49971 research outputs found
Sort by
Optimasi Auto Scraper Pada Heat Sealing Machine Untuk Mengoptimalkan Proses Produksi Menggunakan Metode Taguchi Design Of Experiment
Dalam industri perakitan baterai, proses penyatuan cover dan container baterai menggunakan Heat Sealing Machine (HSM) merupakan tahapan penting yang menentukan kualitas produk. Proses ini bergantung pada kebersihan heater plate yang sebelumnya dibersihkan secara manual. Metode manual ini menimbulkan beberapa masalah, seperti proses yang tidak efisien karena adanya delay waktu, hasil pembersihan yang tidak konsisten sehingga menyebabkan produk cacat atau bocor, serta potensi risiko kecelakaan kerja bagi operator. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sebuah sistem auto scraper dirancang dan diintegrasikan langsung dengan HSM. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter operasional optimal dari sistem auto scraper menggunakan Taguchi Design of Experiment (DoE). Optimasi dilakukan berdasarkan skor kinerja gabungan tiga respon utama: baterai good, efisiensi penggunaan cairan silikon, dan kinerja sistem. Dua faktor utama yang dioptimalkan adalah banyak pemrosesan baterai sebelum pembersihan (Faktor A) dan rentang pencelupan kain ke cairan silikon setelah berapa kali pembersihan (Faktor B). Melalui eksperimen dengan Orthogonal Array L_{16}, analisis Signal-to-Noise Ratio, Optimasi Multi-Respon Grey Relational Analysis, dan ANOVA, ditemukan bahwa kombinasi parameter paling optimal yang menjamin tidak ada produk cacat adalah pembersihan heater plate setelah 10 baterai (Level 1) dan pencelupan kain ke cairan silikon setelah 2 kali siklus pembersihan (Level 2). Implementasi sistem auto scraper dengan parameter teroptimasi ini berhasil menghilangkan delay 100% pada proses pembersihan heater plate, meningkatkan kualitas penyatuan baterai dengan asumsi sebelumnya dalam satu shift terdapat reject sebanyak 2 baterai yang kemudian menjadi 0 reject dalam satu shift, serta mengeliminasi 100% tugas manual pembersihan heater plate yang berisiko menyebabkan kecelakaan kerja bagi operator.
===========================================================================================================================================
In the battery assembly industry, the process of uniting the battery cover and container using a Heat Sealing Machine (HSM) is a crucial stage that determines product quality. This process relies on the cleanliness of the heater plate, which is previously cleaned manually. This manual method causes several problems, such as inefficient processes due to time delays, inconsistent cleaning results that cause defective or leaking products, and potential risks of work accidents for operators. To overcome these problems, an auto scraper system was designed and integrated directly with the HSM. This study aims to determine the optimal operational parameters of the auto scraper system using the Taguchi Design of Experiment (DoE). Optimization is carried out based on a combined performance score of three main responses: battery goodness, efficiency of silicone fluid use, and system performance. The two main factors optimized are the number of battery processing before cleaning (Factor A) and the range of cloth immersion in silicone fluid after several cleanings (Factor B). Through experiments with Orthogonal Array L_{16}, Signal-to-Noise Ratio analysis, Multi-Response Optimization Grey Relational Analysis, and ANOVA, it was found that the most optimal combination of parameters that guarantee no defective products is cleaning the heater plate after 10 batteries (Level 1) and dipping the cloth into silicone fluid after 2 cleaning cycles (Level 2). The implementation of the auto scraper system with these optimized parameters successfully eliminated 100% delay in the heater plate cleaning process, improved the quality of battery unification with the previous assumption that in one shift there were 2 reject batteries which then became 0 rejects in one shift, and eliminated 100% of the manual task of cleaning the heater plate which had the risk of causing work accidents for the operator
Analisis Performa Sistem Kendali Autonomous Berbasis Cable Path-Following Pada Hybrid Control Underwater Vehicle Dengan Simulasi 3D
