Sepuluh Nopember Institute of Technology

ITS Repository
Not a member yet
    49971 research outputs found

    How Effectiveness Resource Allocation on Lion Airline Flights Scheduling to Customer Satisfaction?

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan efektivitas alokasi sumber daya Lion Air terhadap kepuasan pelanggan. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah seberapa efektif solusi alokasi Lion Air mempengaruhi kepuasan pelanggan, dilanjutkan dengan menganalisis apa dampak perubahan yang dilakukan Lion Air terhadap jadwal penerbangan baru dan manajemen pesawatnya. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif sebagai metodenya, yaitu dengan mengumpulkan data dengan alat bantu kuesioner dan kemudian menganalisis hasilnya untuk menjawab pertanyaan penelitian. Lion Air terkenal dengan penundaan dan pembatalan penerbangannya dan salah satu metode mereka untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengalokasikan sumber daya mereka dengan cara yang paling efektif. Temuan dari penelitian ini adalah seberapa tinggi tingkat efektivitas strategi baru Lion Air berdasarkan tinjauan kepuasan pelanggan. Dilanjutkan dengan apa saja dampak perubahan dari sudut pandang pelanggan yang digambarkan melalui jawaban yang direspon. Hasil penelitian ini semoga bermanfaat bagi Lion Air dan masyarakat, yaitu untuk mengetahui seberapa efektif penggunaan alokasi sumber daya dalam kaitannya dengan pengalaman pelanggan dan apa dampak dari perubahan yang dilakukan. =============================================================================================================================== This research aims to evaluate the efficacy of Lion Air's resource allocation in terms of customer satisfaction. This research will also examine the effectiveness of Lion Air's allocation solution on customer happiness, as well as the impacts of the modifications implemented by Lion Air due to their new flight schedules and aircraft management. Quantitative method will be used for this study by collecting questionnaires for data collection, analyzing the results, and addressing the research topics. Lion Air is recognized for its delays and flight cancellations, and one of its strategies to address this issue is optimizing resource allocation. This research examines the effectiveness rate of Lion Air's new strategy based on customer satisfaction reviews. The impact of the adjustments from the customer's perspective is elucidated through the responses provided. The findings from this research may benefit Lion Air and the public by showing the effectiveness of resource allocation concerning customer experiences and the implications of the resultant modifications

    Perbandingan Hierarchical Risk Parity dan Hierarchical Equal Risk Contribution dalam Optimasi Portofolio pada Indeks Saham SRI-KEHATI

    No full text
    Socially Responsible Investment (SRI) menjadi salah satu strategi pilihan bagi investor dengan memiliki perusahaan yang memberikan dampak positif terhadap Environmental, Social, dan Governance (ESG). Di sisi lain, investor juga perlu menentukan alokasi bobot yang diinvestasikan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut untuk mendapatkan portofolio yang optimal. Modern Portfolio Theory yang dikenalkan oleh Markowitz menjadi pelopor berkembangnya metode optimasi portofolio lain yang menggunakan konsep quadratic programming, namun metode ini dinilai kurang efektif karena sensitivitasnya terhadap nilai return aset yang sulit diprediksi secara akurat. Sebagai alternatif, struktur hierarki berbasis korelasi antar aset dapat digunakan untuk mengalokasikan bobot secara lebih stabil. Hierarchical Risk Parity (HRP) dan Hierarchical Equal Risk Contribution (HERC) merupakan metode optimasi portofolio yang menggunakan struktur hierarki dan hanya berfokus pada tingkat risiko dalam pengalokasian bobotnya. Secara lebih lanjut, HRP hanya menggunakan urutan aset yang terbentuk, sedangkan HERC menggunakan struktur hierarki secara keseluruhan dalam mengalokasikan bobot. Tugas akhir ini melakukan penelitian mengenai perbandingan portofolio optimal yang dihasilkan oleh HRP dan HERC pada data saham yang konsisten terdaftar di indeks SRI-KEHATI. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa portofolio HERC dengan ward linkage memiliki performa yang lebih unggul, di mana portofolio ini menghasilkan ekspektasi return sebesar 0.0167%, varians sebesar 0.000055, dan sharpe ratio sebesar 0.022502. Hasil evaluasi tersebut menunjukkan bahwa portofolio HERC ward linkage mampu memberikan return harian rata-rata yang baik dan konsisten pada level risiko yang didapat. ============================================================================================================================== Socially Responsible Investment (SRI) has become a preferred strategy for investors by focusing on companies that deliver positive impacts on Environmental, Social, and Governance (ESG) aspects. On the other hand, investors also need to determine the allocation of weights to be invested in these companies to achieve an optimal portfolio. Modern Portfolio Theory, introduced by Markowitz, pioneered the development of other portfolio optimization methods that employ quadratic programming concepts. However, these methods are considered less effective due to their sensitivity to asset returns, which are challenging to predict accurately. As an alternative, hierarchical structures based on asset correlations can be utilized to achieve more stable weight allocations. Hierarchical Risk Parity (HRP) and Hierarchical Equal Risk Contribution (HERC) are portfolio optimization methods that use hierarchical structures and focus solely on risk levels in weight allocation. Specifically, HRP only utilizes the order of assets formed, whereas HERC uses the entire hierarchical structure in allocating weights. This final project conducts a comparative study of optimal portfolios generated by HRP and HERC using stock data consistently listed on the SRI-KEHATI index. The results indicate that the HERC portfolio with Ward linkage demonstrates superior performance, achieving an expected return of 0.00167%, a variance of 0.000055, and a Sharpe ratio of 0.022502. The evaluation results indicate that the HERC portfolio with ward linkage can provide a good and consistent average daily return at a measured level of risk

