49971 research outputs found
Sort by
Kajian Kinerja Rantai Pasok Pupuk Bersubsidi Dengan Pendekatan Sistem Dinamik
Industri pupuk bersubsidi merupakan sektor strategis yang berperan penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, tingginya biaya rantai pasok serta keterbatasan anggaran subsidi menimbulkan kesenjangan signifikan antara kebutuhan petani dan ketersediaan pupuk bersubsidi. Pada tahun 2021, kebutuhan pupuk yang diajukan oleh 16,6 juta petani mencapai 23 juta ton (setara Rp67 triliun), sementara alokasi subsidi pemerintah hanya mencakup 8,2 juta ton (Rp25,3 triliun). Kondisi ini menuntut strategi distribusi yang lebih efisien agar subsidi yang terbatas dapat dimanfaatkan secara optimal, dengan tetap menjamin ketepatan waktu dan kesesuaian jumlah penyaluran.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model distribusi pupuk bersubsidi yang efisien dari sisi biaya, responsif terhadap waktu pengiriman, dan andal dalam pemenuhan jumlah distribusi. Pendekatan sistem dinamik dipilih karena mampu memodelkan sistem makro yang kompleks, dinamis, dan sarat ketidakpastian. Tahapan penelitian meliputi: (1) observasi sistem; (2) pengelompokan wilayah distribusi menggunakan algoritma K-Means clustering; (3) pengembangan model konseptual; (4) perancangan dan simulasi model sistem dinamik; (5) validasi model; serta (6) pengujian skenario alternatif pola distribusi single run dan milk run.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa strategi distribusi gabungan single run dan milk run mampu mengurangi waktu tempuh pengiriman sebesar 249–270 jam, menghemat biaya Rp1,65–5,47 miliar per pengiriman, dan meningkatkan utilisasi kapal sebesar 9–16% melalui pemanfaatan kapasitas angkut yang lebih optimal. Peningkatan utilisasi ini terjadi karena pola milk run memungkinkan satu kapal mengangkut muatan untuk beberapa tujuan dalam satu perjalanan, sehingga volume muatan per keberangkatan meningkat dan kapasitas kapal dimanfaatkan secara maksimal. Temuan ini menegaskan bahwa strategi gabungan tersebut efektif dalam menekan biaya, mempercepat pengiriman, dan memastikan jumlah distribusi sesuai kebutuhan, sehingga dapat memperkuat efektivitas program pupuk bersubsidi di Indonesia
Analisis Variasi Kecepatan Kapal Tanker Terhadap Efisiensi Energi Dan Biaya Bahan Bakar Menggunakan EEOI: Studi Tentang Praktik Slow Steaming
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor maritim semakin memprioritaskan upaya pengurangan emisi gas rumah kaca dan peningkatan efisiensi bahan bakar sebagai bagian dari tujuan keberlanjutan global. Salah satu strategi operasional yang paling berpengaruh untuk mencapai tujuan ini adalah slow steaming, yaitu pengoperasian kapal pada kecepatan rendah secara sengaja guna mengoptimalkan konsumsi bahan bakar dan menekan emisi. Penelitian ini mengkaji dampak penerapan slow steaming terhadap Energy Efficiency Operational Indicator (EEOI) dan biaya bahan bakar pada operasi kapal tanker. Studi dilakukan pada tiga kapal tanker dengan deadweight tonnage dan karakteristik rute yang serupa, masing-masing berlayar pada jarak yang sama namun dengan kecepatan jelajah berbeda. Dengan menggunakan estimasi konsumsi bahan bakar berbasis aktivitas, EEOI setiap kapal dihitung berdasarkan data operasional aktual, meliputi jarak tempuh, muatan yang diangkut, konsumsi bahan bakar, dan emisi CO₂ yang dihasilkan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan slow steaming secara signifikan menurunkan nilai EEOI, yang berarti efisiensi energi meningkat dan biaya bahan bakar berkurang. Namun, keuntungan ini disertai dengan waktu pelayaran yang lebih lama, sehingga dapat memengaruhi jadwal pengiriman serta meningkatkan biaya operasional lain seperti upah kru, biaya sewa kapal, dan biaya pelabuhan. Kapal dengan kecepatan lebih lambat menunjukkan performa energi yang lebih baik, sedangkan kapal yang lebih cepat menyelesaikan rute dalam waktu lebih singkat, yang dapat menguntungkan untuk pengangkutan kargo yang sensitif waktu. Trade-off ini menyoroti kompleksitas dalam menyeimbangkan efisiensi energi dengan pertimbangan ekonomi dan logistik. Temuan penelitian ini memberikan wawasan praktis mengenai hubungan antara slow steaming, penggunaan bahan bakar, biaya operasional, dan terutama EEOI, sehingga dapat mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat bagi operator kapal dalam meningkatkan performa tanpa mengorbankan tuntutan komersial.
