Jurnal Transportasi
Not a member yet
512 research outputs found
Sort by
ANALISIS SPASIAL KINERJA JALAN DAN SIMPANG DI KABUPATEN KUDUS
One of the keys to smooth traffic flow in an area is characterized by optimal road and intersection performance. Planning or evaluating roads and intersections certainly requires existing data information, so storing data digitally will make subsequent handling activities easier. As technology is easy to use, it is very helpful in storing and presenting data. Geographic Information Systems present images, check, integrate, manipulate, analyze and display data that relates to the topographic conditions of the earth. The aim of this research is to conduct a spatial analysis of road and intersection performance in the CBD of Kudus Regency using ArcGIS. The data in this research includes primary data and secondary data. Primary data includes data on traffic volume, speed, capacity, V/C ratio, degree of saturation, segment length and service level. Meanwhile, secondary data is road network data. After data analysis, road and intersection performance data were synchronized with road network data using ArcGIS. The results of this research provide an information system related to road and intersection performance, making it easier to handle roads and intersections in the CBD Area of Kudus Regency.
ABSTRAK
Salah satu kunci lancarnya arus lalu lintas di sebuah wilayah ditandai dengan kinerja jalan dan simpang yang optimal. Perencanaan ataupun evaluasi jalan serta simpang tentu membutuhkan informasi data eksisting, sehingga penyimpanan data secara digital akan mempermudah kegiatan penanganan selanjutnya. Seiring mudahnya penggunaan teknologi, sangat membantu dalam penyimpanan dan penyajian data. Sistem Informasi Geografis menyajikan gambar, mengecek, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisan dan menampilkan data yang menghubungkan kepada kondisi topografi bumi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis spasial kinerja jalan dan simpang di CBD Kabupaten Kudus menggunakan ArcGIS. Data pada penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data Primer antara lain data volume lalu lintas, kecepatan, kapasitas, V/C rasio, derajat kejenuhan, panjang segmen dan tingkat pelayanan. Sedangkan data sekunder yaitu data jaringan jalan. Setelah dilakukan analisis data, kemudian data kinerja jalan dan simpang disinkrongkan dengan data jaringan jalan menggunakan ArcGIS. Hasil dari penelitian ini menyajikan sistem informasi terkait kinerja jalan dan simpang, sehingga mempermudah dalam penanganan jalan dan simpang di Kawasan CBD Kabupaten Kudus
UPAYA MENGURANGI KEMACETAN LALU LINTAS DI SEPANJANG JALAN ADINEGORO KOTA PADANG
Abstract
The high activity of the people of Padang City on Jalan Adinegoro causes frequent traffic jams on that road at certain hours. This study aims to determine the causes of traffic congestion that occurs on Jalan Adinegoro, so that a solution can be proposed to overcome the traffic jam that occurs. This research is a qualitative descriptive research that produces descriptive data, in the form of spoken or written words and observed behavior of people, then an analysis of the data obtained is carried out. This study shows that the factors causing traffic jams on Jalan Adinegoro are: (1) road factors, which consist of road width, vehicle volume, lack of traffic lights, crossroads, and (2) human factors, which consists of traditional market activities and modern markets as well as indiscriminate parking activities.
Keywords: road; traffic congestion; road width; vehicle volume; market activity; parking
Abstrak
Tingginya aktivitas masyarakat Kota Padang di Jalan Adinegoro menyebabkan seringnya terjadi kemacetan lalu lintas di jalan tersebut pada jam-jam tertentu. Studi ini bertujuan untuk menentukan penyebab kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalan Adinegoro, sehingga dapat diusulkan solusi untuk mengatasi kemacetan lalu lintas yang terjadi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata lisan atau tulisan orang-orang dan perilaku yang diamati, kemudian dilakukan analisis terhadap data yang diperoleh. Studi ini menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab kemacetan lalu lintas di Jalan Adinegoro adalah: (1) faktor jalan, yang terdiri atas lebar jalan, volume kendaraan, lampu lalu lintas yang kurang, persimpangan jalan dan gang, dan (2) faktor manusia, yang terdiri atas kegiatan pasar tradisional dan pasar modern serta kegiatan parkir sembarangan.
