Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Dinamika Suksesi Vegetasi pada Areal Pasca Perladangan Berpindah di Kalimantan Tengah
Indonesia memiliki luasan hutan hujan tropis terluas nomor tiga setelah Brazil dan Afrika. Namun, tingkat degradasi hutan yang tinggi di Indonesia menyebabkan negara ini menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Salah satu penyebab turunnya luasan hutan tropis di Indonesia adalah praktek perladangan berpindah. Suksesi vegetasi pasca perladangan berpindah dapat memberikan layanan ekologis berupa peningkatan tutupan vegetasi dan perbaikan sifat tanah yang jarang sekali terekspose pada tingkat lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika suksesi vegetasi padalahan pasca perladangan berpindah tingkat lanjut. Penelitian dinamika suksesi vegetasi dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman bawah, semai sapihan dan pohon di lahan pasca perladangan dengan tiga umur yang berbeda, yaitu bera muda (1 – 10 tahun), bera sedang (11 – 20 tahun), bera tua (> 20 tahun), dan hutan alam dengan menggunakan metode petak bersarang dengan plot yang ditempatkan secara sistematik. Analisis vegetasi dengan menggunakan Indeks Nilai Penting, Kelimpahan Jenis, Keragaman, dan Kemerataan. Analisis varian dengan uji lanjut DMRT digunakan jika hasil dari tiap index vegetasi berbeda signifikan antar umur perladangan. Adanya pola peningkatan serta perbedaan yang nyata (P 20 years), and natural forest. The vegetation data were then analyzed using Important Value, Species Richness, Diversity and Evenness Indices. Analysis of variance with post-hoc test of DMRT assays was used if the results each vegetation indices differed significantly between stage of post-shifting cultivation land. The Species Richness and Diversity Index of shurb and herb, seedling, sapling, and tree have significantly increased (P < 0,05) except the herb and shrub communities. The Species richness and Diversity Index of tree stage of old fallow were not significantly different from natural forest but it was composed with different species
Halaman Belakang
Indeks PenulisIndeks SubjekDaftar Nama Mitra Bestari JIK Vol 13 Tahun 2019Instruction for AuthorsInstruksi Untuk Para PenulisSampul Halaman Belakan
Pemodelan Efektivitas Hutan Pantai di Cagar Alam Pananjung Pangandaran Sebagai Buffer Tsunami
Kawasan pantai selatan Jawa merupakan daerah pesisir yang rawan terjadi tsunami. Tahun 2006 tsunami dengan kekuatan gempa 6 skala Richter melanda daerah Pangandaran termasuk Cagar Alam Pananjung. Terdapatnya hutan pantai di Cagar Alam Pananjung mampu mereduksi kekuatan tsunami sehingga efek merusak tsunami dapat diminimalkan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memodelkan efektivitas hutan pantai Cagar Alam Pananjung Pangandaran sebagai buffer tsunami dengan berbagai faktor pereduksi tsunami. Nested sampling digunakan untuk pengambilan data karakteristik vegetasi dengan intensitas sampling 4%. Luas hutan pantai 38 ha, sehingga digunakan petak ukur sebanyak 38 petak ukur persegi dengan ukuran petak ukur untuk tumbuhan bawah 1 m x 1 m, semai 2 m x 2 m, sapihan 5 m x 5 m, tiang 10 m x 10 m, dan pohon 20 x 20 m. Petak ukur ditempatkan secara purposive dengan mempertimbangkan lokasi genangan tsunami dan kerapatan vegetasi. Kerapatan vegetasi dilakukan dengan analisis citra Sentinel 2-A tahun 2017. Efektifitas hutan pantai sebagai buffer tsunami dianalisis menggunakan persamaan matematis menggunakan konsep Harada dan Imamura (2003) dan dimodelkan dengan Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) dengan kriteria lebar hutan pantai, kerapatan vegetasi, diameter pohon, dan kerapatan tumbuhan bawah. Hasil penelitian menunjukkan nilai-nilai parameter hutan pantai pereduksi tsunami di Cagar Alam Pananjung berupa kerapatan vegetasi > 2000 ind/ha, rata-rata diameter pohon yaitu 15,94 cm, dan lebar hutan pantai antara 120– 325 m. Ketinggian tempat hutan pantai Cagar Alam Pananjung bergelombang antara 0–59 m dpl. Hasil pemodelan