Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
    235 research outputs found

    Produktivitas Talas (Colocasia esculenta L. Shott) di Bawah Tiga Jenis Tegakan dengan Sistem Agroforestri di Lahan Hutan Rakyat

    Get PDF
    Tanaman talas (Colocasia esculenta L. Shott ) merupakan salah satu tanaman yang merupakan jenis tanaman pangan fungsional. Tanaman talas menurut Permenhut P.35/2007 tentang Hasil Hutan Bukan Kayu termasuk dalam kelompok tanaman pati-patian. Berdasarkan pengetahuan lokal yang masyarakat miliki, agrofrestri talas telah diaplikasikan di lahan-lahan kering hutan rakyat. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pertumbuhan dan produktivitas talas di bawah beberapa jenis tegakan hutan rakyat dengan sistem agroforestri. Penelitian dilakukan dengan metode survei dan obsevasi lapangan. Jenis agroforestri yang diteliti adalah agroforestri sengon+talas, jabon+talas, manglid+talas serta monokultur talas sebagai kontrol. Pengukuran pertumbuhan dan produksi dilakukan terhadap sampel tanaman talas. Pengukuran pertumbuhan meliputi pertumbuhan tinggi, jumlah daun,berat basah batang dan daun, berat kering batang dan daun. Parameter produktivitas talas adalah berat basah umbi dan berat kering umbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tegakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawah talas dalam sistem agrofrestri. Jenis tegakan jabon memberikan hasil biomassa tanaman talas (366,57 g/tanaman) paling baik dibanding pada tegakan sengon (266,15 g/tanaman), manglid (175,64 g kg/tanaman) dan monokultur (182,98 g/tanaman). Intensitas cahaya di bawah tegakan jabon dalam sistem agroforestri adalah 41,17%. Jenis tegakan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawah talas dalam sistem agrofrestri. Jenis tegakan jabon memberikan hasil produksi berupa berat basah dan berat kering umbi talas (2.333,0 g/tanaman/ 884,3 g/tanaman) paling baik dibanding di bawah tegakan sengon (1.597,0 g/tanaman/ 535,7 g/tanaman), manglid (607,6 g/tanaman/ 213,6 g/tanaman) dan monokultur talas (739,4 g/tanaman/ 256,3 g/tanaman).Kata kunci: agroforestri, hutan rakyat, produktivitas, tegakan, talas hutan.Productivity of taro (Colocasia esculenta L. Shott) under three species stands using  agroforestry system in community forest siteAbstractTaro (Colocasia esculenta L. Shott ) is a functional food plant. Based on Permenhut P.35/2007 with regard to Non Wood Forest Product, taro is categorized as a starch plant. According to the knowledge of local people, the agroforestry of taro has been applied on dry land of private forest. The objective of this research was to evaluate the growth and productivity of taro under three tree species of the private forest using agroforestry system. Survey and field observation were conducted in this research. Agroforestry systems were observed on sengon+taro, jabon+taro, manglid+taro, and monoculture of taro as a control. Growth and production of taro plants were measured, including height growth, number of leaves, wet and dry weight of leaves and stems. Wet and dry weight of tuber were recorded to calculate the taro production. Tree species showed significant effects on growth and production of taro plant in agroforestry system. The highest biomass of taro (366.57 g/plant) was found under jabon species, followed by sengon (266.15 g/plant), manglid (175.64 g/plant), and taro monoculture (182.98 g/plant), respectively. The light intensity under jabon tree in agroforestry system was 41.17%. The highest production of wet and dry weight of taro tuber were 2,333.0 g/plant and 884.3 g/plant, which was resulted under jabon stands, followed by under sengon stands (1,597.0 g/plant and 535.7 g/plant), under manglid stands (607.6 g/plant and 213.6 g/plant) and monoculture (739.4 g/plant and 256.3 g/plant), respectively.

