Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
    481 research outputs found

    The biodiversity of macroalgae in the coastal waters of Tongkaina, Manado City

    Get PDF
    This study was carried out in coastal waters of Tongkaina, Manado City with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection used exploring survey. Results found 15 species that consisted 7 species of green algae, 4 species of brown algae, and 4 species of red algae.Keyword: Macroalgae, Tongkaina.  AbstrakPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir Tongkaina, Kota Manado dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Survei Jelajah. Hasil penelitian menemukan 15 spesies, yang terdiri dari 7 spesies alga hijau, 4 spesies alga cokelat dan 4 spesies alga merah.Kata Kunci: makroalga, Tongkaina

    Otolith Morphometrics of Selar Crumenophthalmus From Kema Strait

    Get PDF
    Otolith or ear stone of fish,  known as a result of biomineralization which takes place in the body of the fish. In some studies, otolith used to estimate age and stock structure of the fish.  The otolith  was categorized into three  types called sagitta, lagena and utrikulus and  the most widely studied. This study was designed to describe the characteristics  of the otolith of S. crumenophthalmus  by implementing  six index form descriptors.Tthe  study also dimed at determinition the relationship of fish length and otolith length as well as otolith width .  Linear regression approch was used to analyse the relationship of fish length and whole characteristics otolith . Those parameters were analysed using Excel and application R program  ( the package the FSA ). The results  show that otolith S.crumenophthalmus  sagitta has 6 descriptor indicees thatt are as follow: 1) the irregular surface (from factor < 1), 2) comparison against a full round (roundness ≠ 1), no 3) (full circle-shaped circularity: 21), 4) do not form a perfect square (R ≠ 1) and 5 axis) changes of 28-29 and 6) form a somewhat elongated (aspect ratio > 1). The value index  otolith form is showed ellipse.Based on the results of the analysis, the otolith left and right (length, width, perimeter, and area) otolith males S. crumenophthalmus has no different. Same alsois found on the case of males otolith, left and on right (long) females otolith S. crumenophthalmus does not differ except the width of the otolith, the area and perimeter size of a different otolith real. The relationship between  the length size and width dimensions of otolith with the total length of the fish has a linear relationship. The second parameter of the linear relationship is marked by the determination coefficient values on otolith length varies between 0,56-0,62 and its width ranged from 0.49 to 0.69. For female fish, otolith lenght detemination coefficient varies between 0.27 and 0.25 to its width ranges from 0.15 to 0.19.Key words: S.crumenophthalmus, otolith Morfometrik, Gulf of Kema AbstrakOtolit atau batu telinga ikan dikenal sebagai hasil dari biomineralisasi yang berlangsung dalam  tubuh  ikan. Pada beberapa studi, otolit digunakan  untuk mengestimasi umur ikan serta struktur stok. Dari tiga (3) organ otolit (sagitta, utrikulus dan lagena), yang paling banyak diteliti adalah otolit sagitta.Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mendeskripsikan karakter otolit ikan Selar crumenophthalmus (yang  mengunakan   6 deskriptor indeks bentuk) dan menentukan hubungan panjang tubuh ikan dengan panjang otolit serta lebarnya.Hubungan ukuran otolit terhadap panjang total ikan dianalis mengunakan persamaan regresi linier sederhana. Alat yang digunakan untuk menganalisis bentuk serta hubungan otolit menggunakan aplikasi Excel serta program R package FSA.Dari hasil analisis, otolit sagitta ikan Selar crumenophthalmus memiliki 6 deskriptor indeks yang hasilnya adalah : 1) permukaan yang tidak teratur (from factor < 1), 2) perbandingan terhadap bulat penuh (roundness ≠1), 3) tidak berbentuk  lingkaran penuh (circularity: 21), 4) tidak membentuk persegi sempurna (R≠1) dan 5) perubahan sumbu sebesar 28-29 serta 6) bentuk agak memanjang (aspect ratio >1). Dari nilai indeks bentuk tersebut, otolit Selar crumenophthalmus menunjukan bentuk yang elips.Berdasarkan hasil analisis, otolit kiri dan kanan (panjang, lebar, , perimeter area /luas) otolit jantan Selar crumenophthalmus tidak berbeda nyata. Sama halnya dengan otolit jantan, kiri dan kanan (panjang) otolit betina Selar crumenophthalmus tidak berbeda nyata, namun lebar otolit, area serta perimeter otolit berbeda nyata.Hubungan antara dimensi ukuran panjang dan lebar otolit dengan  panjang total  ikan memiliki hubungan linier. Hubungan linear kedua parameter tersebut ditandai dengan nilai koefisien determinasi pada panjang otolit ikan jantan  bervariasi antara 0, 56- 0, 62 dan lebarnya berkisar antara 0,49 sampai 0,69. Untuk ikan betina, koefisien deteminasi panjang otolit bervariasi antara 0,25 sampai 0,27 dan lebarnya berkisar antara 0,15 sampai 0,19.Kata kunci: Selar crumenophthalmus,  Morfometrik otolit, Teluk Kem