Kata-kata kunci: jalan; kemacetan lalu lintas; lebar jalan; volume kendaraan; kegiatan pasar; parki
PENENTUAN POTENSI PENGEMBANGAN KAWASAN BERORIENTASI TRANSIT DI SEKITAR TITIK TRANSIT MRT JAKARTA
Abstract
Jakarta as the center of government in Indonesia has the characteristics of diversity of land use and high population density, supported by lot of investments in the development of mass public transportation, which makes Jakarta one of the compact cities in Indonesia. Integration between modes of transportation and the surrounding environment is necessary for Jakarta’s urban planning. Transit-oriented development is part of the compact city planning concept that can be applied to development in Jakarta. This study aims to determine the potential for the development of transit-oriented areas around the Jakarta Mass Rapid Transit Station within a radius of 800 m from the center of the transit node at each station. Potential locations are determined using the Analytical Hierarchy Process method on several variables forming the criteria for the development of an ideal transit-oriented area. This study shows that the areas with the most potential to be developed with the concept of transit-oriented development are Bundaran HI Station, Dukuh Atas Station, and Asean Station.
Keywords: transit-oriented area development; mass rapid transit; compact city; public transit
Abstrak
Jakarta sebagai pusat pemerintahan di Indonesia memiliki karakteristik keberagaman penggunaan lahan dan kepadatan penduduk yang tinggi dan didukung dengan banyaknya investasi pembangunan transportasi umum massal, yang menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota kompak di Indonesia. Integrasi antara moda transportasi dan lingkungan sekitar diperlukan untuk perencanaan Kota Jakarta.pengembagan kawasan berorientasi transit merupakan bagian konsep tata kota kompak yang dapat diterapkan pada pembangunan di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pengembagan kawasan berorientasi transit di sekitar Stasiun Mass Rapid Transit Jakarta dalam radius 800 m dari pusat simpul transit di setiap stasiun. Lokasi potensial ditentukan dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process pada beberapa variabel pembentuk kriteria pengembagan kawasan berorientasi transit yang ideal. Studi ini menunjukkan bahwa kawasan yang paling potensial untuk dikembangkan dengan konsep pengembagan kawasan berorientasi transit adalah Stasiun Bundaran HI, Stasiun Dukuh Atas, dan Stasiun Asean.
Kata-kata kunci: pengembangan kawasan berorientasi transit; mass rapid transit; kota kompak; transportasi umu
MODEL PEMILIHAN BANDARA ANTARA ADISUTJIPTO DAN YOGYAKARTA INTERNASIONAL AIRPORT BERDASARKAN DATA STATED PREFERENCE
The Special Region of Yogyakarta is served by two airports: Adisutjipto (JOG) and Yogyakarta International Airport (YIA). For flights to Jakarta, air travellers can depart from both airports. This study presents a model of airport choice behaviour by air travellers in the Yogyakarta multi-airport region in order to analyze the factors that influence airport choice and to find out the probability of airport choice. Using a stated preference method, a face-to-face survey was conducted on 420 respondents who had made on the Yogyakarta-Jakarta route air trip within the past year. The SP survey uses a binary choice set, with 24 scenarios. In each scenario, the respondents are faced with a choice between the Adisutjipto (JOG)–Halim Perdanakusuma (HLP) and Yogyakarta International Airport (YIA)–Soekarno Hatta (CGK) flight routes. The variables tested are airfares, flight frequency, access time, egress time, access cost, egress cost, modes of access with rail services, check-in queue time, baggage claim time, and inertia. By using the binomial logit model, the results show that airfare, flight frequency, access time, egress costs, and inertia variables affect the airport choice behaviour. The inertia variable is only used in the utility function of Adisutjipto Airport (JOG). Scenarios 1 give almost the equal probability values, with a YIA probability of 48.9% and a JOG of 51.1%.
