49971 research outputs found
Sort by
Analisis Struktur Frame Railway Measuring Equipment 2.0 Dengan Metode Finite Element Analysis
Pertumbuhan sektor perkeretaapian menjadi fokus utama dalam pengembangan infrastruktur transportasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu upaya penting dalam menjaga kualitas jalur kereta api adalah pengukuran secara berkala menggunakan Railway Measuring Equipment 2.0. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur frame dari Railway Measuring Equipment 2.0 guna mengurangi massa alat tanpa mengorbankan kekuatan struktural, dengan pendekatan metode Finite Element Analysis. Frame lama yang terbuat dari besi kanal C memiliki bobot 24 kg dan dianggap terlalu berat untuk operasional lapangan. Desain baru dimodelkan menggunakan Autodesk Inventor dan dianalisis dalam ANSYS dengan tiga variasi material: ASTM A500, Aluminium 6063, dan Stainless Steel 304. Metode FEA digunakan untuk menganalisis tegangan Von Mises, deformasi, safety factor. Setelah dilakukan penelitian, frame lama memiliki nilai tegangan Von Mises maksimum 2,956 MPa (pembebanan statis) dan 3,9331 MPa (akselerasi), sedangkan frame baru menghasilkan nilai tegangan Von Mises: untuk ASTM A500 sebesar 4,8935 MPa (statis) dan 7,1855 MPa (akselerasi), Al 6063 sebesar 6,3643 MPa (statis) dan 7,9358 Mpa (akselerasi), serta SS 304 sebesar 4,8923 MPa (statis) dan 7,2105 MPa (Akselerasi). Semua nilai tersebut jauh di bawah tegangan luluh material yang digunakan. Deformasi total frame lama adalah 0,00617 mm (statis) dan 0,0100 mm (akselerasi) dan pada frame baru A500 (0,10074 mm statis, 0,048757 mm akselerasi), Al6063 (0,10942 mm statis, 0,12627 mm akselerasi), dan SS304 (0,04278 mm statis, 0,0502 mm akselerasi). Nilai bending stiffnes frame lama sebesar 694,88 kN/mm, sementara desain baru memiliki nilai kekakuan 452,38 kN/mm (ASTM A500), 351,59 kN/mm (Al 6063), dan 445,26 kN/mm (SS 304). Dari segi pengurangan massa, frame baru memberikan pengurangan yang signifikan, yaitu 68,99% untuk ASTM A500, 84,53% untuk Al 6063, dan 68,56% untuk SS 304.
========================================================================================================================================
The growth of the railway sector has become a key focus in the development of transportation infrastructure in various countries, including Indonesia. One important effort to ensure railway track quality is periodic measurement using Railway Measuring Equipment 2.0. This study aims to analyze the frame structure of the Railway Measuring Equipment 2.0 in order to reduce the overall mass of the device without compromising structural strength, using the Finite Element Analysis (FEA) method. The old frame, made from C-channel steel, weighed 24 kg and was deemed too heavy for field operations. A new frame design was modeled using Autodesk Inventor and analyzed in ANSYS with three material variations: ASTM A500, Aluminum 6063, and Stainless Steel 304. The FEA method was used to evaluate Von Mises stress, deformation, and safety factor. The old frame showed a maximum Von Mises stress of 2.956 MPa under static loading and 3.9331 MPa under acceleration. In contrast, the new frame generated higher stresses: 4.8935 MPa (static) and 7.1855 MPa (acceleration) for ASTM A500; 6.3643 MPa and 7.9358 MPa for Aluminum 6063; and 4.8923 MPa and 7.2105 MPa for SS 304. These values were all far below the yield strength of each material. Total deformation in the old frame was 0.00617 mm (static) and 0.0100 mm (acceleration), while in the new frame: ASTM A500 showed 0.10074 mm (static) and 0.048757 mm (acceleration); Aluminum 6063 showed 0.10942 mm (static) and 0.12627 mm (acceleration); and SS 304 showed 0.04278 mm (static) and 0.0502 mm (acceleration). The bending stiffness of the old frame was 694.88 kN/mm, while the new designs achieved 452.38 kN/mm (ASTM A500), 351.59 kN/mm (Al 6063), and 445.26 kN/mm (SS 304). In terms of weight reduction, the new frames showed significant decreases: 68.99% for ASTM A500, 84.53% for Al 6063, and 68.56% for SS 304
Desain Kendaraan Lapis Baja Ringan All Terrain High Mobility untuk Kebutuhan Evakuasi Medis dalam Medan Tempur
