Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Model Kelembagaan Lokal Kabupaten Konservasi Tambrauw di Papua Barat
Komitmen Politik pembentukan Tambrauw sebagai kabupaten konservasi di Papua Barat, mendorong terjadinya perubahan tatakelola pemerintahan konvensional menuju tatakelola konservasi. Dengan demikian kelembagaan sebagai unit yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan kegiatan kabupaten konservasi perlu dirancang guna mengawal kebijakan kabupaten konservasi dimaksud. Penelitian ini bertujuan untuk merancang model kelembagaan lokal kabupaten Tambrauw Sebagai Kabupaten Konservasi. Proses rancang bangun model kelembagaan lokal dilaksanakan sejak Bulan Juni 2013- Desember 2017 mengikuti metode penelitian dan pengembangan (research and development). Data penelitian diperoleh dari: (1) hasil wawancara Pakar; (2) catatan lapangan, dan (3) data saran perbaikan draf model awal dan hasil observasi observer pada pelaksanaan uji coba (FGD/Konsultasi) dengan skala kecil dan besar. Untuk melihat signifikanis perbandingan model kelembagaan eksis berupa organisasi perangkat daerah (OPD)) dan kelembagaan kabupaten konservasi yang ditawarkan, maka dilakukan Uji-t. Proses rancang bangun kelembagaan lokal kabupaten konservasi dilakukan mengacu pada terhadap 8 prinsip rancangan kunci yang ditawarkan oleh Ostrom tentang kelembagaan pengelolaan yang efektif terhadap sumberdaya alam lokal milik bersama (common property). Hasil penelitian menunjukkan bahwa, kelembagaan kabupaten konservasi layak dikembangkan sebagai unit yang bertanggungjawab terhadap mekanisme kinerja kabupaten konservasi, dimana bersifat non body dan lebih ditekankan pada fungsi koordinasi oleh Bappeda Kabupaten Tambrauw sebagai coordinator perencanaan pembangunan daerah. Local Institution Model of Tambrauw Conservation in West PapuaAbstractPolitical Commitment to establishing Tambrauw as a conservation district in West Papua, has led to changes in conventional governance towards conservation management. Thus the institution as a unit responsible for organizing conservation district activities needs to be designed to oversee the policies of the conservation district concerned. This study aims to design a local institutional model of Tambrauw Regency as a Conservation District. The design process of the local institutional model was carried out from June 2013 to December 2017 following the research and development method. Research data obtained from: (1) the results of expert interviews; (2) field notes, and (3) data suggesting improvements to the initial model draft and observers' observations on the implementation of trials (FGDs / Consultations) on a small and large scale. To see the significance of the comparison of the existing institutional models in the form of regional apparatus organizations (OPD) and the conservation district institutions offered, a t-test was conducted. The design process of the conservation district's local institutional building was carried out about the 8 key design principles offered by Ostrom on effective management institutions for common property. The results showed that conservation district institutions should be developed as a unit responsible for the mechanism of conservation district performance, which is non-body and more emphasized on the coordination function by the Agency for Regional Development Tambrauw Regency as coordinator of regional development planning
Perceived Forest-based Ecosystem Services and Attitudes Toward Forest Rehabilitation: A Case Study in the Upstream of Central Java, Indonesia
Forest rehabilitation is essential in restoring forest-based ecosystemservices (ES) provided by forest area. However, the critical issue on how locals perceived importance of forest rehabilitation, and how forest rehabilitation generates, both direct and indirect, benefits for the adjacent communities has remained contentious. A questionnaire survey was employed to examine locals' perceived importance, perceived ES, and attitudes toward forest rehabilitation in a village adjacent to Perhutani's forest area in the upstream of a catchment in Central Java, Indonesia. In total, 90 usable questionnaires were collected. The findings indicate that their perceived pine-sap production, conserving forest area, and water availability are the importance of forest rehabilitation programs. Locals recognized various ES benefits, including provisioning, regulating, supporting, and cultural