Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
481 research outputs found
Sort by
The Fish Community Of The Tondano River Estuary In Manado City:
This study was conducted to determine the relative abundance, species composition, relative abundance, and structure of fish communities. The data collection method used was the “Swept area” method. Sampling was conducted twice. The first sampling was conducted on June 17, 2023, and the second sampling was conducted on July 4, 2023, at the Tondano River estuary. Data collection was conducted at low tide. The data analysis used was relative abundance, diversity index, evenness index, and dominance index. The results of this study showed that the fish species composition in the Tondano River estuary consisted of 15 families, 15 genera, and 18 species with a total of 288 individuals. Between the two observed months, June and July, the number of species was higher in June. Based on the data analysis, the highest relative abundance in the Tondano River estuary was in the June phase, namely the Ambassis urotaenia species with a value of 31.5%. The diversity of fish species in the June and July phases was classified as quite high, considering the relatively high evenness index and low dominance index.
Keywords: Tondano River Estuary, Relative Abundance, Diversity Index.
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kelimpahan relatif, komposisi spesies ikan, kelimpahan relatif dan struktur komunitas ikan. Metode pengambilan data ikan menggunakan metode metode “Swept area”. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 2 kali. Pengambilan sampel pertama dilakukan pada bulan juni tanggal 17 juni 2023 dan pengambilan sampel kedua dilakukan pada bulan juli tanggal 4 juli 2023 yang berlokasi di Muara Sungai Tondano. Pengambilan data dilakukan pada waktu surut. Analisis data yang digunakan adalah kelimpahan relatif, indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, dan indeks dominansi. Hasil penelitian ini menunjukkan komposisi jenis ikan di Muara Sungai Tondano terdiri 15 famili, 15 genus dan 18 spesies dengan total 288 individu. Diantara kedua fase bulan yang diamati, yaitu bulan Juni dan bulan Juli, jumlah spesies lebih banyak ditemukan pada Juni. Berdasarkan hasil analisis data kelimpahan relatif tertinggi di Muara Sungai Tondano ada pada fase Juni yaitu spesies Ambassis urotaenia dengan nilai 31.5 %. Keanekaragaman jenis ikan pada fase bulan Juni dan Juli tergolong cukup tinggi dengan memperhatikan indeks kemerataan yang cukup tinggi dan indeks dominansi yang rendah.
Kata kunci: Muara Sungai Tondano, Kelimpahan Relatif, Indeks Keanekaragaman
Proximate and Macromineral Content of Gastropods in the Mangrove Area of Desa Bakau Sambas Regency
Gastropods are the largest class of the phylum mollusks, with 75,000 identified species. Gastropods are widely distributed in freshwater, marine waters, and mangrove ecosystems. Gastropods are a fishery commodity with an important economic value containing high protein (36-70.8%) and low fat (0.02-1.50%). This biota has vitamins, essential minerals, omega-3, and omega-6. This research aimed to determine the proximate content (protein, fat, water, ash, and carbohydrates) and macrominerals (Na, K, Mg, Ca, and P) in gastropods found in Bakau Village, Sambas Regency, West Kalimantan. The gastropods found were Ellobium, Cerithidea, and Pirenella. Fifty individuals were taken for proximate analysis. Moisture and ash content were determined by the gravimetric method. Total protein levels were analyzed by the Kjedahl method. The fat content was determined by the Soxhlet method, and the carbohydrate content by the by difference method. Atomic Absorption Spectrophotometer determined mineral macro. The proximate content of mangrove gastropods in Bakau Village is high in protein (48.06–54.62%) and low in fat (1.31–7.40%). The most elevated protein was 54.62 in Ellobium and Pirenella, with the lowest fat being 1.31%. The macro mineral content in gastropods is Ca (14.91-91.48 mg/kg), Mg (13.16-21.74 mg/kg), Na (8.19-20.62 mg/kg), K (13.07-17.33 mg/kg), and P (0.66-0.71 mg/kg). The highest mineral content was shown by the genus Pirenella (91.48 mg/kg) Ca.
