Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
Not a member yet
    497 research outputs found

    ENDOPARASIT CACING PADA ORANGUTAN EX-CAPTIVE DI SUAKA MARGASATWA SUNGAI LAMANDAU KALIMANTAN TENGAH INDONESIA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan melakukan identifikasi dan mengetahui persentase orangutan yang terinfeksi endoparasit (cacing) pada orangutan excaptive yang berada di Suaka Margasatwa Sungai Lamandau. Sampel feses orangutan yang diperiksa sebanyak 30 individu yang didapatkan dicamp Gemini dan Siswoyo. Pemeriksaan feses dilakukan secara makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan menggunakan dua metode yaitu metode Ridley dengan larutan sodium acetate, acetic acid, dan formaldehyde (SAF) fiksatif dan metode apung. Hasil pengamatan menunjukkan adanya infeksi cacing gastrointestinal sebesar 56,7%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orangutan positif terinfestasi telur cacing tipe ascarid; trichurid; dan strongiloid masing-masing sebesar 43,3; 16,7; dan 6,7%. Orangutan dapat mengalami infeksi lebih dari satu jenis tipe telur cacing

    ISOLASI DAN KARAKTERISASI BIOLOGIK VIRUS NEWCASTLE DISEASE

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh informasi infeksi dan sifat-sifat biologis virus Newcastle disease (ND) pada ayam ras maupunayam buras. Sejumlah 529 sampel usap kloaka dikoleksi dari pasar-pasar tradisional dan peternakan rakyat di daerah Bogor dan Tangerang. Sebanyak 20 sampel terdeteksi positif melalui real time reverse transcription-polymerase chain reaction (RRT-PCR) sedangkan dengan isolasi virus terdeteksi positif sebanyak 11 sampel. Selanjutnya empat isolat representasi lokasi dipilih untuk karakterisasi patogenisitas dengan metode mean death time (MDT) pada telur ayam berembrio (TAB) specific pathogen free (SPF), dan karakterisasi antigenisitas menggunakan metode haemagglutination inhibition (HI) dan virus netralisasi (VN) untuk melihat keragaman antar isolat virus. Uji MDT memperlihatkan dua isolat(kode isolat II dan XIII) adalah mesogenik, satu isolat (kode isolate VIII) termasuk lentogenik, dan satu isolat (kode isolat TW) bersifat velogenic. Tiga dari empat isolat menunjukkan hubungan antigenik dengan virus ND strain Komarov dan G7 (genotipe 7) tetapi tidak dengan strain referensi Lasota, sementara isolat velogenic (kode TW) yang berasal dari ayam kampung menunjukkan reaksi silang tinggi dengan antiserum terhadap tiga strain referensi di atas. Sampel-sampel yang diambil di lapang baik itu berasal dari pasar dan peternakan rakyat meskipun secara klinis tidak memperlihatkan gejala sakit dapat diisolasi virus ND dengan karakteristik yang beragam

    EFEK LAMA SENTRIFUGASI SEMEN DOMBA TERHADAP PERSENTASE KAPASITASI DAN REAKSI AKROSOM SPERMATOZOA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui efek sentrifugasi semen domba terhadap persentase kapasitasi dan reaksi akrosom spermatozoa. Penelitian ini terdiri atas 3 kelompok semen domba yaitu kelompok kontrol (P0) semen tanpa sentrifugasi, P1 semen disentrifugasi selama 5 menit dengan kecepatan 1800 rpm, dan P2 semen disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 1800 rpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok P2 kapasitasi tidak berbeda nyata dengan kelompok P1, tetapi pada kelompok P0 efek kapasitasi dan reaksi akrosom paling rendah. Reaksi akrosom spermatozoa pada kelompok P2 menunjukkan hasil yang paling tinggi. Lama sentrifugasi semen domba ekor gemuk dengan kecepatan sentrifugasi 1800 rpm selama 10 menit dapat meningkatkan persentase kapasitasi dan reaksi akrosom spermatozoa

    STUDI KASUS PENYAKIT AYAM PEDAGING DI KABUPATEN SUKABUMI DAN BOGOR

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui kejadian penyakit secara patologis pada ayam pedaging di Kabupaten Sukabumi dan Bogor pada bulan Februari (musim penghujan) dan Juni (musim kemarau) tahun 2012. Dari sejumlah peternakan yang dikunjungi total diperoleh 40 kasus penyakit. Diagnosis penyakit ditetapkan berdasarkan sejarah penyakit yang terjadi di peternakan, umur ayam yang sakit, gejala klinis, perubahan patologi anatomis, dan histopatologis. Berbagai faktor seperti kondisi iklim, tata laksana peternakan, pengobatan, dan sejarah vaksinasi digunakan sebagai data penunjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang teridentifikasi adalah colibacillosis (22,2%), asites (12,5%), gumboro (12,5%), Newcastle disease (ND) (10%), Salmonella pullorum (10%), dan necrotic enteritis (7,5%). Penyakit terutama terjadi pada ayam umur 11-21 hari (57,5%) dan terjadi pada musim penghujan (60%)

