Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
481 research outputs found
Sort by
Antibacterial Activity Ods Fractions Of Marine Sponge Auletta sp. Against Mycobacterium smegmatis
The marine sponge collected from tropical coral reefs in Manado North Sulawesi Indonesia was screened for antimicrobial activities. In the screening program to search for antituberculotic inhibitors, the result found that the ethanol extract ODS fractions 4 – 6 with concentration 5 mg/mL of an Indonesian marine sponge Auletta sp. was exhibited inhibitory activity against nonpathogenic Mycobacterium smegmatis at concentration 10, 20, 30µg/disc each fraction respectively. Fractions 4 - 5 with concentration 10µg/disc were most active, the inhibition zone 11, 12 mm, respectively.Keywords: marine sponge, antimicrobial, antituberculosis, Mycobacterium smegmati
Morfometric study of Seagrass Thalassia hemprichii, in Pasir Panjang Beach, Paputungan Village, West Likupang, Minahasa Utara
This study was aimed at knowing seagrass species in the study site and comparing the morphometry of seagrass Thalassia hemprichii with sampling station. Sample collection employed haphazard survey, and samples and substrate were taken using a big knife, washed in seawater, an in seawater, and put into a seawater-containing bucket. Sampling points were determined by GPS, and 30 individuals of T. hemprichii were taken. Results showed that T. hemprichii in Pasir Panjang coastal waters has bigger size in mangrove and seagrass areas than that in the coral reefs. It could result from that mangrove and seagrass areas grew in muddy substrate that contained higher nutrients and calmer water condition than those in coral reefs with coral debris substrate.Keywords : Morfometrics, Thalassia hemprichii, Pasir Panjang BeachABSTRAKTujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis lamun apa saja yang ada di lokasi penelitian ini dan membandingkan ukuran morfometrik lamun Thalassia hemprichii berdasarkan stasiun pengambilan sampel. Pengambilan data dilakukan dengan mengunakan metode survei jelajah, sampel diambil dengan parang bersamaan dengan substrat, dicuci dengan air laut dan dimasukan kedalam ember yang berisi air laut. Saat pengambilan sampel dilakukan, posisi diplot dengan mengunakan GPS dan dilanjutkan dengan pengambilan sample lamun Thalassia hemprichii sebanyak 30 individu setiap stasiun, Pada hasil yang diperoleh terlihat bahwa spesies Thalassia hemprichii di Perairan Pantai Pasir Panjang yang lebih besar di daerah mangrove dan daerah lamun dan yang lebih kecil adalah daerah terumbu karang. Hal ini disebabkan, karena daerah mangrove dan lamun tersebut tumbuh pada subsrat lumpur yang memiliki kandungan nutrien lebih tinggi dibandingkan dengan daerah terumbu karang dengan subsrat pecahan karang, dan keadaan perairan pada subsrat lumpur lebih tenang sehingga banyak mengendapkan sedimen.Kata Kunci : Morfometrik. Thalassia hemprichii. Pantai Pasir Panjan
Isolation and amplification of 16S rRNA gen of Associated Microbial isolates in Red Algae Kappaphycus alvarezii from Belang, Southeast Minahasa Regency, North Sulawesi
This study aims to obtain isolates and amplify the associative bacterial 16SrRNA gene in K. alvarezii algae. The K. alvarezii algae was collected from seaweed cultivation area in Belang, Southeast Minahasa, North Sulawesi. Associative bacteria were sampled from K. alvarezii algae, grown in Nutrient Agar and separated based on their morphological characteristics. Each isolates were extracted their DNA genome and.the16S rRNA gene of each isolate was amplified using PCR. Eight associative bacterial from K. alvarezii algae were successfully isolated based on morphological characteristics which were dominated by round shape, smooth edges, convex elevation, and white color of the isolates. The results of genomic DNA extraction from each of these isolates were successfully used as templates to amplify the 16s rRNA