Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
481 research outputs found
Sort by
Analysis Of Upwelling Event Based On Satellite Imagery In Fishery Management Area (FMA) 716
Oceanographic parameters are very important to analyze for determining fishing ground, it is related to upwelling. The aim of the study was to see the analysis of chlorophyll-a concentration at the time of upwelling at Fisheries Management Area (FMA) 716, then verify with the fisheries catch data. The research method is descriptive-analytical and statistical, which aims to describe or provide an overview of chlorophyll-a results from ASCAT imagery on the MetOp and NOAA satellites, and sea surface temperature results from MODIS imagery on the Aqua satellite. Then they processed for statistical correlation using the Pearson correlation method. The results showed that based on spatial and temporal analysis, the parameters that affect the upwelling in FMA 716 are sea surface temperature, so that the water mass moves from west to east, and increase the chlorophyll-a concentration. Pearson correlation shows that the correlation value of chlorophyll-a is higher than the sea surface temperature parameter with a value of 0.72. The fish catches data of yellowfin tuna (Thunnus albacares) appears a positive effect with a correlation value of 0.75. AbstrakKonsentrasi klorofil-a dan suhu permukaan laut merupakan parameter yang dapat dijadikan indikator tingkat kesuburan di suatu perairan, yang berkaitan dengan kejadian upwelling. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis konsentrasi klorofil-a pada saat kejadian upwelling di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 716, dengan output berupa tabel dan grafik, kemudian diverfikasi dengan data hasil tangkapan. Metode penelitian adalah deskriptif analitis, dan statistik, yang bertujuan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap data parameter klorofil-a hasil pencitraan ASCAT pada satelit MetOp dan NOAA, dan suhu permukaan laut hasil pencitraan MODIS pada satelit Aqua. Kemudian diolah dan diuji korelasinya secara statistik dengan menggunakan metode korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan analisis spasial dan temporal parameter yang mempengaruhi kejadian upwelling pada WPP 716 adalah suhu permukaan laut, sehingga massa air bergerak dari arah barat menuju timur, dan meningkatkan konsentrasi klorofil-a. Korelasi pearson menunjukkan nilai korelasi klorofil-a lebih tinggi dibandingkan parameter suhu permukaan laut dengan nilai sebesar 0,72. Hasil tangkapan ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) tampak berpengaruh positif dengan nilai korelasi sebesar 0,75.Kata kunci: upwelling, klorofil-a, suhu permukaan laut, Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares), WPP 71
Development Strategy Of Hygienic Fish Marketing In Samudera Fishing Port of Bitung
Hygienic Fish Marketing (HFM) is one of the functional facilities at the fishing port provided to facilitate the marketing of fishery products. The right development strategies of HFM must take into account the potential, opportunities, constraints, and problems. The objectives of this research are (1) to determine the condition of utilization percentage analysis of fish resources landed at HFM and to analyze the level of facility utilization at HFM, and (2) to arrange strategies and recommendations for the development of HFM at PPS Bitung. The research method used to analyze catch prediction data for the next 10 years was arithmetic analysis. Analysis of utilization percentage was used to find out the level of facility utilization at HFM. Analysis of the development strategy of HFM at PPS Bitung used SWOT matrix analysis and QSPM analysis. The projection of fish catch landed over the next 10 years will increase by 24.77% per year, which is predicted to be 83,549.40 tons in 2029. The level of facility utilization is categorized as good with a value of 71.22%, that utilization level of HFM