Sepuluh Nopember Institute of Technology

ITS Repository
Not a member yet
    49971 research outputs found

    Architecture In Affording Housing For Agriculture Work Activities : Designing Homes As Workplaces For Elderly

    No full text
    Dalam konteks pasca-pandemi, rumah sebagai tempat kerja menjadi semakin penting, terutama bagi lansia yang membutuhkan ruang nyaman dan aman untuk mendukung aktivitas kerja dan kehidupan sehari-hari. Studi ini menyoroti peran arsitektur dalam memenuhi kebutuhan lansia yang tetap aktif bekerja. Lebih dari 50% lansia di Indonesia masih bekerja pada 2023, dengan lebih dari 80% di sektor informal, sebagian besar di bidang pertanian. Dalam konteks ini, rumah sebagai tempat kerja berfokus pada aktivitas pertanian. Elemen keterjangkauan arsitektural diidentifikasi sebagai faktor utama dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan di lingkungan rumah-kerja. Dengan menerapkan metode tipologi, studi ini menganalisis beberapa contoh rumah pertanian untuk membandingkan dan menemukan desain terbaik dalam konteks tersebut. Usulan ini bertujuan menciptakan ruang yang nyaman, ramah usia, dan mendukung kemandirian serta fleksibilitas dalam rutinitas hidup dan bekerja bagi lansia. Hasil rancangan mencakup hunian yang memungkinkan kegiatan bekerja sekaligus bermukim, terdiri atas dua tipe yaitu rumah satu lantai dan rumah dua lantai, dengan ruang kerja di area atap pada rumah satu lantai. Selain itu, untuk mendukung konsep pertanian vertikal, disediakan jalur pejalan kaki melayang yang menjaga sirkulasi kendaraan dan aktivitas pertanian tetap lancar tanpa gangguan. ============================================================ In the post-pandemic context, home-workplace environments have become increasingly significant, especially for elderly, who require spaces that accommodate both work and daily living with ease and safety. This study focuses on the evolving role of architecture in meeting the needs of elderly who remain active in the workforce. Over 50% of Indonesia’s elderly population was still employed in 2023, with more than 80% working in the informal sector, a large portion in agriculture. Given this context, the proposed home as a workspace will center around agricultural activities. Key architectural affordances are identified as essential for enhancing productivity and well-being in these home-workplace environments. By applying typology method to propose the arrangement of spatial connection, a study of several home agriculture was done to compare and find the best design among various building types for home workspace in agriculture context. This proposal aims to provide a framework for creating comfortable, age-friendly spaces that support both independence and comfort in flexible, integrated living and working settings for elderly users. The design outcome includes housing that afford both working and dwelling activities, consisting two types of housing namely one story housing and two story housing with a rooftop workspace in the roofing area of the one story housing. Beside, to support the boundaries providing vertical agriculture, there is a floating pedestrian to create an undisturbed circulation of both vehicle mobility and agriculture activities

    Optimasi Stowage Planning Menggunakan Whale Optimization Algorithm Dan Rule-Based Expert System