Ancaman di medan konflik yang semakin memanas saat ini, tentunya menjadi kekhawatiran bagi suatu negara yang berdaulat, terutama di Indonesia saat ini yang dimana Gerakan separatisme dan kelompok kriminal bersenjata menjadi suatu peristiwa yang selalu menjadi topik hangat di masyarakat hingga saat ini. Gerakan ini dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka yang dimana gerakan tersebut ingin memisahkan diri dari Indonesia dengan melakukan perlawanan bersenjata. Dalam melakukan observasi tersebut khususnya dari pihak militer yaitu dalam upaya penyelesaian konflik di wilayah tersebut sering terjadi korban luka baik dari pihak sipil maupun dari pihak aparat khususnya Polri dan TNI. Dan faktor lain dengan kondisi medan yang sulit di wilayah tersebut sering menghambat proses mobilitas pasukan dalam menyelamatkan dan mengevakuasi korban tanpa diangkut oleh kendaraan yang memadai. Indonesia sendiri memiliki alutsista darat yang memiliki fungsi dalam mengangkut korban untuk evakuasi medis korban dari medan tempur seperti Anoa 2 Ambulance (Medevac Personel Carrier) dan Stormer ABA (Armored Battlefied Ambulance). Namun tidak semua alutsista tersebut dapat melalui medan ekstrim di wilayah pedalaman Papua. Oleh karena itu alutsista tersebut masih dapat digunakan di daerah Papua yang memiliki medan yang tidak terlalu menanjak dan kondisi jalan yang sempit dan hal tersebut memerlukan pertimbangan rumit dimana kendaraan tersebut menambah kesulitan dan kerugian finansial baik dari pihak aparat maupun pemerintah. Sehingga dari pemaparan studi kasus tersebut, penulis melakukan riset dan observasi mengenai permasalahan tersebut dengan tujuan mengembangkan dan memfasilitasi aparat militer dalam mewujudkan keselamatan nyawa dari para personil TNI dan Polri yang bertugas dalam menjaga keutuhan, kedaulatan NKRI dan pulang dengan selamat. Aspek lainnya yaitu kemudahan perawatan, peralatan pertolongan pertama, dan komunikasi menjadi hal yang patut dipertimbangkan dalam tercapainya proses evakuasi yang baik dan sukses.
============================================================================================================================================
The escalating threats in conflict zones today have become a significant concern for sovereign nations, including Indonesia, One of the ongoing critical issues is the separatist movement and armed criminal groups, which remain a hot topic discussion in society. The Free Papua Movement (Organisasi Papua Merdeka) seeks to secede from Indonesia through armed resistance. Observations, particularly from the military side in resolving conflicts in these regions, often highlight casualties, both civilaian and among security forces sich as the National Police (Polri) and the Indonesian Armed Forces (TNI). Additionally, the challenging terrain in this areas frequently hampers the mobility of troops in rescuing and evacuating casualties without proper vehicles. Indonesia posseses land defense equipment designed for medical from combat zones, such as Anoa 2 Ambulance (Medevac Personnel Carrier) and Stormer Armored Battlefield Ambulance (ABA). However, not all of these vehicles are capable of traversing the extreme terrains of Papua’s remote regions. Consequently, these assets are generally limited to areas with less step terrain and relatively narrow roads, posing significant logistical challenges and financial burdens for both the security and the government. Given this case study, the author conducted research and observations to address these issues with the aim of developing and equipping military personnel to ensure the safety and survival of TNI and Polri personnel tasked with safeguarding Indonesia’s sovereignty and unity. Key considerations also include ease of maintenance, availability of the first aid equipment, and effective communication system to achieve successful evacuation operations
Studi Numerik Performa Airfoil EPPLER 420 Sebagai Cascade Winglet Pada Front Wing Mobil Sapuangin Speed 8
Pada tahun 2025, tim Sapuangin ITS dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember berpartisipasi dalam kompetisi FSAE Japan untuk kategori internal combustion engine. Salah satu jenis perlombaan pada FSAE Japan adalah dynamic event. Dynamic event merupakan serangkaian balapan dengan berbagai jenis lintasan yang secara tidak langsung mendorong banyak tim untuk mengembangkan mobil mereka dengan menambahkan perangkat aerodinamika. Salah satu perangkat yang umum digunakan adalah front wing yang sering dilengkapi dengan Front Cascade Winglets. Pemanfaatan front wing dengan cascade winglets pada mobil FSAE bertujuan untuk menghasilkan gaya tekan ke bawah (down force). Down force ini meningkatkan grip ban mobil ke permukaan lintasan. Selain itu, front wing berperan penting dalam mengarahkan aliran udara dari bagian depan mobil ke komponen-komponen lain di belakangnya..