    Kandungan Unsur Hara dalam Daun Jati yang Baru Jatuh pada Tapak yang Berbeda

    Get PDF
    Seresah di lantai hutan memegang peranan penting dalam menjaga produktivitas dan kelestarian hutan selain dapat mengendalikan erosi, mempengaruhi daur hidrologi dan unsur hara juga berfungsi sebagai penyimpan karbon. Kandungan unsur hara dalam seresah/daun sangat dipengaruhi oleh: spesies, genetik, bahan induk, tanah, dan iklim. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan unsur-unsur hara C, N, P, K, Ca, Mg, Na, Fe, Mn, dan Cu dalam seresah daun jati yang baru jatuh pada beberapa tapak. Sampel seresah (daun) diambil dari tanaman jati berumur 10 tahun, dari klon-klon unggul yang berasal dari tapak yang berbeda di Jawa. Analisis C dilakukan dengan metode Walkley dan Black dan N dengan metode Kjeldahl. Analisis P, K, Ca, Mg, Na, Fe, Mn, dan Cu dilakukan dengan mengekstrak sampel dengan campuran asam keras (HClO4 + HNO3), P terekstrak diukur dengan spektrofotometer sedangkan unsur logam dengan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan C tidak jauh berbeda berkisar 46,49-52,32%, sedangkan kandungan N dan P agak berbeda dengan nilai 0,52-1,28% dan 0,04-0,14%, sedangkan kandungan K, Ca, dan Mg agak berbeda secara berturutan mempunyai nilai 0,06-0,52%, 1,69-2,64% dan 0,10-0,45%, sedangkan Na hampir tidak berbeda berkisar antara 0,018-0,025%. Kandungan Fe dan Mn mempunyai perbedaan yang cukup besar berkisar antara 185-898 ppm dan 63-202 ppm, sedangkan Cu dan Zn tidak banyak berbeda berkisar antara 54-126 ppm dan 32-58 ppm. Hubungan antara kadar unsur yang bersifat mobile (C, N, dan P) pada seresah dan tanah tidak menunjukkan tren yang nyata, sebaliknya unsur yang bersifat immobile (K, Ca, Mg, dan Na) selalu konsisten antara kadar unsur hara di seresah dengan kadar unsur hara di tanah.Kata kunci: : jati, seresah daun, unsur hara, tapak, JawaNutrients content from new fallen leaves of teak from different sitesAbstractLitter on forest floor plays a very important role to maintain forest productivity and sustainability. The litter can control soil erosion, hydrology and nutrient cycles and has a function as carbon storage. The nutrients content in the leaf litter is affected by species, genetic, parent material, soil and climate. The objective of this research was to investigate the nutrient content of C, N, P, K, Ca, Mg, Na, Fe, Mn, and Cu in the litter from different sites. The newly fallen leaves samples were taken from the clonal teak plantation at ten years old, which planted at seven different sites in Java. The carbon (C) analysis was done with Walkley and Black and N with Kjeldahl method. Meanwhile for total P, K, Ca, Mg, Na, Fe, Mn, and Cu, the samples were extracted with mixture between HClO4 and HNO3, extracted P was measured with spectrophotometer and the metals of K, Ca, Mg, Na, Fe, Mn, and Cu were measured with Atomic Absorption Spectroscopy (AAS). The result showed that carbon content was not much different, valued 46.49-52.32%, and N and P had a little bit different value 0.52-1.28% and 0.04-0.14%, respectively. K, Ca, and Mg content was slightly different valued 0.06-0.52%, 1.69-2.64%, and 0.10-0.45%, respectively, while Na almost had not different ranged between 0.018-0.025%. Fe and Mn content were much different among the sites ranged 185-898 ppm and 63-202 ppm, respectively, while Cu and Zn were not much different valued 54-126 ppm and 32-58 ppm, respectively. The relationship between levels of elements that are mobile (C, N, and P) on litter and soil do not indicate a real trend. Otherwise immobile elements (K, Ca, Mg, and Na) are always consistent between the levels of nutrients in the litter with high levels of nutrients in the soil.

