Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
    235 research outputs found

    Dekomposisi Serasah dan Keanekaragaman Makrofauna Tanah pada Hutan Tanaman Industri Nyawai (Ficus variegate. Blume)

    Get PDF
    Penggunaan jenis-jenis tanaman cepat tumbuh diperlukan untuk memenuhi kebutuhan kayu. Meski demikian, informasi mengenai kesuburan tanah kerena penanaman jenis tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendapatkan data dan informasi mengenai produksi, laju dekomposisi serasah serta keragaman makrofauna tanah pada Hutan Tanaman Industri nyawai (Ficus variegate Blume) dengan tiga kelas umur yang berbeda. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Penentuan plot sampel dilakukan secara purposive dengan pertimbangan keterwakilan umur. Variabel yang diamati meliputi jumlah produksi serasah, laju dekomposisi serasah, serta makrofauna tanah menggunakan dua cara yaitu monolith atau pengambilan contoh tanah (PCT) untuk makrofauna tanah yang berada di dalam tanah, serta penggunaan perangkap sumuran (PSM) untuk makrofauna yang berada di permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan pada tegakan umur 6 tahun memiliki laju dekomposisi serasah terbaik karena sebanyak 48,31% serasah terdekomposisi dengan laju 11%. Pada kelas umur ini keragaman makrofauna juga memiliki nilai tertinggi yaitu 1,08 meskipun masih berada dalam kategori rendah.Kata kunci: dekomposisi; kesuburan tanah; makrofauna; nyawai; serasah Litter Decomposition and Diversity of Soil Macrofauna on Industrial Plantation Forest of NyawaiAbstractThe use of fast-growing tree species is necessary to meet the demand of timber. However, the information with regard the fertility of the soil for planting of these species is still limited. This study aimed to obtain data and information on the litter production and its rate of decomposition as well as soil macrofauna diversity on Industrial Plantation Forest of nyawai (Ficus variegate. Blume) with three different age classes. This study used a quantitative method. Sample plots were determined purposively with consideration of the representation of age. The observed variables included the amount of production of litter, decomposition rate of litter, and soil macrofauna using two methods, i.e. monolith or soil sampling (PCT) for soil macrofauna underground the soil and trap wells (PSM) for macrofauna on soil surface. The results showed in the 6-year-old stands showed the best litter ecomposition rates, since 48.31% of litter was decomposed at a rate of 11%. At this age class, diversity of macrofauna also has the highest score as 1.08, although that value was still in the low category.

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    Pertumbuhan Tunas Beberapa Klon Jati Terseleksi setelah Pemangkasan di Persemaian

    Get PDF
    Kebun pangkas jati dibangun dalam rangka memperbanyak klon-klon terseleksi di plot uji klon jati. Biasanya, kebun pangkas dibangun pada lahan dengan luasan tertentu. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan pertunasan beberapa klon jati pada kebun pangkas jati di tingkat persemaian. Penelitian ini disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan perlakuan 10 klon jati yang diulang sebanyak 3 kali dengan 10 tanaman pangkasan dalam setiap ulangan. Klon yang digunakan adalah hasil seleksi uji klon jati di Gunung Kidul, Yogyakarta.Hasil pengamatan menunjukkan perlakuan klon berpengaruh nyata terhadap karakter jumlah tunas, panjang tunas, diameter tunas, jumlah ruas dan jumlah daun. Hasil pengamatan menunjukkan untuk pertumbuhan tunas pada umur 6 minggu diperoleh rerata jumlah tunas 4,33; panjang tunas 9,09 cm; diameter tunas 5,91 mm; jumlah ruas tunas 2,38, dan jumlah daun 5,09 helai. Persentase hidup tanaman setelah pemangkasan bervariasi antar klon antara 86,67-96,67%. Hasil penaksiran nilai heritabilitas untuk pertumbuhan tunas termasuk kategori sedang sampai tinggi yaitu sebesar 0,41-0,73.The Shoot Growth of Several Selected Clones of Teak after Coppicing in the NurseryAbstractTeak hedge garden was established to multiply several selected clones of teak from clonal test trial. It was usually established on a certain arable land. This study was conducted to determine the ability of various teak clones in the sprouting hedge garden which was established in the nursery. The study was arranged in randomized complete block design with 10 clones, 3 replications, and 10 individual ramet per replication. The tested clones were selected from a teak clonal test in Gunungkidul, Yogyakarta. The results showed that clones significantly affected the shoot growth: number, length, diameter, number of internode and number of leaf. At 6 weeks after hedging, the average of shoot number was 4.3, shoot length of 9.1 cm, shoot diameter of 5.9 mm, the number of internode of 2.4, and the average number of leaves was 5.1. The survival rate of plants after hedging treatment was varied from 86.7 to 96.7 %. Estimated heritability for shoot growth was categorized as moderate to high, varying from 0.41 to 0.73