menunjukkan efektivitas hutan pantai Cagar Alam Pananjung sebagai buffer dalam meredam energi tsunami memiliki nilai reduksi sebesar 41,18%, sehingga termasuk kategori efektif. Effectiveness Model of Coastal Forest in Pananjung Nature Reserve, Pangandaran as Tsunami Buffer AbstractThe southern coast of Java is a coastal area prone to tsunami. In 2006, a tsunami with a magnitude of 6 Richter scale happened in Pangandaran area including Pananjung Nature Reserve. The presence of coastal forest in the Pananjung Nature Reserve reduced the force of the tsunami so that the destructive effect of the tsunami can be minimized. This research aimed to model and assess the effectiveness of coastal forest in Pananjung Nature Reserve as a tsunami buffer. Nested sampling was used to collect vegetation data with 4% sampling intensity. Extensive coastal forest of 38 ha was measured in 38 square forest sample plots with the size of the plot for the understorey 1 mx 1 m, seedlings 2 m x 2 m, saplings 5 mx 5 m, poles 10 m x 10 m, and trees 20 x 20 m. The plots were located purposively by considering the location of tsunami inundation and vegetation density. The vegetation density was performed by image analysis of Sentinel 2-A2017. The effectiveness of coastal forests as tsunami buffers was analyzed using mathematical concepts according to Harada and Imamura (2003) and modeled with Spatial Multi Criteria Analysis (SMCA) with width coastal vegetation criteria, vegetation density, tree diameter, and density of understorey. The results showed that in Pananjung Nature Reserve has vegetation density > 2000 ind/ha, average tree diameter of 15.94 cm, and coastal forest width between 120 m - 325 m. Topography of coastal forest Pananjung Nature Reserve waved between 0 m asl - 59 m asl. It was found that the effectiveness of coastal forest Pananjung Nature Reserve in reducing energy tsunami was in the value of 41.18%, thus it was included in the effective category
Pengaruh Sumber Benih dan Famili Terhadap Pertumbuhan Bibit Mahoni Daun Lebar (Swietenia macrophylla King.) Umur Tujuh Bulan
Mahoni daun lebar (Swietenia macrophylla King.) merupakan jenis eksotik dari Amerika Latin yang telah ditanam di Indonesia sejak tahun 1870. Jenis ini merupakan pemasok kayu pertukangan yang cukup penting di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh sumber benih dan famili terhadap keragaman pertumbuhan bibit S. macrophylla untuk mendukung kegiatan pemuliaan. Rancangan percobaan yang digunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari dua faktor, yaitu sumber benih (Banjar-Jabar, Samigaluh – Kulonprogo, Bondowoso-Jatim dan Lombok-NTB) dan famili (35 famili). Hasil analisis menunjukkan bahwa sumber benih berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter batang, sedangkan famili berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi, diameter batang dan jumlah daun pada umur 7 bulan. Pertumbuhan bibit dengan tinggi terbaik (55,8 cm) berasal dari sumber benih Banjar dan pertumbuhan bibit dengan diameter batang terbaik berasal dari sumber benih Banjar dan Lombok masing-masing sebesar 0,62 cm dan 0,61 cm.Effect of Seed Source and Family on The Growth of (Swietenia macrophylla King.) Seedling at Seven Months Old.AbstractSwietenia macrophylla King. is an exotic species from Latin America which have been planted in Indonesia since 1870. This species is a good wood source for construction timber which is quite important in Indonesia. This study was conducted to determine the effect of seed source and family on S. macrophylla seedling growth which may be useful for supporting breeding program of this species. The seeds were collected from four seed sources: Banjar - West Java, Samigaluh - Kulonprogro, Bondowoso - East Java and Lombok – West Nusa Tenggara. Every seed source consisting of 10 families, except Bondowoso which had 5 families. The study was arranged in a randomized complete design, five seedlings per plot and repeated 5 times for each family. At 7 months old the seed source had significantly influence on height and stem diameter, while the family significantly influence height, stem diameter and the number of leaf. Banjar seed source had the best height growth (55.8 cm), while Banjar and Lombok seed sources had the best stem diameter, respectively 0.62 cm and 0.61 cm