=========================================================================================================================================
In recent years, the marine industry has increasingly emphasized the reduction of greenhouse gas emissions and the enhancement of fuel economy in accordance with global sustainability objectives. A highly impactful operational strategy to attain these goals is slow steaming, wherein vessels intentionally navigate at diminished speeds to enhance fuel efficiency and reduce emissions. This study examines the impact of slow steaming tactics on the Energy Efficiency Operational Indicator (EEOI) and fuel expenditures in tanker ship operations. The study analyzes three tanker boats with comparable deadweight tonnage and route attributes, each traversing the same distance while running at varying cruise speeds. The study employs activity-based fuel consumption estimation to construct the Energy Efficiency Operational Indicator (EEOI) for each vessel, utilizing actual operational data such as distance traveled, cargo weight, fuel oil consumption, and resultant CO₂ emissions. The investigation demonstrates that the adoption of slow steaming substantially decreases EEOI values, signifying enhanced energy efficiency and diminished fuel expenses. Nonetheless, these advantages are coupled with extended voyage durations, potentially affecting supply timelines and elevating additional operational costs, including crew salaries, charter fees, and port charges. Although the slower vessels exhibit enhanced energy efficiency, the faster ship traverses the route more quickly, which may benefit time-sensitive goods. This trade-off underscores the intricacy of reconciling energy efficiency with economic and logistical considerations. The findings offer practical insights into the correlation between slow steaming, fuel consumption, operating expenses, and particularly EEOI, facilitating more informed decision-making for ship operators aiming to improve performance without sacrificing financial obligations
Laporan Magang Wirausaha Teh Lio
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi pasar dan tingkat penerimaan konsumen terhadap Tehlio, sebuah produk minuman herbal yang dipasarkan melalui konsep mobile selling menggunakan sepeda gowes. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan konsumen modern yang peduli kesehatan sekaligus menawarkan keunikan dalam proses distribusi. Selain itu, penelitian juga mengkaji efektivitas strategi diversifikasi varian rasa yang meliputi Original, Jasmine, Green Tea, Thai Tea, Lemon Tea, Lecy Tea, dan Blackcurrant Tea, sebagai upaya untuk meningkatkan daya saing di pasar minuman sehat yang kompetitif. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, serta wawancara langsung dengan pelaku usaha dan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep penjualan keliling menggunakan sepeda gowes cukup menarik perhatian konsumen, meskipun masih perlu didukung oleh promosi digital yang lebih konsisten agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Diversifikasi varian rasa terbukti efektif dalam menambah ketertarikan konsumen dan memperkuat posisi Tehlio di pasar. Namun demikian, tantangan terbesar yang dihadapi adalah dalam manajemen sumber daya manusia, khususnya tingginya tingkat turn over karyawan yang tercatat sebanyak empat kali selama periode penelitian, yang berdampak pada kestabilan operasional usaha. Secara keseluruhan, Tehlio memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang melalui perbaikan strategi promosi, inovasi produk berkelanjutan, dan penguatan manajemen SDM. Dengan demikian, Tehlio diharapkan dapat menjadi salah satu pelaku usaha minuman herbal modern yang mampu bertahan dan bersaing di era digital
Modifikasi Permukaan g-C3N4 melalui Deposisi Logam Transisi untuk Peningkatan Kinerjanya pada Fotodegradasi Metilen Biru
