Research Report - Humanities and Social Science
Not a member yet
148 research outputs found
Sort by
Profil Kinerja Keunggulan Bersaing Industri Manufakturing Kecil dan Menengah di Jawa Barat dan Banten Dalam Era Pelaksanaan CHINA-ASEAN Free Trade Area
Globalisasi dan terbukanya pasar nasional dari pemain‐pemain global membuat kondisi persaingan usaha yang semakin ketat. Free Trade Area (FTA) menjadi sebuah model perdagangan regional, termasuk ASEAN. ASEAN merupakan salah satu regional yang strategis dalam kajian ekonomi internasional, seperti dalam Ariyasajjakorn, Gander, Ratanakomut, & Reynolds (2009). Situasi tentu mendorong pelaku usaha nasional untuk selalu mengukur kinerjanya dan mendapatkan informasi secara cepat.Dengan berlakunya perjanjian CAFTA pada tahun 2010, maka produk‐produk RRC, akan dengan bebasnya masuk ke pasaran di Indonesia. Industri‐industri di RRC saat ini dikenal memiliki tingkat effisiensi yang sangat tinggi di satu pihak dan tingkat produktivitas yang tinggi di lain pihak. Hal ini tentunya mempengaruhi daya saing dan dorongan ekspansi yang cukup tinggi untuk masuk ke pasar di luar RRC dengan harga yang jauh lebih murah. Industri domestik Indonesia menjadi kehilangan daya saingnya terutama dari sisi harga bila dibandingkan dengan produk‐produk RRC. Hal ini berimbas juga kepada industri‐industri kecil dan menengah.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perjanjian CAFTA terhadap tingkat pertumbuhan IMKM di Jawa Barat, penyusunan kluster IMKM di Jawa Barat berdasarkan kinerja, merumuskan ukuran kinerja IMKM di Jawa Barat..Penelitian ini akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam merumuskan kinerja IMKM secara khusus, dan UMKM secara umum. Selain itu juga berkontribusi dalam menyusun kajian faktor‐faktor yang berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Hasil yang dicapai ini diharapkan bermanfaat bagi pelaku IMKM, pemerintah, dan sektor industri pada umumnya untuk menyusun strategi bersaing dalam menghadapi ACFTA.Dalam masa krisis ternyata yang bertahan bukan Usaha Besar melainkan Usaha Kecil dan Menengah. Demikian juga bila dikalkulasi dari sisi untung rugi, macetnya pinjaman satu unit Usaha Besar yang sekian triliun rupiah jumlahnya sama setara dengan pinjaman beratus Unit UKM. Padahal dari pengalaman UKM yang ‘ngemplang’ hutangnya tidak sebanyak Usaha Besar. Katakanlah dari seratus UKM yang ‘ngemplang’ sebanyak 25 % tetap saja masih di bawah UB yang ‘ngemplang’. Di sisi lain penyerapan tenaga kerja dan efek turunan dari bisnis UKM kiranya akan menggerakkan roda ekonomi di lokal. Apalagi saat ini gerusan terhadap daya tahan ekonomi kita terutama terhadap Industri Manufakturing Kecil dan Menengah – IMKM, yang menghadapi gempuran barang‐barang Cina yang membanjiri pasar Indonesia karena pelaksanaan ASEAN‐CHINA Free Trade Area sungguh menarik untuk disimak. Hanya dengan penelitian ke lapangan maka akan dapat diperoleh informasi yang berharga.Pemahaman yang seksama terhadap profil kinerja keunggulan bersaing IMKM melalui riset akan sangat bermanfaat terutama bagi landasan pengembangan menghadapi globalisasi. Hanya dengan melakukan riset‐riset yang nyata maka pengembangan dan kontribusi terhadap dunia IMKM akan benar‐benar nyata dan bermanfaat.Adapun 3 (tiga) profil utama yang perlu mendapat perhatian (masih lemah/kurang) dariindustri manufaktur kecil dan menengah di Kota Bandung dapat disusun sebagai berikut:1. kategori 1 mempunyai profil sebagai berikut :a. pembelian barang‐barang dari perusahaan Bapa/Ibu tidak dilakukan secara tunai/tidak dibayar saat itu (=mundur sekian bulan)b. Biaya untuk membuat barang dan biaya lainnya dalam usaha ini terasa berat saat inic. suplai/pasokan bahan baku untuk pembuatan barang selama ini lancard. Bapa/Ibu suka melakukan inovasi (pembaharuan) terhadap barang yang dihasilkan (bentuknya, atau lainnya)2. kategori 2 mempunyai profil sebagai berikut :a. Kekurangan modal merupakan kesulitan utama dalam menjamin supaya usaha Bapa/Ibu tetap berjalanb. Apabila ada lonjakan peningkatan pembelian terhadap barang Bapa/Ibu (lagi rame) maka untuk menambah pembuatan barang selalu terjadi kekurangan modalc. Modal yang sekarang digunakan untuk usaha sebagian besar ( lebih dari 50%) berasal dari pinjaman (bukan modal sendiri)3. Kategori 3 mempunyai profil sebagai berikut :a. Pembayaran bahan baku harus tunai/ lunas/cashb. Apabila Bahan baku yang sekarang digunakan untuk membuat barang dalam usaha Bapa/Ibu tidak ada maka akan ada pengganti nyac. Bahan baku pengganti sulit didapatd. Biaya pengiriman barang ditanggung oleh Bapa/Ib
ANALISA TIPE KESALAHAN DALAM MEMPREDIKSI KEPAILITAN PERUSAHAAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE ALTMAN Z SCORE (STUDI PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGES YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA )
Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi kepailitan pada perusahaan Food and Beverages yang laporan keuangannya tersaji di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menggunakan metode Z-Score Altman dan untuk mengetahui tingkat kesalahan klasifikasi model prediksi kebangkrutan pada perusahaan food and Beverages di BEI. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 13 perusahaan. Sampel diambil dari populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan Food and Beverages sejumlah 15 perusahaan yang tercatat di BEI. Sampel yang dipilih adalah perusahaan Food and Beverage yang laporan keuangannya tersaji di BEI maupun yang dipublikasikan di media, untuk periode 2006 -2010. Sampel yang digunakan akan dibedakan menjadi dua kelompok yaitu perusahaan yang pada periode 2 tahun setelah diprediksi mengalami pailit dan tidak pailit serta perusahaan yang dengan metode Altman Z Score,diprediksi pailit serta tidak pailit. Data yang digunakan adalah data sekunder. Dari 13 sampel perusahaan Food and Beverage di BEI, hasil analisa prediksi kepailitan dengan metode Altman Z Score menunjukkan bahwa ditahun 2006 dan 2007, tiga perusahaan masuk kategori pailit, 6 perusahaan masuk kategori tidak pailit dan 4 perusahaan masuk dalam grey area. Sedangkan untuk tahun 2008, lima perusahaan masuk kategori pailit, 5 perusahaan masuk kategori tidak pailit dan 3 perusahaan masuk grey area. Dan hasil analisa keuangan untuk 2 tahun setelah prediksi menunjukkan hasil bahwa tahun 2008, dua sampel perusahaan mengalami pailit dan 11 sampel perusahaan tidak pailit. Sedangkan untuk tahun 2009 dan 2010, satu perusahaan dalam kondisi pailit dan 12 perusahaan dalam kondisi tidak pailit. Dari hasil prediksi kepailitan perusahaan food and beverage di BEJ dapat diketahui tingkat kesalahan klasifikasi model untuk kesalahan tipe 1 adalah sebesar 0% untuk kesalahan tipe 2 adalah sebesar 15.38% ( prediksi ditahun 2006 untuk tahun 2008), 23.08% (prediksi di tahun 2007 untuk tahun 2009) dan 38.46% (prediksi ditahun 2008 untuk tahun 2010)
KONVERGENSI RASIO KEUANGAN TERHADAP RATA-RATA INDUSTRI PERUSAHAAN CONSUMER GOOD YANG TERDAFTAR PADA BURSA EFEK INDONESIA
Perbandingan rasio keuangan terhadap rata-rata industri (cross sectional approach) dilakukan dengan membandingkan rasio-rasio antara perusahaan yang sejenis pada saat bersamaan. Dengan cara ini dapat diketahui posisi perusahaan bersangkutan berada diatas, berada pada rata-rata atau berada dibawah rata-rata industri. Model Partial Adjustment dari Lev (1969) digunakan dalam penelitian ini untuk menguji apakah perusahaan-perusahaan dalam industri yang sama cenderung menyesuaikan rasio-rasio keuangannya terhadap rata-rata industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kecepatan penyesuaian untuk target rasio keuangan dan perilaku penyesuaian rasio keuangan dalam industri consumer good di Indonesia yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia (BEI). Hasil analisis menunjukkan subsektor rokok dan peralatan rumah tangga merupakan subsektor yang melakukan penyesuaian terhadap target rata-rata subsektor industri untuk kelima rasio keuangannya. Sedangkan konvergensi rasio keuangan perusahaan-perusahaan dalam sektor industri consumer good terhadap rata-rata rasio sektor industri menunjukkan hasil bahwa kelima rasio keuangan melakukan penyesuaian terhadap target yang berbeda dengan rata-rata industri. Dalam hal kecepatan penyesuaian rasio keuangan untuk keseluruhan perusahaan dalam industri consumer good, rasio Debt to Equity merupakan rasio yang paling cepat melakukan penyesuaian
Pembahasan Defence Cooperation Agreement Indonesia –Singapuraoleh DPR dan Pemerintah Indonesia dan Implikasinya bagi Teori Birokratik Politik
This paper aims to examine the extent to which the internal dicsusion of the Defence and Cooperation Agreement between Indonesia and Singapore consistent with the bureaucratic politics theory. Using the null hypotesis and process tracing methods, this paper tests the bureaucratic politic theory, which was first introduced in the foreign policy studies by Graham Allison and Philip Zelikiow. Specifically, this paper asks the following questions: Who are the foreign policy makers in Indonesia with regards to the faith of DCA? What are their stances toward the future of DCA? How does each decision makers advance their own opinion on this matter? What influence their stance? Does the final outcome reflect each actor’s initial preference over the outcome? Based on the paper’s content and other authors’ observation, this paper argues that the internal discussion regarding the future of DCA is not entirely consistent with the argument made by Allison and Zelikow in bureuacratic politics theory. Key words: bureaucratic politic, foreign policy, Indonesia foreign polic
PENGARUH FAKTOR-FAKTOR KEBIASAAN (HABITUS), MODAL (CAPITAL), DAN PERUBAHAN (CHANGES) SEBAGAI MODEL PERILAKU KEUANGAN UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA KEUANGAN PEREMPUAN PELAKU UMKM (SUATU STUDI di UMKM Binaan FE UNPAR –BANDUNG DAN JAKARTA)
Berbagai produk asing tidak dapat dibendung telah menyerbu pasar domestik sekarang. Serbuan tersebut terutama dari barang-barang Cina (Kompas: 2011: 13 Mei h. 38). Fenomena ini telah mengakibatkan munculnya ribuan pengangguran baru. Padahal 90% dunia bisnis Indonesia terdiri dari sektor UMKM (BPS: 2000), dan dari jumlah sektor UMKM tersebut, usaha UMKM yang dikelola oleh perempuan jumlahnya meningkat sangat pesat, hal ini mengindikasikan semakin meningkat pula pemberdayaan perempuan di Indonesia (Kontan: April 2011: h. 11).Berdasarkan analisis kualitatif maka aplikasi teori Bourdieu (1999) dalam penelitian ini dengan tujuan untuk melihat perilaku pengelolaan keuangan oleh perempuan pengelola UMKM, yaitu dari 3 variabel Bourdieu: Habitus, Capital dan Changes, variabel perilaku manakah yang signifikan mempengaruhi performa keuangan UMKM. Variabel dominan akan disosialisasikan kepada perempuan pengelola UMKM lain untuk dianalisis apakah terdapat peningkatan performa keuangannya pada tahun berikutnya, bila perilaku pengelola bertambah baik. Alat analisis statistik akan digunakan sebagai pembanding atas analisis tersebut. UMKM yang diteliti adalah UMKM binaan Unpar.Bila perilaku keuangan perempuan pengelola UMKM bertambah baik, maka performa keuangan usahanya akan meningkat lebih baik, pada gilirannya diharapkan sektor UMKM akan meningkat kesejahteraannya, serta dapat bertahan menghadapi serbuan produk asing.Kata-kata Kunci: Perempuan pengelola usaha, Teori Bourdieu, Perilaku Keuangan, Performa Keuangan
TATA KELOLA LEMBAGA PENEGAK HUKUM TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA
Fenomena konflik kewenangan antar lembaga negara belakangan ini sering muncul terutama setelah lahirnya berbagai lembaga baru, baik berdasarkan UUD 1945 seperti Komisi Yudisial, UU seperti KPK maupun Perpres dan Keppres yang bahkan lebih banyak lagi, diantaranya UKP4 dan DNPI. Kelahiran lembaga-lembaga baru tersebut lebih banyak dipicu oleh ketidakefektifan lembaga-lembaga yang telah ada terlebih dahulu. Namun nyatanya sebelum hasil kerja lembaga-lembaga baru tersebut optimal, yang timbul justru konflik kewenangan antar lembaga, misalnya konflik yang paling hangat adalah antara KPK dan POLRI dalam kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM. Berbagai komentar bahkan kajian singkat yang selama ini muncul ke permukaan mengenai kasus tersebut, baik dari akademisi, praktisi maupun berbagai pihak terkait, lebih banyak menyorot siapa sesungguhnya yang memiliki kewenangan berdasarkan interpretasi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kewenangan KPK dan POLRI atau kembali lagi mempertanyakan urgensi dari keberadaan KPK atau bahkan lembaga-lembaga baru secara keseluruhan, sampai batas tertentu. Komentar atau bahkan kajian singkat tersebut belum mencapai akar permasalahan dari konflik antar lembaga yang selama ini terjadi. Oleh sebab itu, penelitian ini berupaya menemukan akar permasalahan melalui pendekatan uji tata kelola/governance lembaga negara terutama dikhususkan bagi lembaga negara penegak hukum tindak pidana korupsi. Konflik kewenangan semestinya tidak akan terjadi apabila semua regulasi, keputusan maupun aktifitas didasarkan pada tata kelola lembaga yang baik, bukan hanya berdasarkan kepentingan ‘sesaat’. Dari penelitian tersebut akan tampak potret tata kelola lembaga negara penegak hukum saat ini, selanjutnya apakah telah memenuhi standar tata kelola yang baik (good governance) dan dimana akar kemunculan konflik yang selama ini terjadi. Penyebab konflik kewenangan akan tampak dari penilaian terhadap kualitas elemen-elemen tata kelola lembaga di Indonesia. Untuk itu tujuan jangka panjang dari penelitian ini adalah menjadi salah satu bahan bagi pembaruan kebijakan lembaga negara di Indonesia. Sedangkan target khusus dari penelitian ini adalah menemukan konsep ideal dalam tata kelola kelembagaan negara yang sinergis dan efektif khususnya lembaga negara penegak hukum tindak pidana korupsi yakni KPK dan POLRI ke masa depan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian hukum normatif yang dibantu dengan penelitian hukum empiris. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, jenis penelitian yang digunakan adalah “penelitian hukum normatif” yang berarti jenis penelitian yang fokus kajiannya menitikberatkan pada asas-asas hukum dan kaidah-kaidah hukum yang terdapat dalam berbagai ketentuan perundang-undangan yang berlaku maupun teori-teori hukum yang tersebar dalam berbagai literatur. Kajian difokuskan pada lembaga penegak hukum tindak pidana korupsi dalam hal ini KPK dan POLRI untuk mempersempit wilayah kajian dari lembaga penegak hukum secara umum atau lembaga negara secara keseluruhan. Penemuan potret tata kelola lembaga negara penegak hukum tindak pidana korupsi beserta penilaian kualitasnya berdasarkan pada 1) studi pustaka baik dari buku, jurnal ataupun artikel terkait dengan teori kelembagaan negara dan tata kelola/governance. Selain itu, dari kebijakan dan peraturan perundang-undangan terkait dengan lembaga negara penegak hukum tindak pidana korupsi 2) studi perbandingan dengan tata kelola lembaga di negara-negara lain, 3) wawancara dengan beberapa pejabat dari KPK, Kepolisian dan MK 4) beberapa diskusi yang bertujuan untuk mendapat masukan baik dari para ahli maupun pihak lain yang terkait. Berdasar pada temuan di lapangan dan analisis terhadap data yang diperoleh, maka dikemukakan konsep membangun tata kelola lembaga penegak hukum yang sinergis dan efektif dalam pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia, yakni dengan menata secara tegas kewenangan lembaga-lembaga penegak hukum tindak pidana korupsi dengan memperhatikan system checks and balances melalui peraturan perundang-undangan yang berjenis Undang-Undang. Saat ini sebagaimana ketentuan UU No.30 Tahun 2002, maka peran KPK harus dikedepankan, sampai pada saat lembaga permanen yakni POLRI dan Kejaksaan telah dapat melaksanakan tugas, wewenangnya secara maksimal dan professional. Kata kunci : tata kelola, lembaga penegak hokum, POLRI, KPK, tindak pidana korupsi
Peranan Modal Dari Keluarga Pada 3 UKM di Bandung
Usaha kecil dan menengah menjadi bagian terbesar dari dunia usaha di Indonesia , yang telah terbukti mampu bertahan selama masa krisis, tahun 1997-1998 dan tahun 2008. Usaha skala kecil dan menengah ini (UKM) memiliki peran penting terhadap perkembangan ekonomi, menyerap jumlah tenaga kerja yang banyak memberikan kontribusi terhadap GDP. Ada suatu fakta yang belum cukup dipahami , bahwa berdirinya usaha skala kecil dan menengah umumnya dimulai dengan melibatkan anggota keluarga atau tidak langsung mendapat dukungan dan bantuan keluarga . Penelitian ini difokuskan untuk menemukan peran modal yang diberikan oleh keluarga pada saat pendirian usaha dan dalam perkembangannya, baik modal yang berupa uang dan finansial (harta tetap atau harta lancar), maupun yang bersifat nilai-nilai (family capital), dan emosi-waktu-perhatian (psychological capital) , dsb . Penelitian dilaksanakan dengan metode kualitatif yakni Multi Case Studies. Tiga UKM di Bandung dipilih sebagai obyek penelitian. Teknik wawancara dan observasi digunakan saling melengkapi . Hasil transkrip wawancara dikategorisasi (coding) sesuai tema penelitian. Teori modal Bourdieu (1996) digunakan untuk menganalisis dan untuk mendapatkan pemaknaan dari temuan. Temuan menunjukkan bahwa modal ekonomi bukanlah satu-satunya faktor yang berperan dalam memulai dan mengembangkan usaha dalam 3 kasus ini. Ada modal yang lain yaitu modal budaya dan modal sosial yang punya peran penting terhadap awal dan kelangsungan usaha. Modal simbolik dapat dibangun dari modal budaya sejalan dengan berjalannya usaha dalam jangka waktu yang cukup lama. Kata-kata Kunci : modal ekonomi, modal budaya, modal sosial, modal simboli
PERAN BUDAYA TERHADAP KINERJA PENGRAJIN TENUN DI KAMPUNG TENUN GARUT JAWA BARAT
Ketaatan para Pengrajin Tenun dalam melaksanakan setiap pekerjaan yang berorientasi pada upaya pencapaian target kelompok (organisasi). Sebagai suatu variabel dalam organisasi, budaya dipelajari sebagai bagian dari sistem organisasi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, budaya dilihat sebagai sesuatu yang hidup di dalam suatu kelompok yang mengikat seluruh anggota kelompok dalam upaya mencapai tujuan bersama. Budaya juga dapat dilihat sebagian dari suatu lingkungan kelompok yang mempengaruhi perilaku dan penampilan (performance) anggota di dalam kelompok tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya kelompok Pengrajin Tenun memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja para Pengrajin tenun di Kampung Tenun Garut. Setiap kelompok memiliki budaya dan pengaruh yang signifikan terhadap sikap dan perilaku anggotanya. Seringkali budaya dalam suatu kelompok berkembang dengan kuat, sehingga dalam kondisi demikian, setiap anggota mengetahui dengan baik tujuan kelompok yang akan dicapainya. Akhirnya budaya suatu kelompok akan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi produktivitas kerja dan kinerja dari kelompok tersebut
PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DAN JARINGANNYA (PENDAMPINGAN DI DESA NANGGELENG, KECAMATAN CIPEUNDEUY, KABUPATEN BANDUNG BARAT)
Warga desa Nanggeleng yang sebagian besar adalah petani telah mengembangkan metode pertanian organik sejak beberapa tahun yang lalu. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Unpar pada tahun 2013 ditujukan pada upaya-upaya mengembangkan pertanian organik di desa tersebut, membentuk jaringan kerja sama antara kelompok petani organik di desa Nanggeleng dan kelompok petani organik dari daerah-daerah lain di Jawa Barat serta membangun jaringan pemasaran komoditas hasil pertanian organik di perkotaan. Target luaran pengabdian adalah meningkatnya jumlah petani di desa Nanggeleng yang menerapkan metode pertanian organik dan terbentuk jaringan antar kelompok petani organik di Jawa Barat serta jaringan pemasaran antara petani organik dan pelaku bisnis di Bandung. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan metode bertanam organik, pertemuan petani organik dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mendorong terjadinya jaringan pemasaran antara petani di desa dan pelaku bisnis di kota
PENGARUH BRAND TRUST TERHADAP KOMITMEN DAN BRAND EXTENSION ACCEPTIBILITY DI FISIP UNPAR
Penelitian ini diawali oleh fenomena terjadinya penurunan jumlah pendaftar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia secara umum dan di FISIP Unpar secara khusus. Penurunan jumlah pendaftar ini jika tidak diperhatikan akan membawa dampak yang sangat serius kepada pertumbuhan sebuah perguruan tinggi.Di dua program studi yang berada di lingkup FISIP Unpar penurunan itu sudah lama terjadi dan semakin memprihatikan. Fenomena ini jika dikaitkan dengan berbagai keluhan atau bahkan word-of mouth negatif yang disampaikan oleh para mahasiswa ataupun alumnus di kedua progranm studi atau jurusan – walau jumlahnya tidak besar – tampaknya memiliki sebuah kaitan. Dan hal ini berkenaan dengan masalah TRUST – yang dalam penelitian ini dibatasi sebagai pengalaman yang diperoleh berdasarkan informasi di masa lalu yang memberikan jaminan bahwa partner dimotivasi untuk tidak melakukan perubahan atas persyaratan pertukaran yang terjadi. Jadi ketika seorang mahasiswa mendaftar di sebuah jurusan atau program studi, maka ia berharap program studi atau jurusan pilihannya tidak akan merubah apa yang telah dikomunikasikannya kepada publik.Berbagai keluhan yang disampaikan para mahasiswa di dua program studi atau jurusan di FISIP Unpar dengan jelas mencerminkan tidak adanya komitmen dari mereka kepada institusi tempatnya menimba ilmu. Komitmen dalam peneltiian ni dibatasi sebagai intensi eksplisit atau implisit untuk mempertahankan sebuah hubungan yang berkelanjutan dengan sebuah merk. Padahal komitmen secara teoretis dipengaruhi oleh Brand Trust. Selain itu Komitmen juga bisa mempengaruhi muncul tidaknya toleransi atas kesalahan atau kekurangan yang ada dalam sebuah merk. Selain itu ketika Brand Trust muncul, maka konsekuensi lain yang muncul selain komitmen adalah penerimaan yang baik akan produk lain yang diluncurkan oleh produsen yang sama.Dengan menghubungkan fenomena yang terjadi dengan beberapa konsep di atas, tampak sekali perlu adanya sebuah penelitian guna mengkaji pengaruh Brand Trust terhadap Brand Extension Acceptibility dan Komitmen di FISIP Unpar.Penelitian ini merupakan sebuah penelitian kausal dengan menggunakan 339 mahasiswa di tiga jurusan di FISIP Unpar sebagai responden dalam survei ini yang menerapkan convenience sampling. Data dioleh dengan menggunakan teknik Structural Equation Modelling (SEM) dengan menggunakan LISRELL versi 8.3, karena penelitian ini bertujuan untuk mengkorfirmasikan penerapan model penelitian dalam konteks di FISIP Unpar.Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan kalau dengan responden mayoritas berasal dari program studi Ilmu Administrasi Bisnis dan Hubungan Internasional, yang mayoritas berjenis kelamin wanita, dan mayoritas berasal dari angkatan 2006 serta berasal dari SMU di kota Bandung dan swasta, di FISIP Unpar Brand Trust secara signifikan mempengaruhi Komitmen dan Brand Extension Acceptibility. Demikian juga Komitmen secara signifikan mempengaruhi Temporary Deficiency Acceptibility