Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
    235 research outputs found

    Pengelompokan Keruing (Dipterocarpus spp.) di Indonesia Menurut Karakter Buah

    Get PDF
    Status taksonomi Famili Dipterocarpaceae telah mengalami beberapa kali perubahan. Menurut tinjauan klasifikasi yang disusun oleh Heim, Symington, Meijer, Maury, dan Ashton bahwa Dipterocarpus memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Anisoptera sehingga dalam beberapa klasifikasi digambarkan dengan menuliskan keduanya dalam satu kelompok. Namun, Heim memiliki pandangan yang berbeda dengan 4 ahli yang lain yaitu membagi genus Dipterocarpus menjadi 5 seksi yaitu sphaerales, angulati, plicati, alati, dan tuberculati. Penggolongan yang dilakukan oleh Heim atas Dipterocarpus ternyata didukung dengan keterangan yang dikemukakan oleh Symington bahwa ke-5 seksi dapat dideteksi dari kelopak buah yang membentuk tabung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan seksi dalam genus Dipterocarpus ditinjau dari karakter buahnya. Materi sebanyak 38 spesies Dipterocarpus dan 3 Anisoptera dikoleksi dari sebaran alaminya kemudian diidentifikasi menggunakan prosedur standar dan hasilnya ditabulasikan dalam bentuk matrik. Terdapat 48 karakter meliputi seluruh organ, namun yang digunakan dalam penelitian ini dibatasi pada 9 karakter khusus pada organ buah. Analisis dilakukan secara statistik dengan software NCSS seri 10 untuk mendapatkan dendrogram yang akan menggambarkan hubungan kedekatan antar spesies. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kedudukan seksi dalam Dipterocarpus dapat dibuktikan secara nyata melalui karakter morfologinya. Dengan memanfaatkan Anisoptera sebagai outgroup, diketahui bahwa Dipterocarpus dari seksi sphaerales paling dekat dengan Anisoptera, kemudian diikuti oleh tuberculati, angulati, alati, dan plicati.Kata kunci: pengelompokan, Dipterocarpus, seksi, karakteristik, buah Classification of Keruing (Dipterocarpus spp.) in Indonesia on the Basis of Fruit CharactersAbstractThe taxonomy status of Dipterocarpaceae family has been changed for several times. According to the review of classification compiled by Heim, Symington, Meijer, Maury and Ashton, the genus Dipterocarpus had quite close relations with Anisoptera, therefore, in some classifications they were described by writing in a group. However, Heim had a different point of view from four other experts as he divided the genus Dipterocarpus into 5 sections: sphaerales, tuberculati, angulati, alati and plicati, The classification done by Heim on Dipterocarpus were supported by Symington that the 5 sections could be detected from the fruit petals forming a tube. This study aimed to determine the position of the species in the genus of Dipterocarpus in terms of fruit characters. There were 38 species of Dipterocarpus and 3 species of Anisoptera used in the research which were collected from the natural distribution and then were identified using standard procedures, and the results were tabulated in a matrix. There were 48 characters from the entire organ, but only 9 fruit characters used in this research. Statistical analysis was done with NCSS software series 10 to build a dendrogram and to draw the hierarchical of relations between species. The results showed that the position of section in Dipterocarpus was significantly provable through morphological characters. By utilizing Anisoptera as an outgroup, it was known that Dipterocarpus of sphaerales section was closest to the Anisoptera, followed by tuberculati, angulati, alati and plicati

    Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Jati Unggul "Mega" dan Kayu Jati Konvensional yang Ditanam di Hutan Pendidikan, Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta

    Get PDF
    Kebutuhan kayu jati semakin meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan taraf hidup masyarakat. Di lain pihak, jati merupakan salah satu jenis dengan rotasi umur yang panjang. Selain itu, ketersediaan kayu jati dari Perum Perhutani belum mampu memenuhi kebutuhan kayu jati untuk industri. Oleh sebab itu, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Salah satunya adalah dengan kegiatan pemuliaan pohon, dimana dalam kegiatan ini dihasilkan bibit unggul dengan sifat pertumbuhan superior. Akan tetapi, informasi mengenai sifat-sifat kayunya masih sangat terbatas, sehingga penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai sifat-sifat kayu terutama sifat fisika (kadar air, berat jenis, dan penyusutan) dan mekanika (kekuatan lengkung statis dan kekuatan tekan) serta variasi aksial kayu jati unggul tersebut pada umur yang masih muda yakni 11 tahun yang ditanam di Hutan Pendidikan Wanagama, Gunungkidul Yogyakarta dan dibandingkan dengan jati konvensional umur 14 tahun yang ditanam di lokasi yang sama. Sebagai hasilnya, sifat fisika kayu tidak berbeda nyata antara kayu jati unggul dan kayu jati konvensional, kecuali kadar air segar. Untuk sifat mekanika kayu, kekuatan lengkung statis (MOR dan MOE) serta kekuatan tekan sejajar serat berbeda nyata antara kayu jati unggul dan jati konvensional, sedangkan untuk kekuatan tekan sejajar serat tidak berbeda nyata.Kata kunci: jati unggul, jati konvensional, sifat fisika, sifat mekanika, umur muda.Physical and Mechanical Properties of Superior “Mega”  and Conventional Teak Wood Planted in Wanagama Educational Forest, Gunungkidul, YogyakartaAbstractDemand of teak wood increases every year along the increase of human population and prosperity. On the other hand, teak is one of the long rotation tree species. Furthermore, the avaibility of teak from the Perum Perhutani as the biggest teak plantation company is not enough to fulfill the demand of teak wood from wood industry. Therefore, many efforts have been conducted to solve this problem, such as by tree breeding program. In Indonesia, this program only focused in the growth characteristics. However, information of wood properties of superior teak is still limited in Indonesia. Therefore, the aim of this research was to clarify the physical and mechanical characteristics of superior teak wood (11-year-old) and compared with the conventional teak (14-year-old) planted in Wanagama Forest, Gunungkidul, Yogyakarta and its longitudinal variation. As the results, physical properties were not significantly different between superior teak and conventional teak, except for green moisture content. Bending strength (MOR dan MOE) and compression strength parallel to grain were significantly different between superior and conventional teak. In addition, compressive strength perpendicular to grain was not significantly different between superior and conventional teak

    Perubahan Iklim Global dan Perkembangan Hama Penyakit Hutan di Indonesia, Tantangan, dan Antisipasi ke Depan

    Get PDF
    Perubahan Iklim Global dan Perkembangan Hama Penyakit Hutan di Indonesia, Tantangan, dan Antisipasi ke Depan

    Assesment of Vegetation Cover Status in Dry Lands of The Sudan Using Social and Terrestrial Data

    Get PDF
    The current study was conducted in 2015 in Bara Locality, North Kordofan, Sudan. The study area has experienced recurrent drought spells since 1970s of the past century. The main objective of this study was to assess and map the vegetation cover in the area using social, terrestrial and remotely sensed data. To accomplish the above mentioned objective, the study was based on qualitative and quantitative data. In qualitative data, household survey was conducted in which 100 respondents were randomly interviewed. Quantitative data was collected using terrestrial inventory and satellite imageries. In terrestrial inventory, 22 ground control points (GCPs) were randomly registered using GPS in order to get general overview of the land cover of the study area. In each GCP, tree species by number was inventoried within an area of 1 ha. Remote sensing data, covering the target study area, were acquainted using LANDSAT5 imageries (2014) with spatial resolution of 30×30 m. Results of the household survey revealed that only 13 shrub/tree species mentioned by 45% of the respondents, while only 9 woody species were identified, belonging to 8 families from terrestrial inventory. The results of the household survey, 45% of the respondents, indicated that vegetation cover was very good 20 years ago. The study categorized the present land cover as woody vegetation (19%), Acacia senegal stands (5%), shrubs i.e. Leptadenia pyrotechnica and Acacia nubica (18%), small scale farms and grasses (19%) and sandy soil and dunes (39%). The results of the land cover distribution indicated that vegetation cover decreased by 24% while sand/sand dunes was increased by 21% from 1985 to 2015. The study concluded that the study area is under threat of land degradation that may lead to depletion of vegetation cover and decline land productivity. Pengukuran Status Penutupan Vegetasi di Lahan Kering Sudan Menggunakan Data Sosial dan TerestrialIntisariPenelitian ini dilakukan pada tahun 2015 di Lokalitas Bara, Kordofan Utara, Sudan. Lokasi penelitian telah mengalami masa kekeringan yang berulang sejak dekade 1970-an. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai dan memetakan tutupan vegetasi di lokasi penelitian dengan menggunakan data sosial, terestrial, dan penginderaan jauh. Untuk mencapai tujuan dimaksud, penelitian ini menggunakan data kualitatif dan kuantitatif. Untuk data kualitatif, survei rumah tangga dengan wawancara terhadap 100 responden yang dipilih secara acak. Data kuantitatif dikumpulkan dengan menggunakan inventarisasi terestrial dan satelit citra. Untuk inventarisasi terestrial, 22 titik kontrol (GCP) didaftar secara acak dengan menggunakan GPS untuk mendapatkan gambaran umum dari tutupan lahan daerah penelitian. Pada setiap GCP, jumlah spesies pohon diinventarisasi dalam area 1 ha. Data penginderaan jauh yang mencakup wilayah studi diambil dengan citra LANDSAT5 (2014) dengan resolusi spasial 30 × 30 m. Hasil survei rumah tangga menunjukkan bahwa hanya 13 jenis semak/pohon yang disebutkan oleh 45% responden, sementara hanya 9 spesies kayu yang terindentifikasi, milik 8 keluarga dari inventarisasi terestrial. Berdasarkan hasil survei rumah tangga, 45% dari responden menyatakan bahwa tutupan vegetasi yang sangat baik 20 tahun yang lalu. Penelitian ini mengelompokkan tutupan lahan saat ini ke dalam vegetasi berkayu (19%), tegakan Acacia senegal (5%), semak yaitu Leptadenia pyrotechnica dan Acacia nubica (18%), pertanian skala kecil dan rerumputan (19%), dan tanah dan bukit pasir (39%). Hasil dari distribusi tutupan lahan menunjukkan bahwa tutupan vegetasi mengalami penurunan sebesar 24%, sedangkan proporsi pasir/bukit pasir meningkat 21% dari 1985 ke 2015. Penelitian ini menyimpulkan bahwa daerah penelitian berada di bawah ancaman degradasi lahan yang dapat menyebabkan penipisan vegetasi tutupan dan menurunkan produktivitas lahan