Studi ini menggunakan metode analisis numerik dua dimensi untuk menyelidiki desain front wing mobil Sapuangin. ANSYS Fluent dimanfaatkan untuk mensimulasikan aliran udara yang bersifat steady dan incompressible. Konfigurasi geometri yang dianalisis meliputi desain standar front wing mobil Sapuangin Speed 8 serta desain yang telah dimodifikasi dengan penambahan airfoil Cascade Winglets. Dalam simulasi ini, divariasikan gap antara elemen utama front wing dan elemen pertama cascade dengan nilai 40, 50, 60, dan 70 mm. Selain itu, sudut serang (angle of attack) elemen kedua cascade juga divariasikan pada 3, 6, 9, dan 12 derajat. Pemodelan turbulensi aliran udara dilakukan menggunakan model transition SST. Kondisi batas yang diterapkan dalam simulasi adalah velocity inlet (13,89 m/s), pressure outlet , no-slip moving wall pada ground, dan wall untuk permukaan atas dan permukaan benda uji. Meshing menggunakan jenis Structured-Mesh Hexahedral.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi cascade dengan gap 70 mm menghasilkan total gaya angkat tertinggi sebesar -43,428 N, dengan kontribusi terbesar berasal dari main element dan first cascade. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya efek nozzle yang optimal di antara lower surface first cascade dan upper surface main element, yang mempercepat aliran dan menghasilkan tekanan rendah stabil. Gap di bawah 70 mm mendapatkan efek nozzle terlalu besar, sehingga downforce pada airfoil main element melemah. Pada variasi AOA second cascade, sudut serang 12° menghasilkan konfigurasi paling efisien dengan downforce tertinggi dan wake paling tipis. Hasil FL/FD terbaik juga diperoleh pada konfigurasi ini yaitu sebesar 4,09 atau meningkat 5% dari variasi base design. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengaturan gap dan sudut serang pada cascade winglet memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan performa aerodinamika front wing pada mobil Formula Student.
=======================================================================================================================================
In 2025, the Sapuangin ITS team from Institut Teknologi Sepuluh Nopember participated in the FSAE Japan competition in the internal combustion engine category. One of the race types in FSAE Japan is the dynamic event. This dynamic event consists of a series of races on various types of tracks, which indirectly encourages many teams to enhance their vehicles by adding aerodynamic devices. One commonly used device is the front wing, often equipped with Front Cascade Winglets. The use of front wings with cascade winglets on FSAE cars is intended to generate downforce, which increases the tire grip on the track surface. In addition, the front wing plays a critical role in directing airflow from the front of the car toward other downstream components.
This study utilizes a two-dimensional numerical analysis method to investigate the front wing design of the Sapuangin car. ANSYS Fluent is used to simulate steady and incompressible airflow. The geometrical configurations analyzed include the standard front wing design of the Sapuangin Speed 8 car, as well as a modified design incorporating cascade winglet airfoils. In the simulation, the gap between the main front wing element and the first cascade element is varied at 40, 50, 60, and 70 mm. Additionally, the angle of attack (AOA) of the second cascade element is varied at 3°, 6°, 9°, and 12°. Turbulence modeling is performed using the Transition SST model. The boundary conditions applied in the simulation include a velocity inlet (13,89 m/s), pressure outlet, no-slip moving wall on the ground, and wall boundaries on the top and object surfaces. The meshing uses a structured hexahedral mesh.
The results of the study show that the cascade configuration with a 70 mm gap produces the highest total lift force of –43,428 N, with the largest contributions coming from the main element and the first cascade. This is due to the optimal nozzle effect formed between the lower surface of the first cascade and the upper surface of the main element, which accelerates the flow and generates a stable low-pressure region. Gaps below 70 mm produce an excessively strong nozzle effect, which reduces the downforce on the main element. In the variation of the second cascade’s angle of attack (AOA), an AOA of 12° provides the most efficient configuration, achieving the highest downforce with the thinnest wake. The best FL/FD results were also obtained in this configuration, namely 4,09 or an increase of 5% from the base design variation.. Thus, it can be concluded that the adjustment of the gap and angle of attack in the cascade winglet has a significant influence on improving the aerodynamic performance of the front wing in Formula Student cars
Pemanfaatan Tetes Tebu Sebagai Bahan Tambah (Admixture) Pada Campuran Mortar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan tetes tebu terhadap karakteristik mortar, meliputi nilai flow diameter, waktu ikat pasta semen, kuat tekan mortar, dan suhu hidrasi mortar, serta membandingkan dengan mortar yang menggunakan superplasticizer dan mortar tanpa bahan tambah (kontrol). Variasi tetes tebu yang digunakan adalah 0%, 0,25%, 0,5%, 0,75%, dan 1% dari berat semen, serta superplasticizer tipe G sebanyak 1% dari berat semen. Campuran mortar menggunakan jenis semen OPC (Ordinary Portland Cement) dan PCC (Portland Composite Cement) dengan faktor air semen (FAS) 0,4 dan 0,5. Uji kuat tekan dilakukan pada umur 7, 28, dan 56 hari, sementara uji suhu hidrasi dilakukan dari mortar segar hingga 72 jam setelah pencampuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tetes tebu mampu meningkatkan nilai flow diameter mortar dari 100 mm (kontrol) menjadi maksimum 155 mm pada variasi mortar PCC FAS 0,5 dengan dosis tetes tebu 1%. Nilai waktu ikat mengalami kecenderungan akselerator pada dosis rendah (0,25%-0,5%) dan retarder pada dosis tinggi (0,75-1%). Pada pengujian kuat tekan, variasi mortar OPC FAS 0,5 dengan penambahan 0,5% tetes tebu menghasilkan kuat tekan maksimum sebesar 41,24 MPa pada umur 56 hari, lebih tinggi dibandingkan mortar dengan superplasticizer (40,77 MPa) maupun mortar kontrol (33,96 MPa). Selain itu, penambahan tetes tebu mampu menurunkan suhu puncak hidrasi hingga 6°C dibandingkan variasi tanpa bahan tambah (kontrol), menunjukkan potensi efektivitasnya sebagai retarder alami. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa tetes tebu berpotensi sebagai bahan tambah alternatif yang mampu meningkatkan workability, mengatur waktu ikat, memperbaiki kuat tekan mortar, serta menurunkan suhu hidrasi. Secara aspek ekonomi dan lingkungan, penggunaan tetes tebu berpotensi sebagai bahan tambah alternatif dan menjadi bahan konstruksi bernilai yang mendukung pengembangan material konstruksi berkelanjutan di Indonesia.