Fasilitas infrastruktur kabel bawah laut di Indonesia belum tertata dengan baik, sehingga rawan akan kerusakan akibat kurangnya kesadaran akan lokasi serta kondisi di sekitar kabel. Selain itu, kabel juga diperlukan pemantauan dan pemeliharaan untuk mencegah kerusakan. Pengembangan Hybrid Controlled Underwater Vehicle (HCUV) yang yang memiliki kemampuan semi-autonomous memberikan manfaat finansial dan operasional yang baik bagi pekerjaan survey dan inspeksi untuk kabel bawah laut. Akan tetapi, dengan kondisi bawah laut yang tidak memiliki sistem Global Positioning System (GPS) berbasis satelit, alternatif sensor kamera sebagai sistem autonomous memiliki potensi, terutama karena mahalnya sesnor berbasis akustik. Oleh karena itu dikembangkan sistem autonomous didasarkan visi komputer dari kamera untuk dapat mendeteksi sehingga menjadi sebuah jalur untuk HCUV. Sistem kendali Sliding Mode Controller dan PID akan digunakan dan dibandingkan untuk mengetahui kesesuaian terhadap sistem autonomous. Agar dapat mengevaluasi performa sistem kendali yang dibuat, digunakan simulasi berbasis lingkungan 3D yang dapat menghasilkan gambar realistis sehingga memungkinkan untuk menguji dan memvalidasi sistem navigasi dan kendali autonomous berbasis visual. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem kendali SMC dapat memberikan gerakan yang lebih halus, serta efisien dibandingkan sistem kendali PID yang cenderung agresif sehingga menjadikan SMC pilihan yang lebih unggul pada skenario survey dan deteksi kabel yang telah dibuat
=======================================================================================================================================
Underwater cable infrastructure facilities in Indonesia are not yet well organized, making them prone to damage due to a lack of awareness of the location and conditions around the cables. In addition, cables also require monitoring and maintenance to prevent damage. The development of a Hybrid Controlled Underwater Vehicle (HCUV) with semi-autonomous capabilities provides good financial and operational benefits for underwater cable survey and inspection work. However, given the absence of a satellite-based Global Positioning System (GPS) in underwater environments, camera-based sensors as an autonomous system have potential, particularly due to the high cost of acoustic-based sensors. Therefore, an autonomous system based on computer vision from cameras has been developed to detect and establish a path for the HCUV. Sliding Mode Controller and PID control systems will be used and compared to assess their suitability for the autonomous system. To evaluate the performance of the developed control system, a 3D environment-based simulation was used to generate realistic images, enabling testing and validation of the visual-based autonomous navigation and control system. Simulation results show that the SMC control system provides smoother and more efficient movement compared to the PID control system, which tends to be aggressive, making SMC the superior choice for the survey and cable detection scenarios developed
Perbandingan Waktu Dan Biaya Di Proyek Pembangunan Jalan Tol Probolinggo Banyuwangi Paket 2 Metode Cast In Situ Dengan Precast Pada Pekerjaan Box Underpass Dan Box Culvert
Metode pelaksanaan pekerjaan struktur bawah seperti box culvert dan box underpass
memiliki peran penting dalam menentukan efisiensi waktu dan biaya pada proyek
infrastruktur jalan tol. Penelitian ini membandingkan dua metode konstruksi, yaitu cast in situ
dan precast, dalam lingkup proyek Jalan Tol Probowangi sepanjang 11,2 + 2 km yang
mencakup 86 titik pekerjaan. Hasil analisis menunjukkan bahwa metode precast mampu
memberikan percepatan waktu yang signifikan, dengan rata-rata durasi 30 hari untuk box
underpass dan 14 hari untuk box culvert, dibandingkan metode cast in situ yang memerlukan
waktu 50 dan 25 hari secara berturut-turut. Secara keseluruhan, metode precast
menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam 400 hari, lebih cepat 111 hari (atau 22%)
dibandingkan cast in situ. Namun, efisiensi waktu ini disertai dengan konsekuensi biaya yang
lebih tinggi, yaitu Rp.998.481.311.415,4 dibandingkan Rp.905.899.425.417.7 untuk cast in
situ. Selain itu, ditemukan bahwa tidak seluruh lokasi dapat dioptimalkan menggunakan
metode precast karena beberapa titik memerlukan adaptasi teknis seperti pemasangan mini
pile, sehingga metode cast in situ lebih sesuai diterapkan pada kondisi tersebut. Oleh karena
itu, pemilihan metode konstruksi harus mempertimbangkan keseimbangan antara efisiensi
waktu, biaya, serta kondisi teknis di lapangan guna mencapai hasil optimal dalam pelaksanaan
proyek.
