Jurnal Transportasi
Not a member yet
    512 research outputs found

    KONSEP PEMODELAN TRANSPORTASI UNTUK EVAKUASI BENCANA

    Get PDF
    Abstract The increase of incidence of natural disasters over the past two decades, spawned many ideas about disaster risk reduction impacts both in terms of social and engineering, including in the field of transport evacuation. The rules of scientific developments in the field of transport modeling evacuation typically rely on natural disasters as well as the movement of traffic during the evacuation process. Concept model of transportation for evacuation is divided in two parts, the first focusing on the performance of the road network and the second on the behavior of individual refugees. Based model of transportation refugee behavior has the advantage that individual refugee can be added capabilities and knowledge of the evacuation; only in this concept study is very limited area coverage. Then the concept of performance based transportation model has the advantage of the road network can capture the phenomenon of the movement of traffic as a result of the evacuation on a large scale, in which the main results of simulation in the form of evacuation time and the identification of network vulnerability, only this model require accuracy in data collection, analysis and calibration process. The application of the concept of performance-based model of the road network in the case of disaster evacuation in Indonesia is very applicable at the level set evacuation routes, where the system optimized and user optimized is part of the scenario modeling to optimize its performance. Keywords: model of transportation, disasters, evacuation, network, refugees  Abstrak Peningkatan kejadian bencana alam selama dua dasawarsa terakhir melahirkan banyak gagasan mengenai pengurangan dampak risiko kebencanaan baik dari sisi sosial maupun teknis, termasuk pada bidang transportasi evakuasi. Perkembangan kaidah keilmuan dalam bidang pemodelan transportasi evakuasi bergantung pada tipikal bencana alam serta pergerakan lalulintas saat proses evakuasi. Konsep model transportasi untuk evakuasi dibagi dua bagian, pertama fokus pada kinerja jaringan jalan dan kedua pada perilaku individu pengungsi. Model transportasi berbasis perilaku pengungsi memiliki keuntungan, yaitu individu pengungsi dapat ditambahkan kemampuan dan pengetahuan akan evakuasi, hanya pada konsep ini cakupan wilayah kajiannya sangat terbatas (mikro). Kemudian konsep model transportasi berbasis kinerja jaringan jalan memiliki keuntungan dapat menangkap fenomena pergerakan lalulintas akibat proses evakuasi dalam skala besar, di mana hasil utama simulasi berupa waktu evakuasi dan identifikasi jalur padat, hanya saja model ini memerlukan kecermatan dalam pengumpulan data, proses analisis, dan kalibrasinya. Adapun penerapan konsep model berbasis kinerja jaringan jalan untuk kasus evakuasi bencana di Indonesia sangat aplikatif pada tataran menetapkan rute evakuasi, di mana system optimized dan user optimized merupakan bagian dari skenario pemodelan untuk mengoptimalkan kinerjanya. Kata kunci: model transportasi, bencana, evakuasi, jaringan, pengungs

    EVALUASI PENGARUH BANJIR, BEBAN BERLEBIH, DAN MUTU KONSTRUKSI PADA KONDISI JALAN

    Get PDF
    Abstract The decrease of road serviceability is indicated by the increase in types and severity level of road damage. This could be contributed by several factors, such as flooding due to poor drainage system, excessive loads and low quality of construction. This study aims to evaluate the influence of flood, excessive loads and quality of road construction towards the road serviceability by reviewing flood-prone roads and roads that suffered excessive loads. The study was conducted at Jalan Raya Timur Kendal Km 25 + 600 – Km 27 + 800 in Central Java Province. Data were obtained through road condition survey and drainage condition observation at the time of flooded, post-flood and during 3-month maintenance works. Secondary data, such as SDI (Surface Distress Index) and IRI (International Roughness Index), traffic loads, and rainfall, were also collected to support the analysis. The results show that there is an empirical significant impact of the flooding exacerbated by excessive loads on the road damage. Strategic efforts and coordination of related ministries are required to address this problem. Keywords: flood, overloading, construction quality, road damage  Abstrak Penurunan kemampuan layan jalan terindikasi dari meningkatnya jenis dan tingkat keparahan kerusakan jalan. Banjir akibat saluran drainase yang buruk, beban berlebih, dan rendahnya mutu konstruksi ditengarai menjadi penyebab utama dari penurunan kemampuan layan jalan ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh faktor banjir, beban berlebih, dan mutu konstruksi pada konstruksi jalan dengan meninjau ruas jalan yang rawan tergenang banjir dan mengalami beban berlebih. Penelitian dilakukan pada ruas Jalan Raya Timur Kendal Km 25 + 600 – Km 27 + 800 di Provinsi Jawa Tengah. Data diperoleh melalui pengamatan kondisi jalan dan drainase selama jalan tergenang banjir, pascabanjir dan saat perbaikan selama 3 bulan, serta dilengkapi dengan data-data sekunder, seperti SDI (Surface Distress Index) dan IRI (International Roughness Index), beban lalulintas, curah hujan, dan lain-lain. Hasil penelitian menunjukkan adanya dampak signifikan banjir secara empiris terhadap kerusakan jalan yang diperparah dengan indikasi beban berlebih yang melalui ruas jalan tersebut. Untuk itu, diperlukan upaya strategis dan koordinasi kementerian terkait untuk mengatasi masalah kerusakan jalan. Kata-kata kunci: banjir, beban berlebih, mutu konstruksi, kerusakan jala

