Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
    235 research outputs found

    Kualitas Papan Partikel dari Pelepah Nipah dengan Perekat Asam Sitrat dan Sukrosa

    Get PDF
    Penggunaan perekat alami dan bahan baku non kayu dalam pembuatan papan partikel masih sangat terbatas. Sukrosa dan asam sitrat adalah dua bahan alami yang potensial sebagai perekat alami pengganti perekat sintetik berbasis formaldehida. Nipah (Nypa fruticans Wurmb.) merupakan bahan non kayu yang potensial dijadikan alternatif bahan baku papan partikel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas papan partikel pelepah nipah yang direkat dengan sukrosa/asam sitrat (100/0, 87,5/12,5 dan 75/25). Papan partikel yang dibuat berukuran 25 cm × 25 cm × 1 cm, target kerapatan 0,8 g/cm3. Variabel perekatan antara lain jumlah perekat 20%, waktu kempa 10 menit, suhu kempa 180°C dan tekanan spesifik 3,6 MPa. Sifat fisika dan mekanika papan partikel diuji berdasarkan standar JIS A 5908:2003, kekasaran permukaan diukur menggunakan metode yang dilakukan oleh Hiziroglu (1996). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan asam sitrat terhadap sukrosa berpengaruh positif terhadap sebagian besar sifat papan partikel pelepah nipah. Papan partikel pelepah nipah dengan perekat sukrosa/asam sitrat 87,5/12,5 mampu memberikan hasil terbaik dengan memenuhi standar JIS A 5908:2003. Karakteristik papan partikel tersebut adalah kerapatan 0,89 g/cm3, kadar air 10,21%, pengembangan tebal 2,45%, penyerapan air 23,55%, kekasaran permukaan 5,13 μm, keteguhan rekat internal 0,39 MPa, keteguhan patah 9,80 MPa dan keteguhan elastisitas 3,19 GPa.Kata kunci: papan partikel, pelepah nipah, perekat alami, sukrosa, asam sitrat Quality of the Nipa Frond Particleboard Bonded with Citric acid and SucroseAbstractUtilization of natural binder for non-wood composite is still limited. Sucrose and citric acid are potential natural binding agents for composite products. Nipa (Nypa fruticans Wurmb.) was non-wood materials which are potentially to be used as an alternative raw material for particleboards. This study aimed to determine the quality of the nipa frond particleboard bonded with sucrose/citric acid (100/0, 87.5/12.5 and 75/25). Particleboards were manufactured in 25 cm × 25 cm × 1 cm dimension, the target of density 0.8 g/cm3. The variables included resin content of 20%, press time of 10 m, pressing temperature of 180°C and specific pressure of 3.6 MPa. The physics and mechanics properties of particleboard were tested in accordance to standard JIS A 5908:2003 and surface roughness was measured by following the method performed by Hiziroglu (1996). The results showed that the addition of citric acid to sucrose give a positive effect on most of the properties of the nipa frond particleboards. The particleboard bonded with sucrose/citric acid 87.5/12.5 was able to provide the best results to meet the standards of JIS A 5908: 2003. Characteristics of the particleboard was a density of 0.89 g/cm, moisture content of 10.21%, thickness swelling of 2.45%, water absorption of 23.55%, surface roughness of 5.13 ìm, internal bonding of 0.39 MPa, modulus of rupture of 9.80 MPa and modulus of elasticity of 3.19 GPa

    Halaman Belakang

    No full text
    Indeks PenulisIndeks SubjekDaftar Nama Mitra BestariInstruction to AuthorsInstruksi Untuk Para Penuli

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    Kontribusi Pendapatan Hasil Hutan Bukan Kayu pada Usaha Hutan Rakyat Pola Agroforestri di Kabupaten Tasikmalaya