    Peranan Hasil Hutan Bukan Kayu dalam Pembangunan Hutan Kemasyarakatan di Perbukitan Menoreh (Kasus di Desa Hargorejo, Kokap, Kulonprogo, D.I.Yogyakarta)

    Get PDF
    Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam berbagai program pembangunan kehutanan yang mengutamakan fungsi lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat lokal diharapkan dapat mewujudkan kelestarian hutan. Salah satu program pembangunan kehutanan adalah Hutan Kemasyarakatan (HKm). Kajian ini bertujuan untuk mengetahui peranan HHBK dalam pembangunan HKm yang dilakukan di Perbukitan Menoreh dengan kasus di Desa Hargorejo, Kokap, Kulon Progo. Data dikumpulkan pada bulan Januari hingga Juni 2013 melalui wawancara secara mendalam terhadap 10 informan dan penyebaran kuesioner terhadap 35 orang anggota kelompok tani yang memiliki lahan garapan di HKm. Jenis tanaman kayu yang dominan dikembangkan adalah tanaman jati, mahoni, dan akasia. Sementara tanaman HHBK yang ditanam adalah tanaman buah (pisang, nangka), tanaman pangan (singkong, jagung, kedelai, kacang tanah), serta tanaman herbal (jahe, kunyit, temulawak). Pengelolaan HKm dilakukan secara swadaya dengan didampingi Yayasan DAMAR. Selain kondisi lingkungan menjadi hijau dan sejuk (66% responden menyatakan lingkungan desa menjadi lebih hijau dan sejuk), debit air bertambah (76% responden menyatakan persediaan air banyak), dampak positif pengelolaan HKm di Desa Hargorejo adalah juga memberikan kontribusi ekonomi pada rumah tangga petani (terjadi pengurangan prosentasi kondisi ekonomi petani kurang baik dari 80% menjadi 52% setelah adanya akses HKm).Kata kunci: HHBK, hutan kemasyarakatan, Menoreh, program pengembangan, manfaat hutanThe roles of Non Timber Forest Products in the development of community forestry in Menoreh Hills (A case of Hargorejo Village, Kokap, Kulon Progo Regency, YogyakartaAbstractDevelopment of Non-Timber Forest Products (NTFPs) in various forestry development program that promotes the function of environmental, social, economic, and culture of local communities is expected to create sustainability. One of the forestry development programs are Community Forest (HKm). This study aimed to determine the role of NTFPs in community forest development which was done in Menoreh Hills in Hargorejo’s Village, Kokap, Kulon Progo’s Regency. Data were collected in January until June 2013 with in-depth interviews to 10 informers and by questioners to 35 members of the group of farmers who had arable land in HKm. The dominant type of timber plants were teak, mahogany, and acacia. Further, the NTFPs plants grown were fruit crops (banana, jackfruit), food crops (cassava, corn, soybeans, peanuts), and herbs (ginger, turmeric, temulawak). The management of HKm was conducted independently by DAMAR fondation. In addition to the condition of being green and cool environment (66% of respondents said the village environment becomes greener and cooler), increased water discharge (76% of respondents expressed a lot of water supplies), the positive impact of community forest management in Hargorejo’s Village was also the contribution to the household economy of farmers (a reduction in the percentage of less well economic conditions of farmers from 80% to 52% after the access HKm)

    Menguatkan Kedaulatan Bangsa atas Keanekaragaman Hayati

    Get PDF
    Menguatkan Kedaulatan Bangsa Atas Keanekaragaman Hayat

    Pengaruh Cekaman Kekeringan terhadap Perilaku Fisiologis dan Pertumbuhan Bibit Black Locust (Robinia pseudoacacia)