    Tigers and Their Prey in Bukit Rimbang Bukit Baling: Abundance Baseline for Effective Wildlife Reserve Management

    Get PDF
    Managing the critically endangered Sumatran tiger (Panthera tigris sumatrae) needs accurate information on its abundance and availability of prey at the landscape level. Bukit Rimbang Bukit Baling Wildlife Reserve in central Sumatra represents an important area for tigers at local, regional and global levels. The area has been recognized as a long-term priority Tiger Conservation Landscape. Solid baseline information on tigers and prey is fundamentally needed for the management. The objective of this study was to produce robust estimate of tiger density and prey a vailability in the reserve. We used camera traps to systematically collecting photographic samples of tigers and prey using Spatial Capture Recapture (SCR) framework. We estimated density for tigers and calculated trap success rate (TSR; independent pictures/100 trap nights) for main prey species. Three blocks in the reserve were sampled from 2012 to 2015 accumulating a total of 8,125 effective trap nights. We captured 14 tiger individuals including three cubs. We documented the highest density of tigers (individuals/100 km2) in southern sampling block (based on traditional capture recapture (TCR) : 1.52 ± SE 0.55; based on Maximum Likelihood (ML) SCR:0.51 ± SE 0.22) and the lowest in northeastern sampling block (TCR: 0.77 ±SE 0.39; ML SCR: 0.19 ± SE 0.16). The highest TSR of main prey (large ungulates and primates) was in northeastern block (35.01 ± SD 8.67) and the lowest was in southern block (12.42 ± SD 2.91). The highest level of disturbance, as indicated by TSR of people, was in northeastern sampling block (5.45 ± SD 5.64) and the lowest in southern (1.26 ± SD 2.41). The results suggested that human disturbance strongly determine the density of tigers in the area, more than prey availability. To recover tigers, suggested strategies include controlling human disturbance and poaching to the lowest possible level in addition to maintaining main prey availability.Keywords: Capture-Mark-Recapture; closed population; habitat management; population viability; tiger recovery Harimau dan Mangsanya di Bukit Rimbang Bukit Baling: Basis Informasi Kelimpahan untuk Pengelolaan Suaka Margasatwa yang EfektifIntisariMengelola spesies kunci seperti harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang dalam kondisi kritis, memerlukan informasi terkait populasi satwa tersebut dan ketersediaan satwa mangsanya pada tingkat lanskap. Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling di Sumatera bagian tengah merupakan sebuah kawasan penting untuk harimau baik pada tingkat lokal, regional, maupun global. Kawasan ini telah diakui sebagai sebuah kawasan prioritas jangka panjang Tiger Conservation Landascapes (TCL). Informasi dasar yang sahih mengenai populasi harimau dan mangsanya sangat dibutuhkan untuk pengelolaan efektif satwa tersebut dan kawasan habitatnya. Tujuan dari studi ini adalah untuk menghasilkan perkiraan kepadatan populasi harimau dan ketersediaan mangsanya di kawasan suaka margasatwa tersebut. Kami menggunakan perangkap kamera untuk mengumpulkan sampel gambar harimau dan mangsanya secara sistematis menggunakan kerangka kerja Spatial Capture Recapture (SCR). Kami memperkirakan kepadatan harimau dan menghitung angka keberhasilan perangkap atau trap success rate (TSR: gambar independen/100 hari aktif kamera) untuk satwa mangsa utama. Tiga blok di dalam suaka margasatwa telah disurvei dari tahun 2012 hingga 2015 mengakumulasikan keseluruhan 8,125 hari kamera aktif. Kami merekam 14 individu harimau termasuk tiga anak. Kami mendokumentasikan kepadatan tertinggi harimau (individu/100 km2) di blok sampling selatan (berdasarkan pendekatan analisa capture recapture tradisional (TCR) 1.52 ± SE 0.55; berdasarkan Maximum Likelihood (ML) SCR 0.51 ± SE 0.22) dan terendah di utara-timur (TCR: 0.77 ±SE 0.39; ML SCR: 0.19 ± SE 0.16). TSR tertinggi dari mangsa utama (ungulate besar dan primata) adalah di blok sampling utara-timur (35.01 ± SD 8.67) dan terendah adalah di blok sampling selatan (12.42 ± SD 2.91). Tingkat gangguan tertinggi, sebagaimana diindikasikan oleh TSR manusia, adalah di blok sampling utara-timur (5.45 ± SD 5.64) dan terendahnya di blok sampling selatan (1.26 ± SD 2.41). Hasil studi ini mengindikasikan bahwa gangguan manusia yang sangat tinggi sangat menentukan kepadatan harimau di kawasan ini, melebihi pengaruh dari ketersediaan satwa mangsa. Untuk memulihkan populasi harimau, disarankan beberapa strategi termasuk mengendalikan gangguan manusia dan perburuan hingga ke tingkat terendah, selain tetap memastikan ketersediaan satwa mangsa utama yang memadai