ABSTRAK
Daerah Istimewa Yogyakarta dilayani oleh dua bandara, yaitu Adisutjipto (JOG) dan Yogyakarta International Airport (YIA). Pelaku perjalanan dapat berangkat dari kedua bandara tersebut untuk menuju Jakarta. Penelitian ini menyajikan pemodelan perilaku pemilihan bandara oleh pelaku perjalanan udara di wilayah multi bandara Yogyakarta untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan bandara dan mengetahui probabilitas pemilihan bandara. Dengan metode stated preference, survei tatap muka dilakukan terhadap 420 responden yang telah melakukan perjalanan udara rute Yogyakarta–Jakarta dalam satu tahun terakhir. Survei SP menggunakan pilihan biner dengan 24 skenario. Dalam setiap skenario, responden dihadapkan pada pilihan antara rute penerbangan melalui Adisutjipto (JOG)–Halim Perdanakusuma (HLP) dan Yogyakarta International Airport (YIA)–Soekarno Hatta (CGK). Variabel yang diuji adalah tarif penerbangan, frekuensi penerbangan, waktu akses, waktu egress, biaya akses, biaya egress, moda akses dengan layanan kereta api, waktu antrian check-in, waktu pengambilan bagasi dan inersia. Dengan menggunakan model binomial logit, hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel tarif penerbangan, frekuensi penerbangan, waktu akses, biaya egress dan inersia mempengaruhi perilaku pemilihan bandara. Variabel inersia hanya digunakan pada fungsi utilitas Adisutjipto (JOG). Probabilitas yang memiliki nilai hampir seimbang terdapat pada skenario 1 dengan probabilitas YIA sebesar 48,9% dan JOG sebesar 51,1%
KINERJA ANGKUTAN UMUM PENUMPANG PERKOTAAN DI KOTA KENDARI
The improvement of community mobility is closely tied to the availability of adequate public transportation, one of which is city transportation. City transportation is one of the most effective modes for urban transportation. This needs to be complemented by an enhancement in the quality of service provided by city transportation fleets. This research aims to assess the operational performance of public transportation routes in Kendari City. The research methodology employs both dynamic (in-vehicle) surveys and static (road section) surveys. The parameters used to analyze operational performance and measure the route\u27s requirements include frequency, load factor, time headway, travel time, passenger count, availability, and circulation time. A weighting system is applied using five criteria: Very Good (5), Good (4), Average (3), Poor (2), and Very Poor (1). The results of the research indicate that the city transportation route R.01/R.02 falls under the Good category, while the other six routes are categorized as Average. Parameters such as Frequency, Time Headway, and the Number of Operational Vehicles for all routes are in the Very Good criteria. However, the Load Factor parameter falls within the Average to Poor criteria.This evaluation serves as valuable input for stakeholders to improve and provide better public transportation services.
ABSTRAK
Peningkatan mobilitas masyarakat tidak lepas dari ketersediaan angkutan publik yang memadai, salah satunya adalah angkutan kota. Angkutan kota merupakan moda yang paling efektif untuk transportasi perkotaan. Untuk itu harus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan armada angkutan kota tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kinerja operasional trayek angkutan umum di Kota Kendari. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dinamis (dalam kendaraan) dan survei statis (ruas jalan). Parameter – parameter yang digunakan untuk menganalisis kinerja operasi dan mengukur kebutuhan trayek ini adalah frekuensi, faktor muat, time headway, waktu perjalanan, jumlah penumpang, ketersediaan, dan waktu sirkulasi. Pembobotan dilakukan melalui 5 kriteria yaitu Sangat Baik (5), Baik (4), Cukup (3), Buruk (2) dan Sangat Buruk (1). Hasil dari penelitian memperlihatkan bahwa angkutan kota dengan trayek R.01/R.02 pada kategori Baik, dan 6 trayek lainnya pada kategori Cukup. Adapun parameter Frekuensi, Time Headway dan Jumlah Kendaraan Operasional pada seluruh trayek berada pada kriteria Sangat Baik. Sedangkan parameter Faktor Muat pada kriteria Cukup hingga Buruk. Evaluasi ini dapat menjadi masukan bagi para pemangku kepentingan dalam menyediakan angkutan publik yang lebih baik
PENERAPAN PRINSIP CONNECTIVITY PADA KAWASAN TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT ISTORA- SENAYAN
The Istora-Senayan Transit-Oriented Development (TOD) area is a strategically located gateway for tourists and foreign investors coming to Jakarta. It is near the Gelora Bung Karno (GBK) complex, a venue for international sporting events, and the Sudirman Central Business District (SCBD), the business hub of Jakarta. This area holds great potential due to its connectivity. This research aims to evaluate the implementation of connectivity principles in the Istora-Senayan Area. The research method utilized a qualitative approach with spatial analysis and descriptive analysis. The findings indicate that 74.4% of the Istora-Senayan area meets the requirements for access to public transportation, as it is within a maximum walking distance of 800 meters. However, accessibility for people with disabilities is not fully integrated, especially in the SCBD area, where high visitor density poses challenges due to guiding blocks on pedestrian ways managed by SCBD. The proposed solution is to integrate guiding blocks throughout the Istora-Senayan Area to facilitate people with disabilities in using pedestrian ways.