    Risiko Kepunahan Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Gunung Merapi: Tinjauan Spasial

    Get PDF
    Gunung Merapi merupakan habitat dari berbagai spesies khas pegunungan Jawa bagian tengah. Namun demikian, tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi dan besarnya tekanan masyarakat terhadap kawasan menyebabkan keanekaragaman hayati di sekitar kawasan Gunung Merapi berisiko untuk punah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis spasial risiko kepunahan keanekaragaman hayati di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Analisis risiko dilakukan dengan mengukur komponen risiko, yaitu: kerawanan, elemen yang berisiko, dan kerentanan. Identifikasi komponen risiko dilakukan dengan melaksanakan grup diskusi terarah dengan staf Taman Nasional Gunung Merapi. Analisis risiko diukur menggunakan analisis spasial dengan perangkat lunak ArcGIS 10.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Taman Nasional Gunung Merapi memiliki kawasan dengan tingkat risiko tinggi seluas 2185.6 ha (35,6%), risiko sedang seluas 3910,1 ha (63,6%), dan risiko rendah seluas 49,8 ha (0,8%). Wilayah yang berisiko tinggi berada di wilayah Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun Kabupaten Magelang, RPTN Turi-Pakem Kabupaten Sleman, dan RPTN Kemalang Kabupaten Klaten.Kata kunci: analisis risiko, keanekaragaman hayati, Taman Nasional Gunung Merapi, analisis spasial, vulkanik. Risk of biodiversity extinction in Gunung Merapi National Park : Spatial assessionAbstractThe Mount Merapi (MM) has a unique landscape and becomes the habitat for mountainous species in the central Java, Indonesia. However, high volcanic activities and massive public pressure on its natural resources have increased the risk of biodiversity extinction in the MM. This study aims to assess the spatial risk of biodiversity extinction in the Mount Merapi National Park (MMNP). The risk analysis has been done by spatially measuring the risk elements i.e. hazard area, element at risk, and vulnerability rate. A Focus Group Discussion has been done to define and to identify components of each risk element. A spatial analysis using ArcGIS 10.1 has been used to measure the risk. The results showed that MMNP have three levels of risks: high risk level area (2185.6 ha, 35. 6%), moderate risk area (3910.1 ha, 63.6%) and low risk area (49.8 ha, 0.8%). The high risk areas were located in Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun in Magelang Distict, RPTN Turi-Pakem in Sleman District, and RPTN Kemalang in Klaten District