    No full text
    Perencanaan penempatan kontainer kapal (Stowage Planning) adalah masalah optimasi kompleks yang melibatkan berbagai batasan, seperti aturan Dangerous Goods, skenario multi-port, massa, dan stabilitas kapal. Penelitian ini mengusulkan model hibrida Whale Optimization Algorithm (WOA) dan Rule-based Expert System (RBES) untuk mencari solusi optimal. WOA dipilih karena kemampuannya menghindari solusi lokal optimal, sementara RBES mengevaluasi tata letak kontainer menggunakan aturan if-then, mencakup kepatuhan regulasi, aksesibilitas multi-port, dan stabilitas kapal seperti LCG (Longitudinal Center of Gravity), TCG (Transversal Center of Gravity), dan VCG (Vertical Center of Gravity). Pelanggaran dihitung sebagai penalti dalam nilai fitness untuk memandu optimasi. Pengujian menggunakan 1.500 kontainer pada kapal 442 TEU (Twenty-foot Equivalent Unit) menunjukkan bahwa model ini berhasil memenuhi sebagian besar batasan, dengan stabilitas horizontal (LCG dan TCG mendekati nol) tercapai, meskipun stabilitas vertikal (VCG) masih fluktuatif. Optimasi menunjukkan konvergensi cepat dengan peningkatan fitness awal dan penurunan keragaman solusi. Pengaturan parameter seperti iterasi dan swap rate memengaruhi hasil akhir. Pendekatan ini terbukti efektif menangani kompleksitas dunia nyata, termasuk Dangerous Goods dan stabilitas kapal, yang belum banyak dieksplorasi sebelumnya. ===================================================================================================================================================== Container stowage planning (Stowage Planning) is a complex optimization problem involving various constraints, such as the Dangerous Goods rule, multi-port scenario, mass, and ship stability. This study proposes a hybrid model of Whale Optimization Algorithm (WOA) and Rule-based Expert System (RBES) to find optimal solutions. WOA was chosen for its ability to avoid locally optimal solutions, while RBES evaluates container layout using if-then rules, encompassing regulatory compliance, multi-port accessibility, and ship stability constraints such as LCG (Longitudinal Center of Gravity), TCG (Transversal Center of Gravity), and VCG (Vertical Center of Gravity). Violations are calculated as penalties in the fitness value to guide optimization. Testing using 1,500 containers on a 442 TEU (Twenty-foot Equivalent Unit) vessel show that the model successfully meets most constraints, with horizontal stability (LCG and TCG close to zero) achieved, although vertical stability (VCG) remains volatile. Optimization shows rapid convergence with an increase in initial fitness and a decrease in solution diversity. Parameter settings such as iterations and swap rates influence the final results. This approach proves effective in handling real-world complexities, including Dangerous Goods and vessel stability, which have not been widely explored before

    Skrining Bakteri Halofilik dari Tambak Garam Osowilangun dengan Bioaktivitas Antibakteri

    No full text
    Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) adalah bakteri Gram positif yang sangat dicari karena resistensinya terhadap hampir semua antibiotik beta-laktam. Penemuan sumber senyawa antibakteri baru didorong oleh krisis resistensi antibiotik saat ini. Salah satu sumbernya adalah mikroorganisme halofilik yang tumbuh di lingkungan ekstrim seperti tambak garam. Bakteri halofilik yang diisolasi dari tambak garam Osowilangun, Surabaya, diidentifikasi, dikarakterisasi, dan dievaluasi untuk aktivitas antibakteri dalam penelitian ini. Empat isolat (TGA-2-P, TGA-2-K, TGA-7-P, dan TGA-7-K) diambil dan diisolasi menggunakan media Nutrient Agar dengan modifikasi 10% natrium klorida. Isolat ini menunjukkan morfologi kokus dan karakter Gram negatif. Dalam uji resistensi antibiotik, tujuh jenis antibiotik (ofloxacin, gentamicin, meropenem, erythromycin, amoxicillin, chloramphenicol, dan doxycycline) menunjukkan profil resistensi yang berbeda; zona hambat Staphylococcus aureus rata-rata adalah 60,26%. Efektivitas antibiotik tertinggi adalah Chloramphenicol (96,15%), sedangkan yang terendah adalah Ofloxacin (32,5%). Menurut uji antagonis, hanya isolat TGA-2-K memiliki sifat antibakteri terhadap S. aureus. Hasil ini menunjukkan bahwa mikroorganisme halofilik di lingkungan tambak garam dapat berfungsi sebagai sumber senyawa antibakteri baru dan opsi pengobatan alternatif untuk patogen yang tidak dapat diobati. ================================================================================================================================= Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is a Gram-positive bacterium that is highly sought after due to its resistance to almost all beta-lactam antibiotics. The discovery of new sources of antibacterial compounds is driven by the current antibiotic resistance crisis. One source is halophilic microorganisms that grow in extreme environments such as salt ponds. Halophilic bacteria isolated from Osowilangun salt ponds, Surabaya, were identified, characterized, and evaluated for antibacterial activity in this study. Four isolates (TGA-2-P, TGA-2-K, TGA-7-P, and TGA-7-K) were taken and isolated using Nutrient Agar media modified with 10% sodium chloride. These isolates showed coccus morphology and Gram-negative characters. In the antibiotic resistance test, seven types of antibiotics (Ofloxacin, Gentamicin, Meropenem, Erythromycin, Amoxicillin, Chloramphenicol, and Doxycycline) showed different resistance profiles; the average inhibition zone of Staphylococcus aureus was 60.26%. The highest antibiotic effectiveness was Chloramphenicol (96.15%), while the lowest was Ofloxacin (32.5%). According to the antagonist test, only isolate TGA-2-K had antibacterial properties against S. aureus. These results indicate that halophilic microorganisms in the salt pond environment can serve as a source