    Pengembangan Desain Furnitur Multifungsi Dengan Sistem Interchangeable Untuk Hunian Apartemen Tipe Studio Di Surabaya

    No full text
    Surabaya, sebagai kota metropolitan strategis dan pusat pendidikan, mengalami peningkatan populasi yang signifikan, termasuk mahasiswa, sehingga mendorong tingginya permintaan hunian sementara, khususnya apartemen tipe studio. Namun, hunian ini menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan ruang, furnitur yang tidak efisien, dan desain interior yang lebih berfokus pada estetika tanpa mempertimbangkan kebutuhan spesifik mahasiswa. Permasalahan lain mencakup kurangnya fleksibilitas furnitur untuk mengakomodasi barang dengan berbagai ukuran, serta kesulitan dalam melakukan perbaikan parsial pada furnitur yang rusak, yang menyebabkan tingginya biaya penggantian. Penelitian ini bertujuan untuk merancang furnitur multifungsi yang fleksibel, hemat tempat, ekonomis, dan berkelanjutan, guna mendukung aktivitas mahasiswa di apartemen tipe studio. Metode yang digunakan melibatkan analisis kebutuhan pengguna, optimalisasi penggunaan ruang, serta pengembangan desain dengan sistem interchangeable, memungkinkan komponen furnitur diganti, disesuaikan, atau dipindahkan sesuai kebutuhan tanpa mengganti keseluruhan produk. Hasil penelitian menghasilkan konsep furnitur berupa meja multifungsi dengan panel yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, seperti stand laptop, monitor, stand tablet, penyimpanan kecil, dan komponen tambahan yang mendukung berbagai aktivitas mahasiswa. Desain ini mengoptimalkan penggunaan ruang vertikal, meningkatkan efisiensi fungsional, serta memungkinkan perbaikan parsial untuk mengurangi biaya. Dengan fleksibilitas tinggi, desain hemat tempat, dan pendekatan yang ramah lingkungan, furnitur ini memberikan solusi inovatif bagi penghuni apartemen studio yang memiliki ruang terbatas. ================================================================================================================================== Surabaya, as a strategic metropolitan city and education center, has experienced a significant increase in population, including students, thus encouraging high demand for temporary housing, especially studio type apartments. However, this residence faces various challenges, such as limited space, inefficient Furnitur, and interior design that focuses more on aesthetics without considering the specific needs of students. Other problems include a lack of Furnitur flexibility to accommodate items of various sizes, as well as difficulty in carrying out partial repairs to damaged Furnitur, leading to high replacement costs. This research aims to design multifunctional Furnitur that is flexible, space-saving, economical and sustainable, to support student activities in studio-type apartments. The method used involves analyzing user needs, optimizing space use, and developing a design with an interchangeable system, allowing Furnitur components to be replaced, adjusted, or moved as needed without replacing the entire product. The research results produced a Furnitur concept in the form of a multifunctional table with panels that can be used for various purposes, such as laptop stands, monitors, tablet stands, small storage, and additional components that support various student activities. This design optimizes the use of vertical space, increases functional efficiency, and allows partial repairs to reduce costs. With its high flexibility, space-saving design and environmentally friendly approach, this Furnitur provides an innovative solution for studio apartment residents who have limited space

    Analisis Komprehensif Proses Produksi Biodiesel Terintegrasi Dengan Daur Ulang Gliserol Menjadi Metanol: Desain Proses, Integrasi Panas, Dan Evaluasi Ekonomi

