Jurnal Ilmiah PLATAX
Not a member yet
    481 research outputs found

    Application of chlorophyll in carrageenan from algae Kappaphycus alvarezii (Doty) Doty 1996

    Get PDF
    The aim of this study is to determine the effect of NaOH and KOH on carrageenan. The addition of natural dyes was carried out with different concentrations of carrageenan and the value of viscosity and gel strength of the algae Kappaphycus alvarezii to a mixture of natural dyes. The samples of algae were taken from the cultivation area in Belang waters, Southeast Minahasa Regency. The results of this study on the addition of natural dyes in refined carrageenan have succeeded in giving a green color and did not affect the viscosity and gel strength of the carrageenan gel when compared to the control (without treatment). The viscosity value of carrageenan with 4% NaOH concentration was 53.34-53.69 cP and KOH concentration was 49.55-50.03 cP. The gel strength value at 4% NaOH concentration was 74.11-74.89 mm/g/sec, while at 5% KOH concentration it was 84.22-84.89 mm/g/sec. The viscosity and gel strength still meet standards set by the Food Agriculture Organization (FAO).Keywords: Carrageenan, natural dye, Kappaphycus alvarezii, viscosity, gel strengthAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh NaOH dan KOH terhadap karagenan. Pada penelitian ini dilakukan penambahan pewarna alami dengan konsentrasi yang berbeda terhadap refined carrageenan dan nilai viskositas serta kekuatan gel karagenan dari alga Kappaphycus alvarezii terhadap campuran pewarna alami. Sampel alga diambil dari area budidaya di Perairan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara. Hasil penelitian tentang penambahan pewarna alami pada refined carrrageenan telah berhasil memberikan warna hijau dan tidak mempengaruhi viskositas serta kekuatan gel karagenan jika dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan). Nilai viskositas karagenan dengan konsentrasi NaOH 4% adalah 53,34 – 53,69 cP dan konsentrasi KOH 5% sebesar 49,55 – 50,03 cP. Nilai kekuatan gel pada konsentrasi NaOH 4% sebesar 74,11-74,89 mm/g/det, sedangkan pada konsentrasi KOH 5% diperoleh 84,22-84,89 mm/g/det. Viskositas dan kekuatan gel tersebut masih memenuhi standar yang ditetapkan oleh Food Agriiculture Organization (FAO).Kata kunci: Karagenan, pewarna alami, Kappaphycus alvarezii, viskositas, kekuatan ge

    Effect Of Lead Acetate (Pb(Ch3coo)2 On The Growth Of Marine Microalgaes Chlorella vulgaris (Beijerink, 1890)

    Get PDF
    Microalgae are single-celled microorganisms, forming colonies and are very commonly found in large waters such as seas, lakes, rivers, and swamps. The purpose of this study was to determine the growth and density of microalgae Chlorella vulgaris in a controlled container with the administration of lead acetate at different concentrations. Cell growth of Chlorella vulgaris with samples of marine microalgae Chlorella vulgaris from culture containers. At the beginning of the exponential phase, the microalgae were given lead acetate in 3 containers with concentrations of 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm, and control/without treatment. The results showed that the growth of Chlorella vulgaris cells with lead acetate administration experienced unstable growth compared to those without lead acetate administration (control).Keywords: Microalgae; Chlorella vulgaris; Culture; Lead AcetateAbstrakMikroalga merupakan mikroorganisme bersel satu, membentuk koloni dan sangat banyak dijumpai di perairan besar seperti pada laut, danau, sungai serta perairan payau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan dan kepadatan mikroalga  Chlorella vulgaris dalam wadah terkontrol dengan pemberian timbal asetat pada konsentrasi yang berbeda. Pertumbuhan sel Chlorella vulgaris denga Sampel mikroalga laut Chlorella vulgaris berasal dari wadah kultur. Pada awal fase eksponensial, mikroalga diberikan timbal asetat ke dalam 3 wadah dengan konsentrasi 30 ppm, 50 ppm, 80 ppm serta kontrol/tanpa perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan sel Chlorella vulgaris dengan pemberian timbal asetat mengalami pertumbuhan yang tidak stabil dibandingkan tanpa pemberian timbal asetat (kontrol).Kata kunci: Mikroalga;  Chlorella vulgaris;  Kultur; Timbal Aseta