Keywords: gastropod, macromineral, mangrove, proximate.
Abstrak
Gastropoda adalah kelas terbesar dari filum moluska dengan 75.000 jenis yang telah teridentifikasi. Gastropoda terdistribusi luas di perairan tawar, perairan laut, dan ekosistem mangrove. Gastropoda merupakan salah satu komoditas perikanan dengan nilai ekonomis penting yang mengandung protein tinggi (36-70,8%) dan lemak yang rendah (0,02-1,50%). Biota ini juga memiliki vitamin, mineral esensial, omega-3 dan omega-6. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan proksimat (protein, lemak, air, abu, dan karbohidrat) serta makromineral (Na, K, Mg, Ca, dan P) pada gastropoda yang ditemukan di Desa Bakau, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Gastropoda yang ditemukan pada penelitian ini adalah Ellobium, Cerithidea, dan Pirenella. Setiap jenis dari gastropoda, masing-masing diambil sebanyak 50 individu untuk dilakukan analisis. Kadar air dan abu ditentukan dengan metode gravimetri. Kadar total protein dianalisis dengan metode Kjedahl. Kadar lemak ditentukan dengan metode soxhlet dan kadar karbohidrat dengan metode by difference. Makro mineral ditentukan dengan Spektrofotometer Serapan Atom. Kandungan proksimat dari jenis gastropoda mangrove Desa Bakau adalah tinggi protein (48,06–54,62%), rendah lemak (1,31–7,40%). Protein tertinggi 54,62 pada Ellobium dan Pirenella dengan lemak terendah 1,31%. Kandungan makro mineral pada gastropoda adalah Ca (14,91-91,48 mg/kg), Mg (13,16-21,74 mg/kg), Na (8,19-20,62 mg/kg), K (13,07-17,33 mg/kg), dan P (0,66-0,71 mg/kg). Kandungan mineral tertinggi ditunjukkan oleh genus Pirenella (91,48 mg/kg) Ca.
Kata kunci: gastropoda, makromineral, mangrove, proksimat
The Nursery of Juvenile Sandfish, Holothuri scabra in Pen-culture
This research aims to be a reference for better and regionally characteristic sandfish nursery activities to support sustainable sea cucumber farming. This research was carried out in the waters of Ohoitel village, Tual City, and took place from March – April 2023. 450 sandfish seeds measuring 0.39 – 1.98 gr were stocked in Pen-culture measuring 4 x 3 x 0.7 meters. Pen culture is made of waring and has a cover. Calculation of survival and growth measurements only at the beginning and end of rearing. Water quality measurements (temperature, salinity, and pH) were carried out every week during the research. Based on the research results, it can be concluded that the nursery of seeds sandfish measuring 0.39 – 1.98 gr can be done in Pen-culture using a cover. This is because the survival percentage of sandfish chicks raised in Pen-culture is 84 - 86.67% with an average survival percentage of 85.33% and a body weight growth range of 2.54 - 12.97 gr with an average of the average absolute growth in body weight was 6.77 gr.
Keywords: Nursery, Sandfish, Pen-culture
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menjadi referensi kegiatan pendederan teripang pasir yang lebih baik dan berkarakteristik daerah guna menopang budidaya teripang secara berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan di perairan desa Ohoitel, Kota Tual dan berlangsung dari Maret 2023 – April 2023. Benih teripang pasir berukuran 0,39 – 1,98 gr sebanyak 450 ekor ditebar pada Pen-culture berukuran 4 x 3 x 0,7 meter. Pen-culture terbuat dari waring dan memiliki penutup. Perhitungan kelangsungan hidup dan pengukuran pertumbuhan hanya pada awal dan akhir pemeliharaan. Pengukuran kualitas air (suhu, salinitas dan pH) dilakukan setiap minggu selama penelitian. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pendederan anakan teripang pasir berukuran 0,39 – 1,98 gr dapat dilakukan pada Pen-culture dengan menggunakan penutup. Hal ini dikarenakan presentase kelangsungan hidup anakan teripang pasir yang didederkan pada Pen-culture sebesar 84 – 86,67 % dengan rata-rata persentase kelangsungan hidup 85,33 % dan kisaran pertumbuhan berat tubuh sebesar 2,54 – 12, 97 gr dengan rara-rata pertumbuhan mutlak berat tubuh sebesar 6,77 gr.