    The Identification Of Morphometric Characteristics And Fattenning Of Mud Crabs (Scylla spp.) In Para Island, Tatoareng District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province

    Get PDF
    The purpose of this study was to identify the morphometric characters of mangrove crabs Scylla spp. and to grow them on the island of Para Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province. There were 2 types of crabs found during crab’s collection. However, the most abundant one was Scylla serrata while the olivacea is only one tail. The results of this study indicate that mangrove crabs that were kept for 2 weeks feed on trash fish three times a day experience growth. Based on the results of the study, it can be concluded that: the type of crab found on Pulau Para, Tatoareng District, Sangihe Islands Regency, North Sulawesi Province were mostly S. serrata (34 tails) and one tail of S. olivacea. The fattening of mangrove crabs showed results on the body weight and carapace length.Further research on mangrove crabs needs to be done on different aspects such as preferable food and time of the abundancy.Keywords: Crab, Scylla spp., identification, fattening. ABSTRAK       Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter morfometrik kepiting bakau Scylla spp dan cara penggemukannya di Pulau Para Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara. Dua jenis kepiting bakau ditemukan saat pengumpulan data, namun yang ditemukan paling banyak adalah Scylla serrata, sedangkan S. olivacea hanya 1 ekor saja.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepiting bakau yang dipelihara selama 2 minggu dengan diberi pakan ikan rucah sebanyak tiga kali sehari mengalami pertumbuhan. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: jenis kepiting yang ditemukan di Pulau Para Kecamatan Tatoareng Kabupaten Kepulauan Sangihe Provinsi Sulawesi Utara adalah Scylla serrata (34 ekor) dan S. olivacea (1 ekor). Penggemukan kepiting bakau dengan pakan ikan rucah tiga kali sehari menunjukan adanya pertumbuhan berat badan dan panjang lebar karapas.     Penelitian lanjutan tentang kepiting bakau perlu dilakukan untuk melihat berbagai aspek seperti makanan kesukaan dan waktu kelimpahanya.Kata kunci : Kepiting, Scylla spp, identifikasi, penggemukan

    The Coral Fish in the Coastal Areas, Likupang Kampung Ambong Village, East Likupang District, North Minahasa Regency

    Get PDF
    The aims of this study, 1). To find out the number of species and the abundance of coral fishes; 2). To find out the biomasssa of target fish in carnivorous and herbivorous groups. Data collection was carried out at 5 meters depth using the Underwater Visual Census (UVC) method. The area observation is 150 m2. Coralivorous fish are found with 8 species and are categorized as medium. 28 species of target fish were found from carnivorous fish (13 species), and herbivorous fish (15 species).  For total individual number that is 81 individuals and a density that is 3240 individuals/Ha. The highest number of individuals is found in herbivorous fish. The high value of the ecological index shows the stability of the community and the ability of the environment that allows species of fish to grow and develop in their habitat. The target fish is generally in the class size of 16-20 cm and 21-25 cm. In general, reef fish from the group of herbivores are most commonly found in this location.Keywords: Coral Fishes, Likupang Kampung Ambong ABSTRAK Tujuan penelitian, yaitu 1). Untuk mengetahui jumlah spesies dan kelimpahan individu ikan karang; 2). Untuk mengetahui biomasssa ikan target kelompok karnivora dan herbivora.  Pengambilan data dilakukan pada kedalaman 5 meter dengan metode Underwater Visual Census (UVC). Luas areal pengamatan adalah 150 m2.   Ikan koralivora yang ditemukan berjumlah 8 spesies dan dikategorikan sedang.  Ditemukan 28 jenis ikan target dari ikan karnivora (13 spesies), dan ikan herbivora (15 spesies).  Untuk kelimpahan individu total yaitu 81 individu dan densitas 3240 individu/Ha.  Jumlah individu tertinggi ditemukan pada ikan herbivora.  Tingginya nilai indeks ekologi menunjukkan kemantapan komunitas dan kemampuan lingkungan yang memungkinkan jenis-jenis ikan untuk bertahan dan berkembang pada habitatnya.  Ikan target umumnya pada kelas ukuran 16 - 20 cm dan 21 – 25 cm.  Pada umumnya ikan karang dari kelompok herbivora yang paling banyak ditemukan di lokasi ini. Kata Kunci: Ikan Karang, Likupang Kampung Ambong, Biomass