ABSTRAK
Kawasan TOD Istora-Senayan merupakan lokasi strategis yang merupakan pintu gerbang bagi wisatawan dan investor asing datang ke Jakarta karena berdekatan dengan kompleks Gelora Bung Karno (GBK) yang menjadi lokasi perhelatan olahraga internasional serta Sudirman Central Business District (SCBD) yang menjadi pusat bisnis di DKI Jakarta yang memiliki potensi pada konektivitasnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan prinsip connectivity pada Kawasan Istora-Senayan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis spasial dan analisis deskriptif. Hasil penelitian memperlihatkan sebesar 74,4% di kawasan Istora-Senayan sudah memenuhi persyaratan akses menuju transportasi umum karena memiliki jarak tempuh berjalan kaki maksimal 800 meter, sedangkan akses untuk penyandang disabilitas masih belum terintegrasi keseluruhan oleh guiding block yang berada pada pedestrian ways, khususnya pada kawasan SCBD dengan kepadatan pengunjung tinggi karena pedestrian ways yang dikelola oleh pihak SCBD. Usulan solusi pemecahan permasalahan adalah mengintegrasikan guiding block keseluruh Kawasan Istora-Senayan agar mempermudah penyandang disabilitas dalam menggunakan pedestrian ways
PERANCANGAN ULANG KONSTRUKSI JALAN MENGGUNAKAN SISTEM PELAT TERPAKU SEBAGAI PERKERASAN PADA JALAN POROS SAMARINDA-BONTANG
Abstract
Section SP.3 Lempake–SP.3 Sambera is the section with the highest traffic volume on Jalan Poros Samarinda–Bontang, resulting in a lot of pavement damage. The damage to the road segment was caused by several factors, namely heavy vehicles, poor soil characteristics, non-functioning drainage, and the road section is located in the lowlands. The purpose of this research is to design a nailed slab system as a pavement to be used as an alternative to road pavement. The design was carried out using the AASHTO method and the Beam on Elastic Foundation method, with the load P at the center and at 0.30 m from the edge of the plate. The equivalent modulus reaction obtained for the AASHTO method was 48,515.785 kN/m³ and the resulting pavement slab thickness was 32.26 cm. While the Beam on Elastic Foundation method uses an equivalent modulus reaction value of 127,715.785 kN/m³ and the resulting pavement slab thickness is 20 cm. However, nailed slab system pavements are more expensive, because the total cost to be incurred is IDR 549,846,268,988, which is much higher than the total cost for conventional pavements, which is IDR 292,549,365,858.
Keywords: road pavement; rigid pavement; nailed slab system; conventional pavement.