    No full text
    Meningkatnya kebutuhan energi dan berkurangnya ketersediaan minyak bumi mengakibatkan perlunya energi terbarukan. Biodiesel merupakan sumber energi terbarukan yang berasal dari biomassa, seperti minyak kelapa sawit, yang bereaksi dengan metanol. Akan tetapi, metanol komersial umumnya berasal dari bahan bakar fosil yang ketersediaannya semakin menurun. Oleh karena itu, diperlukan suatu rancangan proses terintegrasi untuk daur ulang gliserol kasar dalam produksi biodiesel. Saat ini, permasalahan utama dalam proses terintegrasi daur ulang gliserol kasar dalam produksi biodiesel adalah tingginya biaya produksi. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan energi termasuk integrasi panas dan evaluasi ekonomi dari proses produksi biodiesel terintegrasi dengan daur ulang gliserol kasar melalui lima skema proses. Proses produksi biodiesel konvensional juga dilakukan. Hasil yang diperoleh adalah bahwa proses produksi biodiesel terintegrasi dengan daur ulang gliserol kasar mampu menekan kebutuhan pembelian metanol hingga 100%. Proses produksi biodiesel terintegrasi dengan daur ulang gliserol kasar dengan integrasi panas menekan selisih dengan proses biodiesel konvensional lebih dari 55%. Dengan penambahan 85% lebih banyak kebutuhan energi dari proses biodiesel konvensional, pembelian metanol tidak lagi diperlukan untuk proses produksi biodiesel terintegrasi dengan daur ulang gliserol mentah. Skema proses produksi biodiesel konvensional memiliki annual cost yang paling rendah yaitu 61260723.Akantetapiskemainimasihmemilikiketergantunganyangtinggiterhadaphargamethanolkomersial.Skema3memilikiannualcostyangpalingtinggiyaitusebesar61260723. Akan tetapi skema ini masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap harga methanol komersial. Skema 3 memiliki annual cost yang paling tinggi yaitu sebesar 66349330. Harga metanol memiliki dampak besar pada ekonomi daur ulang gliserol menjadi metanol dalam proses produksi biodiesel. Jika harga metanol mencapai 1400 USD/ton, maka NPV dari skema proses produksi biodiesel terintegrasi dengan daur ulang gliserol mentah lebih baik daripada proses biodiesel konvensional yaitu 138216094.31dan138216094.31 dan 137278436.2. =================================================================================================================================== The increasing energy needs and decreasing availability of petroleum have resulted in the need for renewable energy. Biodiesel is a renewable energy source derived from biomass, such as palm oil, that reacts with methanol. However, commercial methanol generally comes from fossil fuels whose availability is decreasing. Therefore, an integrated process design for recycling crude glycerol in biodiesel production is needed. Currently, the main problem in the integrated process of recycling crude glycerol in biodiesel production is the high production cost. Thus, this study aims to determine the energy requirements including heat integration and economic evaluation of the integrated biodiesel production process with crude glycerol recycling through five process schemes. Conventional biodiesel production process also performed. The results obtained are that integrated biodiesel production process with crude glycerol recycling are able to reduce the requirement for methanol purchases up to 100%. The integrated biodiesel production process with crude glycerol recycling with heat integration reduce the gap with conventional biodiesel process more than 55%. By adding 85% more of energy requirements from conventional biodiesel process, methanol purchases are no longer needed for integrated biodiesel production process with crude glycerol recycling. The conventional biodiesel production process scheme has the lowest annual cost at 61260723.However,thisschemestillhasahighdependenceonthepriceofcommercialmethanol.Scheme3hasthehighestannualcost,61260723. However, this scheme still has a high dependence on the price of commercial methanol. Scheme 3 has the highest annual cost, 66349330. The price of methanol has a major impact on the economics of recycling glycerol to methanol in the biodiesel production process. If the price of methanol reaches 1400 USD/ton, then the NPV of the integrated biodiesel production process scheme with raw glycerol recycling is better than the conventional biodiesel process, namely 138216094.31and138216094.31 and 137278436.2

    Penyelesaian Multi-Area Economic Dispatch Menggunakan Metode Modified Firefly Algorithm dengan Mempertimbangkan Energi Terbarukan

