Jurnal Ilmu Kehutanan
Not a member yet
    235 research outputs found

    Penyebaran Semut dalam Kawasan Hutan di Pulau Saparua, Propinsi Maluku

    Get PDF
    Semut akan merespon kehadiran manusia dalam habitatnya, dimana kehadiran manusia melalui kegiatan pengambilan hasil hutan akan berdampak terhadap penyebaran semut dan peranannya dalam ekosistem hutan. Respon semut ditunjukan melalui perubahan nilai keragaman jenis, kelimpahan, dan kelimpahannya yang akan berubah sesuai dengan tekanan dalam habitatnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kehadiran, kelimpahan, dan keragaman semut dalam Hutan Tuhaha yang telah mengalami tekanan akibat kehadiran manusia. Semut dikoleksi dengan tiga metode yakni Hand Collecting, Pitfall trap berisi larutan detergen, bait trap dengan umpan berupa larutan gula dan potongan ikan tuna. Hasil penelitian menemukan 3615 ekor semut dimana 592 ekor semut dengan menggunakan pitfaal trap, 515 ekor menggunakan metode Bait Trap dengan umpan berupa Ikan Tuna Mentah, 669 ekor semut dengan menggunakan umpan berupa larutan gula, dan 1839 ekor menggunakan metode Hand Collecting. Nilai kelimpahan jenis semut tertingi ditemukan pada jalur 10 sebesar 125 % dan Indeks keragaman Jenis tertinggi sebesar 1.45 pada jalur 10, sementara nilai kelimpahan jenis terendah ditemukan pada jalur 9 sebesar 75 % dan Indeks keragaman jenis terendah ditemukan pada jalur 9 sebesar 0.52. Kekayaan Jenis semut tertinggi ditemukan pada jalur 10 sebesar 4.7, sehingga diduga beberapa faktor yang berperan penting dalam penyebaran semut dalam Hutan Negeri Tuhaha yakni pH tanah antara 6.5 - 6.8, ketersediaan bahan organik, suhu udara yang sesuai diantara 250 o C – 27 0 C dan tutupan vegetasi. Spread of Ants in Forest Areas in The Island of Saparua Province Of MollucasAbstractAnts will respond to the presence of humans in their habitat, where the presence of humans through the extraction of forest products will have an impact on the spread of ants and their role in the forest ecosystem. Ant response is shown through changes in the value of diversity of species, abundance, and abundance that will change according to the pressure in their habitat. The research aims to determine the presence, abundance, and diversity of ants in the Forest of Tuhaha that have experienced pressure due to human presence. Three methods collect ants, namely, Hand Collecting, Pitfall Trap contains detergent solution, bait trap with bait in the form of sugar solution and tuna pieces. The results found 3615 ants where 592 ants using pitfall traps, 515 tails using the Bait Trap method with bait in the form of Raw Tuna Fish, 669 ants using bait in the form of a sugar solution, and 1839 using the Hand Collecting method. The highest ant species abundance was found in lane ten by 125%, and the highest species diversity index was 1.45 in lane 10, while the lowest species abundance was found in lane nine by 75 % and the lowest species diversity index was found in lane 9 by 0.52. The highest ant species richness found in lane 10 is 4.7, so it is assumed that several factors play an essential role in the spread of ants in the Tuhaha State Forest namely soil pH between 6.5 - 6.8, availability of organic matter, suitable air temperature between 250 o C - 27 0 C and vegetation cover

    Inventory of Invasive Alien Plant Species (IAPs) in Bali Botanic Garden and the Adjacent Areas

