Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Perilaku dan Jelajah Harian Orangutan Sumatera (Pongo abelli Lesson, 1827) Rehabilitan di Kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar
Mekanisme adaptasi dari Orangutan Sumatera yang direintroduksi merupakan informasi yang sangat penting bagi kesuksesan program rehabilitasi. Tujuan utama penelitian ini untuk mengeksplorasi perilaku dan jelajah harian dari Orangutan Sumatera rehabilitan di stasiun reintroduksi Orangutan Sumatera kawasan Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar. Metode yang digunakan adalah Instantaneous sampling. Data perilaku dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan ethogram yang mengadopsi dari Standar Pengambilan Data Orangutan. Perilaku harian yang dilakukan Orangutan Sumatera rehabilitan meliputi tiga perilaku utama yaitu istirahat (47,32 %), makan (37 %), bergerak (14,75 %), sosial (0,52 %) dan bersarang (0,41 %). Sebagian besar perilaku Orangutan rehabilitan tidak menunjukkan perbedaan berdasarkan jenis kelamin dan masa reintroduksi. Rata-rata daya jelajah hariannya dari semua individu Orangutan yang diamati berkisar antara 0,7 sampai 26,2 ha. Interaksi dengan manusia pada masa sebelumnya, khususnya pada periode perkembangan Orangutan, dapat mempengaruhi perilaku Orangutan dan mungkin dapat mempengaruhi kesuksesan dalam beradaptasi dengan kondisi di alam.Katakunci: perilaku, Orangutan, daya jelajah harian, cagar alam Jantho Daily Behavior and Range of Rehabilitated Orangutan in the Hutan Pinus Jantho Nature Reserve, Aceh BesarAbstractAdaptation mechanism of reintroduced Sumatran Orangutan is crucial information for successful rehabilitation program. The main objective of this research was to investigate daily behaviors and range ofeight rehabilitated Orangutans in the reintroduction station of Nature Reserve Pine Forest Jantho, Aceh Besar. Data collection was conducted through instantaneous sampling to explore daily behavior and range. The daily activities data were grouped based on ethogram by adopting the standard of Orangutan‘s data collection. The result showed that the proportion of daily behavior of Orangutan Sumatera are 47.32 % resting, 37 % feeding, 14.75 % moving, 0.52 % social interaction and 0.41% nesting activities. There was no different behavior between sex classes and duration of rehabilitation. The average daily range of all focal individuals is 0.7-26.2 ha. Previous interaction with humans, especially during early developmental period, may affect in behaviour of rehabilitated Orangutan Sumatera and probably also influence the adaptation success in the wild
Kombinasi Boraks dan Asam Borat sebagai Bahan Penghambat Api dan Antirayap Pada Kayu Meranti Merah
Kayu mempunyai sifat yang mudah terbakar dan sebagian besar mempunyai keawetan alami yang rendah. Perbaikan kualitas kayu dilakukan untuk mengatasi kelemahan tersebut, salah satunya dengan mengimpregnasikan bahan kimia yang bersifat menghambat api dan beracun terhadap organisme perusak kayu. Tujuan penelitian ini adalah melihat kemampuan boraks:asam borat (1:1) untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering dan mengetahui proses pengawetan yang efektif. Penelitian ini menggunakan kayu meranti merah (Shorea spp) berukuran 6 x 15 x 500 cm. Waktu pengawetan adalah 1, 2, dan 3 jam serta konsentrasi bahan pengawet 7% dalam 5 ulangan. Metode pengawetan menggunakan metode sel kosong dengan tekanan 12 kg/cm2 . Pengujian ketahanan terhadap api mengacu pada ASTM E 69-02 prosedur B, pengujian ketahanan terhadap rayap kayu kering mengacu pada metode rayap makan tanpa pilihan. Parameter yang diamati ialah absorpsi, retensi aktual, intensitas bakar, suhu pembakaran maksimal, lama pembaraan, mortalitas rayap kayu kering, pengurangan berat contoh uji, derajat kerusakan dan kondisi fisik sampel setelah uji bakar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi boraks:asam borat (1:1) memiliki efektivitas yang tinggi untuk meningkatkan ketahanan kayu meranti merah terhadap api dan rayap kayu kering. Proses pengawetan yang paling efektif adalah lama penekanan 2 jam dengan absorpsi 331 kg/m3 ; retensi aktual 28,8 kg/m3 ; intensitas bakar 10,9%; suhu pembakaran maksimal 140ºC; lama pembaraan 1,03 menit; mortalitas rayap kayu kering 100%; pengurangan berat contoh uji 0,002%; serta derajat kerusakan kategori ringan.Katakunci: penghambat api, anti rayap, boraks, Shorea spp, Cryptotermes cynocephalus Borax and Boric Acid Combination As Fire Retardant and Anti-termite Agents on Red Meranti WoodAbstractWoods have properties which are easy to be ignited by fire and most of them have a low natural durability. Therefore, it is required to improve the quality of wood by impregnating the fire-retardant and anti-termites possessed chemicals. The aim of this research was to investigate the effect of impregnation duration by combination of borax:boric acid ( 1:1) against the fire and termites. This study used red meranti wood (Shorea spp) with the dimension of 6 x 15 x 500 cm. The pressure times were 1, 2, and 3 hours as the concentration of borax:boric acid was 7% in 5 replications. Empty cell method was applied as preservation method by 12 kg/cm2 of pressure. Testing the fire resistance referred ASTM E 69-02 B and anti-termite evaluation was conducted by no-choice feeding method. Observed parameters were absorption, actual retention, burn intensity, maximum combustion temperature, glowing time, termite mortality, mass loss, the degree of damage and visual observation. The results showed that the combination of borax: boric acid (1: 1) could improve the quality of red meranti samples against the fire and termite attacks. The most effective impregnation process were 2 hours of pressing time to obtain the 331 kg/ m3 of absorption; actual retention of 28.8 kg/ m3; burnt intensity of 10.9%; maximum combustion temperature of 140ºC; glowing time of 1.03 minutes, termite mortality of 100%; mass loss of 0.002%; and mild degrees of damage category
Akumulasi dan Distribusi Logam Berat pada Vegetasi Mangrove di Pesisir Sulawesi Selatan
Tumbuhan mangrove mempunyai fungsi ekologis yaitu dapat menyerap, mengangkut dan menimbun materi yang bersifat toksik yang berasal dari sekitar lingkungan tempat tumbuhnya, salah satunya adalah logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui akumulasi dan distribusi logam berat jenis Timbal (Pb), Tembaga (Cu) dan Kadmium (Cd) pada vegetasi mangrove di perairan pesisir Sulawesi Selatan. Sampel vegetasi mangrove diambil dari empat lokasi, yaitu sekitar Pantai Tanjung Bunga Makassar, Muara Sungai Tallo Makassar, Teluk Pare-Pare dan Teluk Bone. Distribusi logam berat pada vegetasi mangrove dibagi dalam lima jaringan yaitu, akar napas, akar kawat, daun muda, daun tua dan ranting. Kandungan logam berat dalam sampel diukur dengan menggunakan alat Atomic Absorption Spectrophotometric(AAS). Hasil penelitian menunjukkan, akumulasi Pb terbesar berasal dari sampel vegetasi mangrove di Muara Sungai Tallo yaitu 36,1 ppm, akumulasi Cu terbesar dari Pantai Tanjung Bunga Makassar 42,8 ppm, dan akumulasi Cd terbesar dari Muara Sungai Tallo yaitu 29,3 ppm. Distribusi logam berat pada jaringan vegetasi mangrove yang paling tinggi, untuk Pb terdapat pada akar kawat yaitu 9,5 ppm, akumulasi logam berat Cd tertinggi terdapat pada jaringan daun muda yaitu 3,1 ppm, sedangkan akumulasi logam berat Cu yang tertinggi terdapat pada jaringan akar kawat yaitu 10,1 ppm. Secara umum, jenis Api-api (Avicennia marina) merupakan jenis mangrove yang paling besar menyerap logam berat dengan kandungan Pb sebesar 24,2 ppm, Cd sebesar 30, 9 ppm dan Cu sebesar 71,2 ppm.Katakunci: logam berat, mangrove, perairan pesisir, Sulawesi Selatan Accumulation and Distribution of Heavy Metals in Mangrove Vegetation