Kata kunci : Pendederan, Teripang pasir, Pen-cultur
Relationship length weight and condition factors of mackerel (Rastrelliger kanagurta) landed in Tanjung Tiram Port Batu Bara District North Sumatra Province
This research aims to determine growth patterns and condition factors. Apart from that, it is also to determine the level of gonad maturity and the gonad maturity index. The method used was a quantitative descriptive method by measuring length and weight and then dissection was carried out to observe the level of gonad maturity of male mackerel fish samples landed every week. The number of samples obtained during the August-September 2023 period was 200 individuals. The results of the research show that the equation for the relationship between length and weight is W = 0,00003L²͐⁸⁴⁵⁴⁷, which indicates a negative allometric growth pattern. The highest condition factor was obtained in the 190-191 mm length class with an average of 0,8757 and the lowest in the 185-186 length class with an average of 0,8416. The gonad maturity level of mackerel (Rastrelliger kanagurta) consists of TKG I to TKG IV. The IKG value obtained ranged from 5,616 to 6,375%. The increase in length of male mackerel shows a weak correlation with weight. Meanwhile, the weight of male mackerel had a significant influence on IKG.
Keywords: Male mackerel, growth, condition factors, TKG, IKG.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan dan faktor kondisi. Selain itu juga untuk mengetahui tingkat kematangan gonad dan indeks kematangan gonad. Metode yang dilakukan adalah metode deskriptif kuantitatif dengan mengukur panjang dan berat kemudian dilakukan pembedahan untuk diamati tingkat kematangan gonad sampel ikan kembung lelaki yang didaratkan setiap minggunya. Adapun jumlah sampel yang diperoleh selama periode agustus-september 2023 adalah sebanyak 200 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persamaan hubungan panjang berat W = 0,00003L²͐⁸⁴⁵⁴⁷ yang menunjukkan pola pertumbuhan allometrik negatif. Faktor kondisi tertinggi diperoleh pada kelas panjang 190-191 mm dengan rata-rata sebesar 0,8757 dan terendah pada kelas panjang 185-186 dengan rata-rata sebesar 0,8416. Tingkat kematangan gonad ikan kembung (Rastrelliger kanagurta) terdiri dari TKG I sampai TKG IV. Nilai IKG yang didapatkan berkisar 5,616-6,375%. Pertambahan ukuran panjang ikan kembung lelaki menunjukkan korelasi yang lemah terhadap berat. Sedangkan berat ikan kembung lelaki memberikan pengaruh yang nyata terhadap IKG.
Kata Kunci: Ikan kembung lelaki, pertumbuhan, faktor kondisi, TKG, IKG
Occurrence of Lead (Pb) Metal in Water, Sediment, and Bioaccumulation in Giant Mudskipper (Boleopthalmus : Gobiidae) from the Pemangkat Mangrove Area West Kalimantan
Pemangkat is a coastal area in Sambas Regency which has a mangrove ecosystem. One of the biota found in mangrove forest areas is the Giant Mudskipper. This fish is often used as an environmental bioindicator due to its characteristics of living in the intertidal zone and being able to absorb and accumulate metals. Heavy metal pollution in marine and coastal areas has become a global problem that causes negative impacts on ecosystems, biota, and human health. One of the heavy metals that can pollute waters due to fishing and port activities is lead (Pb). Pemangkat is one of the centers of capture fisheries activities in West Kalimantan. Therefore, this research aims to analyze the content of the heavy metal of Pb in water, sediment, and Mudskipper in the Pemangkat mangrove ecosystem, Sambas, West Kalimantan. The Pb content in water, sediment, and Giant mud skipper samples was analyzed using an Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS) at a wavelength of 283.3 nm. Accumulation of heavy metal in the biota was determined by the bioconcentration factor (BCF). The concentration of lead metal (Pb) in water and sediment samples was highest at Station II, such as 0.40 mg/L and 0.25 mg/L respectively. The metal content of Pb in Giant Mudskipper was highest at Station I (0.224 mg/kg). The BCF values for Giant Mudskipper at Stations I and II were 1.18 and 0.86.