    Structure of the Seagrass Community in Meras Beach, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi

    No full text
    Seagrass is a flowering plant (Angiospermae) that grows and breeds on the bottom of shallow sea waters, from tidal areas (intertidal zone) to sublittoral areas. The role of seagrass in shallow marine waters is as a primary producer, as a habitat for biota, catching sediments, and a nutrient recycler. The existence of seagrass is influenced by several factors, namely: temperature, salinity, depth, brightness, nutrients, and salinity. The purpose of this study was to determine the Relative Density, Relative Abundance, Relative Dominance, Frequency, Relative Frequency, Important Value Index, Diversity Index, and Dominance Index, to determine the types of seagrass and to determine the condition of the aquatic environment. This research uses the quadratic methods and line transect. This research was conducted on May 28, 2021, at Meras Beach, Bunaken District, Manado City, North Sulawesi. The number of stands of seagrass species in the study area ranged from 23-320 individuals, species density (8.36-116.36 individuals/m2), relative density (3.62-50.47%), frequency of presence (0.037- 0.50 ), relative frequency (3.62- 50.47%), dominance index (0.072-1.009), the diversity index (1.236), index of the importance of seagrass in Meras Coastal Waters showed that Cymodocea rotundata had the highest important value index among the 5 seagrass species, namely 151.41%. There are 5 species of seagrass found in Meras Coastal Waters, namely, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii. The environmental conditions in Meras Beach are temperature 29°C, salinity 35‰, the brightness is quite clear and has a substrate of sand, muddy, sand mixed with mud, muddy mixed with sand, and coral fragments.Keywords: Meras Beach; Seagrass; Community Structure.AbstrakLamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang biak pada dasar perairan laut dangkal, mulai daerah pasang surut (zona intertidal) sampai dengan daerah sublitoral. Peranan lamun di lingkungan perairan laut dangkal sebagai produsen primer, sebagai habitat biota, penangkapan sedimen dan sebagai pendaur zat hara. Keberadaan lamun dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: suhu, salinitas, kedalaman, kecerahan, nutrient dan salinitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Kepadatan Relatif, Kelimpahan Relatif, Dominasi Relatif, frekuensi, Frekuensi Relatif, Indeks Nilai Penting, Indeks Keanekaragaman, dan Indeks Dominasi, untuk mengetahui jenis-jenis lamun dan untuk mengetahui bagaimana kondisi lingkungan perairan. Adapun penelitian ini menggunakan metode kuadrat dan line transek. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2021, dilakukan di Pantai Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Sulawesi Utara. Jumlah tegakan spesies lamun di lokasi penelitian berkisar dari 23-320 individu, kepadatan spesies (8,36-116,36 individu/m2), kepadatan relatif (3,62- 50,47%), frekuensi kehadiran (0,037- 0,50) , frekuensi relatif (3,62- 50,47%), indeks dominasi (0,072-1,009), indeks keanekaragaman (1,236), indeks nilai penting lamun di Perairan Pantai Meras menunjukkan bahwa Cymodocea rotundata memiliki indeks nilai penting paling tinggi diantara ke 5 spesies lamun yakni 151, 41 %). Spesies lamun yang ditemukan di Perairan Pantai Meras berjumlah 5 yaitu, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii. Kondisi lingkungan di Perairan Pantai Meras yakni suhu 29°C, salinitas 35‰, kecerahan cukup jernih dan memiliki substrat pasir, berlumpur, pasir bercampur lumpur, berlumpur campur pasir dan pecahan karang. Kata kunci: Pantai Meras; Lamun; Struktur Komunitas