of the Coastal of South SulawesiAbstractMangroves have ecological functions to absorb, transport and stockpile toxic materials, e.g., heavy metal from surrounding environment. This research aimed to know the accumulation and distribution of heavy metals, i.e. Lead (Pb), Cuprum (Cu) and Cadmium (Cd) in mangrove vegetation of South Sulawesi. Vegetation samples were collected from four research location, which were Tanjung Bunga Makassar, Tallo River Makassar, Pare-Pare Bay and Bone Bay. Distribution of heavy metals in mangrove tissues was devided into five areas: pneumatophora, cable root, young leaves, old leaves and twig. Heavy metal content in the samples was measured using Atomic Absorption Spectrophotometric (AAS). The results showed that the highest accumulation of Pb was derived from the sample in Tallo River with 36.1 ppm. The highest accumulation of Cu was derived from Tanjung Bunga Makassar with 42.8 ppm. The highest accumulation of Cd was derived from Tallo River with 29.3 ppm. The distribution of heavy metals in mangrove showed that the highest accumulation of Pb was found in the cable roots with 9.5 ppm. The highest concentration of Cd was found in the young leaf with 3.1 ppm. The highest concentration of Cu was found in the cable roots with 10.1 ppm. Generally, Avicennia marina is mangrove species that has the highest concentration of heavy metals with Pb 24.2 ppm, Cd 30.9 ppm and Cu 71.2 ppm
Utilization of Carbonized Wood from Tropical Fast-Growing Trees for Functional Materials
Pembangunan hutan tanaman dari jenis-jenis cepat tumbuh di kawasan tropis menimbulkan limbah biomassa kayu yang sebagian saat ini digunakan untuk kayu bakar dan sebagian lain digunakan untuk produksi arang dengan tujuan penggunaan yang terbatas. Pengembangan material-material fungsional untuk berbagai aplikasi teknik dengan memanfaatkan arang kayu dari jenis pohon cepat tumbuh harus mempertimbangkan struktur mikro dan struktur pori dalam arang kayu yang berhubungan dengan kondisi karbonisasi. Ulasan ini meliputi kemajuan penelitian-penelitian saat ini pada karbonisasi kayu dari pohon cepat tumbuh tropis, mekanisme perkembangan struktur mikro dan struktur pori dalam arang kayu selama karbonisasi, pemanfaatan yang tepat dari struktur mikro dan porositas dalam arang kayu untuk pengembangan material-material fungsional serta usaha dan peningkatan pengembangan material-material fungsional menggunakan arang kayu dari pohon cepat tumbuh tropis.Katakunci: arang kayu, material fungsional, pohon cepat tumbuh, karbonisasi Utilization of Carbonized Wood from Tropical Fast-Growing Trees for Functional MaterialsAbstractEstablishment of fast-growing tree species plantations in tropical areas generate wood biomass residue in which some of them are currently utilized for heating fuel and some others are used for charcoal production with limited purposes. The development of functional materials for engineering applications utilizing carbonized wood from fast-growing trees species have to consider the microstructure and pore structure in carbonized wood which has a relationship to the carbonization conditions. This review covers the current researches on progress in the carbonization of wood from tropical fast-growing trees, mechanism of the microstructure and pore structure development in carbonized wood during carbonization, proper utilizations of the microstructure and porosity in carbonized wood for the development of functional materials and efforts and enhancing the development of functional materials using carbonized wood from tropical fast-growing trees
Pemilihan Jenis Pohon untuk Pengembangan Hutan Kota di Kawasan Perkotaan Yogyakarta