=============================================================================================================================================
This study aims to investigate the effect of sugarcane molasses as an admixture on the characteristics of mortar, including flow diameter, cement paste setting time, mortar compressive strength, and hydration temperature. The results were compared to mortars containing superplasticizer and control specimens without any admixture. The sugarcane molasses dosage varied from 0%, 0,25%, 0,5%, 0,75%, to 1% by cement weight, while a Type G superplasticizer was used at 1%. The mortar mixtures employed Ordinary Portland Cement (OPC) and Portland Composite Cement (PCC) with water-to-cement ratios (w/c) of 0,4 and 0,5. Compressive strength tests were conducted at 7, 28, and 56 days, while hydration temperature measurements were taken for up to 72 hours after mixing. The results indicated that the addition of molasses increased the flow diameter from 100 mm (control) to a maximum of 155 mm in the PCC w/c 0.5 mixture with 1% molasses. The setting time showed an accelerating tendency at lower doses (0,25%–0,5%) and a retarding effect at higher doses (0,75%–1%). The highest compressive strength was achieved by the OPC w/c 0,5 mixture with 0,5% molasses, reaching 41,24 MPa at 56 days, outperforming both the superplasticizer (40,77 MPa) and the control (33,96 MPa). Moreover, the use of molasses reduced the peak hydration temperature by 6°C compared to the control mixture, indicating its potential as a natural retarder. In conclusion, sugarcane molasses shows promise as an alternative admixture that enhances mortar workability, regulates setting time, improves compressive strength, and reduces hydration temperature. From both economic and environmental perspectives, its application contributes to the development of sustainable construction materials in Indonesia
Pengaruh Safety Leadership Dan Safety Knowledge, Terhadap Safety Attitude Dan Safety Citizenship Behavior Di PT KAI (PERSERO)
Kereta api merupakan moda transportasi penting bagi mobilitas harian penumpang dan distribusi barang. Peningkatan frekuensi perjalanan dan padatnya jadwal operasional turut menambah beban kerja petugas terutama pada pekerjaan operasional dan pemeliharaan harian perkeretapian yang memiliki tingkat resiko yang tinggi sehingga kecelakaan kerja sering kali menimpa para pekerja kereta api selama menjalankan tugasnya. Kecelakaan kerja ini sebagian besar disebabkan oleh rendahnya perilaku keselamatan dari para pekerja. Salah satu cara efektif membangun budaya keselamatan tidak cukup hanya dengan aturan, tetapi juga perlu perilaku keselamatan sukarela yang dilakukan melebihi tuntutan pekerjaan formal (safety citizenship behavior) untuk peduli dan terlibat dalam menjaga keselamatan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana perilaku keselamatan sukarela pekerja dipengaruhi oleh kepemimpinan keselamatan (safety leadership), pengetahuan keselamatan (safety knowledge) serta sikap keselamatan (safety attitude). Selain itu, penelitian ini juga melihat hubungan antara variabel work engagement dan risk perception dengan safety leadership dan safety knowledge. Sebanyak 60 karyawan tetap PT KAI (Persero) menjadi responden, dan dianalisis menggunakan metode structural equation modeling (SEM) dengan software SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa work engagement berpengaruh signifikan terhadap safety leadership, risk perception berpengaruh signifikan terhadap safety knowledge. Selain itu, safety leadership dan safety knowledge berpengaruh signifikan terhadap safety attitude, serta safety knowledge dan safety attitude berpengaruh signifikan terhadap safety citizenship behavior. Namun, safety leadership tidak secara langsung mempengaruhi safety citizenship behavior melainkan dimediasi oleh sikap keselamatan. Secara teoretis, temuan ini menekankan peran penting safety attitude sebagai mediator dalam mendorong perilaku keselamatan secara sukarela. Secara praktis, manajemen perlu meningkatkan keterlibatan karyawan dengan membentuk perwakilan keselamatan aktif di setiap unit kerja untuk menumbuhkan budaya keselamatan yang partisipatif dan berkelanjutan.