Karbon nitrida grafitik (g-C3N4) merupakan material semikonduktor yang banyak diteliti sebagai material fotokatalis karena stabilitas kimia yang sangat baik. Namun, laju rekombinasi pasangan muatan yang tinggi menjadi kendala yang mengakibatkan aktivitas fotokatalitik kurang efisien. Secara teoritis, penambahan logam transisi dengan orbital dpada g-C3N4 dapat membentuk Schottky junction dan pusat electron trap yang berfungsi menekan rekombinasi muatan sehingga meningkatkan efisiensi aktivitas fotokatalitik. Pada penelitian ini dipelajari pengaruh penambahan logam transisi (Fe, Cu, dan Zn) pada permukaan g-C3N4, dengan NaBH4 sebagai agen pereduksi, dilanjutkan karakterisasi material fotokatalis dengan XRD dan FTIR. Logam-logam tersebut memiliki konfigurasi orbital d dan elektronegativitas yang berbeda-beda, sehingga berpengaruh pada kemampuannya dalam menangkap elektron hasil eksitasi di g-C3N4. Hasil karakterisasi material hasil sintesis menunjukkan bahwa komposit logam tunggal maupun bimetal berhasil disintesis. Semua logam berhasil terdeposisi pada g-C3N4 tanpa merusak struktur g-C3N4. Hasil uji terhadap fotodegradasi metilen biru menunjukkan bahwa tidak semua penambahan logam transisi di permukaan g-C3N4 meningkatkan aktivitas fotokatalitiknya. Aktivitas katalitik tertinggi ditunjukkan oleh g-C3N4 yang terdeposisi Zn dengan efisiensi degradasi tertinggi mencapai 66,16%. Penambahan logam Zn, yang memiliki orbital d penuh, mampu menjaga kestabilan muatan hasil eksitasi dan meneruskannya ke molekul target untuk proses degradasi. Sementara itu, logam transisi dengan orbital d tidak penuh (Fe) dan memiliki kemampuan menarik elektron yang kuat (Cu) mampu membentuk electron trap yang kuat, sehingga selain menurunkan rekombinasi muatan, juga mengurangi elektron yang mendegradasi MB. Oleh karenanya, peningkatan aktivitas fotokatalitik g-C3N4 yang terdeposisi logam Fe dan Cu tidak setinggi g-C3N4 yang terdeposisi logam Zn.
===============================================================================================================================
Graphitic carbon nitride (g-C3N4) is a semiconductor material that has been extensively studied as a photocatalyst due to its excellent chemical stability. However, its high rate of charge carrier recombination remains a challenge, leading to inefficient photocatalytic activity. Theoretically, the incorporation of transition metals with d orbitals into g-C3N4 can form Schottky junctions and electron trap centers, which function to suppress charge recombination and thus enhance photocatalytic efficiency. In this study, the effects of depositing transition metals (Fe, Cu, and Zn) onto the surface of g-C3N4 were investigated, using NaBH4 as the reducing agent, followed by characterization of photocatalyst materials with XRD and FTIR. These metals possess different d orbital configurations and electronegativities, which influence their ability to capture the photoexcited electrons from g-C3N4. Characterization results confirmed the successful synthesis of both monometallic and bimetallic composites. All metals were successfully deposited on g-C3N4 without damaging its structure. Photodegradation tests using methylene blue revealed that not all transition metal depositions enhanced the photocatalytic activity of g-C3N4. The highest catalytic activity was observed in the Zn-deposited g-C3N4, with a maximum degradation efficiency of 66.16%. The addition of Zn, which has a fully filled d orbital, was effective in stabilizing the excited charges and facilitating their transfer to target molecules for degradation. Meanwhile, transition metals with partially filled d orbitals (Fe) and high electron-attracting ability (Cu) formed strong electron traps. Although these could reduce charge recombination, they also decreased the number of electrons available to degrade MB. Consequently, the enhancement of photocatalytic activity in Fe- and Cu-deposited g-C3N4 was not as significant as that observed in Zn-deposited g-C3N4
Pemodelan Geographically Weighted Generalized Poisson Regression Terhadap Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kasus HIV/AIDS Di Provinsi Jawa Timur
Pada tahun 2023, tercatat 28.000 infeksi baru HIV di Indonesia. Provinsi Jawa Timur dengan jumlah kasus sebanyak 1.579 merupakan provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi ketiga di Indonesia. Jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Jawa Timuradalah sebanyak 273 kasus di Kabupaten Sidoarjo, sedangkan jumlah kasus HIV/AIDS terendah adalah sebanyak 1 kasus di Kota Batu. Rata-rata jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2023 adalah sebanyak 40,315 kasus. Penyebaran HIV/AIDS tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu seperti perilaku berisiko, tetapi juga oleh faktor-faktor struktural dan kontekstual yang bersifat lokal, seperti akses terhadap layanan kesehatan, tingkat pendidikan, stigma sosial, dan kondisi sosial ekonomi. Faktor-faktor ini tidak tersebar merata secara geografis dan dapat memengaruhi dinamika penyebaran HIV/AIDS secara berbeda di setiap wilayah. HIV/AIDS cenderung memiliki dimensi spasial, artinya risikonya dapat berkelompok di area-area tertentu dan pola hubungan antara variabel-variabel dengan jumlah kasus bisa berbeda-beda antar lokasi. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan analisis spasial dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi kasus HIV/AIDS. Dalam penelitian ini, data jumlah kasus HIV/AIDS memiliki nilai varians yang lebih besar daripada rata-rata yang menunjukkan adanya kasus overdispersi dan dalam pengujian dengan Breusch-Pagan Test didapatkan bahwa data memiliki heterogenitas spasial. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan metode Geographically Weighted Generalized Poisson Regression (GWGPR). Nilai AICc dari model GWGPR dengan pembobot Bisquare dan pembobot Gaussian memiliki perbedaan yang tidak terlalu besar yaitu 301,513 dan 304,714, yang menunjukkan bahwa kedua fungsi pembobot ini mampu menangkap variasi spasial dengan baik. Pemodelan ini menghasilkan satu variabel yang berpengaruh signifikan terhadap jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Timur. Variabel yang berpengaruh signifikan tersebut adalah persentase pengguna jaminan kesehatan (BPJS). Dengan demikian, akses terhadap jaminan kesehatan menjadi faktor penting yang memengaruhi jumlah kasus HIV/AIDS di Provinsi Jawa Timur. Temuan ini menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat kepesertaan BPJS yang lebih tinggi cenderung memiliki pelaporan atau penanganan kasus HIV/AIDS yang lebih baik, yang dapat menjadi dasar pertimbangan dalam perumusan kebijakan kesehatan berbasis wilayah.
====================================================================================================
In 2023, there were 28,000 newly reported HIV infections in Indonesia. East Java Province, with 1,579 reported cases, ranked as the third-highest province in terms of HIV/AIDS cases in the country. Within East Java, the highest number of HIV/AIDS cases was recorded in Sidoarjo Regency with 273 cases, while the lowest was in Batu City with only 1 case. The average number of HIV/AIDS cases in East Java Province in 2023 was approximately 40.32 cases. The spread of HIV/AIDS is influenced not only by individual factors such as risky behavior, but also by structural and contextual factors that are local in nature, including access to healthcare services, education level, social stigma, and socioeconomic conditions. These factors are not uniformly distributed across geographic areas and may influence the dynamics of HIV/AIDS transmission differently from one region to another. HIV/AIDS also tends to exhibit spatial dimensions, meaning that the risk can be clustered in specific areas, and the relationships between explanatory variables and the number of cases may vary across locations. This highlights the importance of a spatial analytical approach in understanding the factors influencing HIV/AIDS cases. In this study, the count data on HIV/AIDS cases demonstrated overdispersion, as indicated by the variance being greater than the mean. Additionally, the Breusch-Pagan test revealed the presence of spatial heterogeneity in the data. Therefore, this research employed the Geographically Weighted Generalized Poisson Regression (GWGPR) method. The AICc values of the GWGPR model using the Bisquare and Gaussian kernel weighting functions were 301.513 and 304.714, respectively. The relatively small difference in these values suggests that both weighting functions were effective in capturing spatial variation. The modeling results identified one significant variable influencing the number of HIV/AIDS cases in East Java Province, namely the percentage of residents enrolled in the national health insurance program (BPJS). Thus, access to health insurance is a key factor affecting the number of HIV/AIDS cases in the region. This finding indicates that areas with higher BPJS participation tend to have better case reporting and management of HIV/AIDS, providing a valuable basis for formulating spatially targeted public health policies
Modelling dan Simulasi Performa Electric Drivetrain Sepeda Motor Listrik Dual Penggerak (2x2) Menggunakan MATLAB dan Simulink