Hutan kota memiliki beberapa manfaat, di antaranya adalah meningkatkan kualitas udara di wilayah perkotaan dan keindahan. Pemilihan jenis pohon yang tepat guna pengembangan hutan kota akan mendukung fungsi hutan kota untuk mengurangi pencemaran di wilayah perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui tipe hutan kota dan jenis pohon penyusunnya, (2) mengevaluasi kecocokan jenis pohon penyusun hutan kota, dan (3) menyusun arahan pemilihan jenis pohon yang memiliki kesesuaian tempat tumbuh dan efektif dalam pengendalian pencemaran udara. Penelitian ini menggunakan metode survei dan identifikasi untuk mengetahui tipe hutan kota dan jenis pohon penyusunnya. Penilaian kecocokan jenis pohon didasarkan tempat tumbuh dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe hutan kota di Kawasan Perkotaan Yogyakarta adalah konservasi jenis, rekreasi dan perlindungan dengan bentuk mengelompok dan jalur. Jenis pohon penyusun hutan kota di Kawasan Perkotaan Yogyakarta terdiri atas 112 jenis, 70 jenis di antaranya sesuai dengan persyaratan silvikultural, manajemen dan estetika, sementara terdapat 22 jenis pohon yang memiliki kesesuaian tempat tumbuh dan efektif dalam mengendalikan pencemaran udara.Katakunci: hutan kota, pemilihan jenis pohon, pencemaran udara, Kota Yogyakarta Tree Species Selection for Urban Forest Development in Yogyakarta CityAbstractUrban forest provides two important services for humans i.e., improving air quality and aesthetics. Therefore, tree species selection should consider tolerance of trees to pollutants in urban areas and aesthetic point of view. The aims were to (1) determine the typology of the urban forest and its constituent species, (2) to evaluate the suitability of tree species in the urban forest, and (3) to develop guidance for selection of tree species that based on habitat suitability and and effective to control air pollution. A survey method by identification typology of the urban forest and forest tree species was carried out in Yogyakarta city. The suitability of each tree species in the urban forest was assessed by habitat evaluation and from literature study. The results show that urban forest types in Yogyakarta consist of species conservation, recreation, and protection. The shapes of the urban forest are clumped and lines. There are 112 tree species, which are 70 species fulfill the requirement of for silviculture, management and aesthetics and 22 species met the habitat suitability and effectivness to control air pollution
Pertumbuhan Stek Cabang Bambu Petung (Dendrocalamus asper) pada Media Tanah, Arang Sekam dan Media Kombinasinya.
Bambu petung banyak digunakan untuk bahan konstruksi bangunan karena sifatnya yang keras dan kuat. Pembiakan secara vegetatif menggunakan rimpang (rhizome), namun memiliki kelemahan, yaitu kesulitan dalam pembongkaran rumpun bambu. Oleh karena itu digunakan stek cabang,lebih praktis, bahan stekter sedia lebih banyak, mudah diperoleh, murah, tidak merusak rumpun asal, waktu pengambilan lebih cepat, dan pembentukan rumpun lebih mudah. Media pengakaran yang umum digunakan adalah top soil, namun pengadaan top soil dalam jumlah besar sulit, sehingga perlu dicari alternatif lain yaitu dengan mencampur media top soil dengan media lain. Media yang digunakan yaitu media tanah, arang sekam dan kombinasi tanah+arang sekam (2:1). Stek cabang bambu petung dengan umur pohon induk ± 2 tahun, diameter 2-3 cm dan panjang 2 ruas. Panjang tunas pada perlakuan media tanah, arang sekam dan kombinasi tanah+arang sekam menunjukkan berbeda di antara perlakuan. Jumlah tunas terbanyak terdapat pada perlakuan media arang sekam dan kombinasi tanah+arang sekam (3 tunas). Media campuran tanah+arang sekam menunjukkan panjang tunas terpanjang (37,11 cm), dan panjang akar terpanjang (17,5 cm). Media tanah dan arang sekam menunjukkan % berakar terbesar (86,67 %).Kata kunci: stek cabang, bambu petung, media tanah, arang sekam, pembiakan vegetatif. Growth of branches of petung bamboo (Dendrocalamus asper) grafting in soil media, husk charcoal, and their combinationAbstractRecently, the utilization of bamboo is more