    Get PDF
    Similar to other botanic gardens, Bali Botanic Garden (BBG) is also prone to the spread of Invasive Alien Plant (IAP) species. Unfortunately, research about IAP species in BBG is still very limited. Thus, the study aims to update the list of IAP species in BBG and its adjacent areas as well as to provide a garden manager with data of the most important IAP species. This study was conducted by using sampling plots that were purposively established in three areas of BBG, namely the Ekor Burung (EB), VIP, and Kepala Burung (KB). Data analysis was performed to calculate the Relative Frequency (RF), Important Value Index (IVI), Clustering analysis, and NMDS ordination. The study was able to document 18 IAP species. Ageratina riparia and Bidens pilosa have the highest RF in EB, while the former also has the highest RF in VIP and KB. Similarly, the highest IVI was acquired by A. riparia in VIP and KB, as well as by Sida rhombifolia in EB. Cluster analysis revealed two subsets. NMDS ordination suggested that VIP and KB have more similar IAPs than the EB. This study suggested that A. riparia is the most important IAP species in BBG and its surrounding areas.Inventarisasi Tumbuhan Asing Invasif di Kebun Raya Bali dan Wilayah Sekitarnya IntisariSepertihalnya Kebun Raya lain, Kebun Raya Bali (BBG) juga rentan terhadap penyebaran Tumbuhan Asing Invasif (IAP). Sayangnya, penelitian tentang IAP di BBG dan daerah sekitarnya masih sangat terbatas. Karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperbarui daftar jenis IAP di BBG dan daerah sekitarnya serta menyediakan data jenis IAP paling penting bagi pengelola Kebun Raya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan plot sampel yang secara purposive diletakan pada tiga wilayah BBG yaitu Ekor Burung (EB), VIP dan Kepala burung (KB). Analisis data dilakukan untuk menghitung Frekuensi Relatif (RF), Indeks Nilai Penting (IVI), analisis klaster dan ordinasi NMDS. Penelitian ini mampu mendokumentasikan 18 spesies IAP. Ageratina riparia dan Bidens pilosa memiliki nilai RF tertinggi di EB, sementara yang disebutkan pertama juga memiliki RF tertinggi di VIP dan KB. Demikian pula, nilai IVI tertinggi di VIP dan KB diperoleh oleh A. riparia serta oleh Sida rhombifolia di EB. Analisis klaster mengungkapkan dua subset. Ordinasi NMDS menunjukan bahwa VIP dan KB memiliki jenis-jenis IAP yang lebih mirip daripada EB. Studi ini juga menunjukkan bahwa A. riparia adalah jenis invasif paling penting di BBG dan daerah sekitarnya

    Sifat Ketahanan Api dan Degradasi Panas Tiga Jenis Kayu Dilapisi Arang Kayu Sengon

    Get PDF