    Halaman Depan

    No full text
    Sampul Halaman DepanRedaksiDaftar Is

    Analisis Kelayakan Finansial Usaha Budidaya Bambu

    Get PDF
    Budidaya bambu diperlukan untuk menambah populasi bambu yang cenderung berkurang yang disebabkan oleh beralihnya fungsi lahan yang digunakan untuk pemukiman atau diganti dengan komoditi tanaman lain yang dianggap lebih menguntungkan. Sementara itu kebutuhan bahan baku bambu terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan. Budidaya bambu bermanfaat selain untuk menjaga ketersediaan suplai juga untuk meningkatkan kualitas bambu untuk memenuhi permintaan pasar. Tulisan ini mengkaji analisis finansial dari penanaman bambu. Kajian finansial dibutuhkan untuk menunjukkan bahwa upaya penanaman atau budidaya bambu ini layak atau tidak secara finansial untuk dilakukan. Data yang digunakan adalah data hasil penelitian di perusahaan perkebunan bambu PT XYZ di Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai NPV (Rp 36.644.364,08) lebih besar dari nol, Net B/C (2,56) lebih besar dari satu, IRR (11 %) lebih besar dari suku bunga 6 %, serta payback period pada tahun ke-9 umur proyek 15 tahun. Berdasarkan kriteria indikator kelayakan finansial dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya bambu layak secara finansial untuk diusahakan.Katakunci: Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), budidaya bambu, studi kelayakan, analisis finansial Financial analysis and feasibity study of bamboo cultivation AbstractBamboo cultivation is necessary to increase the population of bamboo clumps. The bamboo clumps tend to decrease due to the shift of used lands for residential or replaced by other crop comodities, which are considered more profitable. On the other hand, the need of bamboo for raw materials remain increase in line with population growth and the development of science. The important of the bamboo cultivation are to maintain the availability of its supply and to improve the quality of bamboo, which meet the market demands. This paper examined financial analysis of bamboo cultivation. Financial study was necessary to show whether the effort to cultivate bamboo is financially feasible or not. The data used were colecting from the research on bamboo plantation of PT XYZ company in Lampung. The results showed that the NPV (IDR 36,644,364.08) was greater than zero, the Net B/C ê-2.56 êwas greater than one, the IRR (11 %) was greater than the rate of 6%, and the payback period on the ninth year was less than the project life 15 years. Based on the criteria of financial study, it can be concluded that the cultivation of bamboo is financially feasible to be developed.

    Sebaran Populasi dan Potensi Tanaman Ganitri ( Elaeocarpus ganitrus Roxb ) di Jawa Tengah

