam melalui Penggunaan Daun Katuk (Sauropus androgynus L.Merr) dalam Ransum”, telah dilakukan. Penelitian dilakukan secara eksperimental terhadap 72 ekor ayam petelur fase produksi (umur 30 minggu). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 (tiga) perlakuan ransum dan 6 ulangan.  Ransum tersebut, yaitu R-0 mengandung 0% daun katuk; R-1 mengandung 7,5% daun katuk, dan R-2 mengandung 15% daun katuk.  Peubah yang diamati adalah :  kualitas telur (intensitas warna kuning telur, Haugh Unit, dan tebal kerabang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pemberian daun katuk 15% dalam ransum ayam memberikan kualitas telur terbaik dibandingkan dengan 0% dan 7,5%.Kata Kunci :  Ransum, Daun Katuk, Vitamin A, Warna Kuning Telur

    Peningkatan Berat Akar, Berat Nodul Efektif Dan Hasil Hijauan Legum Dengan Pemberian Molibdenum Dan Inokulasi Rhizobium (Increasing Root Weight, Nodule Weight Effectively and Fresh Forage of Legumes by Adding Molybdenum Fertilizer and Rizobium Inoculation

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh pemberian molibdenum dan inokulasi rhizobium terhadap berat akar, berat nodul efektif dan hasil  hijauan legum. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 faktor (4 x 2 x 2) dengan 2 kali ulangan. Faktor pertama yaitu jenis legum terdiri atas 4 jenis yaitu Siratro (Macroptilium atropurpureum), Kudzu (Pueraria phaseoloides), Sentro (Centrosema pubescens) dan Kalopo (Calopogonium mucunoides), faktor kedua molibdenum terdiri atas  2 taraf (m0 = tanpa molibdenum, m1 = dengan molibdenum, 6 g kg-1 benih) dan faktor ketiga inokulasi rhizobium terdiri atas dua taraf (r0 = tanpa inokulasi rhizobium; r1 = dengan inokulasi rhizobium). Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa pemberian molibdenum dan inokulasi rhizobium  meningkatkan  berat nodul efektif. Berat nodul pada tanaman legum tanpa molibdenum  adalah 0,44 g, sedangkan pada tanaman legum yang diberi molibdenum  0,52 g. Hal ini berarti ada kenaikan berat nodul sebanyak 18% pada tanaman legum yang diberi perlakuan molibdenum.  Berat nodul tanpa inokulasi rhizobium yaitu 0,40 gram, sedangkan dengan inokulasi meningkatkan sebanyak 40 % menjadi 0,56 gram. Terjadi interaksi antara jenis legum dengan molibdenum serta antara jenis legum dan inokulasi rhizobium terhadap berat nodul tanaman legum.  Jenis legum, berpengaruh  nyata terhadap hasil hijauan segar legum, sedangkan molibdenum dan inokulasi rhizobium berpengaruh tidak nyata terhadap  berat akar legum. Kata kunci : Molibdenum, inokulasi Rhizobium, leguminos

    Hubungan Antara Karakteristik dengan Persepsi Peternak Sapi Potong terhadap Inseminasi Buatan (The Relationship between Beef Cattle Farmer’s Caracteristic and Its Perception to Artificial Insemination)

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik peternak dan persepsi peternak sapi potong terhadap inseminasi buatan, serta menganalisis hubungan diantara keduanya.  Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survai.  Penentuan responden dilakukan secara acak sederhana.  Jumlah responden yang diambil sebanyak 40 orang.  Data primer diperoleh melalui teknik wawancara berdasarkan kuesioner, dan data sekunder diperoleh dari kantor desa, kantor kecamatan dan instansi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) karakteristik peternak termasuk kategori cukup menunjang; (2) persepsi peternak terhadap inseminasi buatan termasuk kategori baik; (3) terdapat hubungan positif antara karakteristik dengan persepsi peternak terhadap inseminasi buatan dengan rs = 0,43.Kata kunci:  Presepsi peternak, Inseminasi buatan

    Perubahan Nilai Nutrisi Ampas Sagu selam pada Fase Pertumbuhan Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) yang berbeda