    Get PDF
    Black locust (Robinia pseudoacacia) merupakan tanaman asli Amerika Utara dan telah tersebar ke Eropa dan Asia serta menjadi salah satu spesies yang digunakan untuk rehabilitasi lahan semiarid dan arid. Walau demikian, kemampuan adaptasi black locust pada daerah persebarannya cukup meresahkan disebabkan jenis ini memiliki potensi invasif yang cenderung menekan pertumbuhan tanaman asli setempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh cekaman kekeringan berupa volume penyiraman dan interval penyiraman terhadap perilaku fisiologis dan pertumbuhan bibit black locust, serta untuk menganalisis tingkat toleransi black locust terhadap kekeringan melalui karakter efisiensi penggunaan air (WUE) dan kandungan klorofil. Perlakuan volume penyiraman berupa kapasitas lapang 30-40 % mewakili kondisi kekeringan dan kapasitas lapang 70-80 % mewakili kondisi air yang memadai, sementara periode interval penyiraman adalah 1 hari, 3 hari dan 7 hari. Metode analisis yang digunakan ialah analisis tren. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini adalah semakin rendah volume penyiraman (KL 30-40 %) dan semakin lama interval penyiraman (ke 7 hari) maka fotosintesis, transpirasi, konduktansi stomata, serta pertumbuhan (tinggi, diameter, berat kering tajuk dan akar) akan semakin rendah, sementara untuk WUE dan kandungan klorofil semakin tinggi. Peningkatan WUE dan kandungan klorofil merupakan dua indikator bahwa black locust mampu beradaptasi (toleran) pada kondisi cekaman kekeringan. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa penggunaan black locust dalam upaya reklamasi lahan kering perlu didahului studi khusus dan pertimbangan yang matang agar tidak membawa dampak invasif pada kehidupan mendatang.Kata kunci: black locust, cekaman kekeringan, jenis invasif, water use efficiency, kandungan klorofil. Effect of drought stress on physiological behavior and growth ofblack locust (Robinia pseudoacacia) seedlingsAbstractBlack locust (Robinia pseudoacacia) is a native species from North America and it has spread to Europe and Asia. Black locust is also one species used for land rehabilitation in semiarid and arid areas. However, adaptability of black locust on their distribution area is quite disturbing due to its invasive potential that tends to suppress the growth of native plants. The purpose of this study is to examine the effect of drought stress through watering volume and watering intervals treatments on physiological behavior and growth of black locust seedlings, and to analyze the level of black locust on drought tolerance through water use efficiency (WUE) character and chlorophyll content. The watering volumes are 30-40 % of field capacity representing drought conditions and 70-80 % of field capacity representing good water conditions, while the watering intervals are 1, 3 and 7 days. Trend analysis is used to analyze the data. The results indicate that the lower watering volume (30-40 %) and the longer the watering interval (for 7 days), the lower the photosynthesis and transpiration rate, stomatal conductance and growth (height, diameter, shoot dry weight and root) of plants, but the higher the WUE and chlorophyll content. Increasing WUE and chlorophyll content are two indicators indicating that black locust is able to adapt (tolerant) to drought stress situations. Therefore, the use of black locust for dry land reclamation requires special attention and careful strategy to avoid its invasive impact in the future

    Zona Ekowisata Kawasan Konservasi Pesisir di Kecamatan Katingan Kuala, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah Melalui Pendekatan Ekologi Bentang Lahan