Multi Inang Fungi Ektomikoriza pada Dipterocarpaceae di Hutan Tropis
Dipterocarpaceae dikenal sebagai keluarga vegetasi hutan dominan di hutan tropis yang memiliki simbiosis mutualisme dengan fungi ektomikoriza. Hal tersebut menjadikan pemulihan hutan tropis bergantung pada keberadaan fungi ektomikoriza. Peranan fungi ektomikoriza dalam mendukung regenerasi dijumpai dalam bentuk multi inang yang dapat terindikasi dari penggunaan secara bersama jenis fungi ektomikoriza antar tanaman. Berdasarkan hal tersebut, penelitian bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis fungi ektomikoriza yang berasosiasi dengan dipterocarpaceae di tingkat pohon dan semai, serta mengetahui adanya multi inang fungi ektomikoriza pada kedua tingkat pertumbuhan tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi ektomikoriza melalui pendekatan molekuler dengan menggunakan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Urutan ekstrak DNA diperkuat menggunakan pasangan primer spesifik ITS 1F-ITS 4. Identitas fungi ektomikoriza diperoleh dari pencocokan urutan DNA sampel terhadap database Genbank. Berdasarkan hasil identifikasi, jenis-jenis fungi ektomikoriza yang berasosiasi dengan dipterocarpaceae di tingkat pohon dan semai mempunyai hubungan kekerabatan dengan kelas Dothideomycetesdan ordo Sordariales, Sebacinales, Cantharellales, Russulales, Agaricales, Boletales, dan Thelephorales. Penelitian juga menemukan multi inang fungi ektomikoriza terhadap dipterocarpaceae, baik pada jenis maupun tingkatan pertumbuhan inang yang berbeda (semai dan pohon). Jenis fungi ektomikoriza yang paling berperan dalam multi inang adalah fungi yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan ordo Thelephorales, Russulales, dan Sebacinales.Tomentella sp. dari ordo Thelephorales ditemukan paling banyak berasosiasi multi inang pada pohon dan semai. R. lepidicolor, Sebacina sp., dan fungi ektomikoriza famili Thelephoraceae masing-masing berasosiasi multi inang di tingkat semai. Keberadaan jenis-jenis fungi ektomikoriza yang mampu berasosiasi secara multi inang dengan dipterocarpaceae merupakan modal alami upaya rehabilitasi hutan tropis terdegradasi. Multi-Host of Ectomycorrhizal Fungi on Dipterocarpaceae inTropical Rain ForestsAbstractDipterocarpaceae is known as the dominant forest vegetation family in tropical forests that has mutual symbiosis with ectomycorrhizal fungi. It makes tropical forest resilience depend on the existence of ectomycorrhizal fungi. The role of ectomycorrhizal fungi to support the regeneration was found in multi-host form, indicated by sharing ectomycorrhizal fungal species between plants. Based on that phenomenon, the study aims to recognize ectomycorrhizal fungi that associate with dipterocarpaceae at tree and seedling levels, and the presence of multi-host ectomycorrhizal fungi on both growth stages. The research was conducted by identifying the ectomycorrhizal fungi via molecular approach by using Polymerase Chain Reaction (PCR) technique. To strengthen the sequence of DNA extracts, a specific primer pair of ITS 1F-ITS 4 was used. The identity of the ectomycorrhizal fungi was obtained by matching the samples’DNA sequence to the Genbank database. Based on the identification results, ectomycorrhizal fungi that associate with dipterocarpaceae on tree and seedling levels have genetic relationship with Dothideomycetes class and Sordariales, Sebacinales, Cantharellales, Russulales, Agaricales, Boletales, and Thelephorales orders. The research also found that multi-host of ectomycorrhizal fungi to dipterocarpaceae is formed both in different species and growth stages of host (tree and seedling). The most ectomycorrhizal fungi that play a role in multi-host are those with genetic relationship to the orders of Thelephorales, Russulales, and Sebacinales. Tomentella sp. of Thelephorales order was the most multi-host on both tree and seedling levels. R. lepidicolor, Sebacina sp., and ectomycorrhizal fungi of Thelephoraceae were found multi-host in seedling level. The existence of ectomycorrhizal fungi associated in multi-host with dipterocarpaceae is a natural asset for rehabilitation effort of degraded tropical forests