    Kayu sebagai biomaterial memiliki sifat yang tidak menguntungkan yaitu kayu dapat terbakar. Kebakaran dalam rumah dengan kostruksi material kayu membahayakan keselamatan jiwa manusia. Upaya telah dilakukan dalam mencegah kebakaran dengan meningkatan daya tahan material kayu. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan material tahan api berbasis karbon (CFR) dari arang kayu sengon. Efektifitas CFR dari arang sengon untuk meningkatkan ketahanan api pada kayu jati, meranti merah dan pinus dipelajari. CFR dibuat melalui pencampuran serbuk arang sengon berukuran 10 mesh dan perekat PVAC dengan perbandingan (60:40), kemudian dikempa pada suhu 80 °C dengan tekanan 70 MPa selama 15 menit sehingga diperoleh lembaran komposit karbon berukuran 4 mm x 18 cm x 18 cm. Kayu jati, meranti merah dan pinus yang dilapisi dengan lembaran CFR diuji ketahanan terhadap api melalui pengumpanan pada api selama 1500 detik berdasarkan metode ASTM E 69-02 dengan modifikasi. Lembaran CFR dari arang sengon efektif untuk meningkatkan ketahanan api ketiga jenis kayu. Keberadaan lapisan CFR pada permukaan kayu efektif berfungsi sebagai solid material penghambat yang mampu memblok panas dari api dan melindungi dari terjadinya degradasi material kayu, yang ditunjukan dengan persentase luas penampang melintang yang tidak terbakar pada jati CFR sebesar 68,6% yang lebih besar dibanding jati kontrol sebesar 57,9%, rendahnya persentase kehilangan berat pada kayu pinus CFR dan meranti merah CFR sebesar 50,56% dan 26,57% dibandingkan kontrolnya sebesar 76,98% dan 30,72%, dan perubahan berat yang relatif sama dengan kontrol pada kayu jati dan meranti merah sampai 700-1.160 detik.  Fire Retardancy Properties and Thermal Degradation of Three Timber Species Overlayed by Sengon Wood CharcoalAbstractWood as biomaterial poses unfavorable property that is wood can burn. Fire disaster in wooden houses threaten human lifes. Efforts have been implemented to improve fire retardancy properties of timbers for wooden houses. This research was carried out to develop carbon-based fire-retardant materials (CFR) overlay on three timber species. The effectiveness of carbon-based fire-retardant material from sengon charcoal to improve fire resistance in teak, red meranti and pine timbers was studied. The CFR materials were prepared by mixing 10 mesh sengon charcoal powder and PVAC adhesive with a ratio (w/w) 0f 60:40 followed by a hot pressing at a temperature of 80 °C with a pressure of 70 MPa for 15 minutes resulting 4 mm x 18 cm x 18 cm carbon sheets. Teak, red meranti and pine timbers overlayed by CFR sheet from sengon charcoal were tested through feeding on fire for 1500 seconds based on ASTM E 6-02 method with a modification. CFR sheets from sengon charcoal were effective to improve the fire resistance of the three species of timbers. CFR overlayed on timber surface was functioned as solid barrier material which was able to block thermal from fire and protected timber from thermal degradation showing by lesser percentage of cross section unburning area on teak CFR i.e. 68.6% than that of teak control i.e. 57.9%, lower percentage of weight loss on pinus CFR and red meranti CFR i.e. 50.56% and 26.57% respectively comparing with the controls i.e. 76.98% and 30.72%, and similar values of weight change percentage between teak CFR and red meranti CFR with the control until 700-1,160 s