    No full text
    Perkembangan zaman yang semakin maju dan tuntutan lingkungan yang mendorong peralihan penggunaan bahan bakar fosil ke energi terbarukan menyebabkan perlunya pengembangan teknik optimasi untuk manajemen pembangkit listrik yang efektif. Economic Dispatch (ED) merupakan salah satu upaya optimasi sistem tenaga listrik untuk menentukan kombinasi pengoperasian pembangkit yang optimal dan ekonomis. Multi-area economic dispatch (MAED) merupakan perkembangan dari ED yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan beban yang belum terpenuhi pada suatu wilayah dengan menggunakan kapasitas daya listrik lebih di wilayah yang kebutuhan bebannya sudah terpenuhi. Pada tugas akhir ini dilakukan penyelesaian MAED pada sistem IEEE 30-Bus yang dimodifikasi menjadi 2 wilayah pembangkitan dan mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga angin dan tenaga surya. Penyelesaian MAED dilakukan dengan mempertimbangkan batasan-batasan yang ditetapkan seperti batasan tie line, spinning reserve, dan lain-lain. Metode Modified Firefly Algorithm (MFA) digunakan untuk menyelesaikan permasalahan ini. Metode MFA merupakan modifikasi dari Firefly Algorithm yang ditambahkan dengan levy flight dan mutasi. Tujuan tugas akhir ini adalah untuk mendapatkan analisis penyelesaian MAED menggunakan MFA. Hasil simulasi dari metode MFA menunjukkan bahwa metode ini tervalidasi mampu mendapatkan hasil perhitungan ED yang lebih optimal dibandingkan dengan metode Flower Pollination Algorithm dan Particle Swarm Optimization. Penambahan integrasi energi terbarukan menyebabkan penurunan biaya pembangkitan dari 5451.83 /hhingga5776.75/h hingga 5776.75 /h menjadi 4223.2 /h.DarihasilsimulasidiketahuibahwametodeMFAdapatmenyelesaikanMAEDdenganoptimal.==================================================================================================================================Thedevelopmentofincreasinglyadvancedtimesandenvironmentaldemandsthatencouragetheshiftintheuseoffossilfuelstorenewableenergyleadtotheneedforthedevelopmentofoptimizationtechniquesforeffectivepowerplantmanagement.EconomicDispatch(ED)isoneofthepowersystemoptimizationeffortstodeterminetheoptimalandeconomicalcombinationofpowerplantoperations.Multiareaeconomicdispatch(MAED)isadevelopmentofEDthatiscarriedouttomeetunmetloadneedsinanareabyusingmoreelectricpowercapacityinareaswhereloadneedshavebeenmet.Inthisfinalproject,MAEDissolvedonanIEEE30Bussystemmodifiedinto2generationareasandintegratingwindandsolarpowerplants.TheMAEDsolutioniscarriedoutbyconsideringtherestrictionssetsuchastielinerestrictions,spinningreserves,andothers.TheModifiedFireflyAlgorithm(MFA)methodisusedtosolvethisproblem.TheMFAmethodisamodificationoftheFireflyAlgorithmwhichisaddedwithlevyflightandmutation.ThepurposeofthisfinalprojectistoanalyzethesolutionofMAEDusingMFA.ThesimulationresultsoftheMFAmethodshowthatthismethodisvalidatedtobeabletogetmoreoptimalEDcalculationresultscomparedtotheFlowerPollinationAlgorithmandParticleSwarmOptimizationmethods.Theadditionofrenewableenergyintegrationcausesadecreaseingenerationcostsfrom5451.83/h. Dari hasil simulasi diketahui bahwa metode MFA dapat menyelesaikan MAED dengan optimal. ================================================================================================================================== The development of increasingly advanced times and environmental demands that encourage the shift in the use of fossil fuels to renewable energy lead to the need for the development of optimization techniques for effective power plant management. Economic Dispatch (ED) is one of the power system optimization efforts to determine the optimal and economical combination of power plant operations. Multi-area economic dispatch (MAED) is a development of ED that is carried out to meet unmet load needs in an area by using more electric power capacity in areas where load needs have been met. In this final project, MAED is solved on an IEEE 30-Bus system modified into 2 generation areas and integrating wind and solar power plants. The MAED solution is carried out by considering the restrictions set such as tie line restrictions, spinning reserves, and others. The Modified Firefly Algorithm (MFA) method is used to solve this problem. The MFA method is a modification of the Firefly Algorithm which is added with levy flight and mutation. The purpose of this final project is to analyze the solution of MAED using MFA. The simulation results of the MFA method show that this method is validated to be able to get more optimal ED calculation results compared to the Flower Pollination Algorithm and Particle Swarm Optimization methods. The addition of renewable energy integration causes a decrease in generation costs from 5451.83 /h to 5776.75 /hto4223.2/h to 4223.2 /h. From the simulation results, it is known that the MFA method can solve MAED optimally

    Studi Kinerja Terkait Olah Gerak dan Operabilitas Struktur Apung Pembangkit Listrik Bertenaga Panas Matahari dengan Konsep Single-Array Configuration: Studi Kasus di Perairan Pulau Gili Ketapang