    Get PDF
    Hutan rakyat tidak hanya menghasilkan kayu akan tetapi juga memberikan hasil hutan bukan kayu (HHBK), malah pada beberapa tempat HHBK ini menjadi primadona. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan data mengenai jumlah kontribusi pendapatan HHBK di hutan rakyat serta permasalahan dan keunggulan pengembangan HHBK. Kegiatan dilaksanakan di Desa Karyabakti Kecamatan Parungponteng Tasikmalaya, pada bulan Juni-Desember 2013. Obyek kajian adalah petani hutan rakyat yang dipilih secara stratified random sampling berdasarkan luas kepemilikan lahan hutan rakyat sebanyak 30 orang. Pengambilan data dilakukan dengan cara wawancara dengan menggunakan kuisioner. Selanjutnya data yang terkumpul dianalis secara statistik dan disajikan secara diskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa rata-rata responden memiliki lahan seluas 0,374 ha dan paling luas diperuntukkan untuk usaha hutan rakyat yaitu 0,246 ha atau 65,78 %. Pola tanam yang dikembangkan adalah pola agroforestri yaitu percampuran antara tanaman kayu dan HHBK yang merupakan tanaman perkebunan, tanaman buah, tanaman obat dan tanaman pangan. Periode pendapatan dari tanaman HHBK ini adalah mingguan, bulanan dan tahunan. Kontribusi HHBK terhadap total pendapatan hutan rakyat adalah 67,56% (strata 1), 63,93 % (strata 2) dan 75,11 % (strata 3) sedangkan kontribusi tanaman kayu sebesar 32,44 % (strata I), 36,07 % (strata II) dan 24,89 % (strata III). Dengan demikian, kontribusi HHBK setiap tahunnya jauh lebih tinggi namun sayangnya pengembangan HHBK ini belum maksimal, padahal hasilnya masih dapat lebih ditingkatkan. Salah satu kendala pengembangan HHBK adalah aspek budidaya yang diterapkan masih belum sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) dari Kementerian Kehutanan. Untuk itu, maka perlu upaya peningkatan HHBK salah satunya dengan transfer pengetahuan dan teknologi melalui penyuluhan.Kata kunci: hutan rakyat, hasil kayu, HHBK, kontribusi, pendapatan The  contribution of  income from Non Timber Forest Product to the  agroforestry business in community forest in Tasikmalaya RegencyAbstractCommunity forests is not merely producing timbers, but also non timber forest products (NTFPs) which are even more important at several places. The objective of the research was to obtain the data with regard to the advantage of developing NTFPs from community forests and its contribution to income of farmer. This study was conducted at Karyamukti village, Parungponteng Sub-district, Tasikmalaya District from June to December 2013. Thirty forest farmers were selected by stratified random sampling technique based on the size of forest ownership. Questioners were used to support interviews during data collection activities. Collected data were statistically analyzed and presented descriptively. The result showed that respondents own land areas averagely 0.374 ha whereas 0.246 ha or 65.78 % of them were utilized for community forest business. The developed planting system was agroforestry i.e. mixing the timber plants with NTFP plants such as estate, fruity, medicinal, and food plants. The period income gained from NTFP could be weekly, monthly, and annually. Income contributions of NTFPs to total income from farm forest were 67.56 % (level 1), 63.93 % (level 2) and 75.11 % (level 3), while the income contributions of timbers were only 32.44 % (level 1), 36.07 % (level 2), and 24.89 % (level 3). The annual income contribution of NTFPs, therefore, was higher than the one from timbers. The contribution, actually, could be increased if the NTFPs were developed seriously. One constrain in the NTFPs development was the silviculture technique operated by farmers, which did not follow the standard operational procedure (SOP) issued by The Ministry of Agriculture. Based on that condition, efforts to improve NTFPs development by transferring the knowledge and technology through extension are urgently required

    Kilas Balik Sepuluh Tahun Jurnal Ilmu Kehutanan

    Get PDF
    Kilas Balik Sepuluh Tahun Jurnal Ilmu Kehutana

    Kualitas, Komposisi Kimia, dan Aktivitas Anti Oksidan Minyak Kenanga (Cananga odorata)