===========================================================================================================================================
Railways are an essential mode of transportation for daily passenger mobility and freight distribution. The increase in travel frequency and tight operational schedules has added to the workload of railway personnel, especially in daily operations and maintenance tasks, which are high risk. Consequently, railway workers often experience work-related accidents while on duty. These incidents are largely due to low levels of safety behavior among workers. Building a strong safety culture cannot rely on regulations alone, it also requires voluntary safety behaviors that go beyond formal job descriptions, known as safety citizenship behavior, where employees care and take initiative in maintaining workplace safety. This study aims to examine how workers’ voluntary safety behavior is influenced by safety leadership, safety knowledge, and safety attitude. It also explores the relationships between work engagement and risk perception with both safety leadership and safety knowledge. A total of 60 permanent employees of PT KAI (Persero) participated in this study, analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) via SmartPLS. The results show that work engagement significantly affects safety leadership, while risk perception significantly influences safety knowledge. Additionally, safety leadership and safety knowledge affect safety attitude, and safety knowledge and safety attitude affect safety citizenship behavior. However, safety leadership indirectly affects SCB, mediated by safety attitude. Theoretically, these findings emphasize the critical role of safety attitude as a mediator in promoting voluntary safety behavior. Practically, management should enhance employee engagement by establishing active safety representatives in each work unit to foster a participatory and sustainable safety cultur
Rancang Bangun Alat Ukur Terintegrasi Untuk Menghemat Waktu Pengambilan Data Lingkungan Dalam Audit Energi Di Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya
Konsumsi energi pada sektor bangunan di Indonesia menyumbang hingga 40% dari total energi tahunan, di mana sistem pendingin udara (AC) menyerap 50–60% dan sistem pencahayaan sekitar 7–8,56% dari total energi listrik gedung. Kondisi ini membebani jaringan listrik nasional dan memperbesar emisi gas rumah kaca. Audit energi menjadi langkah strategis dalam konservasi energi, namun pengambilan data lingkungan oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya masih konvensiona dengan menggunakan tiga alat ukur terpisah dan pencatatan manual, menyebabkan proses audit 31 kantor kecamatan dan 160 kelurahan berlangsung hingga 66 hari serta rentan kesalahan pencatatan. Penelitian ini merancang dan membangun alat ukur lingkungan terintegrasi berbasis Arduino Uno yang mampu mengukur suhu ruangan, kelembapan, intensitas cahaya, dan suhu keluaran AC. Sistem terdiri dari sensor AHT20, VEML7700, dan MLX90614-DCI, dilengkapi tampilan LCD realtime, tombol pengambil data, dan penyimpanan otomatis ke kartu SD dalam format CSV. Kalibrasi dilakukan dengan regresi linear terhadap alat referensi, menghasilkan akurasi 98,90%, 98,89%, 95,20%, dan 95,71%, dengan rata-rata 97,68% dan error relatif 2,32%. Pengujian efisiensi menunjukkan penurunan waktu pencatatan dari rata rata 349,5 detik menjadi 83,4 detik atau 3,85 kali lebih cepat, tanpa menurunkan ketelitian, dengan nilai RMSE suhu ±0,42 °C, kelembapan ruangan sebesarr ±0,91%RH, intensitas cahaya ruangan sebesar ±14,1 lux, dan suhu keluaran AC sebesar ±1,14 °C, seluruhnya berada di bawah ambang toleransi teknis. Alat ini terbukti menghemat waktu dan akurasi audit energi secara signifikan, serta berpotensi direplikasi untuk mendukung konservasi energi dan keberlanjutan sistem audit lingkungan di kota-kota lain di Indonesia.
====================================================================================================================================
Energy consumption in the building sector in Indonesia accounts for up to 40% of total annual energy, with air conditioning (AC) systems consuming 50–60% and lighting systems consuming around 7–8.56% of total building electricity. This situation strains the national power grid and increases greenhouse gas emissions. Energy audits are a strategic step in energy conservation, but the Surabaya City Environmental Agency's environmental data collection remains conventional, using three separate measuring devices and manual recording, resulting in the audit process for 31 sub-district offices and 160 villages taking up to 66 days and being prone to recording errors. This study designed and built an integrated environmental measurement device based on Arduino Uno capable for measuring room temperature, humidity, light intensity, and AC output temperature. The system consists of AHT20, VEML7700, and MLX90614-DCI sensors, equipped with a real-time LCD display, data acquisition buttons, and automatic storage to an SD card in CSV format. Calibration was performed using linear regression against a reference instrument, yielding accuracies of 98.90%, 98.89%, 95.20%, and 95.71%, with an average of 97.68% and a relative error of 2.32%. Efficiency testing showed a reduction in recording time from an average of 349.5 seconds to 83.4 seconds, or 3.85 times faster, without compromising accuracy, with an RMSE of ±0.42 °C for temperature, ±0.91%RH for room humidity, ±14.1 lux for room light intensity, and AC output temperature of ±1.14 °C, all within technical tolerance limits. This device has proven to significantly save time and improve energy audit accuracy, and has the potential to be replicated to support energy conservation and the sustainability of environmental audit systems in other cities across Indonesia