services, though the adverse impacts emerged. Spearman rank correlation analysis revealed that local's satisfaction with forest rehabilitation positively and significantly correlated with their positive perceptions and subsequently increase their willingness to be actively involved in forest conservation efforts. The findings also imply that forest managers should not only focus on delivering benefits but also be aware of the adverse impacts of forest rehabilitation and management practices, which are crucial for ensuring forest sustainability. Jasa Ekosistem Berbasis Hutan yang Diterima dan Sikap terhadap Rehabilitasi Hutan: Studi Kasus di Hulu Daerah Aliran Sungai di Jawa Tengah, IndonesiaIntisariRehabilitasi hutan penting untuk memulihkan jasa ekosistem berbasis hutan yang disediakan oleh kawasan hutan. Sementara rehabilitasi hutan sangat penting dalam memulihkan jasa lingkungan, pertanyaan mengenai bagaimana penduduk setempat memandang pentingnya rehabilitasi hutan, dan bagaimana rehabilitasi hutan menghasilkan manfaat, baik langsung maupun tidak langsung, bagi masyarakat sekitar masih diperdebatkan. Kuesioner survey dilaksanakan untuk menggali persepsi masyarakat tentang tingkat kepentingan, persepsi terhadap jasa lingkungan, dan sikap mereka terhadap rehabilitasi hutan di desa berdekatan kawasan hutan Perhutani, di hulu daerah alisan sungai, Jawa Tengah, Indonesia. Secara total, 90 kuesioner yang lengkap berhasil dikumpulkan. Temuan menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap pentingnya rehabilitasi hutan yaitu untuk produksi getah pinus, melestarikan kawasan hutan, dan ketersediaan air. Masyarakat desa merasakan berbagai jasa lingkungan yang diperoleh dari kawasan hutan meliputi manfaat penyediaan, pengaturan, dukungan, budaya, meskipun dampak negatif juga teramati. Analisis korelasi Spearman menunjukkan bahwa kepuasan masyarakat terhadap rehabilitasi hutan berkorelasi positif dan signifikan terhadap persepsi positif mereka, dan selanjutnya akan meningkatkan kesediaan mereka untuk terlibat aktif dalam upaya konservasi kawasan hutan. Temuan ini juga menyiratkan bahwa pengelola hutan tidak hanya fokus memberikan manfaat, tetapi harus juga menyadari dampak buruk dari praktik rehabilitasi dan pengelolaan hutan yang muncul untuk memastikan kelestarian hutan
Potensi Perhutanan Sosial dalam Meningkatkan Partisipasi Masyarakat dalam Restorasi Gambut
Pengelolaan lahan gambut berkelanjutan diupayakan dengan restorasi lahan gambut untuk mempercepat pemulihan fungsi ekosistem rawa gambut pada satu kesatuan hidrologis gambut dan untuk perlindungan dan pengaturan tata air alaminya. Kajian ini mengobservasi potensi skema perhutanan sosial sebagai salah satu strategi merestorasi lahan gambut dengan mencermati kebijakan praktik (lokal) di masyarakat, potensi keekonomian dan kawasan yang berpotensi. Kajian ini berdasarkan desk study, pencermatan terhadap hasil penelitian mitra penelitian Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut, khususnya terkait paludikultur yang dikategorikan sebagai studi kasus yang memungkinkan bagi perhutanan sosial, juga dilaksanakan observasi lapangan untuk pendalaman studi kasus. Kajian ini memdapatkan gambaran bahwa PP No. 57/2016 dapat mendukung sinergi dengan konsep perhutanan sosial. Beberapa praktik (lokal) memungkinkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lahan gambut dengan mendapatkan keuntunan dari berbagai jasa ekosistem (pada studi kasus di Sungai Beras, Tanjung Jabung Timur, Jambi), paludikultur yang dapat merevegetasi dan berintegrasi dengan pengelolaan hutan terdekat (studi kasus revegetasi Hutan Lindung Londerang, Tanjung Jabung Timur, Jambi), menurunkan konflik sosial (studi kasus di Kesatuan Pengeloaan Hutan Lindung Gambut Beram Itam, Tanjung Jabung Barat), Jambi); sementara di Kepulauan Meranti, riset aksi agroforestry mendapatkan bahwa kesadaran masyarakat tentang praktik bijak pengelolaan produk kayu dan non kayu berpotensi untuk diterapkan dalam praktik perhutanan sosial. Sementara, restorasi gambut terintegrasi dimungkinkan dengan mengadaptasikan konsep perhutanan sosial pada kawasan gambut berfungsi budidaya. Hal ini dapat meningkatkan manfaat bagi masyarakat baik keekonomian dari pertanian dan jasa ekosistem lainnya yang disedikakan oleh model pengelolaan kehutanan; dan memfasilitasi perubahan bertahap bagi reforestai di lahan gambut. Perhutanan sosial di lahan gambut memiliki potensi menjadi tradeoff