    Get PDF
    Minyak kenanga pada penelitian ini diperoleh dari bunga kenanga segar dengan penyulingan cara pengukusan. Uji kualitas fisik minyak kenanga cukup memuaskan dan sesuai dengan standar SNI 06-3949-1005. Komposisi kimia minyak kenangan diuji menggunakan GC-MS. Hasil analisis GC-MS mengidentifikasikan adanya 23 komponen kimia penyusun minyak kenanga. Komponen utama penyusun minyak kenanga yang dihasilkan pada penelitian ini adalah caryophyllene (36,44%), â-linalool (5,97%), á-caryophyllene (9,61%), germacrene D (17,23%), dan benzyl benzoate (7,18%). Pengujian antioksidan minyak kenanga dengan metode DPPH scavenging assay menunjukkan aktivitas antioksidan yang lembut dari minyak kenangan (IC50: 2,29 mg/ml) jika dibandingkan dengan kontrol positif BHA (IC50: 0,03 mg/ml). Penelitian ini mengidentifikasikan bahwa minyak kenanga memiliki potensi sebagai antioksidan alami yang lembut.Kata kunci: Cananga odorata, minyak atsiri, kualitas, komposisi kimia, antioksidan.  Quality, chemical composition, and antioxidative activity of cananga (Cananga odorata) oilAbstractCananga oil in this study was obtained from fresh flowers of Cananga odorata by water-steam distillation. The result of physical properties of cananga oil were compared with the SNI 06-3949-1005 showed that cananga oil was satisfied the quality prescribed by standard. The chemical composition of cananga oil was analyzed by GC-MS. GC-MS analysis showed that 23 compounds have been identified. The main compounds of cananga oil were caryophyllene (36.44%), â-linalool (5.97%), á-caryophyllene (9.61%), germacrene D (17.23%) and benzyl benzoate (7.18%). The DPPH scavenging assay showed that cananga oil possess mild antioxidant activity (IC50: 2.29 mg/ml) if compared with positive control of BHA (IC50: 0.03 mg/ml). This study indicated that cananga oil has potency as mild natural antioxidant.

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanDaftar Is

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    Pemilihan Jenis Hasil Hutan Bukan Kayu Potensial dalam Rangka Rehabilitasi Hutan Lindung (Studi Kasus Kawasan Hutan Lindung KPHL Rinjani Barat, Nusa Tenggara Barat)

    Get PDF
    Salah satu strategi dalam upaya rehabilitasi hutan lindung adalah pemilihan jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang tepat. Selain sesuai dengan lokasi yang akan direhabilitasi, jenis HHBK yang dipilih juga harus mempunyai potensi manfaat secara ekologi sehingga fungsi pokok hutan lindung terjaga. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis pemilihan jenis-jenis HHBK potensial dalam rangka rehabilitasi hutan lindung dengan mengambil studi kasus di hutan lindung KPHL Rinjani Barat, Nusa Tenggara Barat. Penelitian terdiri dari tiga tahap yaitu persiapan (pengumpulan data pendukung dan desk study), pengamatan lapangan (biofisik dan sistem perakaran jenis HHBK), dan analisis data (kesesuaian jenis, nilai Indeks Jangkar Akar dan Indeks Cengkeram Akar). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan jenis HHBK potensial dapat didasarkan pada tingkat kesesuaian jenis di kawasan yang akan direhabilitasi dan potensi sistem perakarannya dalam mencegah longsor dan erosi. Berdasarkan hasil yang diperoleh jenis HHBK yang potensial dikembangkan dalam kerangka rehabilitasi hutan lindung di KPHL Rinjani Barat adalah jenis HHBK penghasil buah seperti durian, mangga, manggis, sukun, alpukat, sawo, dan kemiri. Jenis HHBK sebagai sumber bahan bakar nabati yaitu nyamplung dan penghasil minyak atsiri yaitu kayu putih. Beberapa faktor pembatas yang perlu diperhatikan dalam pengembangan jenis potensial tersebut adalah kemiringan lereng yang curam, tanah dengan tekstur didominasi fraksi pasir dan rendahnya unsur hara, serta iklim berupa bulan kering yang cukup panjang. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak faktor pembatas ini adalah penerapan teknik konservasi tanah air, pemanfaatan pupuk organik, dan pemanfaatan mikoriza.Kata kunci: HHBK, hutan lindung, rehabilitasi, sistem perakaran, Rinjani Barat Selection of Non-Timber Forest Products  species for protected forest rehabilitation (Case study in protected forest of Rinjani Barat Forest Management Unit, West Nusa Tenggara ProvinceAbstractOne of the strategies in protected forest rehabilitation is selecting proper Non-Timber Forest Products (NTFPs) species. The selected NTFPs species should have an ecological function to maintain the sustainability of protected forest services. The research aimed to conduct an analysis of NTFPs selection in protected forest rehabilitation framework. The study was located in Rinjani Barat Forest Management Unit (FMU), West Nusa Tenggara Province. The research consisted of three steps, which were preparation (collecting supported data and desk study), field observation (biophysics and root characteristics of NTFPs), and data analysis (species suitability, Index Root Anchoring, and Index Root Binding). The result of the research showed that selection of NTFPs potentials could be based on suitability level in rehabilitation site and roots system prospects, especially in landslide and erosion control. The selected NTFPs species, which were suitable for protected forest rehabilitation in Rinjani Barat FMU, were fruit species such as Durio zibethinus, Mangifera indica, Garcinia mangostana, Arthocarpus altilis, Persea americana, Achras zapota, and Aleuritas moluccana; source of biofuel species such as Callophylum inophylum; and source of essential oil species such as Melaleuca leucadendron. There were some constrain factors in the utilization of the NTFPs species for protected forest rehabilitation, including steep slope, soil texture dominated by sand fraction, low soil nutrients, and long period of dry month. These constrain factors could be minimized by implementing soil conservation techniques and utilizing of organic fertilizer and mychorriza.