========================================================================================================================
The selection of construction methods for substructure works such as box culverts and
underpasses significantly influences project efficiency in terms of time and cost. This study
compares two construction methods—cast in situ and precast—within the scope of the 13 km
Probowangi Toll Road project, which includes 86 work points. The analysis results reveal
that the precast method offers a considerable time advantage, requiring an average of 30
days for box underpasses and 14 days for box culverts, compared to 50 and 25 days
respectively for the cast in situ method. In total, the precast approach completes all works in
400 days, which is 111 days (or 22%) faster than the cast in situ method. However, this time
efficiency
comes with higher costs, with precast construction estimated at
Rp.998.481.311.415,4. compared to Rp.905.899.425.417,7. f for cast in situ. Furthermore, not
all locations are suitable for precast implementation due to specific technical requirements
such as mini pile installation, making the cast in situ method more appropriate in certain
conditions. Therefore, selecting the appropriate construction method requires a balanced
consideration of project duration, budget efficiency, and on-site technical constraints to
ensure optimal outcomes
Perancangan Bangunan Kos Rungkut dan Perancangan Masjid 89 Tulangan Sidoarjo
Rancangan bangunan kos mahasiswa di Rungkut, Surabaya, dan Masjid 89 di Tulangan, Sidoarjo. Proyek Kos Rungkut dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan hunian mahasiswa sekaligus mendukung aktivitas usaha dengan menghadirkan kafe di lantai dasar. Desainnya mengusung gaya industrial dengan penekanan pada kesederhanaan material, ekspresi struktur, dan efisiensi biaya konstruksi. Permasalahan tapak seperti kondisi tanah bekas rawa, bangunan sekitar, serta kebutuhan ventilasi silang diatasi melalui strategi penataan ruang, pencahayaan alami, dan penerapan standar bangunan hijau. Masjid 89 dirancang sebagai fasilitas ibadah yang merespons konteks lingkungan dan sosial di sekitarnya, termasuk keberadaan sungai dan kawasan permukiman. Desain masjid mengintegrasikan ruang terbuka, strategi pendinginan pasif, serta bukaan visual melalui penggunaan roster yang memberikan pencahayaan dan sirkulasi alami. Proses perancangan kedua proyek ini menekankan pada respons terhadap konteks tapak, kepatuhan terhadap regulasi, keberlanjutan lingkungan, serta kualitas ruang yang berpusat pada kenyamanan pengguna.