    Some Biological Aspects of Freshwater Lobsters, Cherax quadricarinatus, in Ralik River of Southeast Minahasa and in Tondano Lake of Minahasa

    Get PDF
    The purpose of this study was to determine the relationship between the length of weight, the growth patterns and the biological conditions of freshwater crayfish, Cherax quadricarinatus, in two different locations namely river and lake.  Sampling in Ralik river of Southeast Minahasa, used a sibu-sibu fishing gear (salapa) by traversing the river (opposite the current) from the point of the pick up location until the sampling point taken. As for sampling at Tondano Lake of Minahasa, it was carried out by buying directly from local fishermen who used bubu as a fishing tool. Furthermore, samples from these two locations were analyzed at the Freshwater Bioecology Laboratory of FPIK UNSRAT Manado.The results obtained from this study are the linear equation of the relationship of the length of weight in the river for male lobsters W = -1.761049+ 3.1153 log L, and W = -1.647836 + 2.957268 log L for female lobsters; in the lake W = -1,494 + 2,8495 log L for males and females W = -1,388 + 2,7198 log L. The growth pattern of male and female lobsters in river and males in the lake is isometric; whereas females in allometric lakes. The value of the biological condition of the river male losbters ranged from 0.90 to 1.14 with an average value of 1.004 ± 0.06, whereas in lake male lobster the value of the condition factor ranged from 0.83 to 1.23 with an average value of 1.004 ± 0.09. The value of the condition of river female lobsters with a range between 0.82-1.18 with an average value of 1.004 ± 0.89 and the condition factor of lake female lobsters ranged from 0.90 to 1.11 with an average value of 1.001 ± 0.06. This shows that the body condition of a fat lobsters were good enough. Keywords: Freshwater Lobster, Long-weight, Growth pattern, Factor of biological conditions. ABSTAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan panjang berat, pola pertumbuhan faktor kondisi biologis dari lobster air tawar Cherax quadricarinatus di dua lokasi berbeda yaitu sungai dan danau. Pengambilan sampel di Sungai Ralik, Minahasa Tenggara menggunakan alat tangkap sibu-sibu (salapa) dengan cara menyusuri sungai (berlawanan arus) dari titik lokasi pengambilan sampai batas pengambilan sampel dilakukan. Adapun pengambilan sampel di Danau Tondano Minahasa, dilakukan dengan cara membeli langsung dari nelayan lokal yang memakai bubu sebagai alat tangkap. Sampel-sampel yang diperoleh selanjutnya dianalisis di Laboratorium Bioekologi Perairan Tawar FPIK UNSRAT Manado.Hasil yang didapat dari penelitian ini yakni persamaan linier hubungan panjang berat di sungai untuk jantan W = -1,761049+ 3.1153 log L, dan W = -1,647836 + 2,957268 log L untuk betina; di danau W = -1,494 + 2,8495 log L untuk jantan dan betina W = -1,388 + 2,7198 log L. Pola pertumbuhan lobster jantan dan betina di sungai dan jantan di danau adalah  isometrik; sedangkan betina di danau allometrik. Nilai faktor kondisi biologis lobster jantan sungai berkisar antara 0,90-1,14 dengan nilai rata- rata 1,004±0,06, sedangkan lobster jantan danau berkisar antara 0,83-1,23 dengan nilai rata-rata 1,004±0,09. Nilai faktor kondisi lobster betina sungai berkisar antara 0.82-1.18 dengan nilai rata-rata 1,004±0,89 dan lobster betina danau berkisar antara 0,90-1,11 dengan nilai rata-rata 1,001±0,06. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi badan lobster cukup baik. Kata kunci : Lobster air tawar, Panjang-berat, Pola pertumbuhan, Faktor kondisi biologis