extensive, but the attention towards its regeneration is not sufficient. The use of stem or branch cuttings are more practical and having more benefits and promising because the cutting materials are more available, easier to gain, cheaper, undamaging the source clump, faster in the taking time, and easier in the clump formation. The common rooting media used is top soil (the fertile part of upper layer soil). Recently, it is quite hard to provide top soil in a large number. Thus, it is important to find an alternative source in order to decrease the use of top soil that is by mixing the top soil media with other materials. The media used were soil media, husk charcoal, and the mixture of soil and husk charcoal (2:1). The branch cuttings used were branches of petung bamboo taken from 2 years old amboo, with 2-3 cm in diameter, and 2 nodus in length. The treatment was done by giving some variations in the soil media, the husk charcoal,and the mixture of soil and huskcharcoal. The mixture of soil and huskcharcoal media gave a significant influencet o the length of sprout variable,but it did not give significant influence to the number of sprout, the length of root, and the percentage of rooting
An Innovative Policy For Rural Development? Rethinking Barriers to Rural Communities Earning Their Living from Forests in Indonesia
The government of Indonesia (GoI) has trialed a number of community forestry schemes, ranging from collaborative management to long-term forest management rights handed to local communities, and implements them in state forest land. This policy shift toward community forestry in Indonesia shows an emerging signal on acknowledgement on the ability of local forest users to manage forest resources sustainably,and gives the people opportunities to benefit from the resources and eventually improve their daily life. With so much of promises community forestry brings, this paper primarily asks why the program is yet to meet the high expectation of rural development, tackling the pervasive rural poverty. It aims to identify,analyze and address key constraints of rural communities in exercising their rights which are conside red as key factors to improve their live lihood and alleviate rural poverty. That the government-initiated community forestry schemes fall short of the initial targets in terms of the extent of state forest land areas managed by to forest communities to a large extent is explained bythe regulatory barriers of tenurial uncertainties and the complexlicensing procedures. Those coupled by the limited capacityas technical assistance rarely provided by government institutions appear to impede local people to secure better livelihood.Keywords: community forestry, livelihood, rural communities, poverty alleviation, regulatory barriers Inovasi kebijakan untuk pembangunan pedesaan? Mengulas berbagai hambatan masyarakat pedesaan untuk mendapat penghidupan dari dari hutan di IndonesiaIntisariPemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program kehutanan sosial di kawasan hutan negara, mulai dari skema kemitraan sampai dengan pemberian hak kelola hutan bagi masyarakat lokal. Pergeseran paradigma kebijakan menuju kehutanan sosial memunculkan sinyal pengakuan terhadap kemampuan masyarakat lokal dalam mengelola hutan secara lestari, dan memberikan kesempatan bagi mereka untuk memanfaatkan sumberdaya hutan untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari. Pertanyaan kunci yang diangkat dalam artikel ini adalah mengapa program kehutanan sosial belum mampu menggapai tujuan mulia untuk memerangi kemiskinan yang sangat akut di pedesaan sekitar hutan. Tujuan dari artikel ini adalah mengidentifikasi, menganalisis dan memecahkan berbagai hambatan yang dipandang sebagai faktor kunci bagi masyarakat pedesaan untuk memperbaiki tingkat penghidupan. Belum optimalnya berbagai program kehutanan sosial yang diluncurkan oleh pemerintah secara garis besar disebabkan oleh ketidakpastian tenurial dan prosedur perijinan yang sangat kompleks. Hal ini diperparah oleh terbatasnya pendampingan teknis yang pada akhirnya menghambat masyarakat pedesaan untuk menggapai penghidupan yang lebih baik