Keywords: Lead (Pb), Mangrove, Mudskipper, Boleopthalmus.
Abstrak
Pemangkat merupakan wilayah pesisir di Kabupaten Sambas yang memiliki ekosistem mangrove. Salah satu biota yang hanya ditemukan di daerah hutan mangrove adalah ikan tembakul. Ikan ini sering dijadikan bioindikator lingkungan dikarenakan karakteristiknya yang hidup di zona intertidal yang mampu menyerap dan mengakumulasi logam. Pencemaran logam berat di wilayah laut dan pesisir telah menjadi permasalahan global yang menyebabkan dampak negatif bagi ekosistem, biota, dan kesehatan manusia. Salah satu logam berat yang dapat mencemari perairan dengan adanya aktivitas perikanan dan pelabuhan adalah logam Pb. Pemangkat adalah salah satu sentra kegiatan perikanan tangkap di Kalimantan Barat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Pb di air, sedimen, dan ikan tembakul di ekosistem mangrove Pemangkat, Sambas, Kalimantan Barat. Kandungan Pb di sampel air, sedimen dan ikan tembakul dianalisis dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) pada panjang gelombang 283,3 nm. Akumulasi logam berat pada biota ikan tembakul ditentukan dengan faktor biokonsentrasi (BCF). Konsentrasi logam timbal (Pb) pada sampel air dan sedimen tertinggi pada Stasiun II, yaitu: 0,40 mg/L dan 0,25 mg/L secara berurutan. Kandungan logam Pb pada ikan tembakul tertinggi pada Stasiun I, yaitu 0,224 mg/kg. Nilai BCF ikan tembakul di Stasiun I dan II adalah 1,18 dan 0,86.
Kata kunci: Timbal (Pb), Mangrove, Tembakul, Boleopthalmu
Morphometric study of Seagrass Enhalus acoroides (Linnaeus f.) Royle, 1839 in Coastal Waters of Budo Village
This research concerns the morphometry of seagrass E. acoroides (Linnaeus) Royle in 1839 in the coastal waters of Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency. The existence of seagrass ecosystems in coastal waters is so important that it is necessary to carry out morphometric studies of seagrass, both for scientific purposes and for the sake of knowledge about seagrass itself. This research aims to describe the morphometrics of E. acoroides seagrass on the coast of Budo Village, Wori District, North Minahasa Regency, to compare the morphometrics of E. acoroides seagrass based on sampling stations, and to determine the condition of the aquatic environment (temperature, salinity, pH, substrate). The research location was divided into 3 sampling stations, namely the first mangrove area with 20 individuals, the second seagrass area with 30 individuals, and the third coral reef area with 10 individuals. The sampling process is carried out using a roaming survey method, the sample is washed and put into a plastic sample which will then be measured. The results statistically show that E. acoroides species in the coastal waters of Budo Village at three stations show significant differences in morphometric size, where station three is smaller than stations one and two. Environmental conditions and existing environmental parameters cause this. The condition of the environmental parameters at the three stations is still within safe limits, so it is still good for seagrass growth.