    PROFIL DARAH TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus) YANG DIINFEKSIKAN Trypanosoma evansi DAN DIBERIKAN EKSTRAK KULIT BATANG JALOH (Salix tetrasperma Roxb)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran darah (hematokrit, eritrosit, leukosit, dan diferensial leukosit) tikus yang diinfeksi Trypanosoma evansi (T. evansi) dan diberi ekstrak kulit batang jaloh (Salix tetrasperma Roxb). Duapuluh lima ekor tikus jantan dibagi secara acak ke dalam 5 kelompok perlakuan yang masing-masing terdiri atas 5 ekor tikus. Kelompok 0 (K0) tanpa perlakuan, kelompok I (K1) hanya diinfeksikan dengan 103 T. evansi, kelompok II (K2) diinfeksikan dengan 103T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 30 mg/kg bobot badan, kelompok III (K3) diinfeksikan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 45 mg/kg bobot badan, dan kelompok IV (K4) diinfeksi dengan 103 T. evansi dan diberikan ekstrak kulit batang jaloh 60 mg/kg bobot badan. Infeksi T. evansi dilakukan secara intraperitoneal sedangkan ekstrak diberikan secara oral selama 3 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata SD nilai hematokrit dan eritrosit tikus dari K1, K2, K3 dan K4 lebih rendah dari K0. Sebaliknya, rata-rata SD jumlah leukosit (103/l) lebih tinggi dari K0. Diferensial leukosit menunjukkan jumlah masing-masing sel leukosit semua tikus dalam kelompok perlakuan meningkat setelah pemberian ekstrak kulit batang jaloh kecuali eosinofil dan limfosit yang justru menurun. Dari penelitian dapat disimpulkan bahwa Infeksi T. evansi menurunkan kadar hematokrit dan eritrosit namun meningkatkan kadar leukosit tikus dan pemberian ekstrak kulit batang jaloh dosis rendah dalam waktu yang singkat mampu mengembalikan profil darah tikus mendekati nilai normal

    PEMBERIAN EKSTRAK VESIKULA SEMINALIS MENINGKATKAN KUALITAS SPERMATOZOA TETAPI TIDAK MEMENGARUHI KONSENTRASI SPERMATOZOA DAN TESTOSTERON TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak vesikula seminalis terhadap kualitas spermatozoa dan konsentrasi testosteron tikus putih (Rattus norvegicus). Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor tikus putih jantan dewasa, galur Wistar, berumur 3 -4 bulan, berat badan 250-300 g dan dibagi menjadi 4 kelompok (K1, K2, K3, dan K4), masing-masing kelompok berturut-turut diberikan 0,2 ml NaCl fisiologis, 25 g cloprostenol, 0,2 ml ekstrak vesikula seminalis (EVS), dan 0,4 ml EVS secara intraperitoneal. Pada akhir perlakuan, seluruh tikus dikorbankan secara dislocatio cervicalis. Selanjutnya, kauda duktus epididimis dinekropsi untuk dikoleksi spermatozoanya. Pemeriksaan kualitas spermatozoa, meliputi motilitas dan konsentrasi spermatozoa. Pemeriksaan konsentrasi testosteron serum darah dilakukan menggunakan teknik enzymelinked immunosorbant assay (ELISA). Motilitas dan konsentrasi (x10 6 ) spermatozoa pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masingmasing adalah 3,000,00; 3,200,28; 2,000,86; dan 3,200,28 dan 146,6071,90; 187,8060,80; 124,2064,70; dan 129,4027,07. Konsentrasi testosteron pada kelompok K1; K2; K3; dan K4 masing-masing adalah 5,53+1,75; 4,68+4,56; 2,51+1,33; dan 2,40+1,60 ng/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EVS mampu meningkatkan motilitas spermatozoa tetapi tidak memengaruhi konsentrasi spermatozoa dan testosteron serum darah tikus putih

    IDENTIFIKASI Escherichia coli O157:H7 PADA SUSU SAPI PERAH DAN LINGKUNGAN PETERNAKAN

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi Eschericia coli (E. coli) O157:H7 pada susu dan lingkungan peternakan sapi perah. Sampel berjumlah 77 yang terdiri atas 27 sampel susu dan 50 sampel lingkungan. Sampel susu berasal dari ambing sapi (14), milk can peternak (6), milk can tempat penampungan susu (4), dan cooling unit di koperasi (3). Sampel lingkungan berupa feses (14), air sumber dan air tandon (12), pakan (6), serta swab tangan sebelum dan sesudah pemberian minyak pelicin (17), dan tanah (1). Isolasi E. coli dari sampel menggunakan media pemerkaya kaldu brilliant green lactose bile Broth (BGLB), media selektif agar eosin methylene blue (EMB), dan agar sorbitol MacConkey (SMAC). Koloni bakteri yang tidak memfermentasi sorbitol pada SMAC (colorless) diidentifikasi dengan uji aglutinasi lateks O157 dan antisera H7. Identifikasi bakteri dari sampel susu menunjukkan 7,41% (2/27) sampel teridentifikasi E. coli O157. Susu tersebut berasal dari ambing sapi dan milk can peternak. Bakteri E. coli O157 yang teridentifikasi dari sampel lingkungan (sampel pakan) sebanyak 2% (1/50). Hasil uji aglutinasi antisera terhadap tiga sampel positif O157 menunjukkan bahwa ketiganya tidak memiliki antigen H7 dan disimpulkan bahwa tidak ada sampelsusu dan lingkungan yang tercemar E. coli O157:H7