    Halaman Depan

    No full text
    Cover DepanHalaman RedaksiDaftar Is

    PCR Primer Spesifik Berdasarkan Gen Cytochrome b untuk Deteksi Garangan (Herpestes javanicus) secara Molekuler

    Get PDF
    Garangan (Herpestes javanicus) merupakan salah satu spesies meso-carnivora yang berperan penting dalam ekosistem sebagai pemangsa. Kehadirannya dianggap mampu mengendalikan populasi spesies mangsa, termasuk beberapa spesies hama. Namun anggapan ini dianggap hanya anekdot karena kekurangan data ekologis pendukungnya sebagai dampak dari kesulitan pengamatan visual atas spesies ini. Penelitian ini bertujuan untuk merancang PCR primer untuk deteksi Garangan secara molekuler dari material organik yang ditinggalkan, misalnya kotoran. Perancangan PCR primer dimulai dengan memilih penanda spesifik Garangan yang melibatkan 51 sekuen DNA gen Cytochrome-b dari 19 spesies karnivora Jawa, menentukan primer forward dan reverse, dan menguji in-silico dan in vitro dari primer yang berhasil dirancang. Proses tersebut dilakukan dengan bantuan software MEGA 5 dan SP-Designer, dan memanfaatkan basis data genetik dari GenBank (NCBI). Uji in silico dan in vitro menunjukkan bahwa sekuen primer forward 5’- CAAATCACACCCACTCATTAAAATC-3’ dan reverse 5’-TGTGGGTTACTGATGAAAAGG-3’ akan mampu mendeteksi Garangan secara molekuler dari material organik spesies ini. Penelitian ini berkontribusi dalam pengumpulan data dasar kehadiran Garangan untuk mengumpulkan informasi lanjut tentang okupansi, distribusi spesies, dan pakannya. Informasi ini merupakan fondasi untuk memahami peran spesies ini dalam ekosistem. Specific PCR Primers Based on Cytochrome-b Gene for Molecular Detection of JavanMongoose (Herpestes javanicus)AbstractJavan Mongoose is a meso-carnivore species that have an important role in ecosystem as a predator. It is believed that its occurrence controls prey populations including some pest species. However, the belief is an anecdote because of lacking supportive data. Difficulty in visually observing the species is a major problem preventing data collection. This study aims to design PCR primer for detecting the Mongoose molecularly from organic material remaining, such as feces. The design starts with selecting specific marker from 51 DNA sequences of cytochrome-b. The DNA sequences were of 19 Javan carnivore collected from GenBank (NCBI). PCR primers were designed and tested using both in-silico and in-vitro techniques. The sequence collection and selection, and primer design process employed MEGA 5 and SP-Designer software. We successfully designed PCR primers: forward 5’- CAAATCACACCCACTCATTAAAATC-3’ dan reverse 5’-TGTGGGTTACTGATGAAAAGG-3’. The primer is capable of detecting Javan Mongoose from remaining organic material. The study contributed to basic data collection of Javan Mongoose for advanced studies such as occupancy modeling, species distribution modeling and diet analysis. This information is fundamental for understanding the role of the Javan Mongoose in an ecosystem

