Jurnal Transportasi
Not a member yet
512 research outputs found
Sort by
KONSEP PENERAPAN AREA TRAFFIC CONTROL SYSTEM (ATCS) UNTUK KABUPATEN KUBU RAYA
Developments in urban planning and infrastructure development are still ongoing and being improved, which makes it challenging to handle transportation problems optimally. The transportation problem currently being faced is traffic jams. This study proposes implementing an Area Traffic Control System (ATCS) to overcome transportation problems at signalized intersections in Kubu Raya Regency. ATCS was implemented at Simpang 4 Major Alianyang-Adi Sucipto and Simpang 4 Major Alianyang-Raya Kapur Village. The method used to analyze intersection performance is MKJI 1997. The survey was carried out at peak hours on Wednesday and Saturday. Based on the results of the analysis using PTV VISSIM Software after implementing ATCS at the Major Alianyang-Adi Sucipto Intersection 4, it had a delay of 11,80 seconds with LOS B, and the Major Alianyang-Raya Intersection, Kapur Village, had a delay of 127,35 seconds with LOS F.
ABSTRAK
Perkembangan dalam pembangunan tata kota maupun infrastruktur masih terus berlangsung dan ditingkatkan, hal ini menyebabkan penanganan permasalahan transportasi sulit berjalan optimal. Permasalahan transportasi yang sedang dihadapi adalah kemacetan lalu lintas. Tujuan dari studi ini adalah memberikan konsep penerapan Area Traffic Control System (ATCS) untuk mengatasi permasalahan transportasi pada simpang bersinyal di Kabupaten Kubu Raya. Konsep penerapan ATCS dilakukan pada Simpang 4 Major Alianyang–Adi Sucipto dan Simpang 4 Major Alianyang–Raya Desa Kapur. Metode yang digunakan untuk menganalisis kinerja simpang adalah MKJI 1997. Survei dilakukan pada jam puncak hari Rabu dan Sabtu. Berdasarkan hasil analisis menggunakan Software PTV VISSIM setelah penerapan ATCS pada Simpang 4 Major Alianyang–Adi Sucipto memiliki tundaan 11,80 detik dengan LOS B dan Simpang 4 Major Alianyang–Raya Desa Kapur memiliki tundaan 127,35 detik dengan LOS F
PENGARUH FAKTOR GEOGRAFIS TERHADAP POLA PERJALANAN KOMUTING MAHASISWA DI KECAMATAN RASAU JAYA
Abstract
The unavailability of tertiary institutions, both public and private, in Rasau Jaya District, Kubu Raya Regency, West Kalimantan Province, has caused students to travel from Rasau Jaya District to Pontianak City and vice versa. This study aims to determine the factors of geographical location and accessibility, which influence the travel patterns of students living in the District of Rasau Jaya to commute. The method used is descriptive quantitative method, with 69 respondents. Data, obtained through questionnaires, were analyzed using descriptive methods. This study shows that location and accessibility factors affect the travel patterns of commuter students in the District of Rasau Jaya. The farthest distance taken by students to travel from their place of residence to the location of the college is 44 km with an estimated travel time of (30-120) minutes, and the mode of transportation used is a motorcycle. The majority of these motorcycle-using students spend more than IDR 15,000 per day to buy fuel for their vehicles.
Keywords: commuting trip; geographic factor; location factor; accessibility factor; travel pattern
Abstrak
Belum tersedianya perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, di Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat, menyebabkan terjadinya perjalanan komuting mahasiswa dari Kecamatan Rasau Jaya menuju ke Kota Pontianak dan sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor geografis lokasi dan aksesibilitas, yang memengaruhi pola perjalanan mahasiswa yang tinggal di Kecamatan Rasau Jaya melakukan perjalanan komuting. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif, dengan responden sebanyak 69 orang. Data yang diperoleh melalui kuesioner, dianalisis dengan metode deskriptif. Studi ini menunjukkan bahwa faktor-faktor lokasi dan aksesibilitas memengaruhi pola perjalanan mahasiswa komuter di Kecamatan Rasau Jaya. Jarak terjauh yang dilakukan oleh mahasiswa untuk melakukan perjalanan dari tempat tinggal menuju ke lokasi perguruan tinggi adalah 44 km dengan estimasi waktu perjalanan (30-120) menit, dan moda kendaraan yang digunakan adalah sepeda motor. Mayoritas mahasiswa pengguna sepeda motor ini mengeluarkan uang lebih dari Rp15 ribu per hari untuk membeli bahan bakar untuk kendaraannya.