Banyak wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) di Indonesia menghadapi tantangan berat dalam infrastruktur, akses energi, dan medan ekstrem. Kendaraan listrik dengan kemampuan off-road tinggi diperlukan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat di daerah tersebut. Penelitian ini mengembangkan model sistem drivetrain sepeda motor listrik dual penggerak (2x2) menggunakan MATLAB & Simulink untuk menganalisis konsumsi energi dan performanya pada berbagai kondisi medan dan gradien. Simulasi dilakukan pada tiga jenis permukaan jalan (aspal, berbatu, berlumpur), empat siklus pengendaraan (WLTP Class 1, FTP-75, wide open throttle, dan custom 20 km/h), serta gradien 0°–30°. Hasil simulasi menunjukkan torsi puncak sebesar 300 Nm, RPM tertinggi 884,3 RPM, dan daya maksimum 25,5 kW, seluruhnya dicapai pada medan berlumpur, gradien 0°, dan drive cycle wide open throttle. Konsumsi energi terendah sebesar 57,94 Wh/km terjadi pada jalan aspal datar (WLTP Class 1), dan tertinggi sebesar 1383,5 Wh/km pada jalan berbatu dengan gradien 30° (custom cycle). Dibandingkan dengan UBCO 2x2, motor ini memiliki konsumsi energi 174% lebih tinggi, tetapi unggul dalam hal daya, torsi, dan kapasitas beban. Simulasi menunjukkan bahwa konsumsi energi, torsi, dan daya meningkat seiring gradien dan berat medan, sedangkan RPM relatif tidak terpengaruh. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa sepeda motor listrik dual penggerak (2x2) memiliki potensi tinggi sebagai solusi transportasi off-road ekstrem di wilayah 3T.
===================================================================================================================================
Many remote regions in Indonesia, classified as 3T areas (Frontier, Outermost, and Disadvantaged), face major challenges in infrastructure, energy access, and extreme terrain conditions. These regions require robust and energy-efficient transportation solutions. This research develops a drivetrain system model for a dual-drive (2x2) electric motorcycle using MATLAB & Simulink to analyze energy consumption and performance under various terrain and gradient conditions. The simulation covers three surface types (asphalt, rocky, muddy), four drive cycles (WLTP Class 1, FTP-75, wide open throttle, and a custom 20 km/h cycle), and gradient variations ranging from 0° to 30°. The simulation results show a peak torque of 300 Nm, maximum RPM of 884.3, and peak power output of 25.5 kW—all achieved under muddy terrain with 0° gradient and wide-open throttle drive cycle. The lowest energy consumption recorded is 57.94 Wh/km on flat asphalt roads with the WLTP Class 1 cycle, while the highest reaches 1383.5 Wh/km on rocky roads with a 30° gradient under the custom cycle. Compared to the UBCO 2x2, the developed motorcycle consumes 174% more energy but delivers higher torque, power, and load capacity. The results indicate that energy consumption, torque, and power output increase proportionally with terrain difficulty and road gradient, while motor RPM remains relatively unaffected. These findings suggest that the dual-drive electric motorcycle has high potential as a reliable mobility solution for extreme off-road conditions in 3T regions
Model Optimasi Pengembangan Produk Sustainable Secara Agile
Pengembangan produk baru berpotensi untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Perusahaan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan konsumen yaitu berkualitas, harga terjangkau dan waktu pengembangan yang tepat. Perencanaan merupakan salah satu tahap yang diperlukan oleh perusahaan dalam menjalankan proses pengembangan produk. Perencanaan diawali dengan penentuan ide produk. Perusahaan mempunyai banyak ide produk untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Perusahaan diharapkan dapat merespon dengan cepat kebutuhan konsumen. Perusahaan menggunakan konsep agile pada proses pengembangan produk. Konsep agile bertujuan supaya kebutuhan konsumen dapat segera terpenuhi oleh perusahaan. Penelitian ini mengkaji tentang proses pengembangan produk sustainable dengan konsep agile pada industri garmen khusus baju muslim di Jawa Timur. PLS-SEM digunakan untuk menganalisa pengaruh antara variabel idea generation, produk sustainable dan proses pengembangan produk konsep agile. Selain itu, Integer linier programming diterapkan sebagai uji validasi. Model matematis mempunyai tujuan memaksimalkan profit. Model matematis terdiri dari enam skenario. Salah satu dari fungsi kendala adalah konsep agile, aspek ekonomi, lingkungan dan sosial yang terdapat pada fungsi kendala menggunakan indeks 0,1. Pada analisa sensitivitas menggunakan indek 0,1 sampai dengan 0,6. Pada skenario ke-0 adalah proses pengembangan produk sustainable secara konvensional. Skenario ke-1 adalah proses pengembangan produk sustainable secara agile. Skenario ke-2 adalah proses pengembangan produk sustainable dengan aspek ekonomi. Skenario ke-3 adalah proses pengembangan produk sustainable dengan aspek lingkungan. Skenario