    Get PDF
    Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) merupakan jenis tanaman multiguna yang cukup potensial untuk dikembangkan. Jenis ini sudah mulai dikenal dan dibudidayakan oleh masyarakat khususnya diwilayah Jawa Tengah. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran populasi dan mengetahui potensi tanaman ganitri meliputi informasi geografi dan kondisi ekologisnya. Metode yang dilakukan meliputi : (1) studi literatur dan komunikasi langsung dengan pihak terkait dan masyarakat, (2) survei lapangan untuk pengumpulan data penampilan dan produktifitas tegakan ganitri meliputi : lokasi, luas, tahun tanam, kerapatan tegakan, tinggi, diameter, bentuk batang, sistem penanaman, (3) pengumpulan data primer dan sekunder kondisi tempat tumbuh tanaman ganitri meliputi : letak geografis, ketinggian, curah hujan dan jenis tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman ganitri di wilayah Jawa Tengah tersebar di hutan tanaman pada ketinggian 0-1.300 m dpl pada jenis tanah regosol, andosol, podsolik coklat, atosol dengan curah hujan 3.500-4.500 mm/tahun. Sebaran hutan tanaman ganitri tidak ditemukan di semua kabupaten, tetapi hanya terdapat di beberapa wilayah/kabupaten yang secara umum ditanam dengan beberapa tujuan yaitu terutama untuk dimanfaatkan bijinya sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK), selain untuk kayu pertukangan serta fungsi lindung. Sebaran hutan tanaman ganitri di Jawa Tengah ditemukan di Kabupaten Cilacap, Kebumen, Kendal, Brebes, Purworejo, Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Temanggung, Semarang dan Karanganyar. Secara umum, ganitri memiliki kisaran wilayah yang cukup luas mulai dari dataran tinggi sampai dataran rendah, khususnya berada diwilayah Jawa Tengah bagian tengah dan selatan. Pengembangan tanaman ganitri untuk produksi biji dapat ditemukan di Kabupaten Cilacap,Kebumen,Purworejo, dan Banjarnegara.Katakunci: Elaeocarpus ganitrus Roxb, hutan rakyat, Jawa Tengah, sebaran populasi, potensi Distribution and the potential growth of ganitri ( Elaeocarpus ganitrus Roxb ) in Central JavaAbstractGanitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) is a multi-purpose species that has the potential to be developed. This species has been known and cultivated by people, particularly in the region of Central Java. The research aimed to identify the distribution of the population and to determine the potentiality of ganitri including the geographic information and ecological conditions. The methods included: (1) the study of literature and direct communication with stakeholders and public, (2) field survey for data collection of performance and productivity of ganitri stands which included : location, spacious, year of planting, stand density, height, diameter, stem form, and planting system (3) primaryand secondary data collections of the site conditions of ganitri plants which included: geographical location, altitude, rainfall, and soil type. The results showed that the ganitri in Central Java was distributed in forest plantations at an altitude of 0-1,300 m abovesea level, on the soil type of regosol, andosol, brown podzolic, latosol with rainfall of 3,500-4,500 mm/year. The distributions of ganitri plantations were found only in some/districts which planted the trees for multi-purposes, which are primarily to produce the seeds as non-timber forest products (NTFPs), to produce construction timber, and to protect the area. The distributions of forest plantations of ganitri in Central Java were found in Cilacap, Kebumen, Kendal, Brebes, Purworejo, Banjarnegara, Wonosobo, Banyumas, Temanggung, Semarang, and Karanganyar district. In general, ganitri plants had a fairly broad ecological range from the highlands to the lowlands, especially in the territory of central and southern of Central Java. Ganitri establishment for seed productions can be found in the District of Cilacap, Kebumen, Purworejo, and Banjarnegara

    Klasifikasi Habitat Mangrove untuk Pengembangan Silvofishery Kepiting Soka (Scylla serrata) di Pantai Utara Kabupaten Rembang

    Get PDF
    Pemanfaatan mangrove untuk silvofishery mampu mendatangkan keuntungan bagi masyarakat sekitarnya, maka perlu dikembangkan agar hasilnya optimal dan berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan klasifikasi karakteristik habitat mangrove yang sesuai untuk pengembangan kepiting soka yang selama ini sudah dikembangkan di Pantai Utara Pemalang. Penelitian dilakukan di Pantai Utara Kabupaten Rembang pada tahun tanam 2000, 2003, dan 2004. Masing-masing tahun tanam dibagi menjadi jalur-jalur tegak lurus garis pantai. Setiap jalur diletakkan 3 petak ukur 5 x 5m sesuai dengan zonasi yang ada pada hutan mangrove, kemudian diukur kerapatan tanaman mangrove, ketebalan lumpur, DO, salinitas, suhu, pH, dan kepadatan plankton. Sebagai pembanding, maka diambil pula data karakteristik habitat di mangrove Pemalang yang sudah digunakan silvofishery kepiting soka. Data pada setiap petak ukur dirata-rata dan dibedakan pada setiap zonasi. Data setiap zonasi dianggap sebagai relevé. Relevé-relevé pada kedua lokasi kemudian dianalisis menggunakan uji pengelompokan atau cluster analysis dengan metode jarak Mean Euclidean Distance (MED). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya cluster yang terbentuk kurang bervariasi. Sepintas terlihat hanya ada 2 kelompok besar yang terpisahkan, yaitu pada jarak cluster 10. Pengelompokan demikian ini cukup bagus karena kemiripan habitat ditunjukkan secara ekstrim oleh dua kelompok besar tersebut. Meskipun pada jarak cluster 5 terdapat kelompok yaitu relevé 3,6,8 dengan relevé 2, namun demikian kurang terlihat jika dibanding dengan jarak di atasnya. Pada umumnya habitat mangrove di Rembang kurang sesuai untuk pemeliharaan kepiting soka, karena hanya relevé 1 yang sesuai. Perlakuan lebih lanjut untuk perbaikan habitat diperlukan agar jenis kepiting ini dapat hidup dengan optimal.Kata kunci: silvofishery, kepiting soka, habitat mangrove, Rembang, relevé. Classification of mangrove habitat for  development of soka crab (Scylla serrata) silvofishery in the north coast of Rembang RegencyAbstractSilvofishery practices as mangrove utilization have been providing various benefit for local societies, thus it needs to be developed for its product optimization and sustainability. Providing suitable area for silvofisheries is crucial for the development of silvofishery. This study was aimed to classify the mangrove habitat characteristics that were suitable for soka crab farming in the north coast of Rembang Regency, following the success of the north coast of Pemalang Regency. This research were conducted in the north coastof Rembang Regency in 2000, 2003, and 2004 planting years. Perpendicular transects to the coastal line were established on each plantation area. On each transect, three plots of 5 x 5 m were established and distributed on each mangrove zone. Mangrove tree density, mud depth, dissolved oxygen, salinity, temperature, pH and plankton density were measured from each plot. The measurements of habitat characteristics were also conducted in the mangrove area of Pemalang, where soka crab farming was developed earlier as a comparison between areas with the same plantation period). Data collected from all plot were averaged and differentiated based on Mangrove zonation. Data of each zone were treated as relevé. The relevé of the two study sites (Rembang and Pemalang) were then analyzed using cluster analysis with Mean Euclidean Distance (MED). The results showed that the cluster was relatively less various. There were two main separated groups with cluster distance at 10. This grouping was relatively good, indicated by distinctive similarity of habitat within each group. At cluster distance of 5, there were two main groups which were relevé 3,6,8 with relevé 2 and the rest as other group. Whereas the cluster distance of 5 in the relevé 3,6,8 was grouped with relevé 2, but it was not clearer than above group. Commonly, mangrove habitat in Rembang was less suitable for soka crab farming because only relevé 1 was suitable for the habitat of this crab. Further intervention is required for habitat improvement