Floristic Inventory of The Proposed Site for Tarsier Tourism Center in Villa Aurora, Bilar, Bohol, Philippines
The study assessed the present vegetation composition of the Proposed Site for the Tarsier Tourism Center (PTTC) at Villa Aurora, Bilar, Bohol and performed a comparative analysis with the existing Tarsier Sanctuary (TS) at Canapnapan, Corella, Bohol. The basis for comparison was the computed importance values, species richness, species dominance, and percent distribution of plants according to self-defined DBH classes. Results showed that both sites had very high species richness and evenness values. Common overstorey and understorey plant species found in both areas were katagpo (Psychotria sp.), sagimsim (Syzygium brevistylum [C. B. Rob]Merr.) and bagauak (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.). Apart from sagimsim (Syzygium brevistylum [C.B.Rob.] Merr.), selaginella (Selaginella cuppresina Lin.), and lunas (Lunasia amara Blanco) were also common in the ground vegetation of both areas. Percent distribution of trees according to self-defined DBH classes revealed that PTTC had 87.55% of the total recorded plants with DBH measurements of 20 cm. Percent distribution of trees on these DBH ranges (especially on DBH class >20 cm) indicated the presence of medium and large trees. The largest DBH measured in the PTTC was 70 cm while in TS was only 22 cm. The proposed 10-ha site in Villa Aurora, Bilar, is suited to be utilized as Tarsier Tourism Center. In case the proposed project is to be pursued, enclosure similar to what has been constructed in Canapnapan, Corella, Bohol, Philippines should also be established to prevent stray animals from predating the captive tarsiers.Keywords: floristic inventory, Philippine tarsier, Bohol, primate conservation, tourism. Inventarisasi flora dari Situs Usulan untuk Sentra Wisata Tarsier di Villa Aurora, Bilar, Bohol, FilipinaAbstractPenelitian ini ditujukan untuk melakukan penilaian komposisi vegetasi dari Usulan Lokasi Pusat Wisata Tarsius (ULPWT) di Villa Aurora, Bilar, Bohol dan melakukan analisis perbandingan antara Tarsier Sanctuary (TS) yang ada di Canapnapan, Corella, Bohol. Dasar perbandingan yang digunakan yaitu dengan menghitung nilai penting, kekayaan spesies, dominansi spesies, dan prosentase distribusi dari tumbuhan berdasarkan kelas diameter yang telah ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua tempat memiliki kekayaan spesies dan nilai evenness/ kemerataan yang sangat tinggi. Spesies tumbuhan yang umum ditemukan di overstorey dan understorey di kedua area adalah katagpo (Psychotria sp.), sagimsim (Syzygium brevistylum [C. B. Rob]Merr.), dan bagauak (Clerodendrum minahassae Teijsm. & Binn.). Selain itu, sagimsim (Syzygium brevistylum [C.B.Rob.] Merr.), selaginella (Selaginella cuppresina Lin.), dan lunas (Lunasia amara Blanco) juga umum ditemukan di lantai hutan di kedua tempat. Prosentase distribusi dari tumbuhan berdasarkan kelas diameter yang telah ditentukan menunjukkan bahwa ULPWT memiliki 87.55% dari keseluruhan tumbuhan yang tercatat dengan ukuran diameter 20 cm. Prosentase distribusi dari pohon pada kisaran ini (khususnya pada diameter >20 cm) menunjukkan adanya kehadiran pohon berukuran medium dan besar. Diameter terbesar yang terukur di ULPWT adalah 70 cm sementara di TS hanya sebesar 22 cm. Lokasi seluas 10 ha di Villa Aurora, Bilar, sesuai untuk digunakan sebagai Pusat Wisata Tarsius. Apabila akan didirikan, maka kandang yang dibangun diharapkan mirip dengan yang telah dibangun di Canapnapan, Corella, Bohol, Pilipina, agar mencegah pemangsaan oleh satwa yang lepas.