ke-4 adalah proses pengembangan produk sustainable dengan aspek sosial. Skenario ke-5 adalah proses pengembangan produk sustainable dengan aspek ekonomi, lingkungan dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk sustainable memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap proses pengembangan produk berbasis agile dan idea generation. Selain itu, pengembangan produk berbasis agile juga menunjukkan pengaruh positif yang signifikan terhadap idea generation. Penelitian ini menemukan bahwa skenario ke-5 memberikan nilai optimal keuntungan maksimal sebesar Rp. 203.333 dengan jumlah ide 6 produk dan menggunakan indeks 0,1. Model ini mengindikasikan bahwa indeks terkecil dalam fungsi kendala akan menghasilkan keuntungan tertinggi. Oleh karena itu, proses pengembangan produk dapat mencapai keuntungan maksimal apabila model matematis menunjukkan nilai indeks yang sangat kecil. Temuan ini dapat dijadikan dasar bagi pengambil keputusan dalam upaya meningkatkan produktivitas dalam proses pengembangan produk.
=====================================================================================================================================
New product development has the potential to improve company performance. Companies are expected to meet consumer needs, specifically in terms of quality, affordable prices, and timely development. Planning is one of the stages required by companies in carrying out the product development process. Planning begins with determining product ideas. Companies have many product ideas to meet consumer needs. Companies are expected to respond quickly to consumer needs. Companies utilize the agile concept in their product development processes. The agile concept aims to ensure that the company can meet consumer needs promptly. This study examines the process of developing sustainable products with an agile concept in the garment industry, specifically for Muslim clothing in East Java. PLS-SEM is used to analyze the influence of variables related to idea generation, sustainable products, and the agile concept in product development processes. Integer linear programming is also applied as a validation test. The mathematical model aims to maximize profits. The mathematical model consists of six scenarios. One of the constraint functions is the agile concept, encompassing economic, environmental, and social aspects, which is represented by an index of 0.1. In sensitivity analysis, an index of 0.1 to 0.6 is used. Scenario 0 is the conventional sustainable product development process. Scenario 1 is an agile and sustainable product development process. Scenario 2 is a sustainable product development process with economic aspects. Scenario 3 is a sustainable product development process with environmental aspects. Scenario 4 is a sustainable product development process with social aspects. Scenario 5 is a sustainable product development process with economic, environmental, and social aspects. The results of the study indicate that sustainable products have a significant positive influence on the agile-based product development process and idea generation. Additionally, agile-based product development also exhibits a significant positive influence on idea generation. This study found that scenario 5 provides an optimal maximum profit value of Rp. 203,333 with 6 product ideas and using an index of 0.1. This model suggests that the smallest index in the constraint function yields the highest profit. Therefore, the product development process can achieve maximum profit if the mathematical model shows a minimal index value. These findings can serve as a basis for decision-makers to increase productivity in the product development process
Perbandingan Model XGBoost dan Random Forest dalam Klasifikasi Penyakit Hipertensi dengan Interpretasi Shapley Additive Explanations (SHAP)
Pada era digital saat ini, pemanfaatan data kesehatan menjadi makin penting untuk mendukung identifikasi risiko penyakit secara cepat dan tepat. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang umum dan berisiko tinggi, sehingga klasifikasi status hipertensi secara akurat sangat dibutuhkan. Penelitian ini membandingkan dua model ensemble learning, yaitu XGBoost dan Random Forest, dalam klasifikasi hipertensi berbasis data survei indikator kesehatan. Kedua model dievaluasi dari sisi performa terhadap jumlah variasi data, ketahanan terhadap missing value, serta efisiensi komputasi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa XGBoost sedikit unggul dengan accuracy 87,59% dan F1-score 87,4%, serta waktu pelatihan yang jauh lebih singkat 2,52 detik dibandingkan Random Forest 80,69 detik. Pada skenario data dengan missing value yang telah diimputasi, kedua model tetap tangguh dengan penurunan performa yang relatif kecil. Sementara itu, Interpretasi Shapley Additive Explanations (SHAP) pada penelitian ini tidak hanya untuk menjelaskan kontribusi fitur secara global maupun lokal, tetapi juga sebagai penerapan feature selection. Evaluasi setelah feature selection menunjukkan bahwa Random Forest mendapatkan performa accuracy 87,54%, F1-score 77,5%, precision 73,42% dan recall 82,07%. Model XGBoost mendapatkan performa accuracy 86,77%, F1-score 74,8\%, precision 74,51%, dan recall 75,1%. Hasil Penelitian ini menunjukkan indikator-indikator kesehatan seperti BMI, usia, kondisi kesehatan, diabetes, dan, kolesterol menjadi indikator yang cukup berpengaruh terhadap penyakit hipertensi. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi dalam membandingkan performa model dan interpretasi SHAP sebagai pendekatan feature selection yang selaras dengan literatur medis.
=======================================================================================================================================
In today's digital age, the use of health data has become increasingly important for supporting identification of disease risks. Hypertension is one of the most common and high-risk cardiovascular diseases, making accurate classification of hypertension status essential. This study compares models XGBoost and Random Forest, in hypertension classification based on health indicator data. Both models were evaluated in terms of performance to number of variations data, robustness to missing values, and computational efficiency. The testing results showed that XGBoost performed better with an accuracy of 87,59% and an F1-score of 87,4%, as well as shorter training time 2,52 seconds compared to Random Forest 80,69 seconds. In a scenario with missing values that had been imputed, both models remained robust small decrease in performance. Furthermore, the Shapley Additive Explanations (SHAP) interpretation in this study is not only to explain the contribution of features globally and locally, but also as an application of feature selection. The evaluation after feature selection shows that Random Forest achieves an accuracy of 87,54%, an F1-score of 77,5%, a precision of 73,42%, and a recall of 82,07%. The XGBoost model achieved an accuracy of 86,77%, an F1-score of 74,8%, a precision of 74,51%, and a recall of 75,1%. This study indicates that health indicators such as BMI, age, health condition, diabetes, and cholesterol are significant factors influencing hypertension. Overall, this research contributes to comparing model performance and interpreting SHAP as a feature selection approach aligned with medical literature
Studi Numerik Dan Monitoring Kekuatan Struktur Pada Kapal Penyeberangan Surabaya-Madura
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kekuatan struktur geladak kapal RoRo penyeberangan Surabaya–Madura melalui pemantauan tegangan secara langsung dengan menggunakan strain gauge dan validasi hasilnya melalui analisis numerik berbasis metode elemen hingga. Pengukuran dilakukan dengan memasang strain gauge pada titik-titik strategis geladak kapal dalam tiga arah utama untuk merekam respons struktur akibat variasi beban kendaraan dan kondisi laut. Data regangan yang diperoleh dikonversi menjadi tegangan dengan memanfaatkan hubungan tegangan-regangan, kemudian dianalisis menggunakan Lingkaran Mohr untuk memperoleh tegangan utama. Analisis domain frekuensi dengan Fast Fourier Transform (FFT) digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik frekuensi dominan getaran struktural.Selain itu, pemodelan numerik geladak kapal dilakukan menggunakan perangkat lunak ANSYS untuk menentukan distribusi tegangan dan dibandingkan dengan hasil pengukuran eksperimental. Hasil penelitian menunjukkan tegangan maksimum yang terukur masih berada di bawah batas tegangan izin material, mengindikasikan bahwa struktur geladak dalam kondisi aman untuk dioperasikan. Dominasi frekuensi getaran yang teridentifikasi juga berada dalam rentang yang wajar, tidak menimbulkan resonansi yang membahayakan. Temuan ini memperlihatkan bahwa sistem monitoring yang diterapkan efektif untuk memetakan kondisi aktual tegangan pada geladak kapal, sehingga dapat menjadi dasar pertimbangan dalam perencanaan perawatan maupun inspeksi berkala guna memastikan keselamatan pelayaran.