    Get PDF
    Wilayah laut dan pesisir beserta sumberdaya alamnya memiliki pengaruh strategis terhadap pengembangan ekonomi Indonesia karena dapat diandalkan sebagai salah satu pilar ekonomi nasional. Pemanfatan dan pengelolaan kawasan pesisir yang dilakukan oleh masyarakat maupun pemerintah daerah belum mencerminkan aspek-aspek kelestarian dan keberkelanjutan. Untuk mendukung hal tersebut, perlu dikembangkan zona ekowisata yang mampu meningkatkan ekonomi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari zona ekowisata kawasan konservasi pesisir di Kecamatan Katingan Kuala Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah melalui pendekatan ekologi bentang lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seluruh luas wilayah Kecamatan Katingan Kuala (1.440 km2) dapat dikategorikan dalam empat sub zona, yaitu zona ekowisata ± 15,83 %, zona penyangga ± 31,30 %, zona inti untuk konservasi dan rehabilitasi ± 29,55 %, dan zona produksi dan ekonomi ± 23,31 %. Disimpulkan bahwa kegiatan pengembangan ekowisata di wilayah pesisir ini harus serasi dan selaras dengan upaya konservasi, perlindungan, dan pelestarian lingkungan hidup secara menyeluruh.Kata kunci:  zonasi ekowisata, ekologi bentang lahan, konservasi pesisir, pembangunan keberlanjutan, Katingan Kuala. Ecoutourism Zone of Coastal Conservation Area through Landscape Ecology Approach in Katingan Kuala Sub-regency, Katingan Regency, Central Kalimantan Province AbstractMarine and coastal areas as well as their natural resources have strategic effects towards the economic development of Indonesia because they are reliable to be one of the pillars of the national economy. Utilization and management of coastal areas either conducted by the community or local government have not reflect the conservation and sustainable aspects. To support these conditions, it is necessary to develop ecotourism zone, which is able to improve the local economies. This research aimed to study ecotourism zone of the coastal conservation area in Katingan Kuala Sub-district, Central Kalimantan Province through landscape ecology approach. The results showed that the total area of Katingan Kuala Sub-district, which is1,440 km2, could be categorized into four sub-zones, i.e. ecotourism zone is ±15.83 %, buffer zone is ± 31.30 %, core zone for conservation and rehabilitation is ± 29.55 %, and production and economic zone is ± 23.31 %. It was concluded that ecotourism development in these coastal areas should be in harmony with the conservation, protection, and preservation of the environment as a whole

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    Sifat Fisika Mekanika dan Ketahanan Papan Partikel Bambu dengan Perekat Asam Sitrat terhadap Serangan Rayap Kayu Kering

    Get PDF
    Penelitian mengenai penggunaan asam sitrat sebagai agen pengikat alami masih relatif sedikit. Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada pengaruh jumlah asam sitrat dan suhu pengempaan terhadap sifat papan partikel bambu, termasuk ketahanannya terhadap serangan rayap kayu kering. Bahan penelitian adalah partikel bambu petung. Komposisi kimia bahan baku bambu diuji untuk kadar ekstraktif, holoselulosa, lignin, dan alfa selulosa. Faktor pada penelitian ini adalah jumlah asam sitrat (0 - 40%) berdasarkan berat kering udara partikel) dan suhu pengempaan (200 oC dan 220 oC). Sifat fisika dan mekanika papan partikel diuji berdasarkan standar pengujian JIS A 5908. Analisis menggunakan Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) juga dilakukan untuk mengetahui perubahan gugus ester pada berbagai jumlah asam sitrat dan suhu pengempaan. Pengujian ketahanan terhadap serangan rayap kayu kering juga dilakukan dengan menghitung nilai pengurangan berat dan mortalitas rayap setelah 6 minggu. Hasil pengujian menunjukkan bahwa interaksi kedua faktor berpengaruh nyata terhadap nilai pengembangan tebal, penyerapan air, modulus elastisitas dan modulus patah. Intensitas gugus C=O yang ditunjukkan pada puncak 1720 cm-1 semakin bertambah besar seiiring dengan semakin banyaknya jumlah asam sitrat, yang menyebabkan kekuatan perekatan dan stabilitas dimensi papan partikel menjadi semakin kuat. Kondisi optimum pada penelitian ini adalah papan partikel dengan penambahan jumlah asam sitrat 20 % pada suhu pengempaan 200 oC dengan kualitas yang dapat memenuhi standar JIS A 5908 tipe 8. Penambahan asam sitrat dapat meningkatkan mortalitas rayap kayu kering secara nyata. Penambahan 20 % asam sitrat pada suhu pengempaan 200 oC menghasilkan nilai pengurangan berat 0,9 % dan mortalitas rayap 57 %.Kata kunci: bambu petung, asam sitrat, suhu pengempaan, jumlah asam sitrat. Mechanical properties and durability against the dry termite attacks of particleboard made from bamboo with citric acid as adhesive AbstractResearch on development of citric acid as natural adhesive are still limited. Therefore this research focused on effects of citric acid content and pressing temperature on properties of particleboard made from bamboo, including its durability to the dry termite attacks. Petung bamboo particles were used as raw materials. Chemical characteristics of petung bamboo were analyzed for its extractive, lignin, holocellulose and alpha cellulose. Factors used in this research were citric acid content (0 - 40 %) based on dry weight particles and pressing temperature (200 oC dan 220 oC). Properties of the particleboard were analyzed based on Japanese Industrial Standard (JIS) A 5908 for particleboard. Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR) analysis was used for investigating the changes of ester groups at various citric acid content and pressing temperature. The dry termite resistance was then analyzed for its weight loss and mortality after 6 weeks. The results showed that interaction between two factors affected significantly on thickness swelling, water absorption, modulus of elasticity, and modulus of rupture. Intensity of C=O groups became stronger as increasing citric acid content, providing high mechanical properties and high dimensional stability. Optimum condition in this research was achieved at 20 % of citric acid content and 200 oC of pressing temperature, which the board properties met the requirement of JIS A 5908 type 8. Increasing of citric acid content would also increase the dry termite mortality. Addition of 20 % citric acid at 200 oC of pressing temperature produced particleboard with the weight loss was 0.9 % and 57 % of the dry termite mortality.

