Jurnal Transportasi
Not a member yet
512 research outputs found
Sort by
ANALISIS TINGKAT PELAYANAN FASILITAS PEJALAN KAKI
Abstrak Berjalan kaki merupakan kegiatan transportasi yang pertama kali dikenal manusia. Saat ini mobilitas manusia dilakukan dengan menggunakan berbagai macam alat transportasi yang semakin modern, sehingga aktifitas berjalan kaki hanya dilakukan untuk menempuh jarak pendek. Fenomena sekarang menunjukkan populasi pejalan kaki (pedestrian) semakin meningkat di kota-kota besar pada daerah pusat perekonomian/ perbelanjaan (Central Business Distric, CBD). Keberadaan pejalan kaki tersebut sebagai bagian dari sistem transportasi perlu diatur dan dibuat tolok ukur bagi perancangan fasilitas-fasilitasnya.Berbagai cara ditempuh untuk melayani kebutuhan pejalan kaki, terutama pembangunan sarana dan prasarana yang memadai. Pejalan kaki menuntut disediakannya jalur tersendiri sebagai prasarana utama, dengan berbagai fasilitas pendukungnya. Pengembangan fasilitas pejalan kaki perlu terus dilakukan sehingga mencapai kondisi yang diharapkan oleh pejalan kaki yaitu situasi yang aman, nyaman, lancar, dan ekonomis.Penelitian ini mencoba mengamati karakteristik pejalan kaki serta berusaha untuk mengetahui keandalan jalur pejalan kaki (trotoar) dalam melayani pemakainya. Penelitian dilakukan dengan metode US HCM 2000 dan dilakukan di Jl. A Yani, Yogyakarta.Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan nilai-nilai parameter karakteristik yaitu kecepatan, kerapatan, dan tingkat arus pejalan kaki dengan metode Greenshields serta nilai tingkat pelayanannya, maka didapatkan nilai kecepatan arus bebas 62,49 m/menit, kerapatan maksimum 3,22 pejalan kaki/m2, tingkat arus maksimum (kapasitas trotoar) 50 pejalan kaki/menit/m, dan tingkat pelayanan berkisar antara C dan D. Pengaruh pemakaian trotoar untuk aktifitas selain pejalan kaki (berdagang) berdampak pada pengurangan lebar jalur. Pada tempat-tempat tertentu, untuk berjalan kaki tinggal disisakan jalur dengan lebar tidak lebih dari 25 % dari lebar trotoar. Kondisi ini sangat merugikan pejalan kaki karena mengurangi keleluasaan dan mempengaruhi kelancaran pergerakan.Kata kunci : pejalan kaki, trotoar, tingkat pelayanan, tingkat arus, kecepatan, kerapata
PENGGUNAAN MODEL GRAVITY-OPPORTUNITY (GO) DALAM ESTIMASI MATRIKS ASAL-TUJUAN (MAT) MENGGUNAKAN DATA ARUS LALULINTAS
Abstrak Matriks Asal Tujuan merupakan input yang sangat penting pada hampir semua aplikasi perencanaan transportasi. Salah satu metodologi yang dikembangkan untuk mendapatkan MAT tersebut adalah dengan menggunakan data arus lalulintas atau sering disebut dengan metode tidak konvensional. Penggunaan metode tidak konvensional mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan metode konvensional dalam hal kemudahan memperoleh data, murah, cepat dan tidak mengganggu arus lalulintas. Meskipun demikian terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi akurasi MAT yang dihasilkan dari data arus lalulintas, diantaranya adalah pengaruh jenis model sebaran pergerakan (trip distribution) yang digunakan. Pada penelitian ini dikaji pengaruh penggunaan model Gravity-Opportunity (GO) terhadap tingkat keakurasian MAT yang dihasilkan dari informasi data arus lalulintas. Selanjutnya proses estimasi MAT dengan menggunakan data arus lalulintas tersebut akan dianalisis menggunakan data untuk wilayah Kota Bandung dan sekitarnya. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dengan penggunaan model GO diperoleh tingkat keakurasian yang cukup tinggi dalam proses estimasi MAT dengan menggunakan informasi data arus lalulintas. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan nilai optimum fungsi tujuan untuk masing-masing metode estimasi serta hasil pengujian statistika. Metode estimasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Kuadrat-Terkecil-Berbobot (KTB).Kata-kata kunci: pemodelan transportasi, matriks asal-tujuan, metode estimasi, distribusi perjalanan, pemilihan rut
MANFAAT STANDARISASI KINERJA ANGKUTAN PERKOTAAN