Aktivitas Larvasida Ekstrak Daun Tumih (Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser) terhadap Larva Aedes aegypti
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar ekstrak daun tumih dan menguji aktivitas larvasidanya terhadap Aedes aegypti. Daun tumih dimaserasi dan difraksinasi dengan pelarut metanol, n-heksana, etil asetat, dan etanol. Aktivitas larvasida ekstrak diuji dengan konsentrasi 0, 5, 10, 25, 50, 75, dan 100 ppm. Hasil penelitian menunjukkan rendemen dari ekstraksi daun tumih pada berbagai larutan adalah sebagai berikut ekstrak metanol sebesar 15%, n-heksana 51%, etil asetat 35% dan etanol 85%. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun tumih positif mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Pengujian larvasida ekstrak daun tumih menunjukkan pengaruh terhadap mortalitas larva Aedes aegypti. Aktivitas larvasida ekstrak daun tumih optimum pada ekstrak etil asetat dengan LC(50) = 24,54 ppm, ekstrak metanol LC(50) = 45,65 ppm, ekstrak etanol LC(50) = 46,77 ppm dan ekstrak n-heksana LC(50) = 48,97 ppm. Ekstrak etil asetat daun tumih merupakan ekstrak teraktif dalam aktivitas larvasidanya. Selanjutnya, analisis FT-IR menunjukkan adanya gugus fungsi C-H alkana dan C = C aromatik. Gugus fungsi tersebut diduga penyusun senyawa alkaloid, flavanoid, saponin, dan tanin. Hasil analisis LCMS mengindikasikan adanya 7 senyawa bioaktif yaitu hexadecyl-ferulate, 21-o-methyl toosendanopentaol, 23-acetate alismaketone, dehydroxy-24-acetate alisol, physanol, prosapogenin 2, dan stigmastan-3,6-dione Larvacide Activity of Tumih (Combretocarpus rotundatus (Miq.)Danser) Leaf Extracts against Aedes aegyptiAbstractThis research aimed to measure the content of Combretocarpus Rotundatus (Miq.) Danser leaf extracts and to test its larvicidal activity against Aedes aegypti. The leaves were macerated and fractionated using methanol, n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. The extract contents from the leaves extraction were metanol extract of 15%, n-hexane extract of 51%, ethyl acetate extract of 35% and ethanol extract of 85%. The larvicidal activity of extracts was tested with concentration of 0, 5, 10, 25, 50, 75, and 100 ppm. Phytochemicals test exhibited that the methanol extract of Combretocarpus rotundatus (Miq.) Danser leaves contained alkaloids, flavonoids, saponins, and tannins. Larvicidal test conducted on the extracts exhibited an effect on the mortality levels against Aedes aegypti larvae. The larvicidal activity of leaf extracts was optimum in the ethyl acetate extract at LC(50) = 24.54 ppm, methanol extract at LC(50) = 45.65 ppm, ethanol extract at LC(50) = 46.77 ppm, and n-hexane extract at LC(50 = 48.97 ppm. It was found that the ethyl acetate extract was the most active larvicide. FT-IR analysis showed existing functional groups of C-H alkanes and C=C aromatics. Those functional groups were assumed to be flavanoid, alkaloid, saponin, and tannin constituents. Results of LC-MS analysis indicated 7 bioactive compounds i.e.hexadecyl-ferulate, 21-o-methyl toosendanopentaol, 23-acetate alismaketone, dehydroxy-24-acetate alisol, prosapogenin 2, and stigmastan-3,6- dione
Status Ergonomi Pekerja Sektor Kehutanan di Indonesia: Kelelahan Fisik-Mental-Sosial, Kepuasan Kerja, Konsep Sumber Bahaya, dan Konsep Biaya Kecelakaan