    Optimalisasi Pembagian Batang (Bucking Policy) Kayu Bulat Jati dalam Rangka Meningkatkan Pendapatan KPH Madiun

    Get PDF
    Pendapatan KPH Madiun akan naik jika metode pembagian batang optimal diimplementasikan, sesuai dengan teori optimalisasi. Hal tersebut karena lebih dari 50% kontribusi pendapatan KPH Madiun Perum Perhutani Unit II Jawa Timur sampai saat ini berasal dari penjualan kayu jati. Produk yang dijual meliputi berbagai sortimen yang ditetapkan dengan kebijakan pembagian batang sesuai “Petunjuk Pelaksanaan Pembagian Batang Kayu Bundar Jati Tahun 2006”. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan metode pembagian batang optimal dengan menggunakan teori program linier. Hasil penelitian menemukan bahwa, terdapat 96 alternatif cara pembagian batang dari 6 kelas diameter, dan 16 sortimen terdiri dari : vinir, hara, kayu bahan parket (KBP) untuk kebutuhan industri lokal. Kesimpulan penelitian adalah : pendapatan KPH Madiun meningkat sebesar Rp. 4.599.460/m3, atau sebesar Rp. 8.921.623/pohon, sedangkan realisasi pendapatan usaha yang diperoleh saat ini adalah sebesar Rp. 3.701.503/m3 atau sebesar Rp. 7.179.847/pohon. Dengan demikian jika metode optimalisasi diterapkan nilai ekonomi per pohon akan naik sebesar 24,26% atau setara dengan volume sebesar 1,94 m3.Bucking Policy Optimization of Teak Log to Increase the Revenue of KPH Madiun. AbstractThe revenue of KPH Madiun could have been effectively increased through improvement in its bucking policy implementation. Such implementation had been formulated in this research using optimization theory to generate the maximum total economic values of log assortments cut from felled trees. As teakwood production had been the core business, contributing more than 50 % of the revenue, KPH Madiun Perum Perhutani Unit II East Java had been choosen as the object and location of this research. The research found and analized 96 alternatives of bucking policy implementations, derived from 6 possible diameter classes, and 16 possible assortment quality classes. The log assortment was identified by its diameter, length, and quality, as raw materials of veneer, parquet, and local industry. Through optimization process, the optimum bucking policy could potentially increase revenue of KPH Madiun to the maximum of IDR 4,599,460 per m3, or IDR 8,921,623 per tree of 1.94 m3 average. Comparing to existing revenue of IDR 3,701,503 per m3, or IDR 7,179,847 per tree of the same average, which has been based on the formal bucking policy guidance of um Perhutani Unit II (2006), it could be a significant potential increase of 24.26 % or equal to 1.94 m3

    Serapan Logam Berat oleh Fungi Mikoriza Arbuskula Lokal pada Nauclea orientalis L. dan Potensial untuk Fitoremediasi Tanah Serpentine