==================================================================================================================================
The design involves a student boarding house in Rungkut, Surabaya, and Masjid 89 in Tulangan, Sidoarjo. The Rungkut boarding house project is intended to accommodate student housing needs while also supporting business activities by incorporating a café on the ground floor. The design adopts an industrial style, emphasizing material simplicity, structural expression, and construction cost efficiency. Site issues such as former swamp soil conditions, surrounding buildings, and the need for cross ventilation are addressed through spatial planning strategies, natural lighting, and the application of green building standards. Masjid 89 is designed as a place of worship that responds to its environmental and social context, including proximity to a river and surrounding residential areas. The mosque’s design integrates open spaces, passive cooling strategies, and visual openings through the use of ventilation blocks (roster) to provide natural lighting and airflow. The design process for both projects emphasizes contextual responsiveness, compliance with regulations, environmental sustainability, and spatial quality focused on user comfort
Optimization of Silver Nano-Structure Growth Using Photo-Chemical Reduction
Studi ini memperkenalkan metode yang berkelanjutan, hemat biaya, dan terukur untuk mensintesis nanostruktur perak pada substrat berlapis emas untuk aplikasi Surface-Enhanced Raman Scattering (SERS). Dua metode fabrikasi berbantuan cahaya digunakan: iradiasi laser femtosecond (fs) pada kaca berlapis emas dan reduksi fotokimia berbasis LED menggunakan sumber LED 395 nm dan 448 nm pada wafer silikon berlapis emas. Perak nitrat dan asam askorbat berfungsi sebagai sumber perak dan agen pereduksi, dengan penambahan natrium sitrat dalam kasus-kasus tertentu untuk menyelidiki pengaruhnya terhadap morfologi.
Teknik laser fs memungkinkan kontrol yang tepat atas pembentukan dendrit, mengungkapkan bahwa peningkatan SERS yang optimal dicapai menggunakan 25 iterasi laser. Penambahan natrium sitrat dalam metode laser fs juga secara signifikan memengaruhi morfologi, mendorong terbentuknya struktur yang sangat bercabang menyerupai jarum. Metode berbasis LED menunjukkan bahwa paparan selama 25 menit pada 395 nm dan 448 nm menghasilkan dendrit yang sangat bercabang dan terdistribusi secara seragam dengan aktivitas SERS yang kuat. Sebaliknya, paparan LED yang lebih lama menghasilkan struktur yang terlalu besar dan efisiensi SERS yang berkurang, sementara penambahan natrium sitrat dalam sintesis berbasis LED menghasilkan struktur seperti lempengan dengan kinerja SERS yang menurun.
Nanostruktur yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan field emission scanning electron microscope (FE-SEM) dan dievaluasi kinerja SERS-nya menggunakan Rhodamine 6G dan laser 633 nm. Hasilnya mengonfirmasi pembentukan nanostruktur berkepadatan tinggi dengan aktivitas SERS yang kuat, menyoroti kemampuan penyesuaian morfologi dan peningkatan SERS melalui kondisi fabrikasi yang terkontrol dan penggunaan aditif dalam metode laser fs maupun berbasis LED.
=====================================================================================================================================
This study introduces a sustainable, cost-effective, and scalable method for synthesizing silver nanostructures on gold-coated substrates for surface-enhanced Raman scattering (SERS) applications. Two light-assisted fabrication methods were employed: femtosecond (fs) laser irradiation on gold-coated glass and LED-based photochemical reduction using 395 nm and 448 nm LED sources on gold-coated silicon wafers. Silver nitrate and ascorbic acid served as the silver source and reducing agent, respectively, with sodium citrate added in select cases to investigate its influence on morphology.
The fs laser technique enabled precise control over dendrite formation, revealing that optimal SERS enhancement was achieved using 25 laser iterations. The addition of sodium citrate in the fs laser method also significantly influenced morphology, promoting highly branched, needle-like structures. LED-based methods demonstrated that 25-minute exposures at both 395 nm and 448 nm yielded highly branched and uniformly distributed dendrites with strong SERS activity. In contrast, longer LED exposures resulted in overgrown structures and reduced SERS efficiency, while the addition of sodium citrate in LED-based synthesis led to plate-like structures with diminished SERS performance.