Abstrak
Ruas SP.3 Lempake–SP.3 Sambera merupakan ruas dengan volume lalu lintas tertinggi di Jalan Poros Samarinda–Bontang, sehingga mengalami banyak kerusakan. Kerusakan pada ruas jalan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu kendaraan berat, karakteristik tanah yang kurang baik, drainase tidak berfungsi, dan ruas jalan terletak di dataran rendah. Tujuan penelitian ini adalah merancang sistem pelat terpaku sebagai perkerasan untuk dijadikan alternatif perkerasan jalan. Perancangan dilakukan dengan metode AASHTO dan metode Beam on Elastic Foundation, dengan beban P di pusat dan di 0,30 m dari tepi pelat. Nilai modulus reaksi ekivalen yang diperoleh untuk metode AASHTO adalah 48.515,785 kN/m³ dan tebal pelat perkerasan yang dihasilkan adalah 32,26 cm. Sedangkan metode Beam on Elastic Foundation menggunakan nilai modulus eaksi ekivalen 127.715,785 kN/m³ dan tebal pelat perkerasan yang dihasilkan adalah 20 cm. Akan tetapi, perkerasan sistem pelat terpaku lebih mahal, karena total biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp549.846.268.988, yang mana nilai ini jauh lebih besar daripada total biaya untuk perkerasan konvensional, yaitu Rp292.549.365.858.
Kata-kata kunci: perkerasan jalan; perkerasan kaku; sistem pelat terpaku; perkerasan konvensional
PENGEMBANGAN FASILITAS STASIUN KALISAT BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN MINIMUM DAN METODE IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS
The closure of numerous small stations in the Jember Regency is primarily due to the dissatisfaction of service users with the performance and service quality of these stations. The government\u27s long-term efforts to develop railways allow some of these small stations to undergo further development, including Kalisat Station. Therefore, evaluating Kalisat Station\u27s performance is essential to prevent its closure. The methodology used is the Importance Performance Analysis (IPA) method, which allows for assessing aspects that do not meet user perceptions. In reviewing the performance and services of Kalisat Station, it adheres to Ministerial Regulation Number 63 of 2019. Based on the review of facility conditions and services at Kalisat Station with the Minimum Service Standards at the Station, it is evident that several aspects still do not comply with regulations. Furthermore, the IPA analysis of the data reveals that service users consider many service and facility aspects essential but are not in line with their perceptions or fall into Quadrant I (Top Priority) in the existing conditions. Meanwhile, the analysis shows that the service performance percentage of Kalisat Station is 54%. Therefore, efforts should be made to improve the service and facility aspects accordingly.
ABSTRAK
Banyaknya stasiun kecil di Kabupaten Jember yang menghentikan operasinya, karena kurangnya kepuasan pengguna jasa terhadap kinerja dan pelayanan stasiun yang ada. Upaya pemerintah untuk mengembangkan perkeretaapian dalam jangka panjang, memberikan kesempatan bagi beberapa stasiun kecil untuk dikembangkan lebih lanjut, salah satunya adalah Stasiun Kalisat. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap kinerja Stasiun Kalisat untuk mencegah terjadinya penghentian tersebut. Metode yang digunakan adalah metode Importance Performance Analysis (IPA) agar dapat ditinjau aspek-aspek yang belum memenuhi persepsi pengguna. Dalam peninjauan kinerja dan pelayanan Stasiun Kalisat ini mengacu pada Peraturan Menteri Nomor 63 Tahun 2019. Berdasarkan hasil tinjauan kondisi fasilitas dan pelayanan Stasiun Kalisat dengan Standar Pelayanan Minimum di Stasiun, terlihat bahwa masih ada beberapa aspek yang belum memenuhi peraturan. Selain itu, dari hasil analisis data menggunakan metode IPA memperlihatkan bahwa masih banyak aspek pelayanan dan fasilitas yang dianggap pengguna jasa penting namun pada kondisi eksisting belum sesuai dengan persepsi pengguna atau masuk pada kuadran I (Prioritas Utama). Sementara itu hasil analisis memperlihatkan persentase kinerja pelayanan dari Stasiun Kalisat adalah 54%, sehingga perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan aspek-aspek pelayanan dan fasilitas yang tersebut
ANALISIS WALKABILITY PADA KAWASAN STASIUN MANGGARAI MENUJU HALTE TRANSJAKARTA MANGGARAI
Walkability refers to the ease of walking in an area, considering factors like safety, comfort, and security due to the presence of interconnected pathways. In this study, an assessment of walkability was conducted from Manggarai Station to the Manggarai TransJakarta Bus Stop to evaluate the quality of the infrastructure for pedestrian. Data was collected through both on-site observations and the distribution of online through social meadia. Findings from the observations indicate that the walkability score for the path from Manggarai Station to the Manggarai TransJakarta Bus Stop is 68.5, categorizing as "waiting to walk/somewhat walkable." Several parameters received lower scores, including the availability of crosswalks, the presence of obstacles, security against crime, and facilities for individuals with disabilities. It\u27s worth noting that the walkability parameter scores decreased, especially in terms of obstacles and security from crime, after the 5th switch-over at Manggarai Station, which coincided with a change in the KRL route.