Pengelolaan hutan lestari menuntut perhatian terhadap perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), selain perhatian terhadap aspek produktivitas kerja, dan kesejahteraan pengelola/pekerjanya. Di Indonesia, ke-empat aspek tersebut, yang merupakan tujuan utama kajian ergonomi, belum banyak mendapat perhatian, walau kegiatan pengelolaan hutan merupakan kegiatan dengan risiko gangguan K3 yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menyajikan gambaran kondisi kelelahan fisikmental-sosial, gangguan otot, kepuasan kerja, persepsi terhadap sumber bahaya, dan persepsi terhadap biaya kecelakaan kerja dalam kegiatan pengelolaan hutan di Indonesia. Status kelelahan diukur menggunakan instrumen Cumulative Fatigue Symptom Index (CFSI) dan gangguan otot diinvestigasi menggunakan instrumen Standardized Nordic Questionnaire (SNQ). Kepuasan kerja dan persepsi terhadap sumber bahaya dan biaya kecelakaan ditelusuri menggunakan kuisioner dan wawancara (tatap muka, pertanyaan terbuka dan semi terstruktur). Data diambil dari 98 responden yang terdiri atas polisi hutan, tenaga inventarisasi hutan, pengawas/mandor penebangan, dan staf administrasi selama Februari 2016–Oktober 2017. Analisis CFSI menunjukkan bahwa kegiatan penjagaan hutan dan inventarisasi hutan telah menyebabkan gangguan kelelahan fisik dan mental yang intens (dalam bentuk gangguan kecemasan). Analisis SNQ mengonfirmasi keluhan gangguan otot pada pinggang, punggung, leher, bahu, serta lengan (bawah-atas). Secara umum responden memiliki (1) keterbatasan secara finansial, (2) tingkat pengetahuan yang belum memadai untuk mengenali berbagai sumber bahaya potensial di tempat kerja, dan (3) pemahaman yang kurang tepat terhadap konsep biaya kecelakaan. Keterbatasan aspek kognitif responden menyebabkan penggunaan mekanisme K3 partisipasif semata (untuk meningkatkan perlindungan K3) bukanlah keputusan yang tepat. Upaya peningkatan perlindungan K3 perlu dilakukan dalam bentuk (1) peningkatan fasilitas kerja (fasilitas kesehatan, saranasarana sosial dan komunikasi, aksesibilitas), (2) peningkatan pendapatan, dan (3) peningkatan pemahaman terhadap konsep sumber bahaya dan konsep biaya kecelakaan kerja.Ergonomics Status of Indonesian Forestry Workers: Physical-Mental-Social Fatigue, Job Satisfaction, Concept of Hazards, and Concept of Accident CostAbstractSustainable forest management requires attention to the protection of occupational safety and health (OSH), in addition to attention to aspects of work productivity, and the welfare of managers/workers. In Indonesia, these four aspects, which are the main objectives of ergonomics studies, have not received much attention, although forest management activities are activities with a high risk of OSH disorders. This study aims to present an overview of the conditions of physical-mental-social fatigue, musculoskeletal disorders (MSDs), job satisfaction, perception of hazards sources, and perception toward work accident costs from workers involved in forest management activities in Indonesia. Fatigue status was measured using the Cumulative Fatigue Symptom Index (CFSI) and MSDs were investigated using Standardized Nordic Questionnaire (SNQ). Job satisfaction, perception of the source of danger, and the cost of accidents were traced using questionnaires and interviews (face to face, open and semi-structured questions). Data were taken from 98 respondents consisting of forest rangers, forest inventory workers, logging supervisors, and administrative staff during February 2016–October 2017. The CFSI analysis shows that forest guarding and forest inventory have caused intense physical and mental fatigue (in the form of excessive anxiety). The SNQ analysis confirms intense MSDs complaints at the waist, back, neck, shoulders, and arm. The general characteristics of the respondents were having: (1) limited financial capacity, (2) inadequate knowledge to recognize various potential hazards sources at work, and (3) inappropriate understanding of the concept of accident costs. The limitations on the respondents’ cognitive, has made participatory OSH mechanisms alone (to improve OSH protection) is not an appropriate option. Efforts to improve OHS protection should be carried out in the form of (1) improving workplace facilities (health facilities, social and communication facilities, accessibility), (2) improving remuneration, and (3) improving knowledge on the concepts of the source of hazards and accident cost