Kata-kata kunci: perjalanan komuting; faktor geografis; faktor lokasi; faktor aksesibilitas; pola perjalana
DAMPAK PENYESUAIAN LAJUR KHUSUS KENDARAAN BERAT TERHADAP KINERJA LALU LINTAS
Traffic performance on the Narogong highway has problems with the desired speed of the highway, as a result of the large number of heavy vehicles that pass through the Narogong Highway, this study was conducted to see that moving heavy vehicles to the left lane can have a positive impact on road traffic performance. observed. Data processing uses microscopic simulations to get the desired road simulation, from this simulation calibration and validation are carried out first to get the existing simulation conditions similar to the observed conditions of the road section being reviewed. From the results of the existing conditions that have been validated, a simulation of the design road model is carried out to see if there are changes that affect the design made by the author. Based on the simulation results, it was found that moving heavy vehicles to the left lane had an impact on increasing the speed of other vehicles such as motorcycles and cars significantly. Therefore, it is necessary to add new policies about heavy vehicle.
ABSTRAK
Kinerja lalu lintas di jalan raya Narogong memiliki permasalahan dengan kecepatan yang diinginkan dari jalan raya tersebut, akibat dari banyaknya kendaraan berat yang melewati ruas jalan raya Narogong, Penelitian ini dilakukan untuk melihat pemindahan kendaraan berat ke lajur kiri dapat berdampak positif pada kinerja lalu lintas ruas jalan yang diamati. Pengolahan data menggunakan simulasi mikroskopis untuk mendapatkan simulasi jalan yang diinginkan, dari simulasi ini dilakukan kalibrasi dan validasi terlebih dahulu untuk mendapatkan kondisi simulasi eksisting yang mirip dengan kondisi observasi ruas jalan yang ditinjau. Dari hasil kondisi eksisting yang sudah divalidasi, dilakukan simulasi model jalan desain untuk melihat apakah ada perubahan yang berpengaruh dari desain yang dilakukan oleh penulis. Berdasarkan hasil simulasi ditemukan bahwa pemindahan kendaraan berat ke lajur sebelah kiri berdampak pada peningkatan kecepatan kendaraan lain seperti motor dan mobil secara signifikan, sehingga diperlukannya kebijakan yang baru untuk kendaraan berat
PENERAPAN TRANSIT-ORIENTED DEVELOPMENT KOTA SURABAYA MENUJU GREEN DAN SUSTAINABLE CITY
Sustainable urban development requires serious attention to the relationship between urban transportation and green open spaces. The concept of Transit Oriented Development (TOD) has emerged as a practical approach to integrating these aspects. Surabaya faces challenges in addressing transportation issues while maintaining the sustainability of green open spaces. This research uses the TOD concept to study the relationship between urban transportation and green open spaces in Surabaya. A qualitative research approach is employed, supported by available secondary data. The research analysis results indicate that the TOD concept can enhance the relationship between urban transportation and green open spaces. Reducing the use of private vehicles can help mitigate adverse environmental impacts and improve access to green open spaces through better integrating public transport with the local environment. Critical elements in ensuring the sustainability of green open spaces include community involvement. Stakeholder involvement is crucial in designing and implementing the TOD concept to achieve the goals of sustainable urban development in Surabaya.