runs optimally. Based on the analysis using the SWOT matrix and QSPM analysis, it was found that the priority strategies are the main choices in the development of HFM at PPS Bitung which increase the operational capacity of loading docks and port ponds.Keywords: TPI hygienic, Development Strategy, Internal, and External FactorAbstrakTPI Higienis merupakan salah satu fasilitas fungsional di pelabuhan perikanan yang disediakan untuk memfasilitasi kegiatan pemasaran hasil perikanan. Strategi pengembangan TPI Higienis yang tepat harus memperhitungkan potensi, peluang, kendala, dan permasalahan. Tujuan dalam penelitian ini yaitu (1) mengetahui kondisi sumberdaya ikan yang didaratkan di TPI Higienis dan menganalisa tingkat pemanfaatan fasilitas di TPI Higienis dan (2) menyusun strategi dan rekomendasi pengembangan TPI Higienis PPS Bitung. Metode penelitian yang digunakan untuk menganalisa data prediksi hasil tangkapan selama 10 tahun kedepan adalah analisa aritmatik. Untuk mengetahui tingkat pemanfaatan fasilitas TPI Higienis, digunakan analisis persentasi pemanfaatan. Analisa strategi pengembangan TPI Higienis PPS Bitung menggunakan analisa matriks SWOT dan analisa QSPM. Proyeksi hasil tangkapan yang didaratkan selama 10 tahun kedepan mengalami kenaikan sebesar 24,77% pertahun sehingga pada tahun 2029 produksi diprediksi sebesar 83.549,40 ton. Tingkat pemanfaatan fasilitas masuk dalam kategori baik dengan nilai 71,22% sehingga tingkat pemanfaatan TPI Higienis berjalan optimal. Berdasarkan hasil analisa menggunakan matrik SWOT dan analisa QSPM didapatkan prioritas strategi yang menjadi pilihan utama dalam strategi pengembangan TPI Higienis di PPS Bitung yakni meningkatkan kapasitas operasional dermaga bongkar dan kolam pelabuhan.Kata kunci: TPI Higienis, Strategi Pengembangan, Faktor Internal dan Eksterna
Community Structure of Ascidian in Mike’s Point Bunaken Waters, Manado City, North Sulawesi Province
Ascidians are marine invertebrates that have been classified with the subphylum Urochordata (Tunicata). These organisms are very important because they contribute a lot to the stability of the marine ecosystem. This study aims to determine the species composition, density, ecological index (diversity, uniformity, dominance), distribution patterns, and substrate occupied by Ascidian. Data were collected at Mike’s Point Bunaken waters at two depths 7 m and 14 m. The method used a direct observation along the 50 m and 2 m width belt transect. In this study, the transect was applied parallel to the coastline at each depth, where 3 replications were performed. The results show 26 species consisting of 13 species at a depth of 7 m and 22 species at a depth of 14 m were identified. The average density of each species was 0.05 ind/m2 at both depths. Diversity Index of 1.76 at 7 m depth and 2.24 at 14 m depth was determined. Uniformity Index was 0.68 at 7 m depth and 0.73 at 14 m depth. Dominant Index of 0.67 at 7 m depth and 0.88 at 14 m depth was also determined. The distribution pattern of species was dominated by uniform distribution, and the substrate most commonly occupied by Ascidianns was dead coral overgrown with algae.Keywords: Ascidian, composition and density, ecological index, distribution pattern, substrate AbstrakAscidian adalah Avertebrata laut yang termasuk dalam subfilum Urochordata (Tunicata). Organisme ini sangat penting karena mereka banyak berkontribusi pada stabilitas ekosistem laut. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi spesies, kepadatan, indeks ekologi (keanekaragaman, keseragaman, dominasi), pola distribusi, dan substrat yang ditempati oleh Ascidian. Data dikumpulkan di Perairan Mike's Point Bunaken pada dua kedalaman 7 m dan 14 m. Metode yang digunakan adalah pengamatan langsung sepanjang transek sabuk 50 m dan lebar 2 m. Transek dipasang sejajar dengan garis pantai dan pada setiap kedalaman. Pengambilan data  dilakukan 3 ulangan. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan 26 spesies yang terdiri dari 13 spesies pada kedalaman 7 m dan 22 spesies pada kedalaman 14 m. Kepadatan total Ascidian pada kedalaman 7 m (0,67 ind/m2) dan pada kedalaman 14 m (1.11 ind/m2). Indeks Keanekaragaman adalah 1,76 pada kedalaman 7 m dan 2,24 pada kedalaman 14 m. Indeks Keseragaman adalah 0,68 pada kedalaman 7 m dan 0,73 pada kedalaman 14 m. Indeks Dominansi 0,67 pada kedalaman 7 m dan 0,88 pada kedalaman 14 m. Pola distribusi spesies didominasi oleh pola distribusi yang seragam, dan substrat yang paling umum ditempati oleh Ascidian adalah karang mati yang ditumbuhi alga.Kata Kunci: Ascidian, komposisi dan kepadatan, indeks ekologi, pola sebaran, substra
Sea cucumber community in the coastal area of the Bahoi Village,West Likupang Sub-district, North Minahasa District
This research is conducted in the coastal waters of Bahoi Village, West Likupang Sub-district, North Minahasa District with the aims to know the types of sea-related environmental factors in the research site and know the community structure of the sea cucumber including the density, Index of diversity, dominance index, and distribution patterns. Data collection was done by using the line transect method, and sampling technique by using quadrat. The results of the study found 5 species of sea cucumber i.e. Holothuria atra,  Holothuria scabra,  Bohadschia marmorata, Actinopyga echinites, and  Bohadschia vitiensis. The individual density of all species is 0.12 ind/m2, and the diversity index (H ') 0.950. The value of the similarity index/compatibility obtained is e = 0.918. The result of the calculated dominance index of sea cucumber species is 1.0 and the pattern of spreading species of sea cucumber in the research site shows a random spread pattern because the value of dispersion index  (I) approaches 1 (one). Keywords: community; Sea cucumber; Bahoi; Dominance; Diversity.AbstrakPenelitian ini dilakukan di perairan pantai desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara dengan tujuan untuk mengetahui jenis-jenis teripang yang ada di lokasi penelitian dan mengetahui struktur komunitas teripang yang meliputi kepadatan, indeks keanekaragaman, indeks dominasi, dan pola penyebaran. Pengambilan data dilakukan dengan metode line transek, dan teknik pengambilan sampel dengan mengunakan kuadrat. Hasil penelitian ditemukan 5 spesies teripang yaitu Holothuria atra, Holothuria scabra, Bohadschia marmorata, Actinopyga echinites dan Bohadschia vitiensis. Kepadatan individu dari seluruh spesies yaitu 0,12 ind/m2, indeks keanekaragaman (H’) 0,950. Nilai indeks kemerataan/keserasian diperoleh nilai indeks e = 0,918. nilai indeks dominasi spesies teripang diperoleh 1,0 dan pola penyebaran spesies teripang dilokasi penelitian menunjukkan pola sebaran acak (random) dikarenakan nilai indeks dispersi (I) mendekati 1 (satu).Kata Kunci : Komunitas; Teripang; Perairan Bahoi; Dominasi; Keanekaragama
Analysis of Bacteria Community in the sediment from Bangka Island, North Sulawesi
Marine sediments are nutrient-rich and is a suitable habitat of bacteria. This research is a preliminary study of molecular analysis to identify the bacteria in the sediments from the littoral area that covered by mangroves in Bangka Island, North Sulawesi. The purposes of this study are to obtain the uncultivated bacterial DNA genome which is used to identify the bacteria and bacterial community in the sediments. Isolation of DNA genome from uncultured bacterial was carried out by following the genomic DNA extraction procedure using the DNeasy® PowerSoil Extraction Kit. Before isolating the bacterial DNA, sample were went through freezing and thawing processes. The DNA isolation result was subsequently tested using electrophoresis and UV-Vis spectrophotometers. Subsequently the genomic DNA was amplified using Polymerase Chain Reaction and the bacteria were identified using Next Generation Sequencing (NGS) analysis. The results of this study showed that the DNA of uncultured bacteria