gene.Key word: Bacteria, Kappaphycus alvarezii, Taxsonomy, 16S rRNAABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat dan mengamplifikasi gen 16SrRNA bakteri asosiatif pada alga K. alvarezii. Metode penelitian diawali dengan pengambilan sampel alga K. alvarezii di lokasi pembudidayaan rumput laut di desa Belang, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Selanjutnya, bakteri asosiatif pada alga K. alvarezii tersebut ditumbuhkan dalam media Nutrient Agar, isolat yang tumbuh kemudian dipisahkan berdasarkan karakteristik morfologinya. dan gen 16S rRNA masing-masing isolat diamplifikasi menggunakn PCR. Delapan isolat bakteri asosiatif pada alga K. alvarezii berhasil diisolasi dengan karakteristik morfologi berbeda yang didominasi dengan bentuk round, tepian smooth, elevasi convex, dan warna putih. Hasil ekstraksi DNA genom dari masing-masing isolat tersebut berhasil digunakan sebagai template untuk mengamplifikasi gen 16s rRNA.Kata Kunci: Bakteri, Kappaphycus alvarezii, Taksonomi, 16S rRN
The potential of catappa leave to prevent Aeromonas hydrophila infection in Nile Tilapia Oreochromis niloticus
Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan dosis penambahan ekstrak daun ketapang dalam pakan untuk meningktkan. Ikan uji adah benih nila berukuran 5-8 cm dengan beratr ata-rata 2,93 g yang diperoleh dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Tatelu. Bahan uji berupa Daun Ketapang (Terminalia catappa) dengan dosis A= 0, B= 5 g/kg, C= 10 g/kg, D= 20 g/kg dan E= 40 g/kg diberikan kepada ikan selama 21 hari. Ikan diberi pakan perlakuan dua kali sehari yakni pukul 09.00 am dan 16.00 pm dengan dosis pemberian 5%/berat tubuh/hari. Hasil penelitian didapatkan pertumbuhan terbaik dicapai pada kosentrasi ekstrak daun ketapang 5 g/kg. Sebagai kesimpulan adalah ekstrak daun ketapang dapat digunakan dalam akuakultur untuk meningktkan pertumbuhan ikan.Kata kunci : Daun Ketapang, tanaman obat, ikan Nila, A. hydrophila, budidaya ABSTRAKThe research aimed to establish the accurate dose of catappa leave extract supplemented into feed to enhance fish growth. The fish measuring 5-8 cm with an average weight of 2.93 g were obtained from Board of Freshwater Fisheries Aquaculture Tatelu. Catappa leave extract as much as A= 0, B= 5 g/kg, C= 10 g/kg, D= 20 g/kg dan E= 40 g/kg were added into feed and fed to fish for 21 days. The fish wee fed twice day at 09.00 am and 16.00 pm at 5% of body weigth a day. Research result showed that application of 5 g of leave extract per kg of feed gave the best absolute and specific growth of fish. Thus, supplementation of leave extract into fish feed was potential ti improve fish growth.Keywords: catappa leave, medicinal plant, Nile tilapia, aquaculture, A. hydrophila
Coral Reef Conditions of Hogow and Dakokayu Islands Southeast Minahasa Regency
This research objective was to determine the condition of Coral Reef ecosystems in Dakokayu and Hogow Islands, Southeast Minahasa Regency. The method that has been used in this studies that is Line Intercept Transect (LIT) by diving activities at 5 meter and 10 meters depth with 50 meters transect length. Each biota passed by the line transect recorded according based on shape of growth.Coral Reefs conditon in Hogow Island in 5 meters and 10 meters depth were categorized as a “Good†where the percentage of live coral cover in 5 meters depth is 70.12% and in 10 meters depth is 55.78%. The condition of Coral Reefs on Dokokayu Island at a depth of 5 meters is categorized “Good†with the percentage of live coral cover is 56.32% while in the 10 meters depth it is categorized as “Medium†with the percentage of live coral cover is 48.10%. Water quality parameters such as temperature, salinity, brightness, pH, and dissolved oxygen (DO) are within the range of tolerance for Coral Reefs to survive.Keywords: Condition, Coral Reef, Hogow, DokokayuABSTRAKTujuan penelitian untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang di Pulau Dakokayu dan Pulau Hogow, Kabupaten Minahasa Tenggara. Metode yang telah digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transek (LIT) dengan melakukan penyelaman pada kedalaman 5 dan 10 meter dengan panjang transek 50 meter. Setiap biota yang dilewati transek akan dicatat menurut bentuk pertumbuhannya. Secara umum, kondisi terumbu karang di Pulau Hogow pada kedalaman 5 meter dan 10 meter, dikategorikan Baik dimana persentasi tutupan karang hidup pada kedalaman 5 meter sebesar 70,12% dan pada kedalaman 10 meter sebesar 55,78%. Kondisi terumbu karang di Pulau Dokokayu pada kedalaman 5 meter dikategorikan Baik dengan persentase tutupan karang hidup 56,32% sedangkan di kedalaman 10 meter dikategorikan Sedang dengan persentase tutupan karang hidup 48,10 %. Parameter kualitas perairan seperti suhu, salinitas, kecerahan, pH, dan oksigen terlarut (DO) berada dalam kisaran toleransi bagi terumbu karang untuk dapat bertahan hidup.Kata Kunci : Kondisi, Terumbu Karang, Hogow, Dokokay
Characteristics of Reproduction of Yellowstripe Scad Selaroides leptolepis (Cuvier, 1833) In Manado Bay Waters
The waters of Manado Bay are areas that have a lot of biological resources. One of these resources is Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis). The research was aimed to find out the reproduction characteristics of Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis) by looking at male and female sex ratio, growth pattern with male and female condition factor, maturity level of gonad (TKG), gonad maturity index (IKG), size at first maturity, and fecundity. The location of fish sampling is taken from the catch of fishermen in Manado Bay waters in not April-May 2018. Fish sampling using random draw method withdrawal. The number of samples is 200, taken four times in two months (April to May 2018). The sex ratio of Yellowstripe scad (Selaroides leptolepis) in the waters of Manado Bay is balanced. The growth pattern of male is positive allometric, while females is isometric. The condition of male and female fish are 0.9 and 1.3 respectively.  The Yellowstripe scad breeding season in Manado Bay waters takes place after the fourth week in April. The size of the first time ripe gonad Yellowstripe scad male and female 189 mm. The fecundity ranged from 1,960 - 29,145 with an average of 11,716 ± 6,088.Keywords: Yellowstripe scad, reproductive biology, Manado Bay ABSTRAKPerairan Teluk Manado adalah perairan yang memiliki sumberdaya hayati cukup banyak. Salah satu sumberdaya di perairan tersebut yaitu ikan Selarkuning (Selaroides leptolepis). Penelitian itu bertujuan untuk mengetahui karakteristik reproduksi ikan Selarkuning (Selaroides leptolepis) dengan melihat dari rasio kelamin jantan dan betina, pola pertumbuhan dengan faktor kondisi pada jantan dan betina, tingkat kematangan gonad (TKG), indeks kematangan gonad (IKG), ukuran pertama kali matang gonad, dan fekunditas.      Sampel ikan diambil dari hasil tangkapan nelayan di perairan Teluk Manado pada bulan April-Mei 2018. Pengambilan sampel ikan menggunakan metode penarikan secara acak berlapis. Jumlah sampel sebanyak 200 ekor, diambil empat kali dalam dua bulan. Berdasarkan uji Chi-square, rasio kelamin ikan Selarkuning (Selaroides leptolepis) di perairan Teluk Manado adalah seimbang. Pola pertumbuhan ikan Selarkuning yaitu bersifat allometrik positif, sedangkan betina bersifat isometrik dengan rata-rata faktor kondisi ikan jantan dan betina mencapai 0,9 dan 1,3. Musim pemijahan ikan Selarkuning di perairan Teluk Manado berlangsung setelah minggu keempat pada bulan April. Ukuran pertama kali matang gonad ikan Selarkuning jantan dan betina 189 mm. Fekunditas ikan Selarkuning berkisar antara 1.960 – 29.145 butir dengan rata-rata 11.716 ± 6.088.Kata kunci: ikan Selarkuning,biologi reproduksi, Teluk Manad
Growing Pattern of Blue Swimming Crab, Portunus pelagicus at Two Different Locations in Manado Bay