Pengaruh Ukuran Serbuk dan Penambahan Tempurung Kelapa Terhadap Kualitas Pelet Kayu Sengon
Limbah industri kayu sengon menjadi salah satu bahan baku dalam pembuatan pelet kayu karena potensinya yang cukup besar. Akan tetapi pelet kayu sengon memiliki kerapatan serta nilai kalor yang rendah. Untuk meningkatkan sifat bahan bakar pelet kayu Sengon maka dilakukan pencampuran bahan dengan serbuk tempurung kelapa. Penelitian ini menggunakan bahan dari limbah serbuk gergaji sengon (Falcataria moluccana (Miq.)) dan limbah tempurung kelapa (Cocos nucifera). Masing-masing bahan dibuat partikel pada 3 kelompok ukuran yaitu 20-40 mesh, 40-60 mesh, dan 60-80 mesh. Ke dalam serbuk kayu sengon ditambahkan serbuk tempurung kelapa dengan penambahan 25%, 50%, dan 75%, sedangkan untuk kontrol (0%) adalah pelet kayu sengon tanpa penambahan tempurung kelapa. Pelet dibuat dengan menggunakan single-pelletizer pada suhu ruang dengan tekanan 100 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi bahan baku yang berbeda (sengon dan tempurung kelapa) memberikan pengaruh terhadap sifat fisika dan kimia pelet kayu. Semakin tinggi persentase campuran serbuk tempurung kelapa pada pelet kayu sengon maka semakin tinggi keteguhan tekan, karbon terikat, total karbon dan nilai kalor, sedangkan untuk kadar zat mudah menguap, kadar abu, kadar N, S, dan H semakin rendah. Pelet terbaik dihasilkan pada kombinasi penambahan tempurung kelapa 50% dengan ukuran 60-80 mesh yang memiliki sifat kadar abu yang rendah (0,79%) dan nilai kalor yang tinggi (5129,07 Kal/g), serta keteguhan tekan yang masih cukup tinggi (444,75N). Hasil tersebut memenuhi standar SNI 8021:2014.Effect of Particle Size and Addition of Coconut Cell on the Quality of Sengon Wood PelletAbstractThe waste of sengon (Falcataria moluccana) industry becomes one of the raw materials in the manufactured of wood pellets, because of its potency. However F. moluccana pellets posses low density and calorific value. To improve its properties, a materials mixing with coconut shell parcticles was conducted. This study used material from the waste of sengon (F. moluccana) sawdust and the waste of coconut (Cocos nucifera). Particles from those materials were made on 3 sizes which are 20-40 mesh, 40-60 mesh, and 60-80 mesh. 25%, 50%, and 75% of coconut shell were added into sengon sawdust, while woode pellets with no additions were used as a control. Pellets are made using single-pelletizer at room temperature with a pressure of 100 kg/cm2. The research results showed if the different material combination (sengon and coconut shell) gave significant effect to physical properties and chemical content of wood pellets. Higher percentage of coconut shell gives higher compressive strength, fixed carbon content, total of carbon, and calorific value, while volatile matter, ash content, N, S, and H content showed lower value. The best pellet was resulted from combination between coconut shell addition 50% and nesh size 60 – 80 which posses quite low ash content (0.79%) and high calorific value (5129.07 Kal/g), and high compression strength (444.75 N). This result has qualified the standard of SNI 8021:2014
Habitat dan Interaksi Spatio-Temporal Merak Hijau dengan Sapi dan Herbivora Besar di Taman Nasional Baluran