antara kepentingan sosial, nilai ekonomi, dan lingkungan.Potential Implementation of Social Forestry in Engaging Community Participation in Restoring PeatlandsAbstractSustainable peatland management of tropical peatland is efforted by restoration to accelerate restoring peatland ecosystem function within an area of Peatland Hydrological Unit (PHU), and to preserve water and regulate water system in a natural way. This study observes the possibility of social forestry scheme as a strategy to restore peatlands by discussing regulations, local practices of communities, potential economic benefits, and potential areas. Our observation is based on desk study and reviewing research outputsof Deputy Research and Development of Peat Restoration Agency particularly related paludiculture, we classified the case study which social-forestry enabler, as well as field observation. This shows that PP No. 57/2016 enables peat restoration operationalizing withsocial forestry concepts. Some (local) practices enable community participation in managing peatlands by gaining benefits from several ecosystem services (case study in Sungai Beras, East Tanjung Jabung, Jambi), integrating with other forestry management nearby (case study in Protected Peat Forest Londerang, East Tanjung Jabung, Jambi), decreasing social conflict (case study in Beram Itam, West Tanjung Jabung, Jambi); while in Kepulauan Meranti, action research in agroforestry elicited that the awareness about the wise practices in managing timber product and non timber forest product is potential for social forestry practices. Meanwhile, integrated peat restoration is possible by adapting the concept of forestry to cultivation function of peatlands. This practice will increase the benefit to the communities from economic benefits from agriculture and ecosystem services provided by forestry management model in a longer period; and facilitate a stepwise change towards reforestation. Social forestry in peatland has the potential to be a trade-off between social interests, economic values, and environment
Small Scale Ecology and Society: Forest-Culture of Papua Nutmeg (Myristica argentea Warb.)
Identities and entities can be found in the cultural and ecological environment of a community when its members interact with each other. The Papua nutmeg (Myristica argentea Warb.) has been utilized by the Baham-Matta ethnic in the western part of Papua for centuries as part of their traditional ecological knowledge of nontimber forest products (NTFPs). However, this practice has not been scientifically constructed as part of social forestry science. Therefore, this paper seeks to contribute to an empirical understanding of the forest-culture of the local community and its implications for adaptive forest governance in West Papua. This study found that adaptive resource management has been applied to the Papua nutmeg, which is called henggi in Iha language and endemic to the tropical forest of the western part of Papua. The treatment of Papua nutmeg consists of three stages, namely pre-harvest, harvest, and post-harvest, all of which form a holistic unity which is sustainable until today. The Papuan nutmeg is traditionally managed and locally conserved using a traditional method known as the sasi system.Ekologi dan Masyarakat Skala Lokal : Hutan Budidaya Pala Papua (Myristica argentea Warb.)IntisariIdentitas dan entitas dapat ditemukan pada lingkungan budaya dan ekologi masyarakat saat mereka berinteraksi. Pala papua (Myristica argentea Warb.) telah dimanfaatakan selama berabadabad oleh etnis Baham-Matta di Papua Barat berdasarkan sistem pengetahuan ekologis tradisional sebagai bagian dari hasil hutan bukan kayu (HHBK) unggulan. Namun disayangkan fenomena ini belum dikonstruksi secara ilmiah sebagai bagian dari ilmu perhutanan sosial. Oleh karena itu makalah ini berusaha memberi kontribusi pada pemahaman empiris tentang hutan-budaya dari praktik masyarakat lokal dan implikasinya terhadap tata kelola hutan adaptif di Papua Barat. Hasil kajian ini menemukan bahwa pengelolaan sumber daya adaptif pala papua yang disebut Henggi dalam bahasa Iha adalah tumbuhan endemik yang berasal dari hutan alam tropis di Papua Barat. Pemanfaatan pala papua terdiri dari tiga tahapan yaitu pra panen, panen dan pasca panen. Pengelolaaannya masih sangat sederhana dan bersifat tradisional dengan salah satu keunggulannya adalah konservasi tradisional menggunakan sistem “Sasi”.