    Perancangan Rumah Kos Putra "AD Kos" dan Perancangan Rumah Tinggal M - House

    Get PDF
    Arsitektur dituntut untuk mampu merespons kebutuhan ruang yang beragam dan kompleks dengan pendekatan desain yang kontekstual, fungsional, dan berkelanjutan. Tugas akhir ini terdiri dari dua proyek perancangan arsitektur: Rumah Kost Putra (AD Kos) di Balikpapan, Kalimantan Timur, serta Rumah Tinggal M-House, sebuah hunian tiga lantai milik pasangan pelaku usaha F&B di Surabaya. Seluruh proses perancangan mengacu pada 13 kompetensi arsitek yang ditetapkan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), guna memastikan tercapainya kualitas rancangan dan tanggung jawab profesional arsitek. Proyek pertama, AD Kos, merupakan hunian sewa jangka menengah untuk mahasiswa di sekitar kampus ITK. Perancangan menekankan pada efisiensi tata ruang, kenyamanan tinggal, dan sirkulasi vertikal yang efektif. Salah satu ruang lantai dasar difungsikan sebagai unit usaha coin laundry, sehingga pengelolaan limbah domestik menjadi perhatian utama melalui penerapan sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Strategi desain juga mempertimbangkan kondisi iklim tropis lembap Balikpapan, melalui pemanfaatan pencahayaan alami, ventilasi silang, dan pemilihan material yang tahan terhadap cuaca. Proyek kedua, M-House, adalah rumah tinggal tiga lantai yang dirancang untuk pasangan produktif dengan aktivitas padat dan kebutuhan ruang yang terorganisir. Fokus utama perancangan adalah menciptakan tata ruang yang efisien, terang, dan lega, serta menyediakan banyak ruang penyimpanan (storage) untuk mendukung fungsi hunian secara menyeluruh. Konsep modern tropis minimalis digunakan untuk menyesuaikan dengan iklim Surabaya, dengan penekanan pada pencahayaan alami, sirkulasi udara yang baik, serta pemilihan material yang mendukung efisiensi energi. Melalui penerapan kompetensi arsitektur IAI, kedua proyek ini diharapkan mampu menghadirkan solusi desain yang tidak hanya menjawab kebutuhan fungsional dan estetika, tetapi juga membawa dampak positif terhadap lingkungan dan kualitas hidup penggunanya. ========================================================================================================================================= Architecture is continuously challenged to respond to diverse and complex spatial needs through contextual, functional, and sustainable design solutions. This final project comprises two distinct architectural design works: AD Kos, a male boarding house in Balikpapan, East Kalimantan, and M-House, a three-story private residence owned by a couple running an F&B business in Surabaya. The entire design process is guided by the 13 competencies outlined by the Indonesian Institute of Architects (IAI) to ensure design quality, professional responsibility, and sustainability. The first project, AD Kos, serves as mid-term rental housing for students near the Kalimantan Institute of Technology (ITK). The design emphasizes spatial efficiency, comfort, and effective vertical and horizontal circulation. One room on the ground floor functions as a coin laundry business, which requires a wastewater management solution through the implementation of an on-site Wastewater Treatment Plant (IPAL). The building also responds to Balikpapan's humid tropical climate by optimizing natural lighting, cross ventilation, and durable materials suited to the weather conditions. The second project, M-House, is a three-story residence designed for a productive couple with a high level of daily activity and a need for well-organized space. The design focuses on spatial clarity, brightness, and ample storage to support everyday household functions. A modern tropical minimalist concept is applied to suit the climate of Surabaya, emphasizing natural lighting, proper ventilation, and energy-efficient material selection. By applying the IAI architectural competencies in both projects, the resulting designs aim to not only fulfill functional and aesthetic requirements but also provide a positive impact on the environment and enhance the quality of life for thei

    Perancangan Rumah Tinggal Pakuwon Indah Surabaya dan Perancangan Rumah Tinggal Kertajaya Indah Timur Surabaya