    Distribution and Diversity of Ascidian in Manado Bay, North Sulawesi

    Get PDF
    The purpose of this study was to determine the distribution and the diversity of ascidians in Manado Bay including species composition, density, diversity, and dominance. This study used the quadrat transect method. This study found differences in the number of ascidian species with water depth, 11 species of 5 families at 15 M depth, and 8 species of 3 families at 7 M depth. The diversity index ranged from 0.868 to 1.844 at 15 M depth and 0.965 to 1.864 at 7 M depth, the evenness index was 0.533 – 0.839 at 15 M depth and 0.600 – 0.897 at 7 M depth, the dominance index was 0.254 – 0.745 at 15 M depth and 0.254 – 0.708 at 7 M depth. Ascidian in Manado Bay had two distribution patterns, a uniform distribution pattern and a clustered distribution pattern. Environmental parameters had a water temperature of 27 oC – 31 oC, the salinity of 30 0/00 – 32 0/00, the brightness of 12 m – 14 m, and pH of 8 – 10.*Keywords: Ascidian; diversity; ecological index; distribution patternAbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi dan keanekaragaman jenis ascidia di perairan Teluk Manado meliputi: komposisi jenis, kepadatan individu, keanekaragaman, dan dominansi. Serta mengetahui pola distribusi ascidia. Penelitian ini menggunakan metode transek kuadran. Pada penelitian ini ditemukan perbedaan jumlah spesies ascidia menurut kedalaman, 11 spesies dari 5 family pada 15 M dan 8 spesies dari 3 famili pada kedalaman 7 m. Nilai indeks keanekaragaman ascidia di kedalaman 15 m = 0.868 – 1.844 dan 7 m = 0.965 - 1.864, indeks keseragaman 15 m = 0.533 – 0.839 dan 7 m = 0.600 – 0.897, indeks Dominasi15 m = 0.254 – 0.745 dan 7 m = 0.254 – 0.708. Ascdia di perairan Teluk Manado memiliki dua pola distribusi yaitu pola distribusi seragam dan pola distribusi mengelopok. Parameter lingkungan memiliki suhu air 27 oC – 31 oC, salinitas 30 0/00 – 32 0/00, kecerahan 12 m – 14 m, dan pH 8 – 10.*Kata kunci : Ascidia; keanekaragaman; indeks ekologi; pola distribus

    Composition Of Types And Distribution Of Faviidae Corals In The Bahowo Reef Fall, Tongkaina, Manado City

    No full text
    Coral reef is an ecosystem built by calcium-producing marine biota, especially corals. One of the reef-building corals (hermatypic) is Faviidae that is distributed in almost all territories of Indonesia. This study was carried out in the reef flat of Bahowo, Tongkaina, Manado. Data collections used the sampling method with quadrat. There were 6 genera of Faviidae recorded in this study, Favia, Favites, Goniastrea, Leptoria, Montastrea, and Platygyra with clumped distribution patterns.Keywords: hermatypic; genera; ecosystem; quadrat. AbstrakTerumbu karang merupakan ekosistem yang dibangun oleh biota laut penghasil kapur, terutama oleh hewan karang. Salah satu karang pembentuk terumbu (hermatipik) adalah karang batu Faviidae yang memiliki penyebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia. Penelitian ini dilakukan di rataan terumbu Bahowo, kelurahan Tongkaina, kota Manado. Berdasarkan hasil pencatatan data dengan menggunakan metode sampling kuadrat yang kemudian diolah dan dianalisis secara statistik dengan menggunakan perangkat lunak (MS Excel) diperoleh 6 genera karang batu Faviidae, yaitu Favia, Favites, Goniastrea, Leptoria, Montastrea, dan Platygyra dengan pola distribusi yang mengelompok.Kata kunci: hermatipik; ekosistem; genera; kuadrat

    Identification of Bioactive Compounds and Antibacterial Activity of Sea Cucumber, Holothuria (Halodeima) atra Jaeger 1833 Flesh Extract from Kalasey Coastal Waters, Minahasa District