    Kadar Ekstraktif dan Sifat Warna Kayu Jati Plus Perhutani Umur 11 Tahun dari KPH Ngawi

    Get PDF
    Pemanfaatan kayu jati dari pohon umur muda meningkat disebabkan adanya kesenjangan permintaan dengan ketersediaan kayu. Perhutani menanam pohon Jati Plus Perhutani (JPP) dengan karakteristik cepat tumbuh untuk meningkatkan produksi kayu jati. Pembiakan secara vegetatif ini diduga bisa berpengaruh terhadap sifat-sifat kayu. Kadar ekstraktif menjadi penting mengingat hubungannya dengan keawetan alami kayu dan sifat warna kayu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi kadar ekstraktif dan warna pada arah radial dan longitudinal kayu JPP. Sampel kayu diambil dari tiga pohon JPP berumur 11 tahun di KPH Ngawi. Faktor yang diamati terdiri dari arah longitudinal (pangkal, tengah, ujung); dan radial (gubal, teras terluar, teras terdalam). Kayu diekstrak secara berurutan dengan pelarut toluena, etanol, air panas pada alat soklet. Kadar fenolat total diuji dengan metode Folin-Ciocalteu untuk ekstrak toluena. Pengukuran sifat warna menggunakan sistem CIEL*a*b*. Hasil menunjukkan bagian pangkal memiliki kadar ekstrak terlarut etanol tertinggi, tetapi memiliki kadar fenolat total relatif rendah. Nilai kecerahan (L*) lebih tinggi di bagian ujung dibandingkan dengan bagian tengah dan pangkal sedangkan nilai kemerahan (a*) relatif tinggi di bagian pangkal. Secara nyata, ekstrak terlarut toluena, ekstrak terlarut etanol, dan kadar fenolat total di bagian gubal berbeda nyata dengan bagian teras dan terdapat perbedaan antara teras terluar dan teras terdalam pada kadar esktraktif terlarut toluena dan kadar ekstraktif terlarut etanol. Berdasarkan variasi radial, warna lebih gelap di bagian teras terluar dibandingkan bagian lainnya. Kadar ekstraktif terlarut air panas memiliki hubungan yang nyata (r = -0,72) dengan nilai L* di bagian gubal. Pada bagian teras, nilai L* memiliki hubungan negatif dengan kadar ekstrak terlarut etanol (r = -0,70), kadar ekstraktif terlarut air panas (r = -0,52), dan kadar ekstraktif total (r = -0,78). Secara nyata, nilai a* memiliki hubungan negatif (r = -0,58) dengan kadar fenolat total. Relatif rendahnya kadar ekstraktif dibandingkan umur dewasa serta tidak seragamnya sifat warna pada arah longitudinal perlu menjadi perhatian dalam pemanfaatan kayu JPP umur muda. Extractives Content and Colour Properties of 11-year-old Perhutani Superior Teakwood from Ngawi Forest Management UnitAbstractThe utilization of young teak wood had increased due to the gap in demand and the supply of raw materials. To meet the high demand, Perhutani had planted the fast growing of superior teakwood (Jati Plus Perhutani/JPP). This vegetative reproduction may affect the wood properties. Extractive content is important considering its relationship with the natural durability of wood and colour properties. The purpose of this study was to find out the effect of radial and longitudinal directions on extractives content and colour properties from JPP. The JPP wood samples (11 years) were located in Ngawi Forest Management Unit. The observed factors were vertical (bottom, center, top) and radial (sapwood, outer heartwood, inner heartwood) directions. Wood extracts were obtained by successive extraction (toluene, ethanol, and hot water) in a soxhlet. Total phenolic content was also determined by Folin-Ciocalteu method in toluene soluble extract. Colour properties were determined by CIEL*a*b* system. The result showed that vertical direction had significant effect as the bottom part showed the highest value in ethanol extract content but it had lower value in total phenolic content. Brightness (L*) value was comparatively high at the top part, while redness (a*) value was high at the bottom part. The levels of toluene, ethanol, and total extract content had a significant different between sapwood and heartwood as well as between outer heartwood and inner heartwood. Based on radial direction, the colour was darker in outer heartwood compared to the other parts. The correlation degree between the values of hot water extract and L* was significant (r = -0.72) in sapwood part. In heartwood, the correlation between ethanol, hot water, and total extract contentwith L* values were negative (r = -0.70; -0.52; -0.78, respectively). The correlation between a* value and total phenolic content was moderately significant (r = -0.58). The comparatively low content of extractive compared to mature woods as well as inhomogeneity of colour properties in vertical position should be noticed for young JPP wood utilization