    No full text
    Perkembangan teknologi sistem fotovoltaik terapung (Floating merupakan kemajuan signifikan dalam sektor energi terbarukan, khususnya sebagai solusi terhadap tantangan pembebasan lahan. Pergeseran perspektif instalasi berbasis dekat pantai (yang kemudian dapat dipindahkan ke lepas pantai) memberikan area alternatif teknis yang lebih fleksible dan membuka potensi ruang laut yang luas, meskipun harus menghadapi tantangan berupa lingkungan keras yang disebabkan oleh gelombang. Penelitian ini berfokus pada desain inovatif, kinerja seakeeping (olah gerak), dan operabilitas dari berbagai konfigurasi lambung kapal multihull—catamaran, trimaran, quadrimaran, dan pentamaran—yang berfungsi sebagai platform terapung untuk panel surya di lokasi geografis tertentu, seperti wilayah Pulau Gili Ketapang sebagai perwakilan dari pulau terpencil di Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan Boundary Element Method (BEM), serangkaian simulasi dilakukan untuk mendapatkan Response Amplitude Operators (RAOs) dari FPV di bawah kondisi spektrum gelombang irregular dalam keadaan initial free-floating state. Untuk menyesuaikan dengan fenomena gelombang irregular, superposisi energi spektrum gelombang dan gaya RAOs gerakan digunakan untuk memperoleh spektrum respons energi struktural. Parameter stokastik kemudian diturunkan dan dikorelasikan pada frekuensigelombang tertentu. Dengan mengintegrasikan data distribusi ketinggiangelombang lokal dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts(ECMWF), hasil dari amplitudo respons gerakan signifikan, ζrs dalam mode heave, roll, dan pitch dievaluasi. Hasil studi menujukkan bahwa penambahan lambungkapal menyebabkan penurunan amplitudo respons signifikan, ζrs di ketiga modegerakan tersebut. Secara keseluruhan, studi ini menyajikan wawasan berharga tentang desain struktur apung dalam evaluasi hidrodinamik FPV serta berkontribusipada upaya global dalam transisi menuju net-zero emissions dan menawarkanalternatif yang menjanjikan untuk mengatasi tantangan akses energi di wilayah terpencil. ================================================================================================================================= The development of floating photovoltaic (FPV) systems represents a significant advancement in renewable energy technology, particularly as a solution to land acquisition challenges. Shifting to near-shore-based installations (later can be moved offshore) provides a flexible technical alternative area and unlocks vast ocean space potential, though facing the harsh environments caused by waves. This research focuses on the innovative design, seakeeping performance and operability of various multihull configurations—catamaran, trimaran, quadrimaran, and pentamaran—serving as floating platforms for solar panels in specific geographic locations, such as the Gili Ketapang region in Indonesia as a representative of a remote island. Using a Boundary Element Method (BEM) model, a series of simulations were conducted to obtain the Response Amplitude Operators (RAOs) of FPV under irregular wave spectrum conditions in the initial free-floating state. To keep up with irregular wave phenomena, the superposition of wave spectral energy and motion RAOs forces are to obtain spectral structural responses.Stochastic parameters are then generated and correlated with a specific wave frequency. By integrating localized wave height distribution data from the European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) then the result of significant response amplitude motion in heave, roll and pitch modes is evaluated. It is found that the addition of hulls causes a decrease in the significant amplitude response in all three modes of motion. In summary, this work presents valuable insights into the floater designs and hydrodynamic evaluation of FPV and contributes to the broader effort in the global transition toward net-zero emissions and offers a promising alternative for addressing energy access challenges in isolated region