    Get PDF
    Sea cucumbers are one of the marine biotas that contain bioactive compounds that have the potential as antibacterial ingredients. The purpose of this study was to perform antibacterial testing on fractions of the extract of the sea cucumber H. atra meat and to conduct a zoochemical analysis to determine the content of bioactive compounds that can inhibit bacterial growth. Antibacterial testing using disc diffusion method against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. The results showed that the methanol extract of sea cucumber flesh could inhibit the growth of both types of test bacteria. In antibacterial testing for S. aureus, the ethyl acetate fraction was 11.8 mm, the n-hexane fraction was 7 mm, and the methanol fraction was 8.6 mm, while for E. coli the ethyl acetate fraction was 10.88 mm, the n-hexane fraction was 7 mm, and 8.6 mm methanol fraction. The compounds contained in the ethyl acetate fraction of sea cucumber H. atra flesh extract are alkaloids, flavonoids, steroids, and saponins which are compounds that can inhibit bacterial growth with their respective working mechanisms.Keywords: Disc diffusion, Extraction, Fractionation, Sea cucumber (H.atra), Zoo-chemical, AbstrakTeripang merupakan salah satu biota laut yang memiliki kandungan senyawa bioaktif yang berpotensi sebagai bahan antibakteri. Tujuan penelitian ini melakukan pengujian antibakteri pada fraksi-fraksi dari ekstrak daging teripang H. atra dan melakukan analisis zookimia untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Pengujian antibakteri menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol daging teripang memiliki dapat menghambat pertumbuhan kedua jenis bakteri uji. Pengujian antibakteri terhadap S. aureus fraksi etil asetat sebesar 11,8 mm, fraksi n-heksan 7 mm, dan fraksi metanol 8,6 mm sedangkan untuk bakteri E. coli fraksi etil asetat sebesar 10,88 mm, fraksi n heksana 7 mm, dan fraksi metanol 8,6 mm. Kandungan senyawa yang yang terkandung dalam fraksi etil asetat ekstrak daging teripang H. atra yaitu senyawa alkaloid, flavonoid, steroid, dan saponin yang merupakan senyawa yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri dengan mekanisme kerja masing-masing.Kata Kunci  : Difusi cakram, Ekstraksi, Fraksinasi , Teripang (H. atra), Zoo-kimia

    Study Feeding Different Food Types to The Growth and Survival Rate of Nile Fingerlings, Oreochromis niloticus

    Get PDF
    All operations of aquaculture production rely upon the 60% of feed role as an energy source and nutrition for the growth and survival rate of aquatic organisms, especially tilapia fish. This research aims to study feeding different food types to the growth and survival rate of tilapia fingerlings. A sample of fingerlings was derived from the Centre for Aquaculture Production Business Service (BLUPPB) Karawang and reared in Aquaculture Teaching Factory. The fingerlings were stocked with as many as 5 ind/L with three treatments i.e Azolla (P1), artificial feed (P2), and a combination of Azolla and artificial feed (P3). The growth-based length of fingerlings fed by Azolla (P1) is 6 – 7.76 cm, commercial pellet feed (P2) 6 – 11.81 cm, and combination Azolla and commercial pellet feed 6-9.36 cm. The growth-based weight of fingerlings fed by Azolla (P1) is 4 – 5.87 g, commercial pellet feed 4 – 25.11 g, and a combination of Azolla and commercial pellet feed 4 – 11.27 g. The survival rate of fingerlings fed by Azolla is 23%, commercial pellet feed 88%, and combination Azolla and commercial pellet feed 91%.Keywords: Azolla, commercial pellet feed, fingerlings, growth, survival rateAbstrakSeluruh operasional produksi akuakultur sangat bergantung dari 60% peran pakan sebagai sumber nutrisi dan energi bagi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup organisme akuatik dalam hal ini ikan nila. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi terkait pemberian jenis pakan berbeda terhadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila. Sampel benih ikan nila berasal dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang dan dipelihara di Teachign Factory Budidaya Ikan. Ikan yang dipelihara adalah sebanyak 5 ind/L dengan tiga perlakuan meliputi pakan azolla (P1), pakan pellet komersil (P2) dan kombinasi palat azolla dan pellet komersil (P3). Pertumbuhan panjang ikan yang diberikan perlakuan pakan azolla (P1) adalah 6 - 7.76 cm, pakan pellet komersial (P2) 6 - 11.81 cm dan perlakuan kombinasi pakan pellet komersil dan azolla (P3) 6 - 9.36 cm. Pertumbuhan berat ikan dari perlakuan pakan azolla (P1) 4 – 5.87 g, perlakuan pellet komersial (P2) 4 – 25.11 g dan perlakuan kombinasi pakan pellet komersil dan azolla (P3) 4 – 11.27 g. Tingkat kelangsungan hidup benih ikan nila yang diberikan perlakuan pakan azolla adalah sebesar 23%, pakan pellet komersil 88% dan kombinasi pakan azolla dan pellet komersil adalah 91%.Kata Kunci: azolla, benih, pakan pellet komersil, pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup

    Analysis Financial Feasibility Of Selected Fishing Technology In Bitung Oceanic Fishing Port