ABSTRAK
Pembangunan kota berkelanjutan memerlukan perhatian serius terhadap hubungan antara transportasi perkotaan dan ruang terbuka hijau. Konsep Transit-Oriented Development (TOD) telah muncul sebagai pendekatan yang efektif untuk mengintegrasikan hal tersebut. Kota Surabaya menghadapi tantangan dalam mengatasi masalah transportasi dan menjaga keberlanjutan ruang terbuka hijau. Penelitian ini dilakukan untuk melakukan kajian dengan menggunakan konsep TOD, hubungan antara transportasi perkotaan dan ruang terbuka hijau di Surabaya. Penelitian kualitatif dilakukan dengan ditunjang oleh data sekunder yang tersedia. Hasil analisis penelitian memperlihatkan bahwa gagasan TOD dapat meningkatkan hubungan antara transportasi perkotaan dan kawasan terbuka hijau. Pengurangan penggunaan kendaraan pribadi dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan meningkatkan aksesibilitas ke ruang terbuka hijau, melalui integrasi angkutan umum yang lebih baik dengan lingkungan setempat. Elemen kunci dalam memastikan kelangsungan kawasan terbuka hijau adalah keterlibatan masyarakat. Dalam upaya pemenuhan tujuan pembangunan kota berkelanjutan di Surabaya, dibutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam perancangan dan implementasi konsep TOD
PENENTUAN POTENSI LOKASI SIMPUL-SIMPUL TRANSPORTASI DI KOTA BARU PATIMBAN
Abstract
The Rebana Metropolitan Area is planned as a connectivity and logistics center, with one of the agendas is the development of the Patimban New City, as a Port and Industrial City. The purpose of this study was to determine the potential locations for the construction and development of transportation nodes, namely stations, terminals, and Bus Rapid Transit Stops in Kota Baru Patimban. This study used a spatial analysis method, namely Space Syntax analysis, to obtain the values of connectivity and integrity of road sections, which are then elaborated with Analytical Hierarchy Process analysis. In the final stage, the results of the two analyzes are processed in the Fishnet Grid analysis. This study shows that, in general, the potential locations for transportation nodes are beside arterial or main roads, around activity centers and Patimban Port, and between two or more different land-uses.
Keywords: connectivity; new city; transportation node; spatial analysis; land use
Abstrak
Kawasan Metropolitan Rebana direncanakan sebagai pusat konektivitas dan logistik, dengan salah satu agendanya adalah mengembangkan Kota Baru Patimban, sebagai Kota Pelabuhan dan Industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan lokasi potensial pembangunan dan pengembangan simpul-simpul transportasi, yaitu stasiun, terminal, dan Halte Bus Rapid Transit di Kota Baru Patimban. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial, yaitu analisis Space Syntax, untuk memperoleh nilai-nilai konektivitas dan integritas ruas-ruas jalan, yang kemudian dielaborasi dengan analisis Analytical Hierarchy Process. Pada tahap akhir, hasil kedua analisis tersebut diolah dalam analisis Fishnet Grid. Studi ini menunjukkan bahwa secara umum potensi lokasi simpul transportasi berada di samping jalan arteri atau jalan utama, di sekitar pusat kegiatan dan Pelabuhan Patimban, dan di antara dua atau lebih penggunaan lahan yang berbeda.
Kata-kata kunci: konektivitas; kota baru; simpul transportasi; analisis spasial; penggunaan laha
RANCANG BANGUN WHEELCHAIR LIFT ALAT BANTU PENYANDANG DISABILITAS MENGGUNAKAN SISTEM PNEUMATIK
Public service is an activity conducted to fulfill service needs in accordance with applicable regulations. Public services are intended for every user of the available service. The enhancement of public services is directed towards individuals with disabilities. A wheelchair lift is an assistive device used to facilitate individuals with disabilities who use wheelchairs to board and disembark from trains at low or moderate platforms. This device operates by lifting wheelchair users with disabilities without requiring manual assistance from human personnel. The design and construction of this device are developed by considering both mechanical and electrical aspects, ensuring it can be operated easily, reliably, efficiently, and capable of lifting a load of up to 117 kg. The utilization of this device can help reduce the risk of injuries for wheelchair-using individuals with disabilities when boarding and disembarking from trains.