Desain Interior Hotel Grand Inna Tunjungan dalam Membangun Identitas Brand yang Kompetitif
Hotel Grand Inna Tunjungan sebagai ikon bersejarah Surabaya menghadapi tantangan signifikan dalam menarik segmen pasangan muda usia 20-35 tahun di tengah persaingan industri perhotelan yang semakin ketat. Penelitian ini bertujuan mengembangkan konsep desain interior yang mampu memperkuat identitas brand hotel melalui integrasi budaya lokal Jawa Timur dengan pendekatan Heritage Elegance. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data primer melalui observasi, wawancara mendalam, dan kuesioner terhadap 52 responden pasangan muda, serta data sekunder melalui studi literatur dan studi pembanding hotel sejenis. Perancangan difokuskan pada tiga area utama yaitu lobby, restoran, dan bar sebagai ruang pertama yang membentuk kesan awal pengunjung. Konsep Heritage Elegance mengintegrasikan elemen budaya maritim Surabaya seperti transformasi bentuk jala nelayan menjadi chandelier artistik, motif batik Grand Inna pada wall panel, dan interpretasi arsitektur candi Jawa Timur dalam elemen dekoratif. Material yang dipilih mengutamakan marmer, kayu solid, dan elemen lokal untuk menciptakan suasana mewah namun tetap autentik. Hasil validasi desain menunjukkan tingkat penerimaan yang sangat tinggi dengan 73,1% responden menyatakan sangat setuju terhadap konsep ruangan, 92,4% mengapresiasi integrasi budaya Jawa Timur, dan 98,5% menilai fasilitas tersusun dengan baik. Penelitian ini membuktikan bahwa hotel heritage dapat tetap kompetitif melalui pendekatan desain yang menggabungkan preservasi nilai historis dengan inovasi kontemporer, menciptakan pengalaman menginap yang bermakna bagi generasi milenial dan Gen Z sambil mendukung sustainable tourism dan pelestarian budaya lokal.
======================================================================================================================================
Grand Inna Tunjungan Hotel, as a historic landmark in Surabaya, faces significant challenges in attracting young couples aged 20-35 amid increasingly competitive hospitality industry. This research aims to develop an interior design concept that strengthens the hotel's brand identity through integration of East Java local culture using Heritage Elegance approach. The research methodology employs qualitative approach with primary data collection through observation, in-depth interviews, and questionnaires administered to 52 young couple respondents, complemented by secondary data through literature review and comparative studies of similar hotels. The design focuses on three main areas: lobby, restaurant, and bar as the first spaces that form visitors' initial impressions. The Heritage Elegance concept integrates Surabaya's maritime cultural elements such as transforming fishing net forms into artistic chandeliers, Grand Inna batik motifs on wall panels, and interpretation of East Java temple architecture in decorative elements. Selected materials prioritize marble, solid wood, and local elements to create luxurious yet authentic atmosphere. Design validation results demonstrate exceptionally high acceptance rates with 73.1% of respondents strongly agreeing with the room concept, 92.4% appreciating East Java cultural integration, and 98.5% evaluating facilities as well-organized. This research proves that heritage hotels can remain competitive through design approaches that combine historical value preservation with contemporary innovation, creating meaningful accommodation experiences for millennials and Gen Z while supporting sustainable tourism and local cultural preservation
Analisis Performa Algoritma Modifikasi RSA Standar dengan Montgomery Modular Multiplication
Perkembangan teknologi informasi di Indonesia memberikan banyak manfaat, tetapi juga meningkatkan risiko keamanan, seperti kebocoran data. Salah satu upaya untuk meningkatkan keamanan sistem data adalah melalui penerapan kriptografi, yang prosesnya didasarkan pada konsep matematika seperti teori bilangan, aljabar, analisis kompleksitas, dan verifikasi formal. RSA merupakan salah satu algoritma kriptografi asimetris. Nama RSA diambil dari inisial nama ketiga peneliti yang memperkenalkan algoritma ini, yaitu Ron Rivest, Len Adleman, dan Adi Shamir. Sistem keamanan RSA didasarkan pada kesulitan memfaktorkan bilangan prima besar. Meskipun tingkat keamanannya tinggi, RSA standar memiliki kelemahan dalam kecepatan proses penyandian yang relatif lebih lambat dibandingkan algoritma lain. Sehingga dilakukan modifikasi terhadap RSA dengan menerapkan Montgomery Modular Multiplication untuk meningkatkan performa kecepatan waktu eksekusi. Selain itu, efisiensi penggunaan memori juga perlu diperhatikan dalam sistem kriptografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis performa RSA standar dan RSA yang dimodifikasi menggunakan Montgomery Modular Multiplication, dengan fokus pada peningkatan waktu eksekusi dan penggunaan memori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa RSA dengan modifikasi Montgomery Modular Multiplication memiliki kecepatan proses enkripsi hingga 4.30 kali lebih cepat dibandingkan RSA standar. Dan pada proses dekripsi, algoritma RSA modifikasi ini juga menunjukkan keunggulan dengan kecepatan hingga 4,50 kali lebih cepat daripada RSA standar. Sementara itu, pada aspek penggunaan memori, proses enkripsi RSA modifikasi Montgomery Modular Multiplication menggunakan memori 1.014 kali lebih banyak dibanding RSA standar. Pada proses dekripsi, RSA modifikasi ini menggunakan memori 1.014 kali lebih efisien daripada RSA standar. Hal ini menunjukkan bahwa RSA modifikasi Montgomery Modular Multiplication berusaha mempertahankan penggunaan memori yang stabil dan tetap berada dalam kisaran yang sebanding dengan RSA standar.