from sediment have the purity of 1.05 and the DNA amplification band was detected at 1300-1600bp. The bacteria in Bangka Island, North Sulawesi sediments were consisted of Gemmatimonadetes, Acidobacteria, Chioroflexi, Firmicutes, Bacteroidetes, Actinobacteria, Cyanobacteria and Proteobacteria respectively. Phylum Proteobacteria was found has the highest relative abundance in the sediment.Keywords : Bacteria, Deoxyribo Nucleic Acid, Sediment, Uncultured. ABSTRAKSedimen laut merupakan suatu habitat yang kaya akan nutrient dan merupakan habitat dari bakteri. Penelitian ini merupakan tahapan awal dalam rangkaian analisis molekuler bakteri yang hidup di sedimen dari daerah litoral yang ditumbuhi oleh mangrove pada Pulau Bangka Sulawesi Utara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan DNA genom bakteri tanpa kultivasi yang digunakan dalam analisis jenis dan komunitas bakteri pada sedimen. Isolasi DNA genom bakteri tanpa kultivasi dilakukan dengan mengikuti prosedur Kit ekstraksi DNA DNeasy® PowerSoil. Sebelum tahap isolasi DNA bakteri, sampel diperlakukan proses freezing and thawing. Hasil isolasi DNA diuji menggunakan elektroforesis dan spektrofotometer UV-Vis. DNA genom diamplifikasi menggunakan Polymerase Chain Reaction dan ditentukan jenis bakteri dengan menggunakan Next Generation Sequencing analysis. Hasil penelitian menujukkan bahwa DNA bakteri tanpa kultivasi memiliki kemurnian 1,05. DNA amplifikasi terdeteksi pada posisi 1300-1600bp. Dan jenis bakteri yang hidup pada sedimen di Pulau Bangka Sulawesi Utara, terdiri dari filum Gemmatimonadetes, Acidobacteria, Chioroflexi, Firmicutes, Bacteroidetes, Actinobacteria, Cyanobacteria dan Proteobacteria. Kelimpahan tertinggi bakteri yang hidup pada sedimen tersebut adalah  filum Proteobacteria.Kata kunci : Bakteri, Deoxyribo Nucleic Acid, Sedimen, Tanpa kultivasi
The biodiversity of macroalgae in the coastal waters of Kora-Kora, East Lembean Sub-District, Minahasa Regency
This study was carried out in coastal waters of Kora-Kora, East Lembean Sub-District, Minahasa Regency with an objective of knowing the taxa composition of macroalgae through morphological studies. Data collection used exploring survey. Results found 10 species that consisted 1 species of red algae (Rhodophyta), 6 species of brown algae (Phaeophyta), and 3 species of green algae (Chlorophyta).Keyword: Macroalgae, Kora-Kora. ABSTRAKPenelitian ini dilakukan di perairan pesisir Kora-Kora, Kecamatan Lembean Timur, Kabupaten Minahasa dengan tujuan untuk mengetahui komposisi taksa makroalga melalui pendekatan morfologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode survei jelajah. Hasil penelitian menemukan 10 spesies, yang terdiri dari 1 spesies alga merah (Rhodophyta), 6 spesies alga cokelat (Phaeophyta)) dan 3 spesies alga hijau (Chlorophyta).Kata Kunci: makroalga, Kora-Kora
Marine Debris Composition on Tasik Ria Beach, Tombariri, Minahasa Regency
Indonesia is referred to as the second largest contributor of marine plastic waste in the world after China, with an estimated 0.48-1.29 million metric tons per year (Jambeck et al, 2015). The main problem today is the lack of information about pollution of marine debris on the coast, especially in North Sulawesi. This study aims to identify the type of marine debris on Tasik Ria Beach using the transect line observation method. Observation of marine debris was carried out 5 times with a total of 10 transects between February and April 2019. Data analysis was carried out using several software namely Microsoft Excel, Statgraphics, and JMP. The analysis technique used is EDA (Exploratory Data Analysis) with GDA (Graphical Data Analysis) as the main approach. Of the various types of debris obtained, plastic debris is the most commonly found, as many as 189 items, followed by glass 97 items, wood and derivatives of 11 items, rubber 5 items and clothes 2 items. Based on the results of the study, the type of macro debris is the most common category