    Halaman Belakang

    No full text
    Indeks PenulisIndeks SubjekDaftar Nama Mitra Bestari JIK Vol 14 Tahun 2020Instruction for AuthorsInstruksi Untuk Para PenulisSampul Halaman Belakan

    Dampak Perubahan Pemanfaatan Hutan Lindung di RPH Mangunan terhadap Pendapatan Penyadap Getah Pinus

    Get PDF
    Sejak tahun 2015 Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta mengehentikan kegiatan pemanfaatan hutan dalam bentuk penyadapan getah pinus di kawasan hutan lindung yang secara adminitrasi pengelolaan hutan berada di Resort Pengelolaan Hutan Mangunan Bagian Daerah Hutan Bantul-Kulonprogo. Bentuk pemanfaatan hutan lindung selanjutnya dialihkan menjadi pemanfaatan hutan untuk wisata alam dan jasa lingkungan. Perubahan bentuk pemanfaatan ini mempengaruhi penghidupan ekonomi bagi rumah tangga penyadap getah pinus yang telah memiliki ketergantungan sumber pendapatan terhadap kegiatan pemanfaatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat pendapatan rumah tangga penyadap getah pinus serta kontribusi sumber pendapatan dari sumberdaya hutan terhadap pendapatan total rumah tangga. Penelitian ini menggunakan pendekatan survei dengan melibatkan 56 responden dari 69 penyadap getah pinus yang berdomisili di tiga desa yaitu Desa Munthuk, Desa Mangunan dan Desa Terong. Pengumpulan data melalui wawancara secara mendalam, observasi dan pemanfaatan data sekunder. Data dianalisis secara deskriftif-kuantitatif untuk memberikan penjelasan perubahan atau perbandingan aktivitas, tingkat dan kontribusi sumber pendapatan dari hutan dengan adanya perubahan pemanfaatan hutan. Temuan-temuan dari penelitian ini adalah: (1) Hanya sebagian dari penyadap getah pinus (35 responden) yang dapat beralih aktivitasnya menjadi pekerja hutan wisata, (2)Rata-rata tingkat pendapatan bagi penyadap yang tidak dapat beralih menjadi pekerja atau pengelola wisata sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan berturut-turut sebesar Rp 16.033.062/tahun dan Rp 13.320.967/tahun, (3)Rata-rata tingkat pendapatan bagi penyadap yang dapat beralih menjadi pekerja atau pengelola wisata sebelum dan sesudah adanya perubahan pemanfaatan berturut turut sebesar Rp 12.076.329/tahun dan Rp 29.809.157/tahun, (4) Kegiatan penyadapan berkontribusi sebesar 23% dan pendapatan dari aktivitas di kegiatan wisata hutan pinus berkontribusi sebesar 62% terhadap pendapatan total tahunan.  The Impact of Change in Protected Forest Utilization in RPH Mangunan on Income of Pine Sap TapperAbstractSince 2015 the Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta has stopped the activity of utilizing pine sap tapping in protected forest areas which administratively located at Resort Pengelolaan Hutan Mangunan, Bagian Daerah Hutan Bantul Kulon Progo. Forest Utilization was then shifted into recreational forest. The change in forest utilization affected the livelihood of pine sap tapper households that already have dependence on a source of income based on these utilization activities. This study aims to compare the source diversity and level of household income of pine sap tappers as well as the share of income from forest resources to total income due to the change in forest utilization. This study used a survey involving 56 respondents from 69 pine sap tappers domiciled in three villages namely Munthuk, Mangunan and Terong Village. Data collection through in-depth interviews, observations and use of secondary data. The data were analyzed in a descriptive quantitative approach to provide an explanation of comparisons of activities, levels and contributions of sources of income from the forest due to changes in forest utilization. The important findings of this study are: (1) Only a portion of pine sap tappers (35 respondents) can switch their activities to workers in recrational forest (2) Average level of household income for tappers who cannot shift to workers in recreational forest are Rp 16033,062 /year and Rp. 13,320,967 /year, (3)Meanwhile, for tappers who can switch to workers in recreational forest are Rp. 12,076,329 / year and Rp. 29,809,157/year respectively for before and after changes in forest utilization(4) Income from tapping activitiy contributed 23% and income from activities in pine recreational forest contributed 62% to total annual income