Abstract Low quality of service in urban public transport results in the people preference to use private vehicles over the public transportation. This study tries to evaluate some performance standards implemented in some cities in the world. Based on this study, the standardization of urban transport performance for Indonesian cities is needed so that public transport service in those cities can be provided at optimum level. The standardization of public transportation service should address the needs of passenger, operator, regulator, and other users. In addition, the standardization has to consider sustainable environment and law enforcement as well.Keywords: standardization, urban transportation, performanc
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TRANSPORTASI DI KOTA MAKASSAR
Abstract Thriving city sporadically in suburban areas will form a mega urban. The condition occurs due to the construction of housing clusters spread and done without following land use policy and the development progress across intercity or inter-district administrative area. The purpose of this study is to identify and analyze the development of mega cities of the transport infrastructure network in suburban areas and to analyze the integration of urban development and the concept of transport infrastructure networks development. The location of this study is the development area of the City of Makassar, which is in the east and in the south of the city. Data were obtained through direct observation of various land use and development of road networks and transportation nodes. These studies found that the City of Makassar extends horizontally to the south and east with many low intensity buildings spread sporadically and form a mega urban without following the hierarchy of road network and without public transport services. Also, the development of the City of Makassar has caused high people mobility toward service centers in the city. Keywords: mega urban, land use, transport, road network, mobility Abstrak Kota yang berkembang secara sporadis di wilayah suburban akan membentuk mega urban. Kondisi tersebut terjadi akibat pembangunan kluster perumahan yang menyebar dan dilakukan tanpa mengikuti kebijakan tata ruang, dan perkembangan pembangunan melintasi wilayah administratif antarkota atau antarkabupaten. Tujuan studi ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis perkembangan kota mega terhadap jaringan prasarana transportasi di wilayah suburban dan menganalisis keterpaduan pengembangan kota terhadap konsep pengembangan jaringan prasarana transportasi. Lokasi penelitian ini adalah wilayah perkembangan Kota Makassar, yaitu di wilayah timur dan di wilayah selatan kota. Data diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap berbagai guna lahan dan perkembangan jaringan jalan serta simpul-simpul transportasi. Hasil studi ini menunjukkan bahwa Kota Makassar meluas secara horizontal ke arah selatan dan timur dengan jumlah bangunan berintensitas rendah yang menyebar secara sporadis membentuk mega urban tanpa mengikuti hirarki jaringan jalan dan tanpa pelayanan angkutan umum. Selain itu perkembangan Kota Makassar yang ada menyebabkan terjadinya mobilitas penduduk yang tinggi menuju ke pusat-pusat pelayanan di kota. Kata-kata kunci: mega urban, tata ruang, transportasi, jaringan jalan, mobilita
PENGARUH PENUAAN TERHADAP KUAT GESER LANGSUNG CAMPURAN BERASPAL
Abstrak Penuaan campuran beraspal adalah pengerasan aspal akibat pemanasan atau oksidasi, sehingga aspal kehilangan sebagian komponen ringan (volatile) sehingga lebih getas, mudah retak, kurang awet. Namun demikian, penuaan juga meningkatkan kekakuan aspal. Proses penuaan dapat disimulasikan di laboratorium secara jangka pendek dan jangka panjang. Penuaan jangka pendek dimaksudkan untuk mensimulasikan pengerasan aspal selama fase konstruksi, sedangkan penuaan jangka panjang dimaksudkan untuk mensimulasikan proses oksidasi selama umur pelayanan jalan.Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh penuaan terhadap perubahan sifat geser campuran beraspal karena sifat geser cukup penting. Sifat ini penting karena jika kuat geser campuran beraspal lebih rendah dari tegangan geser akibat kendaraan maka terjadi deformasi permanen pada lapis permukaan. Pengujian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan dudukan Marshall yang dimodifikasi.Pengujian menunjukkan bahwa kuat geser (t) dan modulus geser (G) campuran beraspal yang tidak diberi perlakuan penuaan adalah 0,87 MPa dan 48,99 MPa, sedangkan kuat geser dan modulus geser campuran beraspal yang diberi perlakuan penuaan adalah 0,57 MPa dan 20,14 MPa. Uji statistik menggunakan uji t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan pada t dan Gmax diantara kedua populasi. Oleh karena itu, disimpulkan bahwa terdapat pengaruh perlakuan penuaan terhadap kuat geser dan modulus geser maksimum campuran beraspal.Kata-kata kunci: campuran beraspal, penuaan, geser langsung, kuat geser, modulus geser
STUDI RONGGA MENERUS DAN KINERJA PERMEABILITAS PERKERASAN ASPAL PORUS LAPIS GANDA
Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kadar rongga menerus dan kinerja aliran pada perkerasan aspal porus lapis ganda, agar diperoleh lapisan perkerasan dengan kapasitas drainase dapat berfungsi efektif selama masa layan. Pada penelitian ini dibuat 3 macam kombinasi benda uji yaitu: (i) A (10/14 mm), (ii) B (10/20 mm), dan (iii) C (14/20 mm) dengan ukuran 50 x 30 x 5 cm. Pengujian permeabilitas yang dilakukan adalah uji permeabilitas horizontal (kh), uji permeabilitas vertikal (kv) untuk mendapatkan koefisien permeabilitas ekivalen (ke). Di samping itu, dipelajari kinerja aliran permukaan (surface run off) dan aliran bawah permukaan (base flow). Peralatan yang dipergunakan adalah simulasi curah hujan (rainfall simulator) dengan intensitas curah hujan 600 mm/jam, dibuat tiga variasi kemiringan permukaan jalan yaitu 2%, 4%, dan 6%.Hasil penelitian menunjukan bahwa kadar rongga menerus dengan Metode Perancis lebih besar 6 1% dibandingkan dengan Metode Archimedes. Koefisien permeabilitas ekivalen aspal porus lapis ganda A (10/14) diperoleh ke = 0,264 cm/detik, B (10/20) diperoleh ke = 0,288 cm/detik, dan C (14/20) diperoleh ke = 0,401 cm/detik.Hasil pengujian simulasi curah hujan dengan intensitas hujan 600 mm/jam, diamati setiap interval sepuluh menit selama satu jam. Volume air yang terukur 15000 cm3/10 menit, terurai menjadi aliran permukaan (AP) dan aliran bawah permukaan (AB) serta vulume air sisa yang terserap di dalam aspal porus (AS). Volume aliran kombinasi (A) sebesar 15,897% (AP) dan 83,456% (AB), sisanya berupa air yang terserap sebesar 0,647% (AS).Untuk kombinasi (B) diperoleh sebesar 3,239% (AP), 96,138% (AB), dan 0,623% (AS). Sedangkan untuk kombinasi (C) diperoleh sebesar 0% (AP), 99,339% (AB), dan 0,661% (AS).Kombinasi yang paling efektif adalah C (14/20) memberikan kinerja permeabilitas paling baik dan tidak ada aliran permukaan untuk semua variasi kemiringan permukaan jalan.Kata-kata kunci: rongga menerus, permeabilitas, lapis gand
PENGARUH PEMILIHAN GRADASI TERHADAP FAKTOR PELAKSANAAN PEKERJAAN (WORKABILITY) CAMPURAN BERASPAL PORUS
Abstrak Mudah tidaknya pelaksanaan suatu pekerjaan pengaspalan di lapangan, seperti pencampuran, penghamparan, dan pemadatan sangat terkait dengan faktor pemilihan material, peralatan (equipment), dan kondisi alam setempat. Hasil akhir campuran aspal porus yang diinginkan, antara lain, adalah kemampuan alir air yang tinggi, stabilitas yang mencukupi, tahan terhadap disintegrasi, dan mudah dalam pelaksanaan pekerjaan. Dalam makalah ini akan diperlihatkan pengaruh pemilihan gradasi terhadap faktor pelaksanaan pekerjaan campuran beraspal porus. Faktor pelaksanaan pekerjaan ini biasanya di tentukan dari hasil uji pemadatan di laboratorium. Parameter yang digunakan adalah Workability Index (WI), yang dihitung berdasarkan hubungan antara nilai rongga (voids) dalam campuran dengan putaran alat gyropac. Nilai WI yang tinggi menandakan campuran lebih mudah dalam pelaksanaan. Bagaimanapun, hasil pengamatan terhadap kemampuan alir air (permeability) dan stabilitas campuran beraspal porus juga diperlihatkan. Semua pengujian dilakukan di laboratorium Material Jalan dan Transportasi, Universiti Sains Malaysia (USM), Penang. Ada tiga jenis gradasi yang diamati, yaitu