Portunus pelagicus (blue swimming crab) is one of the important economical marine commodities produced from Indonesian coastal waters that has increasing market demand among fishery commodities. The purpose of this research is to reveal the relationship of carapace width and weight, the growth pattern and the carapace width-weight ratio of P. pelagicus crabs at two different research sites in Manado Bay. The benefits of this study, can be a reference for further studies on blue swimming crabs, P. pelagicus, and information obtained in this study could become important information needed for the maximum sustainable utilization of blue swimming crab, P. pelagicus.This research was conducted at two locations, namely Kelurahan Bahu, Sub-district of Malalayang with coordinates of 1 ° 27'49.86 "North and 124 ° 49'35.79" East and second location in Tumumpa Dua, Sub-district of Tuminting with coordinates 1 ° 31'14.51"North - 124 ° 50'28.67"East. Samples of blue swimming crabs were collected by deploying traps which are placed at 5-7 meters with the distance between traps 10 meter. Traps were placed at 17.00 pm and lifted on the next day at 06.00 am. Measurement of the width of the carapace conducted by using the ruler with 0.1 cm accuracy and weight measurement using the scales with 0.1 gram accuracy.The correlation value obtained for the wide and weight relationship of blue swimming crabs in the Sub-district of Malalayang is 0.953 for males and 0.898 for females. In Kelurahan Tumumpa Dua, Sub-dis ittrict of Tuminting 0.829 for males and 0.920 for females respectively. Based on these values the increase in the width of the carapace will affect the weight gain of the crab. The growth pattern of P. pelagicus crab in Kelurahan Bahu, Sub-district of Malalayang and Tumumpa Dua Sub-district Tuminting showed negative allometric growth pattern with b <3 value which means faster carapace growth compared to the weight of crab. From the result of chi square test on wide body and weight relationship analysis, is found same for both locations with value x2 table = 7.815 <x2 count = 112.3134. This is presumably due to one of the external factors is the availability of food.Keywords: Rajungan, growth pattern, Manado Bay AbstrakPortunus pelagicus merupakan salah satu komoditi hasil laut ekonomis penting yang dihasilkan dari perairan pantai Indonesia dengan permintaan pasar terhadap komoditas rajungan yang terus meningkat. Adapun tujuan penelitian ini yaitu mengetahui hubungan lebar berat rajungan P. pelagicus, pola pertumbuhan rajungan P. pelagicus dan perbandingan lebar berat rajungan P. pelagicus di dua lokasi penelitian yang berbeda di Teluk Manado. Manfaat penelitian ini, dapat menjadi bahan acuan untuk studi lebih lanjut mengenai rajungan P. pelagicus serta infomasi yang didapat dalam penelitian ini bisa menjadi bahan kajian untuk pemanfaatan rajungan P. pelagicus secara maksimal serta berkelanjutan.Penelitian ini dilaksanakan pada dua lokasi yakni di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang dengan koordinat 1°27'49.86"LU - 124°49'35.79"BT dan lokasi kedua di Kelurahan Tumumpa Dua Kecamatan Tuminting dengan koordinat 1°31'14.51"LU - 124°50'28.67"BT. Pengambilan sampel dilakukan dengan alat tangkap bubu yang diletakan pada kedalam 5-7 meter dengan jarak antara bubu 10 meter. Bubu diletakan pada pukul 17.00 wita dan diangkat pada esok harinya pukul 06.00 wita. Pengukuran lebar karapas menggunakan mistar dengan ketelitian 0,1 cm dan pengukuran berat tubuh menggunakan timbangan 0,1 gr.Nilai korelasi yang didapat untuk hubungan lebar berat rajungan P. pelagicus di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang 0,953 untuk jantan dan 0,898 untuk betina. Di Kelurahan Tumumpa Dua Kecamatan Tuminting 0,829 untuk jantan dan 0,920 untuk betina. Berdasarkan nilai tersebut pertambahan lebar karapas akan berpengaruh pada kenaikan berat tubuh dari rajungan. Pola pertumbuhan rajungan P. pelagicus di Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang dan di Kelurahan Tumumpa Dua Kecamatan Tuminting menunjukan pola pertumbuhan yang bersifat allometrik negatif dengan nilai b < 3 yang berarti pertumbuhan karapas lebih cepat dibandingkan pertambahan berat rajungan. Dari hasil analisis chi square lebar berat tubuh, sama untuk kedua lokasi penelitian dengan nilai x2 tabel = 7,815 < x2 hitung = 112,3134. Hal ini diduga karena salah satu faktor eksternal yakni ketersediaan makanan.Kata kunci : Rajungan, Pola pertumbuhan, Teluk Manado