    Pendugaan Simpanan Karbon pada Kawasan Rehabilitasi Pesisir Selatan Pulau Jawa

    Get PDF
    Konservasi karbon merupakan salah satu tindakan penting dalam rehabilitasi pesisir, khususnya pesisir selatan Pulau Jawa dengan keunikan ombak yang besar, salinitas tinggi dan sedimen beragam. Penelitian dilaksanakan untuk menduga simpanan karbon dalam berbagai bagian pada areal pesisir tersebut, yang terdiri dari tapak tergenang (tegakan mangrove 14 tahun jenis Avicennia/AV, Rhizophora/RH dan campuran/MX, lahan sedimen/SD, rumput/GR) dan tapak kering berpasir tegakan Casuarina equisetifolia/CS umur 18 tahun. Tiga sampai sembilan petak ukur dibuat untuk pengamatan dan pengukuran vegetasi, serta pengambilan sampel tanah (kedalaman 0-20, 20-40 dan 40-60 cm), dan pengukuran tegakan. Biomasa pohon diestimasi dengan mengkonvesri diameter batang (DBH) menggunakan persamaan alometrik. Biomasa pohon dirubah menjadi karbon tersimpan menggunakan berat jenis kayu yaitu 0,464 untuk above-ground (AGC), dan 0,39 untuk below-ground (BGC), serta untuk menduga biomasa karbon total (TBC). Karbon organik tanah (COT) dianalisis secara terpisah, dan digabungkan dengan karbon biomasa untuk memperkirakan simpanan karbon dalam ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan variasi yang tinggi dari pertumbuhan dan kerapatan pohon, khususnya pada tegakan mangrove, dengan kemampuan regenerasi yang rendah. Tidak ditemukan perbedaan yang nyata dari simpanan karbon pada biomasa antara tegakan mangrove dengan Casuarina. Rerata TBC pada mangrove adalah 46,08 Mg C/ha, sedikit lebih rendah daripada CS (51,50 Mg C/ha). Di bawah tanah (hingga kedalaman 60 cm), tapak tergenang (AV, RH, MX, SD dan GR) secara nyata menyimpan COT lebih besar daripada tapak kering (CS). Kedalaman tanah secara nyata mempengaruhi COT, namun pada tapak tergenang semakin dalam tanah maka COT semakin besar, sedangkan tren sebaliknya pada tapak kering. Perkiraan total karbon tersimpan adalah 248.52 (±87.21) Mg C/ha, dengan terendah pada CS (94.46 Mg C/ha) dan tertinggi pada MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitasi pesisir berpeluang meningkatkan simpanan karbon ekosistem karena adanya adanya biomasa pohon, dibandingkan tapak terbuka yakni SD dan GR. Pada tapak tergenang/tegakan mangrove sebagian besar simpanan karbon berupa COT, dan lebih sedikit ditemukan pada CS. Perbedaan karakteristik simpanan karbon ini memerlukan penanganan atau konservasi yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan rehabilitasi dan regenerasi buatan yang intensif. Carbon Stock Estimation in the South Coastal Rehabilitation Area of Java IslandAbstractCarbon conservation is one of important actions for coastal rehabilitation, in particular in the south coast of Java Island with its unique characteristics of strong tide, high salinity and diverse substrates. The research aimed to estimate carbon stocks from various carbon pools in the coast rehabilitation area, including wetland sites (14-year-old mangroves of Avicennia/AV, Rhizophora/RH and mix mangrove/MX, mudflat-sediment/SD, grassland/GR) and dry-sandy site of 18-year-old Casuarina equisetifolia/CS. Three to nine plots were established for observing and measuring vegetation, as well as taking soil sample at 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm depths. Tree biomass were estimated by converting treestem diameter using allometric equation. The tree biomass were converted into tree carbon using carbon density of 0.464 for aboveground (AGC), and 0.39 for below-ground (BGC), and to estimate total biomass carbon (TBC). Soil organic carbon (SOC) was analyzed separately, and combined with biomass carbon to estimate total carbon stock in the ecosystems. High variation of tree growth and density were found, especially in mangrove stands, with a low level of natural regeneration. No significant difference of carbon stock in biomass between mangroves and Casuarina was observed. Average TBC in mangroves (46.08 Mg C/ha) was slightly lower than in CS (51.50 Mg C/ha). In below ground (up to 60 cm depth), wetland sites (AV, RH, MX, SD and GR) significantly stored more SOC than dry land (CS). Soil depth significantly affected SOC, but in wetland sites deeper soil contained more carbon than upper, while an opposite trend was observed in CS. Estimated total carbon stock in the coast was 248.52 (±87.21) Mg C/ha, with the lowest in CS (94.46 Mg C/ha) and highest in MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitation activities in the coast possibly improve carbon stock in the ecosystems due to tree biomass, compared to open sites of SD and GR. In the wetland or mangroves, most of carbon was observed as SOC, and less in the dry-land site. The different characteristics of carbon storage in the south coast need different conservation techniques, but both sites need intensive rehabilitation work and artificial regeneration