====================================================================================================================================
The development of information technology in Indonesia provides many benefits, but also increases security risks, such as data leakage. One of the efforts to improve data system security is through the application of cryptography, whose process is based on mathematical concepts such as number theory, algebra, complexity analysis, and formal verification. RSA is one of the asymmetric cryptography algorithms. RSA is named after the initials of the three researchers who introduced the algorithm, Ron Rivest, Len Adleman, and Adi Shamir. RSA’s security is based on the difficulty of factoring large prime numbers. Despite its high level of security, standard RSA has a weakness in the speed of the encoding process which is relatively slower than other algorithms. Therefore, modifications are made to RSA by applying Montgomery Modular Multiplication to improve the performance of execution time speed. In addition, the efficiency of memory usage also needs to be considered in cryptographic systems. This research aims to analyze the performance of standard RSA and modified RSA using Montgomery Modular Multiplication, with a focus on improving execution time and memory usage. The results show that RSA with Montgomery Modular Multiplication modification has an encryption process speed up to 4.30 times faster than standard RSA. And in the decryption process, this modified RSA algorithm also shows superiority with speeds up to 4.50 times faster than standard RSA. Meanwhile, in the aspect of memory usage, the encryption process of Montgomery Modular Multiplication modified RSA uses 1.014 times more memory than standard RSA. In the decryption process, this modified RSA uses 1,014 times more efficient memory than the standard RSA. This shows that the Montgomery Modular Multiplication modified RSA tries to maintain a stable memory usage and remains in a comparable range to the standard RSA
Estimasi Remaining Useful Life (Rul) Pada Synchronus Gas Generator Dengan Kesalahan Airgap Menggunakan Model Degradasi Eksponensial
Gas-generator merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pembangkitan energi yang memerlukan pemeliharaan berkala agar tetap beroperasi secara optimal. Salah satu permasalahan yang sering terjadi adalah kegagalan insulasi pada kumparan, yang dapat menyebabkan airgap eccentricity dan berdampak pada penurunan performa sistem. Untuk mengantisipasi kegagalan tersebut, diperlukan sistem prediksi Remaining Useful Life (RUL) sebagai strategi predictive maintenance. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui simulasi synchronous machine dengan kapasitas 37 MVA, di mana resistansi kumparan secara bertahap ditingkatkan selama 61 hari sebagai representasi degradasi sistem. Proses analisis diawali dengan ekstraksi fitur domain waktu dari sinyal arus, dilanjutkan dengan evaluasi monotonisitas untuk menilai kestabilan tren fitur terhadap waktu. Fitur yang memiliki nilai monotonisitas lebih dari 0.5 dipilih sebagai fitur terbaik. Fitur-fitur tersebut kemudian direduksi dimensinya menggunakan Principal Component Analysis (PCA), sehingga menghasilkan Health Indicator (HI). Model dilatih menggunakan 24 hari pertama sebagai data pelatihan (prior) dan diperbarui menggunakan data hari ke-25 hingga ke-61 sebagai data pengujian (posterior). Kemudian dilakukan proses fitting dengan model eksponensial terhadap data health indicator hingga hari ke-30, diperoleh parameter θ sebesar 0,297 dan β sebesar 0,111. hari ke-50 menghasilkan parameter θ sebesar 0,377 dan β sebesar 0,095. Hari ke-60 menghasilkan parameter θ sebesar 0,256 dan β sebesar 0,104. Nilai garis dari estimasi RUL pada hari ke-40 menunjukan bahwa sisa masa pakai sistem adalah 21 hari dengan nilai kepercayaan 0.15. Selanjutnya pada hari ke-59 estimasi RUL menunjukan bahwa estimasi sisa masa pakai adalah 1 hari dengan nilai kepercayaan 0.17. Grafik probabilitas prediksi RUL dalam batas alpha 20% menunjukkan peningkatan performa model setelah hari ke-24, dari di bawah 0.4 menjadi stabil di atas 0.95 hingga hari ke-55.