    No full text
    Arsitektur dihadapkan pada berbagai tantangan dalam menghasilkan solusi desain yang relevan dengan konteks tapak dan kebutuhan spesifik setiap proyek. Laporan ini bertujuan untuk mengkaji penerapan 13 kompetensi dasar Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dalam proses perancangan arsitektur melalui pendekatan studi kasus pada dua proyek berbeda, yaitu perancangan rumah tinggal Pakuwon Indah Surabaya dan rumah tinggal Kertajaya Indah Timur Surabaya. Proyek pertama merancang rumah tinggal yang juga berfungsi sebagai private café dan ruang doa dengan pendekatan konsep arsitektur biofilik. Lokasi di Pakuwon Indah dipilih berdasarkan preferensi klien dan potensi pengembangan kawasan. Desain berfokus pada arsitektur tropis serta pemilihan material yang mendukung kesehatan dan kenyamanan penghuni. Proyek kedua merancang rumah tinggal di Kertajaya Indah Timur dengan tantangan lahan terbatas dan kebutuhan ruang yang kompleks. Desain diarahkan pada konsep modern minimalis dengan pengaturan ruang yang efisien, termasuk strategi agar ruang utama tidak menempel pada batas lahan serta solusi inovatif dalam menghadapi keterbatasan tapak. Melalui penerapan 13 kompetensi dasar IAI pada kedua studi kasus ini, laporan ini menunjukkan bahwa seluruh kompetensi telah berhasil dicapai dalam proses perancangan, menghasilkan solusi desain yang memenuhi aspek fungsional, estetika, keberlanjutan lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup penggun

    Arsitektur dan Sistem Sensorik: Aplikasi Neuroarchitecture dalam Sekolah Dasar Penyandang Autisme

    No full text
    Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau yang umum disebut dengan autisme merupakan suatu gangguan saraf yang kompleks dimana penyandangnya memiliki gangguan pada input sensorik mereka. Hal tersebut menyebabkan mereka memiliki suatu perilaku khusus sehingga mereka kesusahan dalam bersosialisasi dan belajar. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah fasilitas pembelajaran yang dirancang secara khusus untuk mengakomodasi kebutuhan sensorik mereka, guna menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman dan mendukung perkembangan mereka. Dalam proses perancangan, dilakukan analisis dan identifikasi terkait karakteristik penyandang autisme serta identifikasi sistem sensorik yang mempengaruhinya. Evidence-based design digunakan sebagai metode dalam pencarian data untuk meningkatkan ketepatan dalam menganalisis pengguna dengan mencari bukti-bukti terbaru. Hasil studi menunjukkan bahwa penyandang autisme umumnya terbagi menjadi 2 jenis, yaitu hiposensori (kurang peka dalam merespon input sensorik) dan hipersensori (terlalu peka dengan input sensorik). Sistem sensorik utama yang menjadi perhatian dalam rancangan kali ini adalah vestibular, propioseptif, visual, auditori, dan taktil. Setiap sistem sensorik direspon melalui elemen arsitektur, mulai dari tapak, massa, hingga interior. Elemen-elemen ini disusun dan diolah secara khusus untuk memenuhi kebutuhan sensorik penyandang autisme, sehingga mendukung terciptanya ruang belajar yang aman, nyaman, dan adaptif terhadap berbagai kondisi sensorik pengguna. ======================================================================================================================== Autistic Spectrum Disorder (ASD), commonly referred to as autism, is a complex neurological disorder in which individuals experience sensory processing difficulties. This leads to distinctive behaviors that make it challenging for them to socialize and learn. Therefore, a specially designed learning facility is needed to accommodate their sensory needs, creating a more comfortable learning environment that supports their development. During the design process, an analysis and identification of the characteristics of individuals with autism were conducted, along with an identification of the sensory systems that influence them. An evidence-based design was used as a data collection method to enhance user analysis accuracy by seeking the latest evidence. The study results indicate that individuals with autism generally fall into two categories: hyposensory (less sensitive to sensory input) and hypersensory (overly sensitive to sensory input). This design's primary sensory systems of focus are the vestibular, proprioceptive, visual, auditory, and tactile systems. Each sensory system is addressed through architectural elements, from the site, mass, to the interior. These elements are specifically designed and processed to meet the sensory needs of individuals with autism, thereby supporting the creation of a safe, comfortable, and adaptive learning space tailored to various sensory conditions of users

    Pemanfaatan Data Akustik Bawah Air untuk Identifikasi Kondisi Dasar Laut Dalam Rangka Perencanaan Jalur Pipa Bawah Laut