Merak hijau (Pavo muticus muticus) adalah species yang terancam punah dengan populasi yang terus menurun. Burung ini adalah jenis yang dilindungi di Indonesia, dan hidup di beberapa sisa-sisa habitat yang kebanyakan sempit dan dengan tingkat perburuan tinggi. Hal ini menyebabkan risiko kepunahan yang tinggi. Penelitian ini dilakukan di Taman Nasional Baluran untuk menyelidiki pengaruh variabel habitat terhadap kemungkinan okupansi merak hijau serta interaksi spasial dan temporal antara merak hijau dengan sapi dan herbivora besar. Kehadiran merak hijau direkam dengan kamera trap dan variabel-variabel habitat diukur di tempat kamera trap dipasang. Penelitian ini menemukan bahwa kemungkinan okupansi merak hijau paling baik dijelaskan oleh model yang tidak melibatkan peran variabel habitat. Selain itu, ditemukan pula bahwa pola interaksi merak hijau dengan sapi mirip dengan pola interaksi merak hijau dengan sebagian besar herbivora besar. Tidak ada dampak negatif sapi terhadap kehadiran dan aktivitas harian merak hijau. Burung ini memiliki daya adaptasi yang cukup tinggi terhadap kondisi lingkungan yang berbeda. Penurunan populasi di Jawa mungkin lebih disebabkan karena tekanan perburuan yang tinggi daripada perubahan habitat. Habitat and Spatio-Temporal Interaction Between Green Peafowl with Cattle and Megaherbivores in Baluran National Park Abstract Green peafowl (Pavo muticus muticus) is an endangered species, whose population is continuously declining. It is protected animal in Indonesia that occurs in remnant, and sometime small habitat with high hunting pressure, that made the animal prone to extinction. This study was conducted to investigate the influence of habitat on the occupancy probability of green fowl as well as the interaction between green peafowl and free-range cattle and wild mammal in Baluran National Park. The presence of animals in the study was recorded by camera traps, and the habitat variables were measured in the locations, where the camera traps were installed. The research found that the occupancy of green peafowl best explained by the model that not include any habitat variables. The pattern of interaction between green peafowl and domesticated cattle was similar to those of between green peafowl and the majority of wild mammal. There was no evidence of negative impact of domesticated cattle on the spatial occurrence as well as temporal activity of green peafowl. Green peafowl is a bird species with high adaptability to various environmental conditions. The population decrease of this animal in Java might be mainly due to high hunting pressure than habitat change
Struktur Sebaran dan Tata Ruang Anggrek Epifit (Orchidaceae) di Hutan Pantai Cagar Alam Pulau Sempu Malang, Jawa Timur
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur, sebaran, dan tata ruang jenis-jenis anggrek epifit yang ada di hutan pantai Cagar Alam Sempu, Malang, Jawa Timur. Penelitian menggunakan plot memanjang 10 m x 1.000 m (1 ha), yang dibagi menjadi 100 anak plot. Letak plot dari Pantai Semut ke arah Pantai Sumber Air Tawar. Seluruh jenis anggrek epifit dalam plot dicatat dan dihitung jumlahnya (rumpun). Hasil menunjukkan terdapat empat jenis dari tiga marga, dengan kerapatan 77 rumpun/ha. Jenis dominan adalah Taeniophyllum cf. biocellatum, diikuti Dendrobium subulatum, Grosourdya appendiculata, dan Dendrobium crumenatum. Pola tata ruang sebaran berdasarkan tiga parameter indeks dan uji chi-square bagi setiap jenis menunjukkan adanya pola acak.Structure, Distribution, and Spatial Patterns of Epiphytic Orchids (Orchidaceae) at Coastal Forest of the Sempu Island Nature Reserve, Malang, East Java AbstractThe aim of this study is to know the structure, spatial pattern, and distribution of epiphytic orchids in coastal forest Sempu Nature Reserve, Malang, East Java. This study used an elongated plot of 10 m x 1.000 m (1 ha), and was divided into 100 subplots. The location of plot was from Semut Beach to the direction of Sumber Air Tawar Beach. All the epiphytic orchids species of inside plot were recorded and counted (clumps). The results showed that there was four species from three genera with density of 77 clumps/ha. The most dominant species was Taeniophyllum cf. biocellatum, followed by Dendrobium subulatum, Grosourdya appendiculata, and Dendrobium crumenatum. Spatial pattern of distribution based on three parameter indices, and chi-square test showed that every species showed a random pattern