ABSTRAK
Walkability merujuk pada kemudahan berjalan kaki di suatu area, yang mempertimbangkan faktor keamanan, kenyamanan, dan keselamatan karena adanya jaringan akses yang terhubung. Dalam studi ini, dilakukan penilaian walkability dari Stasiun Manggarai menuju Halte TransJakarta Manggarai untuk mengevaluasi kualitas infrastruktur pejalan kaki, terutama ketika terjadi pergantian moda dari KRL ke TransJakarta atau sebaliknya. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan penyebaran kuesioner secara online. Temuan dari observasi menunjukkan bahwa skor walkability untuk jalur dari Stasiun Manggarai ke Halte TransJakarta Manggarai adalah 68,5, yang menandakan kawasan tersebut tergolong sebagai "waiting to walk/ somewhat walkable." Beberapa parameter mendapatkan skor rendah, termasuk ketersediaan penyeberangan, kehadiran hambatan, keamanan dari kejahatan, dan fasilitas untuk penyandang disabilitas. Perlu dicatat bahwa skor parameter walkability menurun, terutama dalam hal hambatan dan keamanan dari kejahatan, setelah terjadi pergantian moda ke-5 di Stasiun Manggarai yang berdampak pada perubahan rute KRL
SUROBOYO BUS SEBAGAI SISTEM TRANSPORTASI BERKELANJUTAN DI KOTA SURABAYA
Abstract
Public transportation is a necessity for people in urban areas to carry out their activities. Surabaya is the capital of East Java Province, with a population density of around 8,393 people per km² experiencing traffic jams every day, resulting in a new innovation by the Surabaya City Government, namely the Suroboyo Bus, which is a sustainable public transportation system and provides continuous service every day. This study aims to optimize the Suroboyo Bus service in supporting a sustainable transportation system in the City of Surabaya. The method used in this study is a qualitative research method and used a literature study. This study shows that the Suroboyo Bus service has succeeded in supporting a sustainable public transportation system in the City of Surabaya. The existence of the Suroboyo Bus public transportation service, which is an effort by the Surabaya City Government to provide an alternative to overcome existing transportation problems, is also used to educate residents in reducing the problem of plastic waste in the City of Surabaya.
Keywords: public transportation; traffic congestion; bus service; sustainable transportation
Abstrak
Transportasi umum merupakan suatu kebutuhan masyarakat di daerah perkotaan untuk menjalankan aktivitasnya. Surabaya adalah ibukota Provinsi Jawa Timur, dengan kepadatan penduduk sekitar 8.393 jiwa per km² mengalami kemacetan lalu lintas setiap hari, sehingga muncul inovasi baru Pemerintah Kota Surabaya, yaitu Suroboyo Bus, yang merupakan suatu sistem transportasi umum yang berkelanjutan dan memberikan layanan secara terus-menerus setiap hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan Suroboyo Bus dalam menunjang sistem transportasi berkelanjutan di Kota Surabaya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif dan menggunakan studi kepustakaan Penelitian ini menunjukkan bahwa layanan Suroboyo Bus berhasil menunjang sistem transportasi umum berkelanjutan di Kota Surabaya. Keberadaan layanan transportasi umum Suroboyo Bus, yang merupakan suatu upaya Pemerintah Kota Surabaya untuk memberikan suatu alternatif untuk mengatasi permasalahan transportasi yang ada, juga digunakan untuk mengedukasi warga dalam mengurangi permasalahan sampah plastik di Kota Surabaya.
Kata-kata kunci: transportasi umum; kemacetan lalu lintas; layanan bus; transportasi berkelanjuta