    Economic Valuation of Pasirpanjang Ecotourism in Lembeh Island

    Get PDF
    Ecotourism is viewed as an economic incentive for the communities living near the protected areas, as well as a tool to enhance their participation to preserve an ecosystem. Pasirpanjang Ecotourism Area in Lembeh Island has been developed since some part of its’ waters were promoted as a Coastal and Small Island Conservation Area of Bitung City in 2014. The aims of this study are to estimate the economic value of Pasirpanjang Ecotourism Area using Zonal Travel Cost Method and resulting a policy recommendation to develop Pasirpanjang Ecotourism. This study was conducted in Pasirpanjang village, Sub-district of South Lembeh on May 2018. The result showed the total economic value of Pasirpanjang Ecotourism is Rp. 1,610,786,697 per annum. The result also indicated the importance of ecotourism concept to be considered by government in managing mangrove ecosystems. The potential value of the area of Pasirpanjang Ecotourism could be considered as a long term economic asset and for the sustainability of the conservation as well.Key Words: Economic Value, Pasirpanjang Ecotourism Area, Economic Incentive, Zonal Travel Cost MethodABSTRAKEkowisata dipandang sebagai insentif ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar area perlindungan, serta menjadi alat untuk meningkatkan partisipasi mereka dalam upaya pelestarian suatu ekosistem. Ekowisata Pasirpanjang di Pulau Lembeh telah dikembangkan sejak wilayah perairan di sekitarnya dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kota Bitung pada tahun 2014. Penelitian ini bertujuan untuk menaksir nilai ekonomi dari Ekowisata Pasirpanjang menggunakan Metode Biaya Perjalanan Zonasi (Zonal Travel Cost Method) dan menghasilkan rekomendasi kebijakan untuk pengembangan kawasan Ekowisata Pasirpanjang. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Pasirpanjang di bagian selatan Pulau Lembeh pada bulan Mei 2018. Berdasarkan estimasi nilai ekonomi dari Ekowisata Pasirpanjang adalah sebesar Rp. 1.610.786.697 per tahun. Estimasi nilai tersebut menunjukan pentingnya konsep ekowisata sebagai pertimbangan oleh pemerintah dalam mengelola ekosistem mangrove. Potensi nilai Ekowisata tersebut juga dapat dipertimbangkan sebagai aset ekonomi jangka panjang dan keberlanjutan pelestarian. Kata kunci: Nilai ekonomi, Kawasan Ekowisata Pasirpanjang, Insentif ekonomi, Zonal Travel Cost Metho

    The biodiversity of macroalgae in the coastal waters of Blongko Village, Sub-District of Sinonsayang, District of South Minahasa

    Get PDF
    This study was carried out in coastal waters of Blongko Vilage, Sub-District of Sinonsayang, District of South Minahasa with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection used exploring survey. Results found 14 species that consisted 8 species of green algae, 2 species of brown algae, and 4 species of red algae.Keyword: Macroalgae, Blongko.  Abstrak Penelitian ini dilakukan di perairan pesisir Blongko, Kecamatan Sinonsayang, Kabupaten Minahasa Selatan dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode Survei Jelajah. Hasil penelitian menemukan 14 spesies, yang terdiri dari 8 spesies alga hijau, 2 spesies alga cokelat dan 4 spesies alga merah.Kata Kunci: makroalga, Blongko

    Amplification Of Bacterial Isolate Sf1 Associated With Sponge Facaplysynopsis sp. From Tongkeina, North Sulawesi