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui  kandungan nutirisi ampas sagu yang dipermentasi menggunakan   Pleurotus ostreatus   pada berbegai  fase pertumbuhannnya.  Rancangan Acak lengkap digunakan pada penelitian ini, perlakuan yang diberikan adalah fase pertumbuhan dari Pleurotus ostreatu. Peubah yang diukur meliputi  kandungan protein kasar, bahan kering, ADF, VDF, dan lignin dari ampas sagu yang difermentasi.  Hasil penelitian menunjukkkan bahwa terdapat perubahan komposisi nutrisi ampas sago pada berbagai fase pertumbuhan Jamur Pleurotus ostreatus. Kandungan protein meningkat dan kandungan ligninoselulosa menurun, sehingga hasil fermentasi ini sangat potensial untuk dijadikan sebagai  pakan ternak ruminansia.Kata kunci: Ampas sago, Pleurotus ostreatus,  pakan ruminansia

    Hubungan Berat Potong Kambing Kacang Jantan dengan Kuantitas Kulit Mentah Segar (The Relationship of Slaughter Weight of Male Kambing Kacang with the Quantity of Leather)

    Get PDF
    Kambing Kacang banyak dipelihara di pedesaan, karena mampu hidup dengan baik pada berbagai macam kondisi lingkungan dan mudah beradaptasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bobot kulit segar kambing Kacang dan bagaimana hubungannya antara bobot potong dan kuanitas kulit mentah segar (leather), sehingga dapat memprediksi produksi kulit mentah berdasarkan bobot potongnya. Penelitian menggunakan 25 ekor kambing Kacang jantan dengan berat potong pada kisaran 10,50 – 14,75 Kg. Data dari peubah yang diukur dianalisis secara statistik menggunakan regresi linier untuk mengetahui hubungan antara bobot potong dengan berat, luas dan tebal kulit. Hasil uji linieritas regresi menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05) antara berat potong kambing Kacang  jantan dengan berat, luas dan tebal kulit mentah segar.  Hubungan antara bobot potong dengan berat kulit mentah segar  mengikuti persamaan regresi  y =  0,066 x + 0,2291 (R2 = 0,83 dan r= 0,91), dan hubungan terhadap luas kulit mentah segar mengikuti persamaan regresi  y = 0,0081 x + 0,2145 (R2 = 0,29 dan r = 0,53), sedangkan hubungan antara berat potong dengan tebal kulit mentah segar mengikuti persamaan regresi  y = 0,0225 x + 0,6512 (R2 = 0,18 dan r = 0,43).Kata kunci :  Kambing, Potong, Kuli

    Peranan Penyuluh sebagai Agen Pembaharu dalam Meningkatkan Motivasi Berprestasi Peternak Kambing Perah (The Role of Extension Worker as Agent of Change to Increasing of The Achievement Motivation of Dairy Goat Farmer)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran penyuluh sebagai agen pembaharu, motivasi berprestasi anggota kelompok, dan keeratan hubungan dari kedua hal tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode sensus kepada 18 orang peternak yang masih aktif di kelompok Surya Medal. Uji keeratan hubungan yang digunakan adalah uji korelasi rank spearman. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Peran penyuluh sebagai agen pembaharu dinilai oleh responden sebesar 56,32% tergolong tinggi, dan sebesar 43,68% tergolong sedang, (2) Tingkat motivasi berprestasi peternak 22,78 % tergolong tinggi, 66,67% tergolong sedang, dan 5,55% tergolong rendah, (3) Terdapat hubungan yang cukup erat antara peran penyuluh sebagai agen pembaharu dengan tingkat motivasi berprestasi peternak (ρs= 0,48). Kata Kunci : penyuluh, agen pembaharu, Motivasi berprestas

    Perkembangan Konsumsi Protein Hewani di Indonesia: Analisis Hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional 2002-2005 (The Trend of Animal Protein Consumption in Indonesia: Data Analysis of 2002-2005 National Socio Economic Survey)

    Get PDF
    Tulisan ini bertujuan mengkaji perkembangan konsumsi protein hewani di Indonesia antara tahun 2002-2005, dengan melakukan pendalaman pada sumber protein asal ternak. Metode studi memakai pendekatan penelaahan data sekunder, dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Hasil pengkajian menunjukkan, telah terjadi peningkatan konsumsi protein. Namun jika dilihat dari sumbernya, konsumsi protein hewani masih kurang memadai. Sebagian besar protein hewani yang dikonsumsi berasal dari produk perikanan, walaupun ada kecenderungan konsumsi protein yang berasal dari produk peternakan semakin meningkat. Pada awalnya, yang lebih banyak dikonsumsi adalah protein yang berasal dari telur dan susu, tetapi kemudian berubah menjadi lebih banyak bersumber dari daging.Kata Kunci: konsumsi, protein hewani

    301

    full texts

    353

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Ternak
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