Keywords: Seagrass, Enhalus acoroides, Morphometrics, Budo Village
Abstrak
Penelitian ini mengenai Morfometrik Lamun E. acoroides (Linneaus f.) Royle, 1839 di Perairan Pesisir Desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Keberadaan ekosistem lamun di perairan pantai ini sangat penting sehingga perlu adanya kajian mengenai morfometrik lamun, baik untuk kepentingan ilmiah maupun untuk kepentingan pengetahuan tentang lamun itu sendiri. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu Mendeskripsikan morfometrik dari lamun E. acoroides di pesisir pantai Desa Budo, Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, Membandingkan morfometrik lamun E. acoroides berdasarkan stasiun pengambilan sampel,dan Mengetahui kondisi lingkungan perairan (suhu, salinitas, pH, substrat). Lokasi penelitian dibagi 3 stasiun untuk pengambilan sampel yaitu stasiun satu daerah mangrove dengan mengambil 20 individu, stasiun dua daerah lamun 30 individu, dan stasiun tiga daerah terumbu karang dengan mengambil 10 individu. Proses pengambilan sampel dilakukan dengan metode survei jelajah, sampel dicuci dan dimasukkan ke dalam plastik sampel yang kemudian akan diukur. Hasil yang diperoleh secara statistik bahwa spesies Enhalus acoroides di Pesisir Pantai Desa Budo pada tiga stasiun terlihat ada perbedaan nyata untuk ukuran morfometriknya, dimana stasiun tiga ukurannya lebih kecil dibanding stasiun satu dan dua. Hal ini karena kondisi lingkungan dan parameter lingkungan yang ada. Kondisi parameter lingkungan pada tiga stasiun masih dalam batas aman dimana masih baik untuk pertumbuhan lamun.
Kata Kunci : Lamun, Morfometrik, Enhalus acoroides, Desa Bud
Spatial And Temporal Analysis Of Sea Surface Temperature Variability And Chlorophyll-A Over Two Decades In North Sulawesi Waters
Sulawesi waters are directly affected by the dynamics that occur in the Pacific Ocean. The ENSO phenomenon that occurs in the Pacific Ocean can also be felt in the waters of the Sulawesi Sea. The dynamics of oceanographic parameters can cause climate change. The extreme impact of climate change is mainly the occurrence of rising temperatures and seasonal shifts. The purpose of this study is to analyze the variability of spatial and temporal anomalous distribution of sea surface temperature and chlorophyll-a. This study used monthly AQUA Modis image data, conducted by analyzing the spatial and temporal distribution of sea surface temperatures during the two decades of the period 2003 - 2022. This analysis is based on abnormal values obtained from subtracting parameter values from historical values (the average value of all data). The results of spatial variability analysis of sea surface temperature and chlorophyll –show anomalous variations occur in the western and transitional season periods I, while in the eastern season and transition II positive anomalous values dominate the eastern waters negative anomalies dominate the western waters opposite to chlorophyll – a. This study showed that there was an increase in sea surface temperature slope by 0.000840C / year while in chlorophyll - a there was a decrease in slope by 0.00072mg / m3 / year.
Keywords: Spatial, Temporal, SPL, Chlorophyll – a, Climate Change.
Abstrak
Perairan Sulawesi mendapatkan pengaruh secara langsung dari dinamika yang terjadi di Samudera Pasifik. Fenomena ENSO yang terjadi di Samudera Pasifik juga dapat dirasakan dampaknya di perairan Laut Sulawesi. Dinamika parameter oseanografi dapat menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dampak ekstrem dari perubahan iklim terutama adalah terjadinya kenaikan temperatur serta pergeseran musim. Tujuan penelitian ini Menganalisis Variabilitas distribusi anomali spasial dan temporal dari suhu permukaan laut dan klorofil – a, Penelitian ini menggunakan data citra AQUA Modis bulanan, dilakukan dengan menganalisis sebaran spasial dan temporal suhu permukaan laut selama dua dekade periode 2003 - 2022. Analisa ini didasarkan pada nilai anomali yang didapat dari pengurangan nilai parameter dengan nilai historis (rerata nilai seluruh data). Hasil analisis variabilitas spasial suhu permukaan laut dan klorofil – a menunjukan variasi anomali terjadi pada periode musim barat dan peralihan I , sedangkan pada musim timur dan peralihan II nilai anomali positif mendominasi perairan sebelah timur anomali negatif mendominasi perairan sebelah barat sebaliknya dengan klorofil – a. Penelitian ini menunjukan bahwa terjadi peningkatan slope suhu permukaan laut sebesar 0,000840C/ tahun sedangkan pada klorofil - a terjadi penurunan slope sebesar 0,00072mg/m3/tahun.
