Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Halaman Belakang
Indeks PenulisIndeks SubjekDaftar Nama Mitra Bestari JIK Vol.9 tahun 2015Instruction to AuthorsInstruksi Untuk Para PenulisSampul Belakan
Arah Tata Hubungan Kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di Indonesia
Pembentukan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) menjadi salah satu prioritas kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi berbagai permasalahan mendasar pengelolaan hutan di Indonesia, seperti tata kelola yang buruk, ketidakjelasan hak tenurial, dan lemahnya kapasitas dalam manajemen hutan. KPH dikonseptualisasikan sebagai penyelenggara pengelolaan hutan di tingkat tapak. Kebijakan pembangunan KPH yang diatur oleh pusat dipandang dapat menambah kompleksitas terhadap struktur pengurusan dan pengelolaan yang sudah ada selama ini. Makalah ini membahas konsep tata hubungan kelembagaan dalam kebijakan KPH.Kata kunci: KPH, pengurusan, kelembagaan, kewenangan, resentralisasi Direction of Institutions and Bureaucracies of Forest Management Units (FMUs) in Indonesia AbstractThe establishment of Forest Management Units (FMUs) has been made as one of the top policy priorities by the Ministry of Environment and Forestry. The policy is expected to become a solution for problems regarding to the management of forests in Indonesia, e.g. poor forest governance, tenurial problems, limited capacity in the management of forests. FMU is conceptualized as a forest management agent/ institution at the field. The policy of establishing FMUs is often viewed to add complexities of the current forest administration and management structures. This paper discusses concepts of institutions and bureaucracies of the FMU policy
Development of Drying Schedule of Superior and Conventional Teak Wood of Ten Years-old Planted in Blora, Central Java
The aims of this study were to investigate drying defect characteristics, to develop proper drying schedule, and to analyze the relationship between the developed drying schedule and its wood properties. This study used superior and conventional teak wood of ten years-old planted in Blora, Central Java. Sample from different axial positions (bottom and middle part) and different board thicknesses (20 mm and 40 mm) were taken. Drying schedule was developed in accordance to Terazawa method, which dried the sample for 72 h at a temperature of 100 °C. Initial moisture content, crack, collapse, and honeycombing were observed to determine the proper drying schedule. The developed drying schedule then was related to their characteristics, such origin of the seedling, thickness, density, and heartwood percentage. The proper scheduled was also applied in larger sample and evaluated. The results showed that there were five variations of drying schedule for superior and conventional teak wood. Chi square analysis indicated that the board thickness affect significantly on developing drying schedules. Boards with a thickness of 20 mm can be dried with an initial temperature of 70 °C, the wet bulb depression 7°C, and the final temperature of 105°C. Further, boards with a thickness of 40 mm should be dried with a softer drying schedule with an initial temperature of 60°C, wet bulb depression temperature of 4 °C, and the final temperature of 85°C. Application of the selected drying schedule was succeed without any significant defects.Keywords: superior; teak; drying schedules; inferior; wood Pengembangan Skedul Pengeringan Kayu Jati "Mega" dan Konvensional Umur 10 tahun Ditanam di Blora, Jawa tengahAbstractTujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik cacat pengeringan, skedul pengeringan yang sesuai, variasi ketebalan papan serta beberapa sifat kayunya terhadap skedul pengeringan. Penelitian ini menggunakan kayu jati prospektif unggul dan konvensional umur 10 tahun dari Blora, Jawa Tengah dengan letak aksial yang berbeda (pangkal dan tengah) serta ketebalan papan masing-masing 20 mm dan 40 mm. Penyusunan skedul pengeringan menurut metode Terazawa, dengan pengeringan selama 72 jam pada suhu 100°C. Parameter yang diamati yaitu kadar air awal, cacat retak, kolaps, dan honeycombing. Cacat yang terjadi digunakan untuk penyusunan skedul pengeringan. Skedul pengeringan selanjutnya diuji hubungannya dengan sumber asal bibit, ketebalan, berat jenis, dan persen kayu terasnya. Skedul pengeringan yang paling sesuai selanjutnya diujicoba dan dievaluasi. Berdasarkan hasil penelitian, diajukan lima skedul pengeringan. Hasil analisis chi square menunjukkan bahwa ketebalan papan memiliki hubungan signifikan terhadap variasi skedul pengeringan. Papan dengan ketebalan 2 cm dapat dikeringkan dengan suhu awal 70°C, depresiasi bola basah 7°C, dan suhu akhir 105°C. Selanjutnya, papan dengan ketebalan 4 cm perlu dikeringkan dengan skedul yang lebih lunak dengan suhu awal 60°C, depresiasi suhu bola basah 4°C, dan suhu akhir 85°C. Hasil uji aplikasi menunjukkan hasil yang memuaskan dengan cacat yang tidak signifikan.