    Sertifikasi (akan) Terlahir Kembali: Sisi Lain Ekspor Produk Kayu Tanpa V-Legal

    Get PDF
    Kementerian Perdagangan Republik Indonesia baru-baru ini menerbitkan Permendag No.15 Tahun 2020 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan, yang tidak lagi menyebutkan V-Legal sebagai dokumen persyaratan ekspor. Peraturan yang akan diberlakukan pada 25 Mei 2020 tersebut dimaksudkan guna memberikan kepastian berusaha, untuk menggenjot ekspor produk industri kehutanan melalui penyederhanaan perijinan. Permendag No.15 Tahun 2020 telah menuai banyak kritik, semisal: pelemahan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK), pelanggaran perjanjian kemitraan sukarela dengan Uni Eropa, hilangnya jalur hijau ke pasar Uni Eropa, dan potensi penurunan kinerja ekspor. Namun ada sisi lain yang tidak banyak disorot. Jika diterapkan, peraturan tersebut akan memberi angin segar bagi pelaku sertifikasi hutan/ lacak balak, seperti skema sukarela Forest Stewardship Council (FSC) dan Programme for Endorsement of Forest Certification (PEFC). Rival lamaIni menarik. Dari desain pranata dan tata kuasa, sertifikasi (khususnya FSC), sebenarnya adalah rival lama institusi negara. Ya, sistem pranata sertifikasi didesain oleh lembaga non-pemerintah (pegiat lingkungan internasional) untuk “menyingkirkan” negara/pemerintah. “Kalau institusi pemerintah tidak mampu lagi mendorong pengelolaan hutan yang baik, biar kami yang urus”, mungkin demikian muasal genesis sertifikasi. Selain itu, sertifikasi menggunakan mekanisme pasar (lagi-lagi bukan institusi negara) untuk mendorong adopsi sistem pranata yang telah mereka bangun (Maryudi 2015). Itulah mengapa sertifikasi sering disebut sebagai instrumen kebijakan “non-state market driven” (Cashore et al. 2004). Sangat berbeda dengan verifikasi legalitas yang merupakan instrumen kebijakan yang diluncurkan institusi pemerintah, walaupun sama-sama menggunakan mekanisme pasar.Legalitas “bunuh” sertifikasiOptimisme terhadap sertifikasi sempat membuncah sampai akhir dekade 1990an. Namun perkembanganannya ternyata tidak terlalu menggembirakan, salah satunya diduga karena problematika pengelolaan hutan yang sangat kompleks untuk dapat segera diurai (Cashore & Stone 2012). Sampai awal milenium baru, hanya sekitar 10% hutan dunia yang telah tersertifikasi. Inilah yang mendorong dimunculkannya isu legalitas, yang diwacanakan bisa menjadi kunci dan batu loncatan bagi pengelolaan berkelanjutan (Cashore & Stone 2012). Entah sengaja atau tidak, desain pranata verifikasi legalitas ternyata mengarah kembali pada peran institusi negara. Di Indonesia, SVLK merupakan instrumen kebijakan pemerintah. Melalui Permendag No.25/M-DAG/PER/10/2016, pemerintah mewajibkan pemenuhan dokumen sertifikat V-Legal untuk ekspor produk kehutanan. Peraturan ini mengunci rapat pintu ekspor; hanya dengan V-Legal sajalah produk kayu bisa meninggalkan Indonesia. Tak peduli produk kayu tersebut telah mendapatkan sertifikasi lain. Tak peduli jika end users di pasar internasional lebih bereaksi positif terhadap sertifikasi sukarela.Pintu akan dibukaDengan V-Legal produk kayu Indonesia bisa “lenggang kangkung” masuk pasar Uni Eropa. Hal ini dikarenakan V-Legal telah disetarakan dengan Lisensi FLEGT yang merupakan satu-satunya tiket untuk lewat jalur hijau ke sana. Tanpa Lisensi FLEGT (V-Legal untuk produk Indonesia), menurut European Union Timber Regulation (EUTR), produk kayu harus melewati proses uji tuntas (due diligence) terhadap asal-usulnya. Disinilah sertifikasi sukarela (FSC atau PEFC) dapat mengkapitalasi aturan ekspor yang tidak lagi mewajibkan V-Legal. Pintu yang tadinya dikunci rapat, mulai akan terbuka. Apalagi EUTR merekonignisi potensi sertifikasi sukarela sebagai alat uji tuntas. European Comission (2013) menyatakan bahwa perusahaan pelaku perdagangan “may rate credibly certified products as having negligible risk of being illegal, i.e. suitable for placing on the market with no further risk mitigation measures, provided that the rest of the information gathered and the replies to the risk assessment questions do not contradict such a conclusion.” Secara umum, skema sertifikasi sukarela telah mengimplementasikan prosedur uji asal usul yang dipersyaratkan dalam EUTR, yang mencakup: pengumpulan informasi, penilaian resiko, dan mitigasi resiko (Trishkin et al. 2015; Saunders 2014). Sertifikasi sukarela juga berpotensi untuk diakui di beberapa pasar sensitif lainnya. Beberapa negara tujuan ekspor utama produk kayu Indonesia (Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang dan China), juga telah menerapkan berbagai peraturan yang melarang masuknya produk ilegal. Seperti halnya di Uni Eropa, satu inti dari regulasi legalitas kayu mereka adalah skema uji dan penelusuran secara tuntas atas asal usul kayu.Siapa yang beruntung?Di Indonesia, sampai April 2020, FSC telah mengeluarkan 38 sertifikat pengelolaan hutan (sekitar 3 juta hektar, mayoritas hutan alam), dan 317 sertifikat lacak balak industri perkayuan di Indonesia. Sedangkan PEFC memberikan sertifikat pengelolaan ke 70 perusahaan (termasuk 2 perusahaan hutan tanaman terbesar) dan 47 sertifikat lacak balak, mayoritas industri pulp dan kertas (PEFC 2020). Merekalah yang berpotensi mengakapitalisasi Permendag No.15/ 2020, jika diimplementasikan

    148

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Kehutanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