    No full text
    Perencanaan jalur pipa bawah laut adalah suatu aspek yang sangat penting dalam pengembangan insfrastruktur kelautan, terutama dalam mendukung minyak dan gas. Perencanaan ini penting untuk memastikan keamanan, efisiensi, dam juga keberlanjutan instalasi pipa bawah laut. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan jalur pipa bawah laut melalui integrasi data multibeam echosounder, backscatter MBES, dan sub bottom profiler (SBP). Data MBES bertujuan untuk memberikan informasi topografi dan kedalaman yang lebih akurat. Backscatter bertujuan untuk memetakan permukaan dasar laut dan mendesteksi adanya obstruksi, dan SBP bertujuan untuk mengidentifikasi struktur lapisan bawah dasar laut. Data tersebut akan dioverlay untuk menentukan jalur mana saja yang paling baik untuk dilalui pipa bawah laut. Proses analisis jalur dipengaruhi oleh beberapa aspek, seperti jenis sedimen, kemiringan dan topografi dasar laut, kedalaman, serta keberadaan objek yang dapat memengaruhi instalasi pipa bawah laut. Pada area penelitian, kedalaman perairan berkisar antara 0 meter hingga 70 meter yang tergolong perairan dangkal dengan tingkat risiko tinggi karena pengaruh gelombang dan aktifitas pelayaran. Kemiringan pada area penelitian berkisar 3% hingga 8%, atau setara dengan sudut kemiringan 1,72° hingga 4,57°. Kondisi ini tergolong relatif landai dan masih memenuhi kriteria aman untuk pelaksanaan instalasi pipa bawah laut secara teknis. Berdasarkan hasil nilai hambur balik MBES, sebaran jenis sedimen di dominasi oleh lumpur lunak dengan nilai intesitas kurang dari -35 dB dan pada area penelitian hanya terdapat satu lapisan sedimen di bawah seabed. Objek yang terdapat pada area penelitian hanya terdiri dari kabel laut dan juga beberapa terumbu karang. Penetuan jalur secara otomatis menggunakan metode analisis cost distance yang dapat menentukan jalur terefisien berdasarkan parameter yang telah ditentukan. Jalur akhir yang dihasilkan dari proses analisis cost distance memiliki panjang total 966,43 meter. Dari total panjang tersebut, segmen pipa yang dirancang untuk terkubur berada di dua lokasi, yaitu yaitu sepanjang 122,472 meter di pesisir Pulau Maitara dan 230,81 meter di pesisir Pulau Tidore. Jalur ini dipilih karena menunjukkan rasio cost per meter terkecil dibandingkan alternatif lainnya, yaitu 2,04. =========================================================================================================================================== Subsea pipeline planning is a very important aspect of marine infrastructure development, especially in support of oil and gas. This planning is important to ensure the safety, efficiency, and sustainability of subsea pipeline installations. This research aims to plan the subsea pipeline through the integration of multibeam echosounder, MBES backscatter, and sub bottom profiler (SBP) data. MBES data aims to provide more accurate topographic and depth information. Backscatter aims to map the seafloor surface and detect obstructions, and SBP aims to identify the structure of the seabed. The data will be overlaid to determine which is the best path for the subsea pipeline to take. The path analysis process is influenced by several aspects, such as sediment type, seabed slope and topography, depth, and the presence of objects that can affect subsea pipeline installations. In the research area, the water depth ranges from 0 meters to 70 meters which is classified as shallow water with a high level of risk due to the influence of waves and shipping activities. The slope in the study area ranges from 3% to 8%, or equivalent to a slope angle of 1.72° to 4.57°. This condition is relatively gentle and still meets the safe criteria for the implementation of subsea pipeline installations technically. Based on the results of the backscatter value of MBES, the distribution of sediment types is dominated by soft mud with an intensity value of less than -35 dB and in the research area there is only one sediment layer under the seabed. Objects contained in the research area consist only of sea cables and also some coral reefs. Automatic path determination using the cost distance analysis method can determine the most efficient path based on predetermined parameters. The final path resulting from the cost distance analysis process has a total length of 966.43 meters. Of this total length, the pipe segments designed to be buried are in two locations, namely 122.472 meters in the coastal area of Maitara Island and 230.81 meters on the coast of Tidore Island. This route was chosen because it shows the smallest cost per meter ratio compared to other alternatives, which is 2.04

    Optimasi Sistem Komunikasi Milimeter Wave MIMO dengan Coordinated Multipoint dan Reconfigurable Intelligent Suraface Berbasis Deep Reinforcement Learning