Karakter Jamur Ceratocystis sp. Penyebab Penyakit Busuk Batang pada Acacia decurrens dan Status Penyakitnya di Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta
Acacia decurrens merupakan salah satu jenis tanaman yang tumbuh mendominasi kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Sekitar 80% tegakan A. decurrens di kawasan tersebut menunjukkan gejala busuk batang akibat infeksi jamur Ceratocystis sp. yang umumnya dipicu oleh luka gerekan kumbang dari kelompok ambrosia. Penelitian bertujuan untuk : (1) mendeskripsikan karakter morfologi jamur Ceratocystis sp., serta kemampuannya beradaptasi pada beberapa jenis tanaman hutan, (2) mengevaluasi status penyakit busuk batang oleh jamur Ceratocystis sp. Karakter morfologi dan kemampuan adaptasinya pada inang akasia, melina, jabon, sengon, dan jati dilakukan di Laboratorium Perlindungan dan Kesehatan Hutan, Fakultas Kehutanan UGM. Survei untuk evaluasi status penyakit busuk batang dilakukan pada bulan Februari sampai Agustus 2014 di demplot restorasi pasca erupsi Merapi (luas 8,4 ha), dengan intensitas sampling 8%. Berdasarkan karakter morfologi, terdapat 2 isolat jamur Ceratocystis sp. yaitu asal lembah (L) dan dari bukit (B) dengan warna koloni krem, luas koloni 20-22 cm2 pada umur 14 hari, membentuk konidia menyerupai tong, dan silindris. Sifat lainnya yaitu memiliki kemampuan yang sama untuk tumbuh, mengkolonisasi, dan menginfeksi inang akasia, sengon, jabon, dan melina, tetapi tidak mampu tumbuh pada inang jati. Berdasarkan luas serangan, status penyakit busuk batang berkisar antara sangat umum sampai menyebar luas (luas serangan = 54-100%), dengan tingkat keparahan bekisar antara ringan sampai parah (intensitas penyakit = 15-67%).Kata kunci: Ceratocystis sp., Acacia decurrens, luas serangan, intensitas penyakit, Taman Nasional Gunung Merapi. Characteristic of stem rot diseases caused by Ceratocystis sp. on Acacia decurrens and its status in Gunung Merapi National Park, YogyakartaAbstractMount Merapi National Park (TNGM) has been dominated by Acacia decurrens after the eruption in 2010. Almost 80% of A. decurrens trees showed stem rot diseases caused by Ceratocystis sp. which may associate with stem wound induced by ambrosia beetle and other physical injuries. The research objective were (1) to characterize the morphological feature, in vitro growth, and ability to adapt, colonize as well as to infect akasia, jabon, sengon, melina and jati sedlings, (2) to evaluate the status of stem rot disease in TNGM demonstration plot. Laboratory work was conducted in order to study the morphological feature of the fungus, in vitro growth on PDA media, and to evaluate its compatibility to growth, colonize, and infect on 5th month seedling of akasia, sengon, jati, jabon and melina. Field monitorings were conducted from February to August 2014 at the restoration plot (8.4 ha) at 8% sampling intensity. Disease status was evaluated in order to ascertain the disease incidence and severity of stem rot disease at the demonstration plot area. Two Ceratocistys isolates found from the hill (B) and valley (L) had similar characteristics on morphologic features i.e. cream color, 20 to 22 cm2 colony size at 14 days growth in PDA media, having both cylindrical and barrel shaped conidia. The other characteristics of the Ceratocistys were an ability to growth, to colonize, and to infect akasia, sengon, melina and jabon, except on jati. The status of stem rot disease was ranged from highly common to widespread (disease incidence = 54%-100%) as the disease severity status was ranged from low to severe (disease severity = 15%-67%)