Prospek Pengembangan Pala (Myristica fragrans Houtt) di Hutan Rakyat
Hutan rakyat sebagian besar dikelola secara agroforestri. Salah satu jenis tanaman yang banyak dikembangkan di hutan rakyat adalah pala (Myristica fragrans). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek pengembangan pala di lahan hutan rakyat. Penelitian dilakukan di Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah pada bulan Juni sampai dengan Juli 2012. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran data sekunder, wawancara terbuka dan mendalam. Narasumber dipilih secara sengaja (purposive sampling) yaitu petani yang menanam pala di lahannya sebanyak 20 orang. Data yang diperoleh kemudian diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pala memiliki prospek yang baik sebagai salah satu jenis tanaman untuk pengembangan hutan rakyat di Desa Kemawi karena terdapat faktor-faktor yang mendukung pengembangannya yaitu :1) lahan secara bio fisik sesuai untuk pertumbuhan tanaman pala, 2) secara sosial dapat diterima oleh masyarakat karena jauh sebelumnya sudah banyak petani yang membudidayakan pala di lahannya 3) secara ekonomi memiliki harga yang cukup tinggi dan stabil sehingga memberikan tambahan pendapatan, 4) kondisi pemasaran baik buah maupun bibitnya sangat mudah, dan 5) perhatian pemerintah terhadap pengembangan pala pada tingkat produksi hingga pengolahan pasca panen cukup besar yang telihat dari adanya beberapa program yang berkaitan dengan pengembangan tanaman pala di wilayah ini.Kata kunci: pala, hutan rakyat, prospek, Desa Kemawi, agroforestri. Development prospect of nutmeg (Myristica fragrans Houtt) in the community forest AbstractThe private forest is largely managed with agroforestry pattern. Nutmeg (Myristica fragrans) is a plant that has been developed in the private forest. This study aimed to determine the prospect of nutmeg in the private forest. This research was conducted in the Kemawi village, Somagede Subdistrict of Banyumas District, Central Java Province in June to July 2012. Data were collected through secondary data study, open and in-depth interviews. Twenty farmers who planted nutmeg were selected with purposive sampling technique. The obtained data were processed and analyzed descriptively. The results showed that nutmeg had a good prospect as one of the plantation species for private forest development in Kemawi village because of these several factors: 1) Kemawi land was biophysically suitable for nutmeg plantation, 2) socially, many farmers had been planting nutmeg in their land, 3) economically, nutmeg had a good and stable price that can provide additional income, 4) marketing of both fruit and seed of nutmeg were very easy, and 5) there were good attentions from the government to the nutmeg development program from production to post-harvesting process
Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunungkidul. V. Sifat Kimia Kayu