The resulting nanostructures were characterized using field emission scanning electron microscopy (FE-SEM) and evaluated for their SERS performance using Rhodamine 6G and a 633 nm laser. The results confirmed the formation of high-density nanostructures with strong SERS activity, highlighting the tunability of morphology and SERS enhancement through controlled fabrication conditions and additive use in both fs laser and LED-based methods
Perencanaan Jaringan Distribusi Air Bersih Untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih di P.T.Nusantara Energi Indonesia dan Sekitarnya
Pada Port Site P.T. NEI ditemukan masalah bahwa disana tidak terjangkau oleh jaringan air bersih karena lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk dan sulitnya medan untuk sampai di lokasi.Melihat dari alasan tersebut dilakukan perencanaan jaringan distribusi air bersih, meliputi analisis kebutuhan air, sistem distribusi, dan bangunan pengolah air (WTP). Kebutuhan air yang dilayani didasarkan dari proyeksi penduduk, kebutuhan komersial dan industri dengan hasil kebutuhan air sebesar 71,54 m3/jam.Total sambungan pipa sebanyak 26 sambungan dengan total panjang 25 km dan total node sebanyak 27. Pada perencanaan jaringan pipa menggunakan jenis pipa PE dengan Ø140 mm dan Ø80 mm. Perencanaan ini menggunakan kombinasi 3 pompa hidup dan 1 cadangan pada intake dengan head 25,5 m dan debit sebesar 24 m3/jam .Hasil yang diperoleh adalah kecepatan aliran rata-rata sebesar 0,5 m/s dan rata-rata pressure sebesar 18,68 m. Dari hasil perhitungan reservoir didapat volume sebesar 344,64 m3, maka dari itu di rencanakan reservoir dengan dimensi 8 x 8 x 5 m dilengkapi pengatur level air.Perlu adanya pemeliharaan dan SOP pada jaringan perpipaan yang sudah direncanakan dengan tujuan untuk meminimalisir kebocoran atau kerusakan yang tidak di inginkan.
=====================================================================================================================================
At the Port Site of P.T. NEI, it was found that the site was not accessible by clean water networks due to its remote location from residential areas and the difficult terrain to reach the site. Considering these reasons, a clean water distribution network plan was developed, including an analysis of water needs, distribution systems, and water treatment plants (WTP). The water demand being served is based on population projections, commercial, and industrial needs, resulting in a total water demand of 71.54 m³/hour. The total number of pipeline connections is 26, with a total length of 25 km and a total of 27 nodes. In the pipeline network planning, PE pipes with diameters of Ø140 mm and Ø80 mm were used. This planning uses a combination of 3 operational pumps and 1 standby pump at the intake with a head of 25.5 m and a flow rate of 24 m³/hour. The results obtained are an average flow velocity of 0.5 m/s and an average pressure of 18.68 m. From the reservoir calculation results, the volume obtained is 344.64 m³, therefore a reservoir with dimensions of 8 x 8 x 5 m is planned, equipped with a water level regulator. Maintenance and standard operating procedures (SOPs) are required for the planned piping network to minimize leaks or unwanted damage
Perancangan Rumah Tinggal 'Rumah Manna' Di Surabaya Dan Rumah Tinggal 'Malang House' Di Malang
Desain rumah tinggal mewah saat ini tidak hanya menuntut keindahan visual, tetapi juga kenyamanan termal, efisiensi energi, serta keberlanjutan jangka panjang. Tulisan ini mengulas proses perancangan dua rumah tinggal modern tropis mewah di kawasan urban Indonesia, yang masing-masing memiliki pendekatan desain berbasis konteks tapak, kebutuhan pengguna, serta prinsip arsitektur berkelanjutan. Gaya modern tropis dipilih karena kemampuannya beradaptasi dengan iklim lembap-panas, serta potensi estetikanya yang bersih, elegan, dan tetap menyatu dengan alam.
Fokus perancangan melibatkan penggunaan material seperti beton ekspos, kayu tropis, dan kaca berukuran besar untuk menciptakan hubungan visual dan fungsional antara ruang dalam dan luar. Tata letak massa bangunan dirancang berdasarkan orientasi matahari dan arah angin dominan untuk memaksimalkan pencahayaan alami dan ventilasi silang. Ruang-ruang transisi seperti inner court, teras, dan kolam pantul menjadi elemen penghubung antara fungsi ruang, sekaligus memberi pengalaman ruang yang sejuk dan berlapis.