    No full text
    Peningkatan permintaan dan variasi pengguna menimbulkan tantangan signifikan bagi jaringan seluler konvensional. Salah satu solusi adalah dengan menambahkan base station (BS) berdaya rendah, tetapi ini dapat menyebabkan interferensi antar sel (ICI). Teknik Coordinated Multi-Point (CoMP) telah diteliti bisa untuk mengatasi ICI dengan berbagi informasi saluran antar BS melalui tautan backhaul berkecepatan tinggi memanfaatkan teknik beamforming yang tepat. Namun, dalam komunikasi mmWave yang rentan terhadap hambatan, CoMP dengan beamforming tidak selalu menjamin keandalan jaringan. Oleh karena itu, muncul konsep Reconfigurable Intelligent Surfaces (RIS) yang dapat meningkatkan kapasitas dan cakupan sistem dengan mengarahkan phase shift ke arah yang diinginkan tanpa memerlukan daya tambahan untuk pemrosesan sinyal sekaligus mengubah hambatan berupa pantulan yang fungsional ini dipertimbangkan dalam membantunya. Penelitian ini mengusulkan optimasi dengan memanfaatkan teknik Deep Reinforcement Learning (DRL) untuk optimasi RIS dan Block Diagonalization (BD) untuk bagian precoding dalam sistem RIS-CoMP-MU-MIMO dengan mempertimbangkan lokasi dan efek lingkungan tropis untuk memaksimalkan kapasitas kanal dan sumrate. Masalah optimasi ini kompleks karena melibatkan beamforming aktif dari BS dan beamforming pasif dari RIS sehingga dilakukan Alternating Optimization (AO) hingga mendapat hasil konvergen. Hasil penelitian membuktikan bahwa dengan perbandingan dari penggunaan CoMP, CoMP-RIS dengan phase shift random, dan CoMP-RIS dengan phase shift optimal membuktikan bahwa hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa lokasi maupun efek lingkungan yang ada dalam performa komunikasi kapasitas kanal dan sumrate. =================================================================================================================================== The increasing demand and diversity of users pose significant challenges for conventional cellular networks. One potential solution is to add low-power base stations (BS), but this can lead to inter-cell interference (ICI). Coordinated Multi-Point (CoMP) techniques have been explored to mitigate ICI by enabling BSs to share channel information via high-speed backhaul links and utilizing appropriate beamforming strategies. However, in millimeter-wave (mmWave) communications, which are highly susceptible to blockages, CoMP with beamforming does not always guarantee network reliability. To address this, the concept of Reconfigurable Intelligent Surfaces (RIS) has emerged, which can enhance system capacity and coverage by directing phase shifts toward desired directions without requiring additional power for signal processing. RIS can transform environmental reflections into functional components that assist communication. This research proposes an optimization framework that leverages Deep Reinforcement Learning (DRL) for RIS configuration and Block Diagonalization (BD) for precoding in a RIS-CoMP-MU-MIMO system, considering user location and tropical environmental effects to maximize channel capacity and sum rate. The optimization problem is complex due to the joint involvement of active beamforming at the BS and passive beamforming at the RIS. Therefore, an Alternating Optimization (AO) approach is employed until convergence is achieved. The results demonstrate that, compared to standard CoMP and CoMP-RIS with random phase shifts, the proposed CoMP-RIS system with optimally tuned phase shifts shows significant performance improvements in terms of channel capacity and sum rate across various locations and environmental conditions

    Perancangan Mini Web Series Wisata Banyuwangi Dengan Genre Drama Sebagai Upaya Promosional Pariwisata