    Pemanfaatan Tumbuhan Cempedak (Artocarpus champeden) oleh Masyarakat Kampung Sabun Distrik Aitinyo Tengah Kabupaten Maybrat, Papua Barat

    Get PDF
    Tumbuhan cempedak (Artocarpus champeden) merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu (HHBK) potensial di wilayah Maybrat. Jenis HHBK ini dimanfaatkan sebagai salah satu pangan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Maybrat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni-Juli 2014, untuk mengetahui pemanfaatan tumbuhan cempedak (Artocarpus chempeden) bagi masyarakat Kampung Sabun, Distrik Aitinyo, Kabupaten Maybrat. Pengambilan data dilakukan melalui observasi dan wawancara terstruktur pada 15 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagian tumbuhan cempedak yang dimanfaatkan adalah buah dan biji. Pengolahan tumbuhan cempedak terbagi atas 3 bentuk, yaitu: pengolahan pada buah masak, buah muda, dan biji, sedangkan pengolahan biji dibagi dalam 4 bagian, yaitu: proses perebusan dan pengukusan, sangrai, pengisian dalam bambu, dan penyimpanan biji. Upaya konservasi cempedak telah dilakukan secara sederhana melalui penanaman pada areal kebun dan pekarangan rumah masyarakat. Penelitian ini juga memperoleh informasi bahwa pemanfaatan cempedak hanya terbatas untuk kebutuhan rumah tangga masyarakat saja. Pengolahan komersil belum dikembangkan. Dengan demikian, pengembangan cempedak sebagai alternatif pangan produk HHBK perlu dilakukan dengan mendorong kerjasama lintas sektor baik pertanian dan kehutanan serta pihak terkait di wilayah Maybrat.Kata kunci: Artocarpus champeden, Masyarakat Kampung Sabun, Kabupaten Maybrat, HHBK, pengolahan buah  Utilization of Cempedak (Artocarpus champeden) by Communities in Sabun Village, Central Aitinyo Sub-district, Maybrat Regency, West Papua ProvinceAbstractCempedak (Artocarpus champeden) is one of the non timber forest products (NTFPs) from the Maybrat district. It is used as a daily food of Maybrat people. The study was conducted from June-July 2014 in Sabun Village, Aitinyo Sub district of the Maybrat Regency, West Papua Province. The objectives of this study were to explore the utilization, harvesting technique, and manufacturing process of cempedak in Sabun villages. Field observations and interviews were used to collect the data of 15 respondents. The result showed that fruits and seeds are part of of the cempedak trees, which is utilised for food. Cempedak processing were divided into 3 parts i.e. the ripe fruit, the unripe fruit, and the seed. Processing of the seed were divided into four parts i.e. boiling, steaming, frying without oil process, filling inside bamboo, and storage. Conservation efforts were conducted by planting cempedak in the garden of villagers’ house. This research also revealed that the utilization process was done for household purposes only. Therefore, the development of cempedak for an alternative food as NTFPs, is necessary to be promoted by collaboration of related stakeholders including forestry and agriculture in Maybrat Regency