    Cover Kulit dan Daftar Isi 16-3

    No full text
    Cover Kulit dan Daftar Isi 16-

    PERBEDAAN FASILITAS PARKIR UNTUK MENDORONG MAHASISWA BERKENDARA BERSAMA KE KAMPUS

    Get PDF
    Abstract With the increasing number of the student using cars for traveling to campus, Petra Christian University needs to implement parking management strategy to optimize current parking supply. One of those potentially parking management strategies is difference parking facilities between students those who drive alone or Single-Occupancy Vehicle and ride-sharing or High-Occupancy Vehicle. The aim of this study is to obtain mode choice model between Single-Occupancy Vehicle Single-Occupancy Vehicle and High-Occupancy Vehicle with three attributes, which are the parking fee, time to find empty parking space, and walking time from parking lot to campus building. Data obtained through filling out the stated preference questionnaires by 300 students. Based on mode choice model, the parking fee is the most sensitive attribute that influences students’ to shift from drive alone to ride-sharing, compared with both time to find empty parking space and walking time from parking lot to campus building. Keywords: mode choice model, parking facility, ride-sharing  Abstrak Universitas Kristen Petra perlu menerapkan strategi pengelolaan parkir untuk mengoptimalkan ketersediaan lahan parkir mobil yang ada saat ini, seiring dengan meningkatnya jumlah mahasiswa yang menggunakan mobil ke kampus. Salah satu strategi pengelolaan parkir yang potensial adalah melalui perbedaan fasilitas parkir bagi mahasiswa yang berkendara sendirian atau Single-Occupancy Vehicle dan yang berkendara bersama atau High-Occupancy Vehicle. Penelitian ini bertujuan memperoleh model pemilihan moda Single-Occupancy Vehicle dan High-Occupancy Vehicle dengan tiga atribut, yaitu: tarif sekali parkir, waktu mencari petak parkir kosong, dan waktu berjalan kaki dari tempat parkir ke gedung kuliah. Data diperoleh melalui pengisian kuesioner oleh 300 mahasiswa dengan metode stated preference. Berdasarkan model pemilihan moda, dapat disimpulkan bahwa atribut yang paling mempengaruhi mahasiswa untuk beralih dari berkendara sendiri menjadi berkendara bersama adalah perbedaan tarif sekali parkir dibandingkan dua atribut yang lain, yaitu waktu mencari petak parkir kosong dan waktu berjalan kaki dari tempat parkir ke gedung kuliah. Kata-kata kunci: model pemilihan moda, fasilitas parkir, berkendara bersam