    Pemodelan Spasial Resiliensi Ekosistem Gunungapi Merapi Pasca Erupsi

    Get PDF
    Kemampuan ekosistem hutan di wilayah gunungapi pasca erupsi dapat kembali berfungsi seperti sebelumnya sangat dipengaruhi oleh resiliensi atau daya lentur/lembam ekosistem tersebut. Resiliensi suatu ekosistem dalam studi ini didefinisikan sebagai kemampuan ekosistem untuk bangkit kembali setelah guncangan/gangguan. Tujuan penelitian ini adalah untuk memodelkan sebaran resiliensi spasial ekosistem hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) lima tahun pasca erupsi dan intervensi restorasi. Analisis dilakukan dengan pendekatan penginderaan jauh multi temporal dan analisis spasial menggunakan sistem informasi geografis untuk menggambarkan perubahan kondisi ekosistem gunungapi sebelum dan pasca erupsi dan kegiatan restorasi. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa setelah lima tahun pasca erupsi, telah terjadi transisi resiliensi/perbaikan ekosistem dari lahan terbuka ke lahan dengan tutupan vegetasi berupa rumput, semak belukar, dan hutan sekunder. Transisi resiliensi ini terjadi baik secara suksesi alami maupun campur tangan manusia dalam bentuk tindakan restorasi. Salah satu catatan hasil dari penelitian ini antara lain adalah keberhasilan kegiatan restorasi untuk mengembalikan kondisi ekosistem seperti sebelum erupsi tidak selalu dapat dideteksi dalam jangka lima tahun setelah erupsi. Kata kunci: Gunungapi Merapi; multi temporal; penginderaan jauh; resiliensi spasial; sistem informasi geografis Spatial Resilience Modelling of Merapi Volcano Ecosystem Post-EruptionThe ability of volcano ecosystem to recover post an eruption to the pre eruption status is affected by its ecological resilience. Resilience of an ecosystem can be defined as the ability of an ecosystem to bounch back after (a) disturbance(s). This study aimed to model spatial resilience of Merapi volcano ecosystem within the area of National Park of Merapi Volcano (TNGM) five years post 2010 eruption and restoration intervention. Analysis was conducted using multi temporal remote sensing and spatial analysis using geographic information system to draw the changes of the ecosystem over time, particularly post eruption and restoration actions. The modelling resulted that five years post eruption, there was resilience transisition/ recovery in volcano ecosystem in TNGM post 2010 eruption. The resilience was shown by the changes from open area to vegetation covers as grass, shrubs, and secondary forests. The transitions occured in term of natural succession as well as human intervention in restoration programs. However, the success of restoration actions to recover the ecosystem to the pre eruption status was not always able to be detected within the period of five years post eruption

    148

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kehutanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