ABSTRAK
Pelayanan publik merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pelayanan publik diperuntukan bagi setiap pengguna jasa pelayanan yang ada. Peningkatan pelayanan publik ditujukan untuk penyandang disabilitas. Wheelchair lift merupakan suatu alat bantu yang digunakan untuk memudahkan penyandang disabilitas pengguna kursi roda untuk naik turun kereta pada peron rendah maupun sedang. Alat ini bekerja dengan mengangkat penyandang disabilitas pengguna kursi roda tanpa harus diangkat manual oleh tenaga manusia. Rancang bangun alat ini dibuat dengan mempertimbangkan desain secara mekanikal maupun elektrikal sehingga dapat dioperasikan secara mudah, handal dan efisien serta mampu mengangkat beban 117 kg. Penggunaan alat ini dapat membantu mengurangi risiko cidera bagi penyandang disabilitas pengguna kursi roda pada saat naik turun kereta
RANCANGAN ALAT PEMBATASAN PENGGUNAAN HANDPHONE PADA PENGEMUDI BUS BERBASIS INTERNET OF THINGS
The phenomenon of bus drivers still using mobile phones while driving is still prevalent today. This happens because bus drivers have the opportunity to reach for their mobile phones while driving, making it necessary to restrict the use of mobile phones by bus drivers. This research aims to develop an Internet of Things (IoT)-based device that can monitor the use of mobile phones by bus drivers while driving. Using the Research and Development method, this study resulted in a design for a device that restricts the use of mobile phones by bus drivers. This device detects the installation of a mobile phone, ownership of the mobile phone, and the vehicle\u27s speed. Through the data input and data processing in the device\u27s design, it produces warnings in the form of text and sound, as well as violation reports sent to the bus company supervisor. This helps the bus company in monitoring bus drivers. This device\u27s design can serve as a reference for the development of a device that can be implemented in buses to restrict the use of mobile phones while driving.
ABSTRAK
Fenomena pengemudi bus mengemudi sambil mengoperasikan handphone masih dijumpai hingga saat ini. Hal tersebut terjadi karena pengemudi bus memiliki kesempatan untuk menjangkau handphone pada saat mengemudi, sehingga diperlukan upaya pembatasan kesempatan penggunaan handphone pada pengemudi bus. Penyusunan karya ilmiah ini menggunakan metode penelitian Research & Development (R&D). Penelitian ini menghasilkan sebuah rancangan alat pembatasan penggunaan handphone pada pengemudi bus berbasis Internet of Things (IoT). Alat ini mendeteksi pemasangan handphone, kepemilikan handphone, dan kecepatan kendaraan. Output yang dihasilkan yaitu berupa peringatan dalam bentuk tulisan dan suara serta laporan pelanggaran yang dikirimkan kepada pengawas perusahaan otobus. Rancangan alat ini bertujuan untuk meminimalisir kesempatan pengemudi untuk dapat menjangkau handphone pada saat mengemudi. Selain itu, alat ini juga dapat membantu perusahaan otobus dalam melakukan pengawasan terhadap pengemudi bus
ANALISIS LOKASI RAWAN KECELAKAAN REM BLONG
Repeated brake failure accidents occur on the Buntu-Banyumas Road section, which features a 1 km downhill geometric condition. The braking force required increases with a vehicle\u27s weight, speed, and elevation. This research aims to identify the causes of brake failure accidents related to the long downhill geometric condition of the road. The methods include fault tree analysis, road accident mapping, and safe speed calculation. The data used have road geometric data, vehicle speed, and vehicle weight. The research findings indicate that brake failure accidents on the Buntu-Banyumas Road section are caused by driver behavior, repeatedly applying brakes on a road with a slope exceeding the critical maximum gradient, leading to overheating and brake failure. Road authorities must maintain guardrails, install speed limit signs, and implement emergency escape ramps.
ABSTRAK
Kecelakaan rem blong terjadi secara berulang pada ruas Jalan Buntu-Banyumas yang memiliki kondisi geometrik berupa turunan sepanjang 1 km. Semakin berat suatu kendaraan, semakin tinggi kecepatan kendaraan dan semakin tinggi posisi kendaraan maka semakin besar daya pengereman yang dibutuhkan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui penyebab kecelakaan rem blong terkait dengan kondisi geometrik jalan berupa turunan panjang. Metode yang digunakan berupa Fault Tree Analysis, Road Accident Mapping dan perhitungan kecepatan aman. Data yang digunakan berupa data geometrik jalan, kecepatan kendaraan, dan berat kendaraan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penyebab kecelakaan rem blong pada ruas Jalan Raya Buntu-Banyumas disebabkan karena perilaku pengemudi yang melakukan pengereman secara berulang pada kondisi jalan yang menurun melebihi batas maksimal kelandaian kritis sehingga menimbulkan overheat dan rem blong. Penanggung jawab jalan perlu memelihara guardrail, pemasangan rambu batas kecepatan dan emergency escape ramp
PENGARUH SUBSTITUSI BAHAN PENGISI NANO HYDRATED LIME TERHADAP PERANCANGAN CAMPURAN ASPHALT CONCRETE-WEARING COARSE
Abstract
Asphalt Concrete-Wearing Coarse (AC-WC) is the top layer of a flexible pavement structure. As a road surface layer, the AC-WC coating is very susceptible to moisture damage due to weather influences. Therefore, the use of hydrated lime has been widely studied to improve the performance of asphalt pavements. In this study, the use of hydrated lime, with a finer size or nano scale, is used as a substitute for filler in the AC-WC mixture, with the aim of evaluating the use of nano hydrated lime as a substitute for filler in the AC-WC mixture. This study shows that the use of nano hydrated lime filler substitution in the AC-WC mixture increases the optimum asphalt content value of the mixture along with the addition of nano hydrated lime.