Optimasi Produksi Badan Buah Tiga Jenis Jamur Kayu dengan Inovasi Perlakuan pada Waktu Inkubasi dan Jumlah Penyobekan pada Baglog
Di Indonesia permintaan jamur konsumsi, baik yang untuk obat maupun bahan makanan, terus meningkat. Akselerasi produksi perlu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu inkubasi dan banyaknya jumlah penyobekan baglog terhadap produktivitas 3 jenis jamur konsumsi yang banyak dibudidayakan di Indonesia. Sampel baglog pada penelitian ini diperoleh dari petani jamur Sedyo Lestari, Bantul. Selanjutnya pada baglog tersebut diinokulasikan 3 jenis jamur yaitu Auricularia sp. (jamur kuping), Pleurotus sp. (jamur tiram), dan Ganoderma sp. (jamur lingzhi). Setelah inokulasi, media diinkubasi selama 30, 40, dan 50 hari, untuk selanjutnya dibudidayakan selama 60 hari. Pada akhir masa inkubasi dilakukan pengukuran kadar glukosamin dan penyobekan baglog pada 1 atau 2 ujung untuk memicu munculnya badan buah. Selama periode pembudidayaan, dilakukan pemanenan badan buah dan diukur produktivitas badan buah serta intensitas pemanenan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan lama waktu inkubasi dan jumlah sobekan pada baglog memberikan pengaruh yang berbeda terhadap setiap jenis jamur. Lama waktu inkubasi tidak berpengaruh nyata terhadap produktivitas badan buah dan nilai konversi biologi pada jamur tiram dan kuping, namun berpengaruh nyata terhadap jamur lingzhi. Lama waktu inkubasi terbaik untuk jamur lingzhi adalah 40 hari. Jumlah sobekan pada baglog tidak memberi pengaruh terhadap produktivitas jamur tiram dan kuping, akan tetapi berpengaruh terhadap produktivitas jamur lingzhi dan intensitas pemanenan jamur kuping. Optimization of Fruiting Body Production of Three Kinds Edible Mushrooms Species by Innovate the Incubation Time and Number of Rips on Baglog AbstractIn Indonesia the demand for edible mushroom, both for medicine and food, continues to increase. Production acceleration is needed to meet the market needs. This study aims to determine the effect of the incubation time and the number of rips on baglog to the productivity of 3 species of edible mushrooms that are widely cultivated in Indonesia. The baglog as sample in this study was obtained from Sedyo Lestari mushroom farmer in Bantul. The baglog was inoculated by 3 kinds of mushroom of Auricularia sp. (ear fungus), Pleurotus sp. (oyster mushroom), and Ganoderma sp. (lingzhi mushroom). After inoculation, the medium was incubated for 30, 40, and 50 days, for subsequent cultivation for 60 days. At the end of the incubation period, the glucosamine content was analysed and the baglog was teared at 1 or 2 ends to trigger the appearance of the fruiting body. During the cultivation period, the fruiting bodies were harvested and the productivity of the fruiting body and the harvesting intensity were measured. The results showed that the incubation time and the amount of rips on the baglog gave a different effect on each mushroom species. The duration of incubation time had no significant effect on fruiting body productivity and biological conversion on oyster and ear mushrooms.However, it had a significant effect on Lingzhi mushroom. The best time of incubation for Lingzhi mushroom was 40 days. The amount of rips on the baglog did not give effect to the productivity of oyster and ear mushrooms, but it affected the productivity of Lingzhi mushroom and the harvesting intensity of ear mushroom
Kajian Pengusangan Cepat dan Penyimpanan Biji terhadap Perkecambahan Anaphalis longifolia (Blume) Blume ex.DC.