    Dimensi Metrik Ketetanggaan Lokal Aman Graf

    No full text
    Diberikan graf terhubung G dengan himpunan simpul V (G), himpunan sisi E(G) dan u,v∈V(G). Jarak ketetanggaan antara simpul u dan v, dA(u, v). Representasi ketetanggaan simpul v terhadap himpunan simpul terurut W = {w1,w2, ...,wk} ⊆ V (G), rA(v|W) adalah k-tuple (dA(v,w1), dA(v,w2), . . . , dA(v,wk)). Himpunan W disebut himpunan pembeda ketetanggaan dari G jika rA(u|W) ≠ rA(v|W). Himpunan W disebut himpunan pembeda ketetanggaan lokal dari G jika W adalah himpunan pembeda ketetanggaan dan u bertetangga dengan v. Himpunan pembeda ketetanggaan lokal dengan banyak elemen minimum disebut basis ketetanggaan lokal dari G, dan kardinalitas dari basis ketetanggaan lokal dari G disebut dimensi metrik ketetanggaan lokal dari G, dinotasikan dengan dimAl(G). Himpunan pembeda ketetanggaan lokal dari G dikatakan aman jika untuk setiap v∈(V(G)-W), terdapat w∈W sehingga (W-{w})υ{v} merupakan himpunan pembeda ketetanggaan lokal dari G. Himpunan pembeda ketetanggaan lokal aman dari G dengan banyak elemen minimum disebut basis ketetanggaan lokal aman dari G, dan kardinalitas dari basis ketetanggaan lokal aman dari G disebut dimensi metrik ketetanggaan lokal aman dari G, dinotasikan dengan sdimAl(G). Dalam Tugas Akhir ini ditentukan dan dianalisis dimensi metrik ketetanggaan lokal dan dimensi metrik ketetanggaan lokal aman dari graf G∈{Pn,Cn,Kn,Sn,Kmn,Wn,Fn,Cn⊙ K1}. Selain itu, diperoleh hubungan bahwa dimAl(G) ≤ sdimAl(G). ================================================================================================================================== Given a connected graph G with vertex set V (G), edge set E(G) and u,v∈V(G). The adjacency distance between vertices u and v, dA(u, v). The adjacency representation of vertex v with respect to the ordered vertex set W = {w1,w2, ...,wk} ⊆ V (G), rA(v|W) is a k-tuple (dA(v,w1), dA(v,w2), . . . , dA(v,wk)). A set W is called an adjacency resolving set of G if rA(u|W) ≠ rA(v|W). A set W is called a local adjacency resolving set of G if W is an adjacency resolving set and u is adjacent to v. The set of local adjacency resolving with minimum number of elements is called the local adjacency basis of G, and the cardinality of the local adjacency basis of G is called the local adjacency metric dimension of G, denoted by dimAl(G). The set of local adjacency resolving of G is said to be secure if for every v∈(V(G)-W), there exists a w∈W such that (W-{w})υ{v} is the set of local adjacency resolving of G. The set of secure local adjacency resolving of G with minimum number of elements is called the secure local adjacency basis of G, and the cardinality of the secure local adjacency basis of G is called the secure local adjacency metric dimension of G, denoted by sdimAl(G). In this Final Project, the local adjacency metric dimension and the secure local adjacency metric dimension of the graph G∈{Pn,Cn,Kn,Sn,Kmn,Wn,Fn,Cn⊙ K1} are determined and analyzed. In addition, the relationship is obtained that dimAl(G) ≤ sdimAl(G)

    Pengembangan Petajalan Manufaktur Cerdas Untuk Mendukung Transformasi Perusahaan Manufaktur Di Indonesia Berdasarkan Kriteria Indi 4.0+

    No full text
    Perkembangan teknologi telah mendorong perusahaan manufaktur untuk mengadopsi model produksi cerdas, yang dikenal sebagai Smart Manufacturing. Namun, kurangnya panduan terstruktur sering menjadi hambatan dalam proses transformasi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun framework roadmap implementasi Smart Manufacturing pada tiga perusahaan terkemuka, yaitu PT MKB, PT MMB, dan PT MPP. Dengan menggunakan analisis SWOT, dimensi Smart Manufacturing, studi kasus, dan literatur terkait, penelitian ini mengintegrasikan lima model utama, yaitu Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), SIRI 4.0, IMPULS 4.0, Industry 4.0 Maturity Model, dan Acatech 4.0, menjadi pendekatan yang disebut INDI 4.0+. Hasil penelitian berupa framework roadmap yang memberikan panduan langkah demi langkah untuk transformasi yang sukses, memetakan keterkaitan dan relevansi antar model untuk membantu perusahaan menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang. Framework ini berkontribusi sebagai panduan komprehensif untuk memahami dan mengimplementasikan Smart Manufacturing dalam konteks industri manufaktur global. ================================================================================================================================ The advancement of technology has driven manufacturing companies to adopt a smarter production model known as Smart Manufacturing. However, the lack of structured guidelines often hinders the transformation process. This study aims to develop a framework roadmap for implementing Smart Manufacturing in three leading companies: PT MKB, PT MMB, and PT MPP. By utilizing SWOT analysis, Smart Manufacturing dimensions, case study findings, and related literature, the study integrates five key models: Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0), SIRI 4.0, IMPULS 4.0, Industry 4.0 Maturity Model, and Acatech 4.0 into a comprehensive approach referred to as INDI 4.0+. The result of this research is a framework roadmap providing step-by-step guidance for successful transformation, mapping the interconnection and relevance of the models to assist companies in overcoming challenges and seizing opportunities. This framework serves as a comprehensive guide for understanding and implementing Smart Manufacturing in the global manufacturing industry context