Kedua rumah dirancang berdasarkan kebutuhan spesifik pengguna—baik dari segi jumlah penghuni, aktivitas, hingga nilai-nilai personal—dengan tetap mempertimbangkan aspek fleksibilitas, privasi, dan keberlanjutan. Proses ini disusun melalui tahapan yang sistematis mulai dari analisis tapak, studi kebutuhan ruang, skematik, pengembangan desain, hingga pengawasan teknis. Desain juga mengikuti 13 Kompetensi Arsitek yang ditetapkan oleh Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), termasuk kompetensi dalam pemahaman peraturan, teknis bangunan, tanggung jawab etik, hingga komunikasi dan manajemen proyek.
Dengan mengintegrasikan pendekatan profesional dan desain berbasis iklim, hasil rancangan tidak hanya menghasilkan rumah tinggal yang nyaman dan estetis, tetapi juga efisien, adaptif terhadap perubahan kebutuhan masa depan, serta selaras dengan prinsip arsitektur tropis yang kontekstual.
==========================================================================================================================================
Luxury residential design today requires not only visual aesthetics, but also thermal comfort, energy efficiency, and long-term sustainability. This paper discusses the design process of two modern tropical luxury houses located in an urban Indonesian setting, both developed with a contextual, user-oriented, and environmentally conscious approach. The modern tropical style was chosen for its compatibility with hot-humid climates, offering clean, elegant aesthetics while maintaining a connection to nature.
The design emphasizes the use of exposed concrete, tropical wood, and large glass panels to create a seamless relationship between indoor and outdoor spaces. Building massing is optimized based on sun orientation and prevailing wind directions, maximizing natural lighting and cross-ventilation. Transitional elements—such as inner courtyards, terraces, and reflecting pools—support spatial hierarchy while enhancing thermal performance and spatial experience.
Each house is designed according to specific user needs—including number of occupants, daily activities, and personal values—while maintaining spatial flexibility, privacy, and sustainability. The process follows systematic stages: site analysis, spatial programming, schematic and detailed design, technical coordination, and construction supervision. The design is developed in line with the 13 Core Competencies set by the Indonesian Institute of Architects (IAI), including understanding of building regulations, technical expertise, ethical responsibility, communication, and project management.
By integrating professional practice standards and climate-responsive design strategies, the resulting architecture provides not only visually elegant homes, but also efficient, adaptable, and sustainable living environments aligned with the principles of tropical contextual architecture
Perancangan Sistem Kendali Dynamic Obstacle Avoidance Pada Kapal Kargo Umum Berbasis ANN-PSO Dengan Memperhatikan Gangguan
Selat Gelasa merupakan selat yang memisahkan Pulau Bangka dengan Pulau Belitung. Selat ini memiliki jalur pelayaran dengan tingkat kepadatan yang tinggi, karena berperan sebagai jalur penghubung antara dua perairan yang padat yaitu Laut Natuna Utara (sebagai jalur pelayaran penting) dengan Laut Jawa. Kepadatan lalu lintas pelayaran di Selat Gelasa meningkatkan resiko terjadinya tabrakan antar kapal di wilayah tersebut. Tabrakan antar kapal juga bisa disebabkan oleh human error dan gangguan lingkungan, yang juga berpotensi memperbesar resiko tabrakan antar kapal. Penelitian tugas akhir ini bertujuan untuk merancang dan menganalisis sistem kendali dynamic obstacle avoidance pada kapal kargo umum Mellinda yang berlayar di Selat Gelasa dengan memperhatikan kriteria yang ditetapkan oleh COLREGs. Sistem kendali dirancang menggunakan metode Artificial Neural network (ANN) yang dioptimasi dengan Particle Swarm Optimization (PSO). Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak MATLAB dan Simulink. Parameter input dari sistem kendali ini berupa TCPA, error kecepatan, error yaw, dan yaw rate. Simulasi sistem dilakukan di beberapa skenario, yaitu ketika kapal berlayar dalam keadaan normal tanpa adanya kapal asing dan gangguan arus laut, ketika terdapat kapal asing yang berpotensi menyebabkan tabrakan tanpa adanya gangguan arus laut, dan dengan adanya gangguan arus laut. Hasil simulasi pertama menunjukkan bahwa dalam keadaan normal, kapal dengan kendali ANN-PSO mampu mengikuti jalur lintasan ideal. Pada simulasi kedua dengan penambahan kapal asing ke dalam simulasi, sistem kendali mampu menghasilkan manuver penghindaran tabrakan ketika kapal berada dalam kondisi beresiko tabrakan dengan kapal asing. Hasil pada simulasi ketiga dengan penambahan gangguan arus laut menunjukkan bahwa kapal dengan kendali ANN-PSO masih bisa melakukan penghindaran tabrakan dengan kapal asing meskipun telah ditambahkan gangguan arus laut.