of debris at the study site. The total number of macro-debris collected in ten observation transects was 316 items with a total weight of 118.62 gr/m2, while meso-debris had only 6 items with a total weight of 7.18 gr/m2. The percentage of macro-debris composition found on Tasik Ria beach is plastic (58.15%), glass (29.85%), metal (6.52%), wood and derivatives (3.42%), rubber (1, 55%) and clothes (0.62%). These results can illustrate the potential for events where plastic is the dominant component of marine debris on the coast, specifically in the District of Tombariri, Minahasa Regency.Keywords: Marine debris, Macro-debris, Category, Composition, Tasik Ria ABSTRAKIndonesia disebut sebagai kontributor sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dengan estimasi 0,48-1,29 juta metrik ton per tahun (Jambeck et al, 2015). Masalah utama dewasa ini adalah kurangnya informasi mengenai pencemaran sampah laut di pantai, khususnya di Sulawesi Utara. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis sampah laut di Pantai Tasik Ria dengan menggunakan metode pengamatan garis transek. Pengamatan sampah laut dilakukan sebanyak 5 kali dengan total 10 transek antara bulan Februari hingga April 2019. Analisis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak yaitu Microsoft Excel, Statgraphics, dan JMP. Adapun tehnik analisis yang digunakan adalah EDA (Exploratory Data Analysis) dengan pendekatan utama yaitu, GDA (Graphical Data Analysis). Dari berbagai semua jenis sampah yang didapatkan, sampah plastik merupakan yang paling banyak ditemukan yaitu sebanyak 189 item, diikuti kaca 97 item, kayu dan turunannya 11 item, karet 5 item dan terakhir pakaian 2 item. Berdasarkan hasil penelitian, jenis sampah makro merupakan ukuran sampah yang paling banyak ditemukan di lokasi penelitian. Jumlah total makro-debris yang dikumpulkan di sepuluh transek pengamatan adalah sebanyak 316 item dengan bobot total 118,62 gr/m2, sedangkan meso-debris hanya terdapat 6 item dengan bobot total 7,18 gr/m2. Persentase komposisi makro-debris yang terdapat di pantai Tasik Ria adalah plastik (58,15%), kaca (29,85%), logam (6,52%), kayu dan turunannya (3,42%), karet (1,55%) dan pakaian (0,62%). Hasil ini dapat menggambarkan potensi kejadian dimana plastik menjadi komponen sampah laut dominan di pantai, secara khusus di Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa.Kata kunci: Sampah laut, Makro-debris, Jenis, Komposisi, Tasik-Ri
Fly fish growth pattern (Decapterus spp) in Likupang Water, Nort Sulawesi
This study was aimed to find out the size distribution of scad (Decapterus spp) caught by Likupang fishermen and to find out theirgrowth patterns. Fish samples were collected by traditional purse seine fishermen in Likupang waters. Total catches were 139 individuals consisting of 89 D. macarellus and 50 D. macrosoma.The former was dominated by size of 19.2-20.6 cm, while the latter was dominated by size of 13.1-14.1 cm. Length-weight relationship analysis showed that the growth patterns of D. macarellus and D. Macrosoma were isometric meaning that the increase in length is consistent with weight gain.Keywords: Likupang, Decapterus spp and growth patternsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi ukuran ikan layang (Decapterus spp) yang ditangkap oleh nelayan Likupang and untuk menduga pola pertumbuhannya. Sampel ikan diperoleh nelayan tradisional pukat cincin di perairan Likupang.Total hasil tangkapan adalah 139 ekor terdiri dari 89 ekor D. macarellus dan 50 D. macrosoma. Hasil tangkapan D. macarellus didominasi oleh kelas ukuran 19,2-20,6 cm, sedangkan D. macrosomadidominasi oleh kelas ukuran 13,1-14,1 cm. Analisis hubungan panjang berat menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ikan D. macarellusdan D. macrosoma bersifat isometrik yang artinya pertambahan panjang selaras dengan pertambahan berat.Kata kunci: Likupang, Decapterus spp dan Pola pertumbuha
Evaluation of the effect of probiotic bacteria on growth performance and survival rate of carp, Cyprinus carpio