    Segmentasi Sel Pada CItra Imunohistokimia Menggunakan Metode Segment Anything Model

    No full text
    Setiap sel dari tubuh kita tersusun oleh protein, dengan mengetahui jenis protein dalam sebuah sel kita dapat mengetahui apakah sel tersebut adalah sel normal atau sel yang akan berubah menajadi sel kanker. Imunohistokimia atau IHC adalah sebuah metode untuk mendeteksi antigen dalam jaringan menggunakan antibodi. Pemeriksaan IHC saat ini rata-rata masih dengan cara manual dengan menggunakan mikroskop yang dilakukan langsung oleh dokter dan memakan waktu lama serta hasil pengamatan masih sangat subjektif bergantung pada kepakaran dokter tersebut, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan sistem segmentasi yang berguna untuk melakukan segmentasi terhadap sel pada citra IHC. Proses segmentasi tersebut akan menggunakan metode segment anything model yang diusung oleh meta dan diklaim memiliki kemampuan yang efisien dalam mengenali citra. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif pada kalangan dokter dengan cara memberikan cara yang lebih efisien dalam diagnosis klinik berdasarkan IHC. ================================================================================================================================ Every cell in our body is composed of protein, by knowing the type of protein in a cell we can find out whether the cell is a normal cell or a cell that will change into a cancer cell. Immunohistochemistry or IHC is a method for detecting antigens in tissue using antibodies. IHC examinations are currently mostly still done manually using a microscope which is carried out directly by a doctor and takes a long time and the results of the observations are still very subjective depending on the expertise of the doctor, therefore the purpose of this study is to develop a segmentation system that is useful for segmenting cells in IHC images. The segmentation process will use the segment anything model method carried out by meta and is claimed to have efficient capabilities in recognizing images. With this research, it is hoped that it can have a positive impact on doctors by providing a more efficient way of clinical diagnosis based on IHC

    Optimalisasi Mobililtas Kampus Berkelanjutan Melalui Pendekatan Tactical Urbanism (Studi Kasus : Institut Teknologi Sepuluh Nopember)