=======================================================================================================================================
The Gelasa Strait separates Bangka Island from Belitung Island. This strait has a shipping lane with a high level of density, as it serves as a connecting route between two densely trafficked waters: the North Natuna Sea (an important shipping route) and the Java Sea. The high density of shipping traffic in the Gelasa Strait increases the risk of collisions between ships in the area. Collisions between ships can also be caused by human error and environmental disturbances, which also have the potential to increase the risk of collisions between ships. This final project aims to design and analyze a dynamic obstacle avoidance control system on the Mellinda general cargo ship sailing in the Gelasa Strait, taking into account the criteria set by COLREGs. The control system is designed using the Artificial Neural Networks (ANN) method, which is optimized with Particle Swarm Optimization (PSO). The simulation is performed using MATLAB and Simulink software. The input parameters of this control system are TCPA, speed error, yaw error, and yaw rate. The system simulation was conducted in several scenarios: when the ship was sailing under normal conditions without foreign ships and ocean current disturbances, when there were foreign ships that could potentially cause collisions without ocean current disturbances, and with ocean current disturances. The first simulation results show that under normal conditions, ships with ANN-PSO control are able to follow the ideal trajectory. In the seconnd simulation, with the addition of foreign ships to the simulation, the control system was able to generate collision avoidance maneuvers when the ship wa at risk of colliding with foreign ships. The results of the third simulation, with the addition of ocean current diaturbances, show that ships with ANN-PSO control are still able to avoid collisions with foreign ships even when the ocean current disturbances are added
Perancangan Motion Graphic Sejarah Apple Untuk Platform Youtube
Perkembangan teknologi digital, khususnya melalui platform YouTube, telah menciptakan peluang ekonomi baru bagi para kreator konten. Meskipun demikian, belum ada kanal di Indonesia yang secara spesifik membahas sejarah perusahaan teknologi menggunakan pendekatan motion graphic. Padahal, topik ini memiliki relevansi yang tak lekang oleh waktu (evergreen).
Untuk mengisi kekosongan ini, penulis merancang sebuah channel YouTube dengan konten yang berfokus pada sejarah perusahaan teknologi berbasis motion graphic. Konten pertama yang dirancang mengisahkan sejarah Apple, sebuah perusahaan yang memiliki inovasi disruptif dan daya tarik emosional kuat, terutama bagi audiens Gen Z berusia 18–23 tahun. Metode yang digunakan pada perancangan ini adalah studi literatur, studi eksisting, depth interview, dan user testing.
Perancangan konten video ini menggunakan gabungan elemen grafis 2D dan 3D serta audio pendukung untuk menciptakan pengalaman menonton yang informatif dan menarik selama 6 menit. Diharapkan, perancangan ini dapat menjadi kontribusi dalam bidang desain komunikasi visual dan membuka peluang ekonomi digital baru
=========================================================================================================================================
The development of digital technology, particularly through the YouTube platform, has created new economic opportunities for content creators. However, there is a gap in Indonesia for a channel that specifically discusses the history of technology companies using a motion graphic approach. This topic is considered evergreen and timeless.