The objective of this research was to obtain probiotic bacteria isolated from the digestive tract of catfish Clarias batracus, to evaluate its effect on growth performances and survival rate of carp. After purified, the bacteria was identified through biochemical tests and selection was carried out through proteolytic, amylolytic, cellulolytic, tests as well as pathogenicity test. Probiotic candidate was administered orally to fish at different concentrations. The fish were fed for 30 days respectively as much as 3% of body weight per day with feeding frequency of two times a day. The results showed that addition of probiotics into feed significantly increased growth performance but not survival rate.Keywords: Probiotic, Clarias batracus, growth performance, aquaculture. ABSTRAKTujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bakteri probiotik yang diisolasi dari saluran pencernaan ikan lele Clarias batracus, dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap kinerja pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan mas. Bakteri probiotik diidentifikasi melalui uji biokimia dan seleksi dilakukan melalui proteolitik, amilolitik, tes selulolitik dan patogenisitas. Kandidat probiotik diberikan pada ikan secara oral dengan konsentrasi berbeda Pemberian pakan berprobiotik berlangsung selama 30 hari sebanyak 3% dari berat badan per hari dengan frekuensi pemberian dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik ke dalam pakan secara signifikan meningkatkan kinerja pertumbuhan namun tidak memengaruhi kelangsungan hidup benih ikan mas.Kata kunci : Probiotik, Clarias batracus, kinerja pertumbuhan, budiday
Fish Biodiversity in Poigar River Estuary North Sulawesi
The purpose of this study was to determine the diversity and size variation of fish caught in the Poigar River Estuary. Sampling was carried out on tide and low tide in the New Moon and Full Moon phases using beach trawl. The catch gets 42 species, 2,726 individuals and weighs 11,355.5 g. The dominance index at low tide and water recedes 0.47 and 0.44 respectively. Diversity Index at high tide and low tide are 0.93 and 1.11 respectively. Found 10 important fish species in tide and 13 species at low tide, there are four species which are important fish both at low tide and high tide, namely Ambassis urotaenia, Ambassis intetrupta, Gazza minuta and Gerres filamentosus. The size distribution of fish from the juvenile phase to the adult phase is the Ambassis urotaenia with a distribution size of 4.2 cm to 9.0 cm and the Ambassis interupta 4.3 to 9.7 cm. Fish classified as only in the juvenile phase are Gazza minuta with a distribution size of 4.0 cm to 12.9 cm and Gerres filamentosus 6.3 cm to 8.6 cm.Kata kunci: Biodiversity, River Poigar, species, juvenile and adult.ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman dan variasi ukuran ikan yang tertangkap di Muara Sungai Poigar. Pengambilan sampel dilakukan pada air pasang dan air surut pada fase Bulan Baru dan Bulan Purnama dengan menggunakan pukat pantai. Hasil tangkapan mendapatkan 42 spesies, 2.726 individu dan berat 11.355,5 g. Indeks dominasi pada saat air pasang dan air surut masing-masing 0,47 dan 0,44. Indeks Keanekaragaman pada saat air pasang dan surut pasang-masing sebesar 0,93 dan 1,11. Ditemukan 10 spesies ikan penting pada air pasang dan 13 spesies pada air surut, terdapat empat spesies yang merupakan ikan penting baik pada saat surut maupun pasang yaitu Ambassis urotaenia, Ambassis intetrupta, Gazza minuta dan Gerres filamentosus.  Sebaran ukuran ikan dari fase juvenile sampai fase dewasa adalah Ambassis urotania dengan sebaran ukuran 4,2 cm sampai 9,0 cm dan Ambassis intetrupta 4,3 cm sampai 9,7 cm. Ikan yang tergolong hanya pada fase juvenile adalah Gazza minuta dengan sebaran ukuran 4,0 cm sampai 12,9 cm dan Gerres filamentosus 6,3 cm sampai 8,6 cm.Kata kunci: Biodiversitas, Sungai Poigar, spesies, juvenile dan dewasa