Kata kunci: Spasial, Temporal, SPL, Klorofil – a, Perubahan Iklim
Different Type Of Feeds Effect On Tilapia Growth
Nile tilapia (Oreochromis niloticus) is also known as tilapia. Tilapia shows an adequate ability to grow and survive even in poor habitats. The success of tilapia farming activities is influenced by several factors, one of which is feed. This study aims to see the effect of feeding different types of feed: marine fish feed (Otohime S2) and freshwater fish feed (MS Preo 320) on tilapia growth. Tilapia fry was kept in an aquarium for each treatment and fed three times a day for 30 days. Data were analyzed using a completely randomized design to determine the effect of feed on tilapia growth (Wm, Lm, SGR, FCR, and SR). Based on ANOVA (α = 0.05), it detected marine fish feed slightly increased tilapia growth but not significantly, except for Lm. It is caused by tilapia being at seed age length growth is more dominant than body weight. The factor causes a slight increase in tilapia growth given marine fish feed has a higher protein content than freshwater fish feed. Water quality components consisting of temperature, DO, and pH (26 – 30,5oC; 4,88 – 5,8 mg/l; 8,25 – 8,32) are in the range of values by the water quality standards for tilapia fry.
Keywords: feed, growth, tilapia
Abstrak
Ikan nila (Oreochromis niloticus) juga dikenal dengan nama tilapia. Tilapia memiliki kemampuan berkembang dan bertahan hidup yang baik bahkan pada habitat yang buruk. Keberhasilan kegiatan budidaya tilapia dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah pakan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian jenis pakan yang berbeda, yaitu pakan ikan air laut (Otohime S2) dan pakan ikan air tawar (MS Preo 320) terhadap pertumbuhan benih nila. Benih nila dipelihara dalam akuarium untuk tiap perlakuan dan diberikan pakan sebanyak tiga kali sehari selama 30 hari. Analisis data dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap untuk melihat adanya pengaruh pakan terhadap pertumbuhan nila (Wm, Lm, SGR, FCR, dan SR). Berdasarkan hasil ANOVA (α = 0,05) diperoleh informasi bahwa pakan ikan air laut sedikit memberikan peningkatan pertumbuhan nila tetapi tidak signifikan, kecuali Lm. Hal ini dikarenakan nila pada usia benih memiliki pertumbuhan panjang lebih dominan dari bobot tubuhnya. Faktor yang menyebabkan terjadinya peningkatan nilai pertumbuhan nila yang diberikan pakan ikan air laut adalah kandungan protein yang lebih tinggi dari pakan ikan air tawar. Komponen kualitas air yang terdiri dari suhu, DO, dan pH (26 - 30,5oC; 4,88 - 5,8 mg/l; 8,25- 8,32) berada pada kisaran nilai yang sesuai dengan baku mutu kualitas air bagi benih nila.