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sifat kimia kayu jati dari hutan rakyat Kabupaten Gunungkidul. Pohon (dbh 28-37 cm) diambil dari tempat tumbuh berbeda yaitu Nglipar, Panggang, dan Playen. Setiap tempat diambil 3 pohon sebagai ulangan dan sampel yang digunakan adalah disk yang diambil dari bagian pangkal. Penampang radial disk dibagi menjadi 3 bagian, yaitu gubal, teras luar, dan teras dalam. Sifat kimia yang diuji adalah kadar holoselulosa, á-selulosa, hemiselulosa, lignin, ekstraktif etanol-toluena, kelarutan dalam air panas, kelarutan dalam NaOH 1%, dan abu. Sebagai pembanding, digunakan kayu jati dewasa dari tegakan Randublatung (Perhutani). Kisaran nilai kimia dari komponen dinding sel kayu jati Gunungkidul adalah kadar holoselulosa 75,76-79,74%, á-selulosa 46,72-50,90%, hemiselulosa 27,41-30,14%, lignin 29,22-32,80%, dan kelarutan dalam NaOH 1% sebesar 16,43-17,35%. Selanjutnya, kadar ekstraktif etanol-toluena, kelarutan dalam air panas, dan abu adalah 5,04-10,77%, 2,74-7,85%, dan 0,60-1,66%, secara berurutan. Interaksi antara kedua faktor berpengaruh nyata pada kadar holoselulosa, á-selulosa, hemiselulosa, dan ekstraktif etanol-toluena. Faktor tempat tumbuh berpengaruh nyata pada kadar abu sedangkan faktor radial berpengaruh nyata pada kadar kelarutan dalam air panas dan abu. Kayu jati dari Gunungkidul memberikan nilai rerata kadar ekstraktif etanol-toluena dan abu yang lebih rendah sedangkan nilai di parameter lainnya masih dalam kisaran nilai kayu jati dari Randublatung.Kata kunci: Tectona grandis, sifat kimia, hutan rakyat, arah radial, Gunungkidul A Study of Teak Wood Quality from Community Forests in Gunungkidul. V.Wood Chemical PropertiesAbstractThis study aimed to explore the chemical properties of teak wood grown in community forests from Gunungkidul Regency. Trees (dbh 28-37 cm) were selected from three different sites i.e. Nglipar, Panggang, and Playen. Three trees were cut from each site and disks were taken from the base of the trees. The disk in radial cross section was divided into 3 parts: sapwood, outer heartwood, and inner heartwood. Chemical properties tested were holocellulose, á-cellulose, hemicellulose, lignin, ethanol-toluene extractives, hot-water soluble extractives, solubility in NaOH 1%, and ash contents. Mature teakwoods from Randublatung (Perhutani plantation) were used for comparison purpose.The values range of chemical composition in the cell wall components of the Gunungkidul teak wood were holocellulose content 75.76-79.74%, , á-cellulose content 46.72-50.90%, hemicellulose content 27.41-30.14%, lignin content 29.22-32.80%, and solubility in NaOH 1% 16.43-17.35%. Further, the ethanol-toluene extractive, hot-water soluble, and ash content values ranged from 5.04 to 10.77%, 2.74-7.85%, and 0.60-1.66%, consecutively. Interaction between two factors affects significantly to holocellulose, á-cellulose, hemicellulose, and ethanol-toluene extractive contents. The growth-site significantly influence on the ash contents as radial factor has significantly affect on the levels of hot water soluble extractives and ash content. The amounts of ethanol-toluene extractive and ash contents of Gunungkidul teak wood showed the lower values than those of teak from Randublatung. The values of other parameters were remain in the range of value of teak from Randublatung.