gradasi-gradasi yang menggunakan variasi ukuran maksimum agregat kasar 20, 14, dan 10 mm. Seluruh campuran menggunakan jenis bahan pengikat semen aspal penetrasi 60/70. Campuran dipadatkan dengan alat pemadat gyropac buatan Australia. Besarnya beban sumbu yang digunakan adalah 240 kPa dengan jumlah dan sudut putaran masing-masing 300 putaran dan 2°. Hasil uji memperlihatkan bahwa rongga dalam campuran beraspal porus terus berkurang seiring dengan bertambahnya jumlah putaran. Dengan ekstrapolasi dapat ditentukan nilai rongga pada putaran nol untuk setiap jenis campuran yang digunakan, sehingga diperoleh nilai WI 2,5; 2,70; 2,78 yang masing-masing mewakili campuran beraspal porus yang terbuat dari agregat kasar dengan ukuran maksimum 20, 14, dan 10 mm. Terdapat peningkatan nilai WI bila menggunakan agregat yang yang lebih halus. Naiknya nilai WI campuran beraspal porus yang terbuat dari agregat kasar dengan ukuran maksimum 10 mm menandakan bahwa jenis ini lebih mudah dalam pelaksanaan, seperti proses pencampuran, penghamparan, dan pemadatan bila dibandingkan dengan jenis campuran beraspal porus lainnya. Hasil uji juga memperlihatkan adanya kenaikan nilai permeabilitas campuran beraspal porus bila menggunakan agregat yang lebih kasar, tetapi nilai stabilitas campuran akan menurun. Kata-kata kunci: campuran beraspal porus, permeability, stability, workability index
PENGARUH GRADASI AGREGAT TERHADAP KEDALAMAN ALUR RODA PADA CAMPURAN BETON ASPAL PANAS
Abstrak Beton aspal merupakan campuran aspal keras dan agregat yang mempunyai gradasi menerus (continuous graded), yang kemudian dihampar dan dipadatkan pada suhu tertentu. Nilai stabilitas beton aspal dicapai dengan adanya variasi ukuran butiran agregat yang saling mengunci (interlocking). Pada penelitian ini dicoba jenis bahan pengisi (filler) abu batu sebagai bahan tambahan dengan harapan diperoleh suatu campuran beton aspal yang lebih baik dan memenuhi persyaratan untuk perkerasan lapisan jalan. Metode yang digunakan dalam perencanaan campuran adalah metode Marshall, dengan mengikuti prosedur Direktorat Jenderal Bina Marga. Sebelum percobaan diperkirakan kadar aspal optimum, kemudian percobaan dilakukan untuk mencari kadar aspal optimum dengan memvariasikan kadar aspal dengan interval 0,5%, sehingga dihasilkan 2 titik di bawah dan 2 titik di atas kadar aspal optimum. Dengan menggunakan kadar aspal optimum yang diperoleh, dibuat benda-benda uji untuk pengujian Marshall standar dan pengujian Marshall immersion dengan durasi perendaman 24 jam, serta benda-benda uji untuk pengujian wheel tracking untuk mengetahui kecepatan deformasi dan stabilitas dinamis. Dari hasil pemeriksaan didapat bahwa campuran laston yang menggunakan agregat dengan gradasi di atas kurva Fuller mempunyai nilai stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan campuran laston yang menggunakan agregat dengan gradasi di bawah kurva Fuller. Kata-kata kunci: beton aspal, bahan pengisi abu batu, kurva Fuller, stabilitas Marshal
THE EFFECT OF MOTORIZATION TO THE DEVELOPMENT OF URBAN PUBLIC TRANSPORT
Abstract The aim of this study is to explore the effect of motorization to the development of urban public transportation in urban areas in Indonesian city in the last decade. The study employs many statistical data regarding motorization and urban public transport. It can be concluded that the motorization will continue to grow, and the existing transport policy should be re-questioned. It roots on the lack of acceptable provision of public transport in term of quality and quantity, but also as a result of high preference on using private transport. The challenge becomes excessive and complex, since there is no appropriate visionary road map for development of urban public transport. In answering this problem, the authors propose an abstract of two sequence approach, namely setting priority in taking side in provision of acceptable mobility for all, and followed with the redefinition of urban transport development by implementing transit-oriented development.Key words: motorization, urban public transport, development, sustainability