    Get PDF
    This study was conducted with the aim of amplifying the isolate of SF1 symbiont sponge Facaplysynopsis sp.  from Tongkeina, North Sulawesi. Samples are obtained and stored in the Lab. Molecular Biology and Marine Pharmacology, FPIK Unsrat. The genomic DNA of the samples was isolated using protocols from the Innu PREP Mini DNA Kit. The DNA of the SF1 symbionary bacteria was amplified by PCR (Polymerase Chain Reaction) using an 8F primer (5'-AGAGTITGATCCTGGCTA-3 ') and 1492 R (5'TACCTTACGACTT-3'). DNA bacteria SF1 successfully amplified marked by the appearance of the band of DNA that looks less clear, with a length of 600 bp.Keywords: Bacterial Isolate, Sponge,  AmplificationABSTRAKPenelitian ini dilakukan dengan tujuan mengamplifikasi isolat bakteri SF1 simbion spons Facaplysynopsis sp dari perairan Tongkeina, Sulawesi Utara. Sampel diperoleh dan tersimpan di Lab. Biologi Molekuler dan Farmasitika Laut, FPIK Unsrat. DNA genom dari sampel diisolasi menggunakan protokol dari Innu PREP DNA Mini Kit. DNA bakteri simbion SF1 diamplifikasi dengan PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan menggunakan primer 8F (5’-AGAGTITGATCCTGGCTA-3’) dan 1492 R (5’TACCTTACGACTT-3’). DNA bakteri SF1 berhasil diamplifikasi ditandai dengan munculnya pita DNA yang terlihat kurang jelas, dengan panjang 600 bp.Kata Kunci: Bakteri Simbion, Spons, Amplifikas

    Predatorism and Cannibalism of Fish Betutu (Oxyeleotris marmorata Blkr.) In Lake Tondano, Minahasa regency, North Sulawesi

    Get PDF
    Aims of this study is to determine the ability of marble goby to prey other fish and other marble goby in Tondano Lake. This research was conducted in August 2017 to December 2017. Measure of aquarium used as container is 120 cm x 40 cm x 40 cm which was divided into 2 parts, equipped with a camera in addition to observe the reaction of predation on marble goby. To know the predation behaviour of marble goby, using sample size is <15 cm and> 15 cm, and the prey fish is used was silver barb (Puntius javanicus) size is 10 cm - 20 cm. To determine the cannibal behaviour is used marble goby size is <15 cm and> 20 cm, and prey another marble goby size is 10-20 cm. The results showed the fastest predatorism reaction of marble goby attack silver barb occurred is 6 minutes after treatment, and the fastest cannibalism reaction of marble goby occurred after 45 minutes.Keywords: Betutu, Lake Tondano, Cannibalism, Predation, Predatorism. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan ikan betutu dalam memangsa ikan lain dan sesama ikan betutu di Danau Tondano. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2017 sampai Desember 2017. Wadah yang digunakan adalah akuarium berukuran 120 cm x 40 cm x 40 cm yang dibagi menjadi 2 bagian dengan menggunakan sekat, dilengkapi dengan kamera untuk mengamati reaksi pemangsaan ikan betutu. Untuk mengetahui sifat predator ikan betutu digunakan sampel berukuran <15 cm dan >15 cm, dan mangsa yang digunakan adalah ikan tawes (Puntius javanicus) yang berukuran 10 cm - 20 cm. Untuk mengetahui sifat kanibal ikan betutu digunakan ikan betutu berukuran <15 cm dan >20 cm, dan mangsa ikan betutu berukuran 10-20 cm. Hasil penelitian menunjukkan reaksi tercepat predatorisme ikan betutu terhadap ikan tawes terjadi setelah 6 menit setelah perlakuan, dan reaksi tercepat kanibalisme ikan betutu terjadi setelah 45 menit.Kata kunci: Betutu, Danau Tondano, Kanibalisme, Pemangsaan, Predatorism

    Structure Of Mangrove Community In Palaes Village Coastal West Likupang District, North Minahasa