    No full text
    Saat ini, mobilitas di kampus ITS didominasi oleh penggunaan kendaraan pribadi, yang menyebabkan masalah seperti kemacetan di dalam kampus, polusi udara, dan distribusi aktivitas penggunaan lahan yang kurang efisien didukung system mobilitas berkelanjutan. Kekurangan fasilitas pendukung bagi pejalan kaki dan pesepeda, serta kurangnya integrasi antar moda non bermotor dengan transportasi umum menunjukkan belum berpihaknya kebijakan kampus terhadap system mobilitas berkelanjutan. Pendekatan Tactical Urbanism, yang mengutamakan intervensi cepat, berbiaya rendah, namun estetik; dan partisipatif, diidentifikasi sebagai metode yang potensial sebagai langkah awal kepada penyadaran atau edukasi mobilitas berkelanjutan kampus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sistem mobilitas kampus, mengidentifikasi preferensi mahasiswa terhadap mobilitas berkelanjutan yang terintegrasi dengan sistem aktivitas kampus, serta merumuskan konsep Tactical Urbanism Design untuk mendukung integrasi sistem aktivitas dan sistem mobilitas berkelanjutan. Dengan mempertimbangkan preferensi mahasiswa ITS, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan kampus yang ramah lingkungan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola mobilitas warga kampus ITS Surabaya didominasi oleh penggunaan sepeda motor sebagai moda utama, baik untuk perjalanan menuju kampus (76,22%) maupun di dalam kampus (61,54%). Infrastruktur pejalan kaki dan sepeda saat ini masih kurang memadai, dengan mayoritas responden merasa bahwa jalur sepeda tidak mendukung mobilitas yang efisien (31,47%) dan jalur pejalan kaki memiliki ruang untuk peningkatan. Sistem sirkulasi dalam kampus dinilai cukup mendukung, dengan mayoritas aktivitas kampus dapat dicapai dalam waktu kurang dari 10 menit berjalan kaki. Namun, fasilitas parkir sepeda dan integrasi moda transportasi masih perlu ditingkatkan untuk mengoptimalkan mobilitas yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Preferensi responden terhadap intervensi tactical urbanism menunjukkan bahwa mayoritas menginginkan desain bertema alami untuk pedestrian way (51,75%) dan bike parking (40,56%), serta dukungan baik untuk elemen-elemen seperti parklet, tanaman peneduh, penerangan jalan, kursi pedestrian, dan bollards sebagai upaya meningkatkan kenyamanan dan daya tarik ruang publik. Responden juga menganggap bahwa penambahan fasilitas yang mendorong mobilitas ramah lingkungan, seperti jalur hijau untuk sepeda dan elemen street furniture, dapat mendukung integrasi aktivitas sosial dengan mobilitas, sehingga menciptakan lingkungan kampus yang lebih nyaman dan inklusif. Konsep desain tactical urbanism yang dirancang meliputi elemen seperti crosswalk painting, pop-up plaza, parklet, bollards, marka jalur hijau, dan street furniture pada area seperti public plaza, main focal point, main spine, dan selasar penghubung. Dalam penelitian ini, konsep tactical urbanism diterapkan untuk mengoptimalkan aksesibilitas pejalan kaki menuju main focal point dan public plaza di kampus ITS, sebagai bagian dari upaya menciptakan sistem mobilitas kampus yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Jalur pedestrian yang menghubungkan main focal point dengan main spine dan selasar penghubung dirancang dengan elemen-elemen yang mengutamakan kenyamanan, keamanan, serta daya tarik visual, seperti wayfinding, street furniture, dan walkway shade. Selain itu, akses pejalan kaki dari sisi belakang bangunan yang terhubung dengan selasar penghubung juga diperhatikan untuk memastikan permeabilitas bangunan yang baik. Sebagai bagian dari konsep mobilitas yang lebih ramah lingkungan, beberapa titik di sepanjang main spine diusulkan untuk dilengkapi dengan parklet, yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang peralihan transportasi, tetapi juga sebagai tempat istirahat yang mendukung mobilitas aktif. Dengan desain yang mengintegrasikan jalur pedestrian, parklet, dan ruang publik, penelitian ini bertujuan untuk menciptakan ruang yang lebih aktif, nyaman, dan mendukung transisi menuju mobilitas kampus berkelanjutan. ======================================================================================================================== Currently, mobility on the ITS campus is dominated by the use of private vehicles, which causes problems such as congestion on campus, air pollution, and inefficient distribution of land use activities supported by sustainable mobility systems. The lack of supporting facilities for pedestrians and cyclists, as well as the lack of integration between non-motorized modes and public transportation shows that campus policies are not yet in favor of sustainable mobility systems. The Tactical Urbanism approach, which prioritizes quick, low-cost, yet aesthetic; and participatory interventions, is identified as a potential method as a first step towards campus sustainable mobility awareness or education. This research aims to identify campus mobility systems, identify student preferences for sustainable mobility integrated with campus activity systems, and formulate Tactical Urbanism Design concepts to support the integration of activity systems and sustainable mobility systems. By considering the preferences of ITS students, it is hoped that this research can make a real contribution in creating an environmentally friendly campus environment. The analysis results show that the mobility pattern of ITS Surabaya campus residents is dominated by the use of motorbikes as the main mode, both for trips to campus (76.22%) and within the campus (61.54%). Current pedestrian and bicycle infrastructure is still inadequate, with the majority of respondents feeling that bicycle lanes do not support efficient mobility (31.47%) and pedestrian paths have room for improvement. The on-campus circulation system is considered quite supportive, with the majority of campus activities being reachable in less than 10 minutes on foot. However, bicycle parking facilities and transport mode integration still need to be improved to optimize more inclusive and sustainable mobility. Respondents' preferences for tactical urbanism interventions showed that the majority wanted natural-themed designs for pedestrian ways (51.75%) and bike parking (40.56%), as well as good support for elements such as parklets, shade plants, street lighting, pedestrian seats, and bollards to improve the comfort and attractiveness of public spaces. Respondents also considered that the addition of facilities that encourage green mobility, such as green lanes for bicycles and street furniture elements, could support the integration of social activities with mobility, thus creating a more comfortable and inclusive campus environment. The tactical urbanism design concept includes elements such as crosswalk painting, pop-up plazas, parklets, bollards, green lane markings, and street furniture in areas such as public plazas, main focal points, main spine, and connecting walkways. In this research, the concept of tactical urbanism is applied to optimize pedestrian accessibility to the main focal point and public plaza on the ITS campus, as part of an effort to create a more inclusive and sustainable campus mobility system. The pedestrian path connecting the main focal point with the main spine and connecting hallways is designed with elements that prioritize comfort, safety, and visual appeal, such as wayfinding, street furniture, and walkway shade. In addition, pedestrian access from the back side of the building connected to the connecting walkway is also considered to ensure good building permeability. As part of the concept of greener mobility, several points along the main spine are proposed to be equipped with parklets, which not only serve as transportation interchange spaces, but also as rest areas that support active mobility. With a design that integrates pedestrian paths, parklets, and public spaces, this research aims to create a space that is more active, comfortable, and supports the transition towards sustainable campus mobility

    0

    full texts

    0

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ITS Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