    PENENTUAN KAPASITAS JALAN BEBAS HAMBATAN DENGAN APLIKASI PERANGKAT LUNAK VISSIM

    Get PDF
    Abstract Currently, the used of MKJI 1997 for road capacity analysis in Indonesia has been considered not relevant anymore with traffic condition, road infrastructure, and related regulation. It was strengthened in many previous researches. One of method to determine road capacity value is using microsimulation method. The objective of this research is to determine road capacity value using microsimulation method with VISSIM software for Indonesia case, especially in highway characteristic. The research result show that the capacity value in Highway increased 8% for Cawang-Tomang-Cengkareng (CTC) highway Km 5,4 and 5% for JKT-CKP (JKT-CKP) highway Km 38 than capacity value in MKJI 1997. The different capacity value also occur for different lane or the urban and interurban highway, which is in MKJI 1997 not be distinguished between that difference. Keywords: capacity, highway, microsimulation, VISSIM  Abstrak Penggunaan MKJI 1997 untuk analisis kapasitas jalan di Indonesia saat ini dinilai tidak relevan terhadap kondisi lalulintas, prasarana jalan, dan regulasi terkait. Hal ini dikuatkan oleh beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satu metode penentuan nilai kapasitas jalan, yaitu dengan pendekatan mikrosimulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai kapasitas jalan bebas hambatan di Indonesia menggunakan pendekatan mikrosimulasi dengan perangkat lunak VISSIM. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan nilai kapasitas di ruas Jalan Tol Cawang-Tomang-Cengkareng (CTC) Km 5,4 sebesar 8% dan Jalan Tol JKT-CKP (JKT-CKP) Km 38 sebesar 5% dibandingkan MKJI 1997. Perbedaan nilai kapasitas terjadi antarlajur, dan antara jalan tol yang melalui perkotaan dengan yang melalui antarkota, di mana kedua hal ini tidak dibedakan dalam MKJI 1997 dalam nilai kapasitas dasarnya. Kata-kata kunci: kapasitas, jalan bebas hambatan, mikrosimulasi, VISSI

    KARAKTERISTIK TRANSPORTASI KABUPATEN BANYUASIN SEBAGAI DAERAH PENYANGGA KOTA PALEMBANG

    Get PDF
    Abstract Banyuasin Regency is a buffer zone of Palembang. Many of Banyuasin residents work in Palembang, and vice versa, causing a lot of travel between these two regions. The objective of this research was to study the characteristics of the transport, trip generation and attraction, as well as the traveling route in these two areas. Origin and destination interview surveys as well as the calculation of the traffic volume were conducted in this study, followed by the calculation of interaction and connectivity. These studies suggest that the purpose of travel is predominantly for work (30.1%) with a distance of more than 20 km. Generated trips consist of 178 private vehicles, public transport of 270 people, and 99 goods transport vehicles. While the attracted trips consist of 156 private vehicles, public transport of 298, and 116 goods transport vehicles. Only 12 districts have overland routes to Palembang while 7 others do not have a land route to Palembang. Keywords: buffer zone, origin and destination of trip, interaction, connectivity, route   Abstrak Kabupaten Banyuasin merupakan daerah penyangga Kota Palembang. Sebagian penduduk Kabupaten Banyuasin bekerja di Palembang, dan sebaliknya, sehingga banyak perjalanan di antara kedua daerah ini. Tujuan penelitian adalah mengkaji karakteristik transportasi, bangkitan dan tarikan perjalanan, serta rute perjalanan penduduk di kedua daerah tersebut. Pada studi ini dilakukan survei wawancara asal dan tujuan pergerakan serta perhitungan volume lalulintas, yang dilanjutkan perhitungan interaksi dan konektivitas. Hasil studi ini menunjukkan bahwa perjalanan didominasi untuk maksud bekerja (30,1 %) dengan jarak tempuh lebih dari 20 km. Bangkitan perjalan terdiri atas angkutan pribadi 178 orang, angkutan umum 270 orang, dan angkutan barang 99 kendaraan. Sedangkan tarikan perjalanan terdiri atas angkutan pribadi 156 orang, angkutan umum 298 orang, dan angkutan barang 116 kendaraan. Hanya 12 kecamatan yang mempunyai rute perjalanan darat ke Palembang sedangkan 7 kecamatan yang lain belum mempunyai rute darat ke Palembang. Kata-kata kunci: daerah penyangga, asal dan tujuan pergerakan, interaksi, konektivitas, rut