    Get PDF
    Pengaruh fungi mikoriza arbuskula (FMA) lokal terhadap pertumbuhan dan serapan logam tanaman Nauclea orientalis L., telah diteliti. Tanaman ditumbuhkan pada kondisi rumah kaca pada media serpentine soil tanpa dan dengan FMA (Glomus sp., Acaulospora tuberculata, dan campuran) selama 2 bulan. Akar tanaman lonkida terkolonisasi FMA dengan ditemukan struktur FMA berupa hifa internal>hifa eksternal>coil> vesikula>arbuskula. Kolonisasi A. tuberculata dan Glomus sp. signifikan meningkatkan berat kering akar (P65). Nilai Transpor Faktor (TF) Mn>Ni>Cr. Glomus sp mengurangi serapan Fe dan Ni akar sebesar 13% dan 3%, secara berturutan. A. tuberculata meningkatkan serapan semua logam. Kemampuan serapan logam berbeda antara jenis FMA.Heavy Metal Uptake by Indigenous Arbuscular Mycorrhizas of Nauclea orientalis L. and the Potential for Phytoremediation of Serpentine SoilAbstractEffect of indigenous arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) on growth and metal uptake of Nauclea orientalis L. plants, has been investigated. Plants were grown in greenhouse conditions on serpentine soil media without and with the AMF (Glomus sp., Acaulospora tuberculata, and mix) for two months. Lonkida roots was colonized by AMF because it was found structures of AMF: internal hyphae>external hypae>coil>vesicles>arbuscule. Colonization A. tuberculata and Glomus sp. significantly increased dry weight of root (P65). Transport Factor value (TF) Mn>Ni>Cr. Glomus sp reduced Fe and Ni uptake on roots by 13% and 3%, respectively. A. tuberculata increased the uptake of all metals. Metal uptake ability was difference among types of AMF

    Model Pengelolaan Ternak di Sekitar Hutan Gunung Mutis dan Dampaknya terhadap Kelestarian Hutan

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji kelayakan finansial dan dampak dari model pengelolaan ternak yang ditemukan di sekitar hutan Gunung Mutis di Pulau Timor. Data dikumpulkan melalui wawancara terhadap 40 masyarakat sekitar hutan. Terdapat dua model pengelolaan ternak yang ditemukan di sekitar hutan. Model pertama adalah model pemeliharaan ternak di dalam kandang dan model kedua adalah model penggembalaan ternak di hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model layak secara finansial. Namun demikian, jika menggunakan biaya tenaga kerja komersial, model pemeliharaan ternak di dalam kandang secara finansial tidak layak untuk dilakukan, sedangkan model penggembalaan di hutan layak secara finansial. Model pengelolaan ternak di dalam hutan berdampak negatif terhadap regenerasi pohon sedangkan model pemeliharaan ternak di dalam kandang tidak berdampak negatif terhadap kelestarian hutan. Dari hasil penelitian disarankan agar pemerintah membatasi areal untuk penggembalaan ternak di hutan.Kata kunci: kelayakan finansial; model silvopasture; Mutis; penggembalaan ternak hutan; Timor Livestock Management Models Around Mt. Mutis Forest and Its Impact on Forest SustainabilityAbstractThe study examined the financial feasibility and impacts of livestock management models found around Mt. Mutis forest in Timor Island of Indonesia. Data was collected through interviewing 40 communities around the forest. There were two livestock management models around the forest, the first model was livestock management which raise livestock in the cattle pen, and the second model was livestock management which graze livestock in the forest. This study found that both livestock management models were financially feasible. However, if commercial cost of workers was counted, the livestock management model which raise livestock in the cattle pen was financially not feasible while livestock management model which graze livestock in the forest was financially feasible. Livestock management model which graze livestock in the forest however had negative impacts on the regeneration of trees. On the basis of this study, it is suggested that the government should limit the forest area that could be used for forest grazing