    Kualitas Pengeringan Kayu Mahoni pada Berbagai Variasi Kerapatan Incising dengan Dua Skedul Pengeringan Suhu tinggi

    Get PDF
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh interaksi variasi kerapatan incising dan dua skedul pengeringan terhadap kecepatan dan cacat-cacat pengeringan kayu mahoni, serta mengetahui pengaruh variasi kerapatan incising terhadap kekuatan lengkung statik kayu mahoni yang telah dikeringkan. Tiga pohon mahoni (Swietenia mahagony) berdiameter 300-350 mm ditebang dan selanjutnya dibelah dan dibuat menjadi balok dengan ukuran 60 mm × 100 mm dengan panjang 500 mm untuk dijadikan sampel pengeringan. Di antara masing-masing bagian tersebut, dibuat sampel ukuran 20 mm × 20 mm × 25 mm, yang digunakan untuk penentu kadar air awal dan distribusinya. Sampel pengeringan selanjutnya dibagi menjadi 5 variasi kerapatan incising, yaitu 0 lubang/m2 (tanpa incising), 1000 lubang/m2, 2000 lubang/m2, 3000 lubang/m2, dan 4000 lubang/m2. Setiap variasi kerapatan incising selanjutnya akan dikeringkan dengan 2 skedul pengeringan, yaitu suhu pengeringan 100°C sampai tercapai kadar air akhir 12% dan suhu 60°C pada 8 jam pertama dan selanjutnya dilanjutkan 100°C, sampai tercapai kadar air akhir 12%. Paramater yang diamati adalah kecepatan pengeringan, cacat retak permukaan, dan distribusi kadar air akhir. Hasil analisis menunjukkan bahwa kerapatan incising 3000-4000 lubang/m2 memberikan pengaruh yang cukup nyata di dalam mempercepat proses pengeringan dan distribusi kadar air akhir. Skedul pengeringan dan variasi kerapatan incising tidak berpengaruh pada retak permukaan. Pra perlakuan incising sampai batas 4000 lubang/m2 ini dapat diterapkan untuk mempercepat proses pengeringan dengan penurunan nilai modulus elastisitas dan modulus patah yang tidak berbeda nyata.Kata kunci: incising, pengeringan suhu tinggi, mahoni, lengkung statik, skedul pengeringan Drying Quality of Mahoni Wood in Various Incising Densities and Two High Temperature-Drying SchedulesAbstractThe aims of this research were to investigate the effects of interaction between incising densities and two drying schedules on drying rate and defects as well as to examine the effect of incising densities on static bending characteristics of dried mahogany. Tree mahogany (Swietenia mahogany) trees with the diameter of 300-350 mm were cut and sawn into columns with the dimension of 60 mm ×100 mm × 500 mm. Each column was cut into five parts with the length of 500 mm. A small sample with the dimension of 20 mm × 20 mm × 25 mm were taken in between drying sample to measure moisture content. Five incising densities, which were 0 holes/m2 (unincised), 1000 holes/m2, 2000 holes/m2, 3000 holes/m2 and holes/m2, were applied to the drying sample. Samples were dried with two different drying schedules until the moisture content of 12%. Drying rate, defects, and moisture distribution were measured to evaluate the drying quality. Static bending test was applied to examine the strength properties. The results showed that incising densities of 3000-4000 holes/m2 could significantly improve drying rate and final moisture content distribution. There was no significants defects due to the variation of incising densities and drying schedules. No significant decrease of modulus of elasticity and modulus of rupture among five incising densities was found in this research

    148

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kehutanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