=============================================================================================================================================
This study aims to evaluate the structural strength of the RoRo deck operating on the Surabaya–Madura route through direct stress monitoring using strain gauges, and to validate the findings by means of numerical analysis based on the finite element method. Measurements were conducted by installing strain gauges at strategic points on the ship’s deck in three principal directions to capture the structural response under varying vehicle loads and sea conditions. The obtained strain data were converted into stress using the stress-strain relationship, and further analyzed using Mohr’s Circle to determine the principal stresses. A frequency domain analysis employing the Fast Fourier Transform (FFT) was also carried out to identify the dominant vibration frequencies of the structure. Additionally, numerical modeling of the ship deck was performed using ANSYS software to determine the stress distribution, which was then compared with the experimental measurements. The results indicate that the maximum measured stress remains below the allowable material stress limit, suggesting that the deck structure is in a safe operational condition. The identified dominant vibration frequencies were also found to be within a reasonable range, posing no harmful resonance risks. These findings demonstrate that the implemented monitoring system is effective in mapping the actual stress conditions on the ship’s deck, thus providing a sound basis for planning maintenance and periodic inspections to ensure navigation safety
Analisis Kekuatan Struktur Towing Hook Pada Tugboat Menggunakan Metode Elemen Hingga
Operasi penarikan kapal menggunakan tugboat merupakan aktivitas penting dalam dunia pelayaran, di mana struktur towing hook berperan sebagai komponen dalam menerima gaya tarik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan struktur towing hook pada tugboat terhadap variasi load case penarikan barge dan ketebalan kupingan towing hook menggunakan metode elemen hingga. Simulasi dilakukan dalam dua tahap yaitu simulasi penarikan barge menggunakan Ansys AQWA dan simulasi struktur towing hook menggunakan Ansys Static Structural. Empat variasi load case yang dianalisis meliputi sudut tarikan 0°, 45°, kondisi trim by stern, dan trim by bow dengan variasi ketebalan kupingan towing hook sebesar 20 mm, 22 mm, dan 24 mm. Hasil menunjukkan gaya tarik tertinggi terjadi pada kondisi trim by bow sebesar 241,584 kN, sedangkan tegangan maksimum yang dihasilkan masih berada di bawah batas izin BKI. Penelitian ini menunjukkan bahwa struktur towing hook memiliki desain struktural yang kuat untuk menghadapi beberapa kondisi operasional.
=======================================================================================================================================
Towing operations using tugboats are critical activities in maritime operations, where the towing hook structure functions as a key component in receiving towing forces. This study aims to analyze the structural strength of the towing hook on a tugboat under various load cases during barge towing operations, as well as different lug plate thicknesses, using the finite element method. The simulation is conducted in two stages: barge towing simulation using Ansys AQWA and structural analysis of the towing hook using Ansys Static Structural. Four load case variations are analyzed, including towing angles of 0°, 45°, trim by stern, and trim by bow, with lug plate thickness variations of 20 mm, 22 mm, and 24 mm. The results show that the highest towing force occurs under the trim by bow condition, reaching 241.584 kN, while the maximum stress remains below the allowable limit specified by BKI. This study demonstrates that the towing hook structure possesses adequate structural strength to withstand various operational conditions