Keywords: flexible pavement; nano-hydrated lime; quenched lime; fillers; asphalt pavement
Abstrak
Asphalt Concrete-Wearing Coarse (AC-WC) merupakan lapisan paling atas dari struktur perkerasan lentur. Sebagai lapis permukaan jalan, lapisan AC-WC sangat rentan terhadap kerusakan akibat kelembaban karena pengaruh cuaca. Oleh karena itu, pemanfaatan kapur padam (hydrated lime) telah banyak diteliti untuk meningkatkan performa perkerasan beraspal. Pada penelitian ini pemanfaatan hydrated lime, dengan ukuran yang lebih halus atau dengan skala nano, dimanfaatkan sebagai subtitusi bahan pengisi pada campuran AC-WC, dengan tujuan untuk mengevaluasi penggunaan nano hydrated lime sebagai subtitusi bahan pengisi pada campuran AC-WC. Studi ini menunjukkan bahwa penggunanaan subtitusi bahan pengisi nano hydrated lime pada campuran AC-WC meningkatkan nilai kadar aspal optimum campuran seiring dengan penambahan nano hydrated lime.
Kata-kata kunci: perkerasan lentur; nano hydrated lime; kapur padam; bahan pengisi; perkerasan beraspa
ANALISIS PENGGUNAAN MODA TRANSPORTASI BAGI PEKERJA KOMUTER (STUDI KASUS KECAMATAN GUNUNG PUTRI)
The Gunung Putri District serves as a connecting route between Cileungsi and Cibinong, the administrative center of Bogor Regency. Due to its easy access and relatively affordable housing costs, the majority of the population are commuter workers. However, the availability of adequate public transportation still does not fully support the mobility of the population. This research aims to analyze the choice of transportation mode, characteristics of transportation users, travel characteristics, and facility characteristics for commuter workers in this area. The research method used is a survey through questionnaires distributed to the residents of Gunung Putri Regency. The analysis results show that transportation mode users are in the productive age range, with the majority using public transportation (53.3%). Based on the characteristics of movement, the majority of respondents work as employees (88%), departing between 05:01-06:00 AM, and returning after 06:01 PM. As for facility characteristics, many respondents make two transit stops to switch transportation modes due to the limited available public transportation routes.
ABSTRAK
Kecamatan Gunung Putri menjadi jalur penghubung antara Cileungsi dengan Cibinong yang merupakan pusat administrasi dari Kabupaten Bogor. Dengan kemudahan akses yang dimiliki dan biaya rumah yang tidak terlalu tinggi, maka mayoritas penduduk merupakan pekerja komuter. Namun kenyataannya, ketersediaan transportasi publik yang mumpuni masih belum sepenuhnya mendukung mobilitas penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis dari pemilihan moda, ciri pengguna transportasi, ciri perjalanan dan ciri fasilitas bagi pekerja komuter disini. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei melalui kuesioner pada penduduk Kabupaten Gunung Putri. Hasil analisis memperlihatkan bahwa pengguna moda transportasi berada pada rentang usia produktif, mayoritas menggunakan angkutan publik (53,3%). Sementara itu berdasarkan ciri pergerakan, mayoritas responden bekerja pada bidang sebagai pegawai sebanyak 88%, dengan waktu berangkat pukul 05:01-06:00 WIB dan waktu pulang setelah pukul 18:01 WIB. Sedangkan ciri fasilitas terlihat banyak responden yang melakukan melakukan 2 kali transit untuk berpindah moda transportasi karena terbatasnya trayek angkutan publik yang tersedia