    Get PDF
    Indonesia is a tropical archipelago shaped (13,664 Island) with an estimated coastline along (95,181 km) get hold of a good area for the growth of mangrove plants. ). The area thrives in mangrove estuaries or estuaries which is the ultimate goal of the organic particles or sediment mud washed from upstream akibar the presence of erosion. The fertility of the region is also determined by the presence of the nutrient mentransportasi of ups and downs. According to the Directorate General of Rehabilitas Social Forestry land and extensive Mangrove Forests in Indonesia in 1999 was estimated at 8.60 million hectares will be but around 5.30 million hectares in a State of disrepair. While FAO data (2007) extensive Mangrove Forests in Indonesia in 2005 only reaches 3,062,300 haor 19% of the vast Mangrove Forests in the world and the largest in the world surpassing Australia (10%) and Brazil (7%). Mangrove forest condition in the village of Palaes still good enough, this is because the villagers very Palaes keep the existence of mangrove forests. Additionally the utilization of mangrove forests for household needs Palaes's village community is relatively small and yet still giving effect to the environment of mangrove ecosystems. This funded research activities in the area of the coastal village of Palaes Sub-districtLikupang Barat Regency North Minahasa in North Sulawesi province, in may 2016. Use the quadrant method followed by the analysis of the community structure. Quadrant method undertaken by the way pull line transek daro land into the ocean then put the quadrant line 10. After quadrant is laid do data retrieval of vegetation after it conducted an analysis of the data by using the structure of the community. Based on the types of mangroves found in the village of Palaes Sub-district Likupang Barat Regency North Minahasa mangrove species found 6 different family and Rizhopora apiculata is a species of the most influential in the mangrove community in the area of such. And found the value of diversity index 1.73. The identification of the types of mangroves found in the village of Palaes Sub-district Likupang Barat Regency North Minahasa found as many as 501 individuals from 6 species in 4 families namely Rizophoraceae, Lytraceae, Meliaceae and Avicenniaceae as for species found namely Rizhopora mucronata, Sonneratia caseolaris, Rizhopora apiculata and Bruguiera gymnorrhiza, Xylocarpus granatum,and Avicennia officinalis.­­Keys: Mangrove, environment, vegetation, komonitas. AbstrakIndonesia merupakan daerah tropis berbentuk kepulauan (13.664 pulau) dengan garis pantai yang diperkirakan sepanjang (95.181 km) meenjadi kawasan yang baik bagi pertumbuhan tanaman mangrove. ). Mangrove tumbuh subur di daerah muara sungai atau estuari yang merupakan daerah tujuan akhir dari partikel-partikel organik ataupun endapan lumpur yang terbawa dari daerah hulu akibar adanya erosi. Kesuburan daerah ini juga ditentukan oleh adanya pasang surut yang mentransportasi nutrient.Berdasarkan data Direktorat Jendral Rehabilitas Lahan dan Perhutanan Sosial luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8.60 juta hektar akan tetapi sekitar 5.30 juta hektar dalam keadaan rusak. Sedangkan data FAO (2007) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3,062,300 ha atau 19% dari luas hutan Mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) dan Brazil (7%).Kondisi hutan mangrove di Desa Palaes masih cukup baik, hal ini dikarenakan masyarakat Desa Palaes sangat menjaga keberadaan hutan mangrove. Selain itu pemanfaatan hutan mangrove untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat Desa Palaes relatif masih kecil dan belum menimbulkan dampak terhadap lingkungan ekosistem mangrove.Kegiatan Penelitian ini di laksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara, pada bulan Mei 2016. Menggunakan metode kuadran yang dilanjutkan dengan analisis struktur komunitas.Metode kuadran dilakukan dengan cara menarik line transek daro darat ke laut kemudian meletakkan sebanyak 10 line kuadran tersebut. Setelah kuadran diletakkan dilakukan pengambilan data vegetasi setelah itu dilakukan analisis data dengan menggunakan struktur komunitas.Berdasarkan jenis mangrove  yang ditemukan di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara ditemukan  6 spesies mangrove dari famili yang berbeda dan Rizhopora apiculata  merupakan spesies yang paling berperan dalam komunitas mangrove di daerah tersebut. Dan didapati nilai indeks keanekaragaman 1,73.Identifikasi jenis mangrove yang ditemukan di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara ditemukan sebanyak 501 individu dari 6 spesies yang termasuk dalam 4 famili yaitu Rizophoraceae, Lytraceae, Meliaceae dan Avicenniaceae Adapun spesies yang ditemukan yaitu  Rizhopora mucronata, Rizhopora apiculata, Sonneratia caseolaris dan Xylocarpus granatum, Bruguiera gymnorrhiza,dan Avicennia officinalisKeys : Mangrove,Lingkungan, Vegetasi, komonitas. Â

    459

    full texts

    481

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah PLATAX
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