The Antibacterial Activity Of Several Sponges From The Waters Of Tasik Ria Against Escherichia coli And Staphylococcus aureus bacteria
The sponge is one of the sea organisms that has a prospect as a source of natural compounds including peptides, steroids, asetogenin, terpenoids, alkaloids, cyclic halide and nitrogen. This research was directed to obtain several species of sponges from the waters of Tasik Ria as well as testing the antibacterial activity of extracts from some of the sponge against the bacteria Escherichia coli and Staphylococcus aureus. From the identification, seven species of sponges were found, which consists of: Amphimedon sp., Axinosa sp., Aaptos sp., Theonella sp., Cribochalina sp., Hyrtios sp., and Lendenfeldia sp. The tests of antibacterial activity of the extracts from these sponges against test bacteria E. coli and S. aureus showed some positive results. Extract from Axinosa sp. sponge(16 mm) showed the strongest antibacterial activity on Escherichia coli bacteria. Followed by Hyrtios sp. extract (13.5 mm), Aaptos sp. extract (13 mm), Lendenfeldia sp. extract (13 mm) and Cribochalinai sp. extract(10.5 mm). While the the tests on Staphylococcus aureus bacteria showed that the strongest antibacterial activity was found from Axinosa sp. sponge extract (16.5 mm), followed by the extract from Aaptos sp. (15 mm), Lendenfeldia sp. extract (14.5 mm), Hyrtios sp. extract(13.5 mm) and Cribochalina sp. extract (11 mm).Keywords: Sponge, antibacterial, Escherichia coli, Staphylococcus aureus ABSTRAK Spons merupakan salah satu biota laut yang sangat prospektif sebagai sumber senyawa bahan-bahan alami antara lain peptide, terpenoid, steroid, asetogenin, alkaloid, halide siklik dan senyawa nitrogen. Penelitian ini diarahkan untuk mendapatkan beberapa spesies spons dari perairan Tasik Ria serta menguji aktivitas antibakteri dari beberapa ekstrak spons terhadap bakteri Escherichia coli dan bakteri Staphylococcus aureus. Hasil identifikasi spons ditemukan sebanyak tujuh spesies yang terdiri dari: Amphimedon sp., Axinosa sp., Aaptos sp., Theonella sp., Hyrtios sp., Cribochalina sp. dan Lendenfeldia sp.. Aktivitas antibakteri dari beberapa ekstrak spons terhadap bakteri uji E. coli dan S. aureus terdapat diameter zona hambat bervariasi yaitu bakteri Escherichia coli menunjukkan aktivitas antibakteri ekstrak spons terkuat pada spons Axinosa sp (16 mm), disusul ekstrak spons Hyrtios sp. (13,5 mm), ekstrak spons Aaptos sp. (13 mm), ekstrak spons Lendenfeldia sp. (13 mm) dan ekstrak spons Cribochalinai sp. (10,5 mm). Sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus menunjukkan aktivitas antibakteri ekstrak spons terkuat yaitu: ekstrak spons Axinosa sp. (16,5 mm), disusul ekstrak spons Aaptos sp. (15 mm), ekstrak spons Lendenfeldia sp. (14,5 mm), ekstrak spons Hyrtios sp. (13,5 mm) dan ekstrak spons Cribochalina sp.(11mm).Kata Kunci : Spons, Antibakteri, Escherichia coli, Staphylococcus aureu
The Inventory of Seagrasses in Marine Field Station of Faculty of Fisheries and Marine Science in Subdistrict of East Likupang District North Minahasa