    No full text
    Perkembangan sektor pariwisata di Indonesia yang semakin pesat mendorong perlunya strategi promosi yang inovatif dan adaptif terhadap media digital. Banyuwangi sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan alam dan budaya berpotensi tinggi, memerlukan pendekatan promosi yang kreatif dan relevan untuk menjangkau generasi audiens masa kini. Mini web series sebagai bentuk konten audio-visual berbasis cerita menjadi salah satu alternatif media promosi yang mampu menyampaikan daya tarik destinasi secara lebih emosional dan komunikatif. Penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah mini web series bertema drama sebagai media promosi pariwisata Banyuwangi yang mampu memperkenalkan keunggulan daerah secara visual dan naratif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi lapangan, studi literatur, studi pembanding, serta wawancara dengan narasumber ahli dan pemangku kepentingan di sektor pariwisata. Seluruh data dianalisis secara deskriptif dan diimplementasikan dalam tahapan perancangan yang mencakup penyusunan cerita, penulisan naskah, dan pembuatan papan cerita visual. Hasil akhir dari penelitian ini adalah mini web series sepuluh episode berdurasi pendek yang mengangkat nilai budaya dan lanskap Banyuwangi melalui pendekatan dramatik. Evaluasi terhadap hasil karya dilakukan melalui uji audiens dan penilaian stakeholder, dengan harapan karya ini dapat menjadi strategi promosi yang efektif dan memperkuat identitas Banyuwangi sebagai destinasi pariwisata unggulan. ==================================================================================================================================================================================== Indonesia's rapid growth of tourism sector requires innovative digital promotion to connect with contemporary audiences. For culturally rich regions like Banyuwangi, traditional marketing is insufficient. This study explores the use of a mini web series as a narrative-driven medium capable of conveying a destination's appeal in a more emotional and communicative manner, effectively engaging modern viewers. This research aimed to design a drama-themed mini web series to visually and narratively introduce Banyuwangi's distinctive attributes. A qualitative methodology was adopted, utilizing data from field observations, literature reviews, comparative analysis, and interviews with tourism experts and stakeholders. The collected data were analyzed descriptively to guide the core design phases: story development, scriptwriting, and visual storyboarding. The final output is a ten-episode mini web series that uses a dramatic narrative to highlight Banyuwangi's cultural values and landscapes. The project was evaluated through audience reception and stakeholder assessments to gauge its effectiveness. The series is intended to serve as a potent promotional strategy that strengthens Banyuwangi's brand identity as a premier tourism destination

    Perancangan Headquarters Office: 'M.U.G Office, Sidoarjo' Dan Perancangan Hunian 'Rumah Tinggal Di Malang'

    No full text
    Laporan ini mengemukakan rancangan dua proyek arsitektur sebagai bagian dari proses akademik dalam Program Pendidikan Profesi Arsitek (PPAr), Departemen Arsitektur, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Proyek pertama adalah perancangan kantor pusat M.U.G Office di Sidoarjo, yang dirancang untuk menaungi tiga divisi bisnis dalam satu bangunan kolaboratif dan multifungsi. Desain arsitektural difokuskan pada penciptaan ruang kerja yang efisien, responsif terhadap iklim tropis, dan mencerminkan karakter perusahaan melalui pendekatan bentuk, material, serta pengolahan fasad yang adaptif. Proyek ini juga mempertimbangkan aspek teknis seperti sistem struktur, MEP, serta penerapan standar regulasi nasional, termasuk SNI dan peraturan dari Kementerian PUPR. Proyek kedua adalah hunian tinggal di Malang yang menekankan pendekatan arsitektur tropis dan kenyamanan termal melalui desain pasif. Analisis tapak, kebutuhan pengguna, serta kondisi lingkungan lokal menjadi dasar dalam merumuskan strategi perancangan yang efisien dan kontekstual. Kedua proyek memperlihatkan pemahaman integratif terhadap konsep keberlanjutan, peraturan bangunan, serta hubungan manusia dan ruang, sekaligus mencerminkan kompetensi profesional arsitek dalam menyusun solusi desain yang fungsional, estetis, dan bertanggung jawab secara sosial maupun ekologis. ======================================================================================================================================== This report presents two architectural design projects developed as part of the academic process in the Professional Program in Architecture (PPAr), Department of Architecture, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. The first project is the design of M.U.G Headquarters Office in Sidoarjo, envisioned as a collaborative and multifunctional workplace that accommodates three business divisions under a single roof. The architectural approach focuses on creating an efficient, climate-responsive office environment that reflects the company's identity through its form, material articulation, and adaptive facade treatment. The design also incorporates structural systems, MEP integration, and adheres to national building codes and regulations, including SNI and directives issued by the Ministry of Public Works. The second project is a residential house in Malang, emphasizing tropical architectural strategies and thermal comfort through passive design principles. Site analysis, user needs, and local environmental factors form the foundation for a contextual and efficient spatial response. Both projects demonstrate integrative thinking in sustainability, code compliance, and human centered spatial design, while showcasing the author’s professional competency in delivering architectural solutions that are functional, aesthetically grounded, and socially as well as ecologically responsible

    25,191

    full texts

    49,971

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ITS Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