    Get PDF
    Bitung City is one of the production centers as well as the fishing industry in Indonesia. Analysis of the financial feasibility of capture fisheries, especially in PPS Bitung as a fish landing center in Bitung city, needs to be studied scientifically in order to find out the types of fishing gear that are effectively used and can be developed. The purpose of this study is to find out the selected fishing technology that is effectively used, developed, and can prosper the fishing community of Bitung city. Data were collected using survey methods and in-depth interviews with fishermen and local stakeholders. The analysis was carried out on all aspects, namely biological, technical, economic, and social aspects. The scoring method is carried out to determine the fishing unit to get the type of fishing gear that has good performance in terms of various aspects so that it is suitable for development. From the results of this study, it was found that the huhate ranks first because it has a high value from various aspects compared to other fishing gear. This shows that the huhate has a higher business development opportunity than other fishing gear. This is of course closely related to increasing fishery production while maintaining the sustainability of fish resources in Bitung. Although based on the calculation results, the huhate ranks first, it does not rule out the possibility of other fishing gear to become development priorities. Government policies, fisherman culture and social conditions of the local community should be a serious concern in establishing a policy concerning changes in the behavior and understanding of fishermen related to efforts to develop capture fisheries in Bitung.Keywords:  financial feasibility; fishing; technology AbstrakKota Bitung merupakan salah satu sentra produksi sekaligus industri perikanan di Indonesia. Analisis kelayakan finansial usaha perikanan tangkap khususnya di PPS Bitung sebagai pusat pendaratan ikan di kota Bitung perlu dikaji secara ilmiah agar dapat mengetahui jenis alat tangkap yang efektif digunakan dan bisa dikembangkan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui teknologi penangkapan ikan terpilih yang efektif digunakan, dikembangkan serta bisa mensejahterakan masyarakat nelayan kota Bitung. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan wawancara mendalam baik dengan nelayan maupun stakeholders (pemangku kepentingan) daerah setempat. Analisis dilakukan pada semua aspek yaitu aspek biologi, teknis, ekonomi dan sosial. Metode skoring dilakukan untuk melakukan determinasi unit penangkapan ikan untuk mendapatkan jenis alat tangkap ikan yang mempunyai keragaan (performance) yang baik ditinjau dari berbagai aspek sehingga cocok untuk dikembangkan. Dari hasil penelitian ini didapat huhate menempati urutan prioritas pertama karena memiliki nilai tinggi dari berbagai berbagai aspek dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa huhate memiliki peluang pengembangan usaha yang lebih tinggi dibandingkan dengan alat tangkap lainnya. Hal ini tentunya sangat berkaitan dengan peningkatan produksi perikanan sekaligus mempertahankan kelestarian sumberdaya ikan di Bitung. Meskipun berdasarkan hasil perhitungan, huhate menempati urutan pertama, namun tidak menutup kemungkinan alat tangkap lainnya untuk menjadi prioritas pengembangan. Kebijakan pemerintah, kultur budaya nelayan dan kondisi sosial masyarakat setempat hendaknya menjadi perhatian serius dalam menetapkan suatu kebijakan yang menyangkut pada perubahan perilaku dan pemahaman nelayan terkait dengan upaya pengembangan perikanan tangkap di Bitung.Kata kunci: kelayakan finansial; teknologi; penangkapan ika

    Composition and Condition Of Coral Reefs In Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi

    Get PDF
    This study aims to determine the composition and condition of coral reefs in Dudepo Cape, South Bolaang Mongondow Regency. The method used is Line Intercept Transect (LIT). Data were collected by SCUBA diving at 3 meters and 10 meters depths. In 3 meters depth was found biotic components such as Acropora and non-Acropora with 6 growth forms, and five other biotic components, while abiotic components were only found in coral rubbles (R). In 10 meter depth was found biotic components live coral with 7 growth forms, and five other biotic components, while the abiotic components as sand and coral rubbles. In two depths, the coral reef component dominant were Acropora digitate (ACD) and Acropora branching (ACB). The condition of coral reefs at 3-meter depth and 10 meters were  “Fairâ€Â  with the percent cover of live corals being 35.59% and 37.30%.Keywords: Coral; Coral Reef; ConditionAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kondisi terumbu karang di Tanjung Dudepo Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Line Intercept Transect (LIT). Pengambilan data dilakukan dengan penyelaman SCUBA pada kedalaman 3 meter dan 10 meter. Pada kedalaman 3 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup acropora dan non-acropora dengan 6 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik hanya ditemukan berupa pecahan karang. Pada kedalaman 10 meter ditemukan komponen biotik berupa karang hidup dengan 7 bentuk pertumbuhan, dan 5 komponen biotik lainnya, sedangkan komponen abiotik berupa pasir dan pecahan karang. Pada dua kedalaman, bentuk pertumbuhan yang mendominasi yaitu acropora digitate dan acropora branching. Kondisi terumbu karang pada lokasi penelitian khususnya pada kedalaman 3 meter dan 10 meter yaitu berada pada kategori cukup dengan persentase tutupan sebesar 35,59% dan 37,30%. Kata kunci: Karang; Terumbu Karang; Kondisi