    Studi Mutu Kayu Jati di Hutan Rakyat Gunungkidul IV. Sifat Mekanika Kayu

    Get PDF
    Sifat mekanika dari kayu gergajian adalah persyaratan terpenting dalam banyak penerapan khususnya untuk keperluan konstruksi. Paper ini merupakan lanjutan dari penelitian sifat fisika kayu di tiga tempat tumbuh (Panggang, Playen, Nglipar) hutan rakyat Kabupaten Gunungkidul. Pengujian sifat mekanika dilakukan mengacu pada British Standards 373:57. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu yang diteliti termasuk dalam kelas kuat II-III. Dari perhitungan analisis varian, tempat tumbuh berpengaruh nyata pada modulus patah (MoR) keteguhan lengkung statik, keteguhan tekan tegak lurus serat maksimum, keteguhan geser, dan kekerasan. Secara keseluruhan, kecuali untuk nilai MoR, sampel kayu dari Nglipar memberikan nilai kekuatan yang lebih tinggi. Pengaruh arah aksial dan radial pohon secara umum tidak begitu terlihat pada semua parameter kekuatan kecuali di keteguhan belah. Meskipun berkorelasi secara linier, hanya korelasi moderat yang diamati dari hubungan sifat mekanika (MoR/keteguhan geser) dan kerapatan dasar. Tidak ada korelasi nyata antara kerapatan dasar dan modulus elastisitas keteguhan lengkung statik serta antara kerapatan dasar dan keteguhan tekan sejajar serat maksimum.Kata kunci: Tectona grandis, sifat mekanika, kerapatan dasar, hutan rakyat, Gunungkidul. A study of teak wood quality from community forests in Gunungkidul  IV. Mechanical PropertiesAbstractMechanical properties of sawn timber are the most important characteristics in many applications, particularly for structural timber. The previous paper in this series reported on the physical properties of teak trees at different sites (Panggang, Playen, Nglipar) from community forests in Gunungkidul regency. In this study, the mechanical properties were evaluated according to British Standards 373:57. The results showed that the timber were classified in the II-III of strength class. By analysis of variance, site factor affected the values of modulus of rupture (MoR) in statical bending strength, maximum compression perpendicular to grain strength, shear strength and hardness. In general, except for MoR, the wood samples from Nglipar gave higher strength levels. Except for cleavage strength, the effects of the axial and radial position of the tree on mechanical properties were mostly negligible. Although linearly related, only modest correlations were observed between the mechanical parameters (MoR/shear strength) and basic density. No significant correlation was found between the values of basic density and modulus of elasticity of static bending strength as well as between basic density and the strength of maximum compression parallel to grain

    148

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kehutanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