Halaman Belakang
Indeks PenulisIndeks SubyekDaftar Nama Mitra Bestari JIK Vol 10 Tahun 2016Instruction for AuthorsInstruksi Untuk Para PenulisSampul Halaman Belakan
Sistem Perburuan Landak Moncong Panjang (Zaglossus bruijnii) pada Masyarakat Kampung Waibem dan Kampung Saukorem Tambrauw, Papua Barat
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem perburuan landak moncong panjang (Zaglossus bruijnii) oleh masyarakat kampung Waibem dan Saukorem, Kabupaten Tambrauw. Penelitian ini dilakukan di Kampung Waibem dan Saukorem selama 1 bulan, yaitu sejak bulan Juli-Agustus 2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknik observasi lapangan dan wawancara semi struktural yang mengacu pada daftar kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya masyarakat Kampung Waibem dan Saukorem melakukan perburuan dengan 3 (tiga) tujuan, yaitu untuk dikonsumsi, dijual, dan sebagai hiburan. Masyarakat Kampung Waibem dan Saukorem berburu landak moncong panjang dengan menggunakan jerat, parang, bantuan anjing, dan berburu secara visual (bantuan mata). Waktu berburu landak moncong panjang adalah sehabis hujan, bulan sabit, dan pada malam hari. Pengembangan ekowisata berbasis satwa landak moncong panjang menjadi salah satu strategi untuk menambah pendapatan masyarakat pada kedua kampung serta secara perlahan-lahan mengurangi tingkat perburuan masyarakat.Kata kunci: sistem perburuan, Zaglossus bruijnii, landak moncong panjang, Saukorem Village, Waibem Village Hunting system of long-beaked echidna (Zaglossus bruijnii) by Waibem and Saukorem local communities, Tambrauw Regency, West PapuaAbstractThe objective of this research was to investigate hunting system of western long-beaked echidna (Zaglossus bruijnii) by Waibem and Saukorem Local Communities, Tambrauw Regency in Papua Province of Indonesia during July to August 2014. The observation technique and semi-structural interview were carried out by asking local people through questionnaire and analyzed by descriptive method. The result shows that local people in Waibem and Saukorem villagers generally do hunting for consumption, commercial/sale and hobby. The hunting method used by these communities were lasso, chopping knife, dog, and visual hunting. Hunting time of western long-beaked echidnais normally done after rain, crescent moon, and during night. Eco-tourism development is expected to increase the income of local people as well as reducing hunting pressure of this species
Modeling The Fate of Sumatran Elephants in Bukit Tigapuluh Indonesia: Research Needs & Implications for Population Management
The critically endangered Sumatran elephant persists in mainly small and isolated populations that may require intensive management to be viable in the long term. Population Viability Analysis (PVA) provides the opportunity to evaluate conservation strategies and objectives prior to implementation, which can be very valuable for site managers by supporting their decision making process. This study applies PVA to a local population of Sumatran elephants roaming the Bukit Tigapuluh landscape, Sumatra, with the main goal to explore the impact of pre-selected conservation measures and population scenarios on both population growth rate and extinction probability. Sensitivity testing revealed considerable parameter uncertainties that should be addressed by targeted research projects in order to improve the predictive power of the baseline population model. Given that further habitat destruction can be prevented, containing illegal killings appears to be of highest priority among the tested conservation measures and represents a mandatory pre-condition for activities addressing inbreeding depression such as elephant translocation or the establishment of a conservation corridor.Keywords: Elephas maximus sumatranus; population viability analysis (PVA); Asian elephant; elephant conservation; Vortex Pemodelan Kelestarian dari Gajah Sumatera di Bukit Tigapuluh Indonesia: Kebutuhan Penelitian dan Implikasi untuk Manajemen PopulasiAbstractGajah Sumatera yang berstatus kritis sebagian besar bertahan dalam populasi kecil dan terisolasi membutuhkan pengelolaan intensif agar dapat tetap lestari dalam jangka panjang. Analisis Viabilitas Populasi (Population Viability Analysis, PVA) berpeluang untuk digunakan sebagai sarana evaluasi atas tujuan dan strategi konservasi yang disusun sebelum implementasi, yang akan sangat bermanfaat bagi pengelola kawasan guna mendukung pengambilan keputusan. Studi ini menggunakan PVA pada populasi lokal gajah Sumatera yang menjelajahi lanskap Bukit Tigapuluh, Sumatera, dengan tujuan utama mengeksplorasi dampak atas skenario upaya konservasi dan populasi terpilih terhadap laju pertumbuhan populasi dan probabilitas kepunahan. Uji sensitivitas menunjukkan adanya ketidakpastian atas sejumlah parameter pokok yang seharusnya diteliti untuk meningkatkan kekuatan prediksi atas baseline model populasi. Mengingat kerusakan habitat yang lebih parah dapat dicegah, untuk itu upaya penangkalan pembunuhan ilegal merupakan prioritas tertinggi di antara upaya-upaya konservasi yang sudah diuji dan menjadi prasyarat wajib untuk menjawab masalah kemungkinan dampak perkawinan sedarah (inbreeding depression) seperti translokasi gajah atau membangun koridor konservasi.