    Length Weight Relationship of Bigeye Scad (Selar crumenophthalmus) Catch by Purse Seine in Manado Bay

    Get PDF
    The intensity of the catch of bigeye scad (Selar crumenophthalmus), is expected to cause problems in the availability of these fish resources. The purpose of this research is to analyze the Length-weight relationship of Bigeye scad caught by purse seine in Manado Bay. as well as to evaluate the results of the analysis of the Length-weight relationship and the catchment feasibility of the catch to support the sustainability of the potential of bigeye scad resources. The method used in this study is a quantitative method. conducted at Tumumpa Manado Coastal Fisheries Port, using fork length measurement data (FL) and weight of bigeye scad taken by the author under the guidance of lecturers in May 2021 and November 2021. Length-weight relationship of bigeye scad caught in May 2021 follows the equation W = 0,0249 L2.8057 with K = 1.01 and in November 2021 W = 0,0207 L2.9151. The type of bigeye scad in both seasons is categorized as negative allometric. This fish is categorized as unfit to catch (Lc < Lm). The structure of the catch in May 2021 obtained an average length of 10.26 ± 0.26 cm and an average weight of 18.03 ± 1.51 g where 51% were caught at a size of 9.8-10.8 cm and 46% had a weight of 11.0-16.0 g. while in November 2021 the average length was 10.90 ± 0.28 cm and the average weight was 22.53 ± 1.76 g where 50% were caught at a size of 10.0-11.0 cm and 31% g weight 21.0-26.0 g.Keywords: Bigeye Scad; Length Weight Relationship; Decent Catch; Purse Sein; Manado BayAbstrakIkan Selar bentong memiliki cita rasa enak, disukai masyarakat, dan harganya pun murah. Intensitas ketertangkapan jenis ikan ini, diduga kelak akan menimbulkan masalah ketersediaan sumberdaya ikan ini. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan panjang berat ikan selar bentong hasil tangkapan kapal pukat cincin (purse seiners) di Teluk Manado, serta Mengevaluasi hasil analisis hubungan panjang berat ikan selar bentong dengan kelayakan tangkap hasil tangkapan untuk menopang keberlanjutan potensi sumberdaya ikan selar bentong ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kuantitatif, dilakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tumumpa Manado, dengan menggunakan data ukuran panjang cagak (fork length, FL) dan berat ikan selar bentong yang diambil oleh penulis di bawah bimbingan dosen pada Mei 2021 (musim Pancaroba I) dan November 2021 (musim Pancaroba II) yang tertangkap purse seiners di Teluk Manado. Hubungan panjang berat ikan selar bentong yang tertangkap pada Mei 2021 mengikuti persamaan W = 0,0249 L2.8057 dengan K = 1.01 dan pada November 2021 W = 0,0207 L2.9151. Tipe pertumbuhan ikan selar bentong pada kedua musim tersebut terkategori alometrik negatif (b < 3), ikan ini terkategori tidak layak tangkap (Lc < Lm). Struktur hasil tangkapan pada Mei 2021 diperoleh panjang rerata 10.26 ± 0.26 cm dan berat rerata 18.03 ± 1.51 g, di mana 51% tertangkap pada ukuran 9.8 - 10.8 cm dan 46% memiliki berat 11.0-16.0 g, sementara pada November 2021 panjang rerata 10.90 ± 0.28 cm dan berat rerata 22.53 ± 1.76 g, di mana 50% tertangkap pada ukuran 10.0-11.0 cm dan 31% memiliki berat 21.0-26.0 g.  Kata Kunci: Selar Bentong; Hubungan Berat Panjang; Kelayakan Tangkap; Pukat Cincin; Teluk Manad

    459

    full texts

    481

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah PLATAX
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