Kata kunci: nila; pakan; pertumbuhan
Comparative Studies Of Residual Water Level In Manado And Melonguane Coastal Area During Tropical Cyclone In 2021
North Sulawesi Province, directly bordering the Pacific Ocean, is located in an area with the highest level of tropical cyclone (TC) activity in the world. As a result, the province is vulnerable to the impacts caused by cyclones, including storm surges. The increase in water levels due to this event has the potential to cause coastal flooding. Previous studies in Manado have identified that sea level rise can be detected through residual water level (RWL), making studying the characteristics of RWL in North Sulawesi important. This research focuses on Manado and Melonguane, allowing for a comparison of characteristics. The data used includes tropical cyclone data from the China Meteorological Administration (CMA) and tidal data from the Geospatial Information Agency. The Unified Tidal Analysis and Prediction (UTide) method is used to identify RWL. The analysis was carried out by using a t-test to compare data at the two locations. The results showed that RWL at those locations had significant differences with Melonguane having the higher value between them. Generally, the increase in RWL in Melonguane occurs shortly after the cyclone period, while the RWL in Manado maximum increases 86 hours after TC's first occurrence.
Keywords: tropical cyclone; residual water level; UTide
The role of diversity structure, dominance, and diameter of mangrove trees and mitigation of coastal abrasion at Darunu Village
Mangrove forests are vital for protecting coastal abrasion. This study investigates the diversity, dominance, and diameter distribution of Darunu Village mangroves and their potential to reduce coastal abrasion. Transect sampling was used and conducted at 2 stations with 3 observation sites. Three mangrove genera were found in Darunu Village, Rhizophora with 803 trees or 1.72%, Sonneratia with 95 individuals or 0.92%, and Avicennia with 33 individuals or 0.07%. The Diversity Index (H') value at both stations was H’ = 0.27. or they were classified as a low category. According to those 3 mangrove genera at Darunu Village, the Rhizophora mangrove was dominant with a total of 1,881 individuals (D = 0,87). The diameter of all mangrove trees was ca. > 20 cm indicating potentially reduced wave energy. The suggestion needs to be special attention from the North Minahasa Government by providing mangrove cultivation and care for existing mangroves. The diversity of mangroves in Darunu Village was still low, can be overcome by planting other mangrove species that potentially the natural properties of mangroves in Darunu Village and other environmental factors. Field observations suggested the mangrove forest effectively mitigates coastal abrasion, This study underscores the importance of maintaining mangrove diversity for effective coastal protection.
Keywords: Mangrove, Diversity, Dominance, Diameter Distribution, Coastal Abrasion, Coastal Protection.
Abstrak
Hutan mangrove penting untuk perlindungan abrasi pantai. Penelitian ini meneliti keanekaragaman, dominasi, dan distribusi diameter mangrove di Desa Darunu, serta potensinya untuk mengurangi abrasi pantai. Transek sampling digunakan dan dilakukan di 2 stasiun dengan 3 lokasi observasi. Tiga genus mangrove ditemukan di Desa Darunu, yaitu Rhizophora sebanyak 803 pohon atau 1,72%, Sonneratia sebanyak 95 individu atau 0,92% dan Avicennia sebanyak 33 individu atau 0,07%. Nilai Diversity Index (H') di kedua stasiun adalah H' = 0,27. atau diklasifikasikan sebagai kategori rendah. Menurut 3 genus mangrove di Desa Darunu tersebut, mangrove Rhizophora mendominasi dengan jumlah 1.881 individu (D = 0,87). Diameter semua pohon mangrove sekitar > 20 cm terindikasi berpotensi mengurangi energi gelombang. Saran perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Minahasa Utara dengan menyediakan budidaya mangrove dan perawatan mangrove yang ada. Keanekaragaman mangrove di Desa Darunu masih rendah, dapat diatasi dengan penanaman spesies mangrove lain yang berpotensi menjadi sifat alami mangrove di Desa Darunu dan faktor lingkungan lainnya. Pengamatan lapangan menunjukkan bahwa hutan mangrove secara efektif mengurangi abrasi pantai, Studi ini menggarisbawahi pentingnya menjaga keanekaragaman mangrove untuk perlindungan pantai yang efektif.
Kata kunci : Mangrove, Keanekaragaman, Dominance, Distribusi diameter, Abrasi Pantai, Perlindungan pantai