    KORELASI FOLIKEL DOMINAN AKIBAT PENYUNTIKAN HORMON PREGNANT MARE SERUM GONADOTROPIN (PMSG) DENGAN PENINGKATAN RESPONS BERAHI PADA KAMBING KACANG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penyuntikan pregnant mare serum gonadotropin (PMSG) terhadap peningkatan respons berahi kambing kacang. Sebanyak 20 ekor kambing kacang betina dewasa kelamin dibagi secara acak ke dalam 5 perlakuan dosis penyuntikan PMSG, yaitu 0,0 (K1); 1,0 (K2); 7,5 (K3); 15,0 (K4); dan 20,0 (K5) IU/kg bobot badan dan diulang 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada K3, K4, dan K5 terjadi peningkatan jumlah folikel dominan, total diameter folikel dominan, total volume folikel dominan, dan konsentrasi estrogen dalam serum darah (P0,05), serta menunjukkan gejala berahi yang lebih jelas dibandingkan K1. Konsentrasi estrogen dalam serum darah memiliki korelasi positif dengan jumlah folikel dominan, total diameter folikel dominan, total volume folikel dominan, onset berahi, durasi berahi, perubahan vulva menjadi merah, kebengkakan vulva, peningkatan respons betina terhadap pejantan, dan pergerakan ekor pada saat berahiatau fleging berturut-turut sebesar 53,10; 82,60; 48,80; 53,0; 45,50; 39.40; 32,60; 32,60; dan 80,20% dengan pola kuadratik. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penyuntikan PMSG pada dosis 7,5; 15,0; dan 20,0 IU/kg bobot badan mampu meningkatkan konsentrasi estrogen dan respons berahi kambing kacang

    KAJIAN KADAR KORTISOL SAPI YANG DIPOTONG DI RUMAH POTONG HEWAN YOGYAKARTA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengkaji tingkat stres sapi yang dipotong di Rumah Potong Hewan (RPH) Yogyakarta. Dalam penelitian ini digunakan 20 ekor sapi yang dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok sapi yang dilakukan restraint dengan restraining box tipe Mark 1 (K1, n=13) dan kelompok sapi yang dilakukan restraint dengan metode konvensional (K2, n= 7). Masing-masing kelompok diambil darahnya sebelum dan saat dipotong untuk diperiksa kadar kortisol dengan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA). Rata-rata kortisol sapi betina sebelum vs setelah restraint pada K1 dan K2 masing-masing adalah 55,6452,13 vs 21,2320,63 ng/ml dan 127,48150,19 vs 106,28+75,39 ng/ml. Rata-rata kortisol sapi jantan sebelum vs setelah restraint pada K1 dan K2 masing-masing adalah 40,2838,12 vs 24,2117,21 ng/ml dan 49,5138,67 vs 69,6263,98 ng/ml. Rata-rata kadar kortisol tanpa memperhatikan jenis kelamin pada K1 dan K2 masing-masing adalah 79,5088,50 vs 95,8069,69 ng/ml (P>0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar kortisol sebagai indikator stres pada sapi-sapi yang dipotong di RPH Yogyakarta yang mengalami restraint dengan restraining box tipe Mark 1 dan restraint metode konvensional

    GAMBARAN ULTRASONOGRAFI OVARIUM KAMBING KACANG YANG DISINKRONISASI DENGAN HORMON PROSTAGLANDIN F2 ALFA (PGF2) DOSIS TUNGGAL

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mempelajari gambaran ultrasonografi (USG) ovarium kambing kacang setelah penyuntikan hormon prostaglandin. Penelitian ini menggunakan enam ekor kambing kacang berumur 2-3 tahun, pernah melahirkan, dan bersiklus reproduksi normal. Pengamatan ovarium dilakukan dengan menggunakan USG selama 7 hari sebelum penyuntikan hormon prostaglandin sampai dengan ovulasi. Pengamatan ovarium dilakukan setiap hari dan diintensifkan setiap 12 jam menjelang ovulasi. Pengamatan ovarium terdiri atas folikel dan korpus luteum (CL). Pengamatan visualisasi respons berahi dilakukan sebelum dan setelah penyuntikan hormon prostaglandin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ovarium memperlihatkan dinamika folikel dan CL. Dinamika folikel dikarakteristikkan dengan gelombang folikel. Interval antara penyuntikan hormon prostaglandin sampai dengan ovulasi ialah 52,86,6 jam dengan nilai rataan diameter folikel ovulasi 5,70,7 mm. Visualisasi respons berahi pada kambing kacang tidak bermakna baik sebelum dan setelah penyuntikan hormon prostaglandin

    461

    full texts

    497

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kedokteran Hewan - Indonesian Journal of Veterinary Sciences
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