Anaphalis longifolia merupakan kelompok bunga edelweiss yang memiliki nilai konservasi tinggi, namun upaya konservasi melalui kegiatan penyimpanan biji dan pengembangan usaha pembudidayaannya relatif masih terbatas. Penelitian ini melaporkan hasil dua percobaan yang dilaksanakan di laboratorium Kebun Raya Cibodas. Dalam percobaan pertama, pengusangan biji dilakukan menggunakan etanol 96% dengan 11 lama waktu perendaman (0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 dan 100 menit), sedangkan dalam percobaan kedua dilakukan pengujian kualitas daya simpan biji terhadap beberapa tempat penyimpanan seperti desikator, lemari, kulkas 4 oC dan freezer -20 oC selama kurun waktu 12 bulan. Hasil percobaan pertama menunjukkan bahwa perendaman biji pada etanol 96% selama 10-30 menit mampu memacu perkecambahan biji A. longifolia. Penyimpanan biji A. longifolia untuk waktu yang lama direkomendasikan menggunakan freezer dengan suhu -20 oC.A Study of Accelerated Aging and Seed Storage on the Germination of Anaphalis longifolia (Blume) Blume ex.DC. AbsractAnaphalis longifolia is a group of edelweiss flowers which has a highly conservation value. However, there are only limited information on conservation activities of A. longifolia regarded to the seed storage and cultivation. The study was conducted in the laboratory of Cibodas Botanical Garden. In this study, two experiments were carried out. In the first experiment, A. longifolia seeds were treated by ethanol 96% with 11 different immersion time (0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90 and 100 minutes). In the second experiment, seed storability and viability test were conducted after A. longifolia seeds were saved in desiccator, cabinet, refrigerator 4 oC and freezer -20 oC during 12 months. Results of the first experiment showed that soaking seeds on 96% ethanol for 10-30 minutes was able to stimulate seed germination of A. longifolia. Freezer with temperature -20 oC is recommended to storage A. longifolia for long periods
Distribusi Sel Pori pada Kayu Tarik dan Korelasinya dengan Komposisi Lignin
Sifat anatomi kayu tarik dianalisis untuk parameter jumlah dan diameter pori dan korelasinya dengan komposisi lignin. Sampel kayu reaksi diambil dari batang pohon mindi (Melia azedarach) yang tumbuh miring. Pembentukan kayu tarik menurunkan jumlah dan diameter pori dan sebagai implikasinya meningkatkan proporsi serat. Jumlah dan diameter pori berkorelasi positif dengan kadar lignin. Nisbah siringil/guaiasil dan erythro/threo struktur β-O-4 berkorelasi negatif dengan jumlah dan diameter pori. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi bahwa perubahan proporsi sel penyusun kayu akibat tegangan pertumbuhan merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap perubahan karakteristik kimia lignin kayu tarik. Distribution of Vessels in Tension Wood and Its Correlation with Lignin CompositionAbstractThe anatomical properties of tension wood were investigated for number and diameter of vessel and its correlation with lignin composition. Reaction wood sample was taken from the leaning stem of mindi (Melia azedarach). The formation of tension wood reduced the number and size of vessel and, consequently, increased the proportion of fiber. Number and diameter of vessels positively correlated with lignin content. However, syringyl/guaiacyl ratio of lignin and erythro/threo ratio of β-O-4 structures were negatively correlated with number and diameter of vessels. It was confirmed that changes in the proportion of wood cell was an importance factor influencing the changes in chemical characteristic of tension wood lignin