This study was conducted in Marine Field Station of Faculty of Fisheries and Science of Sam Ratulangi University, Sub-district of East Likupang, North Minahasa. This study aims to identified the seagrasses in the water of Marine Field Station. The benefits of this study are for the database of seagrasses ecosystem management and comparative for other studies. The Observation and data collection was using random survey technic by analyzed the areas to collecting all the seagrass species found. Furthermore, the seagrass samples were categorised into each species. The result showed the amount of seagrass species in Marine Field Station are 8 species from 6 genera and 2 families: Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides,  Halophila ovalis, dan Halophila minor.Keyword: Inventory, Seagrass, Marine Field Station ABSTRAKPenelitian dilakukan di perairan Marine Field Station Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Kecamatan Likupang Timur Kabupatan Minahasa Utara. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi lamun yang ada di Perairan Marine Field station. Manfaat penelitian dapat menjadi data pengelolaan ekosistem padang lamun dan dapat menjadi perbandingan untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Pengamatan dan pengambilan sampel menggunakan teknik survei jelajah, yaitu dengan menjelajahi wilayah pengamatan sambil mencari semua spesies lamun. Lamun yang diambil adalah semua jenis yang ditemui. Selanjutnya, sampel lamun dikelompokan berdasarkan spesies. Hasil pengamatan menunjukkan jumlah spesies lamun pada lokasi penelitian di Perairan Marine Field Station adalah 8 spesies dari 6 genera dan 2 famili yaitu, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Halodule uninervis, Syringodium isoetifolium, Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides,  Halophila ovalis, dan Halophila minor. Kata kunci: Inventarisasi, Lamun, Marine Field Statio
Fish Species and Abundance in the Intertidal Zone around UNSRAT Marine Station, East Likupang District, North Minahasa Regency
Fish migration to the intertidal zone at high tide is for feeding, reproduction, escape from predator. The study was aimed to know the fish species inhabiting the intertidal zone, the individual abundance and fish catch biomass. Sampling was done at high tide in the afternoon and morning in new moon and full moon. Five sampling stations were selected and each station was sampled twice, so that total number of samplings were 10. This study used swept area method and covered a total area of 12,000/m2 (6,000m2 in new moon and full moon, respectively. Individual abundance of each species ranged from 0.0002 to 0.0120/  at new moon and from 0.00012 to 0.0102/  at full moon, respectively, and total abundance ranged from 0.0001 to 0.0111/  in both moon phases. The biomass of each species on the new moon 0.0003t o 0.1749g/ , full moon 0.0009 to 0.1224g/ , and the amount of biomass between the new moon and the full moon 0.0002 to 0,1329g/ .Keywords: Fish, migration, intertidal, reproduction.AbstrakIkan bermigrasi ke dalam zona intertidal pada saat air pasang adalah untuk mencari makan, bereproduksi, dan menghindar dari predator. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies-spesies ikan yang ada didaerah intertidal dan mengetahui kelimpahan individu dan biomasa ikan yang tertangkap di daerah intertidal. Pengambilan sampel dilaksanakan pada ketika air pasang pada sore dan pagi hari setiap fase bulan baru dan purnama. Ditetapkan lima stasiun sampling dan setiap stasiun dilakukan dua kali sampling, sehingga jumlah sampling dalam lima stasiun 10 kali sampling. Dengan metode penelitian yang digunakan adalah metode swept area (daerah sapuan). Luas daerah sapuan pukat dalam 10 kali sampling adalah 12.000/m2 (6.000m2 pada bulan baru dan bulan purnama), Kelimpahan individu setiap spesies pada bulan baru berkisar antara 0,0002-0,0120/ , bulan purnama 0,00012-0,0102/ , dan jumlah kelimpahan antara bulan baru dan purnama 0,0001-0,0111/ . Kelimpahan biomasa setiap spesies yang paling melimpah pada bulan baru 0,0003-0,1749g/ , bulan purnama 0,0009-0,1224g/ , dan jumlah biomasa antara bulan baru dan purnama 0,0002-0,1329g/ ..Kata kunci : Ikan, bermigrasi, intertidal, reproduks