==================================================================================================================
Gas generator is one of the important components in the energy generation system that requires periodic maintenance to continue operating optimally. One of the problems that often occurs is the failure of insulation in the coil, which can cause airgap eccentricity and have an impact on the decline in system performance. To anticipate this failure, a Remaining Useful Life (RUL) prediction system is needed as a predictive maintenance strategy. In this study, data were collected through synchronous machine simulation with a capacity of 37 MVA, where the coil resistance was gradually increased for 61 days as a representation of system degradation. The analysis process begins with the extraction of time domain features from the current signal, followed by monotonicity evaluation to assess the stability of the feature trend over time. Features that have a monotonicity value of more than 0.5 are selected as the best features. These features are then reduced in dimension using Principal Component Analysis (PCA), resulting in a Health Indicator (HI). The model is trained using the first 24 days as training data (prior) and updated using data from the 25th to 61st days as testing data (posterior). Then, an exponential model fitting process was performed on the health indicator data until the 30th day, resulting in θ parameters of 0.297 and β of 0.111. On the 50th day, θ parameters of 0.377 and β of 0.095 were obtained. On the 60th day, θ parameters of 0.256 and β of 0.104 were obtained.The line value of the RUL estimate on the 40th day shows that the remaining system life is 21 days with a confidence value of 0.15. Furthermore, on the 59th day, the RUL estimate shows that the estimated remaining life is 1 day with a confidence value of 0.17. The RUL prediction probability graph within the 20% alpha limit shows an increase in model performance after the 24th day, from below 0.4 to stable above 0.95 until the 55th day
Analisisis Pengaruh Build Orientation dan Jenis Solvent pada Vapor Smoothing terhadap Surface Roughness dan Sifat Mekanik Hasil Cetak FDM untuk Aplikasi Toroidal Propeller Quadcopter
Propeler merupakan komponen penting pada UAV yang berfungsi untuk menghasilkan gaya angkat ketika diputar dengan motor. Di antara desain propeller yang menawarkan performa dan tingkat kebisingan yang baik adalah toroidal propeller. Salah satu teknologi alternatif untuk memproduksi geometri toroidal propeller yang kompleks adalah Fused Deposition Modeling (FDM). Akan tetapi, hasil cetak FDM masih memiliki tingkat kekasaran permukaan yang tinggi. Salah satu metode untuk mengatasi masalah ini adalah dengan vapor treatment. Jenis solvent yang digunakan pada penelitian kali ini yaitu kloroform dan diklorometana. Sedangkan, orientasi pencetakan 0º, 30º, dan 90º digunakan untuk merepresentasikan sudut krusial dalam toroidal propeller. Pengujian yang dilakukan adalah FTIR, XRD, tensile, surface roughness, dan analisis morfologi. Hasil uji tarik menunjukkan nilai UTS untuk sudut 0º, 30º, dan 90º berturut-turut adalah 49,3 MPa, 28,7 MPa; 25,4 MPa. Tren penurunan kekuatan tarik terjadi setelah perlakuan uap, yaitu 43,8 MPa; 27,5 MPa; 23,4 MPa untuk chloroform, sedangkan DCM menjadi 47,3 MPa; 24,9 MPa; 19,2 MPa. Penurunan kekuatan terjadi karena pelarut berdifusi ke bawah permukaan dan membentuk zona transisi semi-amorf yang tidak stabil, serta menyebabkan pembengkakan dan penyatuan fiber secara tidak merata, yang memicu terbentuknya void di bagian dalam. Penurunan kekasaran permukaan rata-rata untuk DCM mencapai 93%, sedangkan chloroform 86%. Dengan nilai Ra terkecil masing-masing 0,7948 µm dan 0,6567 µm dari kekasaran awal 12,4690 µm. Penurunan kekasaran terjadi karena uap pelarut mengganggu ikatan antar rantai polimer, menyebabkan pelunakan (swelling) dan aliran ulang (reflow) yang mengisi celah-celah pada permukaan.
====================================================================================================================================
The propeller is an important component of unmanned aerial vehicles (UAVs), responsible for generating lift when rotated by a motor. Among various propeller designs, the toroidal propeller has gained attention for its promising aerodynamic performance and reduced noise levels. One of the alternative manufacturing technologies capable of producing the complex geometry of toroidal propellers is Fused Deposition Modeling (FDM). However, FDM-printed parts typically exhibit high surface roughness. To address this issue, vapor treatment is applied as a post-processing method. In this study, chloroform and dichloromethane (DCM) were used as solvents, and printing orientations of 0º, 30º, and 90º were selected to represent the critical angles found in toroidal propeller structures. Characterization techniques included FTIR, XRD, tensile testing, surface roughness measurement, and morphological analysis. Tensile test results showed ultimate tensile strengths (UTS) of 49.3 MPa, 28.7 MPa, and 25.4 MPa for the 0º, 30º, and 90º orientations, respectively. After vapor treatment, a decreasing trend in UTS was observed, dropping to 43.8 MPa, 27.5 MPa, and 23.4 MPa for chloroform, and 47.3 MPa, 24.9 MPa, and 19.2 MPa for DCM. This reduction in strength is attributed to solvent diffusion into the sub-surface region, forming an unstable semi-amorphous transition zone and causing uneven fiber swelling and fusion, which can lead to internal void formation. Surface roughness was significantly reduced, with average reductions of 93% for DCM and 86% for chloroform, reaching minimum Ra values of 0.7948 µm and 0.6567 µm from an initial roughness of 12.4690 µm. This smoothing effect is due to solvent vapor disrupting the intermolecular polymer chain interactions, resulting in swelling and surface reflow that fills the staircase on the surface