To address this gap, the author designed a YouTube channel focused on the history of technology companies through motion graphics. The first content piece created tells the history of Apple, a company known for its disruptive innovation and strong emotional appeal, especially to a Gen Z audience aged 18–23. The methods used for this design include literature studies, existing studies, depth interviews, and user testing.
The video content combines 2D and 3D graphic elements with supporting audio to create an informative and engaging 6-minute viewing experience. It is hoped that this design will contribute to the field of visual communication design and open up new digital economic opportunities
Conversion Of 12 Tonnes Bollard Pull Tugboat Propulsion System From Mechanical To Diesel Electric: Technical And Performance Analysis
Studi ini mengevaluasi kelayakan teknis dan manfaat kinerja dari konversi sistem ropulsi kapal tunda MV Charis 05 dengan bollard pull 12 ton dari konfigurasi diesel-mekanik konvensional menjadi sistem diesel-elektrik. Melalui simulasi komputasi yang mencakup penggunaan MAXSURF untuk analisis hambatan hidrodinamik dan MATLAB/Simulink untuk pencocokan motor-propeller, rancangan retrofit dikembangkan menggunakan dua motor listrik WEG 450 kW, empat generator diesel 400 kW, Variable Frequency Drive (VFD), dan gearbox HCD 800. Sistem yang diusulkan ini mempertahankan kemampuan operasional asli kapal, dengan menghasilkan bollard pull yang setara (12,3 ton) dan kecepatan jelajah 10 knot, serta mampu mengurangi konsumsi bahan bakar tahunan sebesar 44% (dari 783.480 liter menjadi 437.210 liter). Peningkatan efisiensi ini dicapai melalui optimalisasi faktor beban generator pada berbagai kondisi operasi: 86% saat pelayaran, 78,2% saat manuver, dan 63,3% saat operasi towing. Konfigurasi diesel-elektrik ini juga memberikan fleksibilitas operasional yang lebih tinggi melalui manajemen daya yang cerdas, memungkinkan pengoperasian satu generator saja pada kondisi beban rendah. Dari sisi lingkungan, sistem ini memberikan pengurangan signifikan pada emisi CO₂, NOₓ, dan SO₂, mendukung kepatuhan terhadap target keberlanjutan IMO. Konversi ini tidak memerlukan modifikasi struktural yang besar, sehingga menunjukkan bahwa sistem propulsi diesel-elektrik tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga lebih ramah lingkungan untuk operasi kapal tunda pesisir. Penelitian selanjutnya disarankan untuk fokus pada analisis kelayakan ekonomi serta uji implementasi praktis guna memvalidasi temuan berbasis simulasi ini.
=========================================================================================================================================
This study evaluates the technical feasibility and performance benefits of converting the propulsion system of the 12-tonne bollard pull tugboat MV Charis 05 from conventional diesel-mechanical to diesel-electric configuration. Through computational simulations including MAXSURF for hydrodynamic resistance analysis and MATLAB/Simulink for motor-propeller matching, a retrofit design was developed using two 450 kW WEG electric motors, four 400 kW diesel generators, variable frequency drives (VFDs), and HCD 800 gearboxes. The proposed system maintains the vessel's original operational capabilities, delivering equivalent bollard pull (12.3 tonnes) and service speed (10 knots) while achieving a 44% reduction in annual fuel consumption (from 783,480 liters to 437,210 liters). This improvement results from optimized generator load factors across operational profiles: 86% during sailing, 78.2% during maneuvering, and 63.3% during towing operations. The diesel-electric configuration offers enhanced operational flexibility through intelligent power management, allowing single-generator operation during low-load conditions. Environmental benefits include significant reductions in CO₂, NOₓ, and SO₂ emissions, supporting compliance with IMO sustainability targets. The conversion requires minimal structural modifications, demonstrating diesel-electric propulsion as both technically viable and environmentally advantageous for coastal tugboat operations. Future research should focus on economic feasibility analysis and practical implementation trials to validate these simulation-based findings