    INTEGRASI CRITICAL PATH METHOD (CPM) DAN LINE OF BALANCE METHOD (LOB) DALAM PERENCANAAN PROYEK JALAN

    Get PDF
    Abstrak Aplikasi metode Critical Path Method (CPM) secara luas dalam perencanaan proyek konstruksi disebabkan karena kesederhanaan dan kemudahan penggunaan serta lebih fleksibel dalam hubungannya dengan waktu dan logika. Di sisi lain, metode CPM jika digunakan pada proyek repetitif seperti proyek jalan akan menemui kendala terhadap ketidakmampuan untuk memelihara kontinuitas kerja bagi tenaga kerja dalam proyek. Metode Line Of Balance (LOB) yang umumnya digunakan pada proyek repetitif menemui kendala apabila jaringan kerja dan hubungan logika aktivitas yang banyak.Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran mengenai perencanaan proyek jalan dengan mengintegrasikan keunggulan-keunggulan dari metode CPM dan LOB dalam hal pemanfaatan waktu tenggang (float time) dan perataan sumber daya. Penggunaan waktu tenggang pada proyek jalan akan berdampak pada penggunaan sumber daya secara merata serta akan menghemat biaya proyek.Penelitian dilakukan dengan studi literatur dan diaplikasikan dengan contoh kasus yang berhubungan dengan perencanaan proyek jalan.Hasil yang diharapkan dengan penelitian ini adalah pemanfaatan waktu tenggang aktivitas nonkritis pada proyek jalan dan perataan sumber daya proyek. Dengan pemanfaatan waktu tenggang dan perataan sumber daya akan menghemat penggunaan sumber daya dan menyelesaikan proyek tepat waktu.Kata-kata kunci: CPM, LOB, waktu tenggang, perataan sumber day

    REVIEW JARINGAN TRAYEK ANGKUDES DI KABUPATEN SLEMAN: UPAYA MENUJU PEMERATAAN PELAYANAN BERTRANSPORTASI

    Get PDF
    Abstrak Sesuai SK Bupati Kabupaten Sleman No.42/Kep.KDH/1996 tanggal 16 Februari 1996, kebutuhan mobilitas masyarakat antar wilayah dalam Kabupaten Sleman telah difasilitasi oleh 16 (enam belas) trayek, dimana dalam operasionalisasinya trayek-trayek tersebut dijalankan oleh sebanyak 335 armada angkutan perdesaan di bawah 1 (satu) pengelolaan Koperasi PEMUDA. Kondisi wilayah Sleman yang terbagi atas beberapa bagian, yaitu wilayah aglomerasi, sub-urban, wilayah penyangga (buffer zone), dan beberapa kawasan rural menyebabkan jumlah demand terhadap angkutan perdesaan juga berbeda-beda. Kenyataan bahwa jumlah demand pada wilayah aglomerasi dan sub-urban yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan demand pada wilayah penyangga dan rural menyebabkan sebagian sopir angkutan tidak menjalankan keseluruhan trayek yang telah ditetapkan. Sebagian dari mereka hanya memilih menjalankan trayek pada wilayah-wilayah aglomerasi dan sub-urban bahkan sampai masuk dalam wilayah administratif lain. Akibatnya di satu sisi pada segmen-segmen “basah” sering terjadi tumpang tindih trayek, sementara di sisi lain pada beberapa kawasan rural yang notabene secara ekonomi termasuk dalam kategori miskin menjadi semakin terisolir karena tidak terjangkau oleh angkutan umum. Penelitian ini dilakukan untuk me-review kinerja jaringan trayek angkutan perdesaan eksisting di Kabupaten Sleman untuk kemudian dapat disiapkan rumusan jaringan trayek angkutan perdesaan yang dapat melayani seluruh kebutuhan pergerakan masyarakat Kabupaten Sleman di masa sekarang hingga 10 (sepuluh) tahun ke depan. Dari penelitian ini direkomendasikan sistem pelayanan berdasarkan wilayah yang dibagi dalam 3 (tiga) zona pelayanan dengan keseluruhan trayek yang dijalankan sebanyak 25 trayek, masing-masing 8 (delapan) trayek pada WP I, 10 (sepuluh) trayek pada WP II, dan 7 (tujuh) trayek pada WP III. Untuk menjamin dijalankannya seluruh trayek yang telah direncanakan, penelitian ini juga mengusulkan manajemen penyelenggaraan baru yang melibatkan peranserta Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman. Agar perencanaan yang dihasilkan bisa secara bertahap dan sistematis dilaksanakan, maka aspek-aspek regulasi, kelembagaan, pengusahaan, SDM, pendanaan, dan penguatan harus dengan seksama disiapkan secara simultan. Kata-kata kunci: demand, sub-urban, rural, buffer zone, aglomeras

    PENGARUH METODE PEMILIHAN RUTE DALAM ESTIMASI MATRIKS ASAL TUJUAN (MAT) MENGGUNAKAN DATA ARUS LALULINTAS

    No full text
    Abstrak Pada hampir semua aplikasi perencanaan transportasi, input data yang paling sulit dan mahal untuk diperoleh adalah Matriks Asal Tujuan (MAT). Metodologi telah dikembangkan untuk mendapatkan MAT tersebut, yang secara garis besar dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu metode konvensional dan metode tidak konvensional. Penggunaan metode tidak konvensional mempunyai keunggulan komparatif dibandingkan dengan metode konvensional dalam hal kemudahan memperoleh data, yaitu murah, cepat dan tidak mengganggu arus lalulintas. Meskipun demikian terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi akurasi MAT yang dihasilkan dari data arus lalulintas, di antaranya adalah pengaruh teknik pemilihan rute yang digunakan. Pada penelitian ini dikaji pengaruh penggunaan teknik pemilihan rute terhadap tingkat keakurasian MAT yang dihasilkan dari informasi data arus lalulintas. Jenis metode pemilihan rute yang akan ditinjau pengaruhnya adalah metode pemilihan rute All-Or-Nothing dan keseimbangan (Equilibrium Assignment). Selanjutnya proses estimasi MAT dengan menggunakan data arus lalulintas tersebut akan dianalisis menggunakan data untuk wilayah Kota Bandung dan sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tingkat keakurasian yang cukup tinggi dalam proses estimasi MAT. Hal tersebut ditunjukkan berdasarkan nilai optimum fungsi tujuan serta hasil pengujian statistika.Kata-kata kunci: pemodelan transportasi, matriks asal-tujuan, metode estimasi, distribusi perjalanan, pemilihan rut

    PENGARUH KEGIATAN LAIN PADA TROTOAR TERHADAP TINGKAT PELAYANAN TROTOAR DAN KARAKTERISTIK BERJALAN PEJALAN KAKI: STUDI KASUS DI PUSAT KOTA MALANG

    Get PDF
    Abstrak Trotoar merupakan lajur khusus untuk pejalan kaki. Kenyataannya, fungsi trotoar telah banyak berubah dengan adanya kegiatan yang tidak semestinya, terutama karena PKL. Makalah ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap karakteristik berjalan pejalan kaki, mengetahui tingkat pelayanan trotoar, mengetahui probabilitas pejalan kaki yang berpindah ke bahu jalan, dan menentukan faktor hambatan samping ruas jalan akibat pergerakan tersebut.Dengan adanya kegiatan lain yang tidak semestinya pada trotoar maka (1) keselamatan merupakan faktor yang paling mempengaruhi karakteristik berjalan; (2) kecepatan rata-rata pada trotoar terdekat dengan CBD adalah 65.08 m/menit (off-peak hour) dan 38.01 m/menit (peak hour), sedangkan tingkat arus pejalan kaki tertinggi sebesar 66.11 orang/menit/m (off peak hour) dan 153.4 orang/menit/m (peak hour) yaitu pada pusat perbelanjaan Mitra I, sehingga tingkat pelayanan trotoar D (off peak hour) dan F (peak hour); (3) faktor yang signifikan dalam pemilihan rute berjalan adalah keselamatan, kenyamanan, kelancaran, tingkat kemacetan dan waktu berjalan, sedangkan probabilitas pejalan kaki menggunakan bahu jalan adalah 69% dari total volume pejalan kaki, dengan fungsi utilitasnya adalah Uti = 11.356 - 5.98 keselamatan + 2.86 kenyamanan + 3.28 kelancaran - 3.152 tingkat kemacetan - 2.39 waktu berjalan; (4) frekuensi berbobot untuk hambatan samping tergolong tinggi (600 kejadian/jam/200 m), sehingga faktornya menjadi 0.82-0.95 (off-peak hour) dan 0.73-0.91 (peak hour) dan kapasitas jalan akan turun 5-18% (off-peak hour) dan 9-17% (peak hour).Kata-kata kunci: pejalan kaki, tingkat pelayanan trotoar, probabilitas pemilihan lokasi berjala

    468

    full texts

    512

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Transportasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