    Tipologi dan Kerawanan Korupsi Sektor Kehutanan di Indonesia

    Get PDF
    Diindikasikan bahwa tingginya laju kerusakan hutan di Indonesia ada kaitannya dengan tingkat korupsi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi dan kerawanan korupsi sektor kehutanan di Indonesia. Sejak tahun 2001 sampai dengan 2015, sebanyak 39 pelaku korupsi sektor kehutanan yang terdiri dari anggota DPR, pejabat Kementerian Kehutanan, Kepala Daerah (Gubernur/Bupati/Kepala Dinas) serta pengusaha, telah diproses hukum dan mendapatkan vonis dari pengadilan. Terdapat 6 (enam) tipologi korupsi sektor kehutanan di Indonesia yaitu: 1) korupsi transaksional, 2) pemerasan, 3) investasi untuk korupsi, 4) nepotisme, 5) korupsi untuk bertahan, dan 6) korupsi untuk mendapatkan dukungan. Penelitian ini menemukan 4 bentuk kerawanan korupsi sektor kehutanan yaitu: 1) proses perijinan, 2) pengawasan 3) proses tata ruang kehutanan, dan 4) pengadaan barang dan jasa kehutanan.Kata kunci: deforestasi; kehutanan Indonesia; kerawanan korupsi; korupsi; tipologi korupsi The Typology and Corruption Susceptibility in Forestry Sector in IndonesiaAbstractIt is widely indicated that the high rates of deforestation in Indonesia are closely linked with the high corruption. This research aimed to identify the typologies and the potential of occurence of corruption in the forest sector in Indonesia. From 2001 to 2015, thirty nine corruptors have been brought to the courts and eventually sentenced. They included parliament members, high-rank forest officials, local government (Governor/Mayor/Chief of District Forest Service), and business persons. This research found six typologies of corruption in the forest sector in Indonesia, i.e. 1) transactive corruption, 2) extortive corruption, 3) investive corruption, 4) nepotistic corruption), 5) defensive corruption, and 6) supportive corruption. It also identified four forest activities that potentially encourage corruption, i.e. 1) licensing, 2) monitoring, 3) spatial planning, and 4) public procurement

    Pengaruh Suhu dan Metode Perlakuan Panas terhadap Sifat Fisika dan Kualitas Finishing Kayu Mahoni

    Get PDF
    Perlakuan panas dikenal sebagai metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas dimensi dan menurunkan higroskopisitas. Di sisi lain, perlakuan panas dapat membuat warna kayu menjadi lebih gelap, penurunan sifat mekanika kayu, dan sifat wetabilitas kayu. Oleh karena itu, penelitian mengenai perlakuan panas pada kondisi yang optimum sangat menarik untuk dilakukan agar menghasilkan kayu dengan kualitas yang lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh interaksi suhu dan metode perlakuan panas terhadap sifat fisika dan kualitas finishing kayu mahoni. Contoh uji perlakuan dibuat dari kayu mahoni yang berasal dari industri penggergajian kayu rakyat. Penelitian ini menggunakan 2 metode perlakuan panas yaitu metode oven dan penguapan (steaming) pada variasi suhu 90°C, 120°C, dan 150°C selama 2 jam waktu efektif. Pengujian sifat fisika diuji berdasarkan standar ASTM, yang meliputi : kadar air seimbang, perubahan dimensi, perubahan warna, dan wetabilitas. Pengujian finishing meliputi cross cut test, uji delaminasi, dan uji kekilapan (glossy test). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara suhu dan metode perlakuan panas berpengaruh sangat nyata terhadap perubahan warna, serta berpengaruh nyata terhadap penyusutan radial, cross cut test, dan uji delaminasi. Metode oven menghasilkan contoh uji dengan kadar air dan pengembangan radial yang lebih rendah, warna yang lebih terang, serta uji delaminasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode penguapan.Kata kunci: perlakuan panas, metode oven, metode penguapan, suhu, finishing Effect of temperature and heat treatment on physical properties and finishing quality of mahagony woodAbstractHeat treatment is well known as a method for increasing dimensional stability and reducing hygroscopicity of wood. However, heat tratment can cause the color of wood become darker and reduce the wettability, as well as its mechanical properties. Therefore, the optimum condition of heat treatment is essential to be studied to obtain the high quality of properties treated wood. This research focused on investigating the heating temperature and treatment method on physical properties and finishing quality of mahagony wood. Two treatment methods, i.e. oven method and steaming method, were used in this research. The heating temperatures were set at 90°C, 120°C, and 150°C. The effective heating time was 2 h. The wood physical properties were tested according to ASTM standards and wood finishing quality were tested for its cross cut, delamination, and glossy test. The results showed that interaction between treatment method and heating temperature affected significantly on the change in color, radial shrinkage, cross cut test, and delamination test. Oven method resulted in reducing moisture content and radial shrinkage, light color, and better quality of wood, compared to steaming method. 

    Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunungkidul III. Sifat Fisika Kayu

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi sifat fisika kayu dari pohon jati yang tumbuh di 3 tempat berbeda (Panggang, Playen, Nglipar) hutan rakyat di kabupaten Gunungkidul. Parameter yang diukur adalah kadar air segar (KAS), kerapatan dasar (KD), dan penyusutan linier maupun volumetrik. Sebanyak 3 pohon di tiap lokasi ditebang kemudian tiap pohon dibagi menjadi 3 potongan di posisi aksial yaitu pangkal, tengah, dan ujung. Tiap potongan tersebut kemudian dibagi 3 dalam posisi radial yaitu dekat hati, tengah, dan dekat kulit. Kisaran nilai KD dan KAS adalah 504-672 kg/cm3 dan 47-125%, secara berturutan. Hasil analisis keragaman menunjukkan sampel Playen bagian ujung cenderung memberikan nilai rerata KD lebih tinggi demikian juga bagian dekat kulit pada arah radial. Sampel Nglipar memberikan nilai kisaran KAS paling rendah (47-70%) sedangkan pada posisi radial nilai rerata tertinggi diamati di dekat hati (100,51%). Kisaran nilai penyusutan longitudinal, radial, dan tangensial adalah 0,39-0,88%; 2,75-3,93%; dan 4,30-6,68%, secara berturutan. Hasil analisis keragaman menunjukkan pengaruh faktor tempat tumbuh dimana sampel Nglipar memberikan nilai penyusutan longitudinal dan tangensial terendah. Nilai penyusutan total dalam kisaran 5,26-15,07%, sedangkan perbandingan penyusutan tangensial dan radial (rasio T/R) antara 1,38-2,13. Secara umum, kerapatan dasar yang diukur mempunyai nilai yang tidak jauh dengan nilai dari beberapa penelitian terhadap jati konvensional serta lebih tinggi dari beberapa jati unggul dari kultur jaringan pohon umur muda. Perlu diperhatikan adalah tingginya penyusutan dan ketidakstabilan dimensi yang diukur di beberapa sampel dalam eksperimen ini.Kata kunci: Tectona grandis, sifat fisika, kerapatan dasar, hutan rakyat, GunungkidulA study of teak wood quality from community forests in Gunungkidul III. Physical propertiesAbstractThe objective of this work is to explore the variation of physical properties of wood from teak trees grown in 3 different sites (Panggang, Playen, Nglipar) from community forests of Gunungkidul Regency. The measured parameters were green moisture content (GMC), basic density (BD), and linear as well as volumetric shrinkage. The three trees were collected at each site then were divided into three axial parts i.e. base, center, and top of the trees. Further, each axial part was divided into 3 radial positions i.e. near pith, middle, and near bark. The range of BD and GMC values were 504-672 kg/cm3 and 47-125%, consecutively. The result of analysis of variance showed that samples of Playen at the top parts tended to give higher average values of all physical properties measured as well as the samples at near bark of radial position. Samples from Nglipar exhibited the lowest range of GMC values (47-70%) whereas the highest values in the radial direction were observed in the near pith samples (100.51%). The range values of longitudinal, radial and tangential shrinkage were 0.39-0.88%; 2.75-3.93%; and 4.30-6.68%, respectively. By analysis of variance, site factor significantly affected of which samples of Nglipar showed the lowest levels of longitudinal and tangential shrinkage. The total shrinkage values were 5.26-15.07% as the T/R ratio were 1.38-2.13. In general, the BD levels of teak from Gunungkidul were comparable to those reported for conventional for teaks plantation and higher than those of young tissues cultural teaks. However, attention should be taken as the high magnitude of shrinkage as well as dimensional stability showed by